Arsip untuk Juni, 2008

Editor : Mukhlis A.Hamid – Medri Osno / DKB, 2008

Catatan : Buku Leksikon Sastra Aceh ini kami turunkan dalam 6 bahagian [Humas A.S.A]

A

AA MANGGENG

adalah sastrawan Aceh yang terkenal karena bakat seninya yang serba bisa baik sebagai; aktor panggung teater, sutradara, dan sekaligus penyair. Dia dilahirkan tanggal 10 Februari 1964, di Nanggroe Aceh Darussalam. Berpendidikan SPK spesialis jiwa, Bogor (1988), kini bekerja di Rumah Sakit Jiwa Banda Aceh.

Tulisan-tulisannya telah tersebar diberbagai media massa di Aceh, Medan, dan Jakarta, seperti; The Jakarta Post, Waspada, Serambi Indonesia, dan Dunia Wanita. Karyanya terkumpul dalam L.K. dkk (ed.) Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995), antologi puisi dan lukisan Dalam Beku Waktu (2002), antologi sastra Putroe Phang ( 2002).

Penyair yang sehari-hari bekerja sebagai Sekretaris Eksekutif di Dewan Kesenian Aceh ini (2000—2004), juga aktif di teater Mata dan dipercaya sebagai koordinator program. Selain itu juga dipercaya sebagai editor beberapa buku sastra seperti; antologi puisi HAM Keranda-Keranda (ELSAM Jakarta), Kumpulan Cerpen Remuk (DKB), Kumpulan Essai; Takdir-Takdir Fansury (DKB). Sekarang bertempat tinggal di jalan Kakap nomor 25 Banda Aceh-23216, telepon 0651 28960, 25886.

Yang Hilang di Musim Badai

Aku cari engkau saudaraku yang sudah lama tidak kembali

apakah musim badai tanah rencong ini

telah mendekapmu di penjara-penjara rahasia

suara tidak selalu menjadi kata, saudaraku

untuk itu ingin kupastikan nurani atas kehilanganmu

apakah engkau mendengarnya dari sukma bumi

yang bernafaskan air mata

saudaraku,

hujan dan cahaya kunang-kunang

memberi isyarat duka cita atas kepergianmu

jangan kuburkan kebenaran, saudaraku

hanya karena keterpaksaan

bersuaralah meskipun tak jadi kata

kami mendengarnya di musim gugur daun-daun muda

berumahkan pepohonan tumbang yang tercabut akarnya

pastikanlah saudaraku

jika engkau bersama Tuhan menunggu pengadilan akhir riwayat

tinggal risau kami di jalan-jalan penuh gelagat

saat manusia memutuskan keadilan di meja hijau

adakah suaramu bergema dari kubur rahasia

sebab ada pertanyaan yang belum terjawab:

“berapa harga kemerdekaan dibanding nyawa?”

Aceh, 1991

ABADI AG

dilahirkan di dataran tinggi tanah Gayo, tepatnya di daerah Linung Bulen I, Bintang, Kecamatan Bintang, Takengon, Aceh Tengah, pada tanggal 14 September 1968. Pendidikan secara formal dari SD samapai SMP ditamatkan di Bintang. Kemudian melanjutkan pendidikan di PGAN Takengon. Alam dataran tinggi tanah Gayo yang dingin dan indah telah membentuk jiwa seni Abadi Ag. Demikian juga halnya kesenian didong yang telah dikenalnya dari kecil juga ikut membantu bangkitnya jiwa seni dari dalam dirinya. Ikut grup didong Bintang Asli tahun 1995. Grup Muger mengeluarkan album berjudul Sebuku Ni Ate. Karya-karya sastra Abadi Ag antara lain; Edet Gayo, Harta, Sejarah Linge, Mamurni Lauhku, Mujaik.

AGIHMI SI BELEM

Agihmi si belem genab si nge munge ine…ine…

Mutimpe ku heme I atan ni donya

Dele ujien si gere terkire ine …ine…

Ku manusie ari si kuasa

Mokot di nge tanoh si kering mucerah ine…ine…

Seni teku basah ko retak ni bumi

Delidi nge insen murasai susah ine… ine…

Kering- kering basah lauhe kupipi

Ho…ho… ho onot inget-inget sebelum kona

Oya denieni jai persingahen rakan

Iakhirat puren we sikekal rakan

Olok di bang sakit ate ni tihen ine…ine…

Ken perbueten si mu jolok mata

Gempa tsunami cube I renungen ine…ine…

Kekuasaan I tuhen si sara

Dele di nge yatim orom merek saro ine…ine…

Tempate ber menye osop ari mata

Redemi gelumang tedeh mi gegebe ine…ine…

Kati mu semperne bewene berdoa

HO…ho…ho onot inget-inget sebelum kona

Oya denie ni jai p kekal rakan

Akherat puren wesi kekal rakan

ABBAS IBN MUHAMMAD AL-SYAFA’I AL-KHALWALATI AL-ASYI

adalah seorang pengarang dalam bentuk prosa dari Aceh pada abad ke-19, dikenal juga dengan nama Teungku Kuta Karang. Karya-karya beliau pada umumnya merupakan karya terjemahan dari bahasa Arab. Adapun karya-karya yang dihasilkan oleh beliau adalah sebagai berikut

1. al-Qanu’ Liman Ta’attafa. Merupakan sebuah kitab yang beliau karang di Kota Mekkah pada tahun 1259 H atau 1840 M. Isi kitab ini secara keseluruhan membicarakan mengenai hal penyembelihan hewan secara hukum Islam dan pendapat-pendapat yang bertentangan mengenai hal tersebut.

2. Nazm Jawhar al-Aziz’ ‘Akd Ankihat al-Wara al-Wajiz. Karya ini merupakan terjemahan dari karangan Muhammad al-Ma’israwi yang membicarakan tentang hukum nikah. Selain itu, karya ini sudah mulai dalam bentuk karya modern dengan dikomentari oleh ‘Abd Allah ibn Hijazi al-Syarqawi. Karangan terjemahan ini selesai dibuat pada tahun 1236 H/1846 M.

3. Saif al-Qati’ li Aqwal ahl al-Zigh wa’l-Mubtadi. Merupakan salah satu karangan yang lahir di Aceh dengan tujuan untuk menentang perkembangan ilmu salik yang pada saat itu sedang berkembang pesat di Aceh.

4. Catatan-catatan tentang ilmu tasawuf. Karya ini dalam bentuk karya sastra sufi yang mengupas mengenai bermacam hal tentang ilmu tasawuf—pada masa ini perkembangan agama Islam di Aceh sangat marak dalam bentuk ilmu tasawuf. Catatan-catatan ini ditulis pada tahun 1266 H atau 1849 M.

5. Wasiyat al-Ikhwan al-Mustazawidan Liyaum al-Idzu. Karya ini merupakan petikan dari karya yang berjudul Kasyf al-Ghammah fi Ahwal al-Mawt wa’l-Barzakh. Selain itu, karya ini juga diperkaya dengan mengambil bahan-bahan rujukan dari karya-karya lain terutama yang berkenaan dengan ilmu kalam, serta diperkaya lagi dengan mengambil konsep-konsep tentang perang sabil.

ABDUL HALIM MUBARY

adalah sastrawan Aceh, yang lebih dikenal sebagai cerpenis walaupun dia juga menulis karya sastra dalam bentuk lain. Dalam menulis cerpen dia sering memakai nama samaran Aham Mubary. Abd Halim Mubary lahir Meureudu, Kab. Pidie, tanggal 8 September 1969. Dia menamatkan pendidikan di Fakultas Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam Malikussaleh (STAIM) Lhokseumawe 2002. Aktif menulis cerpen dan artikel budaya mulai tahun 1994 sampai sekarang, pernah bekerja sebagai penyiar di sejumlah radio swasta di Lhokseumawe, dan stinger cameraman Reuters. Sekarang bekerja sebagai wartawan Harian Sumut Post terbitan Medan. Karya-karyanya telah dimuat di majalah Anita Cemerlang, Aneka, Romansa, Ceria (Jakarta), dan Serambi Indonesia (Banda Aceh). Sejumlah cerpennya telah dimuat dalam antologi cerpen HAM 2000 (Dewan Kesenian Banda Aceh). Salah satu cerpennya yang berjudul Opera Tengah Malam dimuat dalam antologi sastra Putroe Phang (DKA, 2002).

ABDULLAH HUSSAIN

adalah penyair keturunan kampung Aree, Sigli, Aceh Pidie, yang dilahirkan di Kedah, Malaysia. Dia memulai pendidikannya di Sekolah Melayu Sungai Limau dan kemudian meneruskan ke Sekolah Anglo-Chinese School di Alor Setar.

Berbagai macam pekerjaan telah dijalaninya, tetapi sebagian besar hidupnya dihabiskannya di lapangan pendidikan dan pembinaan sastra. Menjelang meletusnya perang dunia II, ia pernah magang di surat kabar Sahabat dan Saudara di Pulau Penang. Tidak lama kemudian, Abdullah Husin bertugas sebagai pegawai pemerintahan Jepang di Aceh dan menjabat sebagai kepala polisi Langsa menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Pengalaman selama bertugas di Aceh telah melahirkan buku: “Peristiwa Kemerdekaan di Aceh”. Novelnya yang berjudul “Intan” diterbitkan oleh Pustaka Jaya (Jakarta, 1982) telah difilmkan dengan judul “Intan Berduri”. Dia juga dipercaya oleh negara Brunai Darussalam sebagai Ketua Bagian Pembinaan dan Pengembangan Sastra, Dewan Bahasa dan Pustaka.

Sare

Empat puluh tahun dulu, aku

selalu melintasi tempat ini, dan

setiap kali aku di sini

ada rasa aneh bergelut dalam diriku

aku tidak tahu

gerangan apa rasa itu

waktu itu kalau ke sini

resiko terlalu berat

mungkin bermalam di hutan lebat, tetapi

kami gagahi juga

jalan lain tidak ada, inilah

satu-satunya hubungan Sigli-Kotaraja

kenderaan sering membuat olah, tetapi

kami tidak pernah mengaku kalah

hari ini aku berdiri lagi di sini, di ekor

ogos bulan keramat

menghirup semula udaramu, yang

segar bersih lagi sehat

aku melihat selat Melaka, itu

tanah tumpah darahku

di belakangku Seulawah Inong

bersembunyi di sebali Seulawah Agam, malu

bagai gadis melihat tunang

panorama di sini masih seperti dulu

masih dalam keadaan asal

raksasa pembangunan masih jauh darimu

persekitaranmu masih belum terganggu

tapi pada diriku, ada

sesuatu yang hilang

jarak masakah yang menjurang, ataupun

aku di sini anak hilang

yang baru pulang?

*Sare, Gunung Seulawah, 28 Ogos 1988

*Sare adalah nama sebuah daerah di Kabupaten Aceh Besar

ABDUL KADIR

dikenal sebagai penyair dengan nama To’et. Nama To’et melekat padanya karena sebuah syair yang didendangkannya berjudul “Ret Ret Tum”. Dia adalah seorang penyair yang gigih dalam mempertahankan seni Tradisional Gayo: “Didong”—seni berdendang mendengarkan syair-syair tentang alam sekitar.

Alam Gayo yang indah bagaikan sebuah puisi telah membentuk jiwa seni To’et sejak kecil. Suaranya yang merdu serta penampilannya yang khas terutama pada gerak bahu, membuat To,et terkenal sejak usia muda dengan gelar “ceh kucak” (ceh kecil). Dalam perkembangan karirnya sebagai seniman didong, To’et bersama teman-temannya mendirikan grup seni didong dengan nama “Siner Pagi”, di desa Gelelungi.

Dalam penciptaan karya-karyanya To’et banyak mengambil tema tentang alam. Perjalanan karir To’et sebagai seniman didong tambah bervariasi ketika bertemu pendendang wanita yang bernama Hidayah seorang qariah, yang dapat mengikuti dan membawakan syair-syair To’et dengan baik. Pertemuan To’et dengan Hidayah dan beberapa pendendang lainnya menambah kreatifitas grup To’et. Sejumlah syair mulai didendangkan dan ditambah gerak tubuh lainnya. Sehingga dapat dilihat banyak gerak pada sejumlah puisi tertentu dibanding syair didong lazimnya.

Ceh To’et telah sempat tampil membawakan puisi-puisinya disejumlah kota besar di Indonesia seperti; Banda Aceh, Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan lain-lain. Penyair Indonesia seperti Rendra, Taufiq Ismail, Arifin C. Noor, Teguh Karya, dan Putu Widjaja, menilai karya-karya To’et merupakan sesuatu yang orisional, khas seni To’et. Ia telah tampil dengan akar tradisi Gayo yakni didong Gayo.

Dia berpendapat bahwa bidang kesusastraan merupakan pilihan hidupnya yang paling tepat. Hal itu sesuai dengan bakatnya yang sudah terbentuk sejak dini. Baginya berseni bagaikan darah yang mengalir kesetiap organ tubuh dan tidak mungkin dapat dipisahkan dari kehidupannya. Mulai mencipta lagu, syair sejak 1939, setelah itu mengalirlah karya-karyanya yang lain. Dia memang hidup dari berseni, terutama seni tradisional didong, tetapi hal ini tidak menghalanginya untuk beribadah. Sebagai seorang muslim yang taat, dia menyadari hidup di dunia ini hanya sementara, oleh karena itu sebagian besar pemasukannya diserahkan untuk dana pembangunan mesjid, sekolah, jembatan, dan kepentingan umum lainnya tanpa pernah diucapkan dan diberitakan oleh media massa cetak apalagi elektronik. Dia dengan segala kesederhanaannya mempunyai prinsip “lebih baik tangan di atas dari pada tangan di bawah”.

RENGGALI

wahai renggali

yang harum harum harum mewangi

renggali ini si tajuk hias

ini lagu baru dekat tengah malam

wahai renggali

yang harum harum harum mewangi

ceh sekarang semakin banyak

tetapi lagunya banyak tak mengena

yang membeli kenderaan semakin banyak

tetapi minyaknya semakin menyala

wahai renggali

yang harum harum harum mewangi

renggali ini si tajuk hias

ini laguku bukan harta pinjam

benih sawah semakin banyak

tapi zakatnya semakin berkurang

(Terjemahan dari bahasa Gayo oleh L.K.Ara)

ABDURRAUF SINGKEL, SYEIKH

nama lengkapnya adalah Syekh Abdurrauf Ali Al Fansury Al Singkily Al Jawi. Beliau adalah penyair, budayawan, ulama besar, pengarang tafsir, ahli hukum, cendikiawan muslim dan seorang Sufi yang sangat terkenal di Nusantara yang lahir pada tahun 1615 atau 1620 di Singkel, sebuah kabupaten di Aceh Selatan. Dia berasal dari kalangan keluarga muslim yang taat beribadah. Ayahnya berasal dari Arab bernama Syeikh Ali dan ibunya seorang wanita berasal dari desa Fansur Barus—sebuah pelabuhan (bandar) yang sangat terkenal waktu itu. Dimasa mudanya mula-mula Abdurrauf belajar pada Dayah Simpang Kanan di pedalaman Singkel yang dipimpin Syeikh Ali Al-Fansuri ayahnya sendiri. Kemudian ia melanjutkan belajar ke Barus di Dayah Teungku Chik yang dipimpin oleh Syeikh Hamzah Fansury. Ia sempat pula belajar di Samudera Pase di Dayah Tinggi yang dipimpin oleh Syeikh Samsuddin as-Sumatrani. Setelah Syeikh Samsuddin pindah ke Banda Aceh lalu diangkat oleh Sultan Iskandar Muda sebagai Qadhi Malikul Adil, Abdurrauf pun pergi mengembara. Beliau tidak suka menetap di kota kelahirannya. Beliau lebih suka memilih mengembara meninggalkan kota kelahirannya untuk menuntut ilmu di berbagai pelosok nusantara dan Timur Tengah. Abdurrauf selalu merasa haus terhadap ilmu pengetahuan. Beliau pernah belajar hampir dua puluh tahun di Mekkah, Madinah, Yaman dan Turki. Sehingga tidak mengherankan kalau Beliau menguasai banyak bahasa, terutama bahasa Melayu, Aceh. Arab dan Persia. Disebutkan selama belajar ilmu agama di Timur Tengah, Syeikh Abdurrauf telah berkenalan dengan 27 ulama besar dan 15 orang sufi termashyur. Tentang pertemuannya dengan para sufu itu, ia berkata “adapun segala mashyur wilayatnya yang bertemu dengan dengan fakir ini dalam antara masa itu…”. Pada tahun 1661 M Syeikh Abdurraur kembali ke Aceh dengan memangku jabatan selaku Qadly Malikul Adil, sebagai Mufti Besar dan Syeikh Jamiah Baitur Rahim, untuk menggantikan Syeikh Nuruddin ar-Raniry. Mengenai pendapatnya tentang faham Syeikh Hamzah Fansuri (Tarekat Wujudiah) nampaknya berbeda dengan Syeikh Nuruddin ar-Raniry. Beliau tidak begitu keras, Walaupun Syeikh Abdurrauf termasuk penganut faham tua mengenai ajarannya dalam ilmu tasawuf. Terhadap Tarekat Wujudiah, ia berpendapat bahwa orang tidak boleh begitu tergesa-gesa mengecap penganut tarekat ini sebagai kafir. Membuat tuduhan seperti itu sangatlah berbahaya. Jika benar ia kafir, maka perkataannya itu akan berbalik kepada dirinya sendiri. Karya tulisnya yang diketahui lebih kurang dua puluh buah dalam berbagai bidang ilmu—sastra, hukum, filsafat, dan tafsir, antara lain;

1. Umdat al-Muhtajin ila suluki Maslak al-Mufridin; dengan terjemahannya sendiri; Perpegangan Segala Mereka itu yang Berkehendak Menjalani Jalan Segala Orang yang Menggunakan Dirinya. Dalam karya ini diterangkannya tentang tasawuf yang dikembangkannya itu. Dzikir dengan mengucap La Illah pada masa-masa tertentu merupakan pokok pangkal tarikat ini. Kitab tersebut terdiri atas tujuh faedah dan bab. Sesudah faedah yang ketujuh diberinya khatimah yang berisi silsilah. Di samping memberi penjelasan tentang ajaran Abdur-Rauf, silsilah ini juga memberikan gambaran di mana dengan cara apa ulama-ulama dan pengarang-pengarang besar Melayu lainnya mendapatkan ilmu pengetahuan. Dalam kitab ini pula ia menyebut telah berada selama sembilan belas tahun di negeri Arab.

2. Mir’at al-Tullab fi Tashil Ma’rifat al-Ahkam al-Syar’iyah li’l-Malik al-Wahab. Dalam kitab ini disebutnya ia mengarang atas titah Sultanah Tajul-Alam Safiatuddin Syah. Isinya ialah ilmu fikah menurut mazhab Syafi’i. Ilmu mu’amalat yang tidak dibicarakan dalam Sirat al-Mustaqim karangan Nuruddin ar-Raniri, dimasukkan disini.

3. Kifayat al-Muhtajin ila Suluk Maslak Kamal al-Talibin. Dalam karya ini disebutnya ia dititahkan oleh Sultanah Tajul-Alam untuk mengarang. Isi kitab ini ialah tentang ilmu tasawuf yang dikembangkan oleh Abdur-Rauf.

4. Mau’izat al-Badi’ atau al-Mawa’ith al-Badi’ah. Karya ini terdiri atas lima puluh pengajaran dan ditulis berdasarkan Qur’an, hadith, ucapan-ucapan sahabat Nabi Muhammad saw serta ulama-ulama besar.

5. Tafsif al-Jalalain. Abdur-Rauf juga telah menterjemah sebagian teks dari Tafsir al-Jalalain, surah 1 sampai dengan surah 10.

6. Tarjuman al-Mustafiq. Merupakan saduran dalam bahasa Melayu dari karya bahasa Arab ini. Dalam sebuah naskah Jakarta disebut ada tambahan dari murid Abdur-Rauf, Abu Daud al-Jawi ibn Ismail ibn Agha Ali Mustafa ibn Agha al-Rumi (Van Ronkel, Catalogus der Maleische Handschriften 1909 dalam ibid).

7. Syair Ma’rifat. Syair ini terdapat dalam naskah Oph 78, perpustakaan Leiden, yang disalin pada 28 Januari 1859 di Bukit Tinggi.

SYAIR MA’RIFAT dimulai dengan;

Pahamkan olehmu di dalam hati

Kepada guru mintalah pasti

Tulus dan yakin kedua mati

Inilah bekal tatkala mati

Apabila mufakat empat ma’na

Agama Islam baharulah sempurna

Apabila mufakat empat di sana

Mengenal dzat Tuhan yang Ghana

…………….

Fakir khabarkan suatu pendapat

Tatkala mencari ilmu ma’rifat

Sepohon kayu cawangnya empat

Buahnya diambil tiada dapat

Kayunya tinggi bukan kepalang

Buahnya banyak tiada berbilang

Warnanya indah amat cemerlang

Hendak diambil dibawa pulang

Mengambil buahnya hendak mendapat

Tuntut olehmu dengan isyarat

Fi’il yang baik dengan martabat

Mintak diguru janganlah bai’at

Tuntut olehmu dengan pengguruan

Tiadalah jadi dengan tiruan

Serta tarikat mengenal Tuhan

Hakikat ma’rifat sempurna jalan

Adalah ibarat fakir yang hina

Sepohon kayu banyak ma’nanya

Jikalau pohon tiada sempurna

Cawang dn dahan tiada berguna

Jikalau sempurna pohon itu

Cawang dan dahan terhimpun di situ

Buah dan bunga di sanalah tentu

Baiklah fakir hati di situ

Baik-baik tuan kita menerima

Kepada pohonnya ialah sempurna

Daun dan buah tiada sama

Masing-masing berlainan nama

Jikalau diibarat saja kelapa

Kulit dan isi tida serupa

Janganlah kita bersalah tapa

Tetapi beda tiadalah berapa

Sebiji kelapa ibarat sana

Lafadnya empat suatu ma’na

Di situlah banyak orang terkena

Sebab pendapat kurang sempurna

Kulitnya itu ibarat syari’at

Tempurungnya itu ibarat tarikat

Isinya itu ibarat hakikat

Minyaknya itu ibarat ma’rifat

Syariat itu ibarat tubuh

Tarikat itu jalan yang teguh

Hakikat itu bersungguh-sungguh

Ma’rifat itu seperti suluh

Baik-baik I’tikad kita sempurna

Supaya I’tikad kita sempurna

Jikalau bercerai lafadh ma’na

Akhirnya tiada berguna

…………….

Jika tuan menuntut ilmu

Ketahuilah dulu keadaanmu

Man ‘arafa nafsahu kenal dirimu

Faqad ‘arafa rabbahu kenal Tuhanmu

Kenal dirimu muhadath semata

Kenal Tuhanmu qadim dzatnya

Tiada bersamaan itu keduanya

Tiada semisal seupamanya

……………

Adapun dikata ma’na yang empat

Iman, Islam, tawhid, ma’rifat

Keempatnya itu suatu tempat

Kurang dituntut tiadalah dapat

Kemudian diterangkan keempat-keempat perkara itu. Pada akhir tulisan ini disebut judul syair ini serta nama pengarangnya

Tamatlah sudah Syair Ma’rifat

Syaikh Abdur-Rauf mengarang di Aceh

Fakir menyalin kurang nan dapat

Jangan dicela jangan diupat.

ABDUL RAZAK M.H. PULO

lahir di Bireuen, 14 April 1980, menamatkan pendidikan dari SD sampai dengan SMU di kota kelahirannya. Kini sudah berstatus dokter muda atau Co-ass di Fakultas Kedokteran Unsyiah – BPK RSU Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Anak pasangan H. Muhammad dan Hj Ainul Mardhiah ini mempunyai hobi membaca segala jenis referensi, menulis, koleksi buku, dan mempelajari bahasa. Beberapa dari tulisannya pernah dimuat dalam; Hello English Magazine edisi Oktober 1999, I low To be More Creative, puisi berjudul Crying on the Twilight (MIA FK Unsyiah), Nafsu (Serambi Indonesia), serta anekdot Biar Cepat Terkenal dan Penyisiran (Kontras).

Dari tahun 2001-2002 ia menjabat Ketua Divisi Pengembangan Badan Riset Mahasiswa Kedokteran (BRM) FK Unsyiah. Pada tahun 2003 ia bergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, dalam kepengurusan 2004—2006 dipercaya menjabat sebagai Ketua Divisi Non-Fiksi. Di samping itu, untuk meningkatkan pengetahuannya dalam bidang kesusatraan ia bergabung dengan Komunitas penulis OASE Banda Aceh. Dia juga pernah mengikuti Workshop Menulis Kreatif yang diselenggarakan Komunitas Tikar Pandan Banda Aceh dengan Nirwan Dewanto sebagai fasilitator di Hotel Jeumpa Banda Aceh pada tahun 2003.

‘ABDUL-JAMAL

adalah salah seorang pengikut Hamzah Fansuri yang produktif. Dalam (T.Iskandar 1995:369-371) dapat kita lihat identitas beliau melalui karya-karyanya. Drewes menganggap bahwa syair-syair mulai dari halaman 70-86 dalam penerbitan Doorenbos sebagai gubahan penyair ini. Syair-syair tersebut diberi judul:

  1. hadzihi al-asy’ar al-musyirah ila badi’ al-naka’ith wa-‘l-fawa’id fi ma’rifat Allah ta’ala wa sifatihi
  2. syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk
  3. syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk wa sifat Allah
  4. syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk
  5. syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk fi ma’rifat al-dzat wa sifatihi
  6. syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk
  7. syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk
  8. syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk fi ma’rifat al-dzat
  9. syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk fi ma’rifat al-dzat wa sifat

Pada awal syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk wa sifat Allah pengarang menyebut namanya:

Aho segala kita yang ber’aqal-‘aqal

Syahadat inilah perkataan tawal

Menyatakan asma sifat dan af’al

Demikian bayan faqir ‘Abdul-Jamal.

Akan tetapi dalam syair-syair selanjutnya pengarang menyebut namanya, mengikuti jejak Hamzah Fansuri, pada akhir syair-syair tersebut. Dengan jalan demikian pada akhir syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk ia menyatakan:

‘Abdu’l Jamal hina dan karam

Terlalu wasil tatkala ihram

Pada sekalian ta’ayyun terlalu faham

Itulah jalan kesudahan kalam

Pada bagian tengah dan akhir dari syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk fi ma’rifat al-dzat wa sifatihi disebutnya:

‘Abdu’l Jamal hamba yang mudznibi

Mengarang sya’ir tatkala berahi

Olehnya mendem nentiasa hari

Itulah minuman yang dikaruniai

‘Abdu’l Jamal hina dan karam

Terlalu wasil tatkala ihram

Pada sekalian ta’ayyun terlalu faham

Itulah jalan kesudahan kalam

‘Abdu’l Jamal hamba yang mudznibi

Diamnya di rantau teluk bahari

Di sana banyak harimau melintangi

Olehnya karunia maka dapat mukhayyilani

Dalam syair tersebut pengarang memberikan informasi lebih jelas mengenai identitas dirinya:

‘Abdu’l Jamal orang yang bujang

Membuang diri tiada sayang

Tempatnya da’im di tebing orang

Buayanya banyak tamingnya karang

‘Abdu’l Jamal orang yang ghaflat

Diamnya di rantau Perigi Putat

Berbuat sya’ir seqadar dapat

Akan haluan pada sekalian sahabat

‘Abdu’l Jamal orang yang mudznibi

Diamnya dirantau Tebing Tinggi

Berbuat sya’ir daripada karunia Ilahi

Akan halaun pada sekalian talibi

Dari bait-bait di atas, dapat kita lihat ‘Abdu’l Jamal mengatakan dirinya seorang hamba yang mudznibi dan ghaflat. Berdiam atau bertempat tinggal di rantau Perigi Putat dan di rantau Tebing Tinggi. Mungkin saja beliau mempunyai dua tempat tinggal, atau juga tempat tersebut mempunyai dua nama. Dalam akhir syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk fi ma’rifat al-dzat wa sifatihi, dijelaskan lagi bahwa dua tempat tersebut adalah sebuah teluk yang bahari. Dan di sana masih banyak harimau yang berkeliaran (Diamnya di rantau teluk bahari/ Di sana banyak harimau melintangi). Suasana tempat tempat tinggal beliau diperjelas lagi dengan banyaknya buaya yang menjadi tamingnya karang.

Dalam rangkap terakhir dirujuk pada Miftah al-Asrar pengarangnya dipuji sebagai ahli sufi yang terkenal. Oleh sebab itu, dapat diambil kesimpulan bahwa Abdul Jamal adalah murid Hasan Fansuri.

ABU KASIM

dilahirkan di Takengon, dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, tahun 1944. Mulai berkarya dalam dunia sastra sejak usia muda. Salah satu karyanya yang sangat popular berjudul Ampung-Ampung Pulo. Karya ini diciptakan ketika ia lepas SMP di Takengon, Aceh Tengah. Saat itu, ia akan pergi meneruskan sekolah ke Banda Aceh melanjutkan ke SMA. Perpisahan dengan sahabat dan tanah kelahiran menumbuhkan inspirasi Abu Kasim dengan menciptakan baris-baris puisi yang melankolis. Selain itu, Abu Kasim juga menaruh perhatian terhadap cerita rakyat. Banyak puisi-puisinya bersumber dari legenda rakyat Gayo, seperti Genali, Merek Suro, dan Inen Mayak Teri. Ia juga pencipta puisi balada yang mengambil tema cerita rakyat Gayo. Karya puisi baladanya yang terkenal antara lain, Batu Belah, Mpu Beru, Puteri pukes, dan Puteri Hijau. Setelah menamatkan pendidikan di Banda Aceh, ia pulang ke kampung halamannya Takengon dan bertugas sebagai guru. Kemudian ia pindah ke Jakarta dengan menjadi karyawan di Direktorat Kesenian. Kesenian tradisi didong yang telah dikenalnya sejak dari kecil di kampung halamannya Takengon, di Jakartapun ia kembangkan lewat pertunjukan di Taman Ismail Marzuki, Pasar Seni, Ancol, dan lain-lain. Sejumlah karya Abu Kasim dimuat di dalam berbagai penerbitan. Sedangkan antologi puisi tunggalnya berjudul Amruna memuat 30 puisi dalam bahasa Gayo dan Indonesia di terbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tahun 1982.

AMPUNG-AMPUNG PULO

Selamat manut ampung-ampung pulo

Selalumi mulo ku laut kuala

Salam selamat di enti lupen kao

Ku sawini imo urum ceding selada

(Selamat hanyut kau kiambang

Silakan lewat ke laut kuala

Salam selamat jangan kau lupa

Kepada sawi imo dengan tunas selada)

Taringmi taring ko lumut ni atu

Si ngih mungkin mudemu ne selama masa

Asal nge beta bang ningko nasipmu

Taring cacar layu urum budi bahasa

(Tinggallah tinggal kau lumut di batu

Yang tak mungkin bertemu selamat hayat

Mungkin sudah demikian untung nasibmu

Tinggallah cacar layu dengan budi bahasa)

Enti pubebalik manutmi ampung-ampung

Puren aku mununung ke umurku ara

Mudemumi kase kite sara linung

Iwan sara keltung mien kite musara

(Jangan berbalik hanyutlah kiambang

Kelak aku kan menyusul bila umurku ada

Semoga kita bertemu di satu tempat

Di satu lubuk kita kembali berjumpa)

Nun disana Laut Tawar airnya tenang

Di hempas gelombang ke tepi mengalun

Anggun terpancang Bukit Birah Panyang

Dengan Pereben berdampinan bagai bermufakat

Dari Singgah Mata coba layangkan pandang

Nosar, Rawe awan berarak

Jelas sekali nampak disana Ujung Kalang

Sampi ke Bintang tusam beriring

ACEH, HIKAYAT

adalah karya sastra yang tidak diketahui siapa pengarangnya atau bersifat anonim. Hikayat ini ditulis pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1606-1636). Naskah Hikayat Aceh mempunyai banyak varian yang tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden dan Perpustakaan Nasional di Jakarta. Naskah ini telah kehilangan halaman-halaman bagian awal. Pada halaman dua dimulai di tengah-tengah kalimat. Hikayat ini menceritakan riwayat asal-usul raja-raja Aceh. Dalam (T. Iskandar, 1995:387-399) dimulai dari Raja Syah Muhammad yang memperoleh putri dari buluh betung. Sultan Munnawar Syah menikahkan Raja Syah Muhammad dengan Puteri Dewi Indera dan mereka mendapat dua anak, yang putra bernama Ibrahim Syah dan Putri Sapiah. Pada suatu hari Raja Muhammad Syah membantun roma pada dagu Putri Buluh Betung ketika ia tertidur dan putri pun meninggal.

Raja Syah Mahmud, saudara Raja Syah Muhammad kawin dengan bidadari dari kayangan setelah mencuri baju layang bidadari tersebut. Mereka mendapat dua anak yang diberi nama Raja Sulaiman Syah dan Putri Arkiah. Raja Syah Mahmud menyumpah saudaranya tersebut karena kawin dengan jin. Kemudian istrinya pulang ke kayangan setelah menjumpai baju layangnya. Sultan Munawar Syah mengawinkan keempat cucunya tersebut. Raja Ibrahim Syah dengan Putri Arkiah dan Raja Sulaiman Syah dengan Putri Sapiah. Dari perkawinan tersebut lahirlah Syah itu dua orang laki-laki, seorang bernama Sultan Muzzafar Syah, seorang Raja Syamsu Syah. Berikutnya diriwayatkan Raja Munawwar Syah seorang raja negeri Lamri mempunyai puteri bidadari berdarah putih yang keinderaan di Saracan dan anak cucu Raja Iskandar Dzulkarnain. Berikut cuplikan teksnya

Kata yang bercerita, adapun Seri Sultan Perkasa Alam Johan Berdaulat itu dari pihak asal nasap baginda raja yang mendapat puteri anak baludari yang berdarah putih yang raja keinderaan itu turun-temurun daripada nasab dan bangsa yang daripada puteri baludari yang berdarah putih yang raja keinderaan daripada nasab dan bangsa Maha Bisnu yang raja diraja keinderaan. Karena bahwa Dasarata Maharaja itu pada suatu zaman mendapat perbundai Seri Rama, bernama Putri Mandudari, pada perdu buluh betung dan bahwa moyang Perkasa Alam bernama Raja Syah Muhammad pada suatu zaman mendapat puteri anak baludari yang berdarah putih yang raja keinderaan pada perdu buluh betung.

Maksud Seri Sultan Perkasa Alam Johan Berdaulat dari teks di atas, adalah Iskandar Muda. Isi dari hikayat ini sebenarnya lebih menitik beratkan kepada asal-usul dan riwayat Sultan Iskandar Muda. Silsilah dari Iskandar Muda dari pihak ibu adalah Sultan Inayat Syah (Darul-Kamal), Sultan Firman Syah Paduka Marhum, Paduka Marhum Sayyid al-Mukammil, Paduka Syah Alam (bunda Iskandar Muda). Adapun dari pihak ayah adalah Raja Muzaffar Syah (saudara seayah dan seibu dengan Raja Munawwar Syah), Raja Syamsu Syah, Sayyid al-Marhum, Paduka Marhum, Marhum Muda, Raja Muzzafar Syah. Sedangkan kakek dari pihak ayah adalah Raja di Makota Alam dan Raja Inayat syah adalah kakek dari pihak ibu Raja di Darul-Kamal. Dalam hikayat ini diceritakan juga mengenai kedua orang tua Iskandar Muda, mulai dari bertunangan sampai mereka menikah. Serta masa kecil ayah Iskandar Muda. Selanjutnya mengenai Iskandar Muda mulai dari kandungan sampai berumur 14 tahun. Sewaktu beliau masih dalam kandungan negeri sangat Aceh makmur. Masuk usia kandungan tujuh bulan, ibunya bermimpi bersanggulkan bulan dan bintang. Usia kandungan sembilan bulan, ibunya bermimpi cahaya sebagai bunga karang yang diperlihatkan. Sewaktu antara tidur dan terjaga terlihat oleh ibunya seperti bulan purnama, cahaya mengelilingi tubuhnya dan semua ruangan istana.

Pada umur tiga tahun ia diberi nama Raja Zainal, Raja Silan, dan Raja Munawwar Syah. Umur empat tahun diberi permainan gajah emas dan kuda emas. Umur lima tahun diberi permainan anak gajah. Umur enam tahun beliau bermain-main dengan banyak gajah dan gajah kesayangan Raksyasya dan Dang Ambar kasturi. Umur tujuh tahun melepaskan kumpulan gajah dan bermain-main berburu gajah. Umur delapan tahun bermain-main perang dengan orang Portugis dengan memakai perahu. Umur sembilan tahun perang darat dengan memakai gajah melawan orang Portugis. Umur sepuluh tahun datang utusan Portugis Dong Dawis dan Dong Tumis. Iskandar muda mengalahkannya dalam menunggang kuda. Umur sebelas tahun Syarif al-Muluk bermimpi datang kerbau pada Iskandar Muda mengucapkan zikir sambil menari-nari. Umur dua belas tahun Iskandar menampakkan kegagahannya dengan membunuh kerbau jalang. Umur tiga belas tahun Iskandar belajar mengaji Qura’an pada Fakih Raja Indera Purba. Ketika berumur empat belas tahun beliau telah termasyhur di sebelah timur ini.

Jika diperhatikan isi Hikayat Aceh dapat kita simpulkan sebagai berikut:

1. Hikayat ini, awal karya telah hilang sehingga cerita dimulai ditengah-tengah dengan cerita asal-usul.

2. Keterangan silsilah Iskandar Muda dari pihak ayah dan pihak ibu

3. Penyatuan Kerajaan Aceh Darussalam pada zaman pemerintahan Sultan Muzaffar Syah dan Sultan Inayat Syah

4. Silsilah raja Aceh sebelum Syah Alam, kakek Iskandar muda, berjumlah enam orang raja dan yang ketujuh tidak disebutkan karena hilang halaman

5. Kelahiran dan masa kecil Iskandar Muda hingga berusia 14 tahun dan kemegahannya di sebelah timur, lalu disambung dengan kemegahannya di sebelah barat pada masa pemerintahannya.

6. Pengarang kembali pada masa pemerintahann Syah Alam dengan mengalahkan Deli yang mengingkari pemerintah sultan Aceh, serta memburu sultan Johor yang berada di sana sampai ke Johor. Orang Aceh kekurangan makanan dan kembali ke Aceh. Syah Alam sakit dan meminta Iskandar Muda menggantikannya. Pembesar-pembesar tidak setuju dan Iskandar sendiri pun menolaknya karena masih ada Sultan Muda dan Sultan Hasain Syah, keduanya putra Syah Alam yang lebih berhak. Sultan Muda diangkat menjadi raja sedangkan Sultan Husain Syah dirajakan di Pidie. Halaman-halaman berikutnya hilang.

ACEH 8,9 SKALA RICTHER LALU TSUNAMI

merupakan sebuah kompilasi karsa, cipta, karya seniman Aceh dan anak-anak korban tsunami, diterbitkan oleh Koordinatoriat Bangkit Aceh (KBA) Nanggroe Aceh Darussalam, cetakan pertama tahun 2005 dan dieditori oleh Doddi Achmad Fawdzy dkk, setebal 257 halaman. Pada sampul belakang buku ini memuat beberapa komentar tentang isi buku ini diantaranya Nuruddin Asyhadie (Pamred Majalah Ars Longa) para seniman ini yang juga merupakan survivors mahabencana tsunami 26 Desember, melawan keterhenyakan mereka sendiri, ketraumaan, dan kebebasan lidah mereka sendiri. Sungguh perbuatan berani, ketegaran yang mungkin hanya kita dapati pada perahu-perahu kuala jabbar. Tarsih Ekaputra (Anggota Konsorsium Wartawan Kebudayaan (KWK) Nusantara) sebuah karya mahadahsyat dan sungguh meneror imaji kita untuk kembali mempertanyakan diri. Sungguh merupakan sebuah gambaran betapa bencana itu telah meluluh lantakkan bumi Serambi Mekkah, tetapi mereka seniman tetap tegar dan terus bangkit demi tegaknya peradaban di Tanah Rencong ini. Nura Juwita (Perhimpunan Seniman Aceh Jabotabek) saya mengucapkan salut kepada para seniman Aceh yang juga merupakan korban tsunami, ternyata ditengah kondisi yang serba sulit, masih dapat berkarya. Sehingga terlahir karya seni yang berguna bagi masyarakat dan memberi inspirasi bagi generasi yang akan datang. Yogi K. Wikanta (Anggota Federasi Teater Indonesia) sungguh hebat, membaca karya tulis ini, membuat merinding tapi akhirnya dapat merasakan kenyataan yang terjadi, semoga semakin bersemangat didalam mencipta, syukur kepada Tuhan.

ACMAD RIVAI NASUTION

lahir di Pembatang Siantar, Sumatra Utara 9 Februari 1935 dan meninggal di Sigli-Pide 1998. Dalam menulis dia sering memakai nama samaran Dev Vareyra, pensiunan pengawas SMTA ini mulai menulis puisi dan cerpen sejak 1957. Acmad Rivai Nst, walaupun terlahir bukan dari turunan suku Aceh, tapi Aceh sudah merupakan sebagian dari hidupnya. Hal ini dibuktikan dengan nafas karya-karyanya yang sebagian besar berkisah tentang negeri Serambi Mekkah.

Buku kumpulan puisi dan cerpennya terangkum antara lain; “Melalui Api” (1992), bersama penyair Aceh. Sajaknya dibukukan dalam “Kande” (1982), “Dua Kumpulan Puisi” (1982), “Antologi Puisi Penyair Aceh” (1986), “Nafas Tanah Rencong” (1992), “Banda Aceh” (1993), “Sosok” (1993), “Titian Laut III” bersama penyair dan cerpenis Malaysia, Sumut, dan Aceh (Kuala Lumpur, 1991), L.K. Ara dkk (ed.), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995), Lagu Kelu (ASA-Japan-Aceh Net, 2005). Berikut ini salah satu cuplikan puisinya

Dari Perahu Nuh Melihat Tanda-Tanda Kehidupan

Kalau sudah malam dipaksakan menjadi siang

apalagi kata untuk menyatakan malam

burung-burung pun akan ketawa

menertawakan manusia

kalau sudah yang salah harus dikatakan benar

itu bukan hanya penafsiran yang sesat

dan burung-burung akan berkata sesamanya

manusia sudah kena laknat

II

Bumi pun terkuak lebar menganga

air bah di mana-mana

beratus gagak akan mengepak sayap dan meneriakkan lagu

lagu pesta pora : bau amis serakan bangkai

III

Ada pucuk-pucuk zaitun di bukit pasir

dari perahu, Nuh melihat tanda-tanda kehidupan

dan malam tak lagi dipaksakan menjadi siang

karena kita telah kembali ke maknanya

karena kebenaran sudah pasti beda dengan kesalahan

demi Tuhan

sigli, 13 Mei 1979

AGAM ISMAYANI

adalah sastrawan Aceh yang kreatif dan telah banyak melahirkan karya sastra terutama dalam bentuk puisi. Ia dilahirkan di Samalanga kabupaten Bireuen tahun 1968. Karya-karyanya telah tersebar diberbagai media massa nasioanal antara lain; Simfoni, Swara Dwipa, Bali Post, Surabaya Post, Suara Karya, Waspada, Kartini, Femina, Nona, dan Amanah. Kumpulan puisinya terangkum dalam “Lakon-Lakon Luka” (1988), L.K. Ara dkk (ed.) Seulawah:Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995).

Kekasihku Santri: Nasyid di Kampung

Malam ini adalah rahmatNya

Tetabuhan rebana di kampung

Menyanyilah mereka santri-santri wanita

Ada juga santri kekasihku

Tak menari, tapi mengaji

Pak,pak,pak,pak,pung,pung,pung,pung,pung

Duhai

Bunyinya menelusup ke hati

Sampai dini hari

Masih dikumandangkan ayat-ayatNya

Mendekatkan jarakku

Kepada segala kasih

Yang bermula dari kasihNya

Mendengarkan langkahmu, santriku

Seketika tersiramlah tubuhku oleh angin

Pandangmu bulan lima belas hari

Subuh ini,

Antarkan aku ke pintu

Bagi kepulangan yang telah tentu

AGAM WISPI

dilahirkan di Idi, Aceh Timur, tahun 1934. Pernah menjadi anggota Pimpinan pusat Lekra (1959—1965) dan pernah mengunjungi Jerman Timur (1959), kini bermukim di Praha, Republik Ceko. Kumpulan sajaknya; Sahabat (1959), dan Matinya Seorang Sahabat (1962).

A.G. MUTYARA

adalah pengarang kreatif yang dapat dikategorikan sebagai penulis serba bisa. Karyanya berbentuk novel, esai, buku sejarah, budaya dan puisi yang telah tersebar diberbagai media massa dan sebagian besar telah diterbitkan. Namun, dia lebih dikenal sebagai novelis. Sebagai novelis, A.G. Mutyara dianggap salah seorang penulis yang produktif di Aceh. Sudah banyak karya-karya tulis lahir dari tangannya.

Tahun-tahun kreatifitas A.G. Mutyara adalah sekitar tahun 1940—1967, terbukti dengan dengan banyaknya karya yang lahir diantaranya; Sekembang Gugur (novel 1940), Mari Laila Pulang ke Desa (novel 1943), Leburnya Keraton Aceh (novel 1943), Gading Pengungsi (1947), Memperebutkan Gadis Feodal (novel 1947), Asmara Dalam Pelukan Pelangi (novel bersama A. Hasjmy dan Talsya, 1952), Tanda Mata Dari Kraton (1967), Menungan di Pelambangan (sajak, 1941), Direbut Kabut Kelam (sajak, 1979), Peristiwa Aceh (sejarah, 1946), Pancasila Tonggak Republik Indonesia (Budaya, 1946). Sajak-sajaknya dimuat dalam L.K. Ara dkk (ed.) Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995).

Selain sebagai seorang sastrawan dan budayawan, A.G. Mutyara juga berkecimpung dalam dunia jurnalistik. Dia pernah dipercaya menjadi Redaktur dan Pemimpin Redaksi berbagai harian di Banda Aceh. Meninggalkan dunia persuratkabaran tahun (1950).

Pusara

Langit mendung hujan berderai

Petir memekik amat dasyatnya

Ribuan malaikat tersenyum santai

Mengantar jenazah menuju pusara

Turun jasadmu lahan perlahan

Kedalam kuburan, putra belia

Terbaring tubuh berselimut kafan

Disiram doa ayah dan bunda

Ribuan kembang tersenyum simpul

Daun yang hijau menutupi pusara

Tidur sendiri anakku sayang

Bidadari jelita turun berkumpul

Membelai tubuh muda remaja

Dalam dendang kasih dan sayang

1978

A HASJMY

adalah sastrawan Aceh yang termasuk salah seorang tokoh Angkatan Pujangga baru. Dia dilahirkan di Aceh Besar, pada tanggal 28 Maret 1914 dan meninggal di Banda Aceh tanggal 18 Januari 1998. A. Hasjmy adalah seorang pemeluk agama Islam yang taat. Dia memulai pendidikannya dengan sekolah agama, tamat sekolah Thawalib di Padang Panjang Sumbar tahun 1935, dan kemudian melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Sumatra Utara Medan tahun 1952—1953. Pernah menjadi guru Perguruan Islam di Seulimum, pemimpin umum Aceh Shimbun, kemudian Semangat Merdeka.

Pria yang pernah menjabat Gubernur Aceh (1957—1964) ini, berhasil membangun kota Pendidikan Darussalam yang di dalamnya berdiri dua Lembaga Pendidikan Tinggi yaitu Universitas Syiahkuala dan IAIN Jami’ah Ar-Raniry Darussalam. A Hajmy di samping sebagai seorang sastrawan juga seorang Ulama, Budayawan, Birokrat, Politikus, dan Tokoh Pendidikan Aceh. Namun dari sekian banyak jabatan yang pernah dipercayakan kepadanya, A Hasjmy lebih mementingkan dunia pendidikan. Dia berprinsip dengan majunya dunia pendidikan akan dapat mengubah kehidupan anak negeri ke arah yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup. Pendidikan adalah mercu suar dari kemajuan suatu bangsa. Sebagai seorang intelektual beberapa jabatan pernah dipercayakan kepadanya antara lain; Ketua Lembaga Sejarah Aceh (1969), Rektor IAIN Jami’ah Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh, Ketua dan Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh (LAKA), dan Ketua Majelis Ulama DI Aceh. Sejak tahun 1976 ia menjadi guru besar ilmu dakwah pada IAIN Jami’ah Ar-Raniry Darussalam.

Dia telah mengarang tidak kurang dari 40 buku, meliputi Seni Budaya, Sejarah, Politik, Tata Negara, Dakwah dan Pendidikan, diantaranya; Kisah Seorang Pengembara (1936), Sayap terkulai (1936), Bermandi Cahaya Bulan (1937), Melalui Jalan Raya Dunia (1939), Dewan Sajak (1940), Suara Azan dan Lonceng Gereja (1940), Di Bawah Naungan Pohon Kemuning (1940), Puisi Islam Indonesia (1940), Dewi Fajar (1940), Kesusastraan Indonesia dari Zaman ke Zaman (1951), Rindu Bahagia (1960), Asmara dalam Pelukan Pelangi (1963), Semangat Kemerdekaan dalam sajak Indonesia (1963), Jalan Kembali (1964), Hikayat Perang Sambil Menjiwai Perang Aceh Lawan Belanda (1971), Ruba’i Hamzah Fansyuri (1976), Tanah Merah (Digul Bumi Pahlawan Kemerdekaan Indonesia) (1980), Sejarah Kebudayaan Islam, Dibawah Pemerintahan Ratu, Sumbangan Kesusastraan Aceh dalam Pembinaan Kesusastraan Indonesia, dan Semangat Merdeka (1985).

Setengah Jalan

Antara kaki dan puncaknya

di situ daku duduk sebentar,

melepaskan lelah badanku penat,

di sebelah kanan karang semata,

di arah kiriku sekar-belukar,

di mukaku tubir curam sangat.

Mataku mencari tamsil kiasan,

melihat-lihat penawar hati,

memandang-mandang penuntun hajat,

terpandang semut berarak-arakkan,

naik mendaki ke batu tinggi,

dengan gagahnya menuju minat.

Terlebih lagi di batu lain,

seekor semut membawa makanan,

lebih besar dari badannya,

dengan mulutnya dihalau rajin,

ditarik ke atas perlahan-lahan,

digonggong ke arah tempat sarangnya.

Dari dalam datang mendayu,

suara jiwaku mencipta ilham:

“Bahagialah siapa suka meniru,

mengambil ibarat perjuangan alam!”

1936

AHM FAUZAN

adalah seorang seniman Aceh yang juga dikenal dengan nama Fozan Santa. Lahir di Cot Mane, Gandrapura, Aceh Jeumpa, pada 19 Maret 1975. Menyelesaikan pendidikan di Jurusan Sejarah dan Budaya IAIN Sunan Kalijaga Jogyakarta. Menulis sajak, essai. Pasca tsunami bersama rekan-rekan muda sesama seniman mendirikan Sekolah Menulis Do Karim. Karya-karyanya telah tersebar di berbagai media massa lokal dan nasional. Dalam bidang seni pertunjukan teater dia pernah aktif di teater ESKA dan sanggar NUUN Yogyakarta. Sajak-sajaknya terangkum dalam antologi puisi Fasisme (kalam el kama Yogya, 1996), antologi puisi dan lukisan Dalam Beku Waktu (Koalisi, NGO HAM Aceh dan ICCO, 2002), antologi puisi Ziarah Ombak (Lapena, 2005). Berikut salah satu cuplikan puisinya

Ziarah

Aku pulang ke rumah

Tak beratap, dinding pecah

Antara keduanya, gegaris coklat

Batas laut lumpur yang tumpah

Pada minggu hangat setelah gempa

Bau tanah menguapkan langit terik

Di kamar ibu, di tapak ranjangnya

Sebotol kecil minyak entah melunglai

Dibakar sembilan puluh matahari pucat

Dalam rahasia senja kubuka saja tutupnya

“wahai, wangi itu dari seberang malam,

Malam silam yang jarang kusentuh”

Lingkhe, 10 April 2005.

AKHBARUL KARIM, HIKAYAT

sebuah kitab klasik karangan ulama terkemuka masa lalu bergelar Teungku di Sumatang sebuah gampong di negeri Geudong Pase. Sekarang terkenal dengan Dayahnya, terletak di Kecamatan Samudera Geudong, Aceh Utara. Karya ini diperkirakan dikarang tahun 1830 M dengan menyimak gambaran budaya dan perkembangan situasi masyarakat dalam hikayat tersebut. Suatu babak sejarah yang menyakitkan dengan meredupnya kejayaan Kerajaan Islam di Nusantara. Hikayat ini disalin ulang oleh Tuwanku Raja Keumala tahun 1919 M, yang didekasikan untuk puteri pertama beliau Teungku Fatimah Raden Putri lahir tahun 1910 M. Dalam penyalinan oleh Tuwanku Raja Keumala, hikayat ini terdiri atas 1471 baris ganda. Namun dalam penyalinan ini diperkirakan selalu ada perubahan, perbaikan, maupun penambahan dan pengurangan kalimat. Hikayat ini ditulis dalam bahasa Aceh dengan memakai huruf Arab Melayu. Selain itu, hikayat ini juga mampu memberikan warna dan pengaruhnya pada masyarakat dan perkembangan kesusastraan Melayu pada umumnya dalam kurun waktu lebih dari satu abad setengah. Dalam hikayat ini Teungku di Sumatang menceritakan situasi masyarakat ketika itu yang sedang mengalami multi krisis, baik dalam bidang politik pemerintahan, ekonomi, sosial, maupun dibidang keagamaan terutama mengenai ibadat, keimanan dan akhlak. Dengan multi krisis tersebut, Kesultanan Aceh merosot secara berangsur-angsur. Puncaknya dengan kejatuhan Dalam Sultan ketangan aggressor Belanda tahun 1874, pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah. Berikut beberapa cuplikan Hikayat Akhbarul Karim (telah alih aksara dan diterjemahkan oleh Teuku Abdullah Sakti dan Ramli A. Dally)

Alfashlul Auwalu Fibayan Makrifatillahi Ta’ala

(Pasal pertama menjelaskan : Mengenal Allah swt)

Pasal yang pertama wahai sahabat

Makriafat saya jelaskan

Makriafat kepada Tuhan dan kepada Nabi

Ada tiga jenis pembagiannya

15. Wajib mustahil tiga dengan jaiz

Ketahuilah oleh tuan semuanya

Orang yang tidak kenal sifat Tuhan

Di hari akhirat dalam neraka

Sifat yang wajib pada Tuhan amat banyak

20. Tak ada yang sanggup menghitungnya

Tidak wajib kita ketahui semua

Seperti ungkapkan atau dikemukakan

Sebab tidak kita dapati dalil

Agar tidak memberatkan bagi hambanya

25. Sifat dua puluh wajib diketahui

Sebab kita dapati dalil-dalilnya

Mana yang disebut sifat dua puluh

Mari hitung bersama-sama

Yang pertama adalah wujud

30. Selanjutnya kuterangkan makna singkatnya

….

ALAN KASLAN

adalah sastrawan yang juga dikenal sebagai aktor teater ini, dilahirkan di desa Peunaga Pasi, Meulaboh Aceh Barat, 1 April 1969. Mulai menulis puisi sejak 1988, puisinya tersebar di beberapa media massa antara lain, Majalah Santun dan Serambi Indonesia.

Untuk mengasah bakat seninya pendiri biro pengkaderan sanggar Semilir Kembara Karya Meulaboh ini hijrah ke Banda Aceh. Di Banda Aceh selain terus menciptakan karya sastra, kehidupan teater tidak pernah ditinggalkannya. Kini menjadi menjadi anggota Teater Peduli Banda Aceh. Sajak-sajaknya dimuat dalam buku L.K. Ara dkk (ed.) Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995).

Kepada Siapa Kita Berikan Senyum

Puisi-puisi yang kita tulis

adalah ungkapan perasaan yang kita sepakati

agar ketulusan hati yang kita berikan

tidak menjadi dusta dalam keangkuhan

yang membungkus makna-makna

Kepada siapa kita berikan senyum

bila sawah ladang kita telah kering

semua jadi resah

walau sekian banyak nyanyian rindu

rindunya rindu mereka

cuma engkau yang mengerti

di antara bulan sabit dan bintang kala

Jakarta, 7 Desember 1993

AL-FATHU ‘L-MUBIN ‘ALA ‘L-MULHIDIN

(Kemenangan Nyata Atas Orang-Orang Ateis) adalah sebuah kitab yang ditulis oleh Nuruddin ar-Raniri dalam bahasa Melayu setelah ia kembali dari India. Kitab setebal 298 halaman ini selesai ditulisnya pada tanggal 12 Rabi’ul Awal 1068 H atau 1657 M. Kitab ini ditulisnya bertujuan untuk melawan faham kaum wujudiyah yang dipelopori oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani. Pada halaman-halaman awal ia meriwayatkan pembunuhan kaum wujudiyah dalam bentuk yang lebih lengkap, serta pembakaran kitab-kitab yang ditulis oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani di halaman mesjid raya Baiturrahman. Selain itu, ia juga menyebutkan dalil-dalil tentang kesesatan ajaran kaum wujudiyah tersebut. Pada halaman terakhir Nuruddin ar-Raniri menyebutkan kitab ini ditulisnya untuk dikirim kepada

Segala saudaraku yang ada di Pulau Aceh, dan yang di Negeri Kedah, dan yang di Pulau Banten, dan yang di Negeri Patani, dan yang di Pulau Mangkasar, dan yang di Negeri Johor, dan yang di Negeri Pahang, dan yang di Negeri Singgora dan pada segala negeri yang di bawah angin.

ALISYAH

adalah salah seorang seniman dari dataran tinggi tanah Gayo, Aceh Tengah. Dalam bidang berkesenian ia mengkhususkan dirinya menjadi seniman dalam didong—seni bersyair di Tanah Gayo, Aceh Tengah. Ia dilahirkan pada tanggal l5 April l945 di Gelelungi, Aceh Tengah. Pada tahun l962 menyelesaikan SGA. Sejak tahun l961 ikut berdidong dengan grup Siner Pagi.Tugasnya sebagai pembisik. Pada tahun l962 sudah mulai ikut mencipta. Ciptaanya, Aceh Tengahni, Tun 45 di tulis tahun l971. Pada tahun l971 menjadi Kepala Desa di Gelelungi. Jadi guru bakti MIN di Gelelungi tahun l968, l969 dan l970. Berikut salah satu karya Alisyah dalam bentuk syair didong yang ditulis dengan teks bahasa Gayo ?

AL-MUNTAHI,

adalah syair karya Hamzah Fansuri yang tidak diketahui tanggal pembuatannya. Tetapi Hamzah merupakan pengarang Melayu pertama menggunakan nama dalam karya-karyanya. Ucapannya banyak orang yang tidak mengetahui bahasa Arab atau Parsi dan ini merupakan suatu kenyataan. Hamzah dalam karya ini juga memberi tantangan terhadap ulama asing yang berada di Aceh, karena mereka tidak sanggup mengarang dalam bahasa Melayu.

ALYACUB

lahir tahun l951 di Kampung Kutekering, sebuah desa persawahan di Kecamatan Bukit. Ayahnya berasal dari Kampung Kebayakan. Ibu dari Kampung Kutekering, Simpang Tige. Orang tua bekerja sebagai nelayan di Danau Laut Tawar. Sejak kecil Aly tinggal di Asir-Asir. Pendidikan yang ditempuhnya SRI Boom. Kemudian masuk Jamiatul Wasliyah hingga kelas II di Kemili. Entah bagaimana caranya pernah mendapat ijazah SMEA. Dan pernah bekerja di Kantor Pertanian Aceh Tengah. Diasana bekerja selama lebih kurang 2 tahun hingga tahun l966. Karya pertama yang cukup terkenal berjudul ‘Pit Ni Ungke’ tapi lebih dikenal dengan sebutan ‘Tun Tun Ali Dasa’. Kemudian karyanya muncul pada tahun l970 berjudul ‘Mas’. Lagu ini menurut Aly tercipta setelah anaknya yang pertama yang ketika itu baru berumur 7 hari. Saat itu Aly sedang menidurkan sang anak. Dari pengalaman itu lahirlah nyanyian Mas. Sebutan mas merupakan panggilan kesayangan kepada sang bayi. Nyanyian Mas kemudian pernah dipopulerkan Srimurni seorang biduan yang juga guru di PGAN di Takengon. Karya-karya Aly lainnya yang cukup populer adalah, ‘Gayo’, ‘Sebuge’ dan lain-lain.

GAYO

Gayo …ine…wo Takingen

so Takengen sejuk bengi

upuh jerak ules Gayo ni

iwani seni notto…seni Gayo ku denang

nge lelungunen ko Takingen

baur ijo salupi emun

so umah jemen Takengen si pitu ruang

kelik ni kalang i tanoh Gayo

kekawat ulu remang ketike

bersebuge ko Gayo ulakmi ku batang ruang

woi serudang ko mayang

kepies kemang renggali Gayo

so Laut Tawar si gemasih

rupemu si putih jernih

lingang ni waih notto…ketibung berawang

waih Peusangan manut ku toa

mu lalui Silahnara

naringen basa notto…i ujung Bintang

selalumi ko ku Aceh

nti ne ara mu tinen serpih

wih mu bertih ku iwih mempas ku karang

Takengon, l985

AMEER HAMZAH

selain sebagai penyair juga dikenal sebagai seorang politikus dan wartawan. Dia dilahirkan di Buloh Blang Ara, Aceh Utara, 25 Oktober 1960. Menulis puisi sejak MTSN dan baru dipublikasikan di media massa setelah tercatat sebagai mahasiswa. Kehidupan intelektual di kampus makin mengasah bakat kesusastraannya, sehingga dia percaya sebagai pengasuh ruang Sastra Budaya di koran kampus Ar-Raniry Pos tahun 1985—1988. Setelah itu, pada tahun 1990 oleh Kanwil Depag Propinsi Aceh dipercaya mengasuh rublik Medeuen Sastra Majalah Santun. Sekarang tercatat sebagai seorang Redaktur Serambi Indonesia membidangi sastra Aceh. Karya puisinya yang pertama terbit dalam antologi “Tangan-Tangan Bicara” (1987). Ameer juga mengabdikan dirinya dalam bidang pendidikan dengan menjadi staf pengajar di Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry. Sebagai seorang penyair dia tidak bisa lepas dari pengaruh kesusastraan lama yang berupa hikayat. Beberapa hikayat telah dihasilkannya antara lain; “Tragedi Mina” (1990), “Perang Teluk I dan II” (1991), “Ummul Qur’an”(1992), “Siti Keumala” (1992), dan Ameer juga tercatat sebagai salah seorang penyair Aceh dalam L.K. Ara dkk (ed.) Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Kepiawaian Ameer sebagai seorang sastrawan telah diakui secara nasional. Nama Ameer Hamzah tercatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (2001).

Seandainya Mampu Kugores Langit

Seandainya mampu kugores langit

akan kucoret tinta darah merah

di rentang khattulistiwa

Kutulis kalimat protes

tentang penindasan dan pembantaian di bumi Aceh

Agar semua bangsa di dunia membacanya

Lalu turut belasungkawa

Jika perlu semua korban yang hilang

ku pasang fotonya di awan

agar malaikat melapor pada Tuhan

bahwa diujung Sumatera

ada ladang pembantaian

Seandainya mampun kutungging air laut

akan kugantikan dengan air mata janda

dan anak yatim yang malang

Agar ikan-ikan tahu

ada yang tidak beres di daratan

Seandainya mampu kugali lubang kuburan

Tulang-belulang itu

Kuharap bisa menjadi saksi kekejaman

Tangan-tangan biadab tanpa iman

Banda Aceh, 2 Syawal 1419 H

ANSHOR TAMBUNAN

penyair ini lebih dikenal dengan nama samarannya Ucok Kelana TB. Lelaki berperawakan kecil ini dilahirkan di Syarulla, Tapanuli Utara, 24 April. Darah seni Anshor mengalir dari orang tuanya yang berdarah seni, ayahnya adalah seorang pemusik tiup dan drama. Alumnus FKIP Unsyiah Jurusan Bahasa dan Sastra ini menulis sajak, esai, kritik sastra, dan opini di berbagai media massa antara lain; Atjeh Post, Serambi Indonesia, Peristiwa, Majalah Kiprah (Kanwil P dan K), Majalah Santunan (Kanwil Depag), Tabloid Baiturrahman, Warta Unsyiah, Waspada, dan media massa lainnya. Sebagai seorang intelektual dia mengabdikan ilmunya dengan mengajar di SMA Adidarma. Selain itu dipercaya sebagai pengasuh ruang sastra budaya “Balee Dokarim” majalah Panca Dep. Transmigrasi dan PPH. Dan juga pernah dipercaya sebagai penyunting SKK Warta Unsyiah (1991—1994). Sebagai seorang penyair, Ansyor tidak saja aktif di bidang penulisan, namun juga aktif diseni pertunjukan teater bersama sanggar Cempala Karya sebagai penata musik pada setiap pementasan sanggarnya. Kecintaan Ansyor terhadap dunia tulis-menulis tidak mungkin dapat dipisahkan dari kehidupannya. Untuk mendedikasikan kecintaannya tersebut selain dilakukan dengan cara menghasilkan karya sastra, ia juga melibatkan dirinya di Depertemen Litbang Lembaga Penulis Aceh.

ANTON SABANG

lahir di Sabang, 18 Juni 1972. Alumni Jurusan Pendidikan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Anton adalah salah seorang seniman tari, kreografer Aceh. Ia mulai menari sejak sekolah menengah. Beberapa kreografinya telah dipentaskan di luar Aceh, seperti Bandung, Lampung, Surabaya, dan Medan. Karyanya antara lain Alam (1997), Laskar Inong Bale (1999), Alif (2000), Senjakala Ziarah Putih (2002). Menggarap tarian massal Saleum pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA-IV) Agustus 2004, Menjala Asap (2004), Tanpa Titik (2004), dan mendapat hibah seni Yayasan Kelola untuk tarian Senjaka Seudati (2004). Ia bermaustin di Jalan Sultan Malikusssaleh, Lorong Seulanga I. no 32, Lhong Raya, Banda Aceh.

‘AQA’IDU ‘L-SHUFFIYAH AL-MUWAHIDDIN

(Akidah Ahli Sufi yang Menegaskan Tuhan) adalah karangan Nuruddin ar-Raniri dalam bahasa Arab. Dalam kitab ini Nuruddin menyebutkan dirinya sebagai penulis, sedangkan tahun penulisannya dan judul kitabnya tidak disebutkan. Adapun kitab ini membahas masalah akidah serta pengalaman-pengalaman keruhanian yang dilalui oleh orang-orang sufi, terutama tatacara kekhusukan mereka dalam berzikir dengan mengucapkan la ilaha illa’l-Lah.

ARAFAT NUR

dilahir di Lubuk Pakam, Sumatra Utara, 22 Desember 1974. Mulai serius mendalami bidang sastra terutama puisi dan cerita pendek sekitar tahun 1997, tapi sebelumnya sudah mulai menulis berupa puisi dan cerpen anak-anak. Menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di Peureulak dan SLTP di Idi Rayeuk. Kelas tiga SLTP pindah ke Meureudu dan menamatkan SMA di Meureudu. Pernah jadi tenaga pengajar di Dayah Babussalam (1992-1999) dan menjadi pegawai honorer SMU Meureudu-Aceh Pidie (1994-1999). Lalu pindah ke Lhokseumawe bekerja sebagai jurnalis. Dia dipercaya sebagai Ketua Devisi Sastra pada Yayasan Ranub Aceh (KRA). Menulis puisi, cerpen dan artikel di berbagai media massa. Ia pernah mengikuti pertemuan sastrawan sesumatra yang diselenggarakan DKA/Lempa di Banda Aceh (1999). Pernah mendapatkan penghargaan terbaik lomba penulisan cerpen Taman Budaya Aceh (1999), harapan I lomba cerpen telkom online dalam rangka menyambut hari Kartini (2005), juara III Nasional lomba penulisan novel Forum Lingkar Pena (2005). Puisinya ikut dalam antologi Keranda-Keranda (DKB, 2000), Aceh Dalam Puisi (Assy-syaamil, 2003), Mahaduka Aceh (PDS HB. Jassin, 2005), Lagu Kelu (ASA-Japan Aceh Net, 2005). Sadangkan karyanya dalam bentuk cerpen dimuat dalam antologi Remuk (DKB, 2000). Novelnya yang sudah terbit adalah Meutia Lon Sayang (dar! Mizan, 2005), Cinta Mahasunyi (dar! Mizan, 2005) dan Percikan Darah di Bunga (Zikrul Hakim, 2005). Berikut ini cuplikan salah satu karyanya dalam bentuk puisi

Kapal Nuh Itu Masih Ada

Kapal Nuh itu masih ada

Khidir menumpanginya

Singgah disetiap pelabuhan cinta

Pernah juga singgah di Malahayati

Subuh Minggu itu kapal lagi berlayar

Dari Laut Hindia ke Selat Malaka

Memang sudah terbaca segala pertanda

Dari getar matamu

Tapi kala banjir besar itu menjelma

Kapal itu lagi berlabuh di dadaku

Menurunkan sejumlah cinta

Lhokseumawe, 14 September 2005

ARIEF RAHMAN

awal kepengarangannya ditandai oleh hasil karyanya yang berupa sajak. Bakat kepengarangannya timbul ketika masih aktif di Sanggar Kesenian Kusuma Bangsa sekitar tahun 1981 sampai dengan 1984 yang dikelola KP4BS Sabang, diseksi Drama dan Puisi. Dia dilahirkan di Medan, Sumatra Utara, 8 Juni 1968. Aktifitas seninya pernah berhanti tolal ketika pulang ke Medan pertengahan tahun 1984. Sejak saat itu nama suami Samsidar, dara kelahiran Sigli 1971 ini jarang terdengar, walaupun sesekali masih sering menulis puisi. Sampai sekarang belum punya satupun antologi puisi secara tunggal. Beberapa puisinya pernah dimuat di beberapa media, baik di Medan maupun di Aceh. Bekerja sebagai wartawan di Surat Kabar Aceh Expres, Banda Aceh dan Tabloid Mingguan Hikmah, Pikiran Rakyat, Bandung. Ia bermaustin di Banda Aceh. Sajaknya Ketika Damai Tak Lagi Ada dimuat dalam antologi bersama penyair Aceh lainnya dalam Antologi Puisi Keranda-Keranda (DKB, 1999).

Ketika Damai Tak Lagi Ada

Ketika makna merdeka terputus di tanah ini,

maka, damai itu tak ada lagi

wanita-wanita paro baya

bocah-bocah lucu dan lugu

harus rela kehilangan suami dan ayah

harus rela disebut janda dan yatim

Ketika makna merdeka terputus di tanah ini,

maka, damai itu tidak ada lagi

ibu-ibu tua sesunggukan

dara-dara jelita ketakutan

kehilangan anak-anak tercinta

kehilangan mahkota kebanggaan

Ketika makna merdeka terputus di tanah ini,

maka, damai itu tidak ada lagi

ribuan jiwa terusir dari buminya

ribuan nyawa terbang dari raganya

berbondong-bondong menjadi pengungsi

atau tidur karena peluru

Ketika makna merdeka terputus di tanah ini,

maka, damai itu tak ada lagi

sekolah dan angkutan dibakar

rumah-rumah dijarah

hingga bocah-bocah tak lagi sekolah

diam dalam ketakutan mencekam

Ketika makna merdeka terputus di tanah ini,

maka, damai itu tak ada lagi

yang hadir kecurigaan

yang hadir saling menyalahkan

siapa kawan siapa lawan

tak ada berbatasan.

Banda Aceh, Agustus 1999

ASAY PADE, HIKAYAT

merupakan hikayat Aceh dalam bentuk puisi yang menceritakan asal-usul padi serta upacara yang berkaitan dengannya. Kebiasaan wanita Aceh pada hari sebelum panen dimulai mencabut tujuh batang inong pade, yang mereka sebut sebagai ulee pade (induk padi; asal padi). Hal ini menggambarkan Hawa membawa pulang tujuh pokok padi. Demikian juga ketika menabur benih, panen yang baik dimohonkan dengan menyebut keempat nama dari seorang putra Adam yang berupah menjadi benih padi. Berikut ini cerita hikayatnya; ketika Adam dan Hawa diusir dari surga, mereka mengembara mengelilingi dunia secara terpisah dalam jangka waktu yang lama, baru mereka bertemu kembali di Gunung Rahmat. Malaikat Jibril memberikan pelajaran kepada Adam tentang pertanian dan membawah benih yang akan ditanam dari surga.

Ketika Adam membuka lahan pertanian dan mulai menaburkan benih, ternyata persediaan benih pertanian yang diberikan Malaikat Jibril tersebut kurang. Atas perintah Allah supaya Adam mengorbankan anaknya empat orang yaitu Umahmani, Nurani, Asyeuki, dan Seureujani. Bagian-bagian tubuh sianak berubah menjadi berjenis-jenis butir padi yang digunakan Adam untuk menaburi lahan pertaniannya yang masih kosong. Setelah mengetahui hal tersebut, Hawa pergi ke ladang pertanian dan memohon agar anaknya yang sudah menjadi benih kembali lagi. Si anak menjawab bahwa ia akan pulang setiap tahun, dalam bentuk panen tahunan.

ASHALUDDIN, TEUNGKU

dilahirkan di Isaq, Aceh Tengah, tahun 1917. Pendidikan SR ditempuhnya pada tahun 1927. Kemudian belajar mengaji pada beberapa ulama, seperti Tgk M. Hasbi Ash Shiddeiqy, Ustad Saleh Syarif, dan lain-lain. Ketika belajar pada Tgk Hasbi lebih kurang satu tahun, Beliau harus menempuh perjalanan dari Takengon – Banda Aceh. Kemungkinan basar Tgk Ashaluddin belajar mendobi dari gurunya yang bernama Ustad Saleh Syarif, karena gurunya tersebut selain menjadi ulama juga seorang tukang dobi. Namun yang jelas sebagai putra Gayo yang lahir di Isaq (ibu kota Kerajaan Linge), Beliau sangat dekat dengan alam yang masih asri. Tak heran jika Beliau tertarik menapaki alam luas, penuh bukit dan pegunungan serta rumput yang hijau ditulis dalam bentuk karya sastra. Tulisan-tulisannya yang bernas dalam bentuk syair telah menempatkan Tgk Ashaluddin yang juga dikenal sebagai ulama dan pemimpin Panti Asuhan Budi Luhur di Takengon ini sebagai seorang penyair. Berbeda dengan penyair pendahulunya seperti Tgk Yahya dan Tgk Mudakela yang mengambil tema syair dari Alquran dan Hadits, Beliau menggunakan kata-kata mutiara. Salah satu alas an Beliau adalah bilah mengambil ayat Alquran takut kalau-kalau terpeleset. Menurut penyair yang hidup tiga jaman ini, sejumlah buku dan tulisannya telah hilang karena sering pindah dari satu kota ke kota yang lain. Ada juga yang hilang karena hanyut dibawa air bah. Berikut cuplikan salah satu puisi Ashaluddin masih dalam bahasa ibunya Gayo

KALIMAH TUJUH

Gere ara lain tuhen

Melainkan Tuhen Allah

Nabi Muhammad i kirim Allah

Mah peraturen ku hamba Allah

Nabi Muhammad Rasulni Tuhen

Munyawahan suruh tegah

Suruh tegah isawahan Rasul

Kati enti murakul benar urum salah

Gelah tetap ingeti Tuhen

Enti lupen wan senang susah

Wan senang susah ingeti Tuhen

Oya baru imen i yakui syah

Mendepet nikmat i puji Tuhen

Gelah i ucepen ingeti Tuhen

Ke wanni belepe ingeti Tuhen

Mudah-mudahan mendepet luah

Oya bele kin pengujin

Si berimen suci i sone i erah

Nge kuwan bele baru i betih

Si berimen pedih depet teridah

Bier baring kune perputeren zaman

Iktiket ku Tuhen enti minah-minah

Kati depet ridho ni Tuhen

Gelah i bueten si benar perintah

Ridhoni Tuhen kul faedahe

Sa mendepete we jema mutuah

Akalimah tujuh leloni ate

Sa muningetie gere gelisah

Gere gangu gere macik

Gere usik gere gunah

ASRARU ‘L-INSAN FI MA ‘RIFATI ‘L-RUH WA ‘L-RAHMAN

(Rahasia Manusia Dalam Mengetahui Ruh dan Tuhan) adalah sebuah kitab yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu oleh Nuruddin ar-Raniri untuk memenuhi permintaan Sultan Iskandar Tsani. Namun Nuruddin tidak mampu untuk menyelesaikannya, barulah pada masa pemerintahan Sultanah Safiatuddin kitab ini diselesaikannya. Kitab ini tamat dikarangnya pada tahun 1050H atau 1640M. Nuruddin menyebutkan kitab ini dalam kitabnya yang lain yaitu kitab Jawahir. Adapun kitab ini merupakan pengetahuan untuk mengetahui manusia, terutama mengenai masalah-masalah yang berkaitan dengan ruh, serta sifat dan hakikatnya. Selain itu, kitab ini juga membahas masalah hubungan manusia dengan Tuhan. Kitab ini terdiri atas dua bab. Bab pertama dibagi pula dalam enam fasal dan bab kedua dibagi atas lima fasal. Naskah kitab ini, tersimpan di Pustaka Tanoh Abee.

AYI JUFRIDAR

adalah salah seorang penyair muda Aceh yang sangat produktif. Sebagai pengarang puisi, namanya mulai dikenal tahun 1990 dengan dimuat puisi pertamanya di Serambi Indonesia. Setahun kemudian (1991) cerpennya juga dimuat di majalah remaja Aneka (Jakarta). Dia lahir di Bireuen, tanggal 18 Agustus 1972 dari pasangan Syahabuddin dan Nurjannah. Dia menamatkan pendidikan tingkat tinggi di Politeknik Negeri Unima Lhokseumawe. Ayi memilih dunia jurnalistik sebagai lahan pekerjaannya. Bekerja sebagai wartawan di Serambi Indonesia sejak tahun 1997 –2004, kini menjadi Stringer Koran Jepang Asahi Shimbun di Aceh. Aktif di Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) kota Lhokseumawe dan menjabat sebagai ketua (2005-2007). Kehadirannya dalam dunia kesustraan membuktikan eksistensi penyair asal Aceh untuk memperkaya kesustraan Indonesia. Kepekaannya dalam bidang sastra telah menghasilkan sekitar 100 cerpen dimuat dalam berbagai media massa seperti; Tabloid Nova, Aura, Wanita Indonesia, majalah remaja Aneka, Gadis, Ceria, Horospop, dan Suara Karya, yang semuanya merupakan terbitan Jakarta. Cerpennya juga dimuat di harian Waspada dan Analisa (Medan). Cerpennya telah dimuat dalam antologi sastra Seulawah (Yys Nusantara, 1995), antologi cerpen Remuk (DKB. 2000). Sedangkan puisi-puisinya dimuat dalam kumpulan puisi bersama Aceh Dalam Puisi (Assy-syaamil, 2003), Mahaduka Aceh (PDS HB. Jassin, 2005), Lagu Kelu (ASA-Japan Aceh Net, 2005). Berikut ini salah satu karyanya dalam bentuk puisi

Laut Yang Ramai

Laut mendadak ramai

deburan ombak terseret angin

ke tengah samudera itu

sedang di bibir pantai

orang saja menari-nari

Laut mengundang sehamparan gunung samudera

datanglah dari penjuru segala

melihat kami menari

menjelang akhir sodorkan air

ketika tubuh bermandi peluh

tapi jangan sugguhkan seudati*

sebab ia sudah mati

di telan televisi penuh warna

Datang,

datanglah dari segala penjuru

ramaikan laut kami yang sepi

dengan lagumu yang sarat cinta

Lhokseumawe, Juni 2005

* nama salah satu tarian tradisional di Aceh

‘AQA’ID AL-NASAFI

adalah sebuah naskah yang berasal dari Aceh dengan judul ,Aqa’id. Naskah ini dikarang oleh al-Nasafi. Selain itu, dalam naskah karangan al-Nasafi ini mengandung tulisan teks dengan bahasa Arab dengan terjemahan antarbaris dalam bahasa Melayu. Pengarang juga mencantumkan tanggal penulisannya yaitu bertanggal 998H atau 1590 M. Secara keseluruhan pengarang dalam naskah ini membicarakan ilmu kalam. Pada tahun 1635 seorang pengarang yang pernah menjadi mufti di Kerajaan Aceh Darussalam yang bernama Nuruddin ar-Raniri membuat saduran dari karya al-Nasafi ini dengan judul Durrat al-Far’idh.

AZHARI

bakat kepengarangannya terlihat ketika terpilih sebagai cerpenis terbaik tahun 1999 (versi Taman Budaya Aceh). Anak muda ini dikenal juga dengan nama samaran Harry Antivoice. Dia dilahirkan di Banda Aceh, 5 Oktober 1981. Sebagai anak muda yang kreatif dia pernah dipercaya memangku jabatan dalam berbagai kegiatan antara lain; sebagai ketua redaksi pers pergerakan pelajar Aceh KaPA post (1999), redaktur budaya (tamu) di tabloid berita mingguan media Kutaraja. Selain itu, juga tercatat sebagai salah seorang pendiri Institut Tukang Ceritra Nusantara (ITCN), dan Komunitas Gerbong Budaya—semacam kelompok diskusi lintas-wacana yang meniscayakan pluralisme tinggi, juga pegiat diskusi di Kelompok Diskusi Metamorfosa. Awal tahun 2002 diundang mengikuti pertemuan Penulis Serumpun di Malaka. Cerpen pertamamya Karnaval dimuat di Harian Serambi Indonesia tahun 1999. cerpen dan essainya dimuat di Kompas, Tempo, Media Indonesia, Jawa Post, dan sejumlah media di Indonesia. Pada tahun 2004 menerbitkan buku kumpulan cerpen Perempuan Pala. Saat ini, Azhari aktif di Komunitas Tikar Pandan—sebuah kelompok kebudayaan di Banda Aceh. Komunitas ini juga menerbitkan Jurnal Kebudayaan Titik Tolak.

IBUKU BERSAYAP MERAH

Ibuku, Abah dan Dik Nong

Setelah bala aku pulang ingin melihat

Kalian dan kampung

Kukira 26 Desember cuma mimpi buruk

Tapi tak kutemukan kalian di sana

Jua Arief kecil yang cerewet

Seperti kalian, kampung kita ternyata sudah tiada

Berubah menjadi laut yang raya

Lihat ibu ada bangau putih

Berdiri dengan sebelah kaki di sudut kamarmu

Bangau itu tak bersayap merah

Seperti dulu pernah kau ceritakan padaku

Karena aku tahu bangau itu telah memberikan sayap merahnya buatmu

Agar kau peluk Abah dan Dik Nong ke dalamnya.

B

BACHTIAR ADAMY

adalah sastrawan yang banyak menulis karya sastra, terutama puisi. Menulis puisi sejak tahun 1978. Dia lahir di Lapangan Timur Gandapura, Aceh Utara, 1 Januari 1956. Pengarang yang kaya pengalaman ini mengaku selain menyenangi puisi juga menyenangi teater, tari, dan musik.

Karya-karyanya tersebar di berbagai media massa baik media lokal maupun madia nasional, antara lain; Harian Iskandar Muda, Atjeh Post, Peristiwa, Mimbar Swadaya, Majalah Santunan, Waspada, Analisa, Mercu Suar, Bukit Barisan, Mimbar Umum, Majalah Dunia Wanita, Gadis, Topik, Anita Cemerlang, dan Harian Merdeka. Karya puisi mantan pengantar koran semasa SD ini terhimpun dalam berbagai antologi, antara lain; Dua Kumpulan Puisi, bersama penyair Ahmad Rivai Nasution (BKKNI Kab. Pidie, 1982), Antologi Titian Laut III (terbitan Kuala Lumpur, 1991). Selain itu puisi-puisinya juga terangkum dalam L.K. Ara dkk (ed.) Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995)

Biarku Genggam Tanganmu

Selamat datang Ramadhan bulan keampunan

Kusambut engkau di gerbang pintu sanubariku

Yang bertirai putih seperti tahun-tahun silam

Lalu kita sama-sama tamu di rumah-Nya

Mereguk berkah dan rahmat

O, bulan agung menyimpan malam rahasia

Biarku genggam tanganmu yang mawar

Pertanda sebuah kesetiaan nan luhur

Buat pertemuan paling menyenangkan nanti

Pertemuan dengan Tuhan

Seperti telah dijanjikan-Nya

Lhokseumawe, 1992

BAKRI SIREGAR

adalah pengarang yang berdarah Batak. Dia dilahirkan di Langsa, Aceh Timur, 14 Desember 1922 dan meninggal di Jakarta, 19 Juni 1994. Pernah terjun dalam dunia jurnalistik, dengan menjadi redaktur harian Pendorong (Medan), dan redaktur majalah Arah (Medan). Sebagai seorang intelektual Bakri mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan sebagai dosen di berbagai universitas baik di dalam negeri maupun di luar negeri, diantaranya; dosen bahasa Indonesia di Universitas Warsawa, Polandia (1956—1957), dosen bahasa Indonesia di FKIP Universitas Sumatra Utara (1957—1959), dan terakhir menjadi guru besar Sejarah Sastra Indonesia Modern di Universitas Beijing, RRC (1959—1962). Dalam dunia perpolitikan yang melibatkan para sastrawan Indonesia, Bakri pernah terlibat di dalamnya, dengan menjadi anggota Pimpinan Pusat Lekra (1959—1965), dan kemudian diangkat sebagai Ketua Umum Lembaga Sastra Lekra (1965), setelah peristiwa G30S PKI meletus, Bakri ditahan hingga tahun 1977. Karya-karyanya yang pernah tercatat antara lain; Jejak Langkah (1953), Saijah dan Adinda (1954), Sejarah Sastra Indonesia Modern I (1964), dan sebuah tulisan yang berbentuk manuskrip dengan judul Angkatan-Angkatan dalam Sastra Indonesia.

BANTA A. FARIDA

adalah penyair yang banyak menulis puisi bertema ketuhanan dalam bentuk sya’er (kesenian tradisional masyarakat Gayo). Ia mempunyai latar belakang pendidikan agama Islam di pasentren. Setelah menyelesaikan pendidikan agama, ia mengabdikan dirinya sebagai guru mengaji di berbagai tempat. Banta A. Farida dilahirkan di daerah Gayo, Aceh Tengah, pada tahun 1929. Perihal mengekspresikan pengalaman diri lewat seni sastra bagi Banta tidak hanya menulis puisi, tetapi juga mengaransemennya menjadi lagu serta langsung membawakan lagu gubahannya tersebut sekaligus. Salah satu puisinya berjudul “Munubah Nasib” (Merubah Nasib) yang terdiri dari 16 bait, bercerita tentang bagaimana sebenarnya manusia nasibnya. Merubah nasib manusia bukanlah Allah, tetapi atas usaha manusia itu sendiri. Walaupun demikian garisnya telah ditentukan Allah, usaha mengerjakan untuk mencapainya terletak pada diri kita masing-masing. Di dalam puisinya “Penyakit Masyarakat” yang terdiri dari 8 bait, berisikan nasehat-nasehat tentang bahayanya seseorang kalau sudah kena penyakit masyarakat. Menurut puisinya, ada lima penyakit masyarakat yakni; berjudi, mencuri, minum arak, pergaulan bebas dan malas. Sebagai seorang penyair tradisional, Banta A. Farida tergabung dalam grub “Sya’er Bebesan”. Pada tahun 1950-an seni sya’er mencapai puncak keemasannya di dataran tinggi Gayo yang kebangkitannya dipelopori oleh Tgk yahya bin Rasyid dan Tgk Abdurrahim Daudy. Pada masa inilah, penyair Banta A. Farida dengan grup Sya’er Bebesannya dalam melakukan kesenian sya’er sering berhadapan dengan penyair Tgk Abdurrahman Daudy dari grup “Sya’er Kebayakan”, dan dengan Tgk Genincis dari grup “Sya’er Kutelintang”. Seperti penyair seni sya’er lainnya, ia pun menulis puisi bertemakan hari akhirat. Salah satu puisinya yang bercerita tentang hari akhirat ialah “Tene Kiamat”. Sedangkan yang menyangkut masalah pendidikan dan tata cara bergaul, terangkum dalam puisinya yang berjudul “Bergaul”. Selain itu tema umum, dituangkannya dalam puisi berupa cerita-cerita tentang Nabi Allah. Terutama kisah Nabi Ayyub. Berikut salah satu cuplikan puisinya yang masih dalam bahasa Gayo

TAKENGON

Sentan ku panang ari Penyanyi

Wae belangi pedi rupen baur temun

Uyem rempak nge muriti

Si karna nami turunni emun

I Ponok Baru ara waih bengi

Tempat muniri sesire berpantun

Sentan ku panang ari bukit menjangan

Belanngi di jalan ku Lukup Sabun

Ku Simpang Balik kami remalan

Teles Lampahan lagu si lungun

I Timangh Gajah lues pedi belang

I daerah Tunyang atu beremun

Sentan ku panang ari gunung ujen

Daling tansaren wae mususun

Kami remalan ku umah uken

Mesgit bebesen nge munge I bangun

Oya waeh tebe kin tetiduken

Telege sumen gerele silun

Sentang ku panang ari bur ni bies

Osop-osop teles kampung pedemun

Kin sejarah jemen atente uwes

Inen mayak pukes oyala atu tamun

I ujung paking ara atu kude

Kene jema tue mungenal petemun

Sentang ku panang ari baur kelieten

Ku kampung toweren asal dene turun

Keliling laut jeroh di jelen

Perau pe simen nge merun-erun

Ari ujung baru aku mumanang

Munengon gelumang nge malun-alun

Sentang ku panang ari kayu Emi

Teles Gele lungi le dene ku kuyun

Aku mukale……………siner pagi

Tutur ni kami kire berlakun

Ku lukup badak kami bermotor

Sumur ara totor nge bene ayun

Sentang ku panang ari Silih Nara

Tanohe rata oya Belang Gurun

Kekiser kiri renyel ku celala

Ku taon pora oya uten selun

I toa ni angkup ara atu timang

Waeh mu berawang unang mukelamun

Sentan ku panang ari baur lintang

Teles mubayang ari uwo Penimun

Kami remalan renyel ku gelampang

I toa ni gelumang oyala penarun

Asal linge awal serule

Ralik ni dunie umo mujumpun

BANTA AHMAT, HIKAYAT

menceritakan mengenai Banta Ahmat lahir ke dunia ini tidak lama setelah kematian ayahnya Ansari, seorang raja dari negeri Nabati. Sebagaimana layaknya anak yatim, iapun melalui awal kehidupannya dengan penuh penderitaan dan kemiskinan. Hal ini disebabkan keserakahan pamannya yang bernama Tapeuhi yang menguasai semua harta warisan peninggalan ayahnya. Sang paman hanya meninggalkan untuk Banta Ahmat dan ibunya sebuah rumah kediaman dan sepilah parang tumpul.

Seiring dengan waktu Banta pun sudah mulai dewasa, dan memberisihkan hutan dan ladang dengan parang warisan tersebut. Namun penderitaan tak juga bisa jauh darinya. Mula-mula taman padinya dihanyutkan banjir sedangkan yang kedua kalinya dimusnahkan oleh burung Bayeuen. Seekor naga muda mengajari Banta cara menangkap burung tersebut. Setelah tertangkap tidak berapa lama kemudian burung Bayeuen pun berubah menjadi Putroe Indra (seorang putri yang cantik jelita), dan Banta pun mengawininya.

Tidak berapa lama sang naga pun sudah besar dan tidak mungkin lagi untuk tetap tinggal di sungai dekat kediaman Banta. Selain itu, ia pun sangat ingin bertemu dengan orang tuanya di laut. Dalam perjalanan ke laut sang naga ditemani oleh Banta, dan mereka banyak menemui rintangan, kesulitan dan cobaan yang berat. Setelah bertemu dengan orang tua sang naga, Banta pun menerima ilmu pelajaran serta jimat malakat (batu sakti) dari mereka. Dengan bekal tersebut, Banta menemui ibunya dan mulai memasuki kerajaan ayahnya yang sedang diperintah dengan zalim oleh sang paman. Sang paman adalah seorang raja kafir yang tidak percaya dengan Tuhan. Dalam memulai aksinya, Banta menyamar menjadi seorang pengemis.

Dalam pengembaraannya Banta secara diam-diam bertunangan dengan Putri Cahaya dari Iran. Tetapi belum bisa melanjutkan kejenjang perkawinan sebab kerajaan masih dikuasai oleh sang paman. Kemudian Banta mengatur siasat dengan matang, lalu kemudian baru memerangi pamannya. Banta pun dapat mengalahkan sang paman dan merebut kembali tahta kerajaan. Banta Ahmat adalah raja yang alim, memerintah dengan bijaksana, sehingga seluruh rakyatnya menjadi makmur.

Dikisahkan Raja Pira’ yang kafir berusaha merebut Putri Cahaya yang cantik jelita dari tangan suaminya. Maka terjadilah perang besar di antara dua kerajaan. Banta Ahmat dapat mengalahkan Raja Pira’. Akhirnya mereka hidup bahagia bersama sekalian rakyatnya. Dari Istrinya yang pertama Banta Ahmat dikaruniai seorang putri yang cantik jelita diberi nama Lila Kaha yang kelak menggantikannya menjadi raja, menduduki tahta kerajaan.

BANTA ALI (BANTA PEUREUDAN), HIKAYAT

merupakan salah satu karya sastra klasik Aceh yang tidak diketahui pengarangnya. Karya sastra ini ditulis dalam aksara Arab-Melayu dengan menggunakan bahasa Aceh. Kalau ditinjau secara keseluruhan hikayat ini mempunyai persamaan cerita dengan dongeng dari Hindustan, terutama dalam cerita Pangeran Kera—seorang pemuda tampan yang tampil (merubah ujud) menjadi kera. Apakah dua cerita ini mempunyai kaitan satu sama lain, untuk menjawabnya diperlukan sebuah penelitian—penelitian dengan berbagai metode secara ilmiah. Cerita dalam hikayat ini dimulai dari petualangan Banta Peureudan dan saudara perempuannya yang bernama Bungsu Juhari. Mereka dibuang ke dalam hutan oleh ayahnya Banta Ali yang mempercayai ramalan ahli nujum bahwa kehadiran Peureudan dan adiknya akan membawa bencana dan kehancuran istana kerajaan.

Seorang pertapa dalam hutan memungut dan mengangkat mereka menjadi anaknya. Kedua bocah tersebut, diajari berbagai ilmu kesaktian. Dengan ilmunya tersebut, sang guru mengubah kedua anak itu bersama seorang pangeran bernama Maharaja Sinha dan patihnya menjadi himbee (sejenis kera). Dalam bentuk ujudnya ini Peureudan dapat menguasai segala macam binatang yang ada dalam hutan. Setelah itu, Peureudan mempersunting putri Sahbandi yang cantik jelita, anak raja Kisoy Kaseumi, yang telah dilamar 99 orang, sedangkan keenam kakaknya semua kawin dengan raja-raja. Peureudan berperang melawan ayah sang putri dan mengalahkannya, lalu memaksa sang raja untuk menyerahkan anaknya.

Ketika raja sedang sekarat, ia sangat menginginkan rusa bertanduk emas yang hidup di tengah-tengah hutan. Ketujuh menantunya pergi berburu rusa tersebut dengan caranya sendiri-sendiri. Berkat bantuan gurunya yang sudah tua Peureudan dapat menangkap rusa tersebut. Keenam menantu yang lainnya bertemu, tetapi mereka tidak mengenal Peureudan karena ia telah merubah ujudnya menjadi manusia biasa. Mereka minta bantuan kepada Peureudan. Dan Peureudan pun menyanggupinya dengan syarat mereka harus menyatakan diri sebagai hamba, lalu Peureudan memberikan duplikat rusanya sambil membubuhkan cap dipaha mereka.

Keenam menantu raja tersebut pulang dengan gembira, tetapi hanya sesaat karena ditengah perjalanan mereka kelaparan dan terpaksa memakan rusa itu. Karena itu, hanya sisa daging busuk yang mereka berikan pada raja (mertua mereka). Sementara itu, Peureudan merubah dirinya menjadi seekor kera dan membawa pulang rusa dalam keadaan hidup. Sesampai di istana ia merubah dirinya kembali menjadi manusia, keenam iparnya sangat terkejut karena kepadanyalah mereka berjanji menjadi hamba. Akhirnya mereka pergi dari negeri itu untuk mencari ilmu kesaktian.

Setelah kematian raja, maka diangkatlah Peureudan menggantikannya. Ia pun menjemput saudara perempuannya yang masih tinggal di dalam hutan, lalu menikahkannya dengan Kasyah Peureudan, putra raja Tambon Parisi sekaligus mengangkatnya sebagai menteri besar. Sementara itu, keenam iparnya yang pergi mengembara mencari ilmu kesaktian dengan dibantu 99 pangeran memerangi Peureudan. Tetapi Peureudan dapat mengalahkan mereka.

Banta Ali dan Istrinya yang telah membuang anak mereka terus dilanda kemalangan. Mereka pun mencari kedua anaknya yang telah hilang. Akhirnya mereka bertemu di Darul Aman—wilayah kerajaan Peureudan. Setelah hidup berbahagia untuk beberapa lama bersama anak-anaknya, Banta Ali pun meninggal. Banta Peureudan dikauruniai seorang putra yang diberi nama Cambo Ali, sedangkan saudara perempuannya melahirkan seorang putri. Kedua sepupu itu akhirnya dikawinkan dan meneruskan tahta kerajaan.

BANTA BEURANSAH, HIKAYAT

seperti layaknya karya-karya sastra klasik Aceh yang tidak mencantumkan nama pengarangnya, hikayat ini pun bersifat anonim. Secara keseluruhan ceritanya bersifat fiksi. Adapun cerita Banta Beuransah sebagai berikut; bermula Raja Syamsirah dari Aramiah yang mempunyai tiga orang anak yaitu Banta Barsyiah dan Qithah dari istrinya yang pertama. Anaknya yang bungsu bernama Banta Beuransah dari istrinya yang kedua. Suatu ketika raja bermimpi tentang seorang putri yang cantik bernama Nurul Aflah yang memiliki burung bernama Melaundiri, dari kerajaan Abram yang diperintah ayahnya bernama Sultan Malik Syamsarah. Ketiga anaknya tersebut diperintahkan oleh Raja Syamsirah untuk mencari sang putri serta burung piaraannya. Maka berangkatlah tiga bersaudara atas perintah ayahandanya.

Tidak berapa lama mereka sampai di persimpangan jalan bercabang tiga. Dari keterangan orang yang mereka temui dua jalan samping tidak akan menemui hambatan tetapi tidak menuju suatu harapan, sedangkan jalan yang di tengah penuh bahaya dan rintangan tetapi penuh dengan harapan. Kedua saudaranya yang tua memilih jalan di samping, sedangkan Beuransah memilih jalan tengah yang penuh dengan kesulitan. Dalam perjalanan selanjutnya kedua saudara Beuransah menjadi pengemis—yang satu jatuh ketangan penjudi dan yang satunya bangkrut karena pencuri. Sedangkan Beuransah menghadapi banyak hal-hal aneh. Ia menemukan pohon penuh dengan buah berebut untuk dipetik Beuransah—masing-masing buah mengaku yang terbaik; tiga buah tong yang tengah kosong; orang-orang memungut dahan pohon; janin kambing mengembek dari rahim induknya; orang memikul kayu bakar dengan beban yang berat tetapi terus menambah bebannya; kaki belakang kerbau yang sudah dipotong menendang satu sama lain; pohon besar berlobang kecil muncul nyamuk di dalamnya makin lama makin besar sampai sebesar gunung; orang yang sibuk mengumpulkan daun-daun pohon.

Hal-hal yang dijumpai Beuransah tersebut mengandung makna dalam bentuk simbol-simbol, lalu diterangkanlah makna simbol-simbol tersebut kepadanya oleh seorang Syiah (orang alim) guna membekalinya dengan pengetahuan berharga dan menyarankannya agar meneruskan perjalanan ke arah timur. Dalam perjalanan ia menemukan sebuah istana yang telah ditinggalkan orang. Di sana ia bertemu dengan Nek Keubayan—ibu raksasa yang suka memakan orang dan binatang. Nek Keubayan merasa kasih terhadap Beuransah, dan menyembunyikannya sewaktu raksasa sedang berburu. Waktu raksasa kembali, si ibu mengorek ilmu rahasia raksasa untuk membantu Beuransah. Raksasa mengatakan tujuh helai rambutnya dapat dijadikan jimat untuk menghadapi segala bahaya. Ketika raksasa sedang tidur, si ibu memotong tujuh helai rambutnya dan memberikan pada Beuransah.

Pada sebuah gunung ia menemukan roh raksasa dijaga oleh dua putri. Raksasa itupun dapat dibunuhnya. Ia meninggalkan dua putri di gunung dan akan menyinggahinya ketika pulang. Setelah itu, ia berteman dengan seekor garuda yang 98 ekor anaknya dimakan seekor naga. Lalu ia pun membunuh naga tersebut dan menyelamatkan dua ekor anak garuda. Sebagai rasa terimakasih garuda membawanya melintasi lautan api menuju tanah tujuannya. Garudapun menunggu perintah selanjutnya.

Beuransah masuk ke istana Abram dan berhasil membawa sang putri dan burungnya. Mula-mula ia hanya membawa burung sakti pulang dan menyinggahi dua putri yang ditinggalkannya di gunung. Dalam perjalanan ia bertemu dengan kedua saudaranya yang sudah miskin. Ia memberikan hadiah yang mahal-mahal. Tetapi kedua saudaranya tersebut menjadi cemburu lalu mencelakakannya dengan memasukkannya ke dalam sumur yang dalam. Di hadapan raja mereka mengaku yang mendapatkan burung sedangkan Beuransah hilang dalam perjalanan. Tapi rasa bersalah menyebabkan mereka malu lalu melarikan diri ke dalam hutan dan tubuh mereka tumbuh bulu-bulu seperti binatang. Sementara itu, Beuransah ditemukan oleh seorang saudagar kaya dan diangkat menjadi anak. Setelah saudagar meninggal, ia mewarisi harta kekayaannya termasuk seekor burung bernama Blanta. Dalam perut burung tersebut terdapat malakat (batu sakti) yang dapat dikeluarkan oleh tujuh jin. Seorang Yahudi ingin mendapatkan batu tersebut dengan tipu-muslihat tetapi tidak berhasil. Berkat kesaktian malakat tersebut ia dapat memasuki istana Abram dan menikahi sang putri. Yahudi tidak kehilangan akal, ia berhasil menyihir Beuransah dan mendapatkan malakat. Beuransah dibuang ke laut lalu dimakan seekor ikan. Dalam perut ikan ia berubah menjadi seorang bayi. Nelayan yang menemukannya dalam perut ikan membesarkannya. Berkat tikus, kucing dan anjing milik si nelayan, Beuransah berhasil mendapatkan kembali malakatnya. Kemudian dengan bantuan tujuh jin ia pun kembali bertemu dengan istrinya. Lalu tujuh jin tersebut mengangkat istana sekalian isinya ke kampung halaman Beuransah.

Beuransah memaafkan kedua saudaranya dan mengembalikan rupanya seperti semula dan memberikan dua putri gunung sebagai istri mereka. Beuransah pun diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya. Ia dikaruniai seorang putra diberi nama Sanggila dan seorang putri Ruhoy Akeuba. Ia pun menikahkan anaknya tersebut dengan putri Indraprata, penguasa kerajaan kayangan.

Tersebutlah raja Cina berhasil menculik istri Beuransah dan dibawa pulang ke kerajaannya dalam keranda kaca. Maka terjadilah perang yang dasyat di antara dua kerajaan ini. Akhirnya Beuransah dapat mengalahkan raja Cina. Berikut ini kita lihat cuplikan sebagian teks Hikayat Beuransah nukilan oleh Aminah dan dialih bahasakan oleh Abdullah Husin (Ara, dkk, 1995:58)

……

Pada suatu malam Raja Syamsiah

Bermimpi seakan ia pergi ke suatu negri

Tempat putri yang cantik

Kulita Abram nama negeri itu

Dan nama putrinya Nurul Aflah

Dalam mahligai tersebut ada seekor burung

Sebagai mainan putri namanya

Malaundiri bulunya indah

Sebagai ayahnya bernama Syamsyarah

Kuta luas dan bertahtakan batu pualam

Tujuh hari raja pingsan

Demikian anugerah Allah

Kemudian raja meminta diberikan

Burung itu pada putri yang cantik rupawan

Tuan putri tak berani mengabulkan

Takut marah sang ayah

Raja sangat sedih dalam mimpinya

Setelah siuman dari pingsan beliau menangis

Putri tanyakan pada raja apa gerangan beliau tangisi

Lantas raja ceritakan mimpi

Setelah itu sang putri heran apa gerangan perubahan pada raja

Kemudian dia panggil semua menteri oleh raja dan nujum-nujum

……..

Sana air penuh yang tengah tidak ada

Berlimpah dua gardu satu tetes tak ada dalamnya

Kemudian terlihat sibuk orang berkas sala

Diangkat-angkat tak mampu diangkat

Konon pula ditambah yang lebih besar lagi

……..

Mengapa segalanya tak terpaham begitu kalam Banta

Tak patuh dan tak mau dengar

Sama si gila mana ada upaya

Mau diangkat tak bergerak

Tak mau dengar nasehat

Sudah itu Banta lalu

Kambing bunting di jalan raya

Anak dalam perutnya bersuara

Banta terus berangkat

……….

BARLIAN AW

adalah pengarang serba bisa dan sebagian karyanya berupa puisi, prosa dan esai. Dia dilahirkan di Seunodon Aceh Utara, 16 Agustus1955. Pada tahun 1977, dia merintis karirnya sebagai sastrawan dengan menulis puisi, prosa, dan esai. Kepiawaiannya dalam dunia karang mengarang ini, telah dibuktikannya dengan memenangkan beberapa lomba yang pernah diikuti, antara lain; lomba mengarang puisi mahasiswa se-Sumatra (Medan 1979), puisi kepahlawanan Aceh se-Aceh (Aceh 1977), prosa kepahlawanan se-Aceh (Aceh 1988).

Sebagai seniman Barlian AW sering mengikuti seminar seni budaya baik tingkat daerah, nasional, maupun internasional. Dalam suatu diskusi seni di Taman Budaya Aceh, Banda Aceh, bulan April 1997, Barlian berbicara tentang “Kesenian Tradisioanal Aceh”. Ada gejala menarik yang diperlihatkannya yang mungkin luput dari perhatian orang. Terhadap gejala pelencengan aspek-aspek esensial dari kesenian tradisional ialah sikap juri yang mau “menyesuaikan diri” dengan kehendak panitia. Padahal, para juri terdiri dari syeh-syeh senior pada Seudati, kreografi pada tari lainnya. Dengan hal ini diharapkan mampu meyakinkan para pejabat kesenian bahwa kesenian tradisional Aceh memiliki aturan dan pakem yang jika dilanggar akan kehilangan identitasnya. Sebab, kita tahu, para penyelenggara festival seni tradisional relatif tidak dimotivasi oleh keinginannya untuk mengembangkan kesenian secara proposional yang pengacu pada ketentuan yang ada—yang sesungguhnya di sinilah inti tradisional. Festival lebih menyesuaikan pada program anggaran.

Sebagai sastrawan Barlian AW selain menulis puisi dan prosa juga membuat karya kreatif berupa semacam essai pendek yang berturut-turut dimuat di ruang “Tingkap” pada Serambi Indonesia, Banda Aceh. Salah satu diantaranya berjudul “Al Hallaj”. Di samping sebagai penulis kreatif, pria sederhana yang tangannya tidak pernah lepas dari rokok ini, pernah tercatat sebagai wakil pimpinan redaksi Serambi Indonesia, selain itu juga aktif di berbagai organisasi, antara lain; wakil ketua KNPI Aceh, wakil ketua Forum Karang Taruna Aceh, wakil ketua Dewan Kesenian Aceh dan Kepala Biro di DPD Golkar Tingkat I Aceh. Sajak-sajaknya dimuat dalam buku L.K. Ara dkk (ed), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Nama Barlian AW tercatat sebagai seorang sastrawan dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (2001). Baginya berkarya dan berkreatifitas adalah ibadah.

ANJING-ANJING ITU TELAH KITA MANJAKAN

anjing di jalan-jalan

anjing di dalam pekarangan

anjing di rumah-rumah

anjing di hutan-hutan perburuan

anjing di tong-tong sampah

siapakah pemiliknya

yang memberi dia makan

yang memanjakannya dengan daging dan tulang

yang mengelusnya siang malam

yang menabalkan namanya dengan berbagai sebutan

anjing-anjing itu telah kita beri susu

katanya agar handal untuk memburu

telah kita beri dia roti

agar gesit mengejar pencuri

telah kita beri dia daging

agar tangguh menggonggong bila datang maling

anjing-anjing betina

anjing-anjing jantan

anjing putih anjing hitam anjing belang

telah menggonggong seruan azan

telah menggigit daging zaman

karena mereka bukan lagi

penjaga rumah dan pekarangan

tak lagi mau berburu kecuali merampas roti anak-anak kita

tak lagi mau menggonggong kecuali memangsai merpati piaraan

mereka terlalu dimanjakan

tidak sekadar simbol kesetiaan kepada sang tuan

tidak lagi jadi penurut

lihatlah di jalan-jalan dia mencegat siapa

lihatlah di lorong-lorong dia menodong siapa saja

lihatlah di gedung-gedung dia melindungi siapa

mereka adalah penebar rabies dan najis

dia adalah lambang kebiadaban

dia adalah lambang kebengisan

BASRI EMKA

lahir dalam lingkungan keluarga guru di Tapak Tuan, Aceh Selatan, pada tanggal 15 Juni 1949. Sejak duduk dibangku SD sudah gemar membaca. Kebetulan orang tuanya yang berprofesi sebagai pendidik, mempunyai koleksi buku yang cukup. Minat bacanya yang tinggi telah mendorong dia untuk menulis puisi sejak duduk dibangku SMP. Namun karya-karyanya itu, hanya menjadi koleksi pribadinya saja, tidak pernah dikirimkan untuk dipublikasikan. Setelah duduk dibangku SMA ia tidak hanya menulis puisi, tetapi juga mengarang cerita pendek. Walaupun cerpen-cerpennya tersebut tidak disebarluaskan di media massa, hanya beredar dikalangan terbatas, di lingkungan teman-teman se-SMA Tapak Tuan, Aceh Selatan. Lama Basri Emka mendiamkan karya-karya sastranya, sampai akhirnya sebuah sajaknya berjudul “Kepada Kawan” dimuat dalam media Minggu Berjuang, terbit di Banda Aceh. Karya-karya Basri Emka kemudian dimuat di Mimbar Swadaya, Nusantara Baru, Taufan, dan Majalah Bulanan Sinar Darussalam, Banda Aceh. Pengetahuan kesusastraan diperoleh Basri Emka tidak hanya lewat bacaan, tetapi juga aktif mengikuti berbagai ceramah seni yang diberikan oleh penyair Rendra. Selain itu, ia juga mengikuti seminar sastra pada Dialog Utara IV yang diadakan di Medan serta Seminar Budaya daerah dan Nusantara, Muzakarah dan pertunjukan kesenian di berbagai tempat. Penyair yang aktif bekerja di Yayasan Leuser Internasional ini, menamatkan pendidikan tingkat tinggi di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Dua buah puisinya, masing-masing berjudul “Pulauku di Seberang Lautan”, dan “Detik-Detik Terakhir” dimuat dalam antologi Seulawah—Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (Yayasan Nusantara Jakarta, 1995) yang diprakarsai oleh L.K. Ara dkk. Kumpulan sajaknya terhimpun dalam; Menuai Kasih Menabur Rindu (1989). Nama Basri Emka juga tercatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia—yang berisi tentang biografi pengarang dan karyanya, majalah sastra, penerbit sastra, penerjemah, lembaga sastra, dan daftar hadiah dan penghargaan (Kompas, Jakarta, 2001).

MERAJUT HARAPAN

Ketika ingin kurajut harapan

Terbentur tembok-tembok penghalang

Mengitari bukit

Di sekujur tubuh kota

Aku menggeliat dalam beku

Menguraikan benang-benang kusut

Kutemui seberkas sinar

Menembus tembok-tembok tua

Dalam keangkuhan tembok tua

Seberkas sinar menembus beku

Cair dan leleh mengurai bentuk

Dalam nuansa warna

Kupahat mutiara kata di beku yang cair

Mengalir di wajah kota

Wajah ceria menguak bentuk

Bentuk yang lain lagi

Hongkong, 1999

BAYANG BULAN DI PUCUK MANGROVE

merupakan buku kumpulan cerpen, karya 10 cerpenis Aceh. Buku setebal 159 halaman ini dieditori oleh Mustafa Ismail, dengan pengantar Hamsad Rangkuti yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Banda Aceh, cetakan pertama November 2006. Judul kumpulan cerpen ini diambil dari judul cerpen M.N. Age yang juga dimuat dalam kumpulan ini. Halaman 5—7 pengantar penerbit oleh Zulfikar Sawang sebagai Ketua Dewan Kesenian Banda Aceh. Halaman 8—16 catatan editor oleh Mustafa Ismail dengan judul bermula di Geurutee. Halaman 17—25 tulisan pengantar oleh Hamsad Rangkuti dengan judul Aceh Lautan Cerita. Halaman 26—27 daftar isi. Halaman 29—155 kumpulan cerpen. Halaman 156—159 biodata penulis. Sedangkan halaman 160 lembaran kosong. Adapun cerpen-cerpen yang dimuat dalam kumpulan ini adalah; Arafat Nur dengan cerpen Jadi Ibu, Ayi Jufridar dengan cerpen Kepala Kedelapan, Azhari dengan cerpen Kunang-Kunang Kampung Sembilan, Muswarman Abdullah dengan cerpen Pidato Seorang Nyonya, Burung Lepas Sangkar, Mustafa Ismail dengan cerpen Kisah Rumah, Rumah Baru Untuk Ibu, M.N. Age dengan cerpen Seulanga di Sudut Halaman, Bayang Bulan di Pucuk Mangrove, Nani HS dengan cerpen Bapak, Ayahku, Ridwan Amran dengan cerpen Memilih Presiden, Saiful Bahri dengan cerpen Alina, Kosong-Kosong, Sulaiman Tripa dengan cerpen Ranjang. Pada sampul belakang kumpulan cerpen ini dimuat komentar Hamsad Rangkuti dengan kapasitas sebagai seorang cerpenis; Kumpulan cerita pendek ini hampir seluruhnya menampilkan masalah yang muncul dalam cerita sebagai pelaku maupun rangkain kejadian di Aceh. Sangat unik. Tokoh, alur, atau plot, latar, malah media penyampaian terasa milik masyarakat Aceh. Memang bagi pengarang yang peka dan kreatif yang bermukim di Aceh mendapat berbagai tema untuk diangkat. Sejak masa penjajahan maupun setelah kemerdekaan banyak peristiwa yang dapat merangsang kemampuan dan mengembangkan gagasan yang baru dan yang khas dengan banyaknya kejadian di daerah garapan cerita.

BENTENG KUTE REH

merupakan buku cerita mengenai Benteng Kute Reh, oleh LK Ara, diterbitkan Penerbit Adhi Putra, Jakarta 1996. Buku setebal 67 halaman ini, ditulis dalam bentuk sajak dan gambar dengan tujuan agar anak-anak tertarik untuk membacanya dan mudah memahaminya. Buku cerita Benteng Kute Reh ini menceritakan sebuah benteng yang didirikan di Aceh Tenggara. Fungsinya adalah sebagai benteng pertahanan terhadap penjajah Belanda. Bagaimana gigihnya rakyat Aceh melawan penjajah. Mereka bertempur dengan alat apa saja, demi membebaskan diri dari penjajahan. Benteng Kute Reh pun menjadi saksi bisu atas gugurnya para syuhada, yang berjuang mempertahankan negeri. Saksi bisu atas kekejaman penjajah. Benteng ini dinamakan Kute Reh sebab letaknya tidak jauh dari Kute Reh.

BUDI ARIANTO

adalah sastrawan berdarah Jawa yang dibesarkan di Tanah Rencong Nanggroe Aceh Darussalam. Dilahirkan di Wonosobo, tanggal 23 Januar1 1972. Kegiatan seninya sudah terlihat ketika jadi mahasiswa di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Unsyiah terutama dibidang seni pertunjukan teater. Budi pernah aktif di sanggar Cempala Karya dan Teater Gemasastrin. Selain itu juga pernah dipercaya sebagai Redaktur Pelaksana Tabloid Detak Mahasiswa Unsyiah. Sebagai seorang penyair berbakat, tercatat beberapa prestasi pernah diukirnya, antara lain; juara I lomba cipta puisi perjuangan se-Aceh (1993), dan juara I lomba baca puisi Chairil Anwar pada peringatan bulan sastra 1995. Karya-karyanya telah dimuat diberbagai media massa baik tingkat lokal maupun tingkat nasional. Budi telah mencatatkan dirinya sebagai seorang penyair Aceh. Sajak-sajaknya terangkum dalam L.K. Ara dkk (ed.) Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995).

BUKHARI AL-JAUHARI

seorang pengarang yang bergelar Syah Alam. Beliau hidup dalam masa pemerintahan Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Sayid al-Mukammil. Salah satu karangan beliau yang terkenal adalah Taj al-Salatin atau Mahkota Segala Raja-Raja. Kitab ini ditulis di Istana Kerajaan Aceh Darussalam pada 1012 H atau 1603 M dan menjadi pedoman penting bagi raja-raja kerajaan Islam di nusantara. Tujuan Kitab Tajussalatin disusun adalah untuk menyampaikan bagaimana seharusnya perilaku serta kewajiban raja, menteri, hulubalang, serta pembesar kerajaan lainnya dan rakyat dalam bernegara menurut tuntunan agama Islam. Dalam T. Iskandar (1995:372) terdapat pertentangan para ahli sastra Melayu mengenai biografi Bukhari al-Jauhari dan karyanya tersebut. Diantara para ahli tersebut adalah Valentijn dalam karyanya Oud en Nieuw Oost-Indien menganggapnya sebagai buku yang terbaik dalam bahasa Melayu dan menyebut pengarangnya Bukhari dari Johor. Begitu juga dengan Werndly dalam Boekzaal, Roorda Van Eysinga yang menerbitkan Taj al-Salatin dengan terjemahannya kedalam bahasa Belanda pada tahun 1827 sangat memuji karangan ini dengan mengatakan Mahkota Segala Raja-Raja sebenarnya disebut Mahkota Segala Naskah Melayu. De Hollander dalam bukunya Handleiding bij de Beoefening der Maleische Taal en Letterkunde 1845, menyebutkan pengarang Taj al-Salatin sebagai Bukhari dari Johor: jikalau nama-nama yang terdapat dalam Taj al-Salatin itu sendiri tidak harus diartikan bahwa pengarangnya berasal dari Bukhara, sebuah kota di Asia Tengah, dan seorang saudagar permata. Namun kemudian Van Ronkel dengan mengambil contoh dari huruf jawi j-w-h-r-y yang terdapat dalam kitab ini tidak dapat dipahami dan dibaca di Johor. Oleh sebab itu, tidak ada jalan lain ketika membaca jauhari dan pengarangnya sebagai Bukhari al-Jauhari. Bahkan ia membandingkannya dengan nama pengarang Parsi yang hidup beberapa abad sebelumnya. Namun dari pertentangan para ahli tersebut yang jelas adalah karangan ini ditulis untuk Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Sayid al-Mukammil (1588-1604). Untuk memastikan karangan ini dapat dihitung dengan parkataan ghaib dalam huruf Arab. Huruf ghain bernilai 1000, ya bernilai 10, dan ba bernilai 2. Dengan demikian tahun dikarangnya Taj al-Salatin ini ialah 1012 H atau 1603 M. Tahun ini bertepatan dengan zaman kerajaan Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Sayid al-Mukammil, yang memerintah Kerajaan Aceh dari tahun 1588 hingga tahun 1604. Walaupun Bukhari al-Jauhari hidup sejaman dengan Hamzah Fansuri namun ia tidak terpengaruh dengan gaya syair serta karya-karya Hamzah Fansuri lainnya. Bentuk sajak yang digunakan Bukhari merupakan bentuk sajak dari Parsi, seperti ruba’I, ghazal, manthawi dan kit’ah ataupun sajak Arab. Maka tidak mengherankan Bukhari dalam mengarang karyanya banyak menggunakan sumber-sumber Parsi, antara lain; Akhlak-i-Muhsini, karangan 451 H Husain Wa’iz al-Kasyifi (1494-1494), Tanbih al-Ghafilin, karangan Siraj al-Din ‘Ali Khan (1489), Siyar al-Muluk, karangan Wazir Nidham al-Muluk (lahir tahun 1017-18H/1608-1609),Tuhfat al-Wuzara, Kitab al-Asrar, karangan Abu Hamid bin Abu Bakr Ibrahim Farid al-Din Attar (meninggal pada 1230), Mahmud wa Ayaz, pada waktu itu terdapat tiga versi, Fakhr al-Din ‘Ali Safi (meninggal pada 1532/34), Anisi (meninggal pada 1605/6) dan Zilali (meninggal pada 1593/1615), Khusraw wa Syirin, versi terbaik karangan Fakhr al-Din As’ad Idzami, Yusuf wa Zulaikha, versi-versi Fidawsi, Abu’l-Mu’aiyad dan Bkhtyari (abad ke-10). Berikut ini cuplikan Taj al-Salatin karya Bukhari al-Jauhari

Adapun segala perkataan kitab ini yang mulia dan indah daripada pihak ghaib dating ke dalam khalwat hati, sehingga akan putus belaka kehendak kitab dan mengeluarkan dari barang yang ghaib. Lagi masa permulaan kitab ini barangsiapa yang dapat mengira-ngirai segala aksara sepatah ghaib itu dengan bilangan abjad, maka orang itu mengetahuilah pada masa mana fakir mengarang kitab ini. Maka dengarkan dan bicarakan oleh kamu sebagai kataku; ruba’i:

Naskhah ini yang dari ghaib adanya ghaib itu lagi jadikan masanya

Kiranya oleh kamu dan ingatlah kalanya Yang Taj al-Salatin itu mulanya.

BULUKIA, HIKAYAT

adalah karya sastra dalam bahasa Aceh dengan menggunakan huruf Arab. Hikayat setebal 161 halaman ini, tidak diketahui pengarang dan tahun penulisannya. Hal ini, terjadi umumnya pada karya-karya sastra lama di Aceh. Namun dilihat dari isi dan penulisannya hikayat ini diperkirakan paling tidak sekitar akhir abad ke-19. Secara keseluruhan hikayat ini merupakan cerita fiktif dengan tema keagamaan. Diawali dengan peringatan pengarang kepada khalayak untuk tidak melupakan Tuhan dan Nabi Muhammad saw. Ringkasan cerita Hikayat Bulukia ini adalah sebagai berikut; Balu Kiya seorang raja dari Bani Israil yang bijaksana dan alim. Hidup dijaman sesudah Nabi Sulaiman wafat. Pada suatu ketika ia menemukan sebuah kitab dalam peti yang disimpan ayahnya. Kitab tersebut menceritakan perihal Nabi Muhammad yang mempunyai budi pekerti halus dan suci. Selain itu, kitab tersebut juga menceritakan mengenai Nur Muhammad serta keajaiban-keajaibannya.

Setelah membaca kitab tersebut, Bulu Kiya pergi mengembara dengan tujuan mencari Nabi Muhammad dan ingin menjadi pengikutnya. Sesampai di Syam, ia bertanya tapi tidak seorangpun tahu di mana Nabi Muhammad, walaupun mereka selalu bersyahadat. Dalam perjalanannya ia bertemu dengan ular dan harimau yang bisa berbicara. Seekor ular tersebut bernama Tamalikha yang selalu bersyahadat tidak putus-putus. Ia bertemu dengan seorang pemuda bernama Afan di suatu daerah yang penduduknya sangat alim. Akhirnya mereka berdua sepakat sama-sama mencari Nabi Muhammad. Ketika beristirahat di bawah sebatng pohon, tiba-tiba pohon tersebut berbicara, “ambillah daun saya, lalu remas hingga keluar minyak. Minyak ini bisa menghidupkan orang yang sudah mati dan kalau dioleskan pada kaki, maka kakinya tidak akan basah kena air.” Lalu mereka pun mengikuti saran kayu tersebut. Berkat kasiat minyak kayu mereka bisa menyeberangi lautan luas. Sampailah mereka ke sebuah gua tempat jenazah Nabi Sulaiman yang memakai cincin malakat berkekuatan gaib yang luar biasa. Jenazah Nabi Sulaiman dijaga oleh ular sakti. Karena keserakahannya mau mengambil cincin malakat tersebut, Afan mati oleh malaikat Jibril dan ular sakti. Walaupun sebelumnya bisa dihidupkan dengan minyak ajaib. Balu Kiya pun melanjutkan perjalanannya setelah bertanya jawab dengan malaikat Jibril.

Selanjutnya ia ditangkap oleh jin Islam, ia pun menceritakan misi dan tujuannya. Raja jin Islam juga menceritakan perihal mereka selalu berperang dan mengalahkan jin kafir. Lalu ia pun melanjutkan perjalanannya. Di sebuah dataran bertemu dengan Malaikat Fahatashsha yang mempunyai sayap. Malaikat ini yang menentukan terjadinya siang dan malam. Setelah mohon diri ia menyeberang laut yang luas dan bertemu dengan Malaikat Makhaluddin yang bertugas sebelah tangan menahan langit dan sebelah lagi menunjuk ke arah laut, agar bumi jangan hancur. Ia pun mohon diri dan melanjutkan perjalanan. Tak terasa lama perjalanannya sudah 200 tahun. Di sebuah lautan besar bertemu dengan raja ikan sebesar gunung. Ia pun diberi oleh raja ikan makanan dari syurga. Suatu ketika ia bertemu dengan raja semut sebesar kancil yang bertugas menjaga gunung yang penuh dengan emas dan perak, agar jangan habis diambil oleh keserakahan manusia. Ia melanjutkan perjalanannya dan sampailah ke Bukit Kaff bukit yang sangat tinggi dijaga oleh malaikat bersayap dan dilembahnya dijaga pula oleh malaikat yang bermacam-macam bentuknya. Para malaikat tersebut selalu bersyahadat. Bukit Kaff sendiri merupakan paku dunia agar tidak pecah. Suatu ketika dalam perjalanannya bertemu dengan tiga orang pemuda yang rupawan dan gagah. Rupanya ketiga pemuda tersebut adalah Malaikat Israfil, Mikail, dan Jibril. Meraka menyarankan agar Balu Kiya untuk pulang kampung karena Nabi Muhammad belum lahir. Sementara lama perjalanannya sudah 500 tahun. Mendengar hal itu, ia sangat sedih. Di tengah kesedihannya tersebut bertemu dengan burung dari syurga yang bernama Khaidir. Sama dengan para malaikat, Khaidir pun menyarankan untuk pulang kampung karena Nabi Muhammad belum lahir. Ia menjadi bingung karena tidak tahu lagi arah kampungnya. Dengan sekejap mata Khaidir mengantarkannya dan sudah sampai di hadapan ibu dan istrinya.

Ia menceritakan pengalaman pengembaraannya dalam mencari Nabi Muhammad. Selama dalam pengembaraan tersebut kerajaan diperintah dengan adil dan bijaksana oleh ibu dan istrinya. Dua tahun kemudian istrinya melahirkan seorang putra yang diberi nama Johan Pahlawan yang nantinya menjadi raja menggantikan Balu Kiya. Pada akhir hikayat pengarang menceritakan kisah perjalanan burung nuri sebagai penjelmaan Nur Muhammad yang diangkatnya dari Hikayat Tajul Muluk. Berikut ini kita lihat beberapa bait cuplikan Hikayat Balukia

…..

Uroe donya di akhirat

Neubri syufaat di padang masya

Keureuna seubab neugaseh that

Keu umat nyang na takwa

Page dudoe uroe akhirat

Sayang neuthat keu umat dumna

Silaweuet beklaen ta ingat

Keu Muhammad peukawe donya

Hate gaseh keu Muhammad

Makrifat dum bak syeedera

Neubri syureuga keu bandum umat

Muhammad peukawe donya

Nyang keu hansah taseumah Tuhan

Meungkon tuan makrifat beuna

Zat ngen sifeut nyang bak Tuhan

Ka tatuban uleh kita

Asma ngen zat lhee peungenalan

Nibak Tuhan leungkap dumna

Ka samporeuna makrifat nyan

Wajeb teelan seumah sigra

Han taturi peue taseumah

Sia payah hana guna

La illa ha illallah

Muhammad sah nyang keudua

Kadang soe-soe rupa ka taseumah

Untong iblih si ceulaka

Malaikat saleh insan

Saleh syeetan bek tasangka

…..

BURUNG PINGGAI, SYAIR

merupakan karya Hamzah Fansuri yang dipengaruhi oleh Mantiq al-Tayr karangan Farid al-Din Attar (lebih kurang tahun 1229 M). Dalam T.Iskandar (1996:320) hikayat ini telah disebut dalam daftar naskah-naskah dalam koleksi Isaak de Saint Martin (1696). Dalam hikayat ini, Burung Pingai bukanlah nama burung yang sebenarnya seperti jenis-jenis burung di dalam dunia fauna. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak dijumpai jenis burung yang bernama pingai. Dalam (Braginsky, 1993:137) burung pinggai hanyalah berupa tamsilan pengarang untuk mengekpresikan idenya tentang kesatuan Ilahi, terutama dalam ajaran sufi tentang wahdat al-wujud. “burung itu, ialah Nur Allah, selalu sujud kepada Allah. Ia ada di bawah ‘Arsy, selalu penuh ‘Ishq atau cinta terhadap Yang Maha Tinggi, selalu mabuk anggur keesaan-Nya, selalu ada dalam wasl atau penyatuan dengan-Nya”. Berikut cuplikan Hikayat Burung Pinggai

Burung yang sangat indah-indah

Demikian bunyinya:

Ada suatu kabar

Dari sidang pendeta

Akan bidadari cendera wasa

Didalam sorga

Ialah yang bernama Si Burung Pinggai

Dikarangkan bunga diberikan

Dipakai kepada Si Burung Pinggai

Burung yang maha indah-indah

Burung maha budiman

Burung bijaksana

Burung permainan Nabi Allah

Burung sangkaran sidanng anbia

Dan arifin, dan ‘asyikin

Burung kekasih Nabi Allah

Burung kekasih siding budiman

Burung tambata sidang anbia

Burung permainan sidang aulia

Burung asuhan sidang budiman

Burung maha bijaksana

….

BUSTAN AL-SALATIN

merupakan karya Nuruddin ar-Raniry atas perintah Sultan Iskandar Thani pada tahun 1047 H/1637 M, dengan judul lengkapnya Bustan al-Salatin fi Dhikr al-Awwalin wa’l-Akhirin dan merupakan karya terbesar Nuruddin serta karya terbesar pula yang pernah dihasilkan oleh pengarang kesusastraan klasik Melayu. Karya ini dikarang oleh Nuruddin ketika di Aceh sudah ada Taj al-salatin (1603), Sulalat al-Salatin (1612), dan Hikayat Aceh (1606-1636). Melihat bentuk dan isi dari Bustan al-Salatin diperkirakan Nuruddin dipengaruhi oleh ketiga karya sastra tersebut. Terutama oleh Sulalat al-Salatin, dan besar kemungkinan beliau telah bertemu dengan pengarang Sulalat al-Salatin tersebut, yaitu Paduka Raja atau Tun Seri Lanang. Selain itu, Bustan al-Salatin ini dalam pembagian bab-babnya sangat mirip sekali dengan pembagian bab-bab Taj al-salatin. Nuruddin dalam mengarang karyanya ini tampak ingin manandingi kehebatan Taj al-salatin, Sulalat al-Salatin, maupun Hikayat Aceh. Karena itu, Nuruddin memulainya dengan kejadian langit dan bumi serta diakhiri dengan sejarah Aceh dengan penutupnya Sultan Iskandar Thani. Dalam (T.Iskandar 1995: 410-411) disebutkan pembagian karya ini agak aneh, karena di samping sejarah karya ini juga mengandung panduan untuk raja-raja, pembesar-pembesar dan rakyat jelata. Karya ini, terdiri atas tujuh bab dan tiap bab terbagi pula dalam dua hingga tiga belas pasal.

1. bab pertama, pada menyatakan kejadian tujuh petala langit dan bumi dalamnya beberapa (10) pasal.

2. bab kedua, pada menyatakan segala anbia’ dan segala raja-raja, di dalamnya beberapa (13) pasal.

3. bab ketiga, pada menyatakan segala raja-raja yang adil dan wazir yang barakal dan di dalamnya (6) pasal.

4. bab keempat, pada menyatakan segala raja-raja yang pertapa dan segala auliya’ yang salihin dan di dalamnya (2) pasal.

5. bab kelima, pada menyatakan segala raja-raja yang zalim dan segala wazir yang aniaya, di dalamnya (2) pasal.

6. bab keenam, pada menyatakan segala orang yang murah lagi mulia dan segala orang berani yang besar, dalamnya ada (2) pasal.

7. bab ketujuh, pada menyatakan akal dan ilmu dan firasat dan kifayat dan ilmu tabib dan segala sifat perempuan dan setengah daripada hikayat ajaib dan gharib, dalamnya (5) pasal. Khusus bab ini, disebut dengan Bustan al-Arifin.

Masih dalam (ibid) pertemuan Nuruddin dengan Tun Seri Lanang ditulis dalam Bustan al-Salatin ketika beliau meriwayatkan penziarahan Sultan Iskandar Thani ke Pasai pada tahun 1048 H/1638 M, sebagai berikut

Kata sahibul-hikayat: Tatkala itulah datang Paduka Raja serta hulubalang empat orang disuruhkan Raja Johor menghadap kebawah Duli Hadhrat Yang Mahamulia serta membawa sahifah dan segala persembahan Raja Johor. Demi didengar Hadhrat Syah ‘Alam maka terlalulah sukacita Hadhrat Yang Mahamulia serta memberi titah kepada Megat Dilamcaya: Kamu panggil Paduka Raja dan segala mereka itu serta dibawanya surat dan segala persembahan Raja Johor itu. Maka Paduka Rajapun datanglah menghadap Hadhrat Syah ‘Alam, lalu dipersembahkannya surat dan segala persembahan. Maka tatkala dibaca sahifa itu, maka Hadhrat Yang Mahamuliapun mengucap syukurlah, lalu dikaruniai persalin akan Paduka Raja dan akan empat orang hulubalang itu. Maka sabda Yang Mahamulia, hendaklah kita mengiring kami ke negeri Pasai.

Dalam perjalanan kembali dari Pasai ke Bandar Aceh Darussalam dan sampai di Gunung Parawas, di dekat Padang Tizi, Nuruddin pun menulis kisah ini dalam Bustan al-Salatin, tertuang dalam cuplikan karya berikut ini

Kata sahibul-hikayat: Tatkala itulah Paduka Raja bermohon kembali. Maka terlalulah banyak kurnia Paduka Seri Sultan Iskandar Thani Alauddin Mughayat Syah akan Raja Johor, daripada cincin intan, dan kucing intan, dan anting-anting intan, terlalu amat indah perbuatannya, dan beberapa daripada pakaian keemasan yang tuhaifah perusahannya dan beberapa ekor kuda tizi dan keldai.

Selain menulis mengenai Kerajaan Aceh, dalam Bustan al-Salatin Nuruddin juga meriwayatkan silsilah raja-raja Melaka dan Pahang. Hal ini, dapat dilihat dalam bab 2 pasal 12, sebagai berikut

Kata Bendahara Paduka Raja yang mengarang Sulalat al-Salatin, ia mendengar daripada bapanya, ia mendengar daripada nininya, datuknya, tatkala Hijrah an-Nabi salallahu ‘alaihi wassalam seribu dua puluh esa, pada bulan Rabi’ul-awal, pada hari Ahad, ia mengarang hikayat pada menyatakan peraturan segala raja-raja yang kerajaan di negeri Melaka, dan Johor, dan Pahang, dan menyatakan bangsa dan silsilah mereka itu daripada Sultan Iskandar Dzulkarnain.

C

CHALIDIN,TEUNGKU

adalah seorang ulama yang amat setia menulis seni Sya’er (kesenian tradisional masyarakat Gayo dalam bentuk syair, yang digunakan sebagai media dakwah dan pengembangan ilmu agama Islam). Dia pernah belajar ilmu agama Islam di Cut Merak, Bireuen, dan beberapa daerah lainnya di wilayah Aceh. Setelah selesai mempelajari ilmu agama, pada tahun 1930-an Tgk Chalidin kembali ke kampung halamannya untuk mengabdikan diri sebagai guru agama sepanjang hidupnya. Setelah cukup lama mengajar di berbagai tempat seperti Desa Bebesan, Kenawat, Uning, Tan, Ujung Gele, dan lain-lain, pada tahun 1974 Tgk Chalidin memasuki masa pensiun. Walupun sudah pensiun ia tidak pernah berhenti menjadi guru. Semangatnya tetap menyala “Sekali layar terkembang pantang langkah surut ke belakang”. Dari rumahnya yang kecil dan sederhana, dengan jalan yang sudah terbungkuk-bungkuk kerena usia sudah senja (80 tahun lebih) lelaki kelahiran Desa Bebesan, Aceh Tengah ini, tetap mengajar di Mesjid Kemili dan rumah-rumah sekitarnya. Bagi Tgk Chalidin mengajarkan ilmu agama adalah ibadah kepada Allah. Suatu pekerjaan lain yang dihadapinya selain sebagai guru adalah menulis puisi religius yang biasanya didendangkan atau dibacakan dalam seni sya’er. Sudah lebih dari 100 puisi lahir dari tangannya, yang seluruhnya bertemakan religius, diantaranya ada yang berjudul, Dunia dan Akhirat, Langit Bumi, Ahklak, Cerita Anak Yatim, Sampai Janji, dan lain-lain. Namun diantara puisi-puisinya itu yang terkenal adalah puisi yang berjudul “Hari Kiamat”. Puisi Hari Kiamat bercerita tentang hari yang akan datang yaitu hari musnahnya seluruh kehidupan di permukaan bumi ini. Suasana hari kiamat dilukiskan penyair dengan sesuatu yang mengerikan, sehingga pembaca benar-benar dapat membayangkan betapa dunia yang kita tinggali saat ini menjadi porak-poranda. Alam yang semula indah berubah menjadi berantakan. Tidak hanya keadaan fisik manusia yang digambarkan penyair tetapi juga menyentuh lebih jauh, misalnya bagaimana hubungan anak dan bapak, hubungan adik dan abang pada hari kiamat itu. Mereka tidak lagi saling berkasih-kasihan tetapi saling mengurus dirinya masing-masing. Puisi Hari Kiamat yang aslinya dalam bahasa Gayo, Aceh Tengah, diciptakan Tgk Chalidin pada tahun 1945. Penampilan puisi ini dalam seni sya’er telah berpuluh tahun dikembangkan. Tentunya dengan puisi sya’er lainnya yang diciptakan Tgk Chailidin.

HARI KIAMAT

Hari kiamat sungguh mengherankan

Semua insan berhati bimbang

Isi dunia porak peranda

Dunia bergerak menggoncang-goncang

Laut dan daratan barat dan timur

Hancur lebur berserakan

Dimana bukit lebih tinggi

Telah runtuh membujur melintang

Telah tergulung langit menimpa bumi

Setiap yang bernyawa merasa gundah gulana

Isi dunia bercampur baur

Campur aduk dengan binatang

Disitulah manusia terkejut

Telah merasa takut dunia bergoyang

Setiap yang bernyawa berhati gundah

Hewan liarpun tak lagi riang

Kesana kemari seluruhnya berlarian

Seperti kupu-kupu terbang melayang

Anak dan bapak tak lagi berkasihan

Tak lagi menentu adik dan abang

Dimana pangkat yang terkenal tinggi

Disana tumpul laksana parang

Dimana dokter yang banyak ilmu

Disana buntu dia mengaku kurang

Hari kiamat menjadi tanda

Akhirat dunia telah terpisah

Ibarat fajar telah merkah

Ingin menjadi batas gelap dan terang

Menurut ayat, Tuhan berfirman

Segala amalan nanti di timbang

Bila timbangan berat kekebajikan

Ke sorga berjalan dengan hati senang

Mungenal nepekah alakmu sempur

Munangkoki baur munarungi uten

Di dalam sorga berbagai rupa

Yang berkenan dihati tak ada yang kurang

Tanaman bunga berbaris merentang

Indah dan cantik mata memandang

Mengenakan pakaian bermacam warna

Intan permata bertabur bintang

Makan buah lezat cita rasanya

Bidadari datang menghidang

Sebagai balasan amal ibadat

Diambil saja tak ada yang kurang

Bila timbangan berat kearah dosa

Ke neraka yang berapi merah

Isi neraka selalu memanggil-manggil

Neraka panas selalu menyerang

Berteriak menjerit tak henti-henti

Tulang dan daging mulai berpisahan

Isi neraka berhati pedih

Tak lagi kasih Tuhan memandang

Karena di dunia dia lupa pada Tuhan

Begitulah Tuhan tak lagi kasihan

Isi neraka merasakan siksa

Isi sorga merasakan senang

CHAM NADIMAN

merupakan karya sastra Aceh dalam bentuk hikayat yang ditemukan dalam catatan Snouck Hurgronje. Tidak begitu jelas mengenai bentuk dan pengarang karya sastra ini, tetapi Snouck menggolongkannya kedalam bentuk cerita fiksi—kelompok dongeng-dongeng Melayu Nusantara. Dalam catatan kaki Snouck nampak karya sastra ini ditulis dalam aksara Arab-Melayu dengan menggunakan bahasa Aceh tetapi banyak dipengaruhi kosa kata bahasa Melayu. Cerita karya sastra ini bermula dari seorang pangeran yang bernama Syam Nadiman, putra Meunua Jho, raja dari negeri Irandamin tersesat saat berburu kambing sakti Krukha. Dalam pengembaraannya ia menemukan sebuah istana yang telah ditinggalkan dan batu bertulis yang menceritakan Putri Paridoh yang cantik jelita menunggunya di negeri Cina. Maka ia pun berangkat ke sana. Dalam perjalanan ia membunuh Si Madon dangki pemakan orang, dan dirajakan di negeri Kawadamin yang rajanya baru meninggal.

Dalam perjalanan selanjutnya ia menaklukkan tukang sihir yang menawan Paridat saudara Putri Paridoh, lalu membawanya kemabali kepada ayahnya, raja Cina. Di negeri Cina, mula-mula ia diterima dengan penuh kehormatan, tetapi ketika ia mendatangi tempat kediaman Putri Paridoh, ia pun dipenjarakan oleh raja. Syam Nadiman dibebaskan oleh seorang wanita bernama Kamarah yang jatuh hati kepadanya. Mereka pun saling berkasih-kasihan. Untuk beberapa saat Syam Nadiman melupakan Putri Paridoh. Tidak berapa lama kemudian ia segera sadar dan teringat dengan sang putri. Maka secara diam-diam mereka hidup bersama di tempat seorang Brahmana dan mereka pun kawin di sana.

Akhirnya raja Cina mengetahui hubungan mereka dan meminta Syam Nadiman untuk mengembalikan anaknya, tetapi mereka tetap meneruskan hubungannya. Raja Cina mengurung sang putri dalam rumah seorang patih dan mengumumkan kepada rakyat bahwa Putri Paridoh sudah meninggal. Di rumah patih terjalin lagi kasih sayang yang baru yaitu antara Kamareutih putra sang patih dengan Paridat karena sering mengunjungi saudaranya Paridoh.

Syam Nadiman dan Kamareutih tidak dapat hidup bahagia, karena mereka tidak mendapat restu dari raja Cina sebagai mertua mereka. Lalu terjadilah perang antara kedua belah pihak. Raja Cina pun tewas dalam pertempuran. Akhirnya mereka semua pergi ke Irandamin, negeri asal Syam Nadiman.

CHIK PANTEE GEULIMA

lahir tahun 1839 di Kampung Pantee Geulima. Pernah belajar pada pusat pendidikan Islam, Dayah Pantee Geulima yang dipimpin ayahnya sendiri Teungku Chik Ya’kub. Selain itu Chik Pantee Geulima pernah mengikuti pendidikan militer pada pusat askar Aceh yang bernama Makhad Baital Makdis. Dalam sejarah kesusastraan Aceh nama beliau tercatat sebagai salah seorang pengarang hikayat. Salah satu karya beliau yang sangat terkenal adalah Hikayat Malem Dagang. Hikyat ini ditulis Chik Pantee Geulima sebagai karya yang benafas perang. Sedikit banyak ini sesuai dengan pengalaman pengarang sendiri pada waktu itu. Di Aceh pada masa itu sedang berkecamuk perang. Chik Pantee Geulima ikut mendidik dan melatih para pemuda Aceh untuk menjadi askar. Maka di Dayah Pantee Geulima pun menjelma menjadi salah satu pusat pendidikan askar di kawasan Pidie. Akhir hidup pengarang Teungku Chik Pantee Geulima dicatat sebagai pahlawan Kuta Bate Iliek, beliau gugur dalam satu pertempuran sengit di Bate Iliek. Beliau syahid pada hari jumat pada tahun 1904 M, dalam usia 66 tahun. Di makamkan di Gampong Meurandeh Alue, Kecamatan Banda Dua. Berikut cuplikan Hikayat Maleem Dagang:

Kembali dari Banang menjumpai putri

Dibawa kemari bersama raja

Tuan Putroe Phang dan Raja Raden

Tiada yang lain Paduka Meukuta

Kalau begitu wahai Bujang

Baliklah sekarang ke bahtera

Suruh masuk Kuta Bantan

Sekalian dengan anda

Ketika mendengar demikian sabda

Berjalan segera menghadap panglima

Begitu bertemu disampaikan

Baginda panggil kini anda

Anda disuruh masuk ke dalam

Syah Alam suruh bersegera

….

CHIK PANTEE KULU, SYEIKH

nama lengkapnya adalah Teungku Muhammad Pantee Kulu. Tempat tanggal lahirnya adalah di desa Pante Kulu, Kemukiman Kemalawati, di kawasan kabupaten Pidie, tahun 1251 H (1836 M). Mula-mula ia belajar ilmu-ilmu agama Islam dalam bahasa Melayu (Jawi). Kemudian melanjutkan pelajarannya pada Dayah Tiro yang dipimpin oleh Tgk Haji Chik Muhammad Amin Dayah cut, seorang ulama yang kebetulan baru pulang dari Mekkah. Chik Pante Kulu pernah belajar di Mekkah. Sepulang dari tanah suci beliau menjadi seorang ulama besar, pujangga kenamaan, dan sastrawan nusantara yang mengarang karya sastra yang fonumental “Hikayat Perang Sabil”–sebuah karya sastra jihad yang sanggup membangkitkan semangat rakyat Aceh berperang melawan penjajahan Belanda lebih dari 50 tahun. Hikayat Perang Sabil ditulisnya dalam perjalanan Mekkah-Aceh. Dia menulis dengan kalam dalam tulisan Arab berbahasa Aceh. Sebagai seorang sastrawan besar Chik Pantee Kulu dengan puisinya yang berbentuk hikayat telah mampu mengangkat harga diri dan marwah anak negeri ini dari jajahan bangsa asing. Hal ini tidak terlepas dari kecermatan dan kejeliannya dalam merasakan dan membaca kondisi dan situasi masyarakat yang secara fisik dan psikologis terikat oleh sistim yang dipasang oleh penjajah. Sebagai seorang ulama besar karya-karya sastra beliau sangat terpengaruh oleh sastrawan Islam di Zaman Nabi Muhammad. Hikayat Perang Sabil berisikan ayat-ayat Alquran dan Hadits-hadits Nabi yang dipuisikan sehingga beliau mendapat julukan “Penyair Perang” sepanjang zaman terbesar di dunia. Berikut cuplikan Hikayat Prang Sabil:

……

Dan jiwamu…dengar kukatakan maknanya kini

Pemberian Tuhan Rabbul Alamin

Pada orang mukmin jalan sejahtera

Lepas dari azab di hari kemudian

Diberikan Tuhan kelak surga

Jannatul Adnin Tuhan namakan

Nikmat nian tiada terkira

Apa yang tergerak dalam hati

Segera nyata ke situ tiba

Kunia Khalik Rabbul Jalil,

Yang berperang Sabil sangat mulia

Bidadari tujuh puluh orang

Khadam sekalian muda-muda

Begitu firman Rabbul Jalil

Jangan diam lagi wahai saudara

Berangkatlah Teungku memerangi kafir

Jangan sayang akan harta

Seluruh harta anda wahai taulan

Dengan kekayaan Nabi Sulaiman secuil tiada

CINTABUHAN, HIKAYAT

merupakan roman Aceh dalam bentuk hikayat. Sebenarnya karya sastra ini merupakan saduran dari cerita Melayu Ken Tambuhan atau Tabuhan. Namun pada versi Aceh terdapat perbedaan pada sang putri yang bernama Tanjong Puri. Dalam versi Melayu diceritakan sang putri dilarikan oleh makhluk gaib ke dalam hutan, sedangkan dalam versi Aceh diceritakan sang putri diboyong oleh ayah Raden Meuntroe yang berperang melawan ayah sang putri karena mau tunduk dan membayar upeti.

Selain itu, dalam versi Aceh pun sudah diberi warna Islam dalam penceritaannya. Walaupun peran dewa-dewa (makhluk gaib khayangan) masih memegang peran penting dengan melakukan segala macam keajaiban. Tetapi apa bila mengalami kesusahan pengarang menyuruh memohon bantuan kepada Allah swt, bukan kepada para dewa. Dengan demikian dapat kita asumsikan bahwa hikayat ini masih dipengaruhi oleh hinduisme. Dan besar kemungkinan hikayat ini hadir pada jaman peralihan dari Hindu ke Islam.

C. HARUN AL-RASYID

adalah nama samaran Muhammad Harun Al Rasyid. Dia mulai gemar menulis puisi sejak sekolah menengah. Harun boleh dikatakan pengarang yang serba bisa. Selain menulis puisi, dia juga seorang penulis esai, kritik sastra, feature, resensi buku, opini, dan cerpen yang handal. Karya-karya telah dimuat di media lokal maupun nasional. Puisi-puisinya antara lain telah dibukukan dalam antologi Kemah Seniman Aceh III (1990), Banda Aceh (1991), Nafas Tanah Rencong (1992), Lambaian (1993), Seulawah (1995), Keranda-keranda (1999), dan Putroe Phang (2002). Kumpulan puisi pertamanya adalah Suara Pribumi (BP Swadaya Mandiri, Jambi 1996). Sedangkan karyanya dalam bentuk cerpen antara lain dibukukan dalam antologi Remuk (2000). C. Harun Al-Rasyid atau Muhammad Harun Al Rasyid lahir di Laweueng, kabupaten Pidie, 5 Maret 1966.

Alumni mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah FKIP Unsyiah ini terhitung sejak tahun 1993 diangkat sebagai staf pengajar di almamaternya. Pada tahun 1990—1994 terjun menggeluti dunia jurnalistik dengan bekerja sebagai wartawan Harian Serambi Indonesia Banda aceh. Semasa kuliah Harun aktif di pers kampus dan mengikuti seminar lokal dan nasional ini, awal tahun 1998 telah menyelesaikan studi magisternya di IKIP Malang. Aktifitas Harun didunia sastra dan seni dibuktikanya dengan bergabung di Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB) sebagai wakil sekretaris sampai tahun 1999. Setahun kemudian duduk sebagai wakil ketua I Dewan Kesenian Aceh (DKA). Namun, Agustus 2001 mengundurkan diri kerena melanjutkan studi program doktor di Universitas Negeri Malang. Tahun 1999, Harun mengikuti forum Dialog Utara VIII di Thailand Selatan dengan membawa makalah berjudul: Integrasi Bahasa Melayu dalam Bahasa Aceh. Di samping itu dia juga dipercaya untuk mengeditori beberapa buku sastra, antara lain; Apit Awe (1993), Keranda-Keranda (1999), dan Remuk (2000). Sajak-sajaknya terangkum dalam L.K. Ara dkk (ed.) Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995).

Kupanggil Namamu, Muhammad

Kupanggil namamu, Muhammad

Penjaja demokrasi, tanpa tongkat bara

Pewaris tahta belas kasih

Muhammad! Muhammad! rindu para budak

Mendekap sapuan cintamu, o

Rindu pada dhuafa menunggu perahu

Rindu para muallaf bergayut di hatimu

Kupanggil namamu, Muhammad

Muhammad di siang, Muhammad di malam

Pengembara ingin sinar bulanmu

Menyinari jalan berliku

Wahai, seperti aku yang tersesat

Di antara bukit-bukit cinta, dan

Gebalau iman di samudera Allah

Muhammad! Muhammad! o pemahat

Lukisan kejujuran. Pendiri rumah-rumah

Keabadian, kemerdekaan tanpa pamrih

Musafir menyebutmu, moralis sejati

Dan para wanita menggantungkan namamu

Pada masing-masing lehernya

Muhammad kupanggil namamu mawar yang al amin

Berakar di hati, merimbun di jasad

Tempat para semut bermain cinta

Laksana swargaloka bertatah yakut

Kupanggil namamu, Muhammad

Tegar memegang panah Allah

Membidik musuh-musuh harbi-zindik

Yang menyatronimu dengan wajah benci dan dengki

Bertemu terluka, prajurit terluka

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Aku terjaga, memanggil namamu

Kupanggil namamu, Muhammad

Yuris yang patuh para yurisprudensi-Nya

Al aminlah diriku, laksana santunmu

Dekat Zat-Nya, menghirup wangi surgawi

Sigli, Juli 1993

CIKDAERAH

lahir di Pegasing, Dataran Tinggi Tanah Gayo, Aceh Tengah, tahun 1951. Menamatkan pendidikan dasar (SD) di Sp Kelaping dan Sekolah Menengah Pertama di Pegasing. Mulai berkesenian sudah dari kecil. Dengan suara yang serak-serak basah. Kadang-kadang rendah hampir tak terdengar. Sering menggunakan kedua tangan untuk ketukan serta kaki kanan untuk penyesuaian not, gemar melatih orang bernyanyi sampai saat ini. Beberapa karyanya sudah direkam dalam bentuk kaset di antaranya, Sana (Kedelepe Bintang) diprakarsai Gurdi Damora. Lelungen dinyanyikan oleh Rebumah dan Uddin. Sedangkan karya-karyanya yang lain diantaranya adalah Tajuk, Menunung Jalen, Uren, Emun. Pengalaman dalam berkesenian, pernah ikut dalam kelombok Winar Bujang Sebagai Dua. Berikut kutipan salah satu karya Cikdaerah masih dalam bahasa Gayo

MENUNUNG JELEN

Menunung jelen mulangkahi arul

Muniti muntul renyel kutowa

Deleni uyet berderen ku tungul

Batangni remul llalgu pepara

Lahkena kilet munuruhen dene

Kusewah sange mungenaali drara

Waan uren ludding luhku rembebe

Nge bene pane urum gere ara

Uesse uesse sabe akku lagu oya

Laope nge mubilak

bekasni tapak gere ilen ara

si belulhpe gere ne berulak

olok di jarak nge bene ari mata

jamur taring bersuyen uluh

berikot pukuh gere berjendela

tungkuk ni ulu saying ni tubuh

dele ni lauh sana kati beta

atasni baur si nge kutiti

dele ni tingki simenni mara

kkukenal kenal tonni mara

perdu ni kuli gere ne ara

ku emun item kuseder nasib

olokni penyaki dor lagu noya

nge mupantan ungke pait

wan ni karet jarak nge ari kota

Takengon, l997

CUT DIWA AKAH, HIKAYAT

merupakan karya sastra yang tidak diketahui pengarang dan tahun penulisannya. Hikayat ini disalin ulang oleh Teungku Hasan Supir yang tinggal di Simpang Kandang Meunasah Me, pada tanggal 7 Juli 1958. Namun karya sastra lama ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-19. Hal ini dibuktikan telah dibicarakannya karya ini oleh DR. Snouck Horgrunje dalam bukunya yang berjudul De Atjehers. Hikayat Diwa Akah ditulis dengan tulisan tangan menggunakan huruf Arab, setebal 430 halaman. Walaupun hikayat ini, telah ada pada masa Islam di Aceh, namun dalam ceritanya masih dipengaruhi oleh unsur-unsur mistik—berupa makhluk-makhluk halus yang berkembang pada zaman Hinduisme. Walaupun dalam teks telah diubah-suai dengan kepercayaan Islam. Hikayat Cut Diwa Akah ini merupakan cerita dongeng yang menceritakan seorang tokoh bernama Cut Diwah Akah yang mempunyai kesaktian luar biasa sehingga dapat menaklukkan semua raja-raja baik dari bangsa manusia maupun bangsa jin. Dengan kesaktiannya tersebut, ia mengembara ke berbagai negeri sekaligus menundudukkan negeri-negeri yang memberontak terhadap kekuasaannya. Sesudah sekian lama mengembara dan berperang ia pun pulang ke negeri orang tuanya Martagangsa. Sesampai di negeri orang tuanya tersebut, didapatinya kedua orang tuanya sudah berpisah sekian lama akibat perbuatan jahat Diwa Seundari. Setelah menakluk Diwa Seundari, kemudian Cut Diwa Akah mempersatukan kembali kedua orang tuanya.

Cut Diwa Akah diangkat menjadi raja Martagangsa dengan gelar Mangindra Diraja dengan menggantikan ayahnya Diwa Laksana. Tidak berapa lama kemudian Cut Diwa Akah menikahkan Syahdan Dewa dengan putri Sinaran Cahya. Brahman Sakti dan Meukuta Raja pulang ke negeri masing-masing. Sebagai seorang raja Cut Diwa Akah memerintah negeri dengan adil dan bijaksana. Sehingga rakyatnya menjadi makmur dan sejahtera. Selain itu, ia juga mengutamakan pendidikan dan agama. Tidak berapa lama kemudian istrinya Rakna Keumala melahirkan seorang putra. Berikut ini kita lihat beberapa bait cuplikan dari Hikayat Cut Diwa Akah

….

Tujoh uroe beureunti prang

Dum seukalian meusuka-suka

Makeun minom han beureunti

Raja doli dum karonya

Uleebalang meuntroe wadi

Suka ate dum barangna

Bapaji peuetpi na sajan

Ngon sulotan Kramawanda

Adeun nyang lheepi di sinan

Laen seukalian raja-raja

Jen ngon pari diwa mambang

Beursamaan Indra jindra

Teuduek sapat dum di sinan

Ngadap sulotan Kramawanda

Di dalam nyan na sikeujab

Nibak deelat turon sabda

Pakri jinoe nyang mupakat

Soe taangkat keu panglima

Bulia Raksasa seuot yoh nyan

Ban nyang seunang bak aneukda

Bak lon ingat khalifah Halam

Patot gob nyan keu panglima

Kareuna gagah keusaktian

Lagi gop nyan suku indra

CUT GAMBANG CHINA, HIKAYAT

adalah karya sastra klasik Aceh dalam bentuk fiksi. Diperkirakan hikayat ini ditulis sebelum abad ke-19 atau sekurang-kurang akhir abad ke-19. Sama seperti karya sastra klasik Aceh pada umumnya, hikayat ini juga menceritakan tentang raja-raja dengan berbagai kesaktiannya dengan makhluk-makhluk fiksi seperti raksasa, burung sakti, jimat, khayangan, dan lain-lainnya. Diceritakan di dalamnya Meureudan Hiali seorang raja dari negeri Parisi tersesat ketika berburu ke negeri Jin Diu. Di sini ia mempersunting seorang putri yang memberinya anak laki-laki diberi nama Banta Ahmat dan seorang putri diberi nama Keumala Intan, serta sibungsu yang diberi nama Johan Johari. Ketika Banta Ahmat sudah dewasa ia diutus untuk menerima perintah dari kerajaan khayangan asal ibunya. Di sini ia dibekali dengan sejumlah jimat yang memungkinkan dia kapan saja dapat membentuk pasukan, istana, laut dan sebagainya. Selain itu, ia juga dibekali seekor burung sakti yang mampu membawanya terbang ke manapun di atas bumi.

Dengan perantaraan burung ini, ia berkenalan dan berkasih-kasihan dengan Cut Gambang Cina dari kerajaan Kawa Mandari. Setelah melakukan pengembaraan melintasi bumi, dimana segala raksasa dan binatang buas ditaklukkan dengan kesaktiannya, akhirnya ia dapat merebut sang putri dan menikahinya. Sejak itu, terjadilah perang besar antara Banta Ahmat melawan negeri Dairon Banun yang diperintah oleh Raja Kubat Johari, karena sebelumnya sang putri merupakan tunangan raja. Akhirnya Raja Kubat Johari dapat ditaklukkan oleh Banta Ahmat. Bukan saja menaklukkan raja tetapi Banta Ahmat juga memperistri putri raja tersebut yang cantik jelita bernama Sangila.

Dengan disertai kedua orang istrinya serta sepasukan orang dan binatang, Banta Ahmat pulang ke negerinya Parisi. Dalam perjalan pulang ia terpaksa membunuh sejumlah raksasa yang menghalangi jalannya. Bersamanya ikut juga saudaranya yang perempuan Keumala Intan yang ditemukannya di sebuah hutan yang lengang; ia dibuang ke hutan karena dituduh telah melakukan zina dan tidak suci oleh menteri besar ayahnya yang bernama Peudana Meuntroe. Ketika tiba di Parisi Banta Ahmat memulihkan nama baik adiknya, lalu menjatuhkan hukuman mati pada menteri besar yang telah melakukan fitnah itu. Akhirmya Keumla Intan dikawinkan dengan Budiman Syam seorang raja dari negeri Andara yang telah memetik kemenangan di seluruh dunia berkat bantuan ayamnya yang sakti tidak terkalahkan.

CUT JANUARITA

adalah salah seorang penulis muda Aceh yang kreatif. Penulis alumni FMIPA Biologi Unsyiah ini dilahirkan di Banda Aceh, pada tanggal 1 Januari 1976. Putri semata wayang pasangan buah hati T. Syafaruddin (alm) dan Suhada ini merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Saat duduk di kelas 1 SMA, penulis yang disapa Cut Nyak ini pertama kali mulai mengikuti lomba penulisan artikel di sekolah dan berhasil merebut juara pertama. Di samping itu karya-karyanya dalam bentuk puisi mulai dimuat dalam majalah SMAN 1 Jeumpa Puteh.

Untuk mengasah kemampuannya, pada tahun 1997 ia mengikuti jurnalistik jarak jauh ASHIF Bandung. Sejak itulah dua buah cerpennya dimuat dalam Harian Serambi Indonesia. Penulis yang mempunyai prinsip hidup menuntut ilmu mulai dari buaian sampai ke liang lahat ini tidak pernah merasa puas dengan kemampuan yang didapatnya. Maka pada tahun 2001 ia mulai bergabung dengan FLP Yogyakarta. Setelah pulang ke Aceh ia pun bergabung dengan FLP NAD. Tahun 2002 oleh redaksi Tabloid Jumatan Gema Baiturrahman ditarik sebagai Freelance (wartawan lepas).

Karya-karyanya berupa 80% artikel, cerpen dan puisi mulai dimuat diberbagai media cetak lokal dan nasional, seperti; Majalah Ummi, Annida, Su Nanggroe DPRD, Kiprah Pendidikan, Serambi Indonesia, Waspada, Mesjid Istiqlal, Gema Baiturrahman, Media Ummat, Suara Aceh, dan Cakrawala Nusantara. Buku fiksi yang telah diterbitkan adalah Hati Yang Terpisah (Asy, Syaamil, Bandung, 2004) dan Matahari Tak Pernah Sendiri I (LPPH, Jakarta, 2004). Mantan ketua umum FLP NAD periode 2002—2004 ini, selain sebagai penulis juga menggeluti dunia pendidikan. Tercatat pernah menjadi asisten Laboratorium FMIPA, tenor LBB-BIS, pengajar MTsn I, SMAN 7, SMPN 3, dan TPQ Baitul Musyahadah. Sekarang dipercaya menjadi guru honorer di SMA Al Misbah dan SDN 50. Pengurus Mesjid Raya Baiturrahman dan DPRA PKS Banda Aceh ini, Mei 2004 dipercakan Majalah Ananda Jakarta sebagai koresponden untuk NAD.

AKU SAKIT

Ya Rabbi

Aku sakit

Aku menderita

Aku merana

Gelombang tsunami menerkamku

Manghantam !

Mengambil sisa nyawaku

Paksa memisahkan ruh dan jasadku

Menarik-narik

Menusuk-nusuk

Menyepak-nyepak dengan balok raksasa

Dam

Dentingan itu makin keras

Terasa

Membuat jiwaku cacat dan kerdil

Kecut sukma

Dalam puasa hampa kebisuan

Diakhir dhuha yang kelam

Dua puluh enam Desember

Ya Rabbi,

Aku mengeluh hari ini

Teraniaya oleh rasa sakit mematikan

Akankah Kau terima amalku?

CUT INTAN MEUTIA

adalah putri pertama pasangan dari T. Abdullah Benny dan Nur’aina Karim yang berkelahiran di Langsa, 29 Mei 1979 adalah salah seorang anggota Forum Lingkar Pena NAD. Tulisan pertamanya adalah ketika ia menjuarai lomba menulis artikel saat masih sekolah di Madrasah Ulumul Quran, Langsa. Meski telah berkali-kali mencoba menulis tapi kemampuan mulai terasah sejak ia tergabung dengan FLP NAD 1999. Saat itu ia diamanahkan sebagai Ketua divisi HUMAS.

Bulan April 2003 tulisan pertamanya Kesetaraan Pendidikan Perempuan di muat pada harian Serambi Indonesia. Disusul dengan Kartini antara Mitos dan realita. Cerpennya PULANG kembali dimuat pada harian Serambi Indonesia ( Juni 2003) dan Memilih dengan Cerdas (April 2004). Dua tulisannya kembali di Publikasikan di Situs www. eramuslim.com dengan judul Love is Blind (Desember,2003) dan Kapan Engkau Datang ( Mei 2004). Dalam salah satu cerpen juga termuat dalam antolog FLP Aceh Hati Yang Terpisah. September 2004, cerpennya Rindu Nia kembali di muat pada harian waspada Medan.

Lulusan Fakultas Ekonomi Manajemen Unsyiah dan Fakultas Tarbiah jurusan TEN, saat ini ia diamanahkan sebagai ketua FLP Wilayah 1 NAD untuk 2004-2006, dan ingin tetap menulis seperti Izzatul Jannah dan Asma Nadia, penulis yang ia kagumi.

D

D. KEUMALAWATI

adalah seorang penyair perempuan Aceh yang produktif, dia bisa dikategorikan seniman serba bisa. Karyanya berbentuk cerita pendek, esai, dan puisi yang tersebar di berbagai media massa, baik lokal maupun nasional dan sebagian besar sudah diterbitkan dalam berbagai antologi. Dia lahir pada tanggal 2 April 1965 dari pasangan Nyak Na dengan Nyak Maneh, di Meulaboh, ibu kota Aceh Barat. Dia mulai terjun di bidang kesusastraan ditandai dengan menulis dan mengikuti lomba baca puisi semenjak bangku SMP. Dari hasil pernikahannya dengan Helmi Hass—juga merupakan seniman Aceh, mereka telah dikaruniai tiga orang anak. Sebagai seorang seniman yang serba bisa D. Keumalawati yang biasa disapa dengan nama Deknong ini, tidak saja menggeluti sastra, tapi juga aktif dalam bidang seni tari dan teater. Selain di Aceh, dia melakukan pementasan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta dan membaca puisi-puisinya di Malaka, Malaysia awal tahun 2002. Pada tahun dia bergabung dengan penyair perempuan se-Indonesia dan berhasil membukukan antologi Kemilau Musim di Pekan Baru, Riau. Sebagai Alumnus Matematika Unsyiah, dia mengabdikan dirinya sebagai pendidik di SMK 3 Banda Aceh. Karena kreatifitas dia pernah dipercaya sebagai wakil sekretaris Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB) periode 1989—2003. Sekarang aktif di Lapena, sebuah lembaga yang bergerak di bidang kebudayaan. Bersama Sulaiman Tripa, baru saja menyunting puisi penyair Aceh, Malaysia, dan Jakarta Ziarah Ombak (Lapena, 2005). Meluncurkan antologi puisi tunggal Surat Dari Negeri Tak Bertuan (Lapena, 2006) dan sebuah novel dengan judul Seulusoh (Lapena, 2007). Nama D. Keumalawati tercatat kapasitasnya sebagai seorang seniman dalam Buku Pintar Sastra Indonesia.

Yang Pergi Di Waktu Malam

aku masih terjaga menanti kepulanganmu

betapa malam telah sepi

desahmu penuh duka

“tadi malam aku lupa terjaga

padahal sebelum kujenguk dia

terpikir olehku kamera

dia telah pergi tanpa sempat

kuabadikan deritanya”

“sudahlah sayang”, ucapku

“sungguh sudah cukup banyak

yang pergi

tanpa sempat kau rekam

sementara tubuhmu pun

semakin rapuh”

“aku tak pedulikan itu,” keluhmu

“aku hanya ingin kau tahu tentang perawan

yang disetubuhi peluru itu

telah pergi selamanya”

aku tersenyum pilu

kau semakin meradang

“begitu mudah memutuskan tali kehidupan

hingga wanita yang terkapar

diberondongi selengkangannya

ah, percuma kau jadi ibu”

gerutumu makin panjang

nun di sana

di awan-awan

Yuni melampaikan tangannya padaku

pada kami yang terus terjaga

gadis belia itu tersenyum

melangkah di antara kembang putih

wanginya tercium kebumi

Banda Aceh, 10 Mei 199

*Yuni Afrida, gadis belia yang tertembus peluru di selangkangannya saat tragedi Simpang KAA, Lhok Seumawe, 1999.

DAMAN

adalah penyair yang dikenal sebagai penulis puisi bertemakan tentang alam dan kehidupan. Selain menulis puisi ia juga menggubah puisi-puisinya untuk dijadikan lagu dan kemudian mendendangkannya dalam kesenian tradisional masyarakat Gayo yang dikenal dengan nama “Didong”. Ia dilahirkan di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, pada tahun 1930. Daman menempuh pendidikan formalnya secara baik. Pada tahun 1945 ia mengikuti kursus guru. Setahun kemudian yakni tahun 1946 ia mengabdikan dirinya menjadi seorang pendidik dengan menjadi guru di SR no.1 Takengon, Aceh Tengah. Daman mulai terjun kedunia kesenian Didong sejak usia 16 tahun. Pada usia remaja itulah ia menulis puisi dan kemudian mengaransemennya untuk dijadikan lagu sekaligus didendangkannya. Daman yang belajar kesenian secara otodidak ini, dengan ketekunannya berhasil menghasilkan karya-karya yang bermutu tinggi. Sejumlah karya-karyanya kini dapat dianggap merupakan karya seni klasik seni tradisional Didong. Dalam berkesenian seni tradisional Didong Daman melarutkan dirinya secara total sehingga ia mendapat gelar Ceh. Ceh Daman adalah pendiri Grup “Dewantara” yang sering berhadapan dan bertanding dengan grup didong lainnya seperti grup “Kabinet”, grup “Lakiki”, dan grup “Kembara Bujang”. Berbicara mengenai pengalaman Daman dalam berkesenian didong ada suatu pengalaman yang menarik dan tidak akan dilupakannya yaitu mengadakan pertunjukan dihadapan wakil presiden pertama Republik Indonesia, Dr Muhammad Hatta pada bulan Juli 1953 di depan Pondopo Bupati Takengon. Ketika itu Daman bersama grup Dewantara bertanding dengan Ceh Banta Aman Farida bersama grup Kabinet. Berbicara mengenai karya-karyanya, Daman menulis puisi banyak menggunakan metafor, kiasan dan ibarat. Sebuah puisinya berjudul “Perahu” diibarat sebagai kehidupan manusia. Begitu juga dengan puisinya berjudul “Lelayang” (Layangan), ia menceritakan secara rinci kehidupan layangan. Mengapa layangan terbang, dari apa layangan itu dibuat, dan bagaimana nasib layangan itu bila nyawanya hilang. Seperti itulah kehidupan di dunia ini, kita tidak tahu kapan nyawa berpisah dari raga. Suatu hal menarik melihat karya-karya Daman di samping mengungkapkan alam dan kehidupan manusia, ia juga dengan cara tersendiri menguraikan kehidupan para nabi, misalnya Nabi Yusuf. Sebuah puisi Daman yang bertema perdamaian berjudul “Aman” dibawakannya dengan suara yang mempesona di Pasar Seni Ancol, Jakarta tahun 1994. Berikut salah satu puisi Daman (terjemahan)

AMAN

Damai…

Seperti sabut nasib kami bertumpu

Mati pun ragu hidup pun begitu

Seperti batu nasib kami bertahun-tahun

Lambat laun lapuk bisa menjadi pupuk

Dama…

Langit luas yang kita junjung

Damailah bumi ku tempat berpijak

Sadarlah semua wahai saudaraku

Pulihlah semua aman sentosa

Damai…

Hati risau jangan lagi resah

Seperti rintik netes ke pucuk

Jangan berseteru ibarat ayam dan itik

Senyaplah hiruk pikuk ini

Damai damailah

Damai, dunia, damai

Jangan gebalau

DANDELION

adalah kumpulan puisi dan cerpen pelajar Aceh yang dieditori oleh Ahmadun Yosi Herfanda dan Mustafa Ismail, diterbitkan oleh AMuK Community, cetakan pertama Januari 2007. Buku setebal 142 halaman ini terdiri atas; halaman i—iv memuat peristiwa—latar belakang lahirnya buku ini oleh Saiful Bahri dengan judul Berkatalah AMuk. Halaman v—xiii pengantar editor oleh Ahmadun Yosi Herfanda dengan judul Sjak ‘Berdenyut’ di Puncak Seulawah. Halaman xiv—xix pengantar editor oleh Mustafa Ismail dengan judul Mengolah Cerita. Halaman xxi—xxviii daftar isi. Halaman 1—85 kumpulan puisi. Halaman 87—137 kumpulan cerpen. Halaman 139—142 Tentang Penulis Muda dan Tentang Sang Editor. Buku kumpulan puisi dan cerpen ini memuat 47 puisi karya 15 orang penulis dan memuat 13 cerpen karya 13 orang penulis. Adapun puisi-puisi yang dimuat adalah; Achliah dengan puisi Kerinduan, Alam dan Isinya, Mentari, Adie Suyandi dengan puisi Penantian, Anak Perantau, Ahmad Yasir dengan puisi Cinta, Suami Mabuk Janda, Ibu, Kasih, Pohon Beringin, Andhika Fajri Putra dengan puisi Wanita Idamanku, Belum Ada Judul, Sahabat, Damai Negeriku Makmur Rakyatku, Azman Tami dengan puisi Ketika Cinta Pergi, Ibu, Balada Kandang Ayam, Cut Erma Yanti dengan puisi Menabur Kuburan, Kesedihan, Cinta, Menikmati Alam, Dewi Sartika dengan puisi Si Rumput Manja, Rindu, Di Manakah Kekasihku, Helmi dengan puisi Penyair Tua yang Dikutuk Waktu, Hidup yang Indah, Balada Orang Tersayang, Husnawati dengan puisi Nasib Si Mawar, Tak Ada yang abadi, Sahabat, Juanidi dengan puisi Kiamat, Rindu, AnugerahNya, Cinta, Kerinduan, M. Ridha dengan puisi Seperti Bunga, Apakah Cinta Adalah Bunga, M. Ridha F. Iskandar dengan puisi Udara Kotor, Bunga Itu, Muhammad T. Is dengan puisi Bagi yang Bersarang Di Hati, Mutia Salma dengan puisi Masih Adakah kesempatan, Kerinduan, Pagi yang Cerah, Persahabatan, Nursyidah dengan puisi Janji Palsu, Selalu Bersamamu, Rahmad Hidayat dengan puisi Nyanyian Merdu, Gitar, Ridho dengan puisi Taubat, Setan, Riska Silvia Kelda dengan puisi Dandelion, Kepergian Bunda, Sayed Usman dengan puisi Hanya Bisa Bersedih, Mengingat KepadaNya, Darah menangis, Sukmayana dengan puisi Terasing, Merindu Sahabat, Asmara, Wardaniah dengan puisi Menghadap Laut, Bahagia Sesaat, Pagi yang Kelabu, Yunita dengan puisi Perih, Yunita Kirbi dengan puisi Desah Seorang Manusia, Yulfina Hayati dengan puisi Perpisahan, Persahabatan, Jalan hidupku, Yusnaini dengan puisi Sahabat, Rindu Ibu, Yussi Ulan Dari dengan puisi Ayah, Bisikan Alam, Zuliadi dengan puisi Bayangmu, Rumput, Alam, Mawar. Adapun bagian kedua dari buku ini memuat kumpulan cerpen yaitu; Andhika Fajri Putra dengan cerpen Pengemis Misterius, Azman Tami dengan cerpen Ayah, Helmi dengan cerpen Menara, Junaidi dengan cerpen Kari Bungsu, M.Ridha dengan cerpen Bagai Monster, Nursyidah dengan cerpen Kisah Ruang Makan, Ridho Rizal dengan cerpen Pengemis Tua, Sayed Usman dengan cerpen Pengemis, Sukmayana dengan cerpen Bocah Batu Sungai, Yulfina dengan cerpen Surat Kedua, Yunita dengan cerpen Cowok di Belakang Gang, Yusnaini dengan cerpen Berita Malam Lebaran, Yussi Ulan Dari dengan cerpen Penjual Koran. Selain itu, pada sampul belakang buku ini memuat komentar; Kita perlu banyak menulis, membaca dan mendengar. Buku ini menandai saat-saat itu. Lihatlah, kertas putih yang bertumpuk-tumpuk itu. Mereka tak bertuan. Mereka sedang menatap kita, seperti mengaharap sesuatu dari kita (Danarto: Sastrawan, Budayawan – Jakarta). Rasanya, semua sajak dalam buku ini menarik untuk disimak, sebagai karya para remaja Aceh—bagian dari masyarakat daerah yang baru saja dilanda bencana tsunami yang kini mencoba bangkit kembali, memberdayakan diri dengan bersastra (Ahmadun Yosi Herfanda: Editor, Penyair, Redaktur Budaya Harian Republika – Jakarta). Membaca cerpen “Menara” karya Helmi, seorang siswa SMU Peukan Bada Aceh Besar, saya jadi ingat masa-masa kecil: saya dan teman-teman suka memanjat pohon. Tapi, yang kami panjat adalah pohon jambu, mangga dan malinjau (Mustafa Ismail: Editor, Cerpenis, Redaktur Seni Koran Tempo – Jakarta).

DEDDY SATRIA

lahir di Banda Aceh, 6 September 1971. Pernah mengikuti Workshop Menulis Kreatif (2003) yang diadakan Kelas Oase lapisan dari Komunitas Tikar Pandan, Banda Aceh. Karya-karyanya berupa puisi diterbitkan dalam Hikayat Berdebu dalam Jurnal Titik Tolak (Jalan Ganja, Edisi 1 Tahun 2004), antologi puisi bersama penyair Aceh, Malaysia, dan Jakarta Ziarah Ombak (Lapena, 2005). Selain menulis, Deddy Satria juga seorang pemusik handal Aceh dengan memainkan alat musik gambus. Dalam berkesenian Deddy Satria juga akrab dipanggil oleh teman-teman sesama seniman dengan nama Deddy Besi. Berikut salah satu cuplikan karyanya dalam bentuk puisi

Kisah Di # 26122004

Hari baru di empat puluh lima derajat

kopi belum lagi nongkrong di tepi meja

tembakau belum lagi dilinting lalu disulut

kumbang baru di bunga pertama

lalat belum membaui dunia

langit jadi mata bayi damai

matahari menyimpan kisah hari

bumi enggan bangkit dari ranjang malam

ketika rumah batu berderik menggigil

bibir pantai kering pucat, pasir kelabu

tak berkata sekata pun, pantai tanpa buih

kampung-kampung jadi buih

oh, laut kehilangan pantai

seusai itu; atap rumah jadi dermaga

dikelam lumpur, di anyaman kayu

tubuh-tubuh dingin kaku tanpa baju

tubuh-tubuh wangi begitu anyir

langit senja menebar tembaga

matahari bulat pijar ditelan samudera

oh, rupanya, dunia hanya bayangan

Bandar negeri Aceh Darussalam

Maret 2005 bernyanyi sunyi

gemuruh ombak berwarna malam

menggulung bumi anak negeri

oh, rupanya kita

kumpulan kata dalam omong kosong

menggerutu di lorong-lorong sepi

di antara rongsokan, dari puing ke puing

Bandar Negeri Aceh Darussalam, Maret 2005

DHE’NA MAHDALENA

lahir di Banda Aceh, 20 Maret 1975. aktif di teater Mata pimpinan almarhum penyair Maskirbi. Mengaku menulis puisi hanya untuk dibacakan sendiri. Ikut dalam pementasan teater Musyawarah Burung (1996), Meditasi Luka (1997), Jeeeh (2002) di Banda Aceh, dan Entah (2003) di Jakarta. Sewaktu kejadian gempa dan tsunami memporak-porandakan Aceh, penyair nasional WS Rendra menuliskan puisi khusus untuknya dengan judul Di Mana Kamu De’na. Puisi-puisinya terangkum dalam antologi puisi bersama penyair Aceh, Malaysia dan Jakarta yang dieditori oleh Sulaiman Tripa dan D. Keumalawati Ziarah Ombak (Lapena, 2005). Berikut cuplikan salah satu puisi Dhe’na Mahdalena

Lepas Malam

Pamit malam itu

turut serta bungkus kepedihan

seorang diri

hanya sendiri

lalu lewati kerumunan panjang

berlari tanpa tujuan

berhimpitan dengan resah

jeritnya pada alam yang amuk

menghabisi tubuh renta rapuh

hilang dalam pusaran

Banda Aceh, 30 Desember 2004

DHIEN FARO FASA

adalah nama samaran dari Saifuddin Saleh. Dia lahir di desa pantai Ojoeng Blang Meunasah Aron, Tanah Jeumpa, Bireuen tanggal 7 Januari 1956 dari pasangan Saleh Amin dan Fatimah Maiyah. Mengaku mulai menulis karya sastra berupa cerita pendek dan puisi sejak tahun 1976, walaupun sebelumnya telah aktif dalam dunia karang-mengarang ini. Karya-karyanya telah tersebar diberbagai media massa lokal dan nasional, terutama di Aceh dan Medan. Dia juga berperan dalam mendirikan koran kampus APDN “Sinar Bhaskara”, selain itu, pernah tercatat sebagai salah seorang redaktur pelaksana “Mimbar Swadaya” dan duduk dalam kepengurusan BKKNI Tk. Propinsi D.I. Aceh. Puisinya pernah dimuat dalam antologi puisi penyair Sumatra “Khatulistiwa”, “Kami Koma Kamu” (Sanggar Kumpulan Artis Leluhur Aceh, 1977), dan antologi L.K. Ara dkk (ed.), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Sejak tahun 1981 telah mengabdikan dirinya bekerja pada lingkungan Pemda Tk II Aceh Utara.

DI SEUMATANG, TEUNGKU SYEIKH

pengarang ini lahir diperkirakan tahun 1801 M dan meninggal dunia sekitar awal 1870-an. Tepatnya beliau hidup pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah (1870 – 1874), jelasnya sebelum Perang Agresi Belanda melawan Kerajaan Aceh, 1873 M. Salah satu karya beliau yang sangat fenomenal adalah Hikayat Akhbarul Karim yang menjelaskan ajaran serta tuntunan agama Islam. Hikayat dalam bahasa Aceh dengan menggunakan huruf Arab Melayu ini ditulisnya sekitar tahun 1830-an dan disalin ulang oleh seorang Pejabat Mufti Kerajaan Aceh terakhir Tuwanku Raja Keumala tahun 1919 yang dipersembahkan untuk putri pertama beliau Teungku Fatimah Raden Putri lahir tahun 1910 M. Hikayat ini merupakan bacaan popular dan diminati masyarakat dalam kurun masa lebih satu setengah abad. Bahkan sebuah syarikat maktabah di Surabaya masih mencetak pada tahun 2000 dan mengedarkannya sampai hari ini. Hal tersebut membuktikan betapa pentingnya hikayat ini. Berikut beberapa cuplikan Hikayat Akhbarul Karim (telah dialih aksara dan terjemahkan oleh Teuku Abdullah Sakti dan Ramli A. Dally).

Alfashlus Tsani Fibayanid Dalili

Watta’alluqubihi

(pasal dua menerangkan dalil-dalil dan bagiannya)

Sifat Tuhan itu termasuk kemana?

Saya berikan soal serta jawaban

Taulan kita lihat kini

Mana dalil wahai rekan?

Anda katakan Tuhan itu ada

Zat dan sifat tidak jelas

Tidak pernah terlihat oleh mata

Siapapun tidak pernah melihatnya

Bagaimana dikatakan wujudNya ada

Bukti adanya zat Tuhan

Alam adanya terciptanya dunia ini

Yang mana alam coba sebutkan

Katakana sekarang agar kudengar sah nyata

Kullu maujudin Siwya Allah Fahuwa ‘Alamun

Tiap-tiap ciptaan beda dari Allah

Itulah sah alam namanya

Seperti Arasy dan Kursi

Misalkan bumi dan langit dunia

Jin dan manusia serta malaikat

Segala jenis benda isi dunia

Itulah yang namanya alam

….

DIANA ROSWITA

adalah pengarang yang kreatif dan sebagian besar karyanya berupa cerita pendek. Isi ceritanya bernada kritis, spekulatif, dan suka bersensasi, seperti cerpen Eksekusi (antologi sastra Putroe Phang, DKA 2002). Diana Roswita adalah anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Drs M. Diah Husin dan Dra. Rosniah dilahirkan di Banda Aceh pada tanggal 6 Agustus 1979. Awal kepengarangan sudah dimulai sejak duduk dibangku Sekolah Dasar. Namun baru menginjak kelas I Madrasah Aliyah dia mulai mengirimkan karya-karyanya ke media. Karyanya yang pertama dimuat adalah tiga buah cerpen anak-anak di Harian Serambi Indonesia. Kreatifitasnya dalam bidang kepengarangan ini, semakin meningkat ketika duduk di kelas II MAN, dengan mulai menjadi penulis cerpen tingkat remaja. Cerpen remaja pertamanya dimuat di majalah Islam Permata, yang berjudul “Seminggu Bersama Sang Cinderella”. Sejak itu dia tidak pernah berhenti menulis keberbagai media sampai sekarang. Karya-karya penulis ini mulai diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 2001, yang pertama yaitu; “Lukisan Sakura” (kumpulan cerpen, penerbit Mizan, Bandung), dan yang kedua “Doa Untuk Sebuah Negeri” (kumpulan cerpen bersama FLP Aceh, penerbit asy Syaamil, bandung). Kreatifitas seninya tidak saja hanya di tingkat lokal, tapi juga merambah sampai di tingkat nasional, hal ini dibuktikan pada tahun 2002 dengan berhasil memperoleh juara harapan I untuk lomba nasional penulisan buku cerita keagamaan untuk tingkat SLTP yang diadakan oleh Depag RI. Pada tahun yang sama dia kembali memperoleh penghargaan sebagai finalis sepuluh besar pada lomba Cipta Cerpen Islami (LCCI) untuk tingkat remaja yang diadakan oleh Forum Lingkar Pena Pusat. Setelah memperoleh gelar sarjana agama dari Fakultas Tarbiah Jurusan Bahasa Arab IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, dia menikah dengan Zulfadhi, ST. Dari hasil pernikahannya telah dikaruniai dua orang putra kembar, masing-masing bernama Muhammad Jihad al Fathi dan Muhammad Imad Farahat. Di kepengurusan FLP Aceh, dipercaya memegang amanah sebagai ketua divisi diksi.

DIDONG

adalah kesenian tradisional atau trdisi lisan yang merupakan konfigurasi seni suara, seni sastra, dan seni tari berasal dari Dataran Tinggi Tanah Gayo, Aceh Tengah. Kesenian ini merupakan kesenian yang dipertandingkan antara dua grup yang mewakili satu klen atau kampung, kecamatan, bahkan secara terselubung mewakili satu “Paroh-masyarakat”. Pertandingan ini biasanya digelar pada malam hari dan semalam suntuk. Kedua grup tampil bergantian, masing-masing selama setengah jam dalam satu ronde. Ronde-ronde itu diisi oleh masing-masing grup yang menembangkan lirik-lirik puisi dengan melodi-melodi diiringi gerak-gerak tertentu. Lirik-lirik dan melodi itu dilantunkan oleh duet atau trio seniman yang disebut ceh tadi yang suaranya merdu, diiringi gerakan-gerakan yang serasi oleh para pengiring. Fungsi didong itu antara lain seperti berikut ini.

Pertama, pada awalnya kesenian ini berfungsi untuk mengisi kebutuhan akan ungkapan-ungkapan estetika, keindahan, dan hiburan. Kedua untuk mempertahankan struktur sosial. Ketiga, sebagai pelestari sistem budaya dalam meningkatkan nilai-nilai budaya dan norma-norma yang menata kehidupan masyarakat Gayo. Keempat, sebagai aspek ekonomi untuk menutupi kekurangan dalam mencari dana untuk pembangunan di daerah. Kelima, menjadi sarana kontrol sosial. Keenam, sebagai penerangan yang efektif dalam masyarakat Gayo.Berikut ini cuplikan syair didong sebagai karya sastra karya To’et (salah seorang seniman didong ).

RENGGALI

wahai renggali

yang harum harum harum mewangi

renggali ini si tajuk hias

ini lagu baru dekat tengah malam

wahai renggali

yang harum harum harum mewangi

ceh sekarang semakin banyak

tetapi lagunya banyak tak mengena

yang membeli kenderaan semakin banyak

tetapi minyaknya semakin menyala

wahai renggali

yang harum harum harum mewangi

renggali ini si tajuk hias

ini laguku bukan harta pinjam

benih sawah semakin banyak

tapi zakatnya semakin berkurang

(Terjemahan dari bahasa Gayo oleh L.K.Ara)

DIN SAJA

merupakan nama samaran dari Fachruddin Basyar. Dia dilahirkan di Banda Aceh tanggal 31 Januari 1959. Kreatifitasnya seninya tergali ketika berada di kota Padang, Sumbar. Pria yang mengaku hanya menamatkan pendidikan sampai ditingkat sekolah menengah saja, pernah mendirikan teater Moeka di kota Padang. Selain itu pernah juga mementaskan naskah Odipus Rex. Malin Kundang, Malam Terakhir. Karya-karyanya telah tersebar diberbagai media massa, terutama di media Aceh, Medan, Padang, dan Jakarta. Sirath merupakan antologi puisi tunggalnya, sedangkan puisi-puisinya yang lain terkumpul dalam antologi bersama, Seperti Sang Penyair, KSA, Nafas Tanah Rencong, Setengah Abad Indonesia Merdeka, Mon Mata, L.K. Ara dkk (ed.) Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas, dan Putroe Phang. Selain berkreatifitas dibidang seni, dia juga pernah terlibat diberbagai organisasi, diantaranya; organisasi Lempa (1995), DKA (1995—2004), Ketua Lembaga Seni Aceh. Dalam bidang seni pertunjukan teater Din Saja merupakan pendiri Teater Alam Banda Aceh.

DIU PALINGGAM, HIKAYAT

merupakan roman karya sastra klasik Aceh dalam bentuk hikayat. Pada intinya hikayat ini menceritakan konflik yang terjadi dalam satu keluarga raja. Ceritanya bermula dari seorang raja bernama Usali dengan gelar Muda Sakti yang memerintah kerajaan yang besar. Ia mempunyai enam orang istri dan tidak memperoleh keturunan. Menurut ahli nujum ia akan memperoleh dua orang putra dari permaisuri yang lain. Suatu ketika ia bertemu dengan seorang petani bernama Malem Faki yang mempunyai seorang putri yang cantik bernama Nyak Ti Hina. Lalu ia mengawininya dan tinggal selama tiga tahun di daerah itu, dan daerah tersebut berubah menjadi kota bernama Sina Puri. Keenam istri raja menjadi cemburu dan membunuh Nyak Ti Hina di sebuah kolam.

Tersebut kerajaan khayangan Diu Indra diperintah oleh ratu Sithon Gelima. Berkat kesaktiannya ia dapat menghidupkan kembali putri Hina dan melahirkan seorang anak laki-laki diberi nama Budiman Sakti. Oleh Jamalul Hikmat dan Raja Mambang, Budiman Sakti diajari ilmu kesaktian. Sithon Gelima sangat sayang padanya, lalu mengangkatnya menjadi raja Diu Indra dengan gelar Budiman Alam.

Setelah Raja Usali mengetahui putri Hina dibunuh oleh keenam istrinya, mereka pun dihukum penjara, setelah Putri Hina kembali ke pangkuannya.

Putri Rante Indra anak Raja Baremakesan dari negeri Zinura diculik oleh Sithon Gelima dan dikawinkan dengan Budiman Sakti. Padahal sang putri sudah bertunangan dengan Juhar Alam. Ia pun marah dan berperang melawan Budiman Sakti, tetapi ia kalah dan harus tunduk. Kerajaan Diu dibawah pimpinan Budiman Sakti berada dalam keadaan makmur dan aman.

Raja Muda Sakti mendapat seorang putra lagi bernama Diu Palinggam. Ketika ia berumur tujuh tahun ia membebaskan keenam permaisuri raja. Usia dua belas tahun, ia mempunyai banyak teman diantaranya Diu Perkasa. Ketika ia mandi di kolam Sina Puri berkenalan dengan putrid kayangan Cut Nila Wanti putri Raja Kamarul Alam dari negeri Bukit Mega. Mereka saling jatuh hati, dengan ilmu kesaktian dari Syiah Brahman Indra, Diu Palinggam pergi ke Bukit Mega. Ketika mengetahui putrinya berhubungan dengan Diu Palinggam raja sangat marah. Terjadilah perang dan dimenangkan oleh Diu Palinggam. Akhirnya raja menikahkan mereka.

Raja Budiman Sakti mendapat seorang putra diberi nama Banta Budiman Lela Perkasa. Raja Budiman Sakti minta izin kepada istrinya dan Sithon Gelima turun ke bumi melihat orang tuanya. Dalam perjalanan ia menikahi Kemala Indra putri Raja Indra Palimbang. Selama ia pergi, tahta kerajaan diserahkan pada anaknya Banta Budiman Lela Perkasa. Raja muda ini kawin dengan putri Raja Mambang bernama Cahya Nurani. Pada suatu hari Cahya Nurani turun mandi ke bumi bersama kakaknya Samingun Juhari dan bertemu dengan raja Kayuzi dari Petawi Biram. Samingun Juhari dibawa ke istana dan dinikahinya. Mendengar kabar tersebut Raja Mambang marah dibantu oleh raja muda Diu mereka menyerang kerajaan Petawi Biram. Perang besar ini didamaikan oleh Jamalul Hikmah. Akhirnya Raja Mambang merestui pernikahan putrinya.

Diu Palinggam tersesat bersama istrinya ketika turun ke bumi untuk mandi di kolam Guha Tanjung. Mereka sampai ke negeri Indra Palimbang yang diperintah abangnya Budiman Sakti. Tapi mereka tidak kenal satu sama lain. Budiman Sakti menyuruh menyerahkan istrinya. Diu Palinggam berperang mempertahankan istrinya. Atas saran kakeknya Raja Usali supaya diteliti siapa lawan sebenarnya. Akhirnya mereka pun mengetahui dan saling bermaafan. Diu Palinggam dan istrinya tinggal bersama ayahnya Raja Usali.

Dalam perjalanan pulang ke negeri kayangan Diu Palinggam jatuh hati pada putri Indra Kayangan yang sudah bertunangan dengan Pangeran Syamsi Miga. Terjadilah perang yang dimenangkan oleh Diu Palinggam. Akhirnya Diu Palinggam dinikahkan dengan sang putri. Sesampai di Bukit Miga, Diu Palinggam diangkat menjadi raja menggantikan Kamarul Alam dengan gelar Sultan di Miga. Tidak berapa lama Cut Nila Wanti melahirkan seorang putra diberi nama Hukman Alam Diwa.

Tersebutlah Sultan Kasumi mempunyai istri sembilan orang, yang tercantik bernama Putri Awan. Istri-istrinya lain tidak senang pada Putri Awan. Mereka pun memfitnah Putri Awan hamil karena telah berbuat serong. Raja tanpa periksa percaya dan membuang Putri Awan ke dalam hutan. Di dalam hutan putri ditolong oleh Nabi Khaidir dengan memberi jimat yang dapat mengabulkan semua keinginannya. Putri melahirkan seorang anak perempuan diberi nama Budiman Kande. Raja Kasumi telah sadar bahwa Putri Awan difitnah, ia pun meminta sang putri untuk pulang dan disambut dengan upacara kebesaran. Sementra itu, kedelapan isrtinya minta maaf atas kesalahannya.

Hukma Alam sudah remaja bermimpi bertemu Budiman Kande, pun begitu sebaliknya. Sebenarnya Budiman Kande sedang diperebutkan oleh 100 orang raja. Akhirnya Raja Kasumi menikahkan putrinya dengan Hukma Alam. Hal ini membuat 100 raja tersebut menjadi marah. Terjadilah perang sakti, tapi dapat dikalahkan oleh Hukma Alam. Setelah menikah mereka pun pulang ke Bukit Miga dan disambut dengan upacara besar-besaran. Diu Palinggam dengan istrinya Cut Nila Wanti dan Putri Kayangan sangat gembira melihat putra mereka pulang membawa istri.

Sesudah beberapa lama tinggal di Bukit Miga, Hukma Alam mohon izin mengantarkan Budiman Kande ke negeri Kasumi untuk melihat orang tuanya. Sesampai di sana Hukma Alam dinobatkan menjadi raja Kasumi dengan gelar Sultan Iskandar Raja Muda. Dibawah pimpinannya negeri Kasumi aman dan makmur dengan memegang teguh adat dan agama.

DOA UNTUK SEBUAH NEGERI

merupakan kumpulan cerpen oleh Forum Lingkar Pena Aceh yang memuat 11 cerpen dari 6 cerpenis Aceh. Buku setebal 125 halaman ini diterbitkan oleh Asy-Syaamil Press & Grafika Bandung, tahun 2001. Dalam kata pengantar oleh Helvy Tiana Rosa buku ini berbeda dengan buku cerita lainnya, buku ini memang bukan kategori fiksi yang akan menghibur pembacanya dengan kata dan kalimat-kalimat indah. Kumpulan cerpen ini lebih mirip hasil jepretan beberapa fotografer terhadap realitas yang mereka lihat, untuk kita saksikan bersama, langsung dari ‘tangan pertama’. Tak sampai di sana, melalui potret-potret itulah mereka seolah mengajak kita sebagai pembaca untuk merasakan juga segala perih, ketidakadilan. Mereka mengajak kita berdoa, berpikir serta berusaha untuk berbuat sesuatu bagi Aceh.

DOEL CP ALLISAH

adalah seorang sastrawan yang bergelut dengan dunia jurnalistik. Punya pengalaman di dunia jurnalistik, antara lain sebagai; redaktur budaya di Mimbar Swadaya (1985), wartawan SKM. Bintang Sport Film (1987), redaktur Budaya SK. Atjeh Post (1989). Pernah bekerja sebagai reporter Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) dan kontributor sebuah media asing. Doel lahir di Banda Aceh, 3 Mei 1961. Pria yang pernah mengaku kuliah di Unsyiah ini, telah mengisi beberapa antologi puisi, antara lain; Malam Perempuan Malam (Harian Waspada/Dunia Wanita Medan, 1984), Duri (Majalah Dunia Wanita, 1985), Ranub (Lempa, 1985), Antologi Penyair Aceh (Karya Prima Jakarta, 1986), Kemah Seniman Aceh III (Pan/TB, 1993), Sosok (D/D, 1993), Nafas Tanah Rencong (DKA, 1993), Banda Aceh (DCP Production, 1993), Mon Mata (Dialog Utara VI, 1995), L.K. Ara dkk (ed.),Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (Yayasan Nusantara Jakarta, 1995), Antologi Puisi Indonesia 97 (Angkasa Bandung, 1997), Keranda- Keranda (DKB, 2000). Sementara kumpulan puisi tunggalnya dengan judul Nyanyian Angin diterbitkan pada tahun 1992 oleh DCP. Production. Sebagai seorang penyair yang kreatif namanya tercatat dalam Buku Pintar Nusantara (UWN Jakarta, 1990). Doel tidak hanya aktif dalam dunia tulis-menulis, tapi juga aktif dalam berbagai dialog dan pertemuan yang membahas masalah sastra dan budaya, baik yang diadakan di dalam negeri maupun luar negeri, diantaranya; Pertemuan Penulis Muda Sumatera (Medan, 1985), Dialog Utara IV (Medan, 1989), Pertemuan Sastrawan (Jabal Ghafur, 1986), Konggres Kebudayaan Sabah, (Kinabalu, 1989), Seminar Kritik Film PWI/Citra (Jakarta, 1990), Diklat Media Tradisional Depkes RI (Bandung, 1993), Dialog Utara IV (Langsa, 1995), Temu Sastrawan Sumatera Utara (Medan, 1997), Temu Sastrawan se-Sumatera (Banda Aceh, 1999), Dialog Utara VIII (Pattani, Thailand, 1999), Seminar Antar Bangsa Pemikiran Ismail Husein (Kedah, Malaysia, 2002). Sekarang Doel dipercaya untuk mengelola kehidupan berkesenian di Aceh, dengan dipercaya sebagai Wakil Ketua I Dewan Kesenian Aceh (DKA) priode 2000—2004. Dia menetap bersama keluarganya di Jl. Geulampang no.6 Meunasah Papeun Lamnyong, Banda Aceh 23371_KPD Indonesia.

LAGU KELU

Ketika malam mengurung rahasia

Dan pendar cahaya berakhir di teras senja

Engkaukah yang kembali dalam igauku

Jadi perih sembilu

Jadi kelu

Seketika itu jadi sejarah

Catatan kelam hari lampau

Engkau membewaku dalam bimbang

Serbuk racun kegamangan

Ketika malam mengurung rahasia

Aku berlayar dalam pekat

Dalam purba waktu

Dosa mendera

Ketika malam mengurung rahasia

Kita hilang di dalamNya

Banda Aceh, 1998-2004

F

FAUZIAH NURDIN

adalah penyair wanita Aceh yang dikenal sebagai pengarang untuk cerita anak-anak.Dia lahir di Aceh tanggal 26 Desember 1939. Setelah dia menamatkan pendidikan formalnya di Sekolah Guru Atas, Fauziah mengabdikan hidupnya untuk dunia pendidikan di Aceh. Karyanya berupa buku cerita anak-anak, antara lain; Burung-Burung Penyelamat Ka’bah, Burung Tekikir, Tiga Anak Saudagar, Kisah Dua Jenderal, dan lain-lain. Sajak-sajaknya dimuat antologi Antologi Penyair Aceh (1986), Titian Laut III (Kuala Lumpur, 1991), dan L.K. Ara dkk, Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (Yayasan Nusantara, 1995).

FERHAT

lahir di Banda Aceh pada tanggal 24 September 1985, anak kesembilan dari sepuluh bersaudara dari pasangan Muchtar M. Ali Piyeung dan Suryana. Tertarik untuk menggeluti dunia sastra sudah tertanam sejak duduk di bangku SD. Ia sudah banyak menciptakan cerita dongeng bersama teman-teman untuk disewakan dan hasilnya cukup memuaskan. Mereka berhasil mengumpulkan sejumlah uang yang bernilai besar waktu itu. Untuk dapat mengasah bakat kepenulisannya lebih dalam lagi, terutama tentang dunia sastra dan sastra Islami secara khusus, maka pada tahun 2002 bergabung dengan Forum Lingkar Pena NAD.

Pada tahun 2003, dia berhasil memenangkan lomba cipta cerpen di sekolah dengan judul Benang Tujuh Warna dan Dewi Dangdut yang masing-masing berhasil merebut juara I dan Juara II. Selain itu, beberapa puisi dimuat di beberapa surat kabar terbitan lokal. Pada tahun 2004 cerpennya dibukukan dalam antologi FLP Bintang di Langit Baiturrahman (Gema Insani Press, 2004)

Saat ini kuliah di Fakultas Ekonomi Unsyiah Banda Aceh dan dipercaya untuk menjadi salah seorang pengurus Forum Lingkar Pena wilayah NAD—sebuah organisasi penulis yang memiliki anggota di seluruh wilayah nusantara.

FITRI YUSNIDAR

lahir pada tanggal 1 Januari 1980 di Desa Punteuet, kecamatan Sawang, Aceh Utara. Putri semata wayang dari pasangan H. Husni Ibrahim dan HJ. Rafiah Aziz, S. Ag. Ini, merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. Dalam keluarga disapa Putri. Tertarik menulis sejak menduduki SMP. Namun Hingga SMA Karya Tulisan yang berupa puisi dan catatan harian yang hanya dimuat di mading sekolah. Selebihnya lagi hanya untuk arsip Pribadi.

Namun ketika menduduki bangku kuliah ( 1998) di Fakultas MIPA Unsyiah, Fitri mengasah bakat di Unit Kegiatan Mahasiswa ( UKM) Pers Unsyiah. Saat berkecimbung di UKM tersebut hingga tahun 2001, Fitri pernah menulis berita kampus yang dimuat di Situs detikcom.

Bersamaan aktif di UKM Pers Fitri juga menagani tabloid mini” Sibghah” UKM fosma Unsyiah. Sepanjang menggeluti organisi kampus mulai dari Mushalla, HMJ, BEM, HMI, dan KAMMI. Fitri selalu menepati posisi di Bidang Humas ( Spesifikasi menangani bidang media). Maka saat sempat aktif tiga periode kepengurusan BEM Unsyiah, Fitri Menjadi Pemred Buletin BEM ( Aneuk Nanggroe dan Piasan Mahasiwa).

Memperdalam pengetahuan tentang dunia jurnalistik, Fitri beberapa kali mengikuti pelatihan jurnalistik. Pelatihan tingkat dasar ( 2000 ), yang diadakan oleh UKM Perspektif Ekonomi Unsyiah. Kemudian Maret 2001, mengikuti Pekan Jurnalistik Islam Nasional ( Panjinas 2001) di PSJ UI Depok. Sepulang dari Panjinas, September 2001 lagi mengikuti pelatihan jurnalistik tingkat lanjut yang diadakan oleh Warta Unsyiah. Saat itu Fitri merupakan peserta utusan dari KAMMI Jarka Unsyiah, sekaligus ketua humas.

Karya-karya Fitri yang telah ada selama menekuni jurnalistik adalah berita Up to date ( tulisan reportase) dan features. Dari Mei 2003, Fitri bergabung menjadi kontributor majalah sabili, koresponden situs ( www. Opini rakyat. com, www. APindonesia.com, tabloid Modus Jakarta), dan hingga sekarang Fitri masih tercatat sebagai koresponden situs www.aceh kita.com. Penulis Faforit: Anis Matta, Afifah Afra, HTR, dan Fouzhil Adhim. Bergabung dengan FLP Aceh mulai April 2004.

FIKAR W EDA

adalah sastrawan yang lahir di Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah tahun 1966. Ketika masih berada di Tanah Gayo, Fikar bergabung dengan kelompok teater Arimuloni. Sementara di Banda Aceh, ia bergabung dengan teater Mata. Karya-karyanya berupa puisi dan artikel pernah dimuat dalam sejumlah surat kabar; Republika, Merdeka, Waspada, Bernas, Serambi Indonesia, Independent, Sriwijaya Post, dan Post Kupang.

Fikar menamatkan kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh ini, memilih karir sebagai wartawan sejak tahun 1989. Pernah mengikuti event sastra, antara lain Forum Puisi Indonesia 97 di TIM. Dia sekarang hijrah ke Jakarta, tapi sebelumnya pernah dipercaya menjabat Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Aceh, dan Lembaga Penulis Aceh (Lempa). Dia pula yang kemudian mengetuai kegiatan kampanye seni untuk HAM Aceh di berbagai kampus dan tempat hiburan di Jakarta yang banyak melibatkan penyair Indonesia.

Sebagai seorang penyair dia adalah orang yang kreatif, bersama Lian Sahar, Abdul Wachid BS menjadi editor antologi puisi dan cerpen Aceh Mendesah dalam Nafasku (Kasuha, 1999). Selain itu ikut pula mengisi album kaset Puisi Untuk Aceh (Kasuha, 1999) bersama dengan Rendra, Taufik Ismail, Danarto, Leon Agusta, dan Deavies Sanggar Matahari. Bersama S Satya Dharma menyusun buku Aceh Menggugat diterbitkan Pustaka Sinar Harapan. Selanjutnya pada tahun 2000 menggelar acara Salam Damai di Yogyakarta, Solo, Surabaya, Bandung, Medan, Banda Aceh, dan Sabang. Sajak-sajaknya tercatat pernah dimuat dalam antologi Ranub (1985), Puisi Penyair Aceh (1986), Puisi Indonesia 87 (1987), L.K. Ara dkk Seulawah:Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995), Antologi Puisi Indonesia 97 (1997), Dalam Beku Waktu (2002). Membaca karya Fikar W. Eda berarti kita akan mengetahui asal-usulnya.

Salam Damai

Salam pada langit yang kita junjung

Menampung segala suara

Puja puji, caci maki, dan doa-doa

Salam pada bumi yang kita jejak

Permadani perak tanah manusia

Sambutlah salam kami

Salam sepuluh jari di atas kepala

Mari rebahkan tubuh di halaman bunga

Rentangkan sayap-sayap pada cahaya

Hati bersih tanpa cela

Tempat muasal khianat dan dendam bara

Geraikan rambut di hulu sungai

Sebarkan wahai wangi harumnya

Kembalikan rencong pada sarung

Anak panah pada busur

Dan Keris pada keramatnya

Sebab telah begitu lama

Kita dalam duka cita

Oleh amuk serakah kaum

Pendurhaka

Takluk di hadapan

Pembidik jitu

Dalam kokang senjata tak

Berjiwa

Telah begitu lama kita tergusur

Terkubur dibukit-bukit tua

Kematian saling terhimpit

Jerit yatim memasuki cakrawala

Pintu-pintu berlumpur tanpa suara

Maka sudah waktunya semua kembali

Sambutlah salam kami

Salam damai dengan bismillah

Damai langit menjadi payung

Damai bumi menjadi jejak

Permadani perak nusantara

( Jakarta, 12 Mei 2000 )

FREE HEARTY

adalah pengarang yang dikenal juga dengan nama Yet Bekry. Sebagai penulis dia dilebih dikenal sebagai pengarang cerpen. Free Hearty dilahirkan di Kutacane, Aceh Tenggara, 20 April 1952. Dia menyelesaikan pendidikan tingkat tinggi di Fakultas Sastra dan menyelesaikan S2 di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Sebagai seorang intelektual dia mengabdikan dirinya untuk dunia pendidikan dengan menjadi dosen di Fakultas Sastra Universitas Bung Hatta, Padang, Sumatra Barat. Karya-karyanya berupa cerpen tercatat dimuat dalam antologi Perempuan dalam Perempuan (1995).

G

GAJAH TUJOH ULEE, HIKAYAT

merupakan salah satu karya sastra klasik Aceh dalam bentuk hikayat. Sama seperti karya-karya sastra klasik Aceh lainnya, karya sastra ini pun tidak diketahui pengarangnya. Namun melihat dari kondisi kertas naskah yang dipergunakan naskah ini diperkirakan sudah berumur lebih dari setengah abad. Hikayat yang ditulis dengan aksara Arab-Melayu berbahasa Aceh ini, pada halaman terakhir disebutkan bahwa hikayat ini ditulis pada hari Ahad 12 Rajab dan selesai malam Selasa bulan Jumaidilawal dan tidak mencantumkan tahunnya. Selain itu, tertera nama dalam huruf latin Ismail Tengku Daud, Tanjung Dayah Baru Mukim Tungkop. Kemungkinan besar nama ini sebagai pemilik naskah. Hikayat setebal 311 halaman dengan ukuran 21 x 16 cm ini menceritakan Meureudom Bunga sebagai tokoh utama. Berikut ini kita lihat ringkasan ceritanya yang telah disarikan dari (Ramil Harun, 1983:9—10); Negeri Indra Sarah yang makmur diperintah oleh Raja Ahmad. Ia berdoa agar dikaruniai seorang anak. Permaisuri Cahya Geumilang pun melahirkan seorang putri yang diberi nama Meureudom Bunga. Baginda pernah bernazar jika mendapat anak akan diserahkan kepada Raja Gajah Berkepala Tujuh. Tetapi ketika putri lahir, permaisuri tidak mau menyerahkannya sehingga kawanan gajah datang menyerang. Karena tidak dapat menahan serangan gajah tersebut, akhirnya baginda menyerahkan anaknya kepada Raja Gajah.

Adapun anak raja Yaman bernama Banta Ali pada suatu malam bermimpi melihat seorang putri cantik di atas kepala seekor gajah. Dengan ditemani seorang pahlawan bernama Ali Hareudan, Banta Ali sampai di padang Hiram Cahya—tempat Meureudom Bunga tinggal bersama gajah. Mereka berkenalan dan saling jatuh cinta. Dalam usaha membunuh gajah itu Banta Ali terlempar jauh dan pingsan kemudian ditemukan oleh seekor raja kera lalu diobatinya. Raja kera berjanji akan membantu Banta Ali dalam mendapatkan Meureudom Bunga. Dengan ilmu yang dipelajarinya dari raja kera akhirnya Banta Ali dapat mengalahkan raja gajah dan membawa pulang Putri Meureudom Bunga. Namun ditengah perjalan sewaktu Banta Ali sedang tidur nyenyak kedua tangan dan kakinya dipotong oleh Ali Hareudan. Kepada raja dikatakan bahwa Banta Ali sudah meninggal dan ia yang mengalahkan gajah berkepala tujuh itu. Ia pun diangkat menjadi raja Yaman menggantikan Raja Abdullah.

Banta Ali diobati sampai sembuh oleh Nilam Campa. Putri Meulu yang sedang bertapa dalam sebuah gua menerima tangan dan kaki Banta Ali dari malaikat dengan pesan supaya ia kawin dengan Banta Ali. Semula Banta Ali merasa berat menerima karena dirinya cacat. Tetapi sudah berulang kali didesak, barulah ia bersedia dan dengan bantuan tiga orang syiah kedua tangan dan kakinya kembali seperti semula.

Tiada berapa lama kemudian Banta Ali dan istrinya Putri Meulu tiba di Yaman. Rencana perkawinan Ali Hareudan dengan Putri Meureudom Bunga dapat digagalkan oleh Banta Ali. Ali Hareudan tewas ditangan Banta Ali akibat pengkhianatannya. Raja Yaman terharu menyambut putranya yang disangkakannya sudah meninggal. Banta Ali dinikahkan dengan Meureudom Bunga sesudah diangkat sebagai raja negeri Yaman.

Kecantikan Putri Meureudom Bunga diketahui oleh seorang raja dari Cina. Ia menyerang negeri Yaman dengan menyihir Banta Ali dan Putri Meulu, lalu melarikan Meureudom Bunga ke negeri Cina. Seoarang sakti bernama Falak Antara dapat memulihkan orang yang kena sihir. Bersama Putri Meulu dan beberapa orang panglima perang ia terbang ke negeri Cina. Di sana terjadi perang sakti dalam memperebutkan Putri Meureudom Bunga. Akhirnya raja Cina menyerah dan putri dibawa pulang ke Yaman. Tak lama kemudian dengan diantar Falak Antara, Putri Meureudom Bunga dan Banta Ali berangkat menuju negeri Indra Sarah untuk melihat orang tuanya. Di sana mereka disambut dengan upacara kebesaran oleh baginda dan permaisuri. Banta Ali diangkat pula sebagai raja negeri Indra Sarah menggantikan Raja Ahmad.

H

HABA JAMEUN

adalah jenis kesusastraan dalam bentuk prosa yang hidup dalam masyarakat dan biasanya diturunkan secara lisan. Secara umum haba dipandang sebagai sastra yang ringan dan tidak serius karena ceritakan pada waktu-waktu senggang serta banyak dibumbui dengan lelucon atau menceritakan suatu kejadian yang berkaitan dengan kekuatan-kekuatan yang berupa mitos. Dalam konteks sebenarnya cerita-cerita yang berkaitan dengan mitos itulah yang disebut dengan haba jameun. Suatu cerita yang melukiskan asal-usul masa dahulu seperti; Haba Jeuet Bumoe, Haba Asay Pade, Haba Asay Nan Tapak Tuan. Selain itu juga masuk cerita-cerita tentang binatang—termasuk juga kedalam cerita asal-usul, cerita orang miskin (Haba Si Gasien Meuseukin. Kejadian yang dilukiskan pada umumnya bermula dari suatu pelanggaran larangan. Dalam haba jameun ini diceritakan dulunya binatang bisa berbicara seperti manusia. Monyet dikatakan asal-usulnya dari manusia—manusia yang hidup dijaman dahulu yang melanggar suatu pantangan (larangan) akhirnya mereka dikutuk menjadi kera hingga sampai saat ini. Selain itu, cerita-cerita tentang kancil yang juga bisa berbicara layaknya manusia juga banyak dijumpai dalam haba jameun.

Namun sekarang tradisi ini sudah mulai pudar di tengah-tengah masyarakat pendukungnya. Hal ini, disebabkan karena arus teknologi informasi serta globalisasi yang sedang mewabah. Padahal pada masa lalu sastra dalam bentuk prosa ini mempunyai fungsi didaktis yang sangat berperan dalam mengatur tatakrama kehidupan masyarakat. Banyak bukti cerita prosa tersebut beredar di dalam masyarakat dengan berbegai bentuk corak dan ragamnya. Ini membuktikan masyarakat jaman dahulu mewarisi haba jameun ini dari generasi ke generasi berikutnya sesuai sesuai dengan situasi lingkungan mereka saat itu.

HAMZAH FANSURI

adalah seorang ulama dan sastrawan sufi nusantara yang terbesar, tidak saja dizamannya namun sampai sekarang belum ada yang mampu menandinginya. Dia adalah Jaluddin Ruminya kepulauan nusantara. Penguasaannya akan bahasa Arab, Urdu, Persia, dan Melayu telah membantu beliau untuk memahami dan menghayati tasawuf/thariqat dan Filsafat Ibn Arabi, Al Hallaj, Al Bistani, Maghribi, Syah Nikmatullah, Abdullah Jalil, Jalaluddin Rumi, Abdulkadir Jaelani, dan lain-lain. Walaupun tidak banyak diketahui tentang riwayat hidupnya, sehingga banyak para peneliti berselisih faham , namun hal itu tidaklah kita permasalahkan. Satu hal yang sudah dipastikan Beliau adalah keturunan dari Persia. Diperkirakan Hamzah Fansury hidup pada masa Sulthan Alaiddin Riayat Syah Sayidil Mukamil yang memerintah kerajaan Aceh Darussalam (997—1011 H atau 1589—1604 M). Beliau meninggal serta dimakamkan di Hulu Sungai Singkel bertepatan dengan berakhirnya kekuasaan pemerintahan Sulthan Iskandar Muda Meukuta Alam. Sebagai seorang penyair Islam syair-syair Hamzah Fansury banyak terdapat perlambangan-perlambangan dan simbol-simbol.

Salah satu contohnya adalah kata perahu dan dagang, handaknya kita interpretasikan perlambangannya dari sudut kaca mata Islam. Bahkan dalam hal ini baru akan berhasil dengan baik jika tafsiran itu kita hubungkan dangan penghayatan kaum sufi terhadap agamanya.

Sebenarnya, Hamzah Fansuri tidak mencantumkan tahun dalam karya-karya, tetapi kita dapat merujuk pada karya Syamsuddin Pasai yang mengatakan beliau meninggal pada tahun 1630. Syamsuddin sealiran dengan Hamzah dalam bidang tasawuf dan ia memberikan ulasan terhadap sejumlah syair-syair Hamzah. Namun Hamzah merupakan pengarang Melayu pertama yang mengarang karya-karya bersifat ilmiah dengan menggunakan nama dalam karyanya—hal ini kemudian menjadi ikutan dan kebiasaan oleh pengarang-pengarang Melayu berikutnya. Namun Nuruddin ar-Raniri tidak menyebutkan pengarang agung ini. Tetapi Nuruddin dalam kitabnya Tibyan menyerang faham Hamzah Fansuri dan Syamsuddin yang dianggapnya sebagai faham yang sesat dengan menyebutnya Wujudiyah dhalalah. Sedangkan data-data lain mengenai Hamzah tidak disebutkannya. Berikut ini kita lihat mukaddimah Syarab al-‘Asyiqin merupakan karangan ilmiah Hamzah seperti telah diungkapkan di atas.

Ketahuilah bahwa faqir dha’if Hamzah Fansuri hendak menyatakan jalan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan makrifat Allah dengan bahasa jawi dalam kitab ini, insya Allah, supaya segala hamba Allah yang tiada tahu akan bahasa ‘Arab dan bahasa Parsi supaya dapat membicarakan dia. Adapun kitab ini dinamai Syarab al-‘Asyikin ya’ni Miniman Segala Orang Yang Birahi.

Seperti telah diulas di atas, banyak pertentangan para peneliti mengenai Hamzah. Francois Valentijn dalam bukunya Oud en Nieuw Oot-Indien yang diterbitkan pada tahun 1726 menyebutkan Hamzah Pantsoeri sebagai seorang penyair yang termashyur dilahirkan di Pantsoer (Barus). Doorenbos menerima pendapat bahwa Hamzah lahir di Barus. Namun hal ini, ditentang oleh Syed Muhammad yang mengatakan Hamzah lahir di Syahrnawi, Ayuthia ibu kota Negeri Siam jaman dahulu. Hal ini didasarkannya pada rangkap syair Hamzah berikut ini

Hamzah nin asalnya Fansuri

Mendapat Wujud di tanah Syahrnawi

Beroleh khilafat ilmu yang ‘ali

Daripada ‘Abd al-Qadir Jilani

Dalam hal ini Mendapat Wujud di tanah Syahrnawi diartikannya sebagai tempat lahir Hamzah. Pendapat ini langsung tentang oleh Drewes bahwa Wujud dalam syair tersebut tidak dapat diartikan demikian, sebab pada tempat-tempat lain Hamzah tidak menggunakan kata wujud dalam arti ini. Maka dengan demikian Drewes berkesimpulan bahwa Hamzah Fansuri telah menulis pada masa pemerintahan Sultan Alauddin, putera Sultan Ahmad Perak, dan Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Sayid al-Mukammil yaitu antara tahun 1577-1604. Hamzah Fansuri adalah seorang panganut paham Wujudiyah yang berakar dari filsafat ‘Ibn ‘Arabi dan beliau juga seorang penganut aliran tarikat Qadariyah. Untuk memahami sifat Wujudiyah ajaran Hamzah dapat kita lihat dari beberapa paragraf Asrar al-‘Arifin karya beliau berikut ini

Adapun kepada ‘ulama syari’at dzat Allah dengan wujud Allah dua hukumnya, wujud ‘ilmu dengan ‘alim dua hukumnya; wujud ‘alam dengan ‘lam dua hukumnya; wujud ‘alam lain, wujud Allah lain. Adapun wujud Allah dengan dengan dzat Allah mithal matahari dengan cahayanya, sungguhpun esa pada penglihat mata dan penglihat hati, dua hukumnya; matahari lain, cahaya lain.

Adapun ‘alam maka dikatan wujudnya lain karena ‘alam seperti bulan beroleh cahaya dari matahari. Sebab inilah maka dikatan ‘ulama: wujud alam lain daripada wujud Allah. Wujud Allah dengan dzat Allah lain.

Maka ahlu’l suluk: jika demikan Allah ta’ala di luar alam atau dalam alam dapat dikata. Pada kami dzat Allah dengan wujud Allah esa hukumnya, wujud Allah dengan wujud alam esa, wujud alam dengan alam esa hukumnya. Seperti (matahari) dengan cahaya namanya jua lain, pada haqiqatnya tiada lain. Pada penglihat mata esa, pada penglihat hati pun esa. Wujud alam demikian lagi dengan wujud Allah esa, karena alam tiada berwujud sendirinya. Sungguhpun pada zahirnya ada ia wujud, tetapi wahmi juga, bukan wujud haqiqi; seperti bayang-bayang dalam cermin, rupanya ada haqiqat tiada.

Adapaun ittifaq ulama dengan ahlu’l suluk pada dzat semata: sungguhpun dzat dapat diibaratkan tetapi tiada lulus pada ibarat karena (tiada) di atas akan dia, tiada di bawah akan dia, tiada dahulu akan dia, tiada kemudian kan dia, tiada kanan akan dia, tiada kiri akan dia, tiada jauh akan dia, tiada hampir akan dia, tiada di luar akan dia, tiada (di) dalam akan dia, tiada bercerai kan dia, tiada bertemu akan dia, tiada betapanya dan tiada (di) mana dan ke mana dan tiada sekarang dan tiada sekejab mata dan tiada ketika dan tiada masa, tiada ia jadi dan tiada (ia) menjadi, tiada ia tempat dan tiada ia bertempat. Seperti sabda Rasul Allah: kana’llahu wa la syai’a ma’ahu, ya’ni: dahulu Allah tiada suatu sertanyapun.

Hamzah Fansuri melanjutkan dengan mengatakan:

Ya’ni murid berkehendak kepada isti’dad yang dalam ilmunya kepada ala mini. Seperti kata hadith qudsi: Kuntu kazan makhfiyyan fa ahbatu an a’rafa, ya’ni, aku perbendaharaan yang tersembunyi maka kukasih bahwa aku dikenal. Ya’ni alam dengan isti ‘adatnya sekalian yang di dalam ‘ilmunya itulah maka dinisbatkan dalamnya kepada perbendaharaan yang tersembunyi hendak mengeluarkan ma’lumat dari dalam ilmunya, maka bersabda: kuntu kanzan makhfiyyah fa ahbabtu an u’rafa.

Adapun mathal perbendaharaan itu seperti pohon kayu sepohon dalam bijinya. Biji itu perbendaharaan, pohon kayu yang dalamnya itu isi perbendaharaan tersembunyi, dengan lengkapnya, akarnya dengan batangnya, dengan cabangnya, dengan dahannya, dengan rantingnya, dengan daunnya, dengan bunganya, dengan buahnya. Sekalian lengkap dalam biji itu. Maka biji itu hendak keluar, tumbuh pohon kayu itu daripada darinya di tengah padang yang mahaluas. Maka biji itu berkata: kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u’rafa, ya’ni sekalian kata ini isyarat kepada berkehendak juga.

HAMDANI MULYA

adalah salah seorang sastrawan muda Aceh yang aktif dalam berbagai aktivitas. Sebagai seorang mahasiswa di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Unsyiah, dia juga merupakan anggota penerbitan Jurnal Wacana FKIP, Unsyiah dan Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dia lahir di desa Paya Bili, kecamatan Meurah Milia, Aceh Utara, 10 Mai 1979. Mulai menulis karya sastra berupa puisi, cerpen, dan lagu Aceh sejak duduk di bangku SMU kelas I. karya-karyanya dimuat di media massa terutama Aceh dan Medan; Serambi Indonesia, Kutaraja dan Waspada. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi puisi dan lukisan Dalam Beku Waktu (Koalisi NGO HAM Aceh & ICCO, 2002).

HAMDAN M NURDIN

dilahirkan di Samalanga, kabupaten Bireuen, 22 November 1967. Menyelesaikan pendidikan di Akademi Perawatan Depkes Banda Aceh (1989). Lelaki yang tercatat sebagai salah seorang karyawan pada PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) Lhokseumawe ini, mengaku senang menulis puisi, mendengarkan musik dan membaca. Puisinya Antara Buket Seuntang dan Rumoh Geudong dimuat dalam kumpulan puisi bersama penyair Aceh lainnya dalam Antologi Puisi Keranda-Keranda (1999).

HARAP BINASA, HIKAYAT

merupakan cerita dalam bentuk hikayat yang disalin oleh Teungku Abdullah Lhok Sukon, di Peunayong, Banda Aceh pada tanggal 10 Januari 1972. Dengan kata sambutan oleh Anzib Lamnyong. Cerita ini merupakan saduran yang berasal dari cerita di negeri Arab. Tidak seperti hikayat-hikayat lama lainnya yang pernah ditulis di Aceh dengan memakai huruf Arab, hikayat ini penulisannya dengan huruf latin berbahasa Aceh. Hikayat ini, secara keselurahan menceritakan kekuatan iman seorang wanita yang mendapat berbagai cobaan berat namun ia tetap beriman dan mempertahankan kehormatannya. Penyusun (penyalin) hikayat ini telah melakukan bebera perubahan terutama pada susunan bahasa dan sajaknya, dengan maksud agar pembaca dapat mengambil hal-hal yang bermanfaat yang terkandung dalam karya sastra ini. Berikut ringkasan cerita dari Hikayat Harap Binasa; Sultan Mahmud yang hidup menduda adalah seorang raja di negeri Badar, mempunyai seorang putri yang cantik bernama Puteri Badar. Ia sangat alim beragama. Sedangkan Sultan Mahmud hanya bersenang-senang dengan wanita-wanita cantik. Pemerintahan diserahkannya pada seorang menteri yang bernama Jam. Suatu malam tidur seorang dayang-dayang bernama Zalikhah di peraduan sang raja. Raja sangat marah, lalu Zalikhah menceritakan kisah Nabi Sulaiman yang mempunyai kekuasaan besar tapi tetap taat kepada Tuhan. Raja menyesal lalu memardekakan Zalikhah. Setelah itu, Sultan Mahmud berangkat ke Mekkah dan pejabat raja diserakan pada menteri Jam. Raja juga menitipkan puterinya agar dijaga baik-baik.

Rupanya menteri Jam menaruh hati terhadap Puteri Badriah. Lalu Puteri Badriah meninggalkan istana secara diam-diam. Menteri Jampun mengirimkan surat kepada raja di Mekkah dengan mengatakan Putri lari dengan seorang laki-laki. Raja sangat sedih mendengarkan berita tersebut. Sementara itu, Putri Badriah berkalana dalam hutan. Juhan Syah raja Irak yang masih muda dan lajang pergi berburu ke dalam hutan. Maka bertemulah dia dengan Putri Badriah, lalu memperistrikannya dan melahirkan dua anak kembar.

Puteri Badriah karena rindu pada ayahnya berangkat ke Mekkah bersama anaknya dengan diantar oleh menteri bernama Alakah. Di tengah perjalanan ternyata Alakah menaruh hati pada Badriah dengan mengajak berbuat mesum. Badriah menolaknya, ternyata hal ini membuat Alakah sangat marah. Lalu ia membunuh kedua anak Badriah. Badriah sangat sedih, ia pun menggunakan muslihat dengan mengatakan sedang datang bulan. Lalu ia pun melarikan diri masuk ke dalam hutan. Dalam perjalanan ia bertemu dengan seorang penjahat bernama Zanggi. Zanggi yang sedang mabuk mengajaknya berbuat maksiat. Lalu ia melarikan diri dengan kuda sampai ke negeri Awa Sapahan. Di sini ia tinggal di rumah Buya Pari. Buya Pari membujuk untuk menikah dengannya. Ia berpura-pura bersedia dengan mengatakan masih dalam masa idah.

Tatkala Zanggi sadar dari mabuknya ia mencari Badriah, namun sia-sia. Demikian juga halnya dengan Alakah. Lalu ia menyuruh utusan menghadap Raja Juhan Syah dengan megatakan putri lari dan kedua anaknya dibunuh orang. Raja sangat sedih dan ia pun memutuskan berangkat untuk berkelana mencari istrinya. Sementara itu, Badriah menyamar sebagai laki-laki dan meninggalkan Asapan. Maka sampailah ia di negeri Zamintaron dan diangkat menjadi raja.

Suatu hari Badriah menyuruh seorang pelukis meniru wajahnya dengan pakaian wanita. Lukisan tersebut, digantung dipersimpangan jalan. Ia pun memerintahkan penjaga menahan siapa saja yang menangisi lukisan itu. Buya Pari dan Zanggi yang mengenal lukisan tersebut, ketika melihatnya menangis tersedu-sedu. Lalu merekapun ditangkap. Raja Juhan Syah yang berkelana mencari istrinya sampai ke Zamintaron dan jatuh pingsan ketika memperhatikan lukisan yang terpajang di simpang jalan. Ia dibawa ke istana, Badriah pun sangat terkejut melihat suaminya pingsan. Juhan Syah merasa heran karena mendapat perlakuan sangat istimewa dari raja Zamintaron.

Alakah yang sedang mencari Badriah sampai di negeri Badar. Karena ia orang Irak mempunyai mata uang yang sama dengan negeri Badar dengan cap nama Putri Badriah. Alakah diperiksa dan dibawa ke Mekkah menghadap Sultan Mahmud, menteri Jam pun ikut. Sultan tidak bisa memberikan keputusan. Maka berangkatlah mereka ke Zamintaron untuk memutuskan perkara, karena rajanya terkenal cerdik dan adil. Sultan Mahmud disambut dengan penuh penghormatan. Setelah mengetahui duduk perkaranya, Raja Zamintaron teringat masa ia hendak diperkosa dan diancam oleh Menteri Jam, Alakah, Zanggi dan Buya Pari. Keempat orang ini dimasukkan ke dalam tahanan, setelah Sultan Mahmud dan Raja Juhan Syah, mendengarkan kisah dari Putri Badriah. Tak lama kemudian menteripun meninggal dalam tahanan akibat perbuatan jahat mereka. Sultan Mahmud menyerahkan kerajaan Badar pada menantunya, lalu ia kembali ke Mekkah untuk beribadat. Badriah juga menyerahkan Kerajaan Zamintaron pada suaminya. Dengan demikian Juhan Syah memerintah tiga kerajaan.

Tak berapa lama Badriah melahirkan tiga orang putra. Setelah mereka dewasa dinobatkan menjadi raja di negeri Badar, Irak, dan Zamintaron. Berikut kita lihat beberapa bait cuplikan dari Hikayat Harap Binasa.

…..

Le that nyang beungeh teupeh peurasa

Dum raja-raja sama sikali

Hajat keumeung prang ka trang han daya

Teutap jisaba han jeut peugah kri

Dicong bak rihat na cangat itam

Dicong bak mamplam burong keutok-tok

Ulon riwayat deelat sulotan

Sulotan Mahmud han jeut ingatan

Didalam seunang lam suntok-suntok

Gobnyan lam laloe uroe ngon malam

Cit gadoh bimbang ngon donya mabok

Nyang dara-dara raja deundayang

Limong ploh sajan sinan meutumpok

Rumah dum seudah indah trang bandarang

Bandum peurawan goh na ureung thok

Soe jeupet teuot soe urot badan

Sireugam-reugam keuieng ngon kudok

Nibak teumpat eh meuceh dum macam

Deungaon bee-beewan han ek tateugok

Kaso meujab-jab mangat tidoran

Oh ban jab badan laju meuanggok

Han peue lon peugah kisah that panyang

Bak eh sulotan raja nyang rayek

Geuboh keu meuntroe sidroe bawahan

Nama meuntroe Jam lon peugah beutroh

Nyankeuh geunantoe sampoe meujan-jan

Oh tan sulotan bak meuntroe geujok

…..

HARUN RASYID, TEUNGKU

lahir di Kung, Takengon, Aceh Tengah, tahun 1915. Mengikuti pendidikan Sekolah sambil mengaji malam hari dengan Tgk Ismail (1922), kemudian pada Tgk. Jahja bin Rasib di Wih Naroh (1923). Kemudian melanjutkan sekolah di Takengon pada Standar School V pada tahun 1925. Dia menjadi guru bantu Tgk. Jahja di Gelelungi (1930). Dimasa tuanya Tgk Harun Rasyid pindah ke Jakarta mengikuti anak-anaknya. Tidak lama sekembali dari menunaikan ibadah haji beliau meninggal dunia pada tahun 1983. Jenazahnya dikebumikan di Pekuburan Karet, Jakarta. Beliau dikenal sebagai penyair modern dari dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah. Puisi-puisinya digolongkan kedalam bentuk puisi religius. Selama hayatnya telah dapat menerbitkan antologi puisi ‘Timur’, ‘Pasa’, ‘Alam Kubur’, (1971-1972). Dalam antologi Pasa (puasa) khusus membicarakan berbagai hal yang berkenaan dengan puasa. Dalam kumpulan ini kita menemukan puisi yang membahas hal-hal seperti Awal Puasa, Niat Puasa, Yang wajib Puasa, Batal Puasa, Qada, Fidiyah, Puasa Enam, Fitrah, Nasib Anak Yatim, dan lain-lain. Selain itu, sajak-sajaknya dimuat dalam antologi L.K. Ara dkk, Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995) dan nama Harun Rasyid juga tercatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (Kompas, Jakarta, 2001). Berikut salah satu cuplikan puisi Harun Rasyid (terjemahan)

MENZIARAHI JEMA SAKIT

Nabi Muhammad di suatu saat

Satu rombongan dengan para sahabat

Tiba-tiba masuk ke suatu tempat

Di suatu rumah orang tidak sehat

Orang banyak di sana berkerumun

Orang yang sakit sudah gelisah

Rasulullah lalu mengucapkan

Laa basa thahurun insya Allah

Penyakit ini belum parah

Lebih berat dari ini masih ada

Kita ini tak kekal memang dimikianlah

Nanti akan sehat insya Allah

Ini tata cara menjenguk orang sakit

Supaya hati hati-hati dalam ucapan

Jika badan merasa sakit

Jangan ditambah dengan hatinya gundah

Badannya sakit hatinya disenangkan

Jika hati terbuka berilah dengan ikhlas

Tidak dapat beruap, coba supakan

Jika pun tidak ada, ya ……… tidak apa-apa

Yang penting kita ziarah

Jika mampu lebih baik bersedekah

Lebih-lebih tetangga dekat rumah

Yang penting wajah muncul dengan ramah

Kata orang tua-tua

Semisal baju terbelah di dada

Sekarang orang, nanti kita

Wujud baru mesti berubah

HASAN FANSURI

adalah salah seorang murid Hamzah Fansuri yang mengikuti jejak gurunya. Salah satu ciri khasnya adalah menggubah syair-syair yang mirip sekali dengan karya gurunya tersebut. Dalam salah satu syair yang diberi judul Syair Jawi fasal fi bayan al-tawhid dicantumkan nama pengarangnya adalah Hasan Fansuri. Selain itu, nama Hasan Fansuri dua kali disebut oleh pengarang lain yaitu oleh Abdul Jamal sebagai pengarang Miftah al-Asrar. Untuk lebih jelasnya mengenai hal ini dapat kita simak dalam syair yang berjudul Hadzihi al-asy’ar al-musyirah ila badi’ al-naka’ith wa’l-fawa’id fi ma’rifat Allah Ta’ala wa sifatihi, berikut ini

Kata ini jangan disangkali

Jika belum mendapat yogya dikhidmati

Miftah al-Asrar nama kitabi

Demikianlah isyarat Hasan Fansuri

Syaikh itulah yang terlalu kasyfi

Keramatnya masyhur pada sekalian negeri

Beroleh rahasia daripada Baginda ‘Ali

Perkasanya sangat pada sekalian kuffari.

Mengenai karangan beliau Miftah al-Asrar ini ditinjau dari segi judulnya kemungkinan besar merupakan ulasan dari Asrar al-‘Arifin karya guru beliau Hamzah Fansuri. Namun mengenai keberadaan beliau diperdebatkan oleh beberapa ahli tentang sejarah dan kesusastraan Melayu, dengan menganggap Hasan Fansuri dan Abdul Jamal merupakan nama samaran dari Hamzah Fansuri. Pendapat ini dibantah oleh Drewes dengan mengatakan pengarang ini adalah orang yang lain dari Hamzah Fansuri, seseorang yang menyebut namanya sendiri.

Seperti telah diungkapkan di atas, karya-karya Hasan Fansuri mengikuti jejak gurunya Hamzah Fansuri. Berikut ini kita lihat syair-syair Hasan Fansuri yang dapat dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama dimulai dengan

Aho segala kita yang mubtadi

Yogya dituntut haqiqat Muhammad Nabi

Karena Ilmu itu pertama tajalli

Kenyataan makhluqat daripada ilahi

Barangsiapa ‘arif mengenal dia

Ia itu sempurna beroleh bahagia

Karena ‘ilmu itu yang mahamulia

Kenyataan Tuhan pertema sedia.

Kemudian Hasan Fansuri sebagai pengarang merujuk pada Surah al-Dukhan (44:32) dengan mensifatkan hubungan antara Tuhan dengan makhluk sebagai berikut

Thalathatu ‘l- amthali terlalu ‘ali

Pada sekalian kita burhan mubtadi

Pertama mithal emas dan asyrafi

Keduanya bulan dan matahari

Jami’u ‘l- amthali ombak dan laut

Keduanya itu sedia bertalut

Batinnya nyiur dzahirnya sabut

Itulah tamthil ketiganya patut

Kemudian pula ia merujuk pada qur’an, Surah Taha (20:14) dengan rangkap:

Dalil ini terlalu ‘ali

La ilaha illa ana fa buduni

Pada Surah Taha adanya terperi

Wa aqimi ‘s- salata lizikri

Dalam bagian kedua ini merujuk pada karya-karya gurunya Syaikh al-Fansuri:

Riwayat ini daripada Syaikh al- Fansuri

Menunjukan kita sekalian mubtadi

Bukan baharu sekarang tegal kucari

Daripada Saif- al- Rijal dan Muntahi

Zinat al- Muwahhidin nama kitabnya

Asrar al- ‘Arifinpun perbuatannya

Ruba ‘ al- Muhaqqiqin nama baitnya

Itulah isyarat tauladan gurunya

Disambungnya pula tentang Hamzah Fansuri:

Syaikh al- Fansuri terlalu ‘ali

Beroleh khilafat di benua Baghdadi

Datang ke Makkah bertambah nurinya

Syarab al- ‘Asyiqinpun perbuatannya

Ma ‘un al- awliyya ‘ di dalam Makkah

Bukannya masyur di dar al- jubah

Deratnya ‘ali bertambah-tambah

Tampalkan iman di benua Madinah

Dhamir al- ‘ilm daripada ustadz kami

Bukannya patutnya sindirkan nyanyi

Tahqiqat al- isyarah bi ‘l-ma ‘nawi

Daripada syaikh al- Faqir Hasan Fansuri

Pada akhir syair ia menyebut namanya sendiri

Illa ‘llahu disini terlalu nyata

Daripada Hasan Fansuri berdua mata

Bukannya tegal dikata

Inilah isyarat penghulu kita

Ya ilahi, ya ghafuri

Peliharakan hamba dari ghururi

Lain daripada isyarat Hasan Fansuri

Jangan jauh engkau mencari

HASBI BURMAN

kepengarangannya tidak melalui pendidikan formal, tetapi hanya secara otodidak. Walaupun demikian tidak menjadi halangan bagi pria berkumis tebal ini untuk terus berkarya. Dia merupakan jiwa Aceh sendiri, karena kebanyakan puisinya mengisahkan tentang negeri pedalaman yang terpencil di Aceh yang kadang-kadang merefleksikan dirinya sendiri. Hasbi lahir di Lhok Buya, Calang, Aceh Barat 1944. Berbagai pekerjaan dalam hidup ini telah dilakoninya, terutama sebagai juru parkir di Peunayong—sebuah kawasan di Banda Aceh berupa kedai-kedai kaki lima untuk tempat minum kopi dan juga berupa tempat makan. Sehingga harian Kompas menjulukinya sebagai presiden “Rex”. Sekarang berdomisili di dekat Bandara Internasional Iskandar Muda Aceh. Karya-karyanya telah tersebar di berbagai media Massa baik tingkat lokal maupun nasional. Hasbi juga tercatat sebagai seorang sastrawan Aceh dalam antologi sastra “Seulawah”—berisi karya sastrawan Aceh mulai dari Hamzah fansyuri sampai sastrawan Aceh masa kini (Yayasan Nusantara, Jakarta, 1995).

Suatu Malam Di Rex

Untaian itu bergulir

Di atap peunayong

Bersenggama dengan angin malam

Ketika kita membuat sebuah perenungan

Di pucuk kenangan semakin bergelantungan

Nafas malam hening sekali

Berdesah di ubun kita

Membuat sebuah perencanaan

Di bukit-bukit yang semu

Kita halau rindu

Untaian itu bergulir

Pada tanah yang tandus

Kecuali pada cahaya merkuri

Di seberang sana

Penuh angan-angan

Pada bumi ini

Yang kita temui cuma bayangan

Untaian itu bergulir

Pada diri yang hampa

Tanpa apa-apa

Kecuali sebuah nyanyian malam

Bergema di balut mimpi

Untaian itu bergulir

Ketika mata rebah dalam pesona

Yang penuh bunga

Untaian itu bergulir

Malam semakin ke ujung

Angin turun lurus berbaris

Menyisir daun-daun kering

Ketika kita sadar

Cinta semakin meranting

Patah satu-satu

HASYIM KS

dikenal sebagai salah seorang sastrawan dan jurnalis. Hasyim lahir di Lhokpoah Tapaktuan, 21 Juli 1940. Pendidikan formal hanya sampai tingkat SMP dan selebihnya adalah pendidikan non-formal. Pekerjaan sebagai seorang seniman dan jurnalis sangatlah beragam. Sejak tahun 1970 bekerja dibeberapa surat kabar Aceh sebagai redaktur budaya. Terakhir selama 12 tahun sebagai redaktur Budaya Harian Serambi Indonesia Banda Aceh sampai habis masa tugas Juli 2002. Tahun 1970 sebagai wartawan lepas dari aceh untuk Harian Indonesia raya dan Majalah Tempo Jakarta. Kemudian selama 5 tahun sebagai wartawan harian Analisa Medan untuk Banda Aceh. Tahun 1995 bersama penyair Taufiq Ismail dan LK Ara membuat antologi sastra “Seulawah” setebal 700 halaman berisi karya sastrawan Aceh semenjak Hamzah Fansyuri sampai sastrawan Aceh masa kini. Diterbitkan oleh Yayasan Nusantara Jakarta (1995). Pada bulan Mei 2002 ikut membaca cerpen di Teater Utan Kayu Jakarta. Walaupun begitu karya-karyanya yang ditulis semenjak tahun 1970 an berupa 20 cerpen, 30 puisi dan 1 novel, sampai sekarang belum terbukukan.

Aku Ini Telah Tua Kawan

Aku ini telah tua kawan

Ada yang menyebutku sebagai serdadu tua yang belum mau mati

Tapi karena aku laki-laki normal

Aku berhasrat juga untuk kawin beberapa kali lagi

Tapi sumber hidupku dari belakang meja ini

Bikin puisi

Bikin cerita

Merenung-renung

Jelas tak mampu untuk menambah bini-bini

Atau menyimpan gundik-gundik

Bukan pula karena dihalang

Oleh undang-undang poligami dari pemerintah

Itu kendala yang tak berarti, mudah di atur

Tapi karena di belakang maja kerja ini

Mau jadi pimpinan proyek hanya impian

Mau memanfaatkan katabelece jauh di awan

Mau berkolusi agar mudah memetik buah yang bernama korupsi

Adalah kawan-kawan ku

Adalah mitra-mitra ku

Hanya seniman

Tak salah memang akan penyesalan paman-paman ku

Kata mereka: pilihan hidupmu memang jauh dari duit

Yang menjadi impian banyak orang

Oleh karenanyalah paman-paman ku

Mantan jagoan di sektor kolusi itu

Melarang anak-anak yang cewek berpacaran dengan ku

Aku ini telah tua kawan

Telah tak garang lagi untuk jadi anggota pemuda pancasila

Telah keriput untuk diterima di KNPI

Telah loyo pula untuk di jagokan jadi anggota DPR

Aku ini telah tua kawan

Ada yang menyebutku sebagai serdadu tua yang belum mau mati

Memang belum mau mati

Mungkin karena aku tidak adil pada diri sendiri

Tidak memberi dia hak untuk mencuri

Untuk bermain kongkalingkong

Setidaknya untuk jadi lurah

Dengan kriteria dan tatakrama kantoran

Bukan sebagai seorang keuchik seperti kakek ku dulu

Yang dipilih di sebuah meunasah

Yang tidak ditunjang oleh dana bandes

Yang istrinya nenekku

Tidak pernah mengelu-gelu tamu dari kota

Rombongan Dharma Wanita

Yang biaya penyambutan itu melebihi dana PKK

Yang dititipkan

Memang belum mau mati

Mungkin belum mau mati

Mungkin karena aku tidak adil pada negara

Ada beberapa denda akibat pelanggaran aturan

Yang seyogianya masuk ke kas negara

Karuan saja ku ulurkan ke dalam kantong petugas

Lebih murah dan lebih irit

Yang dari satu sisi kurasa aku telah patuh

Pada anjuran hidup sederhana

Memang belum mau mati

Mungkin karena aku berdosa pada pemerintah

Sering kumaki sebagian orang-orang pilihan

Yang jabatannya menteri

Walau dalam hati

Ketika wajah mereka muncul di televisi

Telinga dan mata tuaku mengatakan

Bahwa mereka tukang bual

Hari-hari omong kosong

Begitulah

Aku ini telah tua kawan

Hari-hariku serba salah.

Banda Aceh, 17 Agustus 1995

HELMI HASS

dilahirkan di desa Keude Linteung, Jereum, Aceh Barat, 14 Februari 1964. Berpendidikan Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (tamat) kini memilih karir sebagai wartawan di harian Serambi Indonesia. Kreatifitasnya menulis karya sastra dimulai sejak SMA, tetapi sebelumnya telah aktif dalam berkesenian. Dia pernah tampil sebagai juara I dan II Lomba Seni Teater se-Universitas Wilayah Barat di Universitas Andalas Padang (1990). Tahun 1991, bersama seniman Aceh lainnya mengikuti Dialog Utara IV di Kedah. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi L.K. Ara dkk, Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Dalam kehidupan berkesenian di Aceh suami D. Keumalawati ini dipercaya menjadi Ketua Dewan Kesenian Aceh (DKA).

H.G. UGATI

adalah pengarang yang dikenal sebagai cerpenis. Dia dilahirkan di Teritit, Takengon, Aceh Tengah, tanggal 19 Maret 1938. Latar belakang pendidikan menamatkan SMEA di Medan (1957), kemudian melanjutkan pendidikan dengan mengikuti Kursus Tinggi Keuangan Pusat di Bogor (1964). Karya-karyanya berupa cerpen banyak dimuat di berbagai media massa di Jakarta, terutama dalam majalah Sastra dan Horison. Nama H.G. Ugati kapasitasnya sebagai pengarang tercatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (Kompas Jakarta, 2001).

HILL AL-ZHILL

adalah sebuah kitab karangan Nuruddin ar-Raniri yang ditulis dalam bahasa Melayu dan bahasa Arab. Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu atas permintaan sahabatnya. Sedangkan penulisannya tidak dicantumkan. Kitab ini disebutkan oleh Nuruddin dalam kitab-kitabnya yang lain yaitu Tibyan pada halaman 108, Jawahir halaman 59 dan halaman 122, dan juga dalam kitab Ma’u’l-Hayah halaman 86. Secara umum dalam kitab ini Nuruddin membahas hal-hal yang berhubungan dengan hujah-hujah kaum wujudiyah yang mengatakan bahwa dunia ini adalah bayangan Allah. Berikut ini kita lihat beberapa kutipan dalam kitab Hill al-Zill

Bahwasanya wujud itu suatu jua, yaitu wujud Allah Yang Maha Suci

dan lain daripada wujud Allah itu tiada wujud

baginya dan jadinyapun tiada dapat. Maka I’tikaq ta’ifah itu

bahwasanya maujud itu sekaliannya wujud Allah maha suci, ta’ala,

lagi maha tinggi daripada kata mereka itu. Demikian inilah

i’tikad wujudiyah yang dalalah. Kedua ta’ifah daripada mereka

i’tikadnya bahwasanya wujudiyah terbahagi atas dua bahagi

pertama wujud haqiqi, kedua wujud khayali. Maka wujud haqiqi

itulah wujud Haqq Ta’ala yang mutlaq dan wujud khayali itulah

wujud segala ‘alam. Bahwasanya adalah Haqq Ta’ala itu maujud

yang tiada kelihatan dan ‘alam itu maujud yang kelihatan, tetapi

tiada baginya wujud. Maka jumlah sekalian alam itulah wujudnya

umpama rupa khayali yang kelihatan dalam cermin. Tiada baginya

wujud pada haqiqatnya melainkan wujud Ta’ala jua atau upama

bayang-bayang jua. Inilah sufi yang ahli Allah….

HIMMAH TIRMIKOARA

lahir di Takengon, Aceh Tengah, pada tanggal 19 Juli 1973 dari pasangan Bahin Maltar dan Nuraini Ibr. Senang menulis sejak SD, dan berani mempublikasikan karyanya sewaktu duduk di bangku SMA untuk majalah dinding sekolah. Selain itu, ia juga mengirim cerpen ke radio untuk dibacakan pada malam minggu. Pada tahun 1990 , ia berhasil meraih juara III dalam Lomba Cipta Puisi Pelajar yang diadakan oleh PT PIM Lhokseumawe. Puisi ini dibukukan bersama pemenang lainnya. Cerpennya mulai menembus media tahun 1995 dengan judul Lelaki Yang Kehilangan dimuat dimajalah SANTUNAN (Kanwil Depag DI Aceh). Kumpulan cerpen pilihannya telah dibukukan oleh Penerbit Mizan, Bandung (2001) dengan judul Penantian Mei Siang, Kumpulan Cerpen Doa Untuk Sebuah Negeri (FLP Aceh, 2001). Alumni Sarjana Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Universitas Syiah Kuala ini mengajar di SMUN Silih Nara. Himmah menikah dengan Idriansyah dan menetap di Takengon.

HUJJATU‘L-SHIDDIQ LI DAF’I AL-ZINDIQ

(Dalil Orang Benar Untuk Menolak Iktikad Orang Zindik) adalah kitab yang dikarang oleh Nuruddin ar-Raniri dalam bahasa Melayu, ditulis atas permintaan sahabatnya tanpa menyebutkn siapa sahabatnya tersebut, serta tahun penulisannya. Kitab merupakan salah satu cara Nuruddin untuk menunjukkan kesesatan golongan wujudiyah mulhid—Nuruddin dalam kitabnya Tibyan fi Ma’rifat al-Adyan membagi dua golongan kaum wujudiyah. Nuruddin sendiri menyebutnya masuk kedalam golongan kaum wujudiyah muwalhid. Dalam kitab Hujjatu’l-shiddiq li daf’I al-zindiq ini Nuruddin juga memperbandingkan ajarannya dengan ajaran atau aqidah golongan yang lain. Pada umumnya kitab ini berisi mengenai masalah akidah dan mazhab-mazhab mutakallimin, ahli sufi, ahli filsafat dan kaum wujudiyah. Naskah kitab ini telah diterbitkan oleh P. Voorhoeve dalam Twee Maleische Geschriften van Nuruddin ar-Raniri, Laeiden, 1955. Selain itu, S.M.N. al-Attas juga telah mentransliterasikan dan menerbitkan dengan terjemahan Inggris sebagai lampiran bukunya Raniri and Wujudiyyah of 17 th Century Aceh, MMBRAS, III, Kuala Lumpur, 1966. Naskah kitab ini tersimpan pada Pustaka Tanoh Abee dan Tgk. M.J. Djamil (Daudy, 1983:54). Berikut kita lihat cuplikan kitab ini yang mencela kaum zindiq. Yang dimaksud dengan kaum zindiq ialah penganut tasawwuf Aceh, yang menganggap Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Pasai sebagai rujukan mereka dan yang mengaku kedua ulama tersebut sebagai guru mereka.

Amat nyata kesalahan mereka itu, karena ditamthilkan mereka itu Haqq Ta’ala dengan makhluk seperti matahari denagan panas yang hadith keduanya; maka dihubungkannya makhluk denagn Haqq Ta’ala seperti perhubungan panas dengan matahari; dan tiada sesuatu daripada keduanya berhubung, maka mithal yang demikian itu muhal, sekali-kali tiada diperoleh pada Haqq Ta’ala.

I

IBRAHIM KADIR

dilahirkan di Kemili, Takengon, Aceh Tengah, tahun 1939. Mulai menulis karya sastra sejak usia 18 tahun, yakni tahun 1958. Dia sudah sejak usia muda telah tertarik kepada seni Tradisional Gayo “Didong”- seni berdendang mendengarkan syair-syair tentang alam sekitar. Ibrahim Kadir merupakan tokoh seni “Didong” yang produktif selain To’et. Diantara banyaknya penyair yang terlahir dari dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, tidak banyak yang menulis syair balada. Salah seorang yang menulis puisi-puisi balada itu ialah Ibrahim Kadir. Ia sudah tertarik pada pelajaran sejarah sejak duduk di bangku sekolah. Hal inilah yang mendorongnya menulis cerita-cerita masyarakat Gayo yang banyak terpendam dan tersebar secara turun temurun. Melihat beberapa puisi balada yang dihasilkannya seperti; “Inen Mayak Pukes”,Melem Diwa”, memang dapat dikatakan ia bersungguh-sungguh untuk menuluis syair berpanjang-panjang. Kedua cerita itu sudah dikenal bukan hanya dikenal dikalangan masyarakat setempat sebagai cerita rakyat yang populer, tetapi juga sudah bersifat nasional. Cerita Malem Diwa dikalangan masyarakat dikenal sebagai cerita yang dapat dinikmati selama tiga malam, bahkan pernah ditutur selama tujuh malam. Di tanah Gayo yang indah, Ibrahim Kadir menulis balada Malem Diwa dalam bahasa Gayo. Bahasanya indah, penuturannya lancar bak air mengalir. Di samping itu semua itu, Ibrahim melengkapi puisi-puisi baladanya dengan irama tertentu dalam bentuk lagu. Dia telah menerbitkan beberapa kumpulan puisi Didong, diantaranya; Cerita Rakyat Gayo dalam Balada Ibrahim Kadir (L.K. Ara, 1971), Datu Beru (Gayo-Indonesia, LKGA, 1971), Gentala (Gayo-Indonesia, LKGA, 1971), dan Cincim Pala (BP, 1971). Sebuah puisi baladanya yang berjudul “Inen Mayak Pukes’ (Pengantin Pukes) dimuat dalam antologi L.K. Ara dkk. (ed), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Selain menulis Didong dia juga aktif dalam teater dan tari. Tercatat pernah menciptakan Tari Massal untuk acara MTQ Banda Aceh tahun 1981.

Pengantin Pukes

Dari atas peraduan turun beramai-ramai ke halaman rumah

Bungkusan tua masa dahulu tikar beranyam

Tikar kecil berukir berkilau serta kendi buke

Sumpit simpanan amapang berhias untuk tempah tertentu

Sorak dan tangis laksana kunang-kunang berganti-ganti

Kadang serunai sendu suaranya ibarat meratap

Di halaman rumah jejeran orang tua duduk bersandar

Pembawa jalan ke rumah menantu beratur panjang

Berangkat sebelum senja

Dijinjing kendi buke

Masa itu penganti timba

Bagitulah dahulu adat tertentu

Pengantin wanita berpakaian adat kalung kasabah

Nenek tua tertawa bergurau sambil menyirih kacu

Berdiri merenung wajah menekur sendu membayang

Hatinya gelisah meninggalkan rumah ruang tujuh

Diantar menenes pakaian lengkap ambang tikarnya

Agar supaya senang jangan mengingat masa muda

Amanat dari ibu jangan sengaja berbalik pandang

Selamat tiba dengan kakai cepat ke tempat yang di tuju

Jangan lagi kau gelisah

Kehendak adat telah tiba

Baik-baik kau melangkah

Hukum berada pada dirimu

Berangkat beramai-ramai tengah hari dari ujung nosar

Sampai dimepar sembayang asyar di atas batu

Yang letih lesu mengambil air bergegas-gegas

Pada daun-daun jatuh sebagian terbuang di rumput layu

Camar sibuk terbang-terbang senja seperti kupu-kupu

Keluar dari guha melayang-layang hiruk pikuk

Pada kicau burung hatinya risau lepau terbayang

Tikar bari dianyam masih tanggung untuk tempat duduk

Hatinya semakin goncang

Berbalik tidak bisa

Bila tidak berpaling hatinya remuk

Bila menoleh ke belakang menjadi batu

Sambil berjalan airmatanya merapi jatuh

Pikirannya pusing nasib tubuhnya yang risau selalu

Menekur ke tanah seperti tetesan embun matanya basah

Suratan nasip bak orang terlunta-lunta tanpa haluan

Setibanya di pukes nenek pengasuh minta berteduh

Yang menyalakan obor sibuk letih membelah bungkalan pinus

Dari loyang sekam jalan ke delung harus berobor

Kata pengasuh jalan keluar nanti di belang kayu

Pengantin semakin bimbang

Gelap pekat dalam guha

Akan kembali pesan terpancang

Tiada senang melihat batu

Suatu takdir dia mungkir dari amanat bunda

Berbalik seketika melihat orang-orang berjejer memanjang

Satu hukuman diturunkan tuhan pada yang demikian

Bumi bergoncang pengantin menjadi batu

Pengantin (pria) menjerit tersandar melihat kejadian

Menimpa nasip dalam perjalanan pada diriku

Ke langit luas ditengadahkan tangannya muka bermohon kembali

Meminta kepada tuhan agar satu haluan dengan istrinya

Yang dimohon lalu terkabul

Terpaku seperti tunggul

Satu tegak seorang lagi duduk

Nampak putih kabur kendi dan labunya

Orang banyak yang mengantarnya nangis menjerit

Melihat terpaku tak bergerak-gerak pengantin baru

Was-was takut hati saudara semua pada patung terpancang

Seolah-olah senyum campur risau wajah membisu

Orang banyak membawa kabar cemas pada orang tuanya

Agar di rumahpun jangan risau perasaan keliru

Ditinggalkannya patung tegak terkurung ibarat tersisih

Dalam batu terhampar di kanan kirinya lumut melulu

Orang tuanya rasa mengiris

Mendengar berita tiada puas-puas

Pada amanatnya menantu lupa

Terbayang pukes guha membatu

1963

IDRUS K RANI

dilahirkan di Alue Bilie, Aceh Barat, 15 Maret 1973. sudah menulis karya sastra terutama puisi sejak 1992. Karya-karyanya telah dimuat diberbagai media, antara lain di Serambi Indonesia, Atjeh Post, dan Peristiwa. Sajak-sajaknya dimuat dalam kumpulan sajak bersama Antologi Nuansa Pantai Barat (1993) dan Keranda-Keranda (1999).

IMAN A. MUSA

lahir di Aceh Tengah, 7 Desember 1948 dan dibesarkan di Bireuen. Menamatkan SMA (1967), kemudian melanjutkan pendidikan tingkat tinggi ke Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FKIP Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh (tamat 1977). Pernah memperdalam pengetahuan di Macquari University, Sidney, Australia (1980), Singapura (1980), dan Kanada (1992). Disamping menulis puisi dan cerpen yang dimulai sejak tahun 1965, juga punya kegemaran melukis dan teater. Sekarang dipercaya menjabat sebagai Kepala Taman Budaya Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi L.K. Ara dkk, Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Nama Iman A. Musa, sebagai seorang sastrawan tercatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (Kompas Jakarta, 2001).

Diriku Dalam Damai

Diriku,

Di sebelah hingar bingar

Mewujudkan muka

Diriku adalah sebuah negara

Di tengah keributan dan bahaya

Tapi jauh di luar

Di sana, di atas segalanya ini

Sang perdamaian terhenjak

Tersenyum ragu dalam penantian

Bersama pengawal-pengawal agung

Cakap dan perkasa

Satu lagi yang lahir dari keagungan

Di taman indah mewangi

Tapi milik kekerasan

Adakah di dalam warisan cinta yang murni

Akan beku di sini

Dan mati karenanya

Diriku, bangunlah

Bila kau ingin menjumpainya

Tapi di sana

Di kumpulan bunga-bunga yang damai

Bunga ros yang tak layu

Kepunyaan kota yang berkubu

Kepunyaan hati dan juang yang patut

Tinggalkan serdadu-serdadu gila

Dan masa yang usang

Untuk insan yang tak pernah alpa

Pada hidup dan pengabdian

Pada diriku.

Catatan 1971

INDRAPATRA, HIKAYAT

adalah hikayat yang tersebar di Asia Tenggara. Dalam Bahasa Filipina (Maranaw) disebut Radia Indrapatra, di Mangindao Indrapatra. Dalam Bahasa Cam Akeat Indrapatra. Di Aceh karya ini berjudul Hikayat Indarapatra, dan sampai saat ini di Aceh masih ada daerah yang bernama Indrapatra. Namun di Aceh telah terjadi pertentangan mengenai hikayat ini oleh para ulama. Salah seorang ulama yang mengecam hikayat ini adalah Nuruddin Ar-Raniri dalam karyanya Sirat al-Mustaqim (1634). Dan beliau menganggap hikayat ini tidak dapat dimasukkan kedalam salah satu karya sastra di Aceh. Hikayat ini tidak dapat dipastikan tahun pembuatan dan pengarangnya. Namun yang jelas dalam diperkirakan sangat populer di Rantau Melayu awal abad ke-17 sehingga Nuruddin Ar-Raniri melarang masyarakat untuk membaca hikayat ini. Menurut beberapa ahli sejarah Melayu dalam (T. Iskandar, 1996:85) G. Moussay hikayat Hikayat Indrapatra telah merebak ke negeri Campa awal abad ke-16. Nampaknya karya ini berdasarkan isinya merupakan ciptaan Melayu asli, yakni hikayat klasik Melayu. Namun Wijiati Mulyadi menempatkan karya ini dalam priode Pra-Islam, sedangkan Braginsky mengatakan dikarang pada paruh kedua abad ke-17. Berikut ini cuplikan Hikayat Indrapatra

….

Indrapatra menyembuhkan puteri dengan kainnya. Menteri-menteri yang dengki serta anak raja-raja yang menghendaki puteri menasehatkan raja membawa puteri ke Pulau Palinggam Dewa dan mengawinkannya dengan sesiapa yang sanggup menangkap burung bayan permainan tuan puteri. Bayan itu dilepaskan di pulau tersebut. Anak raja-raja memanjat pohon untuk menangkap bayan tetapi disengat tabuhan dengan hikmat Indera Patera. Ia dating ke pohon dan bayan hinggap pada tangannya. Anak raja-raja mengalahkan Indera Patera dengan bermain pedang dan membunuhnya. Ketiga istrinya dalam mangkor keluar dan menghidupkannya kembali dengan bedi Zahra. Indera Patera yang menunggang kuda kesaktian mengalahkan anak raja yang di atas kuda. Bersama-sama anak raja-raja itu membunuh dan mencincangnya. Ia dihidupkan kembali oleh ketiga istrinya. Ia mengalahkan anak raja-raja dengan pertandingan memanah. Panah kesaktiannya mengadakan awan dan angin untuk menghembus awan, api dan hujan untuk memadamkan api. Anak panah tiap kali kembali pada tarkas. Dengan hikmatnya anak panah anak raja-raja tidak keluar dari tarkas.

Raja Syahsian hendak mengawinkan puterinya dengan Indera Patera, yang menjemput segala sahabat dalam pengembaraannya dulu. Menteri-menteri yang dengki dan anak raja-raja memindahkan segala senjata pada tengah malam dan bersiap untuk menyerang raja Syahsian. Indera Patera mencita Dewa al-Kafri dan dengan guliga menjadikan negeri peri dan mambang yang bersenjata dan mengenderai kuda dan gajah. Sahabat-sahabat Indera Patera datang. Menteri-menteri yang dengki serta anak raja-raja hendak melarikan diri dengan kapal. Dengan taufan Indera Patera menghancurkan kapal mereka. Degar Agas di udara memberitakan itu sebenarnya Indera Patera, mereka kembali untuk minta ampun. Ia kawin dengan puteri Mangindera Seri Bunga dengan membawa keempat istrinya dalam mongkor ia berlayar kembali dan dinobat menjadi raja (ibid).

IRWANDI ZAKARIA

lahir di Desa Kulu, Kecamatan Mila, Kabupaten Pidie pada tanggal 7 Agustus 1977 dari pasangan Zakaria bin Syarif dan Badriah bin Yusuf. Menempuh pendidikan dasar di desanya (1989), kemudian melanjutkan ke MTs Swasta Kota Bakti kecamatan Sakti, selesai pada tahun 1992. Selanjutnya mengikuti pendidikan menengah atas di MAN Beureunun tamat tahun 1995.

Pada tingkat perguruan tinggi mengikuti kuliah di D II PGAI (1998) dan kemudian melanjutkan sampai tingkat S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh (2001). Sekarang sedang melanjutkan studi pada Program Pasca Sarjana IAIN Ar-Raniry dengan konsentrasi pemikiran Islam. Selain itu sejak tahun 1995 juga mengikuti pendidikan non-formal di pondok pasantren Ishlahiyah Lambhuk Banda Aceh.

Karya-karya dalam bentuk essai, artikel, dan cerpen telah dipublikasikan di berbagai media massa, diantaranya seperti; Ketika Tuhan Tidak Lagi Menjadi Hakim (essai, Tabloid Kutaraja, 2000), Al-Ghazali dan Pemikirannya Tentang Pendidikan (artikel, Harian Waspada, 2001), Pesan Sang Waktu Diakhir Tahun (essai, Tabloid Kutaraja, 2001), Keresahan Seeorang Sarjana (cerpen, Atjeh Post, 2001), Teriakan Merdeka (cerpen, Atjeh Post, 2001), Suatu Hari di Tahun 1993 (cerpen, Harian Koran Aceh, 2002).

ISMA SAWITRI

adalah penyair perempuan tingkat nasional asal Aceh yang produktif. Isma Sawitri lahir di Langsa, Aceh Timur, 21 Novemper 1940. Latar pendidikan tingkat tinggi dilaluinya di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan Fakultas Hukum pada universitas yang sama, tetapi tidak tamat. Dia pernah bekerja sebagai wartawan Angkatan Bersenjata, Pedoman, Femina, dan Tempo. Karya-karyanya berupa sajak dimuat dalam Sastra, Horison, Toeti Heraty (ed), Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (1979), dan Linus Suryadi AG (ed), Tonggak 2 (1987), Menagarie 2 (1997), dan Poetry From South East Asia (1998). Dia juga menjadi editor (bersama Rayani Sriwidodo) antologi Sembilan Kerlip Cermin: Antologi Puisi 9 Penyair (2000). Kepiawaiannya sebagai seorang penyair telah tercatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (Kompas Jakarta, 2001).

Noktah-noktah Asia

-kepada Bay Win dan U Hla Twe

Segaris jalan, jalan tanah berdebu, mengingatkan aku padamu

Jip tua sisa Perang Dunia kedua, air strip di Pagan, beberapa lelucon tajam

yang selalu akan diulang

katakan sahabat, anak timbangan candu itu sudah terjual berapa

kisahkan pasar malam, polisi rahasia, buku-buku yang kau damba

Mungil kecil tangan yang papa, mengingatkan aku padamu

kaki-kaki tanpa sepatu, kembang melati untuk rambutku

pitaka tertanam di bukit Mandalay, angin mengiang dari segala penjuru

anak tangga menuju seribu, belum juga terjangkau sukma Asia

Padang sabana, kereta kuda yang terlunta, merah tembaga di mana-mana

di ketinggian Ananda, mestinya sang raja merenung nirwana dahulu kala

dari Anawratha ke sosialis Burma, liku-likunya rumit sempurna

akhirnya kau cerca Marx yang memang bukan Buddha Gautama

Irawadi makin tohor, makin lamban membelah dataran

pendulang intan makin terbungkuk di sana, noktah renta terbungkuk nestapa

selusin turis dari Moskow bercengkrama di hotel atau pagoda

mereka mikmati matahari sembari unjukkan citra Rusia

Di sudut kota tua yankee Charles Brown berburu ruby

di lepas pantai selatan teknisi Nippon menggaru minyak bumi

cerlang menjulang Shwe Dagon, terdiam Lili Tha sesudah bertanya

mendung hari depan berkaca kelam di matanya

Para bhiksu bersendiri, tanpa kata hanya rupa

para bhiksu semedi abadi dalam bingkai lensa sarjana Amerika

polisi rahasia entah di mana, angin malas terantuk di beranda

di sini tanpa gema, kudengar Asia memanggil Asia

ISNU KEMBARA

dilahirkan di Suwak Awe, kecamatan Kaway XVI, Meulaboh (Aceh Barat), 7 September 1942. Mulai menulis berbagai genre sastra sejak SMP (1962), karya-karyanya banyak dimuat diberbagai harian daerah dan nasional. Ismu Kembara hanya pendidikan formal sampai SMA. Sejak Januari 1986 bekerja di Perum ASDP. Dia pernah berkecimpung dalam grup Fajar Menyingsing, pimpinan Redhuan Amran serta main dalam film dokumenter karya Yusuf Ismar di bawah pimpinan Danrem 012 Teuku Umar. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi L.K. Ara dkk (ed), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Sebagai seorang sastrawan nama Ismu Kembara tercatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (Kompas Jakarta, 2001).

Di Kaki Gunung Puyuh Sumedang

Sampai di sini kita ingat kembali

hari-hari kemarin kita berziarah

mendaki puncak menuruni lembah

hutan Mugo Glee Rayeuk Tameih

hudep saree matee syahid

samapai di sini Meulaboh-Gunung puyuh

bathin teduh Akhlakul Karimah

Aceh tanah tumpah darahnya

Sumedang tanah pusaranya

Tjoet Nyak Dhien ibu Perbu Ratu

(gerimis waktu itu adalah air mata cucunya)

sampai di sini

di kaki Gunung Puyuh Sumedang

kami dendangkan syair Hikayat

Perang Sabil

buat Teuku Umar

buat Tjoet Nyak Dhien

buat rakyat Sumedang

buat Mesjid Agung

buat Adipati Kusuma Dilaga

buat Tumenggung Arya Rurya Kusuma

buat Haji Husna dan Haji Duhe Djuwaeriah

di tanah wakafmu kami duduk di Meunasah

menyerah segalanya kepadamu Tuahan di sini

kami hanya berserah diri

Sumedang, 1993

J

J KAMAL FARZA

lahir di Aceh Selatan, 13 April 1969. Dia tergolong pengarang yang mampu menulis berbagai genre. Namun, kekuatannya lebih tertumpu pada penulisan puisi. Sebagai seorang penyair, dia telah menghasilkan karya-karya yang terkumpul dalam antologi; Nafas Tanah Rencong (DKA, 1993), Banda Aceh (DCP Production, 1993), Lambaian (1993), Dua Warna (bersama Mustafa Ismail, Lembaga Seni Aceh, buklet, 1993), Kebangkitan Nusantara (HP3N, Malang, 1994), dan Putroe Phang (DKA, 2002). J Kamal Farza mengaku mulai menulis puisi dan cerpen sejak 1986 ini telah mempublikasikan karyanya diberbagai media di Aceh, Medan, Jakarta, dan Yogyakarta. Selain kapasitasnya sebagai pengarang, dia juga aktif dalam berbagai organisasi terutama di bidang jurnalistik. Pengalaman kewartawanannya bermula di alamamaternya sebagai wartawan pers kampus Warta Unsyiah dan editor Majalah Mahasiswa kampiun. Tercatat sejak 1999 menjadi wartawan Tempo liputan Aceh, serta aktif di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Solidaritas Masyarakat Anti Korupsi (SAMAK). Dia juga dipercaya menjadi enumerator buku Aceh Jakarta Papua (Yappika, Jakarta, 2001) dan kontributor Buku Masyarakat Aceh di Dunia, Eksistensi dan Perjuangannya (IWGIA Institut Dayakologi, 2001). Beberapa bukunya yang akan diterbitkan adalah : Merawat Konflik, Mengorupsi Dana Kemanusiaan, dan Pola-pola Korupsi Sismatik di Aceh.

Siapa Yang Buat Rumahku Jadi Lautan Darah?

Siapa tembak ayahku, sampai kepalanya hancur dan aku menjadi yatim?

Siapa tembak ibuku, sampai perutnya terburai dan aku jadi piatu?

Siapa perkosa istriku, menjerat lehernya, mencincang payudaranya,

memamah daging vaginanya, sampai aku menjadi duda dan para perempuan

kehilangan

kehormatannya?

Siapa tembak anak-anakku, menebas batang lehernya, memasukkannya ke

dalam karung?

Siapa membakar rumahku, menembak lembuku, mencincang batang pisang,

kebun kunyit dan rumpun tebu?

Siapa?

Anggota Tentara Nasional Indonesiakah?

Anggota Kepolisian Republik Indonesiakah?

Anggota Gerakan Aceh Merdekakah?

Orang Tak Dikenalkah?

Gerombolan Sipil Bersenjatakah?

Gerombolan Pengacau Keamanankah?

Milisikah?

Serdadu Bandit Indonesiakah?

Cuak-cuakkah?

Hantukah?

Tuhankah?

Kalau TNI, bukankah mereka punya sapta marga

dan setia pada pancasila?

Kalau Polri, bukankah mereka pengaman rakyat

dan pelindung rakyat Indonesia?

Kalau GAM, bukankah cita-cita mereka sesuai

Qur’an dan Hadits?

Kalau OTK, mengapa mereka

tidak pernah mau dikenal?

Kalau GSB, GPK, Milisi, SBI, cuak-cuak, siapa mereka? Hantu, apa perlunya

roh

halus dengan membunuh sesama manusia?

Ataukah Tuhan?

Ah, tidak. Dia sangat sayang umatnya!

Jadi siapa?

Yang menumpahkan jutaan barel darah?

Yang mencabut puluhan ribu nyawa?

Yang memisahkan ribuan suami dari istrinya, ribuan anak dari ayahnya,

ribuan

mulut bayi dari puting susu ibunya?

Siapa?

Siapa yang setiap hari menjalankan mesin-mesin perang, memuntahkan peluru.

Siapa yang menjahit mulutku? Meletakkan moncong senapan di kepalaku?

Sampai suaraku tak ada lagi dan aku tak bisa cerita semua ini?

JAFAR AH

dilahirkan di Keupala Laweueng, 16 Oktober 1982. Pemuda pengagum penyair senior Taufiq Ismail, Gunawan Muhammad, dan Afrizal Malna ini sejak duduk dibangku SLTP sudah bercita-cita menjadi seorang penyair dan sastrawan sejati. Mesekipun baru mulai berkiprah dalam dunia seni sejak tahun 1998, tetapi Jafar AH sudah tercatat sebagai pemenang nominasi sastra KST Tegal Jawa Tengah, pada Januari 1999. Karya-karya terutama puisi telah dipublikasikan diberbagai media massa, antara lain di Harian Serambi Indonesia, Majalah Ceria Remaja, dan lain-lain. Jafar AH merupakan salah seorang angkatan muda kepenyairan Aceh yang berbakat. Tidak heran kalau puisinya Sajak Sepenggal Cerita dimuat dalam antologi bersama Keranda-Keranda (1999).

JAMALUL HIKMAH

adalah seorang penyair muda Aceh yang dilahirkan di Padang Tiji, Pidie, 15 September 1979. Sekarang tercatat sebagai Mahasiswa Teknik Komputer dan Informatika Jabal Ghafur. Karya-karyanya pernah dimuat di beberapa majalah seperti Adinda, Gatot Kaca, Pramuka, dan beberapa majalah/tabloid anak-anak seperti Aku Anak Saleh, Fantasi dan lain-lain. Cerpenya yang berjudul Dodoi Tua dimuat dalam Antologi Sastra Putroe Phang: antologi puisi dan cerpen (DKA 200). Kini Jamalul Hikmah bermaustin di Komplek Al Fatwa No 15 Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidie.

JUNAIDI BANTASYAM

dilahirkan di Takengon, Aceh Tengah, 10 Agustus 1956. Pemegang gelar Sarjana Sosial Politik ini banyak berkecimpung menggeluti dunia seni, diantaranya; seni musik, seni teater, seni rupa, dan seni sastra daerah. Dari sekian banyak kegiatan seni yang diikutinya, Junaidi Bantasyam lebih memfokuskan di bidang drama dan skenerio televisi. Dalam perjalanan karirnya, ia pernah meraih prestasi dan penghargaan di tingkat daerah dan nasional. Sebagai seorang seniman yang serba bisa Juanaidi menbagi fase-fase kegiatannya sebagai berikut; mengarang naskah pentas (1978 s/d sekarang), menulis artikel (1980 s/d sekarang), menulis naskah drama tari (1984 s/d sekarang), dan membuat skenario TV (1992 s/d sekarang). Karyanya berbentuk sebuah drama (Warisan) dimuat dalam antologi L.K. Ara dkk (ed), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Kesetiaan dalam menekuni dunia seni, membuat namanya tercatat sebagai seorang sastrawan dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (Kompas, Jakarta, 2001).

K

KARDY SYAID

adalah nama samaran dari Fachrurrazi Syaid. Dia dilahirkan di Pariaman, Sumatra Barat, 11 Desember 1956. Mulai menulis berbagai genre sastra seperti; puisi, cerpen, esai, reportase, di berbagai terbitan surat kabar terbitan Padang, Medan, dan Jakarta sejak 1976. Kardy dalam perjalanan karirnya pernah menjadi Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemda Tingkat II Aceh Besar, dan menjadi wartawan Analisa (Medan), Waspada (Medan), Atjeh Post (Banda Aceh), Jurnal Ekuin (Jakarta), dan Minggu Pos Film (Jakarta). Di samping itu pernah dipercaya jadi penulis khusus ruang Kebudayaan Harian Suara Karya. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi L.K. Ara dkk (ed), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Kumpulan puisinya yang telah terbit adalah Lagu Bocah Pantai. Sebagai seorang sastrawan nama Kardy Syaid diabadikan dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (2001).

Kita Sama-Sama Diam

Ketika malam pudar

Riak telaga seakan beku

Semilir tak lagi bernyanyi

Bersama daun

dan seruling anak gembala

Mari bunuh hari-hari kita yang temaram

Seperti aku menikam sepi

dengan belati tumpul

Kita kalah dalam perang ini

Lihatlah bulan tak lagi bercahaya

Kita sama-sama diam

Jakarta, Mei 1981

KENDURI APAM

adalah suatu pesta tradisional masyarakat Aceh yang dilaksanakan pada bulan Rajab terutama pada malam 27 Rajab untuk memperingati perjalanan Isra’ Mikraj Nabi Muhammad saw. Mereka mendengarkan riwayat perjalanan tersebut yang disampai dalam bentuk syair prosa dengan berkumpul di meunasah, masjid, dan rumah-rumah. Dalam (Rusdi Sufi, dkk, 2002:41) latar belakang dilaksanakannya kenduri ini adalah pada mulanya ditujukan kepada orang laki-laki yang tidak salat Jumat ke masjid tiga kali berturut-turut, sebagai dendanya diperintahkan membuat kue apam sebanyak 100 buah untuk diantar ke masjid dan akan dimakan bersama-sama sebagai sedekah. Tujuan diberlakukan hal ini adalah agar menimbulkan rasa malu karena diketahui masyarakat orang yang bersangkutan sering tidak melakukan salat Jumat.

Souck Hurgronje dalam (ibid) mengungkapkan versi lain mengenai latar belakang dilaksanakannya pesta tradisional ini yaitu; menurut kisah, ada seorang Aceh yang ingin mengetahui nasib orang di dalam kubur, terutama tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh malaikat Munkar dan Nakir serta hukuman-hukuman yang mereka lakukan. Ia berpura-pura mati dan dikuburkan hidup-hidup. Lalu ia pun diperiksa oleh kedua malaikat tersebut terutama tentang masalah agama dan amal-amalnya. Karena agama dan amalnya belum sempurna, maka kedua malaikat pun memukulnya dengan pentungan besi. Tetapi, pukulan-pukulan tersebut tidak pernah mengenainya, sebab dalam kegelapan itu ia melihat sesuatu seperti bulan yang melindunginya. Kemudian ia keluar dari dalam kubur dan menemui keluarganya. Pengalamannya dalam kubur diceritakan bahwa yang menolongnya sewaktu dipukul malaikat adalah sesuatu yang bulat seperti bulan. Keluarganya pun membuat kue seperti yang dimaksud yaitu kue apam.

Masyarakat Aceh mempercayai bahwa kue apam akan berpengaruh baik terhadap nasib orang yang telah meninggal. Sebab itu, asal mulanya orang Aceh membuat kue apam dan membagikannya dalam bentuk kenduri dalam bulan ke-7 Hijriah bertujuan untuk menghormati leluhur dan anggota keluarga mereka yang telah meninggal. Kenduri ini juga dilaksanakan di rumah pada hari ke-7 sesudah orang meninggal dunia dengan maksud akan dapat melindungi mayat jika terjadi gempa bumi yang akan mengocok sisa-sisa mayat.

KENDURI BLANG

adalah upacara tradisional masyarakat Aceh apabila hendak turun ke sawah. Masyarakat Aceh menyebutnya dengan kenduri troeun u blang (kenduri turun ke sawah). Hal ini berkaitan dengan anjuran para ulama bahwa untuk melakukan sesuatu yang baik haruslah didahului dengan syukuran. Tradisi Aceh tidak membenarkan apabila hendak turun ke sawah atau bercocok tanam dilakukan sekehendak sendiri-sendiri. Untuk itu, harus terlebih dahulu dilaksanakan kenduri blang. Kenduri ini dilaksanakan di sawah sebelum petani memulai mengerjakan sawahnya.

Dalam (ibid) kenduri ini dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu dimulai dengan kenduri troeun u blang yang dilaksanakan seluruh anggota masyarakat—secara massal. Dalam tahapan ini kenduri dipimpin langsung oleh keuchik (kepala desa) dibantu oleh keujreun blang (ketua kelompok tani) dan imuem meunasah (imam musallah) yang biasanya dilakukan di lapangan-lapangan yang luas dan berdekatan dengan sawah yang akan ditanami. Lapangan ini juga berfungsi sebagai pengumpulan padi sesudah dipanen (phui padee) dan membersihkan padi dengan cara mengangin-anginkan sebelum dibawa pulang (peukrui padee). Tahap kedua yaitu kenduri dilakukan saat buah padi sudah berisi. Pada tahapan ini dilakukan dengan sederhana dan tidak serentak—dilakukan pada beberapa petak sawah secara simbolik oleh masing-masing petani yang padinya mulai berisi, dengan hanya melibatkan anggota keluarga, imum meunasah, dan beberapa petani yang sawahnya berdekatan. Tahap ketiga kenduri dilakukan di rumah petani yang bersangkutan ketika sudah selasai memanen padi. Hal ini dilaksanakan saat mereka menunaikan zakat bagi yang berhasil mencapai kewajiban zakat. Namun bagi yang belum berhasil zakat juga sering melaksanakan kenduri ini sebagai rasa syukur pada Yang Maha Kuasa. Kenduri ini dihadiri oleh anggota keluarga, sanak famili, beberapa orang tetangga dekat, anak yatim, tetua desa, dan imum meunasah serta pengurus zakat sebagai penerima zakat tersebut.

KENDURI HARI-HARI PERAYAAN AGAMA

adalah suatu upacara yang dilaksanakan dalam rangka memperingati hari-hari besar Islam yang bersejarah. Hal ini sangat erat kaitannya dengan sikap religius masyarakat Aceh yang kental. Dalam (ibid) upacara yang dilaksanakan berkaitan dengan yang dimaksud adalah; (1) Kenduri Maulod yaitu kenduri yang dilaksanakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. Kenduri ini sering juga disebut dengan kanduri pang ulee (penghulu alam) yang dilaksanakan setiap bulan Rabiul Awal (maulud awai) dimulai dari tanggal 12 Rabiul Awal sampai akhir bulan. Rabiul Akhir (maulod teungoh) dimulai dari tanggal 1 sampai dengan berakhir bulan. Jumaidil awal (maulod akhee) dilaksanakan sepanjang bulan Jumaidil Akhir. Maksud dilaksanakannya kenduri ini dalam tiga bulan agar seluruh masyarakat dapat melaksanakannya secara merata. Kalau tidak sanggup pada bulan Rabiul Awal (maulud awai) boleh dilaksanakan pada dua bulan yang telah disebutkan di atas. Biasanya hidangan yang disajikan adalah beuleukat kuah tuhee (nasi ketan dengan kuah), beuleukat kuah peungat (santan dicampur dengan pisang raja dan nangka diberi gula secukupnya, kemudian dimakan dengan ketan. (2) Isra’ Mikraj upacara untuk memperingati perjalanan Nabi Muhammad saw dalam melakukan Isra’ Mikraj. Peringatan Isra’ Mikraj dilaksanakan lebih sederhana dari mualid. Acara ini dilaksanakan malam hari di meunasah sambil mendengarkan ceramah mengenai Isra’ Mikraj dari seorang teungku. (3) Nisfu Syakban upacara untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang dilaksanakan 15 hari bulan Syakban. Acara ini dilaksanakan secara sederhana di meunasah dengan mendengarkan ceramah agama yang disampaikan oleh teungku. Biasanya selesai ceramah masyarakat mengadakan kenduri bersama dengan makanan yang dibawa oleh penduduk gampong setempat. (4) Siploh Muharram merupakan upacara untuk memperingati wafatnya cucu Nabi Muhammad saw yang bernama Hasan Husen. Masyarakat Aceh juga menyebutnya dengan urou asyura. Upacara ini biasanya dilakukan oleh para wanita pada waktu siang hari, dengan mengadakan kenduri di meunasah. Makanan utama dalam acara ini adalah bubur nasi (ie bu kanji) yang dibagi-bagikan kepada masyarakat (gampong) sekitar. (5) Peutamat Daruih (khatam Quran) dilaksanakan pada bulan suci Ramadhan di meunasah apabila sudah menamatkan tadarus. Kenduri ini berupa acara buka puasa bersama dengan mengundang orang kampung lain—tadarus biasanya dilakukan oleh anak-anak muda laki-laki dengan lintho baro (laki-laki yang beristri penduduk setempat) secara sambung-menyambung meudaruih (tadarus). (6) Kenduri 27 Puasa kenduri yang dilaksanakan di meunasah dalam rangka menyambut malam 27 Ramadhan. Biasanya dilakukan dengan acara buka puasa bersama. (7) Kenduri Boh Kayee (kenduri buah-buahan) kenduri ini dilaksanakan pada bulan Jumaidil Akhir sebagai bentuk rasa syukur pada Yang Maha Kuasa dengan menyediakan bermacam-macam buah-buahan untuk disedekahkan ke masjid atau meunasah agar dapat dinikmati oleh orang-orang yang suka beribadah di tempat tersebut. Acara ini dikoordinir oleh teungku meunasah.

KERANDA-KERANDA

merupakan antologi puisi yang memuat 52 puisi karya 25 penyair Aceh, diterbitkan oleh Dewan Kesenian Banda Aceh bekerja sama dengan ELSAM dan Koalisi NGO HAM Aceh, cetakan pertama November 1999, dieditori oleh C. Harun al Rasyid, dkk. Buku setebal vii + 101 halaman ini melukiskan suasana masyarakat Aceh waktu terjadinya konflik bersenjata di daerah ini. Pada sampul bagian belakang buku ini dimuat puisi penyair Ridwan Amran yang berjudul DOM. Halaman i—iii daftar isi, halaman iv Sambutan Ketua Dewan Kesenian Banda Aceh oleh Helmi Hass, halaman v Kata Pengantar Koordinator Koalisi NGO HAM Aceh oleh Maimul Fidar, halaman vi—vii Ranub Sigapu dari Penyunting oleh Mohd. Harun al Rasyid, dkk. Adapun puisi-puisi yang dimuat dalam buku kumpulan puisi ini adalah; Wiratmadinata dengan puisi Biografi Merdeka, Indonesia Apalagi yang Kau Minta, Saman Duka, Aku Bersaksi. Samsul Hadi; Cerita Duka. Syarifuddin Aliza; Di Jalan Penuh Gelagat, Riwayat yang Terpenggal. Sujiman A Musa; Dialog Antara Anak dan Emaknya. Ridwan Amran; Aceh, DOM. Nab Bahany; Jalan Malam (bagi korban DOM di Aceh). Najmust Staqib; Tangis Rakyat. Nurdin F Joes; Jangan Tegur Aku Dengan Senjata. Maskirbi; Jangan Biarkan Air Mata Kami Menjelma Menjadi Rencong, Kesaksian. Mirza K Reza; Rupa Tanah Tertindas. Jafar AH; Sajak Sepenggal Cerita. Idrus K Rani; Kepada yang Telah Tiada, Dalam Irama Api, Maka Aku Tuliskan Puisi, Ketika Jerat Laba-Laba Membentuk Rumah Kaca. Hamdan M Nurdin; Antara Bukit Seuntang dan Rumoh Geudong. Hasbi Burman; Angin Pagi, Gundah, Angin. Hariskanur; Di Ujung Negeriku. Harry AV; Sopran Lenguhan 1.20 Pagi. Fikar W Eda; Tubuh Rebah, Rencong, Nyala Aceh, Seperti Belanda. D Keumalawati; Yang Pergi di Waktu Malam, Fragmentaria Darah, Surat Dari Negeri Tak Bertuan, Prahara. Doel CP Allisah; Miwah River (dalam suatu penerbangan di Rimba Geumpang), Mengingat Saudaraku, Lagu Teror. C Harun al Rasyid; Kepadamu Kulaporkan Kejadian-Kejadian, Anak-anak yang Mulutnya Terkatup Bermohon Kepada Ayah dan Ibunya, Lagu Pilu Orang Kuyu, Nyanyian dari Kerajaan Semut. Barlian AW; Pinta, Anjing-anjing itu Telah Kita Manjakan. AA Manggeng; Gejolak III, Yang Hilang di Musim Badai, Dinihari di Taman Kamboja. Ameer Hamzah; Seandainya Mampu Kugores Langit. Arafat Nur; Dari Sebuah Bukit, Api yang Menyala, Ketika Doa Dalam Sunyi Malam Tiba. Arief Rahman; Ketika Damai Tak Lagi Ada.

KHAIRU SUHADA

lahir di Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, 10 November 1980. Penyair muda ini, banyak menulis puisi namun tulisannya mesih menjadi catatan pribadi. Sekarang masih menyelesaikan pendidikan di Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Bersama teman-teman sesama seniman muda aktif mengiati diskusi di kelompok diskusi lintas-ide Metamorfosa, dan aktivis Institut Tukang Ceritra Nusantara (ITCN). Sajak-sajaknya dimuat dalam Antologi Dalam Beku Waktu—antologi bersama, berupa antologi puisi dan lukisan (Koalisi NGO HAM & ICCO, 2002).

Seulanga Merah

Ku rangkai bunga seulanga

lalu kugantung di atas kamboja

yang membungkuk dan menjura

pada nisan-nisan basah

untuk kesekian kalinya……..

mungkin sepuluh, seratus, atau seribu bingkai

yang tlah ku pajang

atau,

aku tak pernah menghitung sama sekali

jumlah nyawa yang melayang detik ini

lalu membungkam mulutku, mulutmu!

sampai tanganku lelah dan kaku

tak mampu lagi bergerak

memetik seulanga

yang kali ini menjadi merah

seperti merahnya bumiku

Agustus, 2001

L

LAGU KELU

merupakan Kumpulan Puisi Penyair Aceh yang diterbitkan oleh Aliansi Sastrawan Aceh – Japan-Aceh Net (Tokyo) cetakan pertama tahun 2005, dieditori oleh Doel CP Allisah – Nani HS, sambutan Seiichi Okawa, Japan – Aceh Net, kata pengantar Lazuardi Adi Sage. Kumpulan puisi ini setebal 280 halaman, memuat puisi 40 penyair, baik yang berdomisili di Aceh maupun di luar Aceh. Judul buku ini diambil dari judul puisi Doel CP Allisah yang juga dimuat dalam buku ini. Selain itu, juga menyertakan puisi-puisi beberapa penyair yang konsen terhadap Aceh, diantaranya YS. Rat, A.Rahim Qahhar, Damiri Mahmud, Idris Pasaribu (Medan), serta Sutan Iwan Soekri Munaf dan Meidy Loekito (Jakarta). Adapun puisi-puisi yang dimuat dalam kumpulan puisi ini adalah; Ridwan Amran dengan puisi Aceh, Padang Seurahet, Pelacur Tua, Pulang, Andai Laut Kelam, Ayi Jufridar dengan puisi Laut yang Ramai, Raungan Bisu, Tumbal Kenangan, Pesan Burung, Arafat Nur dengan puisi Kapal Nuh Itu Masih Ada, Tsunami (1), Tsunami (2), Yunimar W Yusuf dengan puisi Pelabuhan, Janji, Batee Puteh, Medy Loekito dengan puisi Duka Itu, Dari Menara Mesjid, Kenangan Akan Zubaidah, Untuk Duka Aceh, Sulaiman Juned dengan puisi Sepanjang Titi Lamnyong, Pelabuhan Kutaraja, Idris Pasaribu dengan puisi Acehku Sayang Acehku Malang, Kita Harus Melawan Meutia, Lonceng Nias, Pusara Dinda, Pembangunan Melenggang, Yun Casalona dengan puisi Negeri Ujung Sumatera, Maut, Sosok, Insan, Isnu Kembara dengan puisi Kuala Unga Sore Di Sana, Merak-Bakauheni, Tugu Monas, Gerak Tak Terbaca, Di Kaki Puyuh Gunung Sumedang, Sajak Hutan Belukar, Debu dan Pacarku, Ernita Kahar dengan puisi Aceh Dalam Kenangan, Baturrahman, T. Tjoet Soufjan dengan puisi Menara Baiturrahman, Fatwa Penyair, Sebuah Potret, Malam Takbir, Pengaduan, Wina. SW1 dengan puisi Epilog Bulan, Akhirmu, Peraduan Putih, Rindu, Kosong, Catatan Hari, Darussalam, Tentang, Seandainya Bolehku Tawar, Percakapan, D. Keumalawati dengan puisi Bulan Sabit Di Kampung Pie, Lamnyong, Desember Episode Duka Aceh, Menggambar Peta Pantai Barat, Kau dan Aku Di Jalan Raya, Siti Aisyah dengan puisi Lhok Geudong, Pasi Ujong Kalak, Pantai Ujung Karang, Pengertian, Lamainong, Beutong, Mustiar AR dengan puisi Malama, Meulaboh, LK. Ara dengan puisi Ombak Pantai Barat, Laut Sigli, Banda Aceh, Nyanyian Lhok Seudu, Maskirbi dengan puisi Krueng Aceh, Ujong Kareung, Kuala Bhee, Lam Puuk, Seandainya Waktu Lebih Panjang, Hasyim KS dengan puisi Coba Katakan Di Mana Aku Harus Menunggu, Vignet Calang, Jalan Merdeka, Blangpidie, Nota Buat Hasyim KS Diriku, Pasir yang Menempel ketika, Surat Buat Nona “X”, Surat Dari Kota Kelahiran, A.R. Nasution dengan puisi Manusia yang Kembali, Elegi Pipit Tunggal, Malam Keibuan, Batas, Dari Perahu Nuh Melihat Tanda-Tanda Kehidupan, Bunga Merah Kembang Nila, Ujung Batee, Salman Yoga S dengan puisi Tsunama Tsunami-7, Tsunama Tsunami-8, Aku Batu, Rosni Idham dengan puisi Tuhan, Langit Nias, Senja Di Kuala Unga, Calang, Mustafa Ismail dengan puisi Tentang Rumah, Hikayat Diam-Diam, Perahu, Menghadap Laut, Trienggadeng, Gunongan, Lirik Untuk Meue, Lhoknga, Bermalam Di Rex, YS. Rat dengan puisi Nanggroe Aceh Darussalam 26122004, Sinyalemen Hujan, Sinyalemen Burung-Burung, Bukit Lawang 2 November 2003, Sutan Iwan Soekri Munaf dengan puisi Sajak Akhir Januari, Ingat Cut Ira, Surat Kepada Ummi, Fikar W. Eda dengan puisi Taman Sari, Ingin Kutulis Riwayat itu, Nyanyian Ujong Leubat, Dara Lancang Paru, Mohd. Harun al Rasyid dengan puisi Rindu Aceh, Nostalgia Di Ruang Sempit, Sebuah Permohonan, Suatu Hari Di Pantai Rembang, A.Rahim Qanhar dengan puisi Talqin Panjang Di Negeri Gelombang, Masih Ada Gelombang Sayang!, Dulu Kau Kirim Badai, Hutang, Fozan Santa dengan puisi Sajak Ombak Hitam-4, Sajak Ombak Hitam-6, Sajak Ombak Hitam-7, Agusni AH dengan puisi Waktu Siapa, Alamat, Damiri Mahmud dengan puisi Tsunami Begitu Elok Namamu, Burung-Burung Putih, Di Mana Engkau Nuh, Bentanglah Sajadah, Reza Idria dengan puisi Rania, Dengar Nyanyi Rindu!, Yang Terlupa, Mh. Agam Fawirsa dengan puisi Banda Aceh Diwaktu Malam, Taman Sari, Sungai Tamiang, Cut Januarita dengan puisi Aku Sakit, Selamat Jalan Anakku, Doel CP Allisah dengan puisi Tangse, Pantai Itu (Pasca Tsunami), Di Bawah Panorama Lhok Geulumpang, Konfigurasi Langsa Dinihari, Lagu Kelu, Nonlis Dalam Sajakku-4, Tentang Sahabatku Nurdin, Banda Aceh, Ulee Kareng, Sigli Kota Kecilku Suatu Ketika, Syarifuddin Aliza dengan puisi Dari Kota Kelahiran, Rindu, Riwayat yang Terpenggal, Basri Emka dengan puisi Berkaca Di Bening Embun, Hutan Dan Keangkuhan, Merajut Harapan, Aku Dan Bayang-Bayangku, Nurgani Asyik dengan puisi Sajak Kematian, Elegi Sepi, Takdir, Nurdin A. Rachman dengan puisi Malam-Malam Di Istanbul, Ingin Bertemu, Rela, Din Saja dengan puisi Kenyataan Tak Terungkap Tak Terjawab, Aceh Humam Tsunami, Aku Tsunami Aceh, Rumah yang Hilang (1), Rumah yang Hilang (2), Sulaiman Tripa dengan puisi Panteraja Suatu Pagi, Nora !, Kembalilah Kawan !.

Dalam catatan editor, kumpulan puisi ini berpuisikan tentang alam Aceh, baik kondisi Aceh sebelum dilanda bencana tsunami maupun kondisi Aceh pasca tsunami sehingga dengan demikan dapat merekam segala kenangan tentang Aceh, bagaimana Kota Calang, Pelabuhan dan kawasan Ulee Lhue, Pantai Lhoknga, Kota Meulaboh, Sigli dan lainnya, juga berbagai hal yang dialami oleh penyair. Bayangkanlah “kelu”nya segala catatan dalam puisi-puisi mereka, baik yang hilang dan meninggal maupun mereka yang masih hidup. Seiring dengan editor Lazuardi Adi Sage dalam kata pengantar memandang kumpulan puisi ini bukan saja prihal meruyaknya kembali kenangan pahit bencana tsunami, 26 Desember 2004, melainkan juga kengiluan (sekaligus kegalauan – kekeluan) ketika di dalamnya ada sejumlah puisi-puisi para penyair yang justru telah menjadi korban bencana itu sendiri. Pada aspek geografis bisa kita telusuri dari sejumlah puisi yang tersaji dalam buku ini. Sebab faktanya, memang ada banyak daerah di Aceh yang dulu tegar berdiri (dan bernama) telah luluh lantak dan hilang ditelan tsunami. Calang misalnya. Atau kampong Pie, desa pasir Lhok Arun, kini tidak pernah kita temukan lagi. Hanya tinggal nama.

LK ARA

adalah sastrawan tingkat nasional yang berasal dari Aceh dan sangat produktif. Dia dilahirkan di Takengon, Aceh Tengah, tahun 1937. Berpendidikan SD, SMP (keduanya di Takengon), setelah itu ia pindah ke Medan melanjutkan pendidikan di Taman Madya, Taman Siswa. Setelah menamatkan pendidikan di Taman Madya, L.K. Ara kemudian memasuki Perguruan Tinggi Jurnalistik Medan dan bekerja sebagai korektor pada malam hari. Minatnya terhadap sastra telah tumbuh sejak duduk dibangku SMP dan mulai menulis ketika duduk dibangku sekolah Taman Madya. Sajak-sajaknya dimuat diberbagai koran di Medan, Majalah Indonesia, Mimbar Indonesia, dan Pustaka Budaya (Jakarta). Dia pernah dipercaya sebagai redaktur kebudayaan Mimbar Umum (Medan), redaktur majalah Pustaka dan Budaya (Jakarta), guru SMP Sinar Kemajuan (Jakarta), dan terakhir bekerja di Balai Pustaka hingga pensiun (1963—1985). Bersama Rusman Sutiasumarga dan M. Taslim Ali, ia ikut mendirikan Teater Balai Pustaka (1967). Diantara karya-karyanya yang telah terbit: Angin Laut Tawar (1969), Saefuddin Kadir Tokoh Drama Gayo (1971), Kumandang (1971), Sebuku (1979), Serangkum Saer Gayo (1980), Namaku Bunga (1980), Kur Lak Lak (1982), Anggrek Berbunga (1982), Buah-Buah di Kebun (1982), Senandung Burung-Burung (1982), Senjata Pusaka Kita (1983), Umbi-Umbi Kami (1983), Catatan Pada Daun (1986), Kening Bulan (1986), Dalam Mawar (1986), Perjalan Arafah (1994), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (ed, 1995), Berkenalan Dengan Sastrawan Indonesia (1997), dan lebih kurang 40 buku cerita anak-anak. Nama L.K. Ara sebagai seorang sastrawan dicatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (2001).

Wanita Dari Lampadang

ada seorang wanita dari Lampadang

rumah dan kampungnya dibakar

lalu ia menyingkir ke hutan rimba

ketika remaja

ia bukan gadis manja

ringan tangannya

bergunjing ia tak suka

tak sombong ia

tekun belajar agama

langit bersih

udara nyaman

ketika itu

tiba-tiba pasukan Belanda

menyulut nyala

membakar mesjid Baiturrahman

api marak tak tertahan

wanita dari Lampadang itu

keluar rumah buru-buru

matanya merah

menatap kobaran api

lalu menjerit

wahai rakyat Aceh yang beriman

lihat sendiri

rumah suci

mereka membakar dengan api

nama Allah

mereka cemarkan

masihkah kita

mau jadi budak Belanda?

lalu

semua orang

keluar rumah

pedang dan rencong

dicabut dari sarung

semua mereka berseru

Allahuakbar

Allahuakbar

Allahuakbar

seketika pucuk rumput berdarah

Allahuakbar

Allahuakbar

Allahuakbar

kolam-kolam berwarna merah

Allahuakbar

Allahuakbar

Allahuakbar

langit berwarna merah

Allahuakbar

Allahuakbar

Allahuakbar

orang Belanda

Kohler namanya

jendral pangkatnya

tewas saat itu juga

wanita dari Lampadang itu

menyapu keringat di keningnya

perlahan tersenyum ia

melihat Belanda mundur

surut bertempur

Jakarta, 1985

L. MUNIR UMAR

dilahirkan di Meureudu, kabupaten Pidie, 26 Januari 1953. Pernah bekerja di Dinas Perikanan Propinsi Daerah Istimewa Aceh (1971), lalu berhenti dan melanjutkan pendidikan di sebuah Akademi Jurnalistik Medan (1979). Pria ini yang memprakarsai terbitnya antologi puisi penyair Banda Aceh yang pertama “Kami Koma Kamu” (1977). Karya aktifis kesenian Aceh ini banyak dimuat di Koran Daerah dan Nasional. Sajak-sajaknya tercatat dalam antologi L.K. Ara dkk. (ed), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Nama L. Munir sebagai seorang sastrawan tercantum dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (2001).

Di Sini Seribu Duka Kutanam

di sini

seribu duka kutanam

menjelang senja menerbit kegelapan

tumbuh pula seikat janji

di bawah pohon mahoni hiasan kota

di sini

seribi tangis kulampaui

karena tak ada suara

mengusir siapakah tadi malam menggelinding

dan menombak anak kelaparan di bahu

lalu ia meninggal dan kami kelaparan pula

di sini

anak negeri berzikir minta padi di sawah

seribu hari lagi panen di bawah surya menyala

tetapi hampir tidak ada siapa lagi

siapa lagi pemberi makan buat hari ini

setelah kemarin kami tanam padi

terserang hama dan kelaparan lagi.

Aceh, 1977

LUKA POMA

adalah buku antologi tunggal yang memuat karya penyair Aceh kelahiran Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, tanggal 9 Oktober 1952 yang lebih dikenal dengan nama Maskirbi. Judul buku ini diambil dari judul naskah dramanya yang juga dimuat dalam antologi ini. Penerbitan buku ini, merupakan penghargaan terhadap penyair yang hilang akibat bencana tsunami yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam, 26 Desember 2004. Buku ini ini diterbitkan oleh Aliansi Sastrawan Aceh (ASA) bekerjasama dengan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Sumut-Nad, cetakan 1, 2007, terbitan pertama 2007, dieditori oleh Doel CP Allisah, ukuran tebal 13,5 x 20 cm, tebal v-97 halaman. Selain memuat naskah drama Luka Poma (Luka Ibu Kita), buku ini juga memuat 33 buah puisinya yang terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama puisi-puisi Maskirbi (AHK) terdiri atas 17 puisi, bagian kedua puisi-puisi Maskirbi (Ananda) terdiri atas 16 buah puisi. ditambah 3 buah puisi terakhirnya yang pernah dimuat di media massa, berjudul Keliru, Gagap, Wahai. Sekilas mengenai naskah drama Luka Poma yang berdurasi lebih kurang satu jam bercerita tentang luka dan ketegaran seorang ibu yang memuat nilai-nilai heroisme dan nilai-nilai perjuangan.

M

M.A. ISKANDAR

adalah singkatan dari nama Muchtar Ali Iskandar. Dia dilahirkan di Montasik, Aceh Besar, tahun 1936. M.A. Iskandar memulai karirnya dalam dunia kepengarangan sejak berusia 14 tahun dimuat di Majalah Mimbar Indonesia, dan Waktu. Menjadi juara penulisan puisi yang diselenggarakan oleh Himpunan Sastrawan Muda Kutaraja (1957). Pernah menjadi guru di Tapaktuan, Blang Pidie, dan Lama Inong. Sajak-sajaknya dimuat dalam majalah Mimbar Indonesia (Jakarta) dan antologi L.K. Ara dkk, (ed), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Nama M.A. Iskandar tercatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (2001), sebagai seorang sastrawan.

Rangka Hidup

Kepada temannja seorang pengemis jang baik hati

Ada kerangka hidup berdjalan

dipelosok dan gang dunia

tiada senjum dia merenung

akan kebagusan alam

Titik hudjan tenang mengaliri

tubuhnja jang hampa

kian ketjil perawakan didalam

naungan kepalanja

Ingin berdjalan bersama

kemauan indah dalam dadanja

orang sangka pengemis semalam

tiada bernjawa lagi

hati bertanja kenapa

bisa hidup melarat begitu

lama terlunta-lunta

Dikabut pagi dengan muka menekur

menatap tanah hudjan semalam

tanah dan udara basah

ia memperturutkan segala

apa kata kemauan tak bisa mengekang

kebebasan semu dibumi ini

kemana ia berdjalan

dan bermalam

tahu djuga dia dunia

ini hukuman bathin

budinja jang bagus

dari pengemis semalam

tahu djuga dia

“panggilan sutji dan abadi”

Kutaradja-Ulelheue, 1956

MABAIN AL-SALATIN

atau Adat Perintah Raja-Raja merupakan karya bagian dari Adat Aceh yang tidak diketahui siapa pengarangnya. Karya ini tersimpan di istana Turki. Ditinjau dari segi bahasa karya ini sudah sangat tua. Kualitas bahasanya pun lebih jelek jika disandingkan dengan Taj al-Salatin. Pengarang karya ini sebenarnya adalah seorang pemikir dan ahli dalam bahasa Arab. Namun kurang lihai dalam mengalih bahasakan kedalam bahasa Melayu, misalnya pada kata raja (ra-alif-jim). Berikut ikhtiar karya tersebut yang tersalin dalam (T. Iskandar, 1995:418-419)

  1. Majlis yang pertama arti raja itu atas tiga huruf. Pertama ra, kedua alif, ketiga jim. Kemudian diberi makna ketiga huruf itu dengan ra berarti rahmat, alif berarti amar Allah, jim berarti jamal.
  2. Majlis syarat yang kedua segala raja-raja itu atas sepuluh perkara
  3. Majlis yang ketiga mengatakan kehendak raja-raja itu atas delapan perkara
  4. Fasal peri menyatakan syarat segala raja-raja tetkala semayam di atas tahta kerajaan itu dihadapi oleh segala pendeta, dan bentara, biduanda raja itu sekalian
  5. Adapun kehendak raja memberi titah akan segala hulubalang itu
  6. sampai dengan nomor 24 tidak begitu terang karena ada bagian-bagian yang hilang

25. Majlis kedua puluh lima peri mengatakan perintah syarat hulubalang

26. Majlis kedua puluh enam peri mengatakan syarat-syarat biduanda itu atas empat perkara

27. Majlis kedua puluh tujuh peri mengatakan kehendak biduanda itu atas lima perkara

28. Majlis kedua puluh delapan pada menyatakan syarat biduanda tatkala menghadap raja itu atas lima perkara

29. Majlis kedua puluh sembilan peri pada mengatakan larangan atas hamba raja itu atas lima perkara

30. Fasal peri mengatakan arti keluar itu atas lima perkara

31. Fasal peri mengatakan utusan.

MALEM DAGANG, HIKYAT

adalah hikayat karya Chik Pantee Geulima. Hikayat ini selesai diciptakan pada 8 Jumadil Awal 1309 H (1889 M), dengan susunan cerita sampai 2695 baris. Suatu karya yang tergolong panjang. Ketika itu, Perang Sabil sedang berkecamuk di Aceh. Hikayat Malem Dagang dimulai dengan susunan kalimat sebagai berikut: Bismillahirramanirrahim. Alhamdulillah segala puji, semua kembali kepada Rabbana. Segala puji kepada Tuhan, selawat, tuan, untuk Saidina. Setelah selawat atas Muhammad, keluarga dan sahabat, muhajirn, ansarn. Kuminta tolong kepada Allah, semoga lancar saya mencipta. Hikayat ini, merupakan ungkapan kisah yang terjadi pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Tidak hanya itu, hikayat ini digolongkan orang pada hasil karya yang bermutu tinggi. Ini melihat bahasa yang digunakan punya daya estetika yang indah, dan pelukisannya sangat tajam. Dalam isi hikayat ini akan ditemukan sejumlah tokoh yang berpengaruh di Aceh. Tokoh utamanya adalah Sultan Iskandar Muda yang memimpin Armada Cakra Donya ke Melaka. Putri Pahang, permaisuri Sultan Iskandar Muda, seorang putri dari istana Pahang. Raja Raden, saudara Raja Si Ujud, sahabat Sultan Iskandar Muda. Raja Si Ujud membuat onar di Aceh. Ja Pakeh seorang ulama yang mendapat pendidikan militer di Turki, ahli strategi, penasehat Sultan Iskandar Muda. Maleem Dagang seorang Laksamana muda, diangkat menjadi Panglima Armada Cakra Donya. Panglima Pidie seorang perwira menjadi staf Panglima Armada Cakra Donya. Berikut cuplikan Hikayat Malem Dagang

Raja Raden dengan Putroe Phang

Katakan sekarang kudengar nyata

Memang Tuanku sudah kemari

Tuan putri bersama raja

Di manakah disimpan Tuan Putri

Bawa ke mari kulihat rupa

Pergilah jemput Tuan Putroe Phang

Bawa ke Dalam bersama raja

Panglima pergi menjemput putri

Bersama-sama dengan raja

Tuan Putri masuk ke Dalam

Menghadap mahkota junjungan dunia

Inilah Tuanku, tuan putrid

Keduanya dilayani selaku raja

Dengarlah wahai Tuan Putri

Naiklah ke mari kedua anda

….

MASKIRBI

nama lengkapnya Mazhar, adalah seniman yang berkecimpung dalam berbagai genre sastra. Dia dilahirkan tanggal 9 Oktober 1952 di Tarutung, Tapanuli Utara, Sumut, yang berasal dari keluarga yang disiplin. Ayahnya, M. Alizar, seorang Purnawirawan ABRI asal Susoh, Sikabu, Blang Pidie, Aceh Selatan. M. Alizar adalah salah seorang penulis syair Aceh. Maskirbi adalah anak sulung dari sepuluh bersaudara. Berkesenian berawal dari Tari Tradisional Seudati turun dari neneknya Syeh tari POH. Selain menulis puisi juga menulis cerpen, drama. Pernah terjun di dunia jurnalis. Karya-karyanya bertebaran diberbagai massmedia; Aceh, Medan, Jakarta, dan Malaysia. Kini mengajar di Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh, di samping menjadi pegawai di Taman Budaya Aceh. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi Riak (1972), Kami Koma Kamu (1977), Kande (1982), Ranub (1982), Antologi Penyair Aceh (1986), Puisi Indonesia (1987), Sosok (1993), Sosok (1994), L.K. Ara dkk. (ed), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995), Dalam Beku Waktu (2002), dan Putroe Phang (2002). Kumpulan sajaknya; Mataharikah Matanya (1990), dan buku dramanya Poma (Luka Ibu Kita) (1995). Lakon Poma ini dipentaskan beberapa kali di Banda Aceh dan Jakarta (1984), di Yogyakarta dan Surakarta (1995), di Bandung (1996) bersama Teater Mata yang dibentuknya tahun 1982. Dia sekarang tengah menyiapkan naskah drama untuk menjadi trilogi Poma yang ada baru twologi Poma Selain itu juga tengah menyiapkan kumpulan cerpen dan puisinya. Nama Maskirbi sebagai seorang seniman tercatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (2001).

Tangga Cinta

di atas segala yang di atas

adalah yang maha di atas

lalu akankah kita tak hendak menaiki

tangga yang di sediakan itu menuju ke sana

untuk menetap dan berdekap dengan cintaNya

apa lagi yang kita cari di sini, setelah segala

kenikmatan, apalagi yang dikejar, sementara

kita masih di bawah langit perantauan ini. kita

kerap tergoda dan hanyut di arus kesementaraan

padahal sungai kekekalan menunggu kecimpung kita

di atas sana, para bidadari yang dijanjikan itu

merindukan kita untuk mandi bersama. Maka bergegaslah

sebelum tangga cinta itu tak lagi ditegakkan. Duhai,

lihatlah, orang-orang tengah menaikinya sambil

bershalawat, alangkah riangnya mereka. Lihatlah

mereka melambai kita, lalu akankah kita tidak

hendak menaiki tangga yang disediakan itu, tidak

hendakkah kita berdekapan dengan cinta Pengasih?

16 Agustus 2000

MENUNGGU PAGI DATANG

adalah kumpulan cerpen Sulaiman Tripa—seorang penyair dan cerpenis Aceh, ditulis dalam tiga bahasa yaitu Bahasa Indonesia (Menunggu Pagi Datang), Bahasa Aceh (Preh Beungoh Teuka), dan Bahasa Inggris (Waiting For Morning Come), penterjemah Aiyub AG (Inggris) dan Sulaiman Tripa (Aceh), diterbitkan oleh Lapena Banda Aceh, cetakan pertama Desember 2005, tebal 100 halaman, 13 x 19 cm. Buku ini memuat Ranup Sigapu (hal 5,6), Freface (hal 7) oleh Helmi Hass (Direktur Eksekutif Lapena), Kembalila, Jangan Bersedih! Setelah Setahun Tsunami (hal 8—13), Tariwang, Bek Weueh Ate! Ohlheueh Sithon Tsunami (hal 14—19), Return, Don’t Sorrow! One Year After Tsunami (hal 20—25), Daftar isi (hal 26—27), halaman 28 lembaran kosong, halaman 29—95 kumpulan cerpen dalam tiga bahasa. Adapun cerpen yang dimuat dalam buku ini adalah Beranda Tak Beratap (Indonesia), Peunadeuen Tan Bubong (Aceh), Roofless Gallery (Inggris), Tubuh Profesor Di Kaki Gampong (Indonesia), Tuboh Profesor Bak Gaki Gampong (Aceh), Profesor Body in Foot of Village (Inggris), Menunggu Pagi Datang (Indonesia), Preh Beungoh Teuka (Aceh), Awating Morning Come (Inggris), Puing (Indonesia), Reuruntoh (Aceh), Debris (Inggris), Gegasi Di Sebalik Bukit (Indonesia), Geugasi Di Sebalek Buket (Aceh), Gegasi in Over Hill (Inggris).

Pada sampul depan bergambar seekor kupu-kupu yang keluar dari kepompongnya, sedangkan pada sampul belakang memuat tulisan; Kita, harus segera pulang. Ibu kita lagi menunggu di depan rumah. Mereka, membukakan pintu lebar-lebar, seperti saat subuh kita mulai berangkat. Saat itu, mereka menyempatkan diri membungkus bersuap makanan. Mereka tahu, kita sering kelaparan di tengah jalan.

Kita harus segera kembali. Pena-pena patah harus segera diganti. Kertas-kertas lusuh yang terendam lumpur hitam, kita minta Bantu dengan yang baru. Buku bacaan itu, segera kita ulang-ulang. Sorenya kita bisa main tak-tk galah di lapangan. Malamnya, kita sudah memiliki waktu kembali untuk ber-idalae di meunasah-meunasah.

Dalam segala puing, kita harus cepat berbenah.

MEUDEUHAK, HIKAYAT

merupakan karya sastra yang tidak diketahui pengarangnya. DR. Snouck Hurgrunje mengklarifikasi hikayat Meudeuhak versi Aceh, berasal dari hikayat Melayu yang berjudul Masyhudulhak yang pernah diterbitkan oleh G.A. Koff pada tahun 1882. Hikayat Meudeuhak ini ditulis dalam huruf Arab Melayu dengan bahasa Aceh. Pada halaman akhir hikayat setebal 342 halaman ini, dicantumkan nama pemiliknya yaitu Teungku Akob Gampong Blang Panyang Meunasah Baro. Tidak diketahui siapa penyalin hikayat versi Aceh ini, namun mencentumkan tanggal pengalinannya yaitu hari Sabtu tanggal 15 Zaulkaidah 1333 H atau 25 September 1915. Adapun beberapa cerita telah diubah-suai dengan ditambah oleh penyalin kedalam Bahasa Aceh. Adapun ringkasan cerita hikayat ini adalah sebagai berikut; bermula dari seorang raja di negeri Wutu bernama Sultan Wadihara yang mempunyai seorang kadi bernama Bangka Sakti. Kadi ini mempunyai istri yang bernama Rakna Kasan. Dari perkawinannya tersebut lahirlah seorang putra yang diberi nama Meudeuhak. Sejak kecil Meudeuhak telah mempelihatkan kecerdasannya. Hal ini terbukti dengan mampu menyelesaikan beberapa perkara dengan bijaksana diantaranya Si Bangkok dengan pencuri, dua orang ibu memperebutkan anak, dan setan mencuri pedati.

Pada umur tujuh tahun kepintarannya diuji oleh raja dan empat orang guru ahli. Meudeuhak dapat menjawab semua persoalan yang diajukan dengan benar. Suatu ketika raja meminta Meudeuhak untuk memindahkan gunung ke istana. Dengan kecerdasannya ia menyanggupi permintaan raja tersebut, asalkan raja bisa menyediakan tali yang kuat untuk menarik gunung. Setelah melihat kecerdasan Meudeuhak, maka raja mengangkatnya menjadi penasehat pribadi. Hal ini, membuat keempat orang guru menjadi iri, dan selalu berusaha untuk menjatuhkan Meudeuhak namun selalu gagal berkat kecerdikannya. Kaseumi Diwi ditinggalkan oleh suaminya yang jahat, lalu dijadikan istri oleh Raja Wadiharah. Sedangkan Meudeuhak menyunting gadis yang bernama Amrak. Keempat guru tersebut terus menyebarkan fitnah, namun berkat kecerdikan Amrak dapat dibuktikan Meudeuhak tidak bersalah. Akhirnya keempat guru tersebut dihukum oleh raja.

Raja Wadihirah diuji oleh jin yang menjelma menjadi seorang laki-laki bernama Diwatu. Dengan bantuan Meudeuhak semua pertanyaan Diwatu dapat dijawab dengan benar oleh raja. Diwatu menyarankan seorang raja bisa bermega-mega apabila; mempunyai orang tua yang bijaksana sebagai penasehat, seorang hartawan sebagai teman dekat, dan raja harus cinta kepada alim ulama. Akhirnya semua urusan pemerintahan diserahkan raja kepada Meudeuhak. Negeripun menjadi makmur dan maju.

Pada akhir hikayat ini menceritakan Raja Sumbang Hiran yang kalah berperang dengan Meudeuhak mengatur siasat baru. Raja Wadiharah dipancing dengan gadis-gadis cantik dan putrinya yang bernama Rak Keubandi. Raja Wadiharah pun tertarik terhadap Rak Keubandi. Maka raja pergi ke negeri Panca Lara, namun Raja Sumbang Hiran sudah merencanakan pembunuhan, tetapi diketahui dan digagalkan oleh Meudeuhak. Akhirnya raja selamat dan dapat mempersunting Rak Keubandi. Raja Sumbang Hiran pun menyerah dan dinasehati oleh Meudeuhak. Pemerintahan negeri Panca Larah diserahkan kepada Meudeuhak, kemudian diatur sebagai mana mestinya. Setelah itu, Meudeuhak dan Raja Wadiharah pulang ke negeri Wutu.

M N. AGE

adalah nama samaran. Nama yang diberikan orang tuanya adalah Muhammad Nasir Age, tetapi dia menyingkatnya dengan M N. Age dan nama itulah yang kini lebih dikenal. Dia seorang sastrawan yang lahir tanggal 1 Februari 1973 di Seunuddon, Aceh Utara. Berpendidikan SD, SLTP (tamat di Seunuddon), SLTA (di Pantonlabu Aceh Utara). Kemudian melanjutkan ke Politeknik Lhokseumawe pada jurusan Teknik Kimia (tamat 1994). Berbagai macam pekerjaan telah dijalaninya, tetapi sebagian besar hidupnya dihabiskan bergelut dalam dunia jurnalistik. Setelah menamatkan pendidikan, tahun 1994 dia pernah bekerja sebagai buruh harian pada beberapa perusahaan konstruksi di Riau dan Lhokseumawe. Tidak lama kemudian, MN. Age bergabung dengan Harian Waspada Medan, bekerja sebagai wartawan (2001). Awal kepengarangannya ditandai oleh hasil karyanya yang berupa cerpen. Bakat kepengarangannya ini terlihat sejak duduk di bangku SMU (1990). Beberapa karya telah dipublikasikan oleh berbagai media massa, diantaranya oleh; Harian Serambi Indonesia, Waspada, Analisa, Aceh Ekpres, Sinar Indonesia Baru, Amanah, Media Indonesia, Swasta Kartini, dan Nova. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi bersama “Remuk” (Dewan Kesenian Banda Aceh, 2000), Putroe Phang (Dewan Kesenian Aceh, 2002). Cerpennya Si Dodoh Si Pengawal Kubur mendapat penghargaan 25 besar Lomba Menulis Cerita Pendek yang diselenggarakan Dirjen Dik Dasmen Jakarta (2001).

MH. AGAM FAWIRSA

dilahirkan di Pangkalan Brandan, Sumatra Utara, 12 Juli 1962. Agam mulai menulis karya sastra sejak duduk dibangku SMP. Pria yang menyebut dirinya pernah kuliah ini, karya-karyanya pernah dimuat di koran dan majalah terbitan Medan, Banda Aceh, dan Jakarta. Sajaknya dimuat dalam antologi L.K. Ara dkk. (ed), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Nama MH. Agam Fawirsa tercatat sebagai salah seorang sastrawan dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (Kompas, Jakarta, 2001).

Sungai Tamiang

Riak airmu mengalir jauh

dan tak pernah kan berhenti

terus menyelusuri kisah insani kotamu

yang meneguk airmu tercemar polusi

Riak airmu mengalir jauh

dan di balik wajahmu sekarang

aku tak lagi bisa membaca

sebaris kalimat yang penuh makna

“akulah sungai terbening di Aceh”

sebelum muntah-muntah penguasa

berserakan di sini

Riak airmu mengalir jauh

berliku dan meliuk jauh sampai ke laut

membawa muntah-muntah penguasa

yang mabuk memamah hutan-hutan

dan membuat sarangnya di hulu hatimu

Riak airmu mengalir jauh

musim kemarau panjang datang

musim hujan datang melanda

namun, kembali suka dan duka datang

dan tak kudengar lagi desah nafasmu

yang mengalunkan kata-kata indah

“akulah sungai terbening di Aceh”

sebelum muntah-muntah penguasa

berserakan di sini.

Kuala Simpang, 1987

MIRZA K REZA

dilahirkan di Keumala Dalam, Pidie, 7 Oktober 1975. Berpendidikan alumnus Akademi Keperawatan Jabal Ghafur Sigli. Bermaustin di Keumala Dalam, Kecamatan Titeue Keumala, Pidie. Sajaknya Rupa Tanah Tertindas dimuat dalam antologi bersama Keranda-Keranda (1999).

SAJAK SEPENGGAL CERITA

Bertahun-tahun kita dipaksa

mempercayai senjata-senjata

senjata adalah David pesulap kakap

yang mengkristalkan airmata

dan mencairkan duka nestapa

lihatlah Roxas Boulevard, Geyland Road

Sikth Avenue, Camp Elysees, Mesopotamia

Dan big polis purba bersejarah lainnya

Hancur lebur dan tinggal puing

Saat berdesing badai hitam

Maenghancurkan senjata dan amarah pemegangnya

Kini, sejarah singgah di negeri kita

Tirai besi yang kuat tak terperi

Hancur berkeping-keping

Sinar mentari yang lama tersembunyi

Masuk melalui celah-celah waktu

Tabir rahasia telah terbuka

Lingkung setan telah sirna

Mulut-mulut sudah terbuka

Rumah Geudong

Bukit Tengkorak

Lubang Neraka

Kampung Janda

Saksi sejarah yang terus bercerita

Barangkali tak ada sejarah yang dapat

Merangkum semua alfabetis derita duka

Berpuluh tahun hidup galau di dasar lara

Kini, sejarah telah singgah di negeri kita

Daun-daun telah gugur dan gugur lagi

Bersimbah darah, tapi tiada mati.

Laweueng, Juni 1999.

M. NURGANI ASYIK

dilahirkan di Simpang Mulieng, Aceh Utara, 9 Juli 1960. Menyelesaikan Pendidikan di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Ia pernah mengasuh ruang sastra dan budaya Radio Expo 70 dan koran kampus Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Mulai menulis sastra sejak 1975. Sajak-sajaknya dimuat dalam sejumlah antologi seperti; Senja-Senja yang Tajam (1978), Kamera (1983), Antologi Puisi dan Lukisan Dalam Beku Waktu (2002). Bersama penyair Sumatra Utara puisi-puisinya terkumpul dalam Malam Perempuan Malam (1985). Bersama penyair Yogyakarta dia menerbitkan antologi Momentum (1989/1990), Alif Laam Miim (1991). Dia juga bergabung dengan Refleksi Setengah Abad Indonesia bersama sejumlah penyair besar Indonesia (1995), L.K. Ara dkk. (ed), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995), Mimbar Penyair Abad 21 (1996). Tahun 1998 ia kembali menerbitkan antologi puisi pribadinya Fragmen Kantin Bang Amat (Pasien-Pasien Kesenian), dan Catatan Tragedi Hitam (Peuniyoh, 2000) yang memuat 45 buah puisi yang secara tematis terinspirasikan oleh perekaman peristiwa sosial di Aceh. Nama M. Nurgani Asyik, tercatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (2001).

Catatan (Pertemuan)

Kenyataannya, kita sedang duduk

menghadapi menu sehari-hari: kepahitan,

kegetiran, kegamangan, keletihan, kerutinan,

masalah dan laksaan pertanyaan yang tak kunjung jelas

tapi ada senyum sekaligus memberi dua arti

aku seakan-akan sekedar jadi penonton

adegan per adegan tergambar dari setiap piring

di samping, secangkir kegerahan gelak mendidih

(berjuta ketidakpahaman semakin melengkapi

seluloid yang telah diawali tadi)

tapi kenyataannya, kita tetap diam

sebenarnya siapa yang jadi penonton

kita larut terbawa dalam angka-angka scan

ibarat benda asing, aneh dan kecil

menjadi sosok di video-games

terlihat di antaranya adalah diriku, dirimu,

serta semua yang ada dalam mata sang Sutradara

ya

kita sedang duduk di senyap restoran

walau gema riuh perbincangan masih membekas

dan matamu diam-diam lekat di darahku

(kau pun tahu itu)

Meulaboh-B. Aceh, 1993

MUDA BALIA, HIKAYAT

adalah sastra lama dalam bentuk puisi, ditulis menggunakan huruf Arab-Melayu dengan bahasa Aceh. Seperti layaknya karya sastra lama di Aceh tidak dicantumkan nama pengarang serta tahun penulisannya. Hikayat ini telah diulas oleh Teuku Abdullah dan M. Nasir (Hikayat Muda Balia, Pengungkapan dan Pengkajian Latar Belakang Isi Manuskrip, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Aceh, 2006). Dalam (ibid) keterangan mengenai naskah hikayat ini merupakan milik penduduk Desa Bucue Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, dipegang oleh Tgk. Nyak Hamidah. Disalin oleh seorang pejuang jihad masa Kolonial Belanda bernama Tgk. Ibrahim yang dikenal juga dengan nama panggilan Abi Nyak Jalil. Diperkirakan pada masa inilah beliau menyalin karya sastra ini ketika bersembunyi di sebuah kuta (benteng). Maksud beliau menyalin hikayat ini adalah untuk membakar semangat pejuang dalam berjihad di jalan Allah. Beliau pun syahid dalam sebuah pertempuran. Adapun data-data tentang hikayat ini adalah (1) Judul naskah tidak ada lagi karena sampul depan telah hilang. Judul diberikan berdasarkan isi dan nama tokoh utama dalam hikayat ini, (2) jenis teks dalam naskah tertulis berbentuk puisi, (3) pada bagian penutup naskah disebutkan hikayat ini disalin pada hari Ahad 22 Rabiul Akhir 1326 H, (4) ukuran naskah; panjang 17 cm, lebar 10,5 cm dan tebal 44 halaman, (5) jumlah rata-rata pada setiap halaman 32 baris, (6) jenis tulisan aksara Arab Melayu dengan bahasa Aceh, (7) panjang tiap-tiap baris rata-rata 4,5 cm, (8) tinta yang digunakan berwarna hitam dan isi naskah hanya satu buah teks.

Hikayat Muda Balia dapat dikategorikan kedalam bentuk sastra perang, karena isinya memberikan semangat perlawanan rakyat Aceh untuk melawan serangan penjajah asing mulai dari masa Portugis sampai dengan penjajahan Kolonial Belanda. Adapun ringkasan Hikayat Muda Balia ini adalah sebagai berikut; bagian pertama latar belakang ditulisnya hikayat ini oleh si penulis. Pada bagian ini penulis mengajak khalayak untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt dengan menjalankan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya. Selain itu, penulis juga melarang umat Islam untuk bekerjasama dengan orang-orang kafir—dalam konteks ini adalah penjajah Kolonial Belanda. Pada bagian ini juga diceritakan keutamaan orang-orang yang mati syihid berjuang di jalan Allah. Kedatangan mereka di syurga sudah dinanti oleh bidadari-bidadari yang cantik jelita. Pada bagian kedua menampilkan heroisme perjuangan seorang pemuda yang tampan dan gagah berani bernama Muda Balia bersama gurunya Abdul Wahid. Bagian ini juga menceritakan keutamaan orang-orang yang mati syihid dalam Perang Sabil melawan kaum kafir. Diceritakan Muda Balia setelah mendengarkan ceramah mengenai keutamaan Perang Sabil dari gurunya tersebut, dengan harta yang dimilikinya langsung terjun ke medan perang. Setelah banyak membunuh musuh, ia pun mati syahid dalam peperangan tersebut. Oleh gurunya jasad Muda Balia tidak langsung dikuburkan tapi dibungkus dengan kain dan dibawa kemana saja ia berperang bersama rakyat. Atas kehendak Allah Abdul Wahid selalu memenangkan pertempuran tersebut. Pada sisi lain, Muda Balia telah disambut oleh ratu bidadari yang bernama Ainul Mardiah di syurga. Pada bagian terakhir hikayat ini, berisi berisi tamsilan dan nasehat-nasehat mengenai hikmah dan dan faedah melakukan Perang Sabil. Berikut ini kita lihat beberapa bait cuplikan dari Hikayat Muda Balia

Hikayat Muda Balia

……

Ainal Mardhiah na disinan

Lam kawan nyan wahe Nyak Ti

Jiseuot le pirak hupam

Suara ban suleng bangsi

Lagham pijroh lagu cakap

Sang laku dap ngon medali

Ulon hireuen deungon dahsyah

Sang laku dab ngon kecapi

Marhaban alaikum salam

Zul mukarram datang keumari

Ateueh ulon pandang mata

Seureuta deungon jipuji

Jikheun meunoe puteh lumat

Suara mangat hana sakri

Kamoe meusyen keu meukuta

Preh preh teuka malam hari

Manyoh meusyen pocut kamoe

Bak uroe nyoe katroh lakoe

Di langet teubiet ulam bumoe

Katroh keunoe bintang pari

Alhamdulillah nekmat tahat le

Kawoe judo di Pocut Ti

Pocut geutanyoe kawoe judo

Dara baro ateueh kurisi

…….

MUHAMMAD ARIF

adalah salah seorang penulis muda Aceh yang dilahirkan pada tanggal 5 Mei 1984 di Samatiga, Aceh Barat, anak kedua dari pasangan Hasan Arsyad dan Zuria Ibrahim.

Mulai tertarik dengan dunia tulis menulis sejak kelas 4 MIN dengan menghasilkan novel yang diberi judul Mio (Kucing Kesayangan) serta beberapa puisi, tapi masih menjadi milik pribadinya belum dipublikasikan. Ketika duduk di bangku sekolah lanjutan atas MAN Suak Timah, ikut mempelopori terbitnya majalah dinding di sekolah.

Tulisan pertama dipublikasikan dalam bentuk cerpen dimuat dalam majalah Anninda pada tahun 2003 dengan judul Gacok dan Beasiswa-Beasiswa itu…. Hal ini menjadikannya lebih bersemangat untuk menghasilkan banyak karya tulis untuk dipublikasikan. Mahasiswa semester V FKIP Fisika Unsyiah Banda Aceh ini, mengaku belajar menulis secara otodidak dari majalah Annida dan Horisson. Untuk dapat lebih mengasah kemampuannya maka penulis yang mengagumi penulis HTR, Asma Nadia, Mutiah syahidah, Seno Gumira A, dan Melvi Yendra ini bergabung dengan Forum Lingkar Pena Aceh mulai bulan April 2004.

MUNGINTE

atau meminang, merupakan gubahan bahasa Gayo dalam bentuk prosa. Gubahan ini merupakan lanjutan dari hasil mufakat orang tua Raja, kerabat serta seluruh petua dalam Kerajaan Merkat Jombang untuk melakukan peminangan. Disusunlah suatu cara peminangan dengan menyedikan perlengkapan secukupnya menuju Negeri Antara sebagai tempat Entan Pase si calon permaisuri.

Menurut cerita dalam kisah ini, lamaran tersebut disambut dan diterima oleh pihak Entan Pase. Namun perkawinan tersebut ditangguhkan karena menungguh terpenuhinya suatu ketentuan adat sampai calon pengantin cukup umur untuk menduduki mahligai rumah tangga kerajaan. Walaupun demikian, kedua belah pihak merasa berbahagia dengan dilakukannya penyerahan suatu benda berharga sebagai tanda ikatan, sambil menunggu calon pengantin tersebut dewasa.

MUSATAFA A. GLANGGANG

adalah seorang penulis dan politikus kawakan di Aceh. Dia dilahirkan di Kota Juang Bireuen, 5 Februari 1960, dari pasangan Tgk Abdullah dan Fatimah. Pada tahun 1989, ia menikah dengan Dra. Aminah binti Thaib, dan saat ini sudah dikaruniai 3 orang anak , yaitu Mahfud, Amalia, dan Azizah. Pendidikan yang diperolehnya adalah SDN Geulumpang Payong (1967), MIN Cot Batee (1968-1970), MIN Cot Trieng (1971), MIN Keudee Jeunieb (1972), SDN 9 Bireuen (1973), SMPN 1 Bireuen (1974-1976), SPGN Bireuen (1976-1978), dan FIP/FKIP Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh (1981-1986). Selain itu, ia juga pernah menjadi santri di Pasantren Darussa’adah Cabang Lipah Rayeuk, Kec. Jeumpa, Bireuen (1971), dan di Dayah Darul’Atiq, Kec. Jeunieb (1972). Latar belakang pekerjaan Mustafa A. Glanggang cukup beragam. Di bidang pendidikan, ia pernah menjadi guru di SDN 86, SDN 98, SDN 36 Banda Aceh (1981-1986), dan SDN Pirpus Krueng Pasee, Aceh Utara (1987). Selanjutnya, tahun 1989-2002 dia menjadi wartawan pada harian Serambi Indonesia, sebuah terbitan Banda Aceh. Di bidang organisasi dan politik dia pernah menjadi pengurus OSIS SPGN Bireuen (1979), aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) di Bireuen dan Banda Aceh (1979-1985), Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah (HMPLS), FKIP, Unsyiah (1982-1984), Wakil ketua Senat Mahasiswa FKIP, Unsyiah (1984-1985), Anggota pengurus Al Wasliyah Provinsi D.I. Aceh dan Staf Pengurus Besar Inshafuddin (1986-1994), Sekretaris PW GP ANSHOR Provinsi D.I. Aceh (1992-1995), ketua PW GP ANSHOR Provinsi D.I. Aceh (1996-2002), Anggota MPI DPD KNPI Provinsi NAD (1996-2000), Sekretaris Depertemen Humas DPW PPP Provinsi D.I. Aceh (1990-1994), Wakil Sekretaris DPW PPP Provinsi D.I. Aceh (1995-1999), Wakil Ketua DPW PPP NAD (1999- sekarang), dan pada tahun 1997-2002 mendapat amanah sebagai wakil rakyat di DPRD NAD. Pada tahun 2002 s.d. sekarang dia menjabat Bupati Bireuen. Dalam bidang jurnalistik, dia mendapat undangan dari Darul Arqam, Malaysia (Desember 1990 s.d. Januari 1991). Saat itu, dia berkempatan mengunjungi Thailand, Malaysia, dan Singapura. Selanjutnya, bulan April 2001, dia menghadiri Konferensi Internasional di Washington dan New York, USA. Sabagai seorang penulis, dia pernah aktif menulis berbagai artikel tentang budaya pada harian Serambi Indonesia. Tulisan-tulisannya terkumpul dalam bukunya Celoteh Budaya Politik Aceh (DKB, 2003).

MUSTAFA ISMAIL

dilahirkan di Pidie, Aceh, 25 Agustus 1971. Pendidikan terakhir Jurusan Manajemen Keuangan dan Perbankan STIE Banda Aceh. Selain menulis puisi, cerpen, esai, dan opini yang telah dipublikasikan diberbagai media cetak terbitan Aceh, Medan, Jakarta, dan Semarang, ia juga aktif di teater bersama Teater Bola Banda Aceh. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi bersama, antara lain; Banda Aceh (1992), Lambaian (antologi tujuh penyair Aceh, 1993),Dua Warna (bersama J.Kamal Farza, 1994), Telah Turun Burung-Burung ke Irian Jaya (1995), Setengah Abad Indonesia Merdeka (1995), L.K. Ara dkk. (ed), Seulawah: Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995), Kebangkitan Nusantara II (1995), Songket (1996), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Dalam Beku Waktu (2002), dan Putroe Phang (2002). Tahun 1996 diundang Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) mengikuti Mimbar Penyair Abad 21 sebagai peserta dari Aceh. Sejak tahun 1997 menetap dan bekerja sebagai wartawan di Jakarta. E-mail: musismail@yahoo.com Nama Mustafa Ismail, sebagai seorang sastrawan dimuat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (2001).

Laut Tawar, Suatu Ketika

masih kau bacakah langkah kita yang dingin

suaraku yang parau

memanggilmu di kejauhan

suara angin saat itu adalah kabar buruk

tentang kepergianmu

hingga sejarah di kota itu memudar

dalam angan yang tak sampai

masih kau lihatkah potret kita

di dinding bukit

antara keasingan dua pulau dan dengus nafas

yang kacau

menyergap sungai peusangan

dimana gairah langit memudar

selanjutnya kita sama makan

menyambut simponi pagi dengan senyuman orang lain

fajar yang bergaris di timur cahaya mata kita

mengabur dalam cermin

masih terdengarkah nyanyian musim

di kesunyian danau

setelah segalanya tuntas tanpa sisa

surat-surat kubaca berubah makna

kita masih perlu belajar bertanya

pada tiap cuaca

yang selalu muncul tanpa berita

1994

MUSTIAR AR

adalah nama singkatan dari Mustiar Abdul Rafar, sedangkan nama panggilannya adalah Oneh Kubu. Dia dilahirkan di Meulaboh, Aceh Barat, 15 April 1967. Menulis puisi sejak 1980, karya pertamanya Kutambat Kapal Di Dermagamu dimuat Mingguan Taruna Baru Medan. Sejak saat itu karyanya muncul diberbagai surat kabar daerah dan nasional, terutama terbitan Aceh, Medan, dan pulau Jawa. Pernah meraih juara II puisi dan penulis puisi terbaik diadakan oleh Forum Komunikasi Aceh Barat. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi bersama, diantaranya; Nuansa Dari Pantai Barat (1993), Kumpulan Lhok Geulampang (1994), Deru Pesisir (1994), L.K Ara dkk. (ed), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995), dan Putroe Phang (2002). Dia juga pernah ikut terlibat dalam suatu event kolosal tentang Adat Perkawinan Aceh Barat, Semalam Di Bumi Teuku Umar, dan drama dua babak Tewasnya Teuku Umar dan Perjuangan Cut Nyak Dhien (Jakarta, 1993). Pria yang namanya tercatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (2001) ini, kini bermaustin di Jalan Cut Nyak Dhien, lorong Baiduri 65 Kelurahan Kampung Belakang Meulaboh Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam, telepon 0655 22398.

Kepada Perempuan Dusun

I

dilayarkannya mimpi-mimpi

ke dalam awan gemawan yang putih

ketika dia pamit kepada bapa-emaknya

dia mau pamit pada burung murai

yang setia mengekor dirinya

dia mau pamit pada sawah ladangnya nan kering

ingin dia mengadu nasib ke kota

bersama harapnya

berbunga

II

dia mau berdesakan dengan pemukim

tanah seberang

dan ujung kakinya semakin terpuruk

di emperan toko apek

wahai perempuan dusun di sini

matahari begitu garang menyengat tubuhmu

di sini bulan tak sekemilau di desa

keperakan di ranting jambu monyet

III

wahai perempuan dusun

ceritakanlah kepadaku

tentang perjalanmu yang penuh luka

tentang lengking tangis bayi

yang tali pusarnya terburai

Meulaboh, 1994

MUTIARA KUYUN

lahir di Kuyun Uken, 1 Des. 1963. Selain sebagai pendendang lagu ia juga sering mencipta didong terutama untuk berlawan dalam pertandingan. Muti (panggilannya) dikenal sebagai ceh pada grup “Sinar Hari”. Onot ceh terkenal pada grup “Sinar Hari” merupakan mertua Muti. Sejumlah lagu ceh Onot sering didendangkan Muti dalam bertandingan atau pertunjukkan biasa. Salah satu lagu populer Onot berjudul “Trililin”.

Dalam membawakan didong Muti sering berdua dengan Seri Bintang.

Salah satu ciptaannya “Bunge Gegemen”.

BUNGE GEGEMEN

Bunge gegemen enti sampe layu

Denojung ni ulu kin bekal puren

Bier lau senye bier keras kuyu

Kin tolong bantu ataun pengadunen

I wani kerpe gere ngok musebu

Tenemeng ni kumu gere ter perenen

Mutuker kisah mupinah perdu

I sara waktu gere terlupenen

Mujadi kenangan keemeh umur ku

Mujadi sebuku kin pepongoten

Enti sampe mala kase urum lale

Jangkat ni kuduk ku gere terperenen

Taun menye tempat kejet ku

Kin temperlu kao kusuntingen

Muleno tewah ke gaeh kuyu

Duduk ni tenge ku ialam alaman

Mulo ku tatangan jejari sepuluh ku

Kin tawar sejukku kin inget-ingeten

Batang petegep ulung perubu

Mutorot payu musara tujuen

Sedingken remalan kin iringen lalu

Enti kemel aku bang kase puren

Gelah sepapah kite sepupu

Kadang kase perlu enguk bersi tolongen

Silagu manesen asal urum madu

Puren mudemu I wan kuburen

Oya I amal kase ari aku

I sara waktu ganti ni hiburen

Mutimah lemut si muturut kayu

Laing jeroh mu ku ate ku kemasan

Kin bedak ni beden ke sakiten aku

Kin tampal ni ulu seba I pergunenen

Oya le kisah

Ari siner mude kin inget-ingeten

N

NAB BAHANY AS

lahir di Ulee Gle, kecamatan Bandardua, Pidie, Januari 1964. Dia menyelesaikan pendidikan formalnya di Fakultas Adab IAIN Banda Aceh. Sejak mahasiswa 1984 sudah aktif menulis dan mengasuh rublik budaya surat kabar kampusnya. Setamat kuliah S1 tahun 1990, ia terus menekuni sebagai pemerhati dan pengkaji masalah-masalah kebudayaan. Pria yang namanya tercatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (20001) ini, sudah cukup banyak menulis artikel budaya, puisi, dan cerpen yang telah dipublikasikan diberbagai media, baik media lokal maupun media nasional. Meski belum menerbitkan antologi puisi secara tunggal, namun puisi-puisinya talah menghiasi beberapa antologi bersama penyair Aceh. Sekarang tercatat sebagai salah seorang anggota pengurus Dewan Kesenian Aceh, dia juga menekuni dunia jurnalistik dengan menulis kolam diberbagai media. Bukunya yang sudah ditulis antara lain; Aceh Daerah Wisata Spritual, Ada Aceh Dalam Perspektif Budaya Masa Kini. Sedangkan buku yang disuntingnya yaitu; Kesenian Tradisional Aceh, Religiulitas Dalam Seni Seudati, Dibawah Naungan Syariat Islam: Membangun Aceh Mengikis Kejahatan Menepis Kebatilan.

Sajak Kepada Bunda

bersujud mengharap surga

di bawah telapak kakimu, bunda

darah yang mengalir dipeluh ini

adalah suka cita perjalanan

yang makin renta. Tapi diulang tahunmu

senja ini hanya syair kupersembahkan

apa artinya. Mungkin engkau pun tak mengharap

gemerlap dunia dari darah daging

yang kau lahir, selain (rabbigfirli

waliwaalidayya warham humma kama

rabbayani sagiraa)

bersujud mengharap surga

di bawah telapak kakimu, bunda

berpuluh tahun engkau senyum menimang

bayi tak mengharap belas jasa

karena dunia kita miskin untuk berteduh

lihatlah bunda, betapa berlikunya

perjalanan hingga tapak-tapak kita berdarah

menggoreskan semangat tak pernah pupus

usah menangis bunda, sebab keringat

yang kau wariskan adalah nafas doa

tak kunjung putus. Tersenyumlah (bahwa engkau

bangga melahir seorang bayi sebagai ibadah

kepada Nya). Apa artinya belas jasa bunda

kalau yang ku beri tak jelas asal-usulnya

apa artinya kubalas budi, kalau yang kuberi

menyiksa dirimu kelak. Cukuplah syair

kusembahkan sebagai doa penghubung rindu

Banda Aceh, Oktober 1996

NABI SULAIMAN, HIKAYAT

merupakan karya sastra dalam bahasa Arab dengan menggunakan bahasa Aceh yang baik. Hikayat ini dikarang oleh Ishak Peutua Gam sekitar tahun 1964, dengan tebal 102 halaman. Tiap halaman terdiri atas dua puluh empat baris. Karya-karya lain yang telah dikarang oleh Ishak Peutua Gam dalam bentuk hikayat antara lain Hikayat Nabi Ibrahim. Hikayat Nabi Yusuf, dan Hikayat Nabi Musa. Cerita Hikayat Nabi Sulaiman ini diangkat dari kitab cerita-cerita nabi-nabi yang telah ditambah dan dibumbui sana-sini oleh pengarang. Berikut ringkasan cerita hikayat ini; bermula dari Nabi Daud yang diperintahkan Tuhan untuk mencari pengganti dirinya menjadi penguasa di Mesir dan Syam, dari salah seorang putranya. Maka pilihan jatuhlah kepada Sulaiman. Sebelumnya Sulaiman diberikan baju hikmat oleh ayahnya. Barangsiapa yang memakai baju tersebut akan mendapat kedudukan yang mulia dan disayangi semua makhluk.

Nabi Sulaiman yang dikaruniai mengusai segala macam bahasa, termasuk bahasa hewan. Lalu beliau mengangkat Asab Khaba menjadi perdana menteri. Suatu hari beliau mendengar kabar dari burung hud-hud bahwa negeri Saba diperintah oleh seorang ratu bernama Balkis yang masih menyembah matahari. Atas kabarnya tersebut, burung hud-hud mendapat jambul dari Nabi Sulaiman sampai anak cucunya. Burung hud-hud membawa surat Nabi Sulaiman yangt meminta Ratu Balkis untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Ratu Balkis menolaknya, lalu memberikan persembahan tiga karung intan berlian, emas dan perak. Pemberian tersebut ditolak oleh Nabi Sulaiman. Utusan Ratu sangat kagum melihat kerajaan Nabi Sulaiman yang megah, lalu mereka menceritakannya. Ratu Balkis setuju masuk Islam, tapi sebelumnya ia menguji Nabi Sulaiman. Ujian tersebut dijawab oleh Nabi Sulaiman dan Ratu Balkis pun menjadi takjub, lalu ia bertemu dengan Nabi Sulaiman. Asab Khaba membawa Ratu Balkis dan kerajaannya dalam waktu dua jam kehadapan Nabi Sulaiman. Kemudian Nabi Sulaiman menikahi Ratu Balkis.

Suatu hari Nabi Sulaiman mendapat kabar dari Saimud tentang sebuah pulau yang diperintah oleh raja yang masih menyembah berhala. Raja tersebut bernama Raja Anggur dan mempunyai seorang putrid bernama Putri Anggur. Dengan angina Rakhan Nabi pergi kepulau tersebut. Raja Anggur melawan dan terjadilah peperangan. Raja Anggur tewas dan putrinya pun masuk Islam, lalu menikah dengan Nabi Sulaiman. Pada suatu hari seekor belalang hendak mengadu pada Nabi Sulaiman, lalu ia ditangkap oleh putri yang tidak mengerti, lalu dibakarnya untuk makanan.

Astarukhi seorang menteri dari bangsa jin berhasil mencuri baju hikmat dan cincin Nabi Sulaiman. Dengan baju tersebut ia dapat menduduki singgasana kerajaan. Rakyat menganggap ia benar-benar Nabi Sulaiman. Tanpa pakaian hikmat Nabi Sulaiman tidak dikenal oleh rakyat dan istrinya. Beliau pun diusir dari kerajaan. Nabi Sulaiman mendapat cobaan dari Tuhan gara-gara istrinya makan belalang. Akhirnya beliau bekerja sebagai nelayan dan sakit-sakitan. Beliau kawin dengan anak nelayan yang berkulit hitam, tapi baik budinya.

Para menteri dan sahabat Nabi Sulaiman akhirnya mengetahui Asturakhi menyamar sebagai Nabi Sulaiman. Karena rahasianya terbongkar, ia pun lari dengan membuang cincinnya ke laut. Cincin tersebut ditelan seekor ikan dan Ikan tertangkap oleh ayah gadis hitam. Lalu Nabi Sulaiman memakainya, kembalilah beliau seperti semula. Istrinya pun menjadi sangat cantik berkat cincin tersebut. Beliau kembali ke Syam bersama istrinya. Asturakhi dihukum selama 40 hari. Nabi Sulaiman wafat setelah menyempurnakan mesjid peninggalan ayahnya. Beliau mempunyai seorang putra yaitu Nabi Armia. Berikut kita lihat cuplikan beberapa bait Hikayat Nabi Sulaiman

Nabiullah phon lon kisah

Lon peugah deungo calitra

Masa Daud jeuet khalifah

Rahmat Allah dalam donya

Ureueng nanggroe kaya limpah

Hana salah isem donya

Nyan keuh sabab raseuki mudah

Khalifah ade lagoena

Nanggroe meuse ngon naggroe Syam

Mashyuran jeueb-jeueb donya

Ujeuen sabe watee malam

Gandum gantang dum meukeuba

Hana sepeue keukurangan

Janjongan ade lagoena

Bak siuroe peurintah Rabbi

Troh Jibrai bak saidina

Ubak Daud neuba wahi

Kalam Rabbi zat nyang esa

Hai Daud peurintah Rabbi

Neuyue khuen kri ubak gata

Pileh aneuk nyang jroh budi

Gantoe diri mat neuraca

Gata Daud rab troh janji

‘Izra-I rab troh bak gata

….

NAHARUDDIN

adalah sastrawan yang menulis karya sastra sejak menjadi mahasiswa di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, FKIP Uneversitas Syiah Kuala Banda Aceh. Dia dilahirkan di Meukek, 24 April 1968. Karyanya terutama puisi dan cerita pendek banyak dipublikasikan di media cetak terbitan Banda Aceh dan Medan. Sajak-sajak dimuat dalam beberapa antologi bersama, seperti; Banda Aceh (DCP, 1992), Lambaian (Mj. Panca, 1993), Bunga Rampai Puisi Pariwisata Nasional (Jakarta, 1991). Sedangkan karyanya dalam bentuk cerita pendek terkumpul dalam antologi cerpen Remuk (DKB 2000). Sebagai seorang seniman Naharuddin pun aktif dalam menghadiri berbagai pertemuan dan dialog yang membahas masalah seni, sastra, dan budaya. Tercatat beberapa pertemuan yang pernah dihadirinya, antara lain; Temu Sastrawan se-Sumatera (1999), Pengadilan Seni (DKA, 2000), Dialog Utara VIII di Thailand (1999). Sekarang dipercaya sebagai salah seorang anggota pengurus Dewan Kesenian Aceh, priode 2000—2004.

Episode Sengketa

Maut mengintip dari celah waktu

moncong senjata diarahkan ke segala penjuru

entah nyawa siapa meregang dalam darah

takut dan resah memperjarak persaudaraannya

Warna-warna di tiang bendera berlomba berkibar

menuju matahari dan mengambil panasnya

untuk dididihkan ke bumi

menyengat, membara

kedamaian yang hancur dicabik kuku-kuku munafik

terbentur dendam-dendam rencong runcing nan tajam

Detak jantung adalah hitungan syahid

yang menjelma dinding besar peneduh kedamaian

Patahkan kaki penggenggam bhineka tunggal ika

Semakin dalam rencong-rencong menggali sejarah

semakin bijak mulut-mulut berkhutbah

namun kearifan terlipat dalam kezaliman

sambil mempetakan kuburan

di atas tanah yang didaruratkan buat melegitimasi

pengembaraan serdadu murka

Meukek, April 1999

NAHU BAHASA ARAB

termasuk naskah tertua yang berasal dari Aceh. Karya ini merupakan sebuah naskah yang tersimpan pada perpustakaan Universitas Leiden (CodOr.1660). sealain itu, naskah ini tidak diketahui judul dan pengarangnya. Tetapi mempunyai tulisan atas deluang tanggal 990 H/1582 M. Isi kitab ini secara keseluruhan membicarakan mengenai tatabahasa Arab yang dikarang dalam bahasa Parsi dengan terjemahan antarbaris ke dalam bahasa Melayu.

NAI’NA HUSAM AL DIN

adalah batu nisan seorang ratu pada masa Kerajaan Pasai yang terdapat goresan puisi penyair sufi besar Persia yaitu Ghazal Sa’di. Terletak di Lhok Seumawe, Aceh Utara. Puisi karya Sa’di tersebut dipahat dengan tulisan Arab-Persia menggambarkan kehidupan yang singkat. Pada baris pertama dibayangkan bagai tahun-tahun yang datang dan pergi. Hampir tak terhitung jumlahnya. Dan itu semua melintas di bumi ini seperti air mengalir tak henti-henti. Juga seperti angin yang tak pernah berhenti berhembus. Seperti itulah kehidupan di dunia ini. Kehidupan tidak laun dari sekumpulan hari-hari, bulan, dan tahun. Selama roh masih menyatu dengan jasad, selama itu pulalah manusia singgah di bumi. Setelah itu ia akan menghadap Sang Khalik. Berikut cuplikan puisi Sa’di bagian awal di batu nisan tersebut (terjemahan)

Tiada terhitung jumlah tahun-tahun

Yang melalui bumi kita

Bagaikan air yang mengalir

Dan semilir angin berlalu

Bila kehidupan ini

Tak lain hanyalah seperangkat

Kumpulan hari-hari manusia

Mengapakah orang yang menyinggahi bumi ini merasa angkuh?

Pada bagian selanjutnya puisi ini, merupakan nasehat Sa’di terhadap seorang sahabat. Apabila sahabatnya tersebut melewati kuburan seorang musuh janganlah bersukaria. Karena kematian tidak hanya menimpa musuh, tapi juga akan menimpa kita.

Oh, sahabat

Jika kau lalui makam seorang musuh

Janganlah kau bersuka ria

Karena hal secam itu dapat jua menimpa dirimu

Pada kelanjutan puisi ini, Sa’di memperingatkan janganlah bersikap sombong. Karena ketika manusia telah mati, ia akan merasakan debu memasuki tulang-belulang. Janganlah sekali-kali menyombongkan diri dengan pakaian yang cantik dan mahal harganya. Karena ketika ia telah mati, tidak seorang pun yang dapat menolong. Orang-orang tercinta hanya dapt mengantarkan sampai ke tepi kubur. Hanya budi baik, sedekah, dan amal-amal soleh selama hidup di dunia yang akan menjadi penolong dan teman.

Wahai yang bercelik mata dengan kesombongan

Debu-debu akan memasuki tulang belulang

Laksana pupur celak

Memasuki kotak penyimpanannya

Barang siapa hari ini

Menyombokan diri dengan hiasan bajunya

Maka esok hari debu badannya yang terkubur

Hanya tinggal menguap

Tak ada yang memberi

Pertolongan kepadanya

Kecuali amal saleh.

NALAM

merupakan seni sastra tradisional Aceh dalam bentuk puisi yang dipengaruhi oleh sastra Arab, Nazm. Seni sastra ini juga dikenal dengan Rajat (Arab: rajaz). Adapun bentuk puisi ini secara tipografi 6 atau 4 kaki larik dalam satu baris. Tiap kaki larik berisi 4 suku kata, jadi memuat 24 suku kata dalam selarik. Akan tetapi ada pula bentuknya yang hanya memuat 4 kaki larik saja dalam satu baris, terdapat 16 suku kata, jenis ini tidak begitu banyak terdapat. Karena persajakannya terdapat pada akhir masing-masing paroh larik, menjadikan nalam mirip dengan ikatan puisi yang terdiri atas dua larik sebait, apabila paroh lariknya disejajarkan susunannya.

Jenis nalam yang terdiri atas 6 kaki biasanya isinya sangat khusus, berisi tentang ajaran agama. Puisi ini dibawakan oleh anak-anak secara bersama-sama di meunasah dengan berirama untuk menghafalkan ketentuan-ketentuan ajaran agama yang wajib diketahui seperti rukun iman, rukun Islam, dua puluh sifat Tuhan, dan lain-lain. Berikut ini contoh nalam mengandung ajaran agama yang mempunyai 6 kaki larik, dipetik dari Nalam Rukon Lhee Blaih. Garis miring (/) tanda kaki larik, garis miring (//) tanda persajakan pada paroh larik yang merupakan ciri persajakannya yang khas.

Wahe ureueng / nyang seumayang / tadeungo lon //

Seumayang gata / limong watee / padum rukon //

Rukon teuma / kheun ulama / ahloy pikah //

Watee limong / pham beu keunong / rukon lhee blaih

(wahai orang yang sembahyang dengarkan hamba,

Sembahyang anda lima waktu berapa rukunnya

Rukunnya itu kata ulama ahlul fiqah,

Waktu lima pahamilah tiga belas rukunnya).

Adapun nalam dengan 4 kaki dalam satu larik biasanya diselang-seling susunannya dengan larik berbahasa arab yang dijelaskan artinya secara interlinear dalam larik berbahasa Aceh – Jawi. Berikut ini contoh nalam dipetik sepasang larik dimaksud dari Abeuda’u Cheh Mareuduki Nalam Basa Jawoe (makna nalam bahasa Jawi gubahan Syekh Marzuki)

Tsumma a-salata wa s-salamu sarmada ‘ala n-nabiyyi khayri man qad wa h-hada

Kemudian seulaweuet seureuta saleuem beukeukaylan, ateueh nabi sebaek ureueng mentauhidkan.

Ada juga nalam dalam bentuk pribahasa, yang hampir mirip dengan bentuk gurindam, bedanya terletak pada lariknya yang sering tidak berupa kalimat majemuk yang sebab-akibat sebagaimana layaknya gurindam. Berikut ini kita lihat contohnya dari Himponan Hadih Maja

Leumoh leumbut meunurot mubahgia

Krang-ceukang bantahan pangkay cilaka.

NANI HS

dilahirkan di Banda Aceh, 22 Maret 1959. Menyelesaikan Insinyur Pertanian di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh tahun 1988. Mulai menulis karya sastra terutama cerita pendek tahun 80 an dan telah dipublikasikan diberbagai media massa. Dia pernah aktif menjadi penyiar Radio Ekpo 70 (1988—1991). Namun pada tahun 1992 dia terjun kedunia jurnalis dengan menjadi wartawan. Sekarang dipercaya menjadi Redaktur Minggu Harian Serambi Indonesia. Untuk meningkatkan karirnya dalam bidang penulisan, ia mengikuti berbagai kegiatan, diantara lain; Diklat Produksi Siaran PRSSNI Sumbagut (Medan, 1990), Forum Peningkatan Profesionalisme Kewartawanan Deppen RI (Palembang, 1999), Workshop Perspektif Gender Untuk Redaktur Media Cetak (2000). Cerpennya dimuat dalam antologi bersama Putroe Phang (2002).

NARIT MEUJEULIH

adalah tutur adat dalam suatu majelis atau pertemuan-pertemuan resmi (formal), misalnya pada upacara resmi peradatan, seperti keduri, perhelatan (perkawinan) melamar, atau mengantar tanda pertunangan, tanda kong haba. Berikut ini contoh narit meujeulih dalm upacara peukong haba.

“…… taploih panyang talingkang paneuk, buet nyang rayek tapeu’ubeut, nyang ubeut tapeuhadoih, bah bu bacut asay meusampe. Nibak putoih bahle geuteng , nibak buta bahle juleng. Syarat hukom tameuseu on, syarat kanun ban nyang bulueng, syarat reusam nyang sipadan, syarat janji pantang meu’ungki….” (…..diurai panjang ringkas pendek, masalah besar diperkecil, yang kecil dihilangkan, biar sedikit asal bernilai. Daripada putus eloklah genting, daripada buta biarlah juling. Syarat adat bermufakat, syarat hukum saling mendukung, syarat kanun berpegang jalur, syarat resam yang sepadan, syarat janji pantang mungkir….).

NASRULLLAH AD

dilahirkan di Sibreh, Aceh Besar, 23 Februari 1974 dari pasangan Adnan Aten dan Murniaty. Nasrullah AD, berpendidikan Politeknik Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi L.K. Ara. (ed), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Sebagai seorang seniman nama Nasrullah AD dimuat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (2001).

Rindu

Jangan simpan rindumu menjadi bisu

tebarkan pada angin malam yang lalu

bersama nyanyian burung malam

hantarkan ke perbatasan hatiku

rindu yang terpendam di dalam angan

kala sesaat jarak merentang

memutuskan cerita yang kita jalin

Lhokseumawe – Banda Aceh

NEVI YULISAFITRI

lahir di Banda Aceh pada tanggal 19 Juli 1978 dari pasangan Mohd. Najib AR yang merupakan anak tertua dari empat bersaudara. Tertarik menulis sejak bangku SD dengan menulis catatan harian. Ketika duduk di bangku kelas 2 SMPN 1 Banda Aceh, terpilih sebagai salah seorang staf redaksi majalah sekolah Ranub Selaseh. Dan saat duduk di kelas 3, karya ilmiahnya terpilih sebagai juara 3 pada lomba penulisan karya ilmiah antarsiswa di sekolahnya. Dimasa SMA kegiatan menulis meningkat. Dibuktikan dengan rajinnya mengisi kolam cerpen dan puisi pada majalah Kiprah terbitan Sanggar Teknologi Komunikasi P dan K.

Lulusan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Jurusan Biologi Unsyiah ini pernah menjadi wartawati untuk tabloid Kharisma di Banda Aceh. Menikah tahun 2000 dengan Muhammad Akmal dan sudah dikaruniai seorang putri yang cantik Hajar Thahira Al-Malvi. Karyanya yang sudah terbit adalah Hati Yang Terpisah (antologi cerpen, Syaamil 2004) dan dalam waktu dekat buku karyanya sendiri juga akan terbit. Ketua Divisi Fiksi Forum Lingkar Pena ini sekarang lebih produktif menulis disela-sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga.

NUN PARISI, HIKAYAT

merupakan hikayat ditulis dalam bahasa Aceh yang menceritakan mengenai Sultan Sarah pada Kerajaan Syamtalira yang merupakan bagian dari Kerajaan Islam Samudera Pase. Dalam hikayat ini Nun Parisi merupakan Putra Mahkota. Sementara Lizan dan Ariyan merupakan putra-putra perdana menteri. Serta Said Buriyan sebagai putra hulubalang. Inti cerita pada hikayat ini adalah memperlihatkan Lizan dan Ariyan sebagai lambing kebenaran dan Said Buriyan sebagai lambing kejahatan. Nun Parisi yang bertunangan dengan Putri Ain Sibayan dalam menegakkan kebenaran dibantu oleh Lizan dan Ariyan. Sedangkan Putri Ain Sibayan dibantu oleh Sain Buriyan dalam menegakkan kejahatan. Pada akhir cerita kejahatan pasti dikalahkan oleh kebenaran. Sultan Sarah yang memimpin Kerajaan Syamtalira adalah seorang raja yang adil dan alim. Siapa yang bersalah akan dihukum sesuai dengan kesalahannya tanpa pandang bulu. Berikut keadilan dan ketakwaan Sultan Sarah yang dilukiskan dalam hikayat ini (terjemahan)

Arti adil sama timbangan

Dalam sengketa pegang neraca

Sekalipun hamba budak belian

Ataupun sultan turunan raja

Yang berat tidak akan ringan

Hokum Quran Hadist Nabi

Tambah kias bulat pakatan

Benar dan salah terpisah pasti

…..

Arti takwa rajin ibadah

Hati tawajuh ingatkan Yang Esa

Benderang cahaya laksana kilat

Menyinar jauh tanglung pelita

Yakni berbuat menurut suruh

Anggota tujuh jadi penanda

Perbuatan mungkar dibuang jauh

Haram dan makruh suka tiada.

NURUDDIN AR-RANIRY, SYEIKH

nama lengkapnya ialah Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasanji bin Muhammad ar-Raniry al-Quraisyi Asy-Syafi’i. Penulisan sejarah hidup ulama besar ini telah banyak dilakukan orang, antara lain oleh P. Voorhoeve, G.W.J. Drewes, C.A.O. Van Nieuwenhuijze, R. Hoesin Djajaningrat, dan lain-lain. Dalam sejarah yang ditulis para pengarang di atas disebutkan Nuruddin adalah seorang sarjana India keturunan Arab, dilahirkan di Ranir (sekarang Render) yang terletak dekat Surat di Gujarat. Di tempat ini pula ia mula-mula belajar ilmu agama sebelum dilanjutkannya ke Tarim, Arab Selatan, yang merupakan pusat agama Islam pada waktu itu. Pada tahun 1030 H (1621 M), ia menuju Mekkah dan Madinah untuk melaksanakan ibadah haji dan ziarah ke makam Nabi. Setelah mempelajari ilmu Islam secara mendalam Nuruddin pulang kembali ke India dan menjadi Syeikh dalam tarikat Rifa’iyyah yang didirikan oleh Ahmad Rifa’i yang meninggal tahun 578 H (1183M). Dalam usianya yang masih muda (19 tahun) ia merantau ke Gujarat dan kemudian menggantikan kakeknya sebagai guru agama dan Syeikh tarikat Rifa’iyyah di daerah itu. Namun yang lebih dikenal dalam keluarga ini adalah pamannya Abdul Kadir al-Aidarus (1628), karena banyak menulis kitab-kitab dalam ilmu agama dan mistik. Setelah membekali diri dengan pengalaman pamannya, Syeikh Nuruddin ar-Raniry merantau ke Aceh dan tiba di kawasan ini pada tanggal 6 Muharram 1047 H (31 Mei 1637), yaitu pada zaman Sultan Iskandar Tsani. Karena tidak ada sambutan yang layak dari pihak istana Sultan Iskandar Muda, maka ia melanjutkan perjalanannya dan memilih Pahang sebagai tempat menetap. Seperti diketahui, pada waktu Sultan Iskandar Muda berkuasa di Aceh, ulama yang sangat peran sebagai penasehat dan mufti kerajaan adalah Syeikh Syamsuddin Sumatrani yang menganut paham Wujudiyyah. Karena itu, dapat dipahami apabila paham yang dikembangkan Nuruddin yang bertentangan dengan paham Wujudiyyah tidak mendapat tempat dalam kerajaan Aceh. Pada waktu, Nuruddin berada di aceh untuk kedua kalinya (1637) suasana politik di Aceh telah berubah. Syeikh Syamsuddin telah meninggal dunia pada tahun 1630 M dan tidak lama sesudah itu Sultan Iskandar Muda pun mangkat (1636M). Ia digantikan oleh menantunya Iskandar Tsani yang berasal dari Pahang dan membarikan kedudukan yang baik kepada Nuruddin dalam istana kerajaan Aceh. Kerena memperoleh kepercayaan dari Sultan, Nuruddin memperoleh kesempatan baik untuk menyerang dan membasmi ajaran Wujudiyyah dari Hamzah Fansury dan Syamsuddin Sumatrani. Kitab-kitab karangan Hamzah Fansury dan Nuruddin Sumatrani dikumpulkan kemudian dibakar di halaman mesjid Baiturrahman. Setelah tujuh tahun lamanya ia bermukim di Aceh, menegakkan ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan membasmi paham Wujudiyyah, tiba-tiba pada tahun 1054 H (1644M) tanpa sebab yang jelas Syeikh Nuruddin ar-Raniry meninggalkan Aceh, berlayar ke kampung halamannya Ranir untuk selama-lamanya. Setiba di Ranir, ia masih sempat mengarang kitab al-fathu ‘l-Mubin ‘ala ‘lMulhidin yang selesai ditulisnya tahun 1068 H, dan Rahiq al-Muhamaddiyah fi Thariq al-Shufiyyah namun kitabnya yang kedua ini tidak sempat diselesaikannya kerena ia meninggal dunia pada 22 Zul Hijjah 1069 H (21 September 1658M). Sebagai seorang ulama yang banyak membaca Syeikh Nuruddin ar-Raniry merupakan seorang penulis yang sangat produktif. Tidak kurang 29 buah kitab yang ditulisnya dalam bahasa Arab dan Melayu. Karangannya meliputi berbagai cabang ilmu pengetahuan, antara lain: Ilmu Fiqh, Hadits, Akidah, Sejarah, Tasawwuf, dan Firaq. Sebagian besar kitab-kitabnya ditulis untuk menyanggah ajaran Wujudiyyah Hamzah Fansury dan Syamsuddin Sumatrani. Karangannya tersebut antara lain: Al-Shirath al-Mustaqim, Durrat al-Faraid bi Syarh al-‘Aqaid, Hidayat al-Habib fi al Targhib wa’l-Tarhib, Bustan al-Salathin fi dzikir al-Awwalin wa’l-Akhirin, Nubdzah fi da’wa al-zhill ma’a shahibihi, Latha’if al-Asrar, Asrar Insani fi Ma’rifat al-Ruh wa al-Rahman, Tibyan fi Ma’rifat al-Adyan, Akhbar al-Akhirah fi Ahwal al-Qiamah, Hill al-Zhill, Ma’u’l-Hayat li Ahl al-Mamat, Jawahir al-‘ulum fi Kasyfi’l-ma’lum, Ainal ‘Alam qabl an Yukhlaq, Syifa’u’l-Qulub, Hujjat al-Shiddiq li daf’I al-Zindiq, Al-Fat-hu’l-Mubin ‘ala’l-Mulhiddin, Al-Lama’an fi Takfir man Qala bi Khalq al-Quran, Shawarim al-Shiddiq li Qath’i al-Zindiq, Rahiq al-Muhammadiyah fi Thariq al-Shufiyyah, Bad’u Khald al-Samawat wa’l-Ardh, Kaifiyat al-Shalat, Hidayat al-iman bi fadhli’l-Manan, ‘Alaqat Allah bi’l-‘Alam, Aqa’id al-Shufiyyat al-Muwahhidin, Al-Fat-hu’l-Wadud fi Bayan Wahdat al-Wujud, ‘Ain al-jawad fi Bayan Wahdat al-Wujud, Awdhah al-Sabil wa’l-dalil laisa li Abathil al-Mulhiddin Ta’wil, Awdhah al-Sabil laisa li Kalam al-Mulhidin Ta’wil, dan Syadar al-Mazid.

NURDIN A. RACHMAN

adalah seorang seniman sekaligus seorang birokrat. Dilahirkan di Ceuleue, Sigli (Aceh), 12 April 1940, dan meninggal di Aceh, 2 Januari 1998. Selain menulis puisi juga aktif menulis berbagai artikel yang telah diterbitkan oleh berbagai media daerah dan nasional. Sejumlah puisi telah dibacakannya di Taman Budaya Aceh, Kampus Jabal Gafur, dan Taman Ismail Marzuki. Pendidikan terakhirnya: tamat Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh (1973). Sebagai seorang aktifis, Nurdin juga aktif dalam berorganisasi. Pernah dipercaya menjadi Ketua Presidium KAMI Provinsi Daerah Istimewa Aceh (1966—1970). Sebagai seorang birokrat Nurdin pernah dipercaya menjalankan amanah rakyat dengan menjabat sebagai Bupati Pidie (1980). Mengadakan perlawatan ke luar negeri, antara lain; Pakistan, Bangladesh, Singapore, Malaysia, Australia, Fhilipina, Turki, Nederland, Perancis, dan Saudi Arabia. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi L.K. Ara. dkk. (ed), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Sebagai seorang seniman nama Nurdin A. Rachman telah diabadikan dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (2001).

NUR AINUN AM

lahir 21 April 1972 di Telaga Meuku Kabupaten Aceh Tamiang NAD dari pasangan T Abdul Manan Husin dan Maimunah. Menamatkan pendidikan dasar Madrasah Ibtidaiyah di tempat kelahirannya dan pendidikan tinggi di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh Fakultas Tarbiyah Jurusan Bahasa Inggris.

Tertarik dalam bidang tulis-menulis sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah, namun tulisannya tersebut tidak pernah dipublikasikan ke berbagai media massa. Baru ketika kuliah, puisi Bahasa Inggrisnya sering dimuat dalam majalah Campus Star (EDSA English Departmen Student of Assosiation). Sekarang bekerja sebagai guru pada Madrasah Aliyah Negeri Padang Tiji dan dosen Bahasa Inggris pada Perguruan Tinggi Islam Al-Hilal Sigli.

Karya-karyanya berbentuk cerita pendek terangkum dalam kumpulan cerpen FLP Aceh (2002) dan Mingguan Media Nanggroe Aceh Darussalam.

NURDIN F JOES

dapat diketegorikan sebagai penulis yang serba bisa. Karyanya berbentuk cerita pendek, artikel, dan puisi yang tersebar di berbagai media massa, baik di tingkat lokal maupun di tingkat nasional dan sebagian besar sudah diterbitkan. Namun, dia lebih dikenal sebagai pencipta puisi. Sebagai seorang pencipta karya sastra yang kreatif , puisi Nurdin F Joes, Weep for the children of the land (Menangislah untuk anak-anak negeri) menjadi 10 besar pemenang lomba cipta puisi Toward Namibian Independence (kemerdekaan untuk Namibia) yang dilaksanakan oleh Kantor Penerangan PBB (UNIC) Jakarta 1987. Puisi ini dianggap oleh Sekjen PBB Javier Perez de Cuellar mewakili suara pemuda Indonesia sebagai upaya membentuk opini internasional untuk kemerdekaan Namibia yang terbelenggu politik Apherteid. Nurdin F Joes dilahikan di Sigli 4 Januari 1963. Pendidikan terakhirnya: Tamat FKIP Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, jurusan Bahasa dan Seni program studi Pendidikan Bahasa Inggris (1990). Ia pernah Menjadi Redaktur Budaya surat kabar Peristiwa dan surat kabar Aceh Ekspress. Kini menjadi wartawan Harian Realitas Medan disamping bekerja sebagai pegawai Kanwil Transmigrasi Aceh. Hadir ke negara ASEAN seperti Malaysia dan Thailand mengikuti Dialog Utara VIII (Narathiwat, Yala dan Pattani, 1999), Pesta Gendang Nusantara III dan IV (Malaka, April 2000 dan April2001), Persidangan Dunia Melayu Dunia Islam (Malaka, Oktober 2000 dan Oktober 2001), Hari Puisi Nasional (Langkawi, November 2000), Seminar Pemikiran Ismail Hussein (Penang, Maret 2001), dan Pesta Muzik Rakyat (Shah Alam, April 2001). Sajak-sajaknya dimuat dalam berbagai antologi bersama, selebihnya menerbitkan antologi tunggal Surat Dari Belantara (1988), Sengketa (1990), dan Langkah Ketiga (1994).

Satu Ton Air Mata

Satu ton air mata

kau peras dari mataku

mukaku menjadi sembab

menangis bertahun

dengan Seulawah 001

airmata itu

kau terbangkan ke Jakarta

dengan airmata itu pula

suburlah taman-taman ibukota

empuklah tanah Pulau Jawa

tumbuhlah bunga cinta di sana

sementara lahanku terus mengering

tanahnya terus kerontang

tanamannya menjadi layu

berguguran putik bunganya

Satu ton darah

kau sedot dari tubuhku

badanku menjadi pucat

gemetaran bertahun

dengan Seulawah 002

kauterbangkan ke ibukota

dari sana kau bagi-bagi

yang kepada dunia

kau sebut darahmu

jutaan anakmu

yang wajahnya pucat pasi

kau alirkan darahku

ke tubuhnya

mereka pun menjadi ceria

sementara ketika anakku sakit

kutahu, darah itu,

tak ada lagi

Satu ton nanah

kau gali dari perutku

kemudian kau suling jadi madu

dengan pipa-pipa raksasa

kau mengisapnya

dengan Garuda

kau terbangkan ke Jakarta

dari sana kau berkata:

inilah negeri makmur

tanahnya subur

rakyatnya ramah-tamah

dan berbudi luhur

mendengar pidatomu

aku pun menangis

Satu ton sumsum

kau congkel dari rusuk dadaku

dadaku menjadi sakit

karena kau tusuk-tusuk

dengan paku-paku

sumsum itu kau sulang pada anakmu

dan kau berkata:

makanlah makanan surga

ayahmu telah mencarinya

ini bukan hadiah orang lain

tetapi semata

kepintaran ayahmu sendiri

dalam mendapatkannya

Berjuta ton tulangku

kau ambil dari rimbaku

dengan kapal kapalmu

kau angkut ke sana

tulang tulangku

jadi tiang tiang rumahmu

tapi ketika aku coba bertamu

kaukatakan:

ini rumahku

pergilah

engkau bukan tamuku

tak pula kukenal wajahmu

Kapal Sangiang, Belawan Malahayati, 30 September 2000

NURDIN SUPI

dilahirkan di Kampung Nangka (Aceh), 26 Juni 1963. Menyelasaikan pendidikan tingkat tinggi di Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe. Selain menulis berbagai genre sastra, ia juga tertarik menggeluti seni pertunjukan teater. Dia pernah aktif dalam Teater Kosong dan Sanggar X-Map. Karya-karya telah tersebar diberbagai media massa, baik di tingkat lokal maupun nasional. Nama Nurdin Supi, kapasitasnya sebagai seorang sastrawan telah tercatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi Mimbar Penyair Abad 21, dan Antologi Puisi Indonesia 1997 (1997).

NYANYIAN MANUSIA

merupakan antologi puisi tunggal Mohd. Harun Al Rasyid, diterbitkan oleh Lapena (Intitute For Culture and Society) Banda Aceh, cetakan pertama, Maret 2006. Buku setebal 112 halaman ini memuat 83 puisi. Halaman iii memuat catatan penulis dengan judul Saya Masih Ada. Halaman v catatan Direktur Eksekufif Lapena oleh Helmi Hass dengan judul Puisi dan Hidup Yang Manis. Halaman vi—viii kata pengantar oleh Dendy Sugono (Kepala Pusat Bahasa Depdiknas). Halaman ix—xi daftar isi. Halaman selanjutnya tertulis sebait puisi; Tanda kenangan bagi ayah/Tanda mata bagi ibu/Tanda cinta bagi nora/tanda sayang bagi/inong dan agam. Halaman 1—112 kumpulan puisi. Halaman berikutnya tidak diberikan nomor, tapi memuat buku-buku yang telah diterbitkan Lapena; Ziarah Ombak, Menunggu Pagi Datang (Sulaiman Tripa), Surat Dari Negeri Tak Bertuan (D.Keumalawati). adapun puisi-puisi yang dimuat dalam antologi ini adalah; Nyanyian Manusia, Nyanyian Anak Bumi, Nyanyian Anak Pengungsi, Nyanyian Angin Samudera, Nyanyian Jiwa Prajurit, Nyanyian Orang Utan, Nyanyian Bocah Afrika, Nyanyian Anak Kolong, Nyanyian dari Kerajaan Semut, Nyanyian Nyiur Selatan, Nyanyian Kelelawar, Lagu Seorang Penyabar, Lagu Pilu Orang Kuyu, Lagu Cinta dari Tanah Gayo, Rindu Aceh, Nostalgia di Ruang Sempit, Aku Bangkit, Aku Belajar pada Ilalang, Puisi Tak Ada Judul, Kenangan dalam Keikhlasan, Aku Bertanya Pada-Mu, Tanah dan Air Sedang Berduka, Orang-orangku Dalam Sketsa Kecil, Sebelum dan Sesudah Azan Subuh, Muhammad, Kupanggil Namamu Muhammad, Laporan Kegalauan, Kita, Cita, Teringat Hidup, Kisah Pemburu Dosa, Istiqamah, Wasiat Seorang Kakek, Dan Inilah Kewajiban II, Kontradiksi I, Tanda-Tanda-Nya, Ya, Suara di Suatu Revolusi, Dara Dusun di Dermaga Ketika Senja Turun, Pensiunan yang Jadi Petani Renta kepada Anaknya, Di Laut Utara, Catatan Buram Seorang Penyair, Menjenguk Tawanan, O, Pemuda, Antara Dua Seulawah, Engkau Telah Sah Jadi Istriku, Jaritan Panjang Benua Hitam, Dalam Perjalanan, Tebing-Tebing Kehidupan, Ungsi, Monumen, Aba-aba sebelum terjaga, Yang, Melintas Lamnyong, Memandangmu, Ketika saling tuding, Dalam senja, Banda Aceh, Diam, Sajak kehidupan II, Sajak kehidupan IV, Neraca alam, Akulah Musafir Pencari Suaka, Dalam Taman Diri, Tak Perlu Tersangak-sangak, Tiba-tiba Aku ingin, Laksana Embun Yang Jatuh di Kubah Masjid, Bertanyalah, Kuala-Kuala, Janda-Janda Berkalung Doa, Sajak Rahasia, Menuju Benua Lain, O Segala Daun O Segala Kembang, Balada Anak Kecil, Resah Juga Hati, Sajak Makhluk, Semalam di Bukit Tinggi, Jakarta Tiga Belas Mei Sembilan Delapan, Kita Asyik Bijarakan Pedamaian, Anak-Anak Yang Mulutnya Terkatup Bemohon Kepada Ayah dan Ibunya, Surat Seekor Burung Untuk Bosnia.

Pada sampul belakang antologi puisi ini memuat komentar ; melalui puisi yang terkumpul dalam buku ini, pembaca dapat memperluas cakrawala kehidupan yang tentu saja akan memiliki manfaat besar dalam perjalanan kehidupan kedepan. Suatu peristiwa yang terjadi pada seseorang atau sekelompok orang adalah pelajaran yang amat berharga bagi orang atau kelompok masyarakat lainnya (Dendy Sugono, Kepala Pusat Bahasa Depdiknas). Bagi kami, sebagian puisi Harun bernuansa alam, menelusuri dunia religius, dan banyak juga yang berdimensi protes sosial. Di dalamnya juga sering ditemukan suara-suara kebenaran dalam penjelajahan kebijaksanaan hidup. Karena itu, kami optimis bahwa Harun akan terus melahirkan puisi untuk kepentingan kemanusiaan (Helmi Hass, Direktur Eksekutif Lapena, Institute For Culture and Society).

P

PADA TIKUNGAN BERIKUTNYA

merupakan antologi tunggal cerpen Muswarman Abdullah, yang diterbitkan oleh Lapena Banda Aceh, cetakan pertama Desember 2006, penyunting D. Keumalawati. Buku setebal 104 ini memuat 10 cerpen karya Muswarman Abdullah. Judul antologi diambil dari judul salah satu cerpennya yang dimuat dalam antologi ini. Adapun cerpen-cerpen yang dimuat dalam buku ini adalah; Cara Ia Membangunkan Aku, Tuhan-Tuhan Kami, Monyet, Balada Pasien Jiwa, Maka Dunia pun Kiamatlah, Yang Melarikan Diri, Bau Sepatu, Pada Tikungan Barikutnya, Penyair Dari Rhieng Blang, Sepucuk Surat Jadi Rebutan.

Pada sampul belakang buku ini memuat cuplikan cerpen Pada Tikungan Berikutnya; Pada belokan selanjutnya aku berpapasan lagi dengan sekelompok tentara yang lain. Peruntungan yang menimpa tiada beda. Aku lagi-lagi disuruh bercerita untuk membuktikan bahwa aku benar-benar tukang cerita. Kubilang, “Tak ada lagi yang dapat dicerikan.” “Ceritakan saja!” “Ruang langit tempat turunnya ilham telah tertutup asap mesiu.” “Cerita apa saja!” “Tak ada.” “Tentang apa saja!” “Tidak.” “Apa saja yang melintas di pikiran!” “Tidak.”. Selain itu, juga memuat komentar; Dalam buku cerita Muswarman, ada beberapa hal yang tidak kita temukan dalam cerita pendek Indonesia (Azhari, penulis Aceh).

PANTON

adalah sastra tradisional lisan Aceh dalam bentuk puisi yang dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari. Selain itu, panton juga sering dipergunakan dalam bentuk kesenian rateb, nasib, rapa’i daboih, pho, dan kesenian yang lainnya. Dalam hikayat panton dipergunakan untuk mengungkapkan perasaan antara sepasang kekasih, misalnya terdapat dalam Hikayat Putroe Gumbak Meuih. Terkadang panton dipakai juga dalam pembuka (khuteubah) ataupun dalam pergantian episode seperti yang terlihat dalam Hikayat Pocut Muhammad.

Aneuk siwaih jipho u blang

Dareut canggang susah raya

Bah lon peudeuk si’at ‘ohnan

Lon kurangan Banta Muda

Panton ini merupakan ikatan puisi yang diterima dari tradisi Melayu, pantun. Dalam kehidupan kesusastraan Aceh dikenal dua jenis panton yaitu Panton Aceh yang mempunyai susunan larik dan persajakannya sama dengan sanjak dan Panton Melayu dimana bahasanya dicampur dengan bahasa Melayu serta susunan lariknya disesuaikan dengan larik pantun Melayu, tetapi persajakannya masih tetap mengikuti sistem persajakan sanjak. Berikut ini contohnya

Pade sipulot silamon dulang padi sipulut di dalam dulang

Ambek kureundam dalam kuali lalu kurendam dalam kuali

Rupalah jeuheut bangsa pon kurang rupa jelek bangsapun kurang

Apa Cek pandang keupada kami apa yang Encik padang kepada kami

PEREMPUAN PALA

adalah kumpulan cerpen karya Azhari—seorang penyair dan cerpenis dari Aceh. Buku ini diterbitkan oleh AKY (Akademi Kebudayaan Yogyakarta), cetakan pertama 1 Juli 2004, dengan jumlah halaman 109 halaman, i-xi, 135 x 210 mm. Judul buku diambil dari salah satu judul cerpen yang juga dimuat dalam kumpulan ini. Buku ini memuat 13 buah cerpen dan sudah pernah dimuat di berbagai media massa yaitu Kenduri (Koran Tempo, 2001), Menggambar Pembunuh Bapak (Antologi Cerpen kecil Grafiti Imaji, 2001), Hujan Pertama (Koran Tempo, 2002), Yang Dibalut Lumut (Koran Tempo, 2002), Perempuan Pala (Koran Tempo, 2003), Menunggu Ibu (Koran Tempo, 2003), Orang Bernomor Punggung (Jawa Pos, 2004), Ikan dari Langit (Koran Tempo, 2004), Pengunjung (Koran Tempo, 2004), Di Dua Mata (Koran Tempo, 2004), Kupu-kupu Bermata Ibu (Media Indonesia, 2004), Hikayat Asam Pedas (Koran Tempo, 2004), Air Raya (Kompas, 2004).

Pada sampul belakang dimuat cuplikan cerpen Perempuan Pala; Untuk menutupi jasad yang dibenamkan itu, aku dan kawan-kawan menanam apa saja. Yang paling mudah adalah gerumbul pisang. Ya, sebelum kupenuhkan dengan batang pala. Kata tahu, Mala, aku pernah berpikir, tetapi tak pernah kubilang kepada siapapun kecuali kau: jika benar mereka menjual rahasia Nanggroe kepada Kaphei, maka di atas tanah tempat jasad mereka ditanamkan biarlah –apapun pohon yang tumbuh- buahnya merimbun sepadan kesalahan mereka. Tapi kau tahu sendiri buah apapun tak tumbuh di sana, bukan? Aku tak bilang mereka ternyata tak bersalah. Aku Cuma berpikir begitu. Karena jelaslah menjual rahasia Nanggroe itu keliru.

PEUREUDAN ALI, HIKAYAT

adalah salah satu karya sastra Aceh dalam bentuk hikayat yang tidak diketahui pengarangnya, ditulis menggunakan aksara Arab Melayu dengan bahasa Aceh. Hikayat setebal 299 halaman dengan ukuran 29,5 x 21 cm ini selesai dikarang tanggal 26 Mei 1933 di Kutaraja—sekarang Banda Aceh. Di bagian akhir dikatakan bahwa naskah ini kepunyaan orang Pakeh, penduduk kampung Teupin Jangak. Selain itu, ia juga menyebutkan nama kampung Teupin Meusambong. Namun Ishak Pakeh—seorang Kolonel Purnawirawan yang memegang naskah ini mengatakan Hikayat Peuredan Ali ini dikarang oleh ayahnya sendiri Teungku Pakeh—seorang pedagang dan penggemar karya sastra lama terutama hikayat yang sudah lama tinggal di Kutaraja. Hikayat ini menceritakan tentang kehidupana raja-raja jaman dahulu dengan berbagai kesaktian dan dibumbui dengan peperangan untuk mendapatkan seorang putri. Berikut ini ringkasan ceritanya; bermula dari Sultan Yahya yang menjadi raja di Jarussam dengan sembilan negeri taklukkannya. Beliau mempunyai empat orang istri masing-masing Rakna Keumala, Geureudan Umami—anak menteri, Rakna Diwi—anak seorang guru, dan Lelan Syikri anak seorang kadi—tercantik diantara mereka…….

PRANG SABIL, HIKAYAT

adalah sebuah karya sastra perang dalam bentuk hikayat ditulis oleh Chik Pantee Kulu. Hikayat ini ditulisnya dalam perjalanan Mekkah–Aceh. Beliau menulis hikayat perang ini dalam bentuk tulisan Arab berbahasa Aceh. Hikayat ini lahir akibat beliau sudah mengetahui bahwa Snock Horgaranye, seorang Belanda yang belajar agama Islam diperkirakan Belanda akan banyak membantu untuk mengalahkan Aceh. Sementara itu, Chik Pantee Kulu selama di Mekkah sudah akrab dengan hasil karya penyair-penyair Arab. Terutama penyair dijaman Nabi Muhammad saw, antara lain Hassan bin Tsabit. Maka lahirlah hikayat bertema perang yakni Hikayat Perang Sabil. Hikayat Perang Sabil terdiri atas 4 kisah, yaitu kisah Ainul Mardijah, kisah Pasukan Gajah, kisah Sa’id Salmy, dan kisah Budak Mati Hidup Kembali. Pada kisah Ainul Mardijah dilukiskan mimpi seorang pemuda sedang dalam perjalanan ke medan perang. Dalam mimpi itu dilukiskan dia memasuki taman sorga dengan sungai yang berair jernih. Di dalam sungai itu dara-dara jelita sedang mandi. Seorang dara tercantik sebagai ratunya bernama Ainil Mardijah. Dara-dara itu diperuntukkan bagi orang-orang yang mati syahid dalam Perang Sabil.

‘Assalamualaikum, dara pilihan

Di mana gerangan tunangan hamba?

Ainul Mardijah puteri rupawan

Di tempat mana dia bertakhta?

’Alaikumsalam, kekasih Allah

Alhamdulilah tuan kemari

Ziarah tunangan Ainul Mardijah

Hadiah Allah Ilahi Rabbi

Berbahagialah tuan pahlawan kami

Rasalah pahala wahai mahkota

Hadiah jihad mujahid berani

Puteri menanti di dalam surga

Mari pahlawan mujahid budiman

Gegas berjalan sebentar lagi

Nun di sana di dalam taman

Tuan puteri rindu menanti

Apalah arti kami ini

Dayang pelayan gaharu tuanku

Pergi oh, tuan lekas pergi

Di sana tunangan memendam rindu

Hikayat Perang Sabil merupakan karya besar Chik Pantee Kulu. Sebagai sastra perang, ketika itu dibaca secara luas di Aceh. Dan sebagai akibat membaca hikayat ini, orang-orang langsung turun ke gelanggang untuk berperang. Oleh sebab itu, orang Belanda melarang membaca dan menyimpan buku Hikayat Prang Sabil. Pada masa itu apabila ditemukan orang menyimpannya, pihak Belanda akan menangkap dan menghukum orang tersebut. Walaupun Chik Pante Kulu telah melahirkan puisi yang dapat menggerakan orang untuk pergi berperang, namun karyanya belum banyak dibicarakan para kritikus. Bahkan sebagai sastrawan besar yang puisinya dapat mendorong semangat perang yang bertahan selama sekitar 35 tahun mungkin agak aneh bila kita tidak menemukan nama penyair Chik Pante Kulu dalam buku sejarah kesusastraan Indonesia.

Hikayat Perang Sabil

(Nukilan bait 1035—1060)

terjemahan:

1035. Dan jiwamu…. dengar kukatakan maknanya kini

Pemberian Tuhan Rabbul Alamin, pada orang mukmin jalan sejahtera

Lepas dari azab hari kemudian, diberikan Tuhan kelak surga

Jannatul ‘Adnin Tuhan namakan, nikmat nian tiada terkira

Apa yang tergerak dalam hati, segera nyata ke situ tiba

1040. Karunia Khalik Rabbul Jalil, yang berperang sabil sangat mulia

Bidadari tujuh puluh orang, khadam sekalian muda-muda

Begitu firman Rabbul Jalil, jangan diam lagi wahai saudara

Berangkatlah teungku memerangi kafir, jangan sayangi akan harta

Seluruh harta anda wahai taulan, dengan kekayaan Nabi Sulaiman secuil tiada

1045. Ia menguasai jin dan insan, segala hewan margasatwa

Begitu megah dan hartawan, ibarat kepada Tuhan tak pernah alpa

Pikirkanlah wahai budiman, seimbangkah dengan kemegahan anda?

Demikian Nabi Rasul Hadarat, megah amat lagi kaya

Tiada lupa akan ibadat, ambil ibarat hai saudara

1050. Kita sendiri megah pun tiada, harta tuan hampa belaka

Mengapa lalai hai bangsawan, ditipu setan kita semua?

Kaya Sualaiman dan megah amat, dunia akhirat dalam sejahtera

Sedekah banyak tak terhingga, ummat semua diberi belanja

Tak guna kaya dengan megah, jika kepada Allah lupa tersia

1055. Raja Qarun dengar kukisah, rahmat Allah isi neraka

Sungguh kaya lagi megah, tiada seorang pun imbangannya

Kusebut ini untuk ibarat, jangan menyangka lebih hebat anda

Anak kunci Raja Qarun, Tuhan sebutkan keadaannya

Tujuh kali lipat bobot pahlawan, untuk bilangan orang yang tegar

1060. Sebuah anak kunci untuk seorang, tujuh puluh gedung dapat dibuka

Begitu kaya sicelaka, adakah manusia menyamainya?

Dalam gedung hai bangsawan, sampai ke bubungan emas semata

Misal terkenal Fir’aun laknat, sampai mengangkat dirinya Tuhan

Hamba nukilkan dari berbagai tempat, untuk pengingat jaga-jaga

1065. Agar diambil kias ibarat, agar teringat semua saudara

Coba pikir wahai rekan, dari dahulu adakah imbangnya?

Tak seorang mencapai hajat, walau megah dengan kaya

Sebab tiada beribadat, Tuhan hadarat tidak rela

Coba pikir teungku bertuah untuk apa megah dan kaya

1070. Sebagaimana firman Tuhan, dalam Qur’an yang amat mulia

Annaru li’l-nushani wa lau kana qurasyiyyan, Kalam tuhan Rabbul A’la

Si maksiat bara neraka, sekalipum Quraisy bangsa mulia

Aljanata lilmuttaqina wa lau kana ‘abdan habasyiyyan, Rasul Tuhan yang bercerita

Surga bagi yang takutkan Tuhan, sekalipun budak yang diperjualbelikaan

1075. Camkanlah wahai sahabat, untuk apa megah banyak harta

Jika mengabaikan suruh Hadarat, pedih azabNya dalam neraka

Telah anda dengar semua yang megah, adakah faedah wahai saudara?

Ia punmati kemegahan tertinggal, azab Allah dalam neraka

Bagi kita wahai abang, sekupang pun tak berharta

1080. Lengah lalai ikut bebayang, mungkinkah dapat hai saudara?

Wahai saudara janganlah lalai, bekal akhirat pikirkan segera

Kematian itu pasti datang, ingat sekalian tuan bintara

Selagi muda badan kuat, perbanyak ibadat hai saudara

Jangan taulan salah tempat, beribadat di kala renta

1085. Terkadang tak sempat tua, keduluan kita masuk keranda

Firman Tuhan wahai akhi, tidak tentu maut tiba

Jadi seseorang tidak mengetahui dibumi yang mana ia akan mati,dalam ayat lahirnyata

Kematian dan pusara tak kita ketahui, ingat hai sahabat tua muda

Dunia ini tempat berlarat, negeri akhirat tempat bersuka

1090. Tiada kekal semua kita, di dunia ini hai bintara

Carilah bekal untuk kembali, jangan lalai hai saudara

Sesampai ajal rezeki habis, meninggalkan kemegahan dengan harta

Meninggalkan negeri kerajaan luas, ketika itu menyesal berputus asa

Menyesali nasib wahai teungku, berawal di kubur azab siksa

1095. Tiada tempat meminta bantuan, siksa berlamjut sampai hari kebangkitan

Allah – Allah wahai sahabat, menyesal amat hai bintara

Sungguh pedih tersiksa sangat, matahari dekat di atas kepala

Tiada makanan untuk dimakan, hendak berteduh kerimbunan tiada

Tersiksa sekali wahai teungku, memercik peluh mengairi dada

1100. Ke setiap Nabi kita berduyun, memohon ampun dihentikan siksa

Berlanjut pula puluhan ribu tahun, setelah itu dihalau ke neraka

Tak tertahankan hai bangsawan, hancur badan seremuk garam

Berwujud kembali karunia Tuhan, begitu selalu tiada reda

Tiap kali kulit mereka hangus, kami ganti firman Rabbana

1105. Setiap yang tubuhnya hancur, diganti yang lain dengan segera

Ya Allah Khaliqul Mannan, Ya Hannan Wahidul Ghaffar

Na’uzubillah tentang azab itu, semoga terhindar semua hamba

Duhai teungku adik-sahabat, jangan lalai muda belia

Meski menyayangi diri sendiri, azab nanti dalam neraka

1110. Beribadat wahai teungku, jangan terpaku dengan harta

Walau kaya hartaa makmur, dalam kubur tak menemani anda

Wahai teungku adik-sahabat, ingat-ingat hai bintara

Untuk apa kaya harta wahai bangsawan, memilih intan membuang tembaga

1115. Jangan ikuti godaan setan, ikuti Tuhan Rabbul A’la

Yang menjadikan laut dan darat, yang memberikan jasad dengan nyawa

Yang memberikan surga di akhirat, bagi yang mengikuti perintahNya

Serta mengikuti Nabi Muhammad, memberi syafa’at di Padang Mashyar

Disayangi amat semua umat, diingatkan rugi dan laba

1120. Setelah wafat Rasul junjungan, menghadap Tuhan Rabbul A’la

Sampai ajal hari senin, menangis junjungan berderai air mata

Para sahabat sekeliling nabi, berdampingan semua

Malaikat maut ada di samping, air mata berlinang mahkota dunia

Malaikat berkata begini, mengapa berduka pimpinan hamba

1125. Hamba disuruh Tuhan, jika tak diizinkan saya kembali

Jawab Nabi Rasul Hadarat, rela sangat wahai saudara

Sesuai hukum Rabbul “Izzah, senang sangat tak bertara

Anak dan istri hukum hadarat, semua sahabat tak berduka

Yang saya tangisi amat sangat, hanya pada umat tua muda

1130. Saya khawatir ringan beribadat, itulah yang teramat saya berduka

Saya sayangi semua ummat, khawatir lekat dengan dosa

Sedang menangis tiada henti, turun Jibril menghadap Sayidina

Dibawanya wahyu dari Tuhan, untuk Nabi Pelindung Dunia

Setelah salam disampaikan, Jibril berkata pada Sayidina

1135. Saya bawa firman dari Tuhan, Khaliqul Mannan rindukan Anda

Rela sangat Sayidul insan, menghadap Tuhan Rabbul A’la

Sugi pun jatuh di tangan , wafat junjungan Sayidul Anbia

Menghadap Tuhan Rabbul Shamad, tinggal ummat dalam dunia

Tinggal kitab tinggal Qur’an, Rasul Tuhan sudah tiada

1140. Disuruh ibadat tidak pernah alpa, memerangi kafir tiada reda

Ibadat utama hanya perang sabil, tiada yang lain padanannya

Firman Tuhan Rabbul Jalil, Hadith Nabi Sayidil Anbia

Jalan terbaik menghadap Rabbi, hanya perang sabil lain tiada

Begitu wasiat Sayidil Anbia, disuruh lawan kafir Belanda

1145. Jikalau mati dalam peperangan, bersama junjungan dalam surga

Muhammad Amin sangat penyayang, di akhirat tuan sangat setia

Hingga nanti kala kiamat, tak usah ingat semua perkara

Waktu dibangkitkan oleh Tuhan, Jibrail turun ke dunia

Membangunkan Sayidil Insan, perintah Tuhan pada Sayidina

1150. Setelah dibangunkan oleh Jibrail, terjaga Nabi Saidil Anbia

Belum sempat Nabi duduk, sudah bertanya kepadanya

Hari apa ini ya Jibrail, sudah sampaikan janji Allah Ta’ala?

Malaikat menjawab Nabi, na’am ya sayidi seperti kata anda

Segera pula Nabi menangis, ummat kami bagaimanakah kiranya?

1155. Bagaimana ihwal hari ini, rindu kami tak bertara

Jawab Jibrail belum bangkit, semua ummat pria-wanita

Menangis Nabi amat sangat, mengapa lambat ya Rabbana

sedemikianNabi penyayang amat, kepada ummat tua-muda

yang lain apa pun tiada ingat, hanya ummat yang membuatnya duka

1160. Begitulah Nabi wahai sahabat, menyayangi amat kita semua

Bagaimana kita melupakan, sayidil Ummat sebegitu jasanya

Tak pernah lupa kepada kita, siang-malam Sayidi mulia

Sejak kini hingga mati, Nabi kita sangat setia

Jika mendengar ummat meninggal, air mata selalu mengalir di dada

(Terjemahan Ali Hasjmy)

PUISI DIDONG GAYO

adalah kumpulan puisi didong untuk bahan bacaan SMP/Mts – SMA/SMK/MA, dieditori oleh L.K. Ara, diterbitkan oleh Balai Pustaka Jakarta, cetakan pertama 2006, tebal xvi + 140 halaman, ilus 21 cm. Buku ini memuat 47 puisi karya 22 penyair didong Gayo. Pada sampul depan bergambar sekelompok orang yang sedang bermain didong, sedangkan pada sampul belakang melampirkan buku-buku terbitan Balai Pustaka yang berkenaan dengan Aceh. Halaman iii—xiii Pengantar Editor dengan judul Puisi Didong Beberapa Penyair Gayo oleh L.K.Ara, halaman xv—xvi Kata Sambutan oleh Bupati Aceh Tengah Drs. H. Syahbudin BP.M.M., halaman 1—139 kumpulan puisi didong Gayo. Adapun puisi-puisi yang dimuat dalam kumpulan puisi didong ini adalah Abadi Ag; – , Abd Rauf; Sedenge, Abdussalam; Dunie Canggih, Murip Mumatan, Kapal Garuda, Nasipni Jema Seni, Cerite Ni TV, Ali Asni; Pesangan, Uyem, Alyacub; Gayo, Mas, Daman; Aman, Banta Aman Faridah; Temas Kusiara, Bantacut; Ine (Mamur ni Lauhku), Kemaro, Cikdaerah; Menunung Jalen, Damora/Tessa; Denie Mukelong, Daud Kala Mpan; Mayang Serungke, Emun, Denie, Hasan Seni; Laut Tawar, Tutu, Ibnu Hajar Laut Tawar; Nasib Ni Uyem, Kusa Kusa, Ibrahim Kadir Penyair Balada Dari Negeri Antara (artikel), Ishak Ali; Kekeberni Canang, Resam Denie Sedenge, Laut Tawar, Kekata Nasihat Alus, Item Pondok; Baur Ni Seulawah, Item Tansaran; Ues, Nasib Ni Gayo, Kasman; Belang Nge Berpancang, Muhammad Basyir Lakkiki; Utih Roda, Renggali, M. Saleh;-, Maskawi; Bahgie Ku Perahi, Falsafah Gayo, Mursid; Pegasing, Sali Gobal; Budi, Merek, Yatim, Asmara Boro, Pemude.

PUTROE BAREN, HIKAYAT

merupakan karya sastra lama, ditulis dengan huruf Arab Melayu (Jawi) menggunakan bahasa Aceh. Hikayat ini tidak diketahui pengarang dan tahun penulisannya. Namun pada bagian akhir naskah setebal 441 halaman ini dicantumkan nama penyalinnya yaitu Teungku Akob Kampung Gle U, Aceh Barat. Diperkirakan hikayat ini sudah ada sekurang-kurangnya akhir abad ke-19. Menurut DR. Snouck Hurgrunje ada beberapa persamaan antara Hikayat Putroe Baren ini dengan hikayat Melayu Johar Manikam yang diterbitkan di Breda pada tahun 1845. Terutama dalam cerita mengenai Putri Kaca. Berikut ringkasan Hikayat Putroe Baren; seorang raja di Bagdad bernama Baren Nasi dengan pemaisurinya bernama Meureudum Rakna menaklukkan sembilan ratus raja. Mereka mempunyai dua orang anak yang mempunyai kelebihannya masing-masing. Anak laki-lakinya bernama Bangta Sulotan mempunyai kekuatan yang sangat kuat. Sedangkan yang putri bernama Putri Baren dengan keistimewaan dikandung selama lima tahun oleh ibunya. Sejak dalam kandungan ia telah memperdengarkan suaranya. Dilahirkan pada malam lailatul kadar, dan diberi nama oleh Malaikat Malik Ridwan. Pada masa kanak-kanak pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad.

Raja berniat membuatkan istana untuk putri, tapi tidak bisa menebang kayu karena tidak memberitahu tujuan tersebut pada putri. Setelah diberitahu putri bermimpi kayu untuk membuat istana ada di puncak gunung Mahalhikmat yang dikuasai oleh jin. Bangta Sulotan pergi menjemput kayu tersebut dan berkat nama putri kayu pun diantar langsung oleh raja jin. Ketika sedang membangun istana Raja Yaman datang menyerang, dengan tujuan hendak merebut putri yang terkenal cantik. Raja Yaman dapat dikalahkan oleh Bangta Sulotan. Kemudian ia menyerahkan kerajaannya pada Bangta Sulotan.

Permaisuri marah dengan mengacungkan pedang ketika mengetahui putrinya dibawa oleh Kilan ke istananya untuk belajar mengaji. Ternyata putri lebih pandai dari Kilan. Akhirnya Kilan yang belajar kepada putri. Karena kelakuannya permaisuri dipenjara oleh raja. Bangta Sulotan minta maaf pada raja, lalu membebaskan ibunya dari penjara tersebut. Kemudian permaisuri minta izin untuk bertapa, dan meninggal di pertapaan setelah menjalaninya selama tujuh tahun. Ketika itu, Putri Baren dibawa malaikat untuk melihat ibunya. Sebelum meninggal ia menyebutkan beberapa bencana akan dialami oleh Putri Baren. Jenazah permaisuri diambil oleh raja. Adapun bencana yang dihadapinya adalah; sewaktu penguburan ibunya, ia difitnah oleh perdana menteri dengan mengatakan pada raja bahwa ia tidak mau melihat jenazah ibunya. Raja murka. Ia pun mengamuk, akhirnya ia memakamkan jasad ibunya dibantu oleh Ratu Hamdan. Ia digoda oleh kadi kerajaan ketika raja dan Bangta Sulotan naik haji ke Mekkah. Ia menolaknya dengan tegas. Kadi pun memfitnahnya telah berbuat serong dengan banyak laki-laki. Hal ini membuat raja sedih. Bangta Sulotan pun bersumpah akan membunuh adiknya. Tetapi setelah diselidiki tahulah Bangta Sulotan bahwa ini adalah fitnah, karena sudah terlanjur berjanji di depan Ka’bah ia pun membunuh adiknya dengat berat hati. Namun ia diselamatkan oleh malaikat dan dibawa ke istana di gunung Syam. Sedangkan yang dibunuh oleh Bangta Sulotan adalah wanita yang mirip dengannya. Lalu ia dinikahkan oleh Malaikat Jibril dengan Raja Abdullah, anak dari Raja Saidil Bakhil dan Putri Diwi raja dari negeri Syam.

Raja Abbdulah perang melawan Raja Sindun dari Heran Garib karena hendak merebut Putri Baren. Akhirnya Raja Sindun tewas oleh Katir seorang pengikut Raja Abdullah yang setia dan alim. Ketika Putri Baren berangkat ke Mekkah bersama tiga orang putranya yang mesih kecil, ditengah perjalanan diancam oleh Panglima Perang bernama Dusun untuk melayaninya. Ia menolak. Dusun marah lalu membuang ketiga anaknya ke laut. Dengan kehendak Tuhan ia pun terpelanting ke laut dan ditemukan oleh Raja Pari. Raja Abdullah sangat menyesal karena tidak menemani istrinya ke Mekkah, demikian juga dengan Katir. Kemudian mereka pergi mencari Putri Baren. Karena letih Katir tertidur tidak dapat dibangunkan oleh Putri Baren. Ia pun meninggalkan istana Raja Pari dengan kuda Katir. Ia menyamar sebagai laki-laki dan dirajakan di Malabari dengan gelar Raja Makmur. Raja Abdullah terus mencari istrinya sampai di Malabari dan bertemu dengan Raja Makmur. Ia tidak mengenal istrinya, sebaliknya Putri Baren mengenal suaminya.

Raja Baren Nasi dari Mekkah menjalin persahabatan dengan Raja Makmur yang sudah terkenal. Pada upacara pelantikan Bangta Sulotan menjadi raja Mekkah, dihadiri oleh para pejabat dari negeri lain diantaranya Raja Kadi dan Panglima Dusun. Raja Makmur diangkat menjadi panglima perang. Raja Makmur mengganti pakaiannya dengan pakaian wanita, waktu itulah rahasia terbongkar. Bahwa Raja Makmur adalah Putri Baren. Raja Kadi dan Panglima Dusun dijatuhi hukuman mati. Bangta Sulotan kawin dengan Putri Sunoe. Berkat sebutir intan sakti ketiga anak Putri Baren yang dimakan ikan raksasa ditemukan oleh Bangta Sulotan. Maka ia pun berkumpul dengan suami dan anak-anaknya. Enam bulan kemudian bencana pun datang. Ketiga anaknya diculik oleh seekor burung burak dan diturukan pada tiga negeri. Putra sulung di Cina, putra kedua di Pagaruyung dan yang bungsu di Rum. Kemudian mereka menjadi Raja di ketiga negeri tersebut.

Kisah berikutnya lebih banyak menceritakan Putri Sunoe dengan berbagai macam penderitaan yang dialaminya, karena pergi dari istana secara diam-diam. Pada akhir hikayat ini menceritakan heroik perjuangan tujuh orang pahlawan dari satu keluarga melawan Raja Jabarah. Pahlawan tersebut adalah Bangta Sulotan, Raja Abdullah, Putri Sunoe, Putri Baren dan ketiga anak Putri Baren. Raja Jabarah dapat dikalahkan. Bangta Sulotan memimpin kembali negeri Mekkah. Berikut kita lihat beberapa bait cuplikan Hikayat Putroe Baren

Tango lon kisah Bangta Sulotan

Neukeurajeuen Makah mulia

Umu lhee thon teutap keurajeuen

Mata yoh nyan duneu raja

Lheueh nyan Bangta sinan teutap

Meusyeuhu that sigala donya

Hukom seunang ban kheun kitab

Han tom rakyat neuenaya

Areuta makmu tangan murah

Neubri seudeukah soe nyang teuka

Rakyat meukatoe ireng sajan

Bangta Sulotan gundah raya

Dalam kereujeuen han tom neudeuk

Dawok neujak-jak neudiwana

Neukeumeung jak sigala nanggroe

Muda samlakoe gundah raya

Amma bakdu teuma dudoe

Putroe Sunoe lon calitra

Putroe marit deungon judo

Tuanku ho neukeumeung bungka

Pakon han neudeuk dalam keurajeuen

Dalam ngon mideuen bek binasa

Laman tuanku tan di sinoe

Teuboh nanggroe po meukuta

Jampang na hukom peurdawaan

Pat putosan meutan meukota

Teuma marit Bangta Sulotan

Neupeugah ban bak judonya

…..

PUTROE GUMBAK MEUH, HIKAYAT

adalah hikayat yang terdiri atas 3729 bait dengan pengarang tidak diketahui (anonim). Dalam hikayat ini menceritakan Raja Hamsoikasa yang mempunyai tiga orang permaisuri, yakni Rakna Dewi, Keucani Ansari dan Syah Keubandi. Permaisuri pertama dan kedua tidak mempunyai anak karena mandul. Karena itu, ketika permaisuri ketiga (Syah Keubandi) hamil Raja Hamsoika sangat gembira. Suatu hari Syah Keubandi meminta raja untuk mencari daging rusa. Maka raja pun berangkat ke dalam hutan untuk berburu. Dalam perjalanan raja pergi berburu, Syah Keubandi melahirkan. Dia hanya didampingi oleh Rakna Dewi dan Keucani Ansari. Karena merasa iri terhadap Syah Keubandi, kedua istri raja tersebut berniat membunuh bayi raja dengan memasukkan bayi tersebut ke dalam peti dan membuangnya ke sungai. Ternyata keluarga raksasa menemukan bayi itu. Dibawa pulang dan dipelihara sebagai anak sendiri. Dua puluh tahun kemudian bayi tersebut telah tumbuh menjadi seorang gadis cantik jelita dan diberi nama Putroe Gumbak Meuh. Kecantikan Putroe Gumbak Meuh tersebut telah menyebar kemana-mana dan sampai ke telinga raja. Lalu raja melamar dan diterima. Ketika akad nikah akan dilangsungkan, Putroe Gumbak Meuh minta waktu untuk bercerita. Ternyata Putroe Gumbak Meuh adalah putri Raja Hamsoikasa. Dan terbongkar pula rahasia pelaku keji permaisuri Rakna Dewi dan Keucani Ansari yang membuang Putroe Gumbak Meuh ketika masih bayi. Mengetahui hal itu, Raja Hamsoikasa tanpa pandang bulu menjatuhkan hukuman. Kedua permaisuri dimasukkan ke dalam penjara sesuai dengan kejahatan yang dilakukannya. Raja Hamsoikasa telah berlaku adil.

PUTROE PHANG

merupakan judul antologi sastra yang berisi cerpen dan puisi, diterbitkan oleh Dewan Kesenian Aceh, cetakan pertama Desember 2002, tim penyunting Ridwan Amran, dkk. Buku setebal 214 halaman ini memuat 22 cerpen karya 22 cerpenis Aceh dan 68 puisi karya 25 penyair Aceh. Halaman i Pengantar Ketua Dewan Kesenian Aceh oleh Helmi Hass. Halaman ii—vii catatan penyunting dengan judul Keberagaman Ikthiar Menuju Damai oleh Ampuh Devayan. Halaman iii—xi daftar isi. Halaman 1—124 kumpulan cerpen. Halaman 125—202 kumpulan puisi. Halaman 203—214 biodata penulis. Sedangkan sampul luar belakang memuat puisi Ridwan Amran dengan judul Firman. Adapun cerpen-cerpen yang dimuat dalam antologi ini adalah; Hasyim KS; Bingung, Ridwan Amran; Wabah, Maskirbi; Meulu, Saiful Bahri; Utopia Jingga, Wina SW1; Nyala, Mustafa Ismail; Cermin, Nani HS; Perempuan Di King’s Cheviot, Rita Ulfia; Membingkai Hati Mama, Nurdin Supi; Surat Untuk Suami, Iskandar Norman; Kepulangan, Saiful Azmi; Cita-cita si Ali, Abd Halim Mubary; Opera Tengah Malam, Naharuddin; Ratok, Diana Roswita; Eksekusi, Muswarman Abdullah; Abu Lhok Paoh, Jamalul Hikmah; Dodoi Tua, M.N. Age; Demi Senja, Ayi Jufridar; Bendera Warna-Warni, Nab Bahany As; Malam Bertambah Luka, M Y Bombang; Dokaha, Azhari; Burung Gagak, Syaiful Bachry Asmar; Makna Sebuah Sejarah.

Pada bagian puisi antologi sastra ini memuat puisi; Ridwan Amran; Firman, Hasyim KS; Aku Ini Telah Tua Kawan, D. Keumalawati; Rumah Malaka, Mereka Mengubar Kata, Nunukan dan Wajah Negeriku, Ahm. Fauzan; Senja Akhir Musim Panas, Pada Kota Tua, Cerita Pelabuhan Tua, Wina SW1; Seteru, Lampion, Kumihama, Mohd Harun al Rasyid; Anak-anak yang Mulutnya Terkatup Bermohon Kepada Ayah dan Ibunya, Tanah Dan Air Sedang Berduka, Nyanyian Orang Utan, Kita Asyik Bicarakan Perdamaian, Mustafa Ismail; Cita-cita Paling Kekal, Melepas mati, Sigli Suatu Ketika, Rahmad Sanjaya; Menangislah Untuk Aceh, Batin, Kepada Yang Hilang (1989-2002), Zulfikar Sawang; Kerinduan Catatan Buat “C”, Lhokseumawe, Embun Pagi di Negeri Ini, Sujiman A Musa; Darussalam, Kalau Aku Ingin Berkata, Hari Ini, AA Manggeng; Lenyap-Senyap, Menjelang Agustus Tahun Ini, Kamera Musim Gugur, Doel CP Allisah; Bayang Biru, Orkesta Pakem, Ulee Kareng, Yun Casalona; Hu, Aids, Acehku Sayang, Zab Bransah; Pulang, Tentang Kita, J. Kamal Farza; Siapa yang Buat rumahku Jadi Lautan Darah?, Aku Rindu Kau tak Perlihatkan Wajahmu, Farizal Sikumbang; Kampung yang Menjelma Kabut, Sebuah Percakapan Akhir, Malam Merindu, Rinai Tangis, Ridha Nori Irianto; Nafas Dalam Jiwa, Inginmu, Diana Roswita; Wajah-wajah Matahari, Kesaksian Sajadah, Sulaiman tripa; “Kenapa Kegelisahanmu, Farida”, “Kecemasan Itu Kucemaskan”, Kekuasaan, Nab Bahany As; Tragedi Pesta Seribu Undangan, Dalam Ingatan Malam, Sajak Kepada Bunda, Nurdin F Joes; Silaturrahmi, Dua Belas Tahun Lalu, Langkawi Pagi Ini, Azhar Is Leo; Ketika Kuciptakan Gayaku Sendiri, Gejala-gejala di Ujung Zaman, Menguak Gerbang Gusar, Hasbi Burman; Selamat Tinggal Cinta, Lhok Geulumpang, Pelangi, Din Saja; Kepala Saudaraku Orang Melarat, Rumah yang Hilang (2), Warkah Sebuah Negeri yang Hancur, Mustiar Abdul Rafar; Malam Merindu, Rinai Tangis.

Q

QASIDAT AL-BURKAH

adalah sebbuah karya sastra dalam bentuk qasidah yang terkenal dan mendapat perhatian luas dari masyarakat Aceh. Sehingga pada abad ke-16 telah ada terjemahan ke dalam bahasa Melayu di Aceh. Sebenarnya karya ini adalah gubahan Syaraf al-Din Muhammad bin Sa’id bin Hammad bin Muhsin al-Busryi. Mengenai kelahiran beliau ada yang mengatakan di Busir al-Malak dan ada pula yang mengatakan di Dalas pada tahun 1213 dan meninggal dunia di Iskandariah pada tahun 1295. Awal penciptaan qasidah ini ketika al-Busri mengalami penyakit lumpuh, dan bermimpi Nabi Muhammad menyentuhnya dengan tangan dan beliaupun sembuh. Kemudian Nabi membuang burqah padanya. Beliau pun mendapat ilham untuk mengarang karya ini. Berita yang menakjubkan ini didengar oleh wazai Sultan Malik al-Zahir, Taj al-Din bin Hinna. Kemudian wazir mendengarkan qasidah tersebut, lalu ia bersumpah tidak akan mendengarkannya lagi jika tidak dengan kaki telanjang dan kepala terbuka. Hal tersebut, membuat qasidah ini dikeramatkan karena banyak oaring yang sembuh penyakitnya ketika menyentuh naskah qasidah ini. Seking masyur dan agungnya karya ini, maka dibuatlah terjemahannya kedalam bahasa Melayu di Aceh sekitar abad ke-16. Berikut ini kita lihat terjemahannya ke dalam bahasa Melayu

Nabi kami yang menitahkan ma’ruf menahikan munkar, tiada seorangpun lain daripadanya lebih baik pada mengatakan tiada dan ada daripada segala katanya. Ialah yang beroleh sempurna karunia, yang diharapkan ummatnya syafa’atnya bagi kesakitannya daripada segala kesakitannya yang tiada dapat diketahui ada.

Telah dibawanya taqallubnya kepada agama Allah, maka segala yang berlakukan dia sesungguhnya telah berpegang pada tali yang tiadakan putus adanya. Diatasinya segala Nabi Allah pada rumahnya dan pada lakunya, dan tiada dapat sekaliannya menghampiri dia pada ilmunya dan pada kemuliaannya.

Sekalian mereka itu mengambil daripada Rasulullah jua sesungguhnya secalung dari laut dan dari hujan yang mahahebat adanya. Berhenti sekalian dihadhiratnya masing-masing hingga martabatnya, setitik daripada pengetahuannya atau baris suaranya daripada segala hikmatnya.

Maka ialah yang sempurna hakikatnya dan rupanya, maka memilih dia Tuhannya yang menjadikan semesta sekalian akan kekasih-Nya. Mahasuci ia dari ‘kan disekutukan seseorang baik rupanya dan lakunya maka menikam baik rupanya dan lakunya tiada disama-samai sesungguhnya.

R

RACROZA

adalah nama samaran dari Abd. Rachman Rostam. Dia dilahirkan di Rengat, Riau Daratan, 21 Juli 1939. Mulai menulis berbagai karya sastra tahun 1965, tetapi masa kreatifnya yang menonjol disekitar tahun 1974—1977 ketika menetap di Sabang. Berpendidikan Jurusan Sastra Indonesia dan Islam Fakultas Sastra Universitas Islam Sumatera Utara (tidak tamat) dan Political Science di Islamabad College Karachi, Pakistan (tidak tamat). Pernah mengasuh ruangan seni budaya di Radio Daerah Perdagangan Bebas Pelabuhan, Sabang (1977). Karya-karyanya dalam bentuk puisi, esai, dan artikel budaya banyak dimuat di harian Suara Karya, Majalah Junior (Jakarta), Sinar Darussalam dan Atjeh Post (Banda Aceh), Bulletin Warta Sabang (Sabang), dan Waspada (Medan). Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi L.K. Ara dkk (ed), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Kumpulan sajaknya: Arus di Tengah Celah-Celah Karang Terjal (1974) dan Dengus-Dengus Nafas Air Mencurat (1975). Sebagai seorang seniman, nama Racroza (Abd. Racnman Rostam) telah diabadikan dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (2001).

Semalam Suntuk Bersama Nelayan Tua

Cahaya matahari lemah kemerahan

Menyelinap di sela-sela daun nyiur

Awan jingga berbaris beriring ke peraduan

Kuturuti punggung bukit

Menuju tepian di teluk landai

Angin laut berbisik lembut

Mengantarkan alun-alun ke dataran

Lelaki itu berdiri

Pandangan sayu ke arah laut

Lelaki itu berdiri

Kulit hitam penuh keriput

Lelaki itu terkejut

Dalam tiba daku menyapa

Kemudian,

Aku larut

Seirama tangan nelayan tua

Kuhuncam pengayuh ke perut air

Menuju satu titik melabuh kail

Dan membisu selama itu

Malam mencekam merambat larut

Di kejauhan terpencar-pencar kelipan lampu

Sesekali riak air memecah kesepian

Diselingi suara nelayan tua

Kena,

Tarik,

Dan tambah umpan

Air laut agak liar

Mengayun perahu mungil

Nelayan tua tambah gencar

Hatinya teguh tiada kembut

Walau datang sang angin ribut

Nelayan tua bersyukur dengan alam hidup

Nelayan tua bersyukur karena hidup

Tanpa ratapan

Di atas perahu teroleng-oleng

Hidupnya selesai jika laut kering

Dan bertukar rasa

Dengan langkah ringan

Di tangan tergantung jinjingan

Kuselusuri pantai landai

Angin lembut menerpa kulit muka

Matahari berwajah kuning keputihan

Senyum,

Mengerling di ufuk timur.

Freeport, 22874

RAHMAD SANJAYA

dilahirkan di Takengon, Aceh Tengah, 18 Juni 1972. berpendidikan Jurusan Teknik Sipil Sekolah Tinggi Teknik Iskandar Thani. Ia aktif dalam teater Mata dan Bengkel Musik Batas. Sajak-sajaknya dimuat dalam kumpulan sajak bersama Sosok, Nafas Tanah Rencong (1992), L.K. Ara dkk (ed), Seulawaha: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Antologi Puisi Indonesia 1997 (1997), Dalam Beku Waktu (2002). Sedangkan puisi-puisi dalam bentuk musikalisasi puisi terdapat dalam album: Himne Bagimu Ibu, Luka, Khibast 2000, dan Kehidupan (1999—2000). Pendiri Bengkel Musik Batas (1992), Komunitas Musik Merdeka (1998), dan Khibast 2000 ini, telah mengaransemen lebih 812 buah puisi, baik karyanya maupun penyair-penyair lokal, nasional, dan Malaysia. Sebagai seorang seniman yang kreatif, nama Rahmad Sanjaya tercatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (2001).

Derai Pinus Langit Penarun

Derai pinus langit penarun

membawa nyanyian sejuta gembala

kala mentari sepenggal menjari

lekuk tubuh rimba yang yang beku

Derai pinus langit penarun

mengurai sejuta kisah petuah

yang samar terbawa jerit pepohonan

lalu hilang terbawa kabut

Derai pinus di langit penarun

menangis dalam sejuta jejak

dan hanyut dalam warna-warna mimpi

yang dipercikkan riak sungai

Derai pinus langit penarun

itu langitku yangbersebuku

di antara desau angin yang diam

pohon-pohon yang membingkiskan rindu

sebagai cendera mata buat bangau-bangau pengembara.

Takengon, Maret 1993.

RAJA PASAI, HIKAYAT

merupakan karya sastra yang bersifat sejara yang tertua dari zaman Islam di nusantara. Dalam naskah diceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi antara tahun 1250 – 1350 M. Zaman ini adalah masa pemerintahan raja Mirah Silu yang kemudian masuk agama Islam dan menggantikan namanya dengan Malikul Saleh. Menurut seorang peneliti masalah Melayu W.O.Winstedt berkesimpulan bahwah Hikayat Raja Pasai ini merupakan teks tertua dan diperkirakan ditulis sebelum tahun 1534 M. Melihat isinya hikayat ini digolongkan sebagai hikayat historical dan mythological. Hikayat Raja Pasai merupakan satu-satunya peninggalan sejarah zaman Kerajaan Pasai. Hikayat ini dimulai dengan teks yang berbunyi sebagai berikut : alkisah peri menyatakan ceritera raja yang pertama masuk agama Islam ini Pasa. Maka ada diceriterakan oleh orang yang empunya cer itera ini, negeri yang dibawah angina ini Pasailah yang membawa iman akan Allah dan akan Rasul Allah. Isi Hikayat Raja Pasai ini, menceritakan mengenai unsur-unsur legalisasi susunan keluarga yang memerintah, menyatakan asal-usul yang sacral keluarga tersebut. Tetapi di samping itu, juga mempunyai fungsi didaktik. Raja yang zalim akan mendapatkan hukuman, negerinya musnah. Demikian halnya dengan Sultan Malikul-Mansur yang merampas gundik abangnya, demikian pula halnya dengan Sultan Ahmad yang cemburu terhadap putera-puteranya dan oleh sebab itu membunuh mereka. Dalam T.Iskandar (1996:151) Hikayat Raja Pasai mempunyai persamaan-persamaan yang menyolok dalam pokok pembicaraan serta susunan ayatnya dengan Sejarah Melayu. Hikayat Raja Pasai versi panjang diwakili oleh Raffles MS 67. Teks naskah ini diterbitkan dalam huruf Jawi oleh Edouard Dulaurier (Paris 1849) dan kemudian (1871). Terjemahan yang lengkap dibuat oleh Aristide Marre (1874). Teks ini kemudiannya dirumikan oleh P.J.Meat (1914) dan oleh A.H.Hill (1960).Hill membagi Hikayat Raja Pasai dalam tiga bagian:

1. Dari awal sejarah Pasai hingga dengan disebut Sultan Malikul Mahmud dan naiknya taktah Sultan Ahmad

2. Kerajaan Sultan Ahmad dan riwayat putra Tun Beraim Bapa.

3. Riwayat Putri Gemerincang, Putri Raja Majapahit yang jatuh cinta pada Tun Abdul Jalil, Putra Sultan Ahmat, dan Pasai dikalahkan oleh Majapahit.

Berikut ini cuplikan Hikayat Raja Pasai intinya yang terdapat dalam Sejarah Melayu Rafles MS 18 (dalam T.Iskandar, 1996:155)

Ada Merah dua bersaudara diam dekat Pasangan. Asal mereka dari Gunung Sanggung, yang tua Merah Caga namanya, yang muda Merah Silu. Merah Silu menahan lukah dan kena gelang-gelang yang direbusnya. Gelang-gelang itu menjadi emas dan buihnya menjadi perak. Terdengar pada Merah Caga bahwa Merah Silu makan gelang-gelang, lalu ia marah hendak membunuh adiknya. Mendengar ini Merah Silu lari ke Rimba Jerun. Merah Silu mengemasi orang di sana dan mereka mengikut katanya. Pada suatu hari Merah Silu pergi berburu dengan anjingnia Si Pasai yang menyalak tanah tinggi. Merah Silu naik ke atas tanah tinggi itu maka dilihatnya semut sebesar kucing lalu dimakannya. Pada tempat itu dibuatnya negeri yang dinamai Samudera, artinya semut besar.

Pada zaman Rasulullah beginda bersabda pada segala sahabat, pada akhir zaman ada sebuah negeri di bawah angin, Samudera namanya. Apabila kamu dengar khabar negeri itu maka segera kamu pergi ke sanadan bawa isi negeri itu masuk Islam. Di negeri itu banyak wali Allah akan jadi; seorang fakir Ma’abari perlu dibawa. Kemudian terdengar pada isi negeri Mekkah namanya Samudera. Syarif Mekah mengirim Syaikh Ismail dengan sebuah kapal dan segala perkakas kerajaan berlayar dan ia singgah di Ma’abari. Setelah sampai di Ma’abari, Syaikh Ismail berlabuh. Raja negeri, Sultan Muhammad, anak-cucu Abubakar as-Sidik, merajakan anaknya, memakai pakaian fakir dan ikut dengan kapal menuju Samudera. Pada mulanya mereka sampai di Fansur dan mengislamkan rakyat di sana. Kemudian mereka sampai di Lamiri dan rakyat di sanapun diislamkan. Sesudah itu mereka berlayar lagi dan sesampai di Haru mereka Islamkan orang di sana. Ketika mereka bertanya dimana negeri Samudera, dijawab mereka telah lalu serta mereka balik kembali. Sesampai di Perlak mereka Islamkan pula orang di sana dan akhirnya mereka tiba di Samudera.

Setelah sampai di Samudera, Merah Silu diislamkan. Sesudah itu ia bermimpi Rasulullah menyuruh ngangakan mulutnya dan meludahi ke dalamnya. Ketika terjaga diciumnya tubuhnya berbau narwastu. Setelah siang fakir naik ke darat membawa perkakas kerajaan dan Merah Silu dinamai Sultan Malikul-Saleh. …

RANTO, HIKAYAT

adalah karya sastra dalam bentuk hikayat yang dikarang oleh Leube Isa. Karya ini merupakan teks berbahasa Aceh dan telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh G.J.W. Drewes pada tahun 1980 dengan judul Two Achehnese Poems, terjemahan naskah Drewes bukan bersumber dari naskah asli, akan tetapi terjemahan dari salinan naskah asli yang ditulis oleh seorang juru tulis Snouck Hurgroje yang bernama T. Muhammad Nurdin. Sedangkan Dr. Snouck Hurgronje juga membicarakan hikayat lama ini dalam bukunya edisi Inggris The Achehnese.

Leube Isa yang dikenal juga dengan nama Leube Bimbi tidak mencantumkan tahun penulisan pada karyanya ini. Beliau berasal dari Bimbi daerah Pidie dan kemudian bermukim di Keulibeuet. Di Keulibeuet inilah beliau lebih dikenal dengan nama panggilan Leube Bimbi. Isi hikayat ini, secara keseluruhan menceritakan kehidupan petani di Aceh Barat, yang pada masa itu disebut dengan Ranto. Besar kemungkinan peristiwa yang digambarkan dalam karya ini juga dialami oleh pengarang sendiri, karena para petani dan pengarang merupakan perantau yang meninggalkan sanak keluarga mereka di kampung halaman. Menurut pengarang tujuan seorang laki-laki pergi merantau dan menetap di negeri orang selama bertahun-tahun tidak lepas dari dua hal, yakni menuntut itlu dan mencari nafkah. Selain karena dua hal di atas, juga disebabkan oleh faktor-faktor lain diantaranya percekcokan dengan istri, ingin hidup bebas karena di kampung halamannya terikat oleh ketentuan-ketentuan adat dan agama.

Dalam hikayat ini juga digambarkan seorang perantau yang mendapat kesulitan di negeri orang. Tapi apa daya hendak pulang merasa malu karena belum berhasil. Namun pada intinya hikayat ini merupakan nasehat untuk suami istri. Seorang istri yang ditinggalkan suaminya haruslah dapat menahan diri dari godaan duniawi. Jangan pernah menyeleweng dengan laki-laki lain. Demikian juga halnya dengan sang suami, jangan sekali-kali melupakan anak dan istri, carilah nafkah yang halal dan segeralah pulang. Selain itu, sebagai seorang anak juga jangan melupakan jasa orang tua. Berikut kita lihat cuplikan beberapa bait dari Hikayat Ranto.

Bismillahirrahmanirrahim

Nyoe keu isem ion boh di sinoe

Subhanallah walhamdu lillah

Tuhan nyang sah qadim sidroe

Maha suci deungon puji

Tuhanku Rabbi wajeb sidroe

Suci ngon puji sabet bak Tuhan

Laen nibak nyan geuceula dumsoe

….

Di lon teelan kupeuingat

Lon nyoe sisat malam uroe

Tameulakee bak sunggoh ate

Ie mata ile sajan meutaloe

Taleueng jaroe tengah u langet

‘Arasy taniet rab geutanyoe

Kareuna ‘arasy rahmat sinan

Firman Tuhan tadeungo jinoe

Seupeurti ban firman Allah

Bek taubah harap geutanyoe

Ud’uni astajib lakum

Tuhan neukheun keu geutanyoe

Meujimohon hamba bak kee

Peu jilakee kubari jinoe

Firman Tujan hana khali

Hadih Nabi sajan meutaloe

….

RASYIDAH S

dilahirkan di desa Sawang Manei, Jeuram (Aceh Barat) tahun 1953. Berpendidikan Pendidikan Guru Agama 6 Tahun, Meulaboh. Mulai menulis berbagai karya sastra sejak tahun 1977, karya-karyanya banyak dimuat di Atjeh Post (Banda Aceh), Majalah Dunia Wanita dan Waspada (Medan). Tahun 1976—1978, dia memperlihatkan kreatifitasnya dalam tulis menulis dengan memenangkan berbagai jenis perlombaan (prosa, puisi, dan pidato) se- Kabupaten Aceh Barat. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi L.K. Ara dkk. (ed), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Nama Rasyidah S tercatat sebagai seorang seniman dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (2001).

Sekitar Kita

Butir-butir embun yang menetes

Penawar perbukitan yang kering

Mega-mega menggelantung

Di reranting pinus yang hangus

Hatipun sedu meratap

Melihat kepunahan hutan

Sembari menatap keluasan lembah

Manakah lagi dataran hijau bumantaramu yang indah?

Sang Kala pun membungkaskan kemampuan manusia

Menata lingkungan dari apa yang ada

Apakah kita masih berpangku tangan

Atau terus bersaing mengejar keterbelakangan

Wihni Bakong, 29 Agustus 1990

REMUK

merupakan kumpulan cerpen HAM. Diterbitkan oleh Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB) pada tahun 2000. Dieditori oleh Mohd. Harun al Rasyid, Syaiful Bahri, Nurdin F. Joes, Wiratmadinata, dan AA Manggeng. Kumpulan cerpen ini memuat 33 cerpen dari 15 cerpenis Aceh, yaitu Ridwan Amran dengan cerpen Hantuhale, Hasyim KS cerpen Mereka yang Tersungkur, Maskirbi cerpen Marto, Musmarwan Abdullah cerpen Desah Dari Bukit Pembantaian, Lalu Kutulislah Cerpen Ini, Saiful Bahri cerpen Alina, Kosong-Kosong, Naharuddin cerpen Eksodus, Nyaklam, makcik, M.N. Age cerpen Perang, Rencong Pawang Him, Proyek Hantu, Penyeberang, Sebuah Musim Datang dan Berlalu, Ayi Jufridar cerpen Cuak, Ichwanul F. Nasution cerpen Doa Orang sebelah, Tragedi, Arafat Nur cerpen Gadis yang Menanti, Matinya Seorang Letnan, Gerilya, M. Rizwan Almadridi cerpen Ruangan Maut, Lubang Maut, Matahari Redup, Penyeberangan, Orang Kuat, Muhadar Yusuf R cerpen Bila Aku Jadi Tentara, Abdul Halim Mubary cerpen Skenario Tentang Saskia, Mahasiswa…Mahasiswa, Aku Akan Pulang Ibu, Harry AV cerpen Karnaval, dan C. Harun al Rasyid cerpen Kuping. Pada kulit luar bagian belakang kumpulan cerpen ini terdapat cuplikan puisi Rencong karya Fikar W. Eda. Dalam Sekapur Sirih dari penyunting kumpulan cerpen ini bertemakan hak asasi manusia (HAM). Telah terjadi berbagai pelanggaran terhadap hak-hak insani yang paling hakiki dan mendasar di Indonesia. Aceh yang sejak awal kemerdekaan merupakan provinsi “penegak” Indonesia menjadi daerah yang paling teraniaya selama berpuluh-puluh tahun. Ribuan orang telah mati sia-sia dan hilang tanpa jejak.

REZA INDRIA

penyair kelahiran Lam U, Aceh Besar, 16 Maret 1981. Aktif menulis karya sastra, baik berupa puisi, cerpen, maupun essai. Karya-karya telah dimuat dalam berbagai media massa baik tingkat lokal maupun nasioanal. Disamping itu, karya-karyanya tersebut juga dimuat dibeberapa jurnal dan antologi bersama yang terbit di Banda Aceh. Keseriusannya dalam penulisan kreatif terutama puisi, telah menembus level nasional. Hal ini dibuktikan dengan dimuat beberapa puisinya di Kompas minggu kedua April 2005. Saat ini bersama rekan-rekan muda pengiat seni di Aceh, aktif di Komunitas Tikar Pandan dan Koordinatoriat Bangkit Aceh. Berikut salah satu puisinya yang dimuat dalam antologi bersama Ziarah Ombak (Lapena, 2005)

Sajak Buat Kupu-Kupu Merah Jambu

Usai deru alunan bergulung

Dinding air yang lambung

Himne kematian bersenandung

Di kampung kita yang murung

Ke mana kau hanyut perempuanku?

Perawan berbaju merah jambu

Dalam mimpi menjelma kupu-kupu

Di puing kampung kita yang bisu

Kupu-kupu merah jambuku…

Saat itu telah tiba rupanya

Saat taut harus patah

Oleh kuasa pemisah

Kupu-kupu merah jambuku…

Dalam amuk gelombang rusuh

Walau pemalu

Kau pasti menumpang bahtera Nuh

Kupu-kupu merah jambuku…

Kuucap tersendat sendu

Selamat jalan

Berlayarlah ke muara Tuhan

Banda Aceh, 29 Desember 2005

RIANDA

adalah nama samaran dari Asriani. Dia lahir di Aceh Barat, 20 April 1966. Menulis puisi dan menggeluti dunia teater sejak duduk di bangku SMP di Aceh Barat. Berpendidikan Jurusan Komunikasi Fisipol Unida. Sekarang mengabdikan dirinya di almamater tercinta, mengaku untuk sementara tenggelam dengan impian-impian besarnya tentang masa depan. Namun jiwa seninya mesih tetap menyala terbukti puisinya terus mengalir walau hanya satu-satu. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi bersama L.K. Ara dkk. (ed), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995), dan Kemilau Musim: Kumpulan Penyair Perempuan Indonesia (2003). Sebagai seorang seniman, nama Rianda (Asrini) telah dicatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (2001).

Alur Sungai Pinang

Dinginnya mencekam, menghentak, menikam

segala pertimbangan

melepas keangkuhan hingga tak ada lagi kata

yang terucap meski lewat puisi

namun bisakah berharap derunya merengkuh

segala impian

yang dititip bersama waktu

lalu kita akan berlayar di atasnya

bersama kidung yang pernah kita dendangkan

  • Alur Sungai Pinang sebuah desa di dekat Blang Pidie Aceh Selatan
  • Pantai Selatan, 1994

RIDWAN AMRAN

aktif menulis menulis cerita pendek, puisi bahkan novel di tahun 1970. karyanya banyak dimuat di harian terbitan Medan dan Jakarta. Dua buah novel yang dihasilkannya dalam tahun itu adalah: Catatan-catatan seorang Mostess (majalah Mayapada Jakarta. 1971), dan Berikan Aku Cinta (Harian Umum Palapa, 1974). Selain menulis karya sastra, ia juga aktif di bidang drama. Ditahun 1976 ia dicekal, kemudian menjadi Pegawai Negeri di lingkungan Departemen Perhubungan.

Firman

telah Kusumpah padamu tentang hari Kiamat

matahari dan bulan dihimpun gelap

bumi berguncang dan gunung gunung porak poranda

seluruh laut mengamuk dalam deru sangkakala

seluruh kehidupan lumat dalam debu

rata

disanalah padang berbangkit

kekuasaan mana lagi yang kamu dustakan

ROSNI IDHAM

dilahirkan di desa Sawang Manee, Aceh Barat, 6 Maret 1953. Dia adalah salah seorang penyair wanita terkemuka di Aceh. Mulai menulis puisi sejak tahun 1978, saat jadi penyiar radio Pemerimtah di kotanya, karya-karya Rosni Idham berupa puisi, cerita pendek, dan esai dimuat di berbagai media massa terbitan; Aceh, Medan, Jakarta, dan Malaysia. Tahun 1988 ia menerbitkan kumpulan puisi tunggalnya “Sawang Manee Erat Sekejab”. Selain itu, puisi-puisinya terangkum dalam kumpulan puisi bersama, sepert; Konde (1982), Kemah Seniman Aceh (1990), Nafas Tanah Rencong (1992), Titian Laut (Malaysia), Puisi Indonesia (1995), L.K Ara dkk. (ed), Seulawah: Anatologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995), Musim Bermula, dan Kemilau Musim: Kumpulan Puisi Penyair Perempuan Indonesia (Himpunan Perempuan Seni Budaya Pekanbaru, 2003). Perempuan yang namanya tercatat sebagai seorang seniman dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (2001) ini telah mengabdi sebagai pegawai negeri selama 20 tahun, sekarang dia memilih pensiun dini. Aktif di berbagai organisasi, politik dan bisnis. Sebagai seorang yang kreatif dalam dunia seni dia sering tampil dalam berbagai event untuk membaca puisi atau sebagai pemakalah dalam berbagai seminar. Sekarang penyair ini bermaustin di KPR BTN NO. 11—12 Lapang Meulaboh, Aceh Barat. Telp/faks (0655) 22116.

Gema Telah Sepi

Entah berapa dana terhimpun

Mengukir rumah Mu

Berhektar tanah dihibah

Membangun rumah dengan megah

Tiangnya serumah anak Adam

Menara menjulang ke awang

Seekor elang menukik

Setiap jadwal datang

Suaranya memarau

Tak ada yang hirau

Rumah-Mu berdiri tegak

Tak berpenghuni

Seekor elang menukik

Gema telah sepi

Juni, 87

RUSLI A. MALEM

dilahirkan di Lhok Nibung, Simpang Ulim (Aceh Timur), 27 November 1942. Pendidikan terakhir Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (tidak tamat). Mulai menulis karya sastra sejak di bangku Sekolah Menengah Pertama hingga kini beberapa kumpulan puisinya telah diterbitkan, diantaranya; Luka Tanahair (1967), Nun (1981), dan Nyanyian Laut (1984). Selain itu, puisi-puisinya juga dimuat dalam antologi bersama; Terminal (ks+kc bersama Djohan Nasution, Aldian Aripin, dan lain-lain, 1971), Ajip Rosidi (ed.), Laut Biru Langit Biru (1977), Linus Suryadi AG (ed.), Tonggak 3 (br, 1987), dan L.K Ara dkk (ed.), Seulawah: Antologi Sastra Aceh sekilas Pintas (1995). Selain menulis berbagai karya sastra, dia juga aktif dalam seni pertunjukan teater. Tercatat pernah aktif dala Teater Nasional Medan dan Dewan Kesenian Medan. Kini bekerja di Kanwil Departemen Pendidikan Nasional Sumatera Utara, di samping menjadi redaktur kebudayaan harian Mimbar Umum. Sebagai seorang seniman nama Rusli A. Malem tercatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (Kompas, Jakarta, 2001).

Beri Aku Sepantun Hening

Jangan berikan padaku kapak buat menetak

beri aku air atau sesuatu yang mengalir

seperti sungai berliku di hulu menyatu ke muara

menghayutkan jarak sesuatu yang tak tersimak luput dari mata

siapa mengapak hutan jadi gurun

siapa menyamun kata tersesat sia-sia

jangan berikan padaku arak buat melupakan sesuatu yang retak

beri aku sepantun hening biar kutimbun berjuta denting

tuhan biar kau berikan sejuta pedih tetap kucari kasih-Mu

1982

S

SAIFUL BAHRI

dilahirkan di Banda Aceh, pada tahun 1970. Menyelesaikan pendidikan di Institut Ilmu Pemerintahan Jakarta, Jurusan Politik Pemerintahan (tamat 1998). Sekarang menjadi pegawai pada Bagian Humas Pemda Kota Banda Aceh. Selain itu juga dipercaya menjadi salah seorang pengurus Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB). Dalam dunia kepengarangan, Saiful Bahri lebih dikenal sebagai cerpenis dan novelis walaupun ia juga menulis dalam bentuk tulisan yang lain. Karyanya telah tersebar diberbagai media massa lokal maupun media massa terbitan nasional dan sebagian besar telah diterbitkan. Sebuah novelnya “Terbuai Mimpi” telah diterbitka Balai Pustaka (1991). Sedangkan karyanya dalam bentuk cerita pendek terhimpun dalam Titian Laut I dan II, L.K. Ara dkk (ed.), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995), Antologi Cerpen Remuk, dan Antologi Sastra Putroe Phang (2002).

SALI GOBAL

lahir tahun 1922 di kampung Kung, Takengon, Aceh Tengah. Pernah sekolah di Volkschool (SD) dan sekolah Muhammadiyah di Takengon. Di zaman Belanda masuk vernielingen corp dan di zaman Jepang masuk Gayugun selama 2 tahun. Ketika berlangsung perang kemerdekaan RI ia jadi tentara API. Pada tahun 1946 menjadi komandan Veteran (BTL 2) di Takengon.

Dunia seni ia geluti sejak usia remaja. Mula-mula belajar seni Syaer Gayo, sebuah jenis kesenian yang bersifat religius. Kemudian ia terjun kedunia seni Didong, yang berlanjut dengan dukungan grup “Kemara Bujang”.

Syair-syair Sali Gobal telah terkumpul dalam dua antologi, “Kemara” (1979) dan “Manuk” (1979) diterbitkan Depdikbud Proyek Penerbitan Buku Bacaan Dan Sastra Indonesia dan Daerah. Penyair yang bersyair dalam bahasa ibunya yakni bahasa Gayo, telah mencipta ratusan puisi. Lebih dari melahirkan syair ia juga mencipta lagu untuk setiap syairnya itu. Di kampungnya Kung, Takengon, ia mempunyai grup yang disebut “Kemara Bujang”. Bila mentas biasanya ia tampil besama grupnya itu. Dan setiap mentas biasanya berlangsung sampai pagi. Dalam hal seperti itu telah menjadi tradisi di daerah Gayo, kesenian jenis yang disebut Didong itu dipertandingkan antara dua grup dan berlangsung hingga pagi. Grup Kemara Bujang mempunyai pengalaman dipertandingkan dengan grup “Lakkiki”, grup “Siner Pagi”, grup “Dewantara”, grup “Tri Buana”. Beberapa puisinya telah pula diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dan dimuat dalam “Seulawah, Antologi Sastra Aceh” (1995) yang diterbitkan Yayasan Nusantara. Serta sejumlah syair ini pula telah di dendangkan oleh M.Din dan Hidayah dalam album Mengenang Sali Gobal yang diluncurkan tahun 1997.

Sebuah syair Sali Gobal yang amat popular berjudul “Tanoh Takengen” (Tanah Takengon). Dalam syair itu ia bercerita tentang kota Takengon dan sekitarnya. Ia membayangkan ada remaja Takengon pergi merantau, menuntut ilmu lalu kelak kembali membangun kota Takengon. Berikut petikannya (terjemahan),

Tanah Takengon sayang kau tinggal

Jauh terpencil tak lagi dihafal

Tunggulah tunggu

Yakinlah selalu

Dagang berkemas pergi

Belajar sungguh-sungguh untukmu nanti

Tanah Takengon kulihat lagi

Kuingat selalu dalam masa berganti

Tanahmu subur

Semoga makmur

Gayo-ku luas sampai Alas

Dusun bersusun berpentas-pentas

Kabupaten Takengon kuat bersatu

Seibu sebapa ke satu tuju

Sali Gobal bicara dalam banyak hal. Mulai dari keindahan alam, kehidupan rakyat sehari-hari sebagai petani, tentang hutan, dan tentang modernisasi. Suasana dalam hutan rimba ia tampilkan dalam baris-baris sebagai berikut (terjemahan),

Jerit sudah menjerit kayu sudah terjepit

Runduk diam tajam duri semakin tajam

Menangis pohon kering tak menyemak ranting

Tumpah di seluruh tebing di pangkuan tubuhpun rebah

Jatuh cabang rapuh pergi dilarikan badai

Terhempas rubuh ke bumi

Yang rapuh patah dan patah

Berangkat bersama jatuh runtuh bersama

Tekejut yang rapuh duri tak bertepi

Berbaris duri dadap

Siap bertopi baja

Banyak

Banyak

Banyak

Gempa menggoncang akar perdu pun renggang

Putus akar besar terbujur jadi tunggul

Dunia mencipta lakon batu jadi penghalang

Terbujur pepohonan tinggallah tangisan

Syair-syair Sali Gobal yang mengandung simbul terdapat pula dalam puisi berjudul “Jejari” (Jari) dan “Roda” (Kincir). Puisi “Jejari” menampilkan dialog antara jari yang satu dengan yang lainnya. Sedang puisi Kincir bicara tentang nasib manusia sebentar ada diatas, kemudian pada gilirannya berada di bawah.

SALMAN YOGA

adalah seorang sastrawan Aceh Tengah yang karyanya berbentuk puisi dan esai. Salman Yoga lahir pada tanggal 5 Juli 1973 di Takengon, Aceh Tengah. Menyelesaikan pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Salman Yoga dipercaya menjadi Ketua Sanggar Seni Lungun dan Sanggar Seni Meukuta Alam Yogyakarta, serta aktif dalam Himpunan Sastrawan Muda Indonesia, Yogyakarta. Karyanya berupa esai dan puisi telah dipublikasikan di berbagai media massa lokal maupun nasional. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi Luka Nyeri (1994), Percikan Air Tawar Danau Laut Tawar (1998), Gendewa (1999), Aceh Mendesah Dalam Nafasku (1999), Embun Tajali (2000), Antologi Puisi Geguritan (2000), Dalam Beku Waktu (2002) serta dalam bentuk kaset album baca puisi Langit pun Mulai Merapat (1997), dan Mencintai Aceh Dengan Asap Ganja (1999). Sedangkan kumpulan sajaknya dalam bentuk antologi tunggal adalah Sajak-Sajak Rindu (1995). Pria yang namanya tercatat sebagai seorang seniman dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (2001) ini, sekarang menjadi staf pengajar mata kuliah Adat dan Kebudayaan di Universitas Gajah Putih, Takengon. Menjabat Wakil Ketua I Dewan Kesenian Aceh Tengah (DKAT) dan Ketua Umum Himpunan Seniman Muda Gayo (HSMG) Takengon, serta redaksi Tabloid Gayo Media. Kini Salman Yoga bermaustin di Asir-asir Atas Gg Timbangan No. 70 Takengon, Aceh Tengah.

1999 Aceh

Banda Aceh berbaring

dua juta manusia berjama’ah

ke halaman rumah Allah

bersahutan menyebut-nyebut Adam sampai Muhammad

Umar bin Khatab sampai Ali bin Abuthalib

berduyun berlari-lari dari

safa pedalaman ke marwa pesisir

tanah Iskandar Muda

Banda Aceh berbaring

melagukan hikayat Prang Sabi Chik Pantee Kulu

mengepal tangan heroisme Teungku Umar, Cut Nyak Dhien

kehendak pembebasan Teungku Daud Beureueh, Teungku Ilyas

Labe

Teungku Hasan Tiro

dari kesadaran pengurasan sari pati tanah

pembunuhan terselubung dan terang-terangan di muka

hitam putih sejarah yang tua

Banda Aceh berbaring

menggigit dan mengutuk dengan bijaksana

Indonesia tersentak saksikan porak berontak

dengan takbir dua juta jenis suara dari empat juta

yang seakan tengah berdo’a di rumah-rumah

Tapi badak, badak semakin disorak semakin menebal

sisik kulitnya

semakin memanjang dan tajam ujung culanya

1999

SAMAN

adalah kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di daerah Aceh Tenggara (daerah Gayo). Saman dicipta dan dikembangkan oleh seorang tokoh Islam yang bernama Syeikh Saman. Kesenian Saman merupakan perkembangan dari Pok Pok Ane—merupakan kesenian dengan cara menepuk tangan sambil bernyanyi. Oleh Syeikh Saman Pok Pok Ane diubah dan diperindah dengan menambahkan bermacam-macam variasi, di samping tepuk tangan ditambah dengan tepuk dada, paha dengan tangan kanan dan kiri berganti-ganti, sehingga lahirlah Saman Umah Sara, Saman Menjik, dan lain-lain. Syair dalam Saman banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab dan Bahasa Aceh. Lagu dan Syair diungkapkan secara bersama dan terus-menerus, oleh karena itu Saman dimainkan khusus bagi laki-laki dengan memakai pakaian adat. Panyaijian Saman biasanya dipentaskan dengan cara dipertandingkan yang terdiri dari kelompok tamu dan kelompok sepangkalan. Ada beberapa gerakan dalam tarian Saman, yaitu: (1) Rengum adalah pembukaan dari tarian Saman yang berbentuk semacam tiruan bunyi, begitu berakhir langsung disambung secara bersama-sama. (2) Salam pada Saman terdapat sesudah Regum. (3) Ulu ni lagu atau permulaan tari ada bermacam-macam. Biasanya selang seling nomor genap dengan nomor ganjil. Kemudian barulah masuk kepada gerak tari pertama. (4) lagu-lagu (gerak-gerak tari). (5) Anak ni lagu adalah gerak tangan yang ringkas dan pendek. (6) Lagu I berarti gerak tangan untuk sekali ulang, yang panjang atau lama waktu untuk melaksanakannya. Pada pelaksanaan lagu terdapat pula nyanyian yang berbentuk sek atau saur.

SANJAK

merupakan seni sastra tradisional Aceh dalam bentuk puisi. Dalam masyarakat Aceh, bentuk sanjak ini dikategorikan kedalam bentuk Ca’e atau narit meusantok. Dalam tradisi masyarakat Melayu barangkali sanjak ini dapat disamakan dengan syair. Perbedaanya terletak pada susunan bait dan tipografi. Sanjak tidak mengenal bait dan lariknya dua kali lipat panjangnya dari larik syair atau pantun. Larik sanjak mempunyai tanda perohan di tengahnya, dalam bentuk lisan dapat diketahui pada irama ucapan atau pada satuan gagasannya. Di samping itu, paroh larik dapat juga ditandai oleh persajakannya yang berkorespondensi dengan tengah parohan kedua. Tentang sistem persajakan ini dapat dilihat dalam contoh; satu garis miring (/) tanda kaki larik, dua garis miring (//) tanda rima, dan koma (,) tanda paroh larik.

Hantom / di gob / na di / geutanyoe //, saboh / nanggroe // dua / raja //

Saboh / jalo / dua / keumudoe //, teuntee / paloe // ache / masa //

Contoh di atas, terlihat tanda koma (,) memisahkan kedua paroh larik sanjak tersebut, dan satu garis miring (/) menunjukkan jumlah kaki larik dalam satu baris (larik), sedangkan dua garis miring (//) menunjukkan pada persajakan dalam paroh larik dan pada akhir larik. Persajakan dalam paroh larik biasanya bervariasi, tetapi persajakan pada akhir larik, untuk karya-karya klasik selalu berakhiran sama, biasanya dengan bunyi vokal –a.

Setiap kaki larik minimal berisi dua suku kata, maksimal tiga suku kata, tergantung pada buhu, jumlah suku kata dalam larik. Biasanya sanjak yang dipakai dalam karya hikayat berbuhu 16, 18, atau 20, lebih atau kurang dari itu akan suka mengiramakannya, sebab hikayat selalu diaktualisasikan secara secara berirama kepada khalayak penikmatnya. Di luar kepentingan hikayat, sanjak terdapat juga yang berbahu 10, 12, atau 14, biasanya pada pribahasa atau teka-teki.

SARAKATA

adalah dukumen tertulis yang mengandung keputusan berkekuatan hukum, yang berasal dari Sultan Meukuta Alam atau Sultan Iskandar Muda (1607—1636) dan Syamsul-Alam (1726—1727) (Snouck, Penerjemah: Sutan Maimoen, 1996:4). Adapun peraturan-peraturan tersebut menguasai segala segi kehidupan yaitu: (1) Usaha untuk memperluas kekuasaan Sultan dengan memberikan wewenang tertentu kepada raja pelabuhan, untuk mengatur pergantian pewaris takhta dari kepala negeri lain (yang sebenarnya sudah diatur dalam peraturan kerajaan sebagai hak mutlak); ikut campur dalam persoalan antara kepala atau antara warga berbagai kepala; tentang kepentingan orang asing. Pendeknya, usaha yang sangat moderat untuk memusatkan wewenang dengan maksud menjadikan sultan primus inter pares (yang pertama di antara semua); menetapkan cara penghormatan yang secara lahiriah mengingatkan hubungan antara sultan dan para kepala. (2) Aturan untuk lebih setia mematuhi hukum Islam. (3) Aturan tentang perdagangan yang terbatas di dan sampai ibu kota bagian keuntungan bagi para pegawai negeri yang berkedudukan di ibu kota yang diperbolehkan raja pelabuhan dari perdagangan dan tentang upacara di istana, perayaan hari besar agama dan sebagainya (ibid).

Menurut (Van Langen, alih bahasa Aboe Bakar, cetakan keempat 2002) Sarakata (surat keputusan) dikeluarkan oleh Sultan Syamsul Alam, sedangkan Adat Meukuta Alam dikeluarkan oleh Sultan Iskandar Muda. Berikut ini kita lihat peraturan-peraturan Sultan Iskandar Muda dan Sarakata Sri Sultan Syamsul Alam (dalam lampiran ibid);

Peraturan Di Dalam Negeri Aceh Bandar Dar As-Salam Disalin Deri Pada Daftar Paduka Sri Sultan Makuta Alam Iskandar Muda

1. Jikalau siapa juga yang hendak diangkat jadi Panglima Sagi atau Hulubalang dalam sagi di mana tempat yang biasa dalam tiga sagi Aceh atau ta’aluk jajahannya maka adalah ahli waris hulubalang yang meninggal itu mufakat dengan segala orang tuha-tuha yang berakal pada tempat itu seperti keuchik, wakil dan imam serta ulama mesyuarat.

2. Jikalau sudah tetap dapat dalam ahli warisnya maka berkenduri berkumpul segala hulubalang yang hampir padanya diangkat serta ditaroh gelarnya sudah mu’tamad.

3. Maka dibawa menghadap raja serta membawa satu dalung terisi dalamnya dengan persembahan tetapi ditilik hal ka’adaan hulubalang itu jikalau Panglima Sagi atau Orang kaya Maharaja Lela hulubalang dalam sagi atau yang sama derajatnya hulubalang anam atau yang sama derajatnya hulubalang dua belas atau yang sama derajatnya.

4. Dipersembahkan ka bawah duli hadlerat paduka sri sultan di atas balai Bait ul-Rahman menyambut serta memberi peraturan yang biasa adapt yang melazamah dalam negeri Aceh Bandar Dar assalam dengan memberi kehormatan.

5. Panglima Sagi atau Orang Kaya Maharaja Lela dipasang meriam 21 kali, Hulubalang dalam sagi atau sama derajatnya dipasang meriam 12 kali. Adapun Sri Maharaja Indra Laksamana dan Raja Udahna Lela dipasang meriam 9 kali. Adapun Hulubalang Anam Bintara Gighen dipasang meriam 9 kali yang lagi lima dipasang meriam 5 kali. Adapun Hulubalang dua belas atau sama derajatnya dipasang meriam 7 kali.

6. Adapun Panglima Sagi atau hulubalang dalam sagi tiada memakai cap halilintar karena ia menerima pusaka ahli warisnya boleh bertanya melainkan lain jabatan dikurniakan oleh raja maka iya memakai cap halilintar.

7. Adapun Hulubalang didalam ta’aluk jajahannya atau didalam tanggungan sultan memakai cap halilintar seperti disebut di bawah ini kami beri tahu pada sekalian hulubalang, datu, imam, kejuruan, pang