Arsip untuk Juni, 2008

Editor : Mukhlis A.Hamid – Medri Osno / DKB, 2008

Catatan : Buku Leksikon Sastra Aceh ini kami turunkan dalam 6 bahagian [Humas A.S.A]

A

AA MANGGENG

adalah sastrawan Aceh yang terkenal karena bakat seninya yang serba bisa baik sebagai; aktor panggung teater, sutradara, dan sekaligus penyair. Dia dilahirkan tanggal 10 Februari 1964, di Nanggroe Aceh Darussalam. Berpendidikan SPK spesialis jiwa, Bogor (1988), kini bekerja di Rumah Sakit Jiwa Banda Aceh.

Tulisan-tulisannya telah tersebar diberbagai media massa di Aceh, Medan, dan Jakarta, seperti; The Jakarta Post, Waspada, Serambi Indonesia, dan Dunia Wanita. Karyanya terkumpul dalam L.K. dkk (ed.) Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995), antologi puisi dan lukisan Dalam Beku Waktu (2002), antologi sastra Putroe Phang ( 2002).

Penyair yang sehari-hari bekerja sebagai Sekretaris Eksekutif di Dewan Kesenian Aceh ini (2000—2004), juga aktif di teater Mata dan dipercaya sebagai koordinator program. Selain itu juga dipercaya sebagai editor beberapa buku sastra seperti; antologi puisi HAM Keranda-Keranda (ELSAM Jakarta), Kumpulan Cerpen Remuk (DKB), Kumpulan Essai; Takdir-Takdir Fansury (DKB). Sekarang bertempat tinggal di jalan Kakap nomor 25 Banda Aceh-23216, telepon 0651 28960, 25886.

Yang Hilang di Musim Badai

Aku cari engkau saudaraku yang sudah lama tidak kembali

apakah musim badai tanah rencong ini

telah mendekapmu di penjara-penjara rahasia

suara tidak selalu menjadi kata, saudaraku

untuk itu ingin kupastikan nurani atas kehilanganmu

apakah engkau mendengarnya dari sukma bumi

yang bernafaskan air mata

saudaraku,

hujan dan cahaya kunang-kunang

memberi isyarat duka cita atas kepergianmu

jangan kuburkan kebenaran, saudaraku

hanya karena keterpaksaan

bersuaralah meskipun tak jadi kata

kami mendengarnya di musim gugur daun-daun muda

berumahkan pepohonan tumbang yang tercabut akarnya

pastikanlah saudaraku

jika engkau bersama Tuhan menunggu pengadilan akhir riwayat

tinggal risau kami di jalan-jalan penuh gelagat

saat manusia memutuskan keadilan di meja hijau

adakah suaramu bergema dari kubur rahasia

sebab ada pertanyaan yang belum terjawab:

“berapa harga kemerdekaan dibanding nyawa?”

Aceh, 1991

ABADI AG

dilahirkan di dataran tinggi tanah Gayo, tepatnya di daerah Linung Bulen I, Bintang, Kecamatan Bintang, Takengon, Aceh Tengah, pada tanggal 14 September 1968. Pendidikan secara formal dari SD samapai SMP ditamatkan di Bintang. Kemudian melanjutkan pendidikan di PGAN Takengon. Alam dataran tinggi tanah Gayo yang dingin dan indah telah membentuk jiwa seni Abadi Ag. Demikian juga halnya kesenian didong yang telah dikenalnya dari kecil juga ikut membantu bangkitnya jiwa seni dari dalam dirinya. Ikut grup didong Bintang Asli tahun 1995. Grup Muger mengeluarkan album berjudul Sebuku Ni Ate. Karya-karya sastra Abadi Ag antara lain; Edet Gayo, Harta, Sejarah Linge, Mamurni Lauhku, Mujaik.

AGIHMI SI BELEM

Agihmi si belem genab si nge munge ine…ine…

Mutimpe ku heme I atan ni donya

Dele ujien si gere terkire ine …ine…

Ku manusie ari si kuasa

Mokot di nge tanoh si kering mucerah ine…ine…

Seni teku basah ko retak ni bumi

Delidi nge insen murasai susah ine… ine…

Kering- kering basah lauhe kupipi

Ho…ho… ho onot inget-inget sebelum kona

Oya denieni jai persingahen rakan

Iakhirat puren we sikekal rakan

Olok di bang sakit ate ni tihen ine…ine…

Ken perbueten si mu jolok mata

Gempa tsunami cube I renungen ine…ine…

Kekuasaan I tuhen si sara

Dele di nge yatim orom merek saro ine…ine…

Tempate ber menye osop ari mata

Redemi gelumang tedeh mi gegebe ine…ine…

Kati mu semperne bewene berdoa

HO…ho…ho onot inget-inget sebelum kona

Oya denie ni jai p kekal rakan

Akherat puren wesi kekal rakan

ABBAS IBN MUHAMMAD AL-SYAFA’I AL-KHALWALATI AL-ASYI

adalah seorang pengarang dalam bentuk prosa dari Aceh pada abad ke-19, dikenal juga dengan nama Teungku Kuta Karang. Karya-karya beliau pada umumnya merupakan karya terjemahan dari bahasa Arab. Adapun karya-karya yang dihasilkan oleh beliau adalah sebagai berikut

1. al-Qanu’ Liman Ta’attafa. Merupakan sebuah kitab yang beliau karang di Kota Mekkah pada tahun 1259 H atau 1840 M. Isi kitab ini secara keseluruhan membicarakan mengenai hal penyembelihan hewan secara hukum Islam dan pendapat-pendapat yang bertentangan mengenai hal tersebut.

2. Nazm Jawhar al-Aziz’ ‘Akd Ankihat al-Wara al-Wajiz. Karya ini merupakan terjemahan dari karangan Muhammad al-Ma’israwi yang membicarakan tentang hukum nikah. Selain itu, karya ini sudah mulai dalam bentuk karya modern dengan dikomentari oleh ‘Abd Allah ibn Hijazi al-Syarqawi. Karangan terjemahan ini selesai dibuat pada tahun 1236 H/1846 M.

3. Saif al-Qati’ li Aqwal ahl al-Zigh wa’l-Mubtadi. Merupakan salah satu karangan yang lahir di Aceh dengan tujuan untuk menentang perkembangan ilmu salik yang pada saat itu sedang berkembang pesat di Aceh.

4. Catatan-catatan tentang ilmu tasawuf. Karya ini dalam bentuk karya sastra sufi yang mengupas mengenai bermacam hal tentang ilmu tasawuf—pada masa ini perkembangan agama Islam di Aceh sangat marak dalam bentuk ilmu tasawuf. Catatan-catatan ini ditulis pada tahun 1266 H atau 1849 M.

5. Wasiyat al-Ikhwan al-Mustazawidan Liyaum al-Idzu. Karya ini merupakan petikan dari karya yang berjudul Kasyf al-Ghammah fi Ahwal al-Mawt wa’l-Barzakh. Selain itu, karya ini juga diperkaya dengan mengambil bahan-bahan rujukan dari karya-karya lain terutama yang berkenaan dengan ilmu kalam, serta diperkaya lagi dengan mengambil konsep-konsep tentang perang sabil.

ABDUL HALIM MUBARY

adalah sastrawan Aceh, yang lebih dikenal sebagai cerpenis walaupun dia juga menulis karya sastra dalam bentuk lain. Dalam menulis cerpen dia sering memakai nama samaran Aham Mubary. Abd Halim Mubary lahir Meureudu, Kab. Pidie, tanggal 8 September 1969. Dia menamatkan pendidikan di Fakultas Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam Malikussaleh (STAIM) Lhokseumawe 2002. Aktif menulis cerpen dan artikel budaya mulai tahun 1994 sampai sekarang, pernah bekerja sebagai penyiar di sejumlah radio swasta di Lhokseumawe, dan stinger cameraman Reuters. Sekarang bekerja sebagai wartawan Harian Sumut Post terbitan Medan. Karya-karyanya telah dimuat di majalah Anita Cemerlang, Aneka, Romansa, Ceria (Jakarta), dan Serambi Indonesia (Banda Aceh). Sejumlah cerpennya telah dimuat dalam antologi cerpen HAM 2000 (Dewan Kesenian Banda Aceh). Salah satu cerpennya yang berjudul Opera Tengah Malam dimuat dalam antologi sastra Putroe Phang (DKA, 2002).

ABDULLAH HUSSAIN

adalah penyair keturunan kampung Aree, Sigli, Aceh Pidie, yang dilahirkan di Kedah, Malaysia. Dia memulai pendidikannya di Sekolah Melayu Sungai Limau dan kemudian meneruskan ke Sekolah Anglo-Chinese School di Alor Setar.

Berbagai macam pekerjaan telah dijalaninya, tetapi sebagian besar hidupnya dihabiskannya di lapangan pendidikan dan pembinaan sastra. Menjelang meletusnya perang dunia II, ia pernah magang di surat kabar Sahabat dan Saudara di Pulau Penang. Tidak lama kemudian, Abdullah Husin bertugas sebagai pegawai pemerintahan Jepang di Aceh dan menjabat sebagai kepala polisi Langsa menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Pengalaman selama bertugas di Aceh telah melahirkan buku: “Peristiwa Kemerdekaan di Aceh”. Novelnya yang berjudul “Intan” diterbitkan oleh Pustaka Jaya (Jakarta, 1982) telah difilmkan dengan judul “Intan Berduri”. Dia juga dipercaya oleh negara Brunai Darussalam sebagai Ketua Bagian Pembinaan dan Pengembangan Sastra, Dewan Bahasa dan Pustaka.

Sare

Empat puluh tahun dulu, aku

selalu melintasi tempat ini, dan

setiap kali aku di sini

ada rasa aneh bergelut dalam diriku

aku tidak tahu

gerangan apa rasa itu

waktu itu kalau ke sini

resiko terlalu berat

mungkin bermalam di hutan lebat, tetapi

kami gagahi juga

jalan lain tidak ada, inilah

satu-satunya hubungan Sigli-Kotaraja

kenderaan sering membuat olah, tetapi

kami tidak pernah mengaku kalah

hari ini aku berdiri lagi di sini, di ekor

ogos bulan keramat

menghirup semula udaramu, yang

segar bersih lagi sehat

aku melihat selat Melaka, itu

tanah tumpah darahku

di belakangku Seulawah Inong

bersembunyi di sebali Seulawah Agam, malu

bagai gadis melihat tunang

panorama di sini masih seperti dulu

masih dalam keadaan asal

raksasa pembangunan masih jauh darimu

persekitaranmu masih belum terganggu

tapi pada diriku, ada

sesuatu yang hilang

jarak masakah yang menjurang, ataupun

aku di sini anak hilang

yang baru pulang?

*Sare, Gunung Seulawah, 28 Ogos 1988

*Sare adalah nama sebuah daerah di Kabupaten Aceh Besar

ABDUL KADIR

dikenal sebagai penyair dengan nama To’et. Nama To’et melekat padanya karena sebuah syair yang didendangkannya berjudul “Ret Ret Tum”. Dia adalah seorang penyair yang gigih dalam mempertahankan seni Tradisional Gayo: “Didong”—seni berdendang mendengarkan syair-syair tentang alam sekitar.

Alam Gayo yang indah bagaikan sebuah puisi telah membentuk jiwa seni To’et sejak kecil. Suaranya yang merdu serta penampilannya yang khas terutama pada gerak bahu, membuat To,et terkenal sejak usia muda dengan gelar “ceh kucak” (ceh kecil). Dalam perkembangan karirnya sebagai seniman didong, To’et bersama teman-temannya mendirikan grup seni didong dengan nama “Siner Pagi”, di desa Gelelungi.

Dalam penciptaan karya-karyanya To’et banyak mengambil tema tentang alam. Perjalanan karir To’et sebagai seniman didong tambah bervariasi ketika bertemu pendendang wanita yang bernama Hidayah seorang qariah, yang dapat mengikuti dan membawakan syair-syair To’et dengan baik. Pertemuan To’et dengan Hidayah dan beberapa pendendang lainnya menambah kreatifitas grup To’et. Sejumlah syair mulai didendangkan dan ditambah gerak tubuh lainnya. Sehingga dapat dilihat banyak gerak pada sejumlah puisi tertentu dibanding syair didong lazimnya.

Ceh To’et telah sempat tampil membawakan puisi-puisinya disejumlah kota besar di Indonesia seperti; Banda Aceh, Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan lain-lain. Penyair Indonesia seperti Rendra, Taufiq Ismail, Arifin C. Noor, Teguh Karya, dan Putu Widjaja, menilai karya-karya To’et merupakan sesuatu yang orisional, khas seni To’et. Ia telah tampil dengan akar tradisi Gayo yakni didong Gayo.

Dia berpendapat bahwa bidang kesusastraan merupakan pilihan hidupnya yang paling tepat. Hal itu sesuai dengan bakatnya yang sudah terbentuk sejak dini. Baginya berseni bagaikan darah yang mengalir kesetiap organ tubuh dan tidak mungkin dapat dipisahkan dari kehidupannya. Mulai mencipta lagu, syair sejak 1939, setelah itu mengalirlah karya-karyanya yang lain. Dia memang hidup dari berseni, terutama seni tradisional didong, tetapi hal ini tidak menghalanginya untuk beribadah. Sebagai seorang muslim yang taat, dia menyadari hidup di dunia ini hanya sementara, oleh karena itu sebagian besar pemasukannya diserahkan untuk dana pembangunan mesjid, sekolah, jembatan, dan kepentingan umum lainnya tanpa pernah diucapkan dan diberitakan oleh media massa cetak apalagi elektronik. Dia dengan segala kesederhanaannya mempunyai prinsip “lebih baik tangan di atas dari pada tangan di bawah”.

RENGGALI

wahai renggali

yang harum harum harum mewangi

renggali ini si tajuk hias

ini lagu baru dekat tengah malam

wahai renggali

yang harum harum harum mewangi

ceh sekarang semakin banyak

tetapi lagunya banyak tak mengena

yang membeli kenderaan semakin banyak

tetapi minyaknya semakin menyala

wahai renggali

yang harum harum harum mewangi

renggali ini si tajuk hias

ini laguku bukan harta pinjam

benih sawah semakin banyak

tapi zakatnya semakin berkurang

(Terjemahan dari bahasa Gayo oleh L.K.Ara)

ABDURRAUF SINGKEL, SYEIKH

nama lengkapnya adalah Syekh Abdurrauf Ali Al Fansury Al Singkily Al Jawi. Beliau adalah penyair, budayawan, ulama besar, pengarang tafsir, ahli hukum, cendikiawan muslim dan seorang Sufi yang sangat terkenal di Nusantara yang lahir pada tahun 1615 atau 1620 di Singkel, sebuah kabupaten di Aceh Selatan. Dia berasal dari kalangan keluarga muslim yang taat beribadah. Ayahnya berasal dari Arab bernama Syeikh Ali dan ibunya seorang wanita berasal dari desa Fansur Barus—sebuah pelabuhan (bandar) yang sangat terkenal waktu itu. Dimasa mudanya mula-mula Abdurrauf belajar pada Dayah Simpang Kanan di pedalaman Singkel yang dipimpin Syeikh Ali Al-Fansuri ayahnya sendiri. Kemudian ia melanjutkan belajar ke Barus di Dayah Teungku Chik yang dipimpin oleh Syeikh Hamzah Fansury. Ia sempat pula belajar di Samudera Pase di Dayah Tinggi yang dipimpin oleh Syeikh Samsuddin as-Sumatrani. Setelah Syeikh Samsuddin pindah ke Banda Aceh lalu diangkat oleh Sultan Iskandar Muda sebagai Qadhi Malikul Adil, Abdurrauf pun pergi mengembara. Beliau tidak suka menetap di kota kelahirannya. Beliau lebih suka memilih mengembara meninggalkan kota kelahirannya untuk menuntut ilmu di berbagai pelosok nusantara dan Timur Tengah. Abdurrauf selalu merasa haus terhadap ilmu pengetahuan. Beliau pernah belajar hampir dua puluh tahun di Mekkah, Madinah, Yaman dan Turki. Sehingga tidak mengherankan kalau Beliau menguasai banyak bahasa, terutama bahasa Melayu, Aceh. Arab dan Persia. Disebutkan selama belajar ilmu agama di Timur Tengah, Syeikh Abdurrauf telah berkenalan dengan 27 ulama besar dan 15 orang sufi termashyur. Tentang pertemuannya dengan para sufu itu, ia berkata “adapun segala mashyur wilayatnya yang bertemu dengan dengan fakir ini dalam antara masa itu…”. Pada tahun 1661 M Syeikh Abdurraur kembali ke Aceh dengan memangku jabatan selaku Qadly Malikul Adil, sebagai Mufti Besar dan Syeikh Jamiah Baitur Rahim, untuk menggantikan Syeikh Nuruddin ar-Raniry. Mengenai pendapatnya tentang faham Syeikh Hamzah Fansuri (Tarekat Wujudiah) nampaknya berbeda dengan Syeikh Nuruddin ar-Raniry. Beliau tidak begitu keras, Walaupun Syeikh Abdurrauf termasuk penganut faham tua mengenai ajarannya dalam ilmu tasawuf. Terhadap Tarekat Wujudiah, ia berpendapat bahwa orang tidak boleh begitu tergesa-gesa mengecap penganut tarekat ini sebagai kafir. Membuat tuduhan seperti itu sangatlah berbahaya. Jika benar ia kafir, maka perkataannya itu akan berbalik kepada dirinya sendiri. Karya tulisnya yang diketahui lebih kurang dua puluh buah dalam berbagai bidang ilmu—sastra, hukum, filsafat, dan tafsir, antara lain;

1. Umdat al-Muhtajin ila suluki Maslak al-Mufridin; dengan terjemahannya sendiri; Perpegangan Segala Mereka itu yang Berkehendak Menjalani Jalan Segala Orang yang Menggunakan Dirinya. Dalam karya ini diterangkannya tentang tasawuf yang dikembangkannya itu. Dzikir dengan mengucap La Illah pada masa-masa tertentu merupakan pokok pangkal tarikat ini. Kitab tersebut terdiri atas tujuh faedah dan bab. Sesudah faedah yang ketujuh diberinya khatimah yang berisi silsilah. Di samping memberi penjelasan tentang ajaran Abdur-Rauf, silsilah ini juga memberikan gambaran di mana dengan cara apa ulama-ulama dan pengarang-pengarang besar Melayu lainnya mendapatkan ilmu pengetahuan. Dalam kitab ini pula ia menyebut telah berada selama sembilan belas tahun di negeri Arab.

2. Mir’at al-Tullab fi Tashil Ma’rifat al-Ahkam al-Syar’iyah li’l-Malik al-Wahab. Dalam kitab ini disebutnya ia mengarang atas titah Sultanah Tajul-Alam Safiatuddin Syah. Isinya ialah ilmu fikah menurut mazhab Syafi’i. Ilmu mu’amalat yang tidak dibicarakan dalam Sirat al-Mustaqim karangan Nuruddin ar-Raniri, dimasukkan disini.

3. Kifayat al-Muhtajin ila Suluk Maslak Kamal al-Talibin. Dalam karya ini disebutnya ia dititahkan oleh Sultanah Tajul-Alam untuk mengarang. Isi kitab ini ialah tentang ilmu tasawuf yang dikembangkan oleh Abdur-Rauf.

4. Mau’izat al-Badi’ atau al-Mawa’ith al-Badi’ah. Karya ini terdiri atas lima puluh pengajaran dan ditulis berdasarkan Qur’an, hadith, ucapan-ucapan sahabat Nabi Muhammad saw serta ulama-ulama besar.

5. Tafsif al-Jalalain. Abdur-Rauf juga telah menterjemah sebagian teks dari Tafsir al-Jalalain, surah 1 sampai dengan surah 10.

6. Tarjuman al-Mustafiq. Merupakan saduran dalam bahasa Melayu dari karya bahasa Arab ini. Dalam sebuah naskah Jakarta disebut ada tambahan dari murid Abdur-Rauf, Abu Daud al-Jawi ibn Ismail ibn Agha Ali Mustafa ibn Agha al-Rumi (Van Ronkel, Catalogus der Maleische Handschriften 1909 dalam ibid).

7. Syair Ma’rifat. Syair ini terdapat dalam naskah Oph 78, perpustakaan Leiden, yang disalin pada 28 Januari 1859 di Bukit Tinggi.

SYAIR MA’RIFAT dimulai dengan;

Pahamkan olehmu di dalam hati

Kepada guru mintalah pasti

Tulus dan yakin kedua mati

Inilah bekal tatkala mati

Apabila mufakat empat ma’na

Agama Islam baharulah sempurna

Apabila mufakat empat di sana

Mengenal dzat Tuhan yang Ghana

…………….

Fakir khabarkan suatu pendapat

Tatkala mencari ilmu ma’rifat

Sepohon kayu cawangnya empat

Buahnya diambil tiada dapat

Kayunya tinggi bukan kepalang

Buahnya banyak tiada berbilang

Warnanya indah amat cemerlang

Hendak diambil dibawa pulang

Mengambil buahnya hendak mendapat

Tuntut olehmu dengan isyarat

Fi’il yang baik dengan martabat

Mintak diguru janganlah bai’at

Tuntut olehmu dengan pengguruan

Tiadalah jadi dengan tiruan

Serta tarikat mengenal Tuhan

Hakikat ma’rifat sempurna jalan

Adalah ibarat fakir yang hina

Sepohon kayu banyak ma’nanya

Jikalau pohon tiada sempurna

Cawang dn dahan tiada berguna

Jikalau sempurna pohon itu

Cawang dan dahan terhimpun di situ

Buah dan bunga di sanalah tentu

Baiklah fakir hati di situ

Baik-baik tuan kita menerima

Kepada pohonnya ialah sempurna

Daun dan buah tiada sama

Masing-masing berlainan nama

Jikalau diibarat saja kelapa

Kulit dan isi tida serupa

Janganlah kita bersalah tapa

Tetapi beda tiadalah berapa

Sebiji kelapa ibarat sana

Lafadnya empat suatu ma’na

Di situlah banyak orang terkena

Sebab pendapat kurang sempurna

Kulitnya itu ibarat syari’at

Tempurungnya itu ibarat tarikat

Isinya itu ibarat hakikat

Minyaknya itu ibarat ma’rifat

Syariat itu ibarat tubuh

Tarikat itu jalan yang teguh

Hakikat itu bersungguh-sungguh

Ma’rifat itu seperti suluh

Baik-baik I’tikad kita sempurna

Supaya I’tikad kita sempurna

Jikalau bercerai lafadh ma’na

Akhirnya tiada berguna

…………….

Jika tuan menuntut ilmu

Ketahuilah dulu keadaanmu

Man ‘arafa nafsahu kenal dirimu

Faqad ‘arafa rabbahu kenal Tuhanmu

Kenal dirimu muhadath semata

Kenal Tuhanmu qadim dzatnya

Tiada bersamaan itu keduanya

Tiada semisal seupamanya

……………

Adapun dikata ma’na yang empat

Iman, Islam, tawhid, ma’rifat

Keempatnya itu suatu tempat

Kurang dituntut tiadalah dapat

Kemudian diterangkan keempat-keempat perkara itu. Pada akhir tulisan ini disebut judul syair ini serta nama pengarangnya

Tamatlah sudah Syair Ma’rifat

Syaikh Abdur-Rauf mengarang di Aceh

Fakir menyalin kurang nan dapat

Jangan dicela jangan diupat.

ABDUL RAZAK M.H. PULO

lahir di Bireuen, 14 April 1980, menamatkan pendidikan dari SD sampai dengan SMU di kota kelahirannya. Kini sudah berstatus dokter muda atau Co-ass di Fakultas Kedokteran Unsyiah – BPK RSU Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Anak pasangan H. Muhammad dan Hj Ainul Mardhiah ini mempunyai hobi membaca segala jenis referensi, menulis, koleksi buku, dan mempelajari bahasa. Beberapa dari tulisannya pernah dimuat dalam; Hello English Magazine edisi Oktober 1999, I low To be More Creative, puisi berjudul Crying on the Twilight (MIA FK Unsyiah), Nafsu (Serambi Indonesia), serta anekdot Biar Cepat Terkenal dan Penyisiran (Kontras).

Dari tahun 2001-2002 ia menjabat Ketua Divisi Pengembangan Badan Riset Mahasiswa Kedokteran (BRM) FK Unsyiah. Pada tahun 2003 ia bergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, dalam kepengurusan 2004—2006 dipercaya menjabat sebagai Ketua Divisi Non-Fiksi. Di samping itu, untuk meningkatkan pengetahuannya dalam bidang kesusatraan ia bergabung dengan Komunitas penulis OASE Banda Aceh. Dia juga pernah mengikuti Workshop Menulis Kreatif yang diselenggarakan Komunitas Tikar Pandan Banda Aceh dengan Nirwan Dewanto sebagai fasilitator di Hotel Jeumpa Banda Aceh pada tahun 2003.

‘ABDUL-JAMAL

adalah salah seorang pengikut Hamzah Fansuri yang produktif. Dalam (T.Iskandar 1995:369-371) dapat kita lihat identitas beliau melalui karya-karyanya. Drewes menganggap bahwa syair-syair mulai dari halaman 70-86 dalam penerbitan Doorenbos sebagai gubahan penyair ini. Syair-syair tersebut diberi judul:

  1. hadzihi al-asy’ar al-musyirah ila badi’ al-naka’ith wa-‘l-fawa’id fi ma’rifat Allah ta’ala wa sifatihi
  2. syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk
  3. syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk wa sifat Allah
  4. syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk
  5. syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk fi ma’rifat al-dzat wa sifatihi
  6. syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk
  7. syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk
  8. syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk fi ma’rifat al-dzat
  9. syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk fi ma’rifat al-dzat wa sifat

Pada awal syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk wa sifat Allah pengarang menyebut namanya:

Aho segala kita yang ber’aqal-‘aqal

Syahadat inilah perkataan tawal

Menyatakan asma sifat dan af’al

Demikian bayan faqir ‘Abdul-Jamal.

Akan tetapi dalam syair-syair selanjutnya pengarang menyebut namanya, mengikuti jejak Hamzah Fansuri, pada akhir syair-syair tersebut. Dengan jalan demikian pada akhir syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk ia menyatakan:

‘Abdu’l Jamal hina dan karam

Terlalu wasil tatkala ihram

Pada sekalian ta’ayyun terlalu faham

Itulah jalan kesudahan kalam

Pada bagian tengah dan akhir dari syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk fi ma’rifat al-dzat wa sifatihi disebutnya:

‘Abdu’l Jamal hamba yang mudznibi

Mengarang sya’ir tatkala berahi

Olehnya mendem nentiasa hari

Itulah minuman yang dikaruniai

‘Abdu’l Jamal hina dan karam

Terlalu wasil tatkala ihram

Pada sekalian ta’ayyun terlalu faham

Itulah jalan kesudahan kalam

‘Abdu’l Jamal hamba yang mudznibi

Diamnya di rantau teluk bahari

Di sana banyak harimau melintangi

Olehnya karunia maka dapat mukhayyilani

Dalam syair tersebut pengarang memberikan informasi lebih jelas mengenai identitas dirinya:

‘Abdu’l Jamal orang yang bujang

Membuang diri tiada sayang

Tempatnya da’im di tebing orang

Buayanya banyak tamingnya karang

‘Abdu’l Jamal orang yang ghaflat

Diamnya di rantau Perigi Putat

Berbuat sya’ir seqadar dapat

Akan haluan pada sekalian sahabat

‘Abdu’l Jamal orang yang mudznibi

Diamnya dirantau Tebing Tinggi

Berbuat sya’ir daripada karunia Ilahi

Akan halaun pada sekalian talibi

Dari bait-bait di atas, dapat kita lihat ‘Abdu’l Jamal mengatakan dirinya seorang hamba yang mudznibi dan ghaflat. Berdiam atau bertempat tinggal di rantau Perigi Putat dan di rantau Tebing Tinggi. Mungkin saja beliau mempunyai dua tempat tinggal, atau juga tempat tersebut mempunyai dua nama. Dalam akhir syair jawi fi bayan ‘ilm al-suluk fi ma’rifat al-dzat wa sifatihi, dijelaskan lagi bahwa dua tempat tersebut adalah sebuah teluk yang bahari. Dan di sana masih banyak harimau yang berkeliaran (Diamnya di rantau teluk bahari/ Di sana banyak harimau melintangi). Suasana tempat tempat tinggal beliau diperjelas lagi dengan banyaknya buaya yang menjadi tamingnya karang.

Dalam rangkap terakhir dirujuk pada Miftah al-Asrar pengarangnya dipuji sebagai ahli sufi yang terkenal. Oleh sebab itu, dapat diambil kesimpulan bahwa Abdul Jamal adalah murid Hasan Fansuri.

ABU KASIM

dilahirkan di Takengon, dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, tahun 1944. Mulai berkarya dalam dunia sastra sejak usia muda. Salah satu karyanya yang sangat popular berjudul Ampung-Ampung Pulo. Karya ini diciptakan ketika ia lepas SMP di Takengon, Aceh Tengah. Saat itu, ia akan pergi meneruskan sekolah ke Banda Aceh melanjutkan ke SMA. Perpisahan dengan sahabat dan tanah kelahiran menumbuhkan inspirasi Abu Kasim dengan menciptakan baris-baris puisi yang melankolis. Selain itu, Abu Kasim juga menaruh perhatian terhadap cerita rakyat. Banyak puisi-puisinya bersumber dari legenda rakyat Gayo, seperti Genali, Merek Suro, dan Inen Mayak Teri. Ia juga pencipta puisi balada yang mengambil tema cerita rakyat Gayo. Karya puisi baladanya yang terkenal antara lain, Batu Belah, Mpu Beru, Puteri pukes, dan Puteri Hijau. Setelah menamatkan pendidikan di Banda Aceh, ia pulang ke kampung halamannya Takengon dan bertugas sebagai guru. Kemudian ia pindah ke Jakarta dengan menjadi karyawan di Direktorat Kesenian. Kesenian tradisi didong yang telah dikenalnya sejak dari kecil di kampung halamannya Takengon, di Jakartapun ia kembangkan lewat pertunjukan di Taman Ismail Marzuki, Pasar Seni, Ancol, dan lain-lain. Sejumlah karya Abu Kasim dimuat di dalam berbagai penerbitan. Sedangkan antologi puisi tunggalnya berjudul Amruna memuat 30 puisi dalam bahasa Gayo dan Indonesia di terbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tahun 1982.

AMPUNG-AMPUNG PULO

Selamat manut ampung-ampung pulo

Selalumi mulo ku laut kuala

Salam selamat di enti lupen kao

Ku sawini imo urum ceding selada

(Selamat hanyut kau kiambang

Silakan lewat ke laut kuala

Salam selamat jangan kau lupa

Kepada sawi imo dengan tunas selada)

Taringmi taring ko lumut ni atu

Si ngih mungkin mudemu ne selama masa

Asal nge beta bang ningko nasipmu

Taring cacar layu urum budi bahasa

(Tinggallah tinggal kau lumut di batu

Yang tak mungkin bertemu selamat hayat

Mungkin sudah demikian untung nasibmu

Tinggallah cacar layu dengan budi bahasa)

Enti pubebalik manutmi ampung-ampung

Puren aku mununung ke umurku ara

Mudemumi kase kite sara linung

Iwan sara keltung mien kite musara

(Jangan berbalik hanyutlah kiambang

Kelak aku kan menyusul bila umurku ada

Semoga kita bertemu di satu tempat

Di satu lubuk kita kembali berjumpa)

Nun disana Laut Tawar airnya tenang

Di hempas gelombang ke tepi mengalun

Anggun terpancang Bukit Birah Panyang

Dengan Pereben berdampinan bagai bermufakat

Dari Singgah Mata coba layangkan pandang

Nosar, Rawe awan berarak

Jelas sekali nampak disana Ujung Kalang

Sampi ke Bintang tusam beriring

ACEH, HIKAYAT

adalah karya sastra yang tidak diketahui siapa pengarangnya atau bersifat anonim. Hikayat ini ditulis pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1606-1636). Naskah Hikayat Aceh mempunyai banyak varian yang tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden dan Perpustakaan Nasional di Jakarta. Naskah ini telah kehilangan halaman-halaman bagian awal. Pada halaman dua dimulai di tengah-tengah kalimat. Hikayat ini menceritakan riwayat asal-usul raja-raja Aceh. Dalam (T. Iskandar, 1995:387-399) dimulai dari Raja Syah Muhammad yang memperoleh putri dari buluh betung. Sultan Munnawar Syah menikahkan Raja Syah Muhammad dengan Puteri Dewi Indera dan mereka mendapat dua anak, yang putra bernama Ibrahim Syah dan Putri Sapiah. Pada suatu hari Raja Muhammad Syah membantun roma pada dagu Putri Buluh Betung ketika ia tertidur dan putri pun meninggal.

Raja Syah Mahmud, saudara Raja Syah Muhammad kawin dengan bidadari dari kayangan setelah mencuri baju layang bidadari tersebut. Mereka mendapat dua anak yang diberi nama Raja Sulaiman Syah dan Putri Arkiah. Raja Syah Mahmud menyumpah saudaranya tersebut karena kawin dengan jin. Kemudian istrinya pulang ke kayangan setelah menjumpai baju layangnya. Sultan Munawar Syah mengawinkan keempat cucunya tersebut. Raja Ibrahim Syah dengan Putri Arkiah dan Raja Sulaiman Syah dengan Putri Sapiah. Dari perkawinan tersebut lahirlah Syah itu dua orang laki-laki, seorang bernama Sultan Muzzafar Syah, seorang Raja Syamsu Syah. Berikutnya diriwayatkan Raja Munawwar Syah seorang raja negeri Lamri mempunyai puteri bidadari berdarah putih yang keinderaan di Saracan dan anak cucu Raja Iskandar Dzulkarnain. Berikut cuplikan teksnya

Kata yang bercerita, adapun Seri Sultan Perkasa Alam Johan Berdaulat itu dari pihak asal nasap baginda raja yang mendapat puteri anak baludari yang berdarah putih yang raja keinderaan itu turun-temurun daripada nasab dan bangsa yang daripada puteri baludari yang berdarah putih yang raja keinderaan daripada nasab dan bangsa Maha Bisnu yang raja diraja keinderaan. Karena bahwa Dasarata Maharaja itu pada suatu zaman mendapat perbundai Seri Rama, bernama Putri Mandudari, pada perdu buluh betung dan bahwa moyang Perkasa Alam bernama Raja Syah Muhammad pada suatu zaman mendapat puteri anak baludari yang berdarah putih yang raja keinderaan pada perdu buluh betung.

Maksud Seri Sultan Perkasa Alam Johan Berdaulat dari teks di atas, adalah Iskandar Muda. Isi dari hikayat ini sebenarnya lebih menitik beratkan kepada asal-usul dan riwayat Sultan Iskandar Muda. Silsilah dari Iskandar Muda dari pihak ibu adalah Sultan Inayat Syah (Darul-Kamal), Sultan Firman Syah Paduka Marhum, Paduka Marhum Sayyid al-Mukammil, Paduka Syah Alam (bunda Iskandar Muda). Adapun dari pihak ayah adalah Raja Muzaffar Syah (saudara seayah dan seibu dengan Raja Munawwar Syah), Raja Syamsu Syah, Sayyid al-Marhum, Paduka Marhum, Marhum Muda, Raja Muzzafar Syah. Sedangkan kakek dari pihak ayah adalah Raja di Makota Alam dan Raja Inayat syah adalah kakek dari pihak ibu Raja di Darul-Kamal. Dalam hikayat ini diceritakan juga mengenai kedua orang tua Iskandar Muda, mulai dari bertunangan sampai mereka menikah. Serta masa kecil ayah Iskandar Muda. Selanjutnya mengenai Iskandar Muda mulai dari kandungan sampai berumur 14 tahun. Sewaktu beliau masih dalam kandungan negeri sangat Aceh makmur. Masuk usia kandungan tujuh bulan, ibunya bermimpi bersanggulkan bulan dan bintang. Usia kandungan sembilan bulan, ibunya bermimpi cahaya sebagai bunga karang yang diperlihatkan. Sewaktu antara tidur dan terjaga terlihat oleh ibunya seperti bulan purnama, cahaya mengelilingi tubuhnya dan semua ruangan istana.

Pada umur tiga tahun ia diberi nama Raja Zainal, Raja Silan, dan Raja Munawwar Syah. Umur empat tahun diberi permainan gajah emas dan kuda emas. Umur lima tahun diberi permainan anak gajah. Umur enam tahun beliau bermain-main dengan banyak gajah dan gajah kesayangan Raksyasya dan Dang Ambar kasturi. Umur tujuh tahun melepaskan kumpulan gajah dan bermain-main berburu gajah. Umur delapan tahun bermain-main perang dengan orang Portugis dengan memakai perahu. Umur sembilan tahun perang darat dengan memakai gajah melawan orang Portugis. Umur sepuluh tahun datang utusan Portugis Dong Dawis dan Dong Tumis. Iskandar muda mengalahkannya dalam menunggang kuda. Umur sebelas tahun Syarif al-Muluk bermimpi datang kerbau pada Iskandar Muda mengucapkan zikir sambil menari-nari. Umur dua belas tahun Iskandar menampakkan kegagahannya dengan membunuh kerbau jalang. Umur tiga belas tahun Iskandar belajar mengaji Qura’an pada Fakih Raja Indera Purba. Ketika berumur empat belas tahun beliau telah termasyhur di sebelah timur ini.

Jika diperhatikan isi Hikayat Aceh dapat kita simpulkan sebagai berikut:

1. Hikayat ini, awal karya telah hilang sehingga cerita dimulai ditengah-tengah dengan cerita asal-usul.

2. Keterangan silsilah Iskandar Muda dari pihak ayah dan pihak ibu

3. Penyatuan Kerajaan Aceh Darussalam pada zaman pemerintahan Sultan Muzaffar Syah dan Sultan Inayat Syah

4. Silsilah raja Aceh sebelum Syah Alam, kakek Iskandar muda, berjumlah enam orang raja dan yang ketujuh tidak disebutkan karena hilang halaman

5. Kelahiran dan masa kecil Iskandar Muda hingga berusia 14 tahun dan kemegahannya di sebelah timur, lalu disambung dengan kemegahannya di sebelah barat pada masa pemerintahannya.

6. Pengarang kembali pada masa pemerintahann Syah Alam dengan mengalahkan Deli yang mengingkari pemerintah sultan Aceh, serta memburu sultan Johor yang berada di sana sampai ke Johor. Orang Aceh kekurangan makanan dan kembali ke Aceh. Syah Alam sakit dan meminta Iskandar Muda menggantikannya. Pembesar-pembesar tidak setuju dan Iskandar sendiri pun menolaknya karena masih ada Sultan Muda dan Sultan Hasain Syah, keduanya putra Syah Alam yang lebih berhak. Sultan Muda diangkat menjadi raja sedangkan Sultan Husain Syah dirajakan di Pidie. Halaman-halaman berikutnya hilang.