ACEH 8,9 SKALA RICTHER LALU TSUNAMI
merupakan sebuah kompilasi karsa, cipta, karya seniman Aceh dan anak-anak korban tsunami, diterbitkan oleh Koordinatoriat Bangkit Aceh (KBA) Nanggroe Aceh Darussalam, cetakan pertama tahun 2005 dan dieditori oleh Doddi Achmad Fawdzy dkk, setebal 257 halaman. Pada sampul belakang buku ini memuat beberapa komentar tentang isi buku ini diantaranya Nuruddin Asyhadie (Pamred Majalah Ars Longa) para seniman ini yang juga merupakan survivors mahabencana tsunami 26 Desember, melawan keterhenyakan mereka sendiri, ketraumaan, dan kebebasan lidah mereka sendiri. Sungguh perbuatan berani, ketegaran yang mungkin hanya kita dapati pada perahu-perahu kuala jabbar. Tarsih Ekaputra (Anggota Konsorsium Wartawan Kebudayaan (KWK) Nusantara) sebuah karya mahadahsyat dan sungguh meneror imaji kita untuk kembali mempertanyakan diri. Sungguh merupakan sebuah gambaran betapa bencana itu telah meluluh lantakkan bumi Serambi Mekkah, tetapi mereka seniman tetap tegar dan terus bangkit demi tegaknya peradaban di Tanah Rencong ini. Nura Juwita (Perhimpunan Seniman Aceh Jabotabek) saya mengucapkan salut kepada para seniman Aceh yang juga merupakan korban tsunami, ternyata ditengah kondisi yang serba sulit, masih dapat berkarya. Sehingga terlahir karya seni yang berguna bagi masyarakat dan memberi inspirasi bagi generasi yang akan datang. Yogi K. Wikanta (Anggota Federasi Teater Indonesia) sungguh hebat, membaca karya tulis ini, membuat merinding tapi akhirnya dapat merasakan kenyataan yang terjadi, semoga semakin bersemangat didalam mencipta, syukur kepada Tuhan.
ACMAD RIVAI NASUTION
lahir di Pembatang Siantar, Sumatra Utara 9 Februari 1935 dan meninggal di Sigli-Pide 1998. Dalam menulis dia sering memakai nama samaran Dev Vareyra, pensiunan pengawas SMTA ini mulai menulis puisi dan cerpen sejak 1957. Acmad Rivai Nst, walaupun terlahir bukan dari turunan suku Aceh, tapi Aceh sudah merupakan sebagian dari hidupnya. Hal ini dibuktikan dengan nafas karya-karyanya yang sebagian besar berkisah tentang negeri Serambi Mekkah.
Buku kumpulan puisi dan cerpennya terangkum antara lain; “Melalui Api” (1992), bersama penyair Aceh. Sajaknya dibukukan dalam “Kande” (1982), “Dua Kumpulan Puisi” (1982), “Antologi Puisi Penyair Aceh” (1986), “Nafas Tanah Rencong” (1992), “Banda Aceh” (1993), “Sosok” (1993), “Titian Laut III” bersama penyair dan cerpenis Malaysia, Sumut, dan Aceh (Kuala Lumpur, 1991), L.K. Ara dkk (ed.), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995), Lagu Kelu (ASA-Japan-Aceh Net, 2005). Berikut ini salah satu cuplikan puisinya
Dari Perahu Nuh Melihat Tanda-Tanda Kehidupan
Kalau sudah malam dipaksakan menjadi siang
apalagi kata untuk menyatakan malam
burung-burung pun akan ketawa
menertawakan manusia
kalau sudah yang salah harus dikatakan benar
itu bukan hanya penafsiran yang sesat
dan burung-burung akan berkata sesamanya
manusia sudah kena laknat
II
Bumi pun terkuak lebar menganga
air bah di mana-mana
beratus gagak akan mengepak sayap dan meneriakkan lagu
lagu pesta pora : bau amis serakan bangkai
III
Ada pucuk-pucuk zaitun di bukit pasir
dari perahu, Nuh melihat tanda-tanda kehidupan
dan malam tak lagi dipaksakan menjadi siang
karena kita telah kembali ke maknanya
karena kebenaran sudah pasti beda dengan kesalahan
demi Tuhan
sigli, 13 Mei 1979
AGAM ISMAYANI
adalah sastrawan Aceh yang kreatif dan telah banyak melahirkan karya sastra terutama dalam bentuk puisi. Ia dilahirkan di Samalanga kabupaten Bireuen tahun 1968. Karya-karyanya telah tersebar diberbagai media massa nasioanal antara lain; Simfoni, Swara Dwipa, Bali Post, Surabaya Post, Suara Karya, Waspada, Kartini, Femina, Nona, dan Amanah. Kumpulan puisinya terangkum dalam “Lakon-Lakon Luka” (1988), L.K. Ara dkk (ed.) Seulawah:Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995).
Kekasihku Santri: Nasyid di Kampung
Malam ini adalah rahmatNya
Tetabuhan rebana di kampung
Menyanyilah mereka santri-santri wanita
Ada juga santri kekasihku
Tak menari, tapi mengaji
Pak,pak,pak,pak,pung,pung,pung,pung,pung
Duhai
Bunyinya menelusup ke hati
Sampai dini hari
Masih dikumandangkan ayat-ayatNya
Mendekatkan jarakku
Kepada segala kasih
Yang bermula dari kasihNya
Mendengarkan langkahmu, santriku
Seketika tersiramlah tubuhku oleh angin
Pandangmu bulan lima belas hari
Subuh ini,
Antarkan aku ke pintu
Bagi kepulangan yang telah tentu
AGAM WISPI
dilahirkan di Idi, Aceh Timur, tahun 1934. Pernah menjadi anggota Pimpinan pusat Lekra (1959—1965) dan pernah mengunjungi Jerman Timur (1959), kini bermukim di Praha, Republik Ceko. Kumpulan sajaknya; Sahabat (1959), dan Matinya Seorang Sahabat (1962).
A.G. MUTYARA
adalah pengarang kreatif yang dapat dikategorikan sebagai penulis serba bisa. Karyanya berbentuk novel, esai, buku sejarah, budaya dan puisi yang telah tersebar diberbagai media massa dan sebagian besar telah diterbitkan. Namun, dia lebih dikenal sebagai novelis. Sebagai novelis, A.G. Mutyara dianggap salah seorang penulis yang produktif di Aceh. Sudah banyak karya-karya tulis lahir dari tangannya.
Tahun-tahun kreatifitas A.G. Mutyara adalah sekitar tahun 1940—1967, terbukti dengan dengan banyaknya karya yang lahir diantaranya; Sekembang Gugur (novel 1940), Mari Laila Pulang ke Desa (novel 1943), Leburnya Keraton Aceh (novel 1943), Gading Pengungsi (1947), Memperebutkan Gadis Feodal (novel 1947), Asmara Dalam Pelukan Pelangi (novel bersama A. Hasjmy dan Talsya, 1952), Tanda Mata Dari Kraton (1967), Menungan di Pelambangan (sajak, 1941), Direbut Kabut Kelam (sajak, 1979), Peristiwa Aceh (sejarah, 1946), Pancasila Tonggak Republik Indonesia (Budaya, 1946). Sajak-sajaknya dimuat dalam L.K. Ara dkk (ed.) Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995).
Selain sebagai seorang sastrawan dan budayawan, A.G. Mutyara juga berkecimpung dalam dunia jurnalistik. Dia pernah dipercaya menjadi Redaktur dan Pemimpin Redaksi berbagai harian di Banda Aceh. Meninggalkan dunia persuratkabaran tahun (1950).
Pusara
Langit mendung hujan berderai
Petir memekik amat dasyatnya
Ribuan malaikat tersenyum santai
Mengantar jenazah menuju pusara
Turun jasadmu lahan perlahan
Kedalam kuburan, putra belia
Terbaring tubuh berselimut kafan
Disiram doa ayah dan bunda
Ribuan kembang tersenyum simpul
Daun yang hijau menutupi pusara
Tidur sendiri anakku sayang
Bidadari jelita turun berkumpul
Membelai tubuh muda remaja
Dalam dendang kasih dan sayang
1978
A HASJMY
adalah sastrawan Aceh yang termasuk salah seorang tokoh Angkatan Pujangga baru. Dia dilahirkan di Aceh Besar, pada tanggal 28 Maret 1914 dan meninggal di Banda Aceh tanggal 18 Januari 1998. A. Hasjmy adalah seorang pemeluk agama Islam yang taat. Dia memulai pendidikannya dengan sekolah agama, tamat sekolah Thawalib di Padang Panjang Sumbar tahun 1935, dan kemudian melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Sumatra Utara Medan tahun 1952—1953. Pernah menjadi guru Perguruan Islam di Seulimum, pemimpin umum Aceh Shimbun, kemudian Semangat Merdeka.
Pria yang pernah menjabat Gubernur Aceh (1957—1964) ini, berhasil membangun kota Pendidikan Darussalam yang di dalamnya berdiri dua Lembaga Pendidikan Tinggi yaitu Universitas Syiahkuala dan IAIN Jami’ah Ar-Raniry Darussalam. A Hajmy di samping sebagai seorang sastrawan juga seorang Ulama, Budayawan, Birokrat, Politikus, dan Tokoh Pendidikan Aceh. Namun dari sekian banyak jabatan yang pernah dipercayakan kepadanya, A Hasjmy lebih mementingkan dunia pendidikan. Dia berprinsip dengan majunya dunia pendidikan akan dapat mengubah kehidupan anak negeri ke arah yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup. Pendidikan adalah mercu suar dari kemajuan suatu bangsa. Sebagai seorang intelektual beberapa jabatan pernah dipercayakan kepadanya antara lain; Ketua Lembaga Sejarah Aceh (1969), Rektor IAIN Jami’ah Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh, Ketua dan Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh (LAKA), dan Ketua Majelis Ulama DI Aceh. Sejak tahun 1976 ia menjadi guru besar ilmu dakwah pada IAIN Jami’ah Ar-Raniry Darussalam.
Dia telah mengarang tidak kurang dari 40 buku, meliputi Seni Budaya, Sejarah, Politik, Tata Negara, Dakwah dan Pendidikan, diantaranya; Kisah Seorang Pengembara (1936), Sayap terkulai (1936), Bermandi Cahaya Bulan (1937), Melalui Jalan Raya Dunia (1939), Dewan Sajak (1940), Suara Azan dan Lonceng Gereja (1940), Di Bawah Naungan Pohon Kemuning (1940), Puisi Islam Indonesia (1940), Dewi Fajar (1940), Kesusastraan Indonesia dari Zaman ke Zaman (1951), Rindu Bahagia (1960), Asmara dalam Pelukan Pelangi (1963), Semangat Kemerdekaan dalam sajak Indonesia (1963), Jalan Kembali (1964), Hikayat Perang Sambil Menjiwai Perang Aceh Lawan Belanda (1971), Ruba’i Hamzah Fansyuri (1976), Tanah Merah (Digul Bumi Pahlawan Kemerdekaan Indonesia) (1980), Sejarah Kebudayaan Islam, Dibawah Pemerintahan Ratu, Sumbangan Kesusastraan Aceh dalam Pembinaan Kesusastraan Indonesia, dan Semangat Merdeka (1985).
Setengah Jalan
Antara kaki dan puncaknya
di situ daku duduk sebentar,
melepaskan lelah badanku penat,
di sebelah kanan karang semata,
di arah kiriku sekar-belukar,
di mukaku tubir curam sangat.
Mataku mencari tamsil kiasan,
melihat-lihat penawar hati,
memandang-mandang penuntun hajat,
terpandang semut berarak-arakkan,
naik mendaki ke batu tinggi,
dengan gagahnya menuju minat.
Terlebih lagi di batu lain,
seekor semut membawa makanan,
lebih besar dari badannya,
dengan mulutnya dihalau rajin,
ditarik ke atas perlahan-lahan,
digonggong ke arah tempat sarangnya.
Dari dalam datang mendayu,
suara jiwaku mencipta ilham:
“Bahagialah siapa suka meniru,
mengambil ibarat perjuangan alam!”
1936
AHM FAUZAN
adalah seorang seniman Aceh yang juga dikenal dengan nama Fozan Santa. Lahir di Cot Mane, Gandrapura, Aceh Jeumpa, pada 19 Maret 1975. Menyelesaikan pendidikan di Jurusan Sejarah dan Budaya IAIN Sunan Kalijaga Jogyakarta. Menulis sajak, essai. Pasca tsunami bersama rekan-rekan muda sesama seniman mendirikan Sekolah Menulis Do Karim. Karya-karyanya telah tersebar di berbagai media massa lokal dan nasional. Dalam bidang seni pertunjukan teater dia pernah aktif di teater ESKA dan sanggar NUUN Yogyakarta. Sajak-sajaknya terangkum dalam antologi puisi Fasisme (kalam el kama Yogya, 1996), antologi puisi dan lukisan Dalam Beku Waktu (Koalisi, NGO HAM Aceh dan ICCO, 2002), antologi puisi Ziarah Ombak (Lapena, 2005). Berikut salah satu cuplikan puisinya
Ziarah
Aku pulang ke rumah
Tak beratap, dinding pecah
Antara keduanya, gegaris coklat
Batas laut lumpur yang tumpah
Pada minggu hangat setelah gempa
Bau tanah menguapkan langit terik
Di kamar ibu, di tapak ranjangnya
Sebotol kecil minyak entah melunglai
Dibakar sembilan puluh matahari pucat
Dalam rahasia senja kubuka saja tutupnya
“wahai, wangi itu dari seberang malam,
Malam silam yang jarang kusentuh”
Lingkhe, 10 April 2005.
AKHBARUL KARIM, HIKAYAT
sebuah kitab klasik karangan ulama terkemuka masa lalu bergelar Teungku di Sumatang sebuah gampong di negeri Geudong Pase. Sekarang terkenal dengan Dayahnya, terletak di Kecamatan Samudera Geudong, Aceh Utara. Karya ini diperkirakan dikarang tahun 1830 M dengan menyimak gambaran budaya dan perkembangan situasi masyarakat dalam hikayat tersebut. Suatu babak sejarah yang menyakitkan dengan meredupnya kejayaan Kerajaan Islam di Nusantara. Hikayat ini disalin ulang oleh Tuwanku Raja Keumala tahun 1919 M, yang didekasikan untuk puteri pertama beliau Teungku Fatimah Raden Putri lahir tahun 1910 M. Dalam penyalinan oleh Tuwanku Raja Keumala, hikayat ini terdiri atas 1471 baris ganda. Namun dalam penyalinan ini diperkirakan selalu ada perubahan, perbaikan, maupun penambahan dan pengurangan kalimat. Hikayat ini ditulis dalam bahasa Aceh dengan memakai huruf Arab Melayu. Selain itu, hikayat ini juga mampu memberikan warna dan pengaruhnya pada masyarakat dan perkembangan kesusastraan Melayu pada umumnya dalam kurun waktu lebih dari satu abad setengah. Dalam hikayat ini Teungku di Sumatang menceritakan situasi masyarakat ketika itu yang sedang mengalami multi krisis, baik dalam bidang politik pemerintahan, ekonomi, sosial, maupun dibidang keagamaan terutama mengenai ibadat, keimanan dan akhlak. Dengan multi krisis tersebut, Kesultanan Aceh merosot secara berangsur-angsur. Puncaknya dengan kejatuhan Dalam Sultan ketangan aggressor Belanda tahun 1874, pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah. Berikut beberapa cuplikan Hikayat Akhbarul Karim (telah alih aksara dan diterjemahkan oleh Teuku Abdullah Sakti dan Ramli A. Dally)
Alfashlul Auwalu Fibayan Makrifatillahi Ta’ala
(Pasal pertama menjelaskan : Mengenal Allah swt)
Pasal yang pertama wahai sahabat
Makriafat saya jelaskan
Makriafat kepada Tuhan dan kepada Nabi
Ada tiga jenis pembagiannya
15. Wajib mustahil tiga dengan jaiz
Ketahuilah oleh tuan semuanya
Orang yang tidak kenal sifat Tuhan
Di hari akhirat dalam neraka
Sifat yang wajib pada Tuhan amat banyak
20. Tak ada yang sanggup menghitungnya
Tidak wajib kita ketahui semua
Seperti ungkapkan atau dikemukakan
Sebab tidak kita dapati dalil
Agar tidak memberatkan bagi hambanya
25. Sifat dua puluh wajib diketahui
Sebab kita dapati dalil-dalilnya
Mana yang disebut sifat dua puluh
Mari hitung bersama-sama
Yang pertama adalah wujud
30. Selanjutnya kuterangkan makna singkatnya
….
ALAN KASLAN
adalah sastrawan yang juga dikenal sebagai aktor teater ini, dilahirkan di desa Peunaga Pasi, Meulaboh Aceh Barat, 1 April 1969. Mulai menulis puisi sejak 1988, puisinya tersebar di beberapa media massa antara lain, Majalah Santun dan Serambi Indonesia.
Untuk mengasah bakat seninya pendiri biro pengkaderan sanggar Semilir Kembara Karya Meulaboh ini hijrah ke Banda Aceh. Di Banda Aceh selain terus menciptakan karya sastra, kehidupan teater tidak pernah ditinggalkannya. Kini menjadi menjadi anggota Teater Peduli Banda Aceh. Sajak-sajaknya dimuat dalam buku L.K. Ara dkk (ed.) Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995).
Kepada Siapa Kita Berikan Senyum
Puisi-puisi yang kita tulis
adalah ungkapan perasaan yang kita sepakati
agar ketulusan hati yang kita berikan
tidak menjadi dusta dalam keangkuhan
yang membungkus makna-makna
Kepada siapa kita berikan senyum
bila sawah ladang kita telah kering
semua jadi resah
walau sekian banyak nyanyian rindu
rindunya rindu mereka
cuma engkau yang mengerti
di antara bulan sabit dan bintang kala
Jakarta, 7 Desember 1993
AL-FATHU ‘L-MUBIN ‘ALA ‘L-MULHIDIN
(Kemenangan Nyata Atas Orang-Orang Ateis) adalah sebuah kitab yang ditulis oleh Nuruddin ar-Raniri dalam bahasa Melayu setelah ia kembali dari India. Kitab setebal 298 halaman ini selesai ditulisnya pada tanggal 12 Rabi’ul Awal 1068 H atau 1657 M. Kitab ini ditulisnya bertujuan untuk melawan faham kaum wujudiyah yang dipelopori oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani. Pada halaman-halaman awal ia meriwayatkan pembunuhan kaum wujudiyah dalam bentuk yang lebih lengkap, serta pembakaran kitab-kitab yang ditulis oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani di halaman mesjid raya Baiturrahman. Selain itu, ia juga menyebutkan dalil-dalil tentang kesesatan ajaran kaum wujudiyah tersebut. Pada halaman terakhir Nuruddin ar-Raniri menyebutkan kitab ini ditulisnya untuk dikirim kepada
Segala saudaraku yang ada di Pulau Aceh, dan yang di Negeri Kedah, dan yang di Pulau Banten, dan yang di Negeri Patani, dan yang di Pulau Mangkasar, dan yang di Negeri Johor, dan yang di Negeri Pahang, dan yang di Negeri Singgora dan pada segala negeri yang di bawah angin.
ALISYAH
adalah salah seorang seniman dari dataran tinggi tanah Gayo, Aceh Tengah. Dalam bidang berkesenian ia mengkhususkan dirinya menjadi seniman dalam didong—seni bersyair di Tanah Gayo, Aceh Tengah. Ia dilahirkan pada tanggal l5 April l945 di Gelelungi, Aceh Tengah. Pada tahun l962 menyelesaikan SGA. Sejak tahun l961 ikut berdidong dengan grup Siner Pagi.Tugasnya sebagai pembisik. Pada tahun l962 sudah mulai ikut mencipta. Ciptaanya, Aceh Tengahni, Tun 45 di tulis tahun l971. Pada tahun l971 menjadi Kepala Desa di Gelelungi. Jadi guru bakti MIN di Gelelungi tahun l968, l969 dan l970. Berikut salah satu karya Alisyah dalam bentuk syair didong yang ditulis dengan teks bahasa Gayo ?
AL-MUNTAHI,
adalah syair karya Hamzah Fansuri yang tidak diketahui tanggal pembuatannya. Tetapi Hamzah merupakan pengarang Melayu pertama menggunakan nama dalam karya-karyanya. Ucapannya banyak orang yang tidak mengetahui bahasa Arab atau Parsi dan ini merupakan suatu kenyataan. Hamzah dalam karya ini juga memberi tantangan terhadap ulama asing yang berada di Aceh, karena mereka tidak sanggup mengarang dalam bahasa Melayu.
ALYACUB
lahir tahun l951 di Kampung Kutekering, sebuah desa persawahan di Kecamatan Bukit. Ayahnya berasal dari Kampung Kebayakan. Ibu dari Kampung Kutekering, Simpang Tige. Orang tua bekerja sebagai nelayan di Danau Laut Tawar. Sejak kecil Aly tinggal di Asir-Asir. Pendidikan yang ditempuhnya SRI Boom. Kemudian masuk Jamiatul Wasliyah hingga kelas II di Kemili. Entah bagaimana caranya pernah mendapat ijazah SMEA. Dan pernah bekerja di Kantor Pertanian Aceh Tengah. Diasana bekerja selama lebih kurang 2 tahun hingga tahun l966. Karya pertama yang cukup terkenal berjudul ‘Pit Ni Ungke’ tapi lebih dikenal dengan sebutan ‘Tun Tun Ali Dasa’. Kemudian karyanya muncul pada tahun l970 berjudul ‘Mas’. Lagu ini menurut Aly tercipta setelah anaknya yang pertama yang ketika itu baru berumur 7 hari. Saat itu Aly sedang menidurkan sang anak. Dari pengalaman itu lahirlah nyanyian Mas. Sebutan mas merupakan panggilan kesayangan kepada sang bayi. Nyanyian Mas kemudian pernah dipopulerkan Srimurni seorang biduan yang juga guru di PGAN di Takengon. Karya-karya Aly lainnya yang cukup populer adalah, ‘Gayo’, ‘Sebuge’ dan lain-lain.
GAYO
Gayo …ine…wo Takingen
so Takengen sejuk bengi
upuh jerak ules Gayo ni
iwani seni notto…seni Gayo ku denang
nge lelungunen ko Takingen
baur ijo salupi emun
so umah jemen Takengen si pitu ruang
kelik ni kalang i tanoh Gayo
kekawat ulu remang ketike
bersebuge ko Gayo ulakmi ku batang ruang
woi serudang ko mayang
kepies kemang renggali Gayo
so Laut Tawar si gemasih
rupemu si putih jernih
lingang ni waih notto…ketibung berawang
waih Peusangan manut ku toa
mu lalui Silahnara
naringen basa notto…i ujung Bintang
selalumi ko ku Aceh
nti ne ara mu tinen serpih
wih mu bertih ku iwih mempas ku karang
Takengon, l985
AMEER HAMZAH
selain sebagai penyair juga dikenal sebagai seorang politikus dan wartawan. Dia dilahirkan di Buloh Blang Ara, Aceh Utara, 25 Oktober 1960. Menulis puisi sejak MTSN dan baru dipublikasikan di media massa setelah tercatat sebagai mahasiswa. Kehidupan intelektual di kampus makin mengasah bakat kesusastraannya, sehingga dia percaya sebagai pengasuh ruang Sastra Budaya di koran kampus Ar-Raniry Pos tahun 1985—1988. Setelah itu, pada tahun 1990 oleh Kanwil Depag Propinsi Aceh dipercaya mengasuh rublik Medeuen Sastra Majalah Santun. Sekarang tercatat sebagai seorang Redaktur Serambi Indonesia membidangi sastra Aceh. Karya puisinya yang pertama terbit dalam antologi “Tangan-Tangan Bicara” (1987). Ameer juga mengabdikan dirinya dalam bidang pendidikan dengan menjadi staf pengajar di Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry. Sebagai seorang penyair dia tidak bisa lepas dari pengaruh kesusastraan lama yang berupa hikayat. Beberapa hikayat telah dihasilkannya antara lain; “Tragedi Mina” (1990), “Perang Teluk I dan II” (1991), “Ummul Qur’an”(1992), “Siti Keumala” (1992), dan Ameer juga tercatat sebagai salah seorang penyair Aceh dalam L.K. Ara dkk (ed.) Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Kepiawaian Ameer sebagai seorang sastrawan telah diakui secara nasional. Nama Ameer Hamzah tercatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (2001).
Seandainya Mampu Kugores Langit
Seandainya mampu kugores langit
akan kucoret tinta darah merah
di rentang khattulistiwa
Kutulis kalimat protes
tentang penindasan dan pembantaian di bumi Aceh
Agar semua bangsa di dunia membacanya
Lalu turut belasungkawa
Jika perlu semua korban yang hilang
ku pasang fotonya di awan
agar malaikat melapor pada Tuhan
bahwa diujung Sumatera
ada ladang pembantaian
Seandainya mampun kutungging air laut
akan kugantikan dengan air mata janda
dan anak yatim yang malang
Agar ikan-ikan tahu
ada yang tidak beres di daratan
Seandainya mampu kugali lubang kuburan
Tulang-belulang itu
Kuharap bisa menjadi saksi kekejaman
Tangan-tangan biadab tanpa iman
Banda Aceh, 2 Syawal 1419 H
ANSHOR TAMBUNAN
penyair ini lebih dikenal dengan nama samarannya Ucok Kelana TB. Lelaki berperawakan kecil ini dilahirkan di Syarulla, Tapanuli Utara, 24 April. Darah seni Anshor mengalir dari orang tuanya yang berdarah seni, ayahnya adalah seorang pemusik tiup dan drama. Alumnus FKIP Unsyiah Jurusan Bahasa dan Sastra ini menulis sajak, esai, kritik sastra, dan opini di berbagai media massa antara lain; Atjeh Post, Serambi Indonesia, Peristiwa, Majalah Kiprah (Kanwil P dan K), Majalah Santunan (Kanwil Depag), Tabloid Baiturrahman, Warta Unsyiah, Waspada, dan media massa lainnya. Sebagai seorang intelektual dia mengabdikan ilmunya dengan mengajar di SMA Adidarma. Selain itu dipercaya sebagai pengasuh ruang sastra budaya “Balee Dokarim” majalah Panca Dep. Transmigrasi dan PPH. Dan juga pernah dipercaya sebagai penyunting SKK Warta Unsyiah (1991—1994). Sebagai seorang penyair, Ansyor tidak saja aktif di bidang penulisan, namun juga aktif diseni pertunjukan teater bersama sanggar Cempala Karya sebagai penata musik pada setiap pementasan sanggarnya. Kecintaan Ansyor terhadap dunia tulis-menulis tidak mungkin dapat dipisahkan dari kehidupannya. Untuk mendedikasikan kecintaannya tersebut selain dilakukan dengan cara menghasilkan karya sastra, ia juga melibatkan dirinya di Depertemen Litbang Lembaga Penulis Aceh.
ANTON SABANG
lahir di Sabang, 18 Juni 1972. Alumni Jurusan Pendidikan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Anton adalah salah seorang seniman tari, kreografer Aceh. Ia mulai menari sejak sekolah menengah. Beberapa kreografinya telah dipentaskan di luar Aceh, seperti Bandung, Lampung, Surabaya, dan Medan. Karyanya antara lain Alam (1997), Laskar Inong Bale (1999), Alif (2000), Senjakala Ziarah Putih (2002). Menggarap tarian massal Saleum pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA-IV) Agustus 2004, Menjala Asap (2004), Tanpa Titik (2004), dan mendapat hibah seni Yayasan Kelola untuk tarian Senjaka Seudati (2004). Ia bermaustin di Jalan Sultan Malikusssaleh, Lorong Seulanga I. no 32, Lhong Raya, Banda Aceh.
‘AQA’IDU ‘L-SHUFFIYAH AL-MUWAHIDDIN
(Akidah Ahli Sufi yang Menegaskan Tuhan) adalah karangan Nuruddin ar-Raniri dalam bahasa Arab. Dalam kitab ini Nuruddin menyebutkan dirinya sebagai penulis, sedangkan tahun penulisannya dan judul kitabnya tidak disebutkan. Adapun kitab ini membahas masalah akidah serta pengalaman-pengalaman keruhanian yang dilalui oleh orang-orang sufi, terutama tatacara kekhusukan mereka dalam berzikir dengan mengucapkan la ilaha illa’l-Lah.
ARAFAT NUR
dilahir di Lubuk Pakam, Sumatra Utara, 22 Desember 1974. Mulai serius mendalami bidang sastra terutama puisi dan cerita pendek sekitar tahun 1997, tapi sebelumnya sudah mulai menulis berupa puisi dan cerpen anak-anak. Menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di Peureulak dan SLTP di Idi Rayeuk. Kelas tiga SLTP pindah ke Meureudu dan menamatkan SMA di Meureudu. Pernah jadi tenaga pengajar di Dayah Babussalam (1992-1999) dan menjadi pegawai honorer SMU Meureudu-Aceh Pidie (1994-1999). Lalu pindah ke Lhokseumawe bekerja sebagai jurnalis. Dia dipercaya sebagai Ketua Devisi Sastra pada Yayasan Ranub Aceh (KRA). Menulis puisi, cerpen dan artikel di berbagai media massa. Ia pernah mengikuti pertemuan sastrawan sesumatra yang diselenggarakan DKA/Lempa di Banda Aceh (1999). Pernah mendapatkan penghargaan terbaik lomba penulisan cerpen Taman Budaya Aceh (1999), harapan I lomba cerpen telkom online dalam rangka menyambut hari Kartini (2005), juara III Nasional lomba penulisan novel Forum Lingkar Pena (2005). Puisinya ikut dalam antologi Keranda-Keranda (DKB, 2000), Aceh Dalam Puisi (Assy-syaamil, 2003), Mahaduka Aceh (PDS HB. Jassin, 2005), Lagu Kelu (ASA-Japan Aceh Net, 2005). Sadangkan karyanya dalam bentuk cerpen dimuat dalam antologi Remuk (DKB, 2000). Novelnya yang sudah terbit adalah Meutia Lon Sayang (dar! Mizan, 2005), Cinta Mahasunyi (dar! Mizan, 2005) dan Percikan Darah di Bunga (Zikrul Hakim, 2005). Berikut ini cuplikan salah satu karyanya dalam bentuk puisi
Kapal Nuh Itu Masih Ada
Kapal Nuh itu masih ada
Khidir menumpanginya
Singgah disetiap pelabuhan cinta
Pernah juga singgah di Malahayati
Subuh Minggu itu kapal lagi berlayar
Dari Laut Hindia ke Selat Malaka
Memang sudah terbaca segala pertanda
Dari getar matamu
Tapi kala banjir besar itu menjelma
Kapal itu lagi berlabuh di dadaku
Menurunkan sejumlah cinta
Lhokseumawe, 14 September 2005
ARIEF RAHMAN
awal kepengarangannya ditandai oleh hasil karyanya yang berupa sajak. Bakat kepengarangannya timbul ketika masih aktif di Sanggar Kesenian Kusuma Bangsa sekitar tahun 1981 sampai dengan 1984 yang dikelola KP4BS Sabang, diseksi Drama dan Puisi. Dia dilahirkan di Medan, Sumatra Utara, 8 Juni 1968. Aktifitas seninya pernah berhanti tolal ketika pulang ke Medan pertengahan tahun 1984. Sejak saat itu nama suami Samsidar, dara kelahiran Sigli 1971 ini jarang terdengar, walaupun sesekali masih sering menulis puisi. Sampai sekarang belum punya satupun antologi puisi secara tunggal. Beberapa puisinya pernah dimuat di beberapa media, baik di Medan maupun di Aceh. Bekerja sebagai wartawan di Surat Kabar Aceh Expres, Banda Aceh dan Tabloid Mingguan Hikmah, Pikiran Rakyat, Bandung. Ia bermaustin di Banda Aceh. Sajaknya Ketika Damai Tak Lagi Ada dimuat dalam antologi bersama penyair Aceh lainnya dalam Antologi Puisi Keranda-Keranda (DKB, 1999).
Ketika Damai Tak Lagi Ada
Ketika makna merdeka terputus di tanah ini,
maka, damai itu tak ada lagi
wanita-wanita paro baya
bocah-bocah lucu dan lugu
harus rela kehilangan suami dan ayah
harus rela disebut janda dan yatim
Ketika makna merdeka terputus di tanah ini,
maka, damai itu tidak ada lagi
ibu-ibu tua sesunggukan
dara-dara jelita ketakutan
kehilangan anak-anak tercinta
kehilangan mahkota kebanggaan
Ketika makna merdeka terputus di tanah ini,
maka, damai itu tidak ada lagi
ribuan jiwa terusir dari buminya
ribuan nyawa terbang dari raganya
berbondong-bondong menjadi pengungsi
atau tidur karena peluru
Ketika makna merdeka terputus di tanah ini,
maka, damai itu tak ada lagi
sekolah dan angkutan dibakar
rumah-rumah dijarah
hingga bocah-bocah tak lagi sekolah
diam dalam ketakutan mencekam
Ketika makna merdeka terputus di tanah ini,
maka, damai itu tak ada lagi
yang hadir kecurigaan
yang hadir saling menyalahkan
siapa kawan siapa lawan
tak ada berbatasan.
Banda Aceh, Agustus 1999
ASAY PADE, HIKAYAT
merupakan hikayat Aceh dalam bentuk puisi yang menceritakan asal-usul padi serta upacara yang berkaitan dengannya. Kebiasaan wanita Aceh pada hari sebelum panen dimulai mencabut tujuh batang inong pade, yang mereka sebut sebagai ulee pade (induk padi; asal padi). Hal ini menggambarkan Hawa membawa pulang tujuh pokok padi. Demikian juga ketika menabur benih, panen yang baik dimohonkan dengan menyebut keempat nama dari seorang putra Adam yang berupah menjadi benih padi. Berikut ini cerita hikayatnya; ketika Adam dan Hawa diusir dari surga, mereka mengembara mengelilingi dunia secara terpisah dalam jangka waktu yang lama, baru mereka bertemu kembali di Gunung Rahmat. Malaikat Jibril memberikan pelajaran kepada Adam tentang pertanian dan membawah benih yang akan ditanam dari surga.
Ketika Adam membuka lahan pertanian dan mulai menaburkan benih, ternyata persediaan benih pertanian yang diberikan Malaikat Jibril tersebut kurang. Atas perintah Allah supaya Adam mengorbankan anaknya empat orang yaitu Umahmani, Nurani, Asyeuki, dan Seureujani. Bagian-bagian tubuh sianak berubah menjadi berjenis-jenis butir padi yang digunakan Adam untuk menaburi lahan pertaniannya yang masih kosong. Setelah mengetahui hal tersebut, Hawa pergi ke ladang pertanian dan memohon agar anaknya yang sudah menjadi benih kembali lagi. Si anak menjawab bahwa ia akan pulang setiap tahun, dalam bentuk panen tahunan.
ASHALUDDIN, TEUNGKU
dilahirkan di Isaq, Aceh Tengah, tahun 1917. Pendidikan SR ditempuhnya pada tahun 1927. Kemudian belajar mengaji pada beberapa ulama, seperti Tgk M. Hasbi Ash Shiddeiqy, Ustad Saleh Syarif, dan lain-lain. Ketika belajar pada Tgk Hasbi lebih kurang satu tahun, Beliau harus menempuh perjalanan dari Takengon – Banda Aceh. Kemungkinan basar Tgk Ashaluddin belajar mendobi dari gurunya yang bernama Ustad Saleh Syarif, karena gurunya tersebut selain menjadi ulama juga seorang tukang dobi. Namun yang jelas sebagai putra Gayo yang lahir di Isaq (ibu kota Kerajaan Linge), Beliau sangat dekat dengan alam yang masih asri. Tak heran jika Beliau tertarik menapaki alam luas, penuh bukit dan pegunungan serta rumput yang hijau ditulis dalam bentuk karya sastra. Tulisan-tulisannya yang bernas dalam bentuk syair telah menempatkan Tgk Ashaluddin yang juga dikenal sebagai ulama dan pemimpin Panti Asuhan Budi Luhur di Takengon ini sebagai seorang penyair. Berbeda dengan penyair pendahulunya seperti Tgk Yahya dan Tgk Mudakela yang mengambil tema syair dari Alquran dan Hadits, Beliau menggunakan kata-kata mutiara. Salah satu alas an Beliau adalah bilah mengambil ayat Alquran takut kalau-kalau terpeleset. Menurut penyair yang hidup tiga jaman ini, sejumlah buku dan tulisannya telah hilang karena sering pindah dari satu kota ke kota yang lain. Ada juga yang hilang karena hanyut dibawa air bah. Berikut cuplikan salah satu puisi Ashaluddin masih dalam bahasa ibunya Gayo
KALIMAH TUJUH
Gere ara lain tuhen
Melainkan Tuhen Allah
Nabi Muhammad i kirim Allah
Mah peraturen ku hamba Allah
Nabi Muhammad Rasulni Tuhen
Munyawahan suruh tegah
Suruh tegah isawahan Rasul
Kati enti murakul benar urum salah
Gelah tetap ingeti Tuhen
Enti lupen wan senang susah
Wan senang susah ingeti Tuhen
Oya baru imen i yakui syah
Mendepet nikmat i puji Tuhen
Gelah i ucepen ingeti Tuhen
Ke wanni belepe ingeti Tuhen
Mudah-mudahan mendepet luah
Oya bele kin pengujin
Si berimen suci i sone i erah
Nge kuwan bele baru i betih
Si berimen pedih depet teridah
Bier baring kune perputeren zaman
Iktiket ku Tuhen enti minah-minah
Kati depet ridho ni Tuhen
Gelah i bueten si benar perintah
Ridhoni Tuhen kul faedahe
Sa mendepete we jema mutuah
Akalimah tujuh leloni ate
Sa muningetie gere gelisah
Gere gangu gere macik
Gere usik gere gunah
ASRARU ‘L-INSAN FI MA ‘RIFATI ‘L-RUH WA ‘L-RAHMAN
(Rahasia Manusia Dalam Mengetahui Ruh dan Tuhan) adalah sebuah kitab yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu oleh Nuruddin ar-Raniri untuk memenuhi permintaan Sultan Iskandar Tsani. Namun Nuruddin tidak mampu untuk menyelesaikannya, barulah pada masa pemerintahan Sultanah Safiatuddin kitab ini diselesaikannya. Kitab ini tamat dikarangnya pada tahun 1050H atau 1640M. Nuruddin menyebutkan kitab ini dalam kitabnya yang lain yaitu kitab Jawahir. Adapun kitab ini merupakan pengetahuan untuk mengetahui manusia, terutama mengenai masalah-masalah yang berkaitan dengan ruh, serta sifat dan hakikatnya. Selain itu, kitab ini juga membahas masalah hubungan manusia dengan Tuhan. Kitab ini terdiri atas dua bab. Bab pertama dibagi pula dalam enam fasal dan bab kedua dibagi atas lima fasal. Naskah kitab ini, tersimpan di Pustaka Tanoh Abee.
AYI JUFRIDAR
adalah salah seorang penyair muda Aceh yang sangat produktif. Sebagai pengarang puisi, namanya mulai dikenal tahun 1990 dengan dimuat puisi pertamanya di Serambi Indonesia. Setahun kemudian (1991) cerpennya juga dimuat di majalah remaja Aneka (Jakarta). Dia lahir di Bireuen, tanggal 18 Agustus 1972 dari pasangan Syahabuddin dan Nurjannah. Dia menamatkan pendidikan tingkat tinggi di Politeknik Negeri Unima Lhokseumawe. Ayi memilih dunia jurnalistik sebagai lahan pekerjaannya. Bekerja sebagai wartawan di Serambi Indonesia sejak tahun 1997 –2004, kini menjadi Stringer Koran Jepang Asahi Shimbun di Aceh. Aktif di Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) kota Lhokseumawe dan menjabat sebagai ketua (2005-2007). Kehadirannya dalam dunia kesustraan membuktikan eksistensi penyair asal Aceh untuk memperkaya kesustraan Indonesia. Kepekaannya dalam bidang sastra telah menghasilkan sekitar 100 cerpen dimuat dalam berbagai media massa seperti; Tabloid Nova, Aura, Wanita Indonesia, majalah remaja Aneka, Gadis, Ceria, Horospop, dan Suara Karya, yang semuanya merupakan terbitan Jakarta. Cerpennya juga dimuat di harian Waspada dan Analisa (Medan). Cerpennya telah dimuat dalam antologi sastra Seulawah (Yys Nusantara, 1995), antologi cerpen Remuk (DKB. 2000). Sedangkan puisi-puisinya dimuat dalam kumpulan puisi bersama Aceh Dalam Puisi (Assy-syaamil, 2003), Mahaduka Aceh (PDS HB. Jassin, 2005), Lagu Kelu (ASA-Japan Aceh Net, 2005). Berikut ini salah satu karyanya dalam bentuk puisi
Laut Yang Ramai
Laut mendadak ramai
deburan ombak terseret angin
ke tengah samudera itu
sedang di bibir pantai
orang saja menari-nari
Laut mengundang sehamparan gunung samudera
datanglah dari penjuru segala
melihat kami menari
menjelang akhir sodorkan air
ketika tubuh bermandi peluh
tapi jangan sugguhkan seudati*
sebab ia sudah mati
di telan televisi penuh warna
Datang,
datanglah dari segala penjuru
ramaikan laut kami yang sepi
dengan lagumu yang sarat cinta
Lhokseumawe, Juni 2005
* nama salah satu tarian tradisional di Aceh
‘AQA’ID AL-NASAFI
adalah sebuah naskah yang berasal dari Aceh dengan judul ,Aqa’id. Naskah ini dikarang oleh al-Nasafi. Selain itu, dalam naskah karangan al-Nasafi ini mengandung tulisan teks dengan bahasa Arab dengan terjemahan antarbaris dalam bahasa Melayu. Pengarang juga mencantumkan tanggal penulisannya yaitu bertanggal 998H atau 1590 M. Secara keseluruhan pengarang dalam naskah ini membicarakan ilmu kalam. Pada tahun 1635 seorang pengarang yang pernah menjadi mufti di Kerajaan Aceh Darussalam yang bernama Nuruddin ar-Raniri membuat saduran dari karya al-Nasafi ini dengan judul Durrat al-Far’idh.
AZHARI
bakat kepengarangannya terlihat ketika terpilih sebagai cerpenis terbaik tahun 1999 (versi Taman Budaya Aceh). Anak muda ini dikenal juga dengan nama samaran Harry Antivoice. Dia dilahirkan di Banda Aceh, 5 Oktober 1981. Sebagai anak muda yang kreatif dia pernah dipercaya memangku jabatan dalam berbagai kegiatan antara lain; sebagai ketua redaksi pers pergerakan pelajar Aceh KaPA post (1999), redaktur budaya (tamu) di tabloid berita mingguan media Kutaraja. Selain itu, juga tercatat sebagai salah seorang pendiri Institut Tukang Ceritra Nusantara (ITCN), dan Komunitas Gerbong Budaya—semacam kelompok diskusi lintas-wacana yang meniscayakan pluralisme tinggi, juga pegiat diskusi di Kelompok Diskusi Metamorfosa. Awal tahun 2002 diundang mengikuti pertemuan Penulis Serumpun di Malaka. Cerpen pertamamya Karnaval dimuat di Harian Serambi Indonesia tahun 1999. cerpen dan essainya dimuat di Kompas, Tempo, Media Indonesia, Jawa Post, dan sejumlah media di Indonesia. Pada tahun 2004 menerbitkan buku kumpulan cerpen Perempuan Pala. Saat ini, Azhari aktif di Komunitas Tikar Pandan—sebuah kelompok kebudayaan di Banda Aceh. Komunitas ini juga menerbitkan Jurnal Kebudayaan Titik Tolak.
IBUKU BERSAYAP MERAH
Ibuku, Abah dan Dik Nong
Setelah bala aku pulang ingin melihat
Kalian dan kampung
Kukira 26 Desember cuma mimpi buruk
Tapi tak kutemukan kalian di sana
Jua Arief kecil yang cerewet
Seperti kalian, kampung kita ternyata sudah tiada
Berubah menjadi laut yang raya
Lihat ibu ada bangau putih
Berdiri dengan sebelah kaki di sudut kamarmu
Bangau itu tak bersayap merah
Seperti dulu pernah kau ceritakan padaku
Karena aku tahu bangau itu telah memberikan sayap merahnya buatmu
Agar kau peluk Abah dan Dik Nong ke dalamnya.
B
BACHTIAR ADAMY
adalah sastrawan yang banyak menulis karya sastra, terutama puisi. Menulis puisi sejak tahun 1978. Dia lahir di Lapangan Timur Gandapura, Aceh Utara, 1 Januari 1956. Pengarang yang kaya pengalaman ini mengaku selain menyenangi puisi juga menyenangi teater, tari, dan musik.
Karya-karyanya tersebar di berbagai media massa baik media lokal maupun madia nasional, antara lain; Harian Iskandar Muda, Atjeh Post, Peristiwa, Mimbar Swadaya, Majalah Santunan, Waspada, Analisa, Mercu Suar, Bukit Barisan, Mimbar Umum, Majalah Dunia Wanita, Gadis, Topik, Anita Cemerlang, dan Harian Merdeka. Karya puisi mantan pengantar koran semasa SD ini terhimpun dalam berbagai antologi, antara lain; Dua Kumpulan Puisi, bersama penyair Ahmad Rivai Nasution (BKKNI Kab. Pidie, 1982), Antologi Titian Laut III (terbitan Kuala Lumpur, 1991). Selain itu puisi-puisinya juga terangkum dalam L.K. Ara dkk (ed.) Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995)
Biarku Genggam Tanganmu
Selamat datang Ramadhan bulan keampunan
Kusambut engkau di gerbang pintu sanubariku
Yang bertirai putih seperti tahun-tahun silam
Lalu kita sama-sama tamu di rumah-Nya
Mereguk berkah dan rahmat
O, bulan agung menyimpan malam rahasia
Biarku genggam tanganmu yang mawar
Pertanda sebuah kesetiaan nan luhur
Buat pertemuan paling menyenangkan nanti
Pertemuan dengan Tuhan
Seperti telah dijanjikan-Nya
Lhokseumawe, 1992
BAKRI SIREGAR
adalah pengarang yang berdarah Batak. Dia dilahirkan di Langsa, Aceh Timur, 14 Desember 1922 dan meninggal di Jakarta, 19 Juni 1994. Pernah terjun dalam dunia jurnalistik, dengan menjadi redaktur harian Pendorong (Medan), dan redaktur majalah Arah (Medan). Sebagai seorang intelektual Bakri mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan sebagai dosen di berbagai universitas baik di dalam negeri maupun di luar negeri, diantaranya; dosen bahasa Indonesia di Universitas Warsawa, Polandia (1956—1957), dosen bahasa Indonesia di FKIP Universitas Sumatra Utara (1957—1959), dan terakhir menjadi guru besar Sejarah Sastra Indonesia Modern di Universitas Beijing, RRC (1959—1962). Dalam dunia perpolitikan yang melibatkan para sastrawan Indonesia, Bakri pernah terlibat di dalamnya, dengan menjadi anggota Pimpinan Pusat Lekra (1959—1965), dan kemudian diangkat sebagai Ketua Umum Lembaga Sastra Lekra (1965), setelah peristiwa G30S PKI meletus, Bakri ditahan hingga tahun 1977. Karya-karyanya yang pernah tercatat antara lain; Jejak Langkah (1953), Saijah dan Adinda (1954), Sejarah Sastra Indonesia Modern I (1964), dan sebuah tulisan yang berbentuk manuskrip dengan judul Angkatan-Angkatan dalam Sastra Indonesia.
BANTA A. FARIDA
adalah penyair yang banyak menulis puisi bertema ketuhanan dalam bentuk sya’er (kesenian tradisional masyarakat Gayo). Ia mempunyai latar belakang pendidikan agama Islam di pasentren. Setelah menyelesaikan pendidikan agama, ia mengabdikan dirinya sebagai guru mengaji di berbagai tempat. Banta A. Farida dilahirkan di daerah Gayo, Aceh Tengah, pada tahun 1929. Perihal mengekspresikan pengalaman diri lewat seni sastra bagi Banta tidak hanya menulis puisi, tetapi juga mengaransemennya menjadi lagu serta langsung membawakan lagu gubahannya tersebut sekaligus. Salah satu puisinya berjudul “Munubah Nasib” (Merubah Nasib) yang terdiri dari 16 bait, bercerita tentang bagaimana sebenarnya manusia nasibnya. Merubah nasib manusia bukanlah Allah, tetapi atas usaha manusia itu sendiri. Walaupun demikian garisnya telah ditentukan Allah, usaha mengerjakan untuk mencapainya terletak pada diri kita masing-masing. Di dalam puisinya “Penyakit Masyarakat” yang terdiri dari 8 bait, berisikan nasehat-nasehat tentang bahayanya seseorang kalau sudah kena penyakit masyarakat. Menurut puisinya, ada lima penyakit masyarakat yakni; berjudi, mencuri, minum arak, pergaulan bebas dan malas. Sebagai seorang penyair tradisional, Banta A. Farida tergabung dalam grub “Sya’er Bebesan”. Pada tahun 1950-an seni sya’er mencapai puncak keemasannya di dataran tinggi Gayo yang kebangkitannya dipelopori oleh Tgk yahya bin Rasyid dan Tgk Abdurrahim Daudy. Pada masa inilah, penyair Banta A. Farida dengan grup Sya’er Bebesannya dalam melakukan kesenian sya’er sering berhadapan dengan penyair Tgk Abdurrahman Daudy dari grup “Sya’er Kebayakan”, dan dengan Tgk Genincis dari grup “Sya’er Kutelintang”. Seperti penyair seni sya’er lainnya, ia pun menulis puisi bertemakan hari akhirat. Salah satu puisinya yang bercerita tentang hari akhirat ialah “Tene Kiamat”. Sedangkan yang menyangkut masalah pendidikan dan tata cara bergaul, terangkum dalam puisinya yang berjudul “Bergaul”. Selain itu tema umum, dituangkannya dalam puisi berupa cerita-cerita tentang Nabi Allah. Terutama kisah Nabi Ayyub. Berikut salah satu cuplikan puisinya yang masih dalam bahasa Gayo
TAKENGON
Sentan ku panang ari Penyanyi
Wae belangi pedi rupen baur temun
Uyem rempak nge muriti
Si karna nami turunni emun
I Ponok Baru ara waih bengi
Tempat muniri sesire berpantun
Sentan ku panang ari bukit menjangan
Belanngi di jalan ku Lukup Sabun
Ku Simpang Balik kami remalan
Teles Lampahan lagu si lungun
I Timangh Gajah lues pedi belang
I daerah Tunyang atu beremun
Sentan ku panang ari gunung ujen
Daling tansaren wae mususun
Kami remalan ku umah uken
Mesgit bebesen nge munge I bangun
Oya waeh tebe kin tetiduken
Telege sumen gerele silun
Sentang ku panang ari bur ni bies
Osop-osop teles kampung pedemun
Kin sejarah jemen atente uwes
Inen mayak pukes oyala atu tamun
I ujung paking ara atu kude
Kene jema tue mungenal petemun
Sentang ku panang ari baur kelieten
Ku kampung toweren asal dene turun
Keliling laut jeroh di jelen
Perau pe simen nge merun-erun
Ari ujung baru aku mumanang
Munengon gelumang nge malun-alun
Sentang ku panang ari kayu Emi
Teles Gele lungi le dene ku kuyun
Aku mukale……………siner pagi
Tutur ni kami kire berlakun
Ku lukup badak kami bermotor
Sumur ara totor nge bene ayun
Sentang ku panang ari Silih Nara
Tanohe rata oya Belang Gurun
Kekiser kiri renyel ku celala
Ku taon pora oya uten selun
I toa ni angkup ara atu timang
Waeh mu berawang unang mukelamun
Sentan ku panang ari baur lintang
Teles mubayang ari uwo Penimun
Kami remalan renyel ku gelampang
I toa ni gelumang oyala penarun
Asal linge awal serule
Ralik ni dunie umo mujumpun
BANTA AHMAT, HIKAYAT
menceritakan mengenai Banta Ahmat lahir ke dunia ini tidak lama setelah kematian ayahnya Ansari, seorang raja dari negeri Nabati. Sebagaimana layaknya anak yatim, iapun melalui awal kehidupannya dengan penuh penderitaan dan kemiskinan. Hal ini disebabkan keserakahan pamannya yang bernama Tapeuhi yang menguasai semua harta warisan peninggalan ayahnya. Sang paman hanya meninggalkan untuk Banta Ahmat dan ibunya sebuah rumah kediaman dan sepilah parang tumpul.
Seiring dengan waktu Banta pun sudah mulai dewasa, dan memberisihkan hutan dan ladang dengan parang warisan tersebut. Namun penderitaan tak juga bisa jauh darinya. Mula-mula taman padinya dihanyutkan banjir sedangkan yang kedua kalinya dimusnahkan oleh burung Bayeuen. Seekor naga muda mengajari Banta cara menangkap burung tersebut. Setelah tertangkap tidak berapa lama kemudian burung Bayeuen pun berubah menjadi Putroe Indra (seorang putri yang cantik jelita), dan Banta pun mengawininya.
Tidak berapa lama sang naga pun sudah besar dan tidak mungkin lagi untuk tetap tinggal di sungai dekat kediaman Banta. Selain itu, ia pun sangat ingin bertemu dengan orang tuanya di laut. Dalam perjalanan ke laut sang naga ditemani oleh Banta, dan mereka banyak menemui rintangan, kesulitan dan cobaan yang berat. Setelah bertemu dengan orang tua sang naga, Banta pun menerima ilmu pelajaran serta jimat malakat (batu sakti) dari mereka. Dengan bekal tersebut, Banta menemui ibunya dan mulai memasuki kerajaan ayahnya yang sedang diperintah dengan zalim oleh sang paman. Sang paman adalah seorang raja kafir yang tidak percaya dengan Tuhan. Dalam memulai aksinya, Banta menyamar menjadi seorang pengemis.
Dalam pengembaraannya Banta secara diam-diam bertunangan dengan Putri Cahaya dari Iran. Tetapi belum bisa melanjutkan kejenjang perkawinan sebab kerajaan masih dikuasai oleh sang paman. Kemudian Banta mengatur siasat dengan matang, lalu kemudian baru memerangi pamannya. Banta pun dapat mengalahkan sang paman dan merebut kembali tahta kerajaan. Banta Ahmat adalah raja yang alim, memerintah dengan bijaksana, sehingga seluruh rakyatnya menjadi makmur.
Dikisahkan Raja Pira’ yang kafir berusaha merebut Putri Cahaya yang cantik jelita dari tangan suaminya. Maka terjadilah perang besar di antara dua kerajaan. Banta Ahmat dapat mengalahkan Raja Pira’. Akhirnya mereka hidup bahagia bersama sekalian rakyatnya. Dari Istrinya yang pertama Banta Ahmat dikaruniai seorang putri yang cantik jelita diberi nama Lila Kaha yang kelak menggantikannya menjadi raja, menduduki tahta kerajaan.
BANTA ALI (BANTA PEUREUDAN), HIKAYAT
merupakan salah satu karya sastra klasik Aceh yang tidak diketahui pengarangnya. Karya sastra ini ditulis dalam aksara Arab-Melayu dengan menggunakan bahasa Aceh. Kalau ditinjau secara keseluruhan hikayat ini mempunyai persamaan cerita dengan dongeng dari Hindustan, terutama dalam cerita Pangeran Kera—seorang pemuda tampan yang tampil (merubah ujud) menjadi kera. Apakah dua cerita ini mempunyai kaitan satu sama lain, untuk menjawabnya diperlukan sebuah penelitian—penelitian dengan berbagai metode secara ilmiah. Cerita dalam hikayat ini dimulai dari petualangan Banta Peureudan dan saudara perempuannya yang bernama Bungsu Juhari. Mereka dibuang ke dalam hutan oleh ayahnya Banta Ali yang mempercayai ramalan ahli nujum bahwa kehadiran Peureudan dan adiknya akan membawa bencana dan kehancuran istana kerajaan.
Seorang pertapa dalam hutan memungut dan mengangkat mereka menjadi anaknya. Kedua bocah tersebut, diajari berbagai ilmu kesaktian. Dengan ilmunya tersebut, sang guru mengubah kedua anak itu bersama seorang pangeran bernama Maharaja Sinha dan patihnya menjadi himbee (sejenis kera). Dalam bentuk ujudnya ini Peureudan dapat menguasai segala macam binatang yang ada dalam hutan. Setelah itu, Peureudan mempersunting putri Sahbandi yang cantik jelita, anak raja Kisoy Kaseumi, yang telah dilamar 99 orang, sedangkan keenam kakaknya semua kawin dengan raja-raja. Peureudan berperang melawan ayah sang putri dan mengalahkannya, lalu memaksa sang raja untuk menyerahkan anaknya.
Ketika raja sedang sekarat, ia sangat menginginkan rusa bertanduk emas yang hidup di tengah-tengah hutan. Ketujuh menantunya pergi berburu rusa tersebut dengan caranya sendiri-sendiri. Berkat bantuan gurunya yang sudah tua Peureudan dapat menangkap rusa tersebut. Keenam menantu yang lainnya bertemu, tetapi mereka tidak mengenal Peureudan karena ia telah merubah ujudnya menjadi manusia biasa. Mereka minta bantuan kepada Peureudan. Dan Peureudan pun menyanggupinya dengan syarat mereka harus menyatakan diri sebagai hamba, lalu Peureudan memberikan duplikat rusanya sambil membubuhkan cap dipaha mereka.
Keenam menantu raja tersebut pulang dengan gembira, tetapi hanya sesaat karena ditengah perjalanan mereka kelaparan dan terpaksa memakan rusa itu. Karena itu, hanya sisa daging busuk yang mereka berikan pada raja (mertua mereka). Sementara itu, Peureudan merubah dirinya menjadi seekor kera dan membawa pulang rusa dalam keadaan hidup. Sesampai di istana ia merubah dirinya kembali menjadi manusia, keenam iparnya sangat terkejut karena kepadanyalah mereka berjanji menjadi hamba. Akhirnya mereka pergi dari negeri itu untuk mencari ilmu kesaktian.
Setelah kematian raja, maka diangkatlah Peureudan menggantikannya. Ia pun menjemput saudara perempuannya yang masih tinggal di dalam hutan, lalu menikahkannya dengan Kasyah Peureudan, putra raja Tambon Parisi sekaligus mengangkatnya sebagai menteri besar. Sementara itu, keenam iparnya yang pergi mengembara mencari ilmu kesaktian dengan dibantu 99 pangeran memerangi Peureudan. Tetapi Peureudan dapat mengalahkan mereka.
Banta Ali dan Istrinya yang telah membuang anak mereka terus dilanda kemalangan. Mereka pun mencari kedua anaknya yang telah hilang. Akhirnya mereka bertemu di Darul Aman—wilayah kerajaan Peureudan. Setelah hidup berbahagia untuk beberapa lama bersama anak-anaknya, Banta Ali pun meninggal. Banta Peureudan dikauruniai seorang putra yang diberi nama Cambo Ali, sedangkan saudara perempuannya melahirkan seorang putri. Kedua sepupu itu akhirnya dikawinkan dan meneruskan tahta kerajaan.
BANTA BEURANSAH, HIKAYAT
seperti layaknya karya-karya sastra klasik Aceh yang tidak mencantumkan nama pengarangnya, hikayat ini pun bersifat anonim. Secara keseluruhan ceritanya bersifat fiksi. Adapun cerita Banta Beuransah sebagai berikut; bermula Raja Syamsirah dari Aramiah yang mempunyai tiga orang anak yaitu Banta Barsyiah dan Qithah dari istrinya yang pertama. Anaknya yang bungsu bernama Banta Beuransah dari istrinya yang kedua. Suatu ketika raja bermimpi tentang seorang putri yang cantik bernama Nurul Aflah yang memiliki burung bernama Melaundiri, dari kerajaan Abram yang diperintah ayahnya bernama Sultan Malik Syamsarah. Ketiga anaknya tersebut diperintahkan oleh Raja Syamsirah untuk mencari sang putri serta burung piaraannya. Maka berangkatlah tiga bersaudara atas perintah ayahandanya.
Tidak berapa lama mereka sampai di persimpangan jalan bercabang tiga. Dari keterangan orang yang mereka temui dua jalan samping tidak akan menemui hambatan tetapi tidak menuju suatu harapan, sedangkan jalan yang di tengah penuh bahaya dan rintangan tetapi penuh dengan harapan. Kedua saudaranya yang tua memilih jalan di samping, sedangkan Beuransah memilih jalan tengah yang penuh dengan kesulitan. Dalam perjalanan selanjutnya kedua saudara Beuransah menjadi pengemis—yang satu jatuh ketangan penjudi dan yang satunya bangkrut karena pencuri. Sedangkan Beuransah menghadapi banyak hal-hal aneh. Ia menemukan pohon penuh dengan buah berebut untuk dipetik Beuransah—masing-masing buah mengaku yang terbaik; tiga buah tong yang tengah kosong; orang-orang memungut dahan pohon; janin kambing mengembek dari rahim induknya; orang memikul kayu bakar dengan beban yang berat tetapi terus menambah bebannya; kaki belakang kerbau yang sudah dipotong menendang satu sama lain; pohon besar berlobang kecil muncul nyamuk di dalamnya makin lama makin besar sampai sebesar gunung; orang yang sibuk mengumpulkan daun-daun pohon.
Hal-hal yang dijumpai Beuransah tersebut mengandung makna dalam bentuk simbol-simbol, lalu diterangkanlah makna simbol-simbol tersebut kepadanya oleh seorang Syiah (orang alim) guna membekalinya dengan pengetahuan berharga dan menyarankannya agar meneruskan perjalanan ke arah timur. Dalam perjalanan ia menemukan sebuah istana yang telah ditinggalkan orang. Di sana ia bertemu dengan Nek Keubayan—ibu raksasa yang suka memakan orang dan binatang. Nek Keubayan merasa kasih terhadap Beuransah, dan menyembunyikannya sewaktu raksasa sedang berburu. Waktu raksasa kembali, si ibu mengorek ilmu rahasia raksasa untuk membantu Beuransah. Raksasa mengatakan tujuh helai rambutnya dapat dijadikan jimat untuk menghadapi segala bahaya. Ketika raksasa sedang tidur, si ibu memotong tujuh helai rambutnya dan memberikan pada Beuransah.
Pada sebuah gunung ia menemukan roh raksasa dijaga oleh dua putri. Raksasa itupun dapat dibunuhnya. Ia meninggalkan dua putri di gunung dan akan menyinggahinya ketika pulang. Setelah itu, ia berteman dengan seekor garuda yang 98 ekor anaknya dimakan seekor naga. Lalu ia pun membunuh naga tersebut dan menyelamatkan dua ekor anak garuda. Sebagai rasa terimakasih garuda membawanya melintasi lautan api menuju tanah tujuannya. Garudapun menunggu perintah selanjutnya.
Beuransah masuk ke istana Abram dan berhasil membawa sang putri dan burungnya. Mula-mula ia hanya membawa burung sakti pulang dan menyinggahi dua putri yang ditinggalkannya di gunung. Dalam perjalanan ia bertemu dengan kedua saudaranya yang sudah miskin. Ia memberikan hadiah yang mahal-mahal. Tetapi kedua saudaranya tersebut menjadi cemburu lalu mencelakakannya dengan memasukkannya ke dalam sumur yang dalam. Di hadapan raja mereka mengaku yang mendapatkan burung sedangkan Beuransah hilang dalam perjalanan. Tapi rasa bersalah menyebabkan mereka malu lalu melarikan diri ke dalam hutan dan tubuh mereka tumbuh bulu-bulu seperti binatang. Sementara itu, Beuransah ditemukan oleh seorang saudagar kaya dan diangkat menjadi anak. Setelah saudagar meninggal, ia mewarisi harta kekayaannya termasuk seekor burung bernama Blanta. Dalam perut burung tersebut terdapat malakat (batu sakti) yang dapat dikeluarkan oleh tujuh jin. Seorang Yahudi ingin mendapatkan batu tersebut dengan tipu-muslihat tetapi tidak berhasil. Berkat kesaktian malakat tersebut ia dapat memasuki istana Abram dan menikahi sang putri. Yahudi tidak kehilangan akal, ia berhasil menyihir Beuransah dan mendapatkan malakat. Beuransah dibuang ke laut lalu dimakan seekor ikan. Dalam perut ikan ia berubah menjadi seorang bayi. Nelayan yang menemukannya dalam perut ikan membesarkannya. Berkat tikus, kucing dan anjing milik si nelayan, Beuransah berhasil mendapatkan kembali malakatnya. Kemudian dengan bantuan tujuh jin ia pun kembali bertemu dengan istrinya. Lalu tujuh jin tersebut mengangkat istana sekalian isinya ke kampung halaman Beuransah.
Beuransah memaafkan kedua saudaranya dan mengembalikan rupanya seperti semula dan memberikan dua putri gunung sebagai istri mereka. Beuransah pun diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya. Ia dikaruniai seorang putra diberi nama Sanggila dan seorang putri Ruhoy Akeuba. Ia pun menikahkan anaknya tersebut dengan putri Indraprata, penguasa kerajaan kayangan.
Tersebutlah raja Cina berhasil menculik istri Beuransah dan dibawa pulang ke kerajaannya dalam keranda kaca. Maka terjadilah perang yang dasyat di antara dua kerajaan ini. Akhirnya Beuransah dapat mengalahkan raja Cina. Berikut ini kita lihat cuplikan sebagian teks Hikayat Beuransah nukilan oleh Aminah dan dialih bahasakan oleh Abdullah Husin (Ara, dkk, 1995:58)
……
Pada suatu malam Raja Syamsiah
Bermimpi seakan ia pergi ke suatu negri
Tempat putri yang cantik
Kulita Abram nama negeri itu
Dan nama putrinya Nurul Aflah
Dalam mahligai tersebut ada seekor burung
Sebagai mainan putri namanya
Malaundiri bulunya indah
Sebagai ayahnya bernama Syamsyarah
Kuta luas dan bertahtakan batu pualam
Tujuh hari raja pingsan
Demikian anugerah Allah
Kemudian raja meminta diberikan
Burung itu pada putri yang cantik rupawan
Tuan putri tak berani mengabulkan
Takut marah sang ayah
Raja sangat sedih dalam mimpinya
Setelah siuman dari pingsan beliau menangis
Putri tanyakan pada raja apa gerangan beliau tangisi
Lantas raja ceritakan mimpi
Setelah itu sang putri heran apa gerangan perubahan pada raja
Kemudian dia panggil semua menteri oleh raja dan nujum-nujum
……..
Sana air penuh yang tengah tidak ada
Berlimpah dua gardu satu tetes tak ada dalamnya
Kemudian terlihat sibuk orang berkas sala
Diangkat-angkat tak mampu diangkat
Konon pula ditambah yang lebih besar lagi
……..
Mengapa segalanya tak terpaham begitu kalam Banta
Tak patuh dan tak mau dengar
Sama si gila mana ada upaya
Mau diangkat tak bergerak
Tak mau dengar nasehat
Sudah itu Banta lalu
Kambing bunting di jalan raya
Anak dalam perutnya bersuara
Banta terus berangkat
……….
BARLIAN AW
adalah pengarang serba bisa dan sebagian karyanya berupa puisi, prosa dan esai. Dia dilahirkan di Seunodon Aceh Utara, 16 Agustus1955. Pada tahun 1977, dia merintis karirnya sebagai sastrawan dengan menulis puisi, prosa, dan esai. Kepiawaiannya dalam dunia karang mengarang ini, telah dibuktikannya dengan memenangkan beberapa lomba yang pernah diikuti, antara lain; lomba mengarang puisi mahasiswa se-Sumatra (Medan 1979), puisi kepahlawanan Aceh se-Aceh (Aceh 1977), prosa kepahlawanan se-Aceh (Aceh 1988).
Sebagai seniman Barlian AW sering mengikuti seminar seni budaya baik tingkat daerah, nasional, maupun internasional. Dalam suatu diskusi seni di Taman Budaya Aceh, Banda Aceh, bulan April 1997, Barlian berbicara tentang “Kesenian Tradisioanal Aceh”. Ada gejala menarik yang diperlihatkannya yang mungkin luput dari perhatian orang. Terhadap gejala pelencengan aspek-aspek esensial dari kesenian tradisional ialah sikap juri yang mau “menyesuaikan diri” dengan kehendak panitia. Padahal, para juri terdiri dari syeh-syeh senior pada Seudati, kreografi pada tari lainnya. Dengan hal ini diharapkan mampu meyakinkan para pejabat kesenian bahwa kesenian tradisional Aceh memiliki aturan dan pakem yang jika dilanggar akan kehilangan identitasnya. Sebab, kita tahu, para penyelenggara festival seni tradisional relatif tidak dimotivasi oleh keinginannya untuk mengembangkan kesenian secara proposional yang pengacu pada ketentuan yang ada—yang sesungguhnya di sinilah inti tradisional. Festival lebih menyesuaikan pada program anggaran.
Sebagai sastrawan Barlian AW selain menulis puisi dan prosa juga membuat karya kreatif berupa semacam essai pendek yang berturut-turut dimuat di ruang “Tingkap” pada Serambi Indonesia, Banda Aceh. Salah satu diantaranya berjudul “Al Hallaj”. Di samping sebagai penulis kreatif, pria sederhana yang tangannya tidak pernah lepas dari rokok ini, pernah tercatat sebagai wakil pimpinan redaksi Serambi Indonesia, selain itu juga aktif di berbagai organisasi, antara lain; wakil ketua KNPI Aceh, wakil ketua Forum Karang Taruna Aceh, wakil ketua Dewan Kesenian Aceh dan Kepala Biro di DPD Golkar Tingkat I Aceh. Sajak-sajaknya dimuat dalam buku L.K. Ara dkk (ed), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Nama Barlian AW tercatat sebagai seorang sastrawan dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (2001). Baginya berkarya dan berkreatifitas adalah ibadah.
ANJING-ANJING ITU TELAH KITA MANJAKAN
anjing di jalan-jalan
anjing di dalam pekarangan
anjing di rumah-rumah
anjing di hutan-hutan perburuan
anjing di tong-tong sampah
siapakah pemiliknya
yang memberi dia makan
yang memanjakannya dengan daging dan tulang
yang mengelusnya siang malam
yang menabalkan namanya dengan berbagai sebutan
anjing-anjing itu telah kita beri susu
katanya agar handal untuk memburu
telah kita beri dia roti
agar gesit mengejar pencuri
telah kita beri dia daging
agar tangguh menggonggong bila datang maling
anjing-anjing betina
anjing-anjing jantan
anjing putih anjing hitam anjing belang
telah menggonggong seruan azan
telah menggigit daging zaman
karena mereka bukan lagi
penjaga rumah dan pekarangan
tak lagi mau berburu kecuali merampas roti anak-anak kita
tak lagi mau menggonggong kecuali memangsai merpati piaraan
mereka terlalu dimanjakan
tidak sekadar simbol kesetiaan kepada sang tuan
tidak lagi jadi penurut
lihatlah di jalan-jalan dia mencegat siapa
lihatlah di lorong-lorong dia menodong siapa saja
lihatlah di gedung-gedung dia melindungi siapa
mereka adalah penebar rabies dan najis
dia adalah lambang kebiadaban
dia adalah lambang kebengisan
BASRI EMKA
lahir dalam lingkungan keluarga guru di Tapak Tuan, Aceh Selatan, pada tanggal 15 Juni 1949. Sejak duduk dibangku SD sudah gemar membaca. Kebetulan orang tuanya yang berprofesi sebagai pendidik, mempunyai koleksi buku yang cukup. Minat bacanya yang tinggi telah mendorong dia untuk menulis puisi sejak duduk dibangku SMP. Namun karya-karyanya itu, hanya menjadi koleksi pribadinya saja, tidak pernah dikirimkan untuk dipublikasikan. Setelah duduk dibangku SMA ia tidak hanya menulis puisi, tetapi juga mengarang cerita pendek. Walaupun cerpen-cerpennya tersebut tidak disebarluaskan di media massa, hanya beredar dikalangan terbatas, di lingkungan teman-teman se-SMA Tapak Tuan, Aceh Selatan. Lama Basri Emka mendiamkan karya-karya sastranya, sampai akhirnya sebuah sajaknya berjudul “Kepada Kawan” dimuat dalam media Minggu Berjuang, terbit di Banda Aceh. Karya-karya Basri Emka kemudian dimuat di Mimbar Swadaya, Nusantara Baru, Taufan, dan Majalah Bulanan Sinar Darussalam, Banda Aceh. Pengetahuan kesusastraan diperoleh Basri Emka tidak hanya lewat bacaan, tetapi juga aktif mengikuti berbagai ceramah seni yang diberikan oleh penyair Rendra. Selain itu, ia juga mengikuti seminar sastra pada Dialog Utara IV yang diadakan di Medan serta Seminar Budaya daerah dan Nusantara, Muzakarah dan pertunjukan kesenian di berbagai tempat. Penyair yang aktif bekerja di Yayasan Leuser Internasional ini, menamatkan pendidikan tingkat tinggi di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Dua buah puisinya, masing-masing berjudul “Pulauku di Seberang Lautan”, dan “Detik-Detik Terakhir” dimuat dalam antologi Seulawah—Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (Yayasan Nusantara Jakarta, 1995) yang diprakarsai oleh L.K. Ara dkk. Kumpulan sajaknya terhimpun dalam; Menuai Kasih Menabur Rindu (1989). Nama Basri Emka juga tercatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia—yang berisi tentang biografi pengarang dan karyanya, majalah sastra, penerbit sastra, penerjemah, lembaga sastra, dan daftar hadiah dan penghargaan (Kompas, Jakarta, 2001).
MERAJUT HARAPAN
Ketika ingin kurajut harapan
Terbentur tembok-tembok penghalang
Mengitari bukit
Di sekujur tubuh kota
Aku menggeliat dalam beku
Menguraikan benang-benang kusut
Kutemui seberkas sinar
Menembus tembok-tembok tua
Dalam keangkuhan tembok tua
Seberkas sinar menembus beku
Cair dan leleh mengurai bentuk
Dalam nuansa warna
Kupahat mutiara kata di beku yang cair
Mengalir di wajah kota
Wajah ceria menguak bentuk
Bentuk yang lain lagi
Hongkong, 1999
BAYANG BULAN DI PUCUK MANGROVE
merupakan buku kumpulan cerpen, karya 10 cerpenis Aceh. Buku setebal 159 halaman ini dieditori oleh Mustafa Ismail, dengan pengantar Hamsad Rangkuti yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Banda Aceh, cetakan pertama November 2006. Judul kumpulan cerpen ini diambil dari judul cerpen M.N. Age yang juga dimuat dalam kumpulan ini. Halaman 5—7 pengantar penerbit oleh Zulfikar Sawang sebagai Ketua Dewan Kesenian Banda Aceh. Halaman 8—16 catatan editor oleh Mustafa Ismail dengan judul bermula di Geurutee. Halaman 17—25 tulisan pengantar oleh Hamsad Rangkuti dengan judul Aceh Lautan Cerita. Halaman 26—27 daftar isi. Halaman 29—155 kumpulan cerpen. Halaman 156—159 biodata penulis. Sedangkan halaman 160 lembaran kosong. Adapun cerpen-cerpen yang dimuat dalam kumpulan ini adalah; Arafat Nur dengan cerpen Jadi Ibu, Ayi Jufridar dengan cerpen Kepala Kedelapan, Azhari dengan cerpen Kunang-Kunang Kampung Sembilan, Muswarman Abdullah dengan cerpen Pidato Seorang Nyonya, Burung Lepas Sangkar, Mustafa Ismail dengan cerpen Kisah Rumah, Rumah Baru Untuk Ibu, M.N. Age dengan cerpen Seulanga di Sudut Halaman, Bayang Bulan di Pucuk Mangrove, Nani HS dengan cerpen Bapak, Ayahku, Ridwan Amran dengan cerpen Memilih Presiden, Saiful Bahri dengan cerpen Alina, Kosong-Kosong, Sulaiman Tripa dengan cerpen Ranjang. Pada sampul belakang kumpulan cerpen ini dimuat komentar Hamsad Rangkuti dengan kapasitas sebagai seorang cerpenis; Kumpulan cerita pendek ini hampir seluruhnya menampilkan masalah yang muncul dalam cerita sebagai pelaku maupun rangkain kejadian di Aceh. Sangat unik. Tokoh, alur, atau plot, latar, malah media penyampaian terasa milik masyarakat Aceh. Memang bagi pengarang yang peka dan kreatif yang bermukim di Aceh mendapat berbagai tema untuk diangkat. Sejak masa penjajahan maupun setelah kemerdekaan banyak peristiwa yang dapat merangsang kemampuan dan mengembangkan gagasan yang baru dan yang khas dengan banyaknya kejadian di daerah garapan cerita.
BENTENG KUTE REH
merupakan buku cerita mengenai Benteng Kute Reh, oleh LK Ara, diterbitkan Penerbit Adhi Putra, Jakarta 1996. Buku setebal 67 halaman ini, ditulis dalam bentuk sajak dan gambar dengan tujuan agar anak-anak tertarik untuk membacanya dan mudah memahaminya. Buku cerita Benteng Kute Reh ini menceritakan sebuah benteng yang didirikan di Aceh Tenggara. Fungsinya adalah sebagai benteng pertahanan terhadap penjajah Belanda. Bagaimana gigihnya rakyat Aceh melawan penjajah. Mereka bertempur dengan alat apa saja, demi membebaskan diri dari penjajahan. Benteng Kute Reh pun menjadi saksi bisu atas gugurnya para syuhada, yang berjuang mempertahankan negeri. Saksi bisu atas kekejaman penjajah. Benteng ini dinamakan Kute Reh sebab letaknya tidak jauh dari Kute Reh.
BUDI ARIANTO
adalah sastrawan berdarah Jawa yang dibesarkan di Tanah Rencong Nanggroe Aceh Darussalam. Dilahirkan di Wonosobo, tanggal 23 Januar1 1972. Kegiatan seninya sudah terlihat ketika jadi mahasiswa di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Unsyiah terutama dibidang seni pertunjukan teater. Budi pernah aktif di sanggar Cempala Karya dan Teater Gemasastrin. Selain itu juga pernah dipercaya sebagai Redaktur Pelaksana Tabloid Detak Mahasiswa Unsyiah. Sebagai seorang penyair berbakat, tercatat beberapa prestasi pernah diukirnya, antara lain; juara I lomba cipta puisi perjuangan se-Aceh (1993), dan juara I lomba baca puisi Chairil Anwar pada peringatan bulan sastra 1995. Karya-karyanya telah dimuat diberbagai media massa baik tingkat lokal maupun tingkat nasional. Budi telah mencatatkan dirinya sebagai seorang penyair Aceh. Sajak-sajaknya terangkum dalam L.K. Ara dkk (ed.) Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995).
BUKHARI AL-JAUHARI
seorang pengarang yang bergelar Syah Alam. Beliau hidup dalam masa pemerintahan Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Sayid al-Mukammil. Salah satu karangan beliau yang terkenal adalah Taj al-Salatin atau Mahkota Segala Raja-Raja. Kitab ini ditulis di Istana Kerajaan Aceh Darussalam pada 1012 H atau 1603 M dan menjadi pedoman penting bagi raja-raja kerajaan Islam di nusantara. Tujuan Kitab Tajussalatin disusun adalah untuk menyampaikan bagaimana seharusnya perilaku serta kewajiban raja, menteri, hulubalang, serta pembesar kerajaan lainnya dan rakyat dalam bernegara menurut tuntunan agama Islam. Dalam T. Iskandar (1995:372) terdapat pertentangan para ahli sastra Melayu mengenai biografi Bukhari al-Jauhari dan karyanya tersebut. Diantara para ahli tersebut adalah Valentijn dalam karyanya Oud en Nieuw Oost-Indien menganggapnya sebagai buku yang terbaik dalam bahasa Melayu dan menyebut pengarangnya Bukhari dari Johor. Begitu juga dengan Werndly dalam Boekzaal, Roorda Van Eysinga yang menerbitkan Taj al-Salatin dengan terjemahannya kedalam bahasa Belanda pada tahun 1827 sangat memuji karangan ini dengan mengatakan Mahkota Segala Raja-Raja sebenarnya disebut Mahkota Segala Naskah Melayu. De Hollander dalam bukunya Handleiding bij de Beoefening der Maleische Taal en Letterkunde 1845, menyebutkan pengarang Taj al-Salatin sebagai Bukhari dari Johor: jikalau nama-nama yang terdapat dalam Taj al-Salatin itu sendiri tidak harus diartikan bahwa pengarangnya berasal dari Bukhara, sebuah kota di Asia Tengah, dan seorang saudagar permata. Namun kemudian Van Ronkel dengan mengambil contoh dari huruf jawi j-w-h-r-y yang terdapat dalam kitab ini tidak dapat dipahami dan dibaca di Johor. Oleh sebab itu, tidak ada jalan lain ketika membaca jauhari dan pengarangnya sebagai Bukhari al-Jauhari. Bahkan ia membandingkannya dengan nama pengarang Parsi yang hidup beberapa abad sebelumnya. Namun dari pertentangan para ahli tersebut yang jelas adalah karangan ini ditulis untuk Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Sayid al-Mukammil (1588-1604). Untuk memastikan karangan ini dapat dihitung dengan parkataan ghaib dalam huruf Arab. Huruf ghain bernilai 1000, ya bernilai 10, dan ba bernilai 2. Dengan demikian tahun dikarangnya Taj al-Salatin ini ialah 1012 H atau 1603 M. Tahun ini bertepatan dengan zaman kerajaan Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Sayid al-Mukammil, yang memerintah Kerajaan Aceh dari tahun 1588 hingga tahun 1604. Walaupun Bukhari al-Jauhari hidup sejaman dengan Hamzah Fansuri namun ia tidak terpengaruh dengan gaya syair serta karya-karya Hamzah Fansuri lainnya. Bentuk sajak yang digunakan Bukhari merupakan bentuk sajak dari Parsi, seperti ruba’I, ghazal, manthawi dan kit’ah ataupun sajak Arab. Maka tidak mengherankan Bukhari dalam mengarang karyanya banyak menggunakan sumber-sumber Parsi, antara lain; Akhlak-i-Muhsini, karangan 451 H Husain Wa’iz al-Kasyifi (1494-1494), Tanbih al-Ghafilin, karangan Siraj al-Din ‘Ali Khan (1489), Siyar al-Muluk, karangan Wazir Nidham al-Muluk (lahir tahun 1017-18H/1608-1609),Tuhfat al-Wuzara, Kitab al-Asrar, karangan Abu Hamid bin Abu Bakr Ibrahim Farid al-Din Attar (meninggal pada 1230), Mahmud wa Ayaz, pada waktu itu terdapat tiga versi, Fakhr al-Din ‘Ali Safi (meninggal pada 1532/34), Anisi (meninggal pada 1605/6) dan Zilali (meninggal pada 1593/1615), Khusraw wa Syirin, versi terbaik karangan Fakhr al-Din As’ad Idzami, Yusuf wa Zulaikha, versi-versi Fidawsi, Abu’l-Mu’aiyad dan Bkhtyari (abad ke-10). Berikut ini cuplikan Taj al-Salatin karya Bukhari al-Jauhari
Adapun segala perkataan kitab ini yang mulia dan indah daripada pihak ghaib dating ke dalam khalwat hati, sehingga akan putus belaka kehendak kitab dan mengeluarkan dari barang yang ghaib. Lagi masa permulaan kitab ini barangsiapa yang dapat mengira-ngirai segala aksara sepatah ghaib itu dengan bilangan abjad, maka orang itu mengetahuilah pada masa mana fakir mengarang kitab ini. Maka dengarkan dan bicarakan oleh kamu sebagai kataku; ruba’i:
Naskhah ini yang dari ghaib adanya ghaib itu lagi jadikan masanya
Kiranya oleh kamu dan ingatlah kalanya Yang Taj al-Salatin itu mulanya.
BULUKIA, HIKAYAT
adalah karya sastra dalam bahasa Aceh dengan menggunakan huruf Arab. Hikayat setebal 161 halaman ini, tidak diketahui pengarang dan tahun penulisannya. Hal ini, terjadi umumnya pada karya-karya sastra lama di Aceh. Namun dilihat dari isi dan penulisannya hikayat ini diperkirakan paling tidak sekitar akhir abad ke-19. Secara keseluruhan hikayat ini merupakan cerita fiktif dengan tema keagamaan. Diawali dengan peringatan pengarang kepada khalayak untuk tidak melupakan Tuhan dan Nabi Muhammad saw. Ringkasan cerita Hikayat Bulukia ini adalah sebagai berikut; Balu Kiya seorang raja dari Bani Israil yang bijaksana dan alim. Hidup dijaman sesudah Nabi Sulaiman wafat. Pada suatu ketika ia menemukan sebuah kitab dalam peti yang disimpan ayahnya. Kitab tersebut menceritakan perihal Nabi Muhammad yang mempunyai budi pekerti halus dan suci. Selain itu, kitab tersebut juga menceritakan mengenai Nur Muhammad serta keajaiban-keajaibannya.
Setelah membaca kitab tersebut, Bulu Kiya pergi mengembara dengan tujuan mencari Nabi Muhammad dan ingin menjadi pengikutnya. Sesampai di Syam, ia bertanya tapi tidak seorangpun tahu di mana Nabi Muhammad, walaupun mereka selalu bersyahadat. Dalam perjalanannya ia bertemu dengan ular dan harimau yang bisa berbicara. Seekor ular tersebut bernama Tamalikha yang selalu bersyahadat tidak putus-putus. Ia bertemu dengan seorang pemuda bernama Afan di suatu daerah yang penduduknya sangat alim. Akhirnya mereka berdua sepakat sama-sama mencari Nabi Muhammad. Ketika beristirahat di bawah sebatng pohon, tiba-tiba pohon tersebut berbicara, “ambillah daun saya, lalu remas hingga keluar minyak. Minyak ini bisa menghidupkan orang yang sudah mati dan kalau dioleskan pada kaki, maka kakinya tidak akan basah kena air.” Lalu mereka pun mengikuti saran kayu tersebut. Berkat kasiat minyak kayu mereka bisa menyeberangi lautan luas. Sampailah mereka ke sebuah gua tempat jenazah Nabi Sulaiman yang memakai cincin malakat berkekuatan gaib yang luar biasa. Jenazah Nabi Sulaiman dijaga oleh ular sakti. Karena keserakahannya mau mengambil cincin malakat tersebut, Afan mati oleh malaikat Jibril dan ular sakti. Walaupun sebelumnya bisa dihidupkan dengan minyak ajaib. Balu Kiya pun melanjutkan perjalanannya setelah bertanya jawab dengan malaikat Jibril.
Selanjutnya ia ditangkap oleh jin Islam, ia pun menceritakan misi dan tujuannya. Raja jin Islam juga menceritakan perihal mereka selalu berperang dan mengalahkan jin kafir. Lalu ia pun melanjutkan perjalanannya. Di sebuah dataran bertemu dengan Malaikat Fahatashsha yang mempunyai sayap. Malaikat ini yang menentukan terjadinya siang dan malam. Setelah mohon diri ia menyeberang laut yang luas dan bertemu dengan Malaikat Makhaluddin yang bertugas sebelah tangan menahan langit dan sebelah lagi menunjuk ke arah laut, agar bumi jangan hancur. Ia pun mohon diri dan melanjutkan perjalanan. Tak terasa lama perjalanannya sudah 200 tahun. Di sebuah lautan besar bertemu dengan raja ikan sebesar gunung. Ia pun diberi oleh raja ikan makanan dari syurga. Suatu ketika ia bertemu dengan raja semut sebesar kancil yang bertugas menjaga gunung yang penuh dengan emas dan perak, agar jangan habis diambil oleh keserakahan manusia. Ia melanjutkan perjalanannya dan sampailah ke Bukit Kaff bukit yang sangat tinggi dijaga oleh malaikat bersayap dan dilembahnya dijaga pula oleh malaikat yang bermacam-macam bentuknya. Para malaikat tersebut selalu bersyahadat. Bukit Kaff sendiri merupakan paku dunia agar tidak pecah. Suatu ketika dalam perjalanannya bertemu dengan tiga orang pemuda yang rupawan dan gagah. Rupanya ketiga pemuda tersebut adalah Malaikat Israfil, Mikail, dan Jibril. Meraka menyarankan agar Balu Kiya untuk pulang kampung karena Nabi Muhammad belum lahir. Sementara lama perjalanannya sudah 500 tahun. Mendengar hal itu, ia sangat sedih. Di tengah kesedihannya tersebut bertemu dengan burung dari syurga yang bernama Khaidir. Sama dengan para malaikat, Khaidir pun menyarankan untuk pulang kampung karena Nabi Muhammad belum lahir. Ia menjadi bingung karena tidak tahu lagi arah kampungnya. Dengan sekejap mata Khaidir mengantarkannya dan sudah sampai di hadapan ibu dan istrinya.
Ia menceritakan pengalaman pengembaraannya dalam mencari Nabi Muhammad. Selama dalam pengembaraan tersebut kerajaan diperintah dengan adil dan bijaksana oleh ibu dan istrinya. Dua tahun kemudian istrinya melahirkan seorang putra yang diberi nama Johan Pahlawan yang nantinya menjadi raja menggantikan Balu Kiya. Pada akhir hikayat pengarang menceritakan kisah perjalanan burung nuri sebagai penjelmaan Nur Muhammad yang diangkatnya dari Hikayat Tajul Muluk. Berikut ini kita lihat beberapa bait cuplikan Hikayat Balukia
…..
Uroe donya di akhirat
Neubri syufaat di padang masya
Keureuna seubab neugaseh that
Keu umat nyang na takwa
Page dudoe uroe akhirat
Sayang neuthat keu umat dumna
Silaweuet beklaen ta ingat
Keu Muhammad peukawe donya
Hate gaseh keu Muhammad
Makrifat dum bak syeedera
Neubri syureuga keu bandum umat
Muhammad peukawe donya
Nyang keu hansah taseumah Tuhan
Meungkon tuan makrifat beuna
Zat ngen sifeut nyang bak Tuhan
Ka tatuban uleh kita
Asma ngen zat lhee peungenalan
Nibak Tuhan leungkap dumna
Ka samporeuna makrifat nyan
Wajeb teelan seumah sigra
Han taturi peue taseumah
Sia payah hana guna
La illa ha illallah
Muhammad sah nyang keudua
Kadang soe-soe rupa ka taseumah
Untong iblih si ceulaka
Malaikat saleh insan
Saleh syeetan bek tasangka
…..
BURUNG PINGGAI, SYAIR
merupakan karya Hamzah Fansuri yang dipengaruhi oleh Mantiq al-Tayr karangan Farid al-Din Attar (lebih kurang tahun 1229 M). Dalam T.Iskandar (1996:320) hikayat ini telah disebut dalam daftar naskah-naskah dalam koleksi Isaak de Saint Martin (1696). Dalam hikayat ini, Burung Pingai bukanlah nama burung yang sebenarnya seperti jenis-jenis burung di dalam dunia fauna. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak dijumpai jenis burung yang bernama pingai. Dalam (Braginsky, 1993:137) burung pinggai hanyalah berupa tamsilan pengarang untuk mengekpresikan idenya tentang kesatuan Ilahi, terutama dalam ajaran sufi tentang wahdat al-wujud. “burung itu, ialah Nur Allah, selalu sujud kepada Allah. Ia ada di bawah ‘Arsy, selalu penuh ‘Ishq atau cinta terhadap Yang Maha Tinggi, selalu mabuk anggur keesaan-Nya, selalu ada dalam wasl atau penyatuan dengan-Nya”. Berikut cuplikan Hikayat Burung Pinggai
Burung yang sangat indah-indah
Demikian bunyinya:
Ada suatu kabar
Dari sidang pendeta
Akan bidadari cendera wasa
Didalam sorga
Ialah yang bernama Si Burung Pinggai
Dikarangkan bunga diberikan
Dipakai kepada Si Burung Pinggai
Burung yang maha indah-indah
Burung maha budiman
Burung bijaksana
Burung permainan Nabi Allah
Burung sangkaran sidanng anbia
Dan arifin, dan ‘asyikin
Burung kekasih Nabi Allah
Burung kekasih siding budiman
Burung tambata sidang anbia
Burung permainan sidang aulia
Burung asuhan sidang budiman
Burung maha bijaksana
….
BUSTAN AL-SALATIN
merupakan karya Nuruddin ar-Raniry atas perintah Sultan Iskandar Thani pada tahun 1047 H/1637 M, dengan judul lengkapnya Bustan al-Salatin fi Dhikr al-Awwalin wa’l-Akhirin dan merupakan karya terbesar Nuruddin serta karya terbesar pula yang pernah dihasilkan oleh pengarang kesusastraan klasik Melayu. Karya ini dikarang oleh Nuruddin ketika di Aceh sudah ada Taj al-salatin (1603), Sulalat al-Salatin (1612), dan Hikayat Aceh (1606-1636). Melihat bentuk dan isi dari Bustan al-Salatin diperkirakan Nuruddin dipengaruhi oleh ketiga karya sastra tersebut. Terutama oleh Sulalat al-Salatin, dan besar kemungkinan beliau telah bertemu dengan pengarang Sulalat al-Salatin tersebut, yaitu Paduka Raja atau Tun Seri Lanang. Selain itu, Bustan al-Salatin ini dalam pembagian bab-babnya sangat mirip sekali dengan pembagian bab-bab Taj al-salatin. Nuruddin dalam mengarang karyanya ini tampak ingin manandingi kehebatan Taj al-salatin, Sulalat al-Salatin, maupun Hikayat Aceh. Karena itu, Nuruddin memulainya dengan kejadian langit dan bumi serta diakhiri dengan sejarah Aceh dengan penutupnya Sultan Iskandar Thani. Dalam (T.Iskandar 1995: 410-411) disebutkan pembagian karya ini agak aneh, karena di samping sejarah karya ini juga mengandung panduan untuk raja-raja, pembesar-pembesar dan rakyat jelata. Karya ini, terdiri atas tujuh bab dan tiap bab terbagi pula dalam dua hingga tiga belas pasal.
1. bab pertama, pada menyatakan kejadian tujuh petala langit dan bumi dalamnya beberapa (10) pasal.
2. bab kedua, pada menyatakan segala anbia’ dan segala raja-raja, di dalamnya beberapa (13) pasal.
3. bab ketiga, pada menyatakan segala raja-raja yang adil dan wazir yang barakal dan di dalamnya (6) pasal.
4. bab keempat, pada menyatakan segala raja-raja yang pertapa dan segala auliya’ yang salihin dan di dalamnya (2) pasal.
5. bab kelima, pada menyatakan segala raja-raja yang zalim dan segala wazir yang aniaya, di dalamnya (2) pasal.
6. bab keenam, pada menyatakan segala orang yang murah lagi mulia dan segala orang berani yang besar, dalamnya ada (2) pasal.
7. bab ketujuh, pada menyatakan akal dan ilmu dan firasat dan kifayat dan ilmu tabib dan segala sifat perempuan dan setengah daripada hikayat ajaib dan gharib, dalamnya (5) pasal. Khusus bab ini, disebut dengan Bustan al-Arifin.
Masih dalam (ibid) pertemuan Nuruddin dengan Tun Seri Lanang ditulis dalam Bustan al-Salatin ketika beliau meriwayatkan penziarahan Sultan Iskandar Thani ke Pasai pada tahun 1048 H/1638 M, sebagai berikut
Kata sahibul-hikayat: Tatkala itulah datang Paduka Raja serta hulubalang empat orang disuruhkan Raja Johor menghadap kebawah Duli Hadhrat Yang Mahamulia serta membawa sahifah dan segala persembahan Raja Johor. Demi didengar Hadhrat Syah ‘Alam maka terlalulah sukacita Hadhrat Yang Mahamulia serta memberi titah kepada Megat Dilamcaya: Kamu panggil Paduka Raja dan segala mereka itu serta dibawanya surat dan segala persembahan Raja Johor itu. Maka Paduka Rajapun datanglah menghadap Hadhrat Syah ‘Alam, lalu dipersembahkannya surat dan segala persembahan. Maka tatkala dibaca sahifa itu, maka Hadhrat Yang Mahamuliapun mengucap syukurlah, lalu dikaruniai persalin akan Paduka Raja dan akan empat orang hulubalang itu. Maka sabda Yang Mahamulia, hendaklah kita mengiring kami ke negeri Pasai.
Dalam perjalanan kembali dari Pasai ke Bandar Aceh Darussalam dan sampai di Gunung Parawas, di dekat Padang Tizi, Nuruddin pun menulis kisah ini dalam Bustan al-Salatin, tertuang dalam cuplikan karya berikut ini
Kata sahibul-hikayat: Tatkala itulah Paduka Raja bermohon kembali. Maka terlalulah banyak kurnia Paduka Seri Sultan Iskandar Thani Alauddin Mughayat Syah akan Raja Johor, daripada cincin intan, dan kucing intan, dan anting-anting intan, terlalu amat indah perbuatannya, dan beberapa daripada pakaian keemasan yang tuhaifah perusahannya dan beberapa ekor kuda tizi dan keldai.
Selain menulis mengenai Kerajaan Aceh, dalam Bustan al-Salatin Nuruddin juga meriwayatkan silsilah raja-raja Melaka dan Pahang. Hal ini, dapat dilihat dalam bab 2 pasal 12, sebagai berikut
Kata Bendahara Paduka Raja yang mengarang Sulalat al-Salatin, ia mendengar daripada bapanya, ia mendengar daripada nininya, datuknya, tatkala Hijrah an-Nabi salallahu ‘alaihi wassalam seribu dua puluh esa, pada bulan Rabi’ul-awal, pada hari Ahad, ia mengarang hikayat pada menyatakan peraturan segala raja-raja yang kerajaan di negeri Melaka, dan Johor, dan Pahang, dan menyatakan bangsa dan silsilah mereka itu daripada Sultan Iskandar Dzulkarnain.
C
CHALIDIN,TEUNGKU
adalah seorang ulama yang amat setia menulis seni Sya’er (kesenian tradisional masyarakat Gayo dalam bentuk syair, yang digunakan sebagai media dakwah dan pengembangan ilmu agama Islam). Dia pernah belajar ilmu agama Islam di Cut Merak, Bireuen, dan beberapa daerah lainnya di wilayah Aceh. Setelah selesai mempelajari ilmu agama, pada tahun 1930-an Tgk Chalidin kembali ke kampung halamannya untuk mengabdikan diri sebagai guru agama sepanjang hidupnya. Setelah cukup lama mengajar di berbagai tempat seperti Desa Bebesan, Kenawat, Uning, Tan, Ujung Gele, dan lain-lain, pada tahun 1974 Tgk Chalidin memasuki masa pensiun. Walupun sudah pensiun ia tidak pernah berhenti menjadi guru. Semangatnya tetap menyala “Sekali layar terkembang pantang langkah surut ke belakang”. Dari rumahnya yang kecil dan sederhana, dengan jalan yang sudah terbungkuk-bungkuk kerena usia sudah senja (80 tahun lebih) lelaki kelahiran Desa Bebesan, Aceh Tengah ini, tetap mengajar di Mesjid Kemili dan rumah-rumah sekitarnya. Bagi Tgk Chalidin mengajarkan ilmu agama adalah ibadah kepada Allah. Suatu pekerjaan lain yang dihadapinya selain sebagai guru adalah menulis puisi religius yang biasanya didendangkan atau dibacakan dalam seni sya’er. Sudah lebih dari 100 puisi lahir dari tangannya, yang seluruhnya bertemakan religius, diantaranya ada yang berjudul, Dunia dan Akhirat, Langit Bumi, Ahklak, Cerita Anak Yatim, Sampai Janji, dan lain-lain. Namun diantara puisi-puisinya itu yang terkenal adalah puisi yang berjudul “Hari Kiamat”. Puisi Hari Kiamat bercerita tentang hari yang akan datang yaitu hari musnahnya seluruh kehidupan di permukaan bumi ini. Suasana hari kiamat dilukiskan penyair dengan sesuatu yang mengerikan, sehingga pembaca benar-benar dapat membayangkan betapa dunia yang kita tinggali saat ini menjadi porak-poranda. Alam yang semula indah berubah menjadi berantakan. Tidak hanya keadaan fisik manusia yang digambarkan penyair tetapi juga menyentuh lebih jauh, misalnya bagaimana hubungan anak dan bapak, hubungan adik dan abang pada hari kiamat itu. Mereka tidak lagi saling berkasih-kasihan tetapi saling mengurus dirinya masing-masing. Puisi Hari Kiamat yang aslinya dalam bahasa Gayo, Aceh Tengah, diciptakan Tgk Chalidin pada tahun 1945. Penampilan puisi ini dalam seni sya’er telah berpuluh tahun dikembangkan. Tentunya dengan puisi sya’er lainnya yang diciptakan Tgk Chailidin.
HARI KIAMAT
Hari kiamat sungguh mengherankan
Semua insan berhati bimbang
Isi dunia porak peranda
Dunia bergerak menggoncang-goncang
Laut dan daratan barat dan timur
Hancur lebur berserakan
Dimana bukit lebih tinggi
Telah runtuh membujur melintang
Telah tergulung langit menimpa bumi
Setiap yang bernyawa merasa gundah gulana
Isi dunia bercampur baur
Campur aduk dengan binatang
Disitulah manusia terkejut
Telah merasa takut dunia bergoyang
Setiap yang bernyawa berhati gundah
Hewan liarpun tak lagi riang
Kesana kemari seluruhnya berlarian
Seperti kupu-kupu terbang melayang
Anak dan bapak tak lagi berkasihan
Tak lagi menentu adik dan abang
Dimana pangkat yang terkenal tinggi
Disana tumpul laksana parang
Dimana dokter yang banyak ilmu
Disana buntu dia mengaku kurang
Hari kiamat menjadi tanda
Akhirat dunia telah terpisah
Ibarat fajar telah merkah
Ingin menjadi batas gelap dan terang
Menurut ayat, Tuhan berfirman
Segala amalan nanti di timbang
Bila timbangan berat kekebajikan
Ke sorga berjalan dengan hati senang
Mungenal nepekah alakmu sempur
Munangkoki baur munarungi uten
Di dalam sorga berbagai rupa
Yang berkenan dihati tak ada yang kurang
Tanaman bunga berbaris merentang
Indah dan cantik mata memandang
Mengenakan pakaian bermacam warna
Intan permata bertabur bintang
Makan buah lezat cita rasanya
Bidadari datang menghidang
Sebagai balasan amal ibadat
Diambil saja tak ada yang kurang
Bila timbangan berat kearah dosa
Ke neraka yang berapi merah
Isi neraka selalu memanggil-manggil
Neraka panas selalu menyerang
Berteriak menjerit tak henti-henti
Tulang dan daging mulai berpisahan
Isi neraka berhati pedih
Tak lagi kasih Tuhan memandang
Karena di dunia dia lupa pada Tuhan
Begitulah Tuhan tak lagi kasihan
Isi neraka merasakan siksa
Isi sorga merasakan senang
CHAM NADIMAN
merupakan karya sastra Aceh dalam bentuk hikayat yang ditemukan dalam catatan Snouck Hurgronje. Tidak begitu jelas mengenai bentuk dan pengarang karya sastra ini, tetapi Snouck menggolongkannya kedalam bentuk cerita fiksi—kelompok dongeng-dongeng Melayu Nusantara. Dalam catatan kaki Snouck nampak karya sastra ini ditulis dalam aksara Arab-Melayu dengan menggunakan bahasa Aceh tetapi banyak dipengaruhi kosa kata bahasa Melayu. Cerita karya sastra ini bermula dari seorang pangeran yang bernama Syam Nadiman, putra Meunua Jho, raja dari negeri Irandamin tersesat saat berburu kambing sakti Krukha. Dalam pengembaraannya ia menemukan sebuah istana yang telah ditinggalkan dan batu bertulis yang menceritakan Putri Paridoh yang cantik jelita menunggunya di negeri Cina. Maka ia pun berangkat ke sana. Dalam perjalanan ia membunuh Si Madon dangki pemakan orang, dan dirajakan di negeri Kawadamin yang rajanya baru meninggal.
Dalam perjalanan selanjutnya ia menaklukkan tukang sihir yang menawan Paridat saudara Putri Paridoh, lalu membawanya kemabali kepada ayahnya, raja Cina. Di negeri Cina, mula-mula ia diterima dengan penuh kehormatan, tetapi ketika ia mendatangi tempat kediaman Putri Paridoh, ia pun dipenjarakan oleh raja. Syam Nadiman dibebaskan oleh seorang wanita bernama Kamarah yang jatuh hati kepadanya. Mereka pun saling berkasih-kasihan. Untuk beberapa saat Syam Nadiman melupakan Putri Paridoh. Tidak berapa lama kemudian ia segera sadar dan teringat dengan sang putri. Maka secara diam-diam mereka hidup bersama di tempat seorang Brahmana dan mereka pun kawin di sana.
Akhirnya raja Cina mengetahui hubungan mereka dan meminta Syam Nadiman untuk mengembalikan anaknya, tetapi mereka tetap meneruskan hubungannya. Raja Cina mengurung sang putri dalam rumah seorang patih dan mengumumkan kepada rakyat bahwa Putri Paridoh sudah meninggal. Di rumah patih terjalin lagi kasih sayang yang baru yaitu antara Kamareutih putra sang patih dengan Paridat karena sering mengunjungi saudaranya Paridoh.
Syam Nadiman dan Kamareutih tidak dapat hidup bahagia, karena mereka tidak mendapat restu dari raja Cina sebagai mertua mereka. Lalu terjadilah perang antara kedua belah pihak. Raja Cina pun tewas dalam pertempuran. Akhirnya mereka semua pergi ke Irandamin, negeri asal Syam Nadiman.
CHIK PANTEE GEULIMA
lahir tahun 1839 di Kampung Pantee Geulima. Pernah belajar pada pusat pendidikan Islam, Dayah Pantee Geulima yang dipimpin ayahnya sendiri Teungku Chik Ya’kub. Selain itu Chik Pantee Geulima pernah mengikuti pendidikan militer pada pusat askar Aceh yang bernama Makhad Baital Makdis. Dalam sejarah kesusastraan Aceh nama beliau tercatat sebagai salah seorang pengarang hikayat. Salah satu karya beliau yang sangat terkenal adalah Hikayat Malem Dagang. Hikyat ini ditulis Chik Pantee Geulima sebagai karya yang benafas perang. Sedikit banyak ini sesuai dengan pengalaman pengarang sendiri pada waktu itu. Di Aceh pada masa itu sedang berkecamuk perang. Chik Pantee Geulima ikut mendidik dan melatih para pemuda Aceh untuk menjadi askar. Maka di Dayah Pantee Geulima pun menjelma menjadi salah satu pusat pendidikan askar di kawasan Pidie. Akhir hidup pengarang Teungku Chik Pantee Geulima dicatat sebagai pahlawan Kuta Bate Iliek, beliau gugur dalam satu pertempuran sengit di Bate Iliek. Beliau syahid pada hari jumat pada tahun 1904 M, dalam usia 66 tahun. Di makamkan di Gampong Meurandeh Alue, Kecamatan Banda Dua. Berikut cuplikan Hikayat Maleem Dagang:
Kembali dari Banang menjumpai putri
Dibawa kemari bersama raja
Tuan Putroe Phang dan Raja Raden
Tiada yang lain Paduka Meukuta
Kalau begitu wahai Bujang
Baliklah sekarang ke bahtera
Suruh masuk Kuta Bantan
Sekalian dengan anda
Ketika mendengar demikian sabda
Berjalan segera menghadap panglima
Begitu bertemu disampaikan
Baginda panggil kini anda
Anda disuruh masuk ke dalam
Syah Alam suruh bersegera
….
CHIK PANTEE KULU, SYEIKH
nama lengkapnya adalah Teungku Muhammad Pantee Kulu. Tempat tanggal lahirnya adalah di desa Pante Kulu, Kemukiman Kemalawati, di kawasan kabupaten Pidie, tahun 1251 H (1836 M). Mula-mula ia belajar ilmu-ilmu agama Islam dalam bahasa Melayu (Jawi). Kemudian melanjutkan pelajarannya pada Dayah Tiro yang dipimpin oleh Tgk Haji Chik Muhammad Amin Dayah cut, seorang ulama yang kebetulan baru pulang dari Mekkah. Chik Pante Kulu pernah belajar di Mekkah. Sepulang dari tanah suci beliau menjadi seorang ulama besar, pujangga kenamaan, dan sastrawan nusantara yang mengarang karya sastra yang fonumental “Hikayat Perang Sabil”–sebuah karya sastra jihad yang sanggup membangkitkan semangat rakyat Aceh berperang melawan penjajahan Belanda lebih dari 50 tahun. Hikayat Perang Sabil ditulisnya dalam perjalanan Mekkah-Aceh. Dia menulis dengan kalam dalam tulisan Arab berbahasa Aceh. Sebagai seorang sastrawan besar Chik Pantee Kulu dengan puisinya yang berbentuk hikayat telah mampu mengangkat harga diri dan marwah anak negeri ini dari jajahan bangsa asing. Hal ini tidak terlepas dari kecermatan dan kejeliannya dalam merasakan dan membaca kondisi dan situasi masyarakat yang secara fisik dan psikologis terikat oleh sistim yang dipasang oleh penjajah. Sebagai seorang ulama besar karya-karya sastra beliau sangat terpengaruh oleh sastrawan Islam di Zaman Nabi Muhammad. Hikayat Perang Sabil berisikan ayat-ayat Alquran dan Hadits-hadits Nabi yang dipuisikan sehingga beliau mendapat julukan “Penyair Perang” sepanjang zaman terbesar di dunia. Berikut cuplikan Hikayat Prang Sabil:
……
Dan jiwamu…dengar kukatakan maknanya kini
Pemberian Tuhan Rabbul Alamin
Pada orang mukmin jalan sejahtera
Lepas dari azab di hari kemudian
Diberikan Tuhan kelak surga
Jannatul Adnin Tuhan namakan
Nikmat nian tiada terkira
Apa yang tergerak dalam hati
Segera nyata ke situ tiba
Kunia Khalik Rabbul Jalil,
Yang berperang Sabil sangat mulia
Bidadari tujuh puluh orang
Khadam sekalian muda-muda
Begitu firman Rabbul Jalil
Jangan diam lagi wahai saudara
Berangkatlah Teungku memerangi kafir
Jangan sayang akan harta
Seluruh harta anda wahai taulan
Dengan kekayaan Nabi Sulaiman secuil tiada
CINTABUHAN, HIKAYAT
merupakan roman Aceh dalam bentuk hikayat. Sebenarnya karya sastra ini merupakan saduran dari cerita Melayu Ken Tambuhan atau Tabuhan. Namun pada versi Aceh terdapat perbedaan pada sang putri yang bernama Tanjong Puri. Dalam versi Melayu diceritakan sang putri dilarikan oleh makhluk gaib ke dalam hutan, sedangkan dalam versi Aceh diceritakan sang putri diboyong oleh ayah Raden Meuntroe yang berperang melawan ayah sang putri karena mau tunduk dan membayar upeti.
Selain itu, dalam versi Aceh pun sudah diberi warna Islam dalam penceritaannya. Walaupun peran dewa-dewa (makhluk gaib khayangan) masih memegang peran penting dengan melakukan segala macam keajaiban. Tetapi apa bila mengalami kesusahan pengarang menyuruh memohon bantuan kepada Allah swt, bukan kepada para dewa. Dengan demikian dapat kita asumsikan bahwa hikayat ini masih dipengaruhi oleh hinduisme. Dan besar kemungkinan hikayat ini hadir pada jaman peralihan dari Hindu ke Islam.
C. HARUN AL-RASYID
adalah nama samaran Muhammad Harun Al Rasyid. Dia mulai gemar menulis puisi sejak sekolah menengah. Harun boleh dikatakan pengarang yang serba bisa. Selain menulis puisi, dia juga seorang penulis esai, kritik sastra, feature, resensi buku, opini, dan cerpen yang handal. Karya-karya telah dimuat di media lokal maupun nasional. Puisi-puisinya antara lain telah dibukukan dalam antologi Kemah Seniman Aceh III (1990), Banda Aceh (1991), Nafas Tanah Rencong (1992), Lambaian (1993), Seulawah (1995), Keranda-keranda (1999), dan Putroe Phang (2002). Kumpulan puisi pertamanya adalah Suara Pribumi (BP Swadaya Mandiri, Jambi 1996). Sedangkan karyanya dalam bentuk cerpen antara lain dibukukan dalam antologi Remuk (2000). C. Harun Al-Rasyid atau Muhammad Harun Al Rasyid lahir di Laweueng, kabupaten Pidie, 5 Maret 1966.
Alumni mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah FKIP Unsyiah ini terhitung sejak tahun 1993 diangkat sebagai staf pengajar di almamaternya. Pada tahun 1990—1994 terjun menggeluti dunia jurnalistik dengan bekerja sebagai wartawan Harian Serambi Indonesia Banda aceh. Semasa kuliah Harun aktif di pers kampus dan mengikuti seminar lokal dan nasional ini, awal tahun 1998 telah menyelesaikan studi magisternya di IKIP Malang. Aktifitas Harun didunia sastra dan seni dibuktikanya dengan bergabung di Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB) sebagai wakil sekretaris sampai tahun 1999. Setahun kemudian duduk sebagai wakil ketua I Dewan Kesenian Aceh (DKA). Namun, Agustus 2001 mengundurkan diri kerena melanjutkan studi program doktor di Universitas Negeri Malang. Tahun 1999, Harun mengikuti forum Dialog Utara VIII di Thailand Selatan dengan membawa makalah berjudul: Integrasi Bahasa Melayu dalam Bahasa Aceh. Di samping itu dia juga dipercaya untuk mengeditori beberapa buku sastra, antara lain; Apit Awe (1993), Keranda-Keranda (1999), dan Remuk (2000). Sajak-sajaknya terangkum dalam L.K. Ara dkk (ed.) Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995).
Kupanggil Namamu, Muhammad
Kupanggil namamu, Muhammad
Penjaja demokrasi, tanpa tongkat bara
Pewaris tahta belas kasih
Muhammad! Muhammad! rindu para budak
Mendekap sapuan cintamu, o
Rindu pada dhuafa menunggu perahu
Rindu para muallaf bergayut di hatimu
Kupanggil namamu, Muhammad
Muhammad di siang, Muhammad di malam
Pengembara ingin sinar bulanmu
Menyinari jalan berliku
Wahai, seperti aku yang tersesat
Di antara bukit-bukit cinta, dan
Gebalau iman di samudera Allah
Muhammad! Muhammad! o pemahat
Lukisan kejujuran. Pendiri rumah-rumah
Keabadian, kemerdekaan tanpa pamrih
Musafir menyebutmu, moralis sejati
Dan para wanita menggantungkan namamu
Pada masing-masing lehernya
Muhammad kupanggil namamu mawar yang al amin
Berakar di hati, merimbun di jasad
Tempat para semut bermain cinta
Laksana swargaloka bertatah yakut
Kupanggil namamu, Muhammad
Tegar memegang panah Allah
Membidik musuh-musuh harbi-zindik
Yang menyatronimu dengan wajah benci dan dengki
Bertemu terluka, prajurit terluka
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Aku terjaga, memanggil namamu
Kupanggil namamu, Muhammad
Yuris yang patuh para yurisprudensi-Nya
Al aminlah diriku, laksana santunmu
Dekat Zat-Nya, menghirup wangi surgawi
Sigli, Juli 1993
CIKDAERAH
lahir di Pegasing, Dataran Tinggi Tanah Gayo, Aceh Tengah, tahun 1951. Menamatkan pendidikan dasar (SD) di Sp Kelaping dan Sekolah Menengah Pertama di Pegasing. Mulai berkesenian sudah dari kecil. Dengan suara yang serak-serak basah. Kadang-kadang rendah hampir tak terdengar. Sering menggunakan kedua tangan untuk ketukan serta kaki kanan untuk penyesuaian not, gemar melatih orang bernyanyi sampai saat ini. Beberapa karyanya sudah direkam dalam bentuk kaset di antaranya, Sana (Kedelepe Bintang) diprakarsai Gurdi Damora. Lelungen dinyanyikan oleh Rebumah dan Uddin. Sedangkan karya-karyanya yang lain diantaranya adalah Tajuk, Menunung Jalen, Uren, Emun. Pengalaman dalam berkesenian, pernah ikut dalam kelombok Winar Bujang Sebagai Dua. Berikut kutipan salah satu karya Cikdaerah masih dalam bahasa Gayo
MENUNUNG JELEN
Menunung jelen mulangkahi arul
Muniti muntul renyel kutowa
Deleni uyet berderen ku tungul
Batangni remul llalgu pepara
Lahkena kilet munuruhen dene
Kusewah sange mungenaali drara
Waan uren ludding luhku rembebe
Nge bene pane urum gere ara
Uesse uesse sabe akku lagu oya
Laope nge mubilak
bekasni tapak gere ilen ara
si belulhpe gere ne berulak
olok di jarak nge bene ari mata
jamur taring bersuyen uluh
berikot pukuh gere berjendela
tungkuk ni ulu saying ni tubuh
dele ni lauh sana kati beta
atasni baur si nge kutiti
dele ni tingki simenni mara
kkukenal kenal tonni mara
perdu ni kuli gere ne ara
ku emun item kuseder nasib
olokni penyaki dor lagu noya
nge mupantan ungke pait
wan ni karet jarak nge ari kota
Takengon, l997
Assalamualaikum,saya senang bisa membaca hikayat2 aceh ini. adakah hikayat mengenai nek intan (putri naga )didaerah aceh?. klau ad dimana saya bisa mencari dan membacanya?
Adakah yang bisa memberitahukannya kepada saya? dengan sangat berterimasih saya ucapkan daijauh atas perhatiannya.
salam,
M-Husein-Knabe
—– hallo rekan, mukhlis a hamid,ms, ameer hamzah, ta,sakti, nabbhani as, medri osno dan pak lk ara, bisakah anda bantu Pocut ?
Salam kami [Doel CP Allisah-koord ASA]
Selamat Hari Raya, maaf Lahir dan Bathn.
Salam Sejahtera utk semua,
salam saya
M. Husein-Knabe
selamat hari raya cit,
saleum seujahtra dari kamoe di aceh