PUISI – PUISI “RUMOH GLAP” BUPATI BIREUN

Posted: November 15, 2009 in TRADISIONAL

Serambi Indonesia / 30 August 2009

Buet lalem ceulaka dudoe
Buet lalem akhe jih mandum rugoe
Buet lalem jeuet keu hanco nanggroe
Buet lalem meutual doa ban sinaroe
Kajeuet takalon ban saboh donya rata tiep sagoe

Itulah penggalan puisi berbahasa Aceh berjudul ‘Lalem’. Puisi ini dibacakan sendiri oleh pengarangnya, Nurdin Abdul Rahman, di halaman belakang Meuligoe Bupati Bireuen, Senin, 27 Juli 2009, dalam suatu acara peluncuran buku dan diskusi sastra yang diselenggarakan penerbit Alibi Bireuen.

Nurdin dilantik sebagai Bupati Bireuen pada 2007 sebagai hasil dari kemenangan pemilihan kepala daerah secara langsung, menggantikan bupati terdahulu, Mustafa A Glanggang. Nurdin lahir di Bireuen 28 Desember 1949, menamatkan pendidikan di FKIP Unsyiah 1988, dan pernah menjadi pengajar bahasa Inggris pada sejumlah sekolah serta dosen mata pelajaran yang sama di beberapa fakultas di Banda Aceh.

Tak banyak yang mengira, Nurdin, yang selama ini dikenal sebagai ‘pemberontak’ ternyata seorang penulis puisi yang handal. Semangat menulis puisi itu makin mengental dan liar tatkala Nurdin dijebloskan ke rumah tahanan sebagai tahanan politik. “Salah satu pekerjaan saya selama di penjara adalah menulis. Ada puisi dan buku bahasa Inggris,” kenang Nurdin. Puisi ‘Lalem’ ditulis 21 Mei 1998 di penjara Keudah Banda Aceh. Ketika itu, Nurdin mendekam di sana sebagai tahanan politik karena tuduhan terlibat Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ketika membacakan puisi itu, sesekali suara Nurdin meninggi meluapkan amarah. Tapi kemudian turun lagi menahan haru. Ia tampak sangat ekspresif.

Bagi Nurdin, penjara adalah inspirasi. Sosok berambut putih ini mendekam dalam tahanan Laksus Lampineung Banda Aceh, Lhoknga Aceh Besar, dan LP Keudah Banda Aceh. Ia dijebloskan pertama kali pada 15 Oktober 1990 dan bebas delapan tahun kemudian, tepatnya 22 Oktober 1998. Rangkaian renungan penjara itu telah merangsang lahirnya bergepok-gepok puisi. Kemudian dikumpulkan dalam satu buku berjudul ‘Kalam Acheh’, memuat 17 judul, diterbitkan Alibi (Aliansi Penulis Bireuen). Buku ini diluncurkan bersama-sama dengan peluncuran novel histori-fiksi karya sastrawan Malaysia, Prof Siti Zainon Ismail.

Keseluruhan puisi itu awalnya ditulis di kertas bungkus nasi dan kemudian diselundupkan ke luar penjara melalui sanak keluarga dan rekan-rekannya yang menjenguk. “Dengan cara begitu, puisi-puisi tersebut bisa di bawa keluar,” katanya. Ia sangat berharap karya puisinya itu menjadi bagian dari usaha meningkatkan khasanah sastra di Aceh. “Itu merupakan ungkapan seorang hamba Allah selama masa tahanan,” ujar Nurdin. Nurdin menuliskan puisinya dalam bahasa Aceh. Mengungkap perasaan selama dalam ‘rumoh glap’. Ada amarah, petuah, dan romantisme. Bahasanya lancar dan jernih. Berikut petikan puisi berjudul ‘Cinta’ yang melukiskan pengertian cinta dalam dada manusia.

Na nyang timoh hana tasangka
Na nyang teuka lage ie raya
Na nyang ji-oh hantrok taraba
Na nyang ban tathee sajan kana
Meunan keuh cinta
Jiduek bak hate sabe lam rindu
Jiduek bak dada subra hanasu
Jiduek bak pike meuwe-we laju
Jiduek bak mata dada nyang karu.
(ditulis di penjara Keudah, 29 Juli 1995).

Puisi lain berjudul Deurita Nya’ Nong merupakan persembahan khusus kepada sang istri yang telah menemaninya selama penderitaan. “Dialah orang yang sangat tabah menghadapi segala derita. Karena itu tak bisa saya berpaling darinya,” kata Nurdin sambil memandang sang istri yang duduk dengan busana muslimah yang teduh. Ketika menceritakan rasa cintanya kepada sang istri, Nurdin tampak sedikit terbata. Suaranya tersekat di kerongkongan, menahan tekanan masa lalu yang sangat pahit. Ia menyebut sang istri sebagai ‘kuntum bunga’, sebuah sebutan yang sangat romantik. Inilah petikannya:

Bagi lon hana kuntom, bungong lam donya
Nyang ka ek theun jra dan nestapa
Nyang ka ek geuharong laot deurita
Geutheun saket, phet ngon sengsara
Seudangkan lon jinoe dalam penjara
Hana pat lon peugah pakiban lon pike
Rangoe lon sabe keu nasib gata
Kareuna lon nyoe gata tatheun jra
Dingon peuet cahya mata gata peulahara
(Rumoh Glap Keudah, 11 September 1995)

Nurdin menyebut rumah tahanan yang dihuninya sebagai ‘rumoh glap’. Ia melukiskan rumah tersebut:

Lahee lam guha meunan rasa
Tan deuh sapeue di seulingka
Tan mata uroe tan na cahaya
Sang tan le peureulee keu mata
Bacut ta-iseuk payah taraba
Seupot tuloe gaki droe teuh sang hoka

Peristiwa dalam penjara yang sangat pahit dan getir ditulisnya sebagai berikut:

Kamoe jiseksa kamoe jipoh
Jiculok kamoe dalam tutopan
Kamoe jiengkhoe sin-ja ngon suboh
Malam ngon uroe hana tatujan
Teupluek ngon kulet darah pih tijoh
Tuleueng ngon asoe saket hanaban.

Aceh adalah tanah sastra. Keberadaan Nurdin Abdul Rahman dengan kumpulan puisi ‘Kalam Acheh’ meneguhkan kekayaan Aceh dalam bidang sastra.

(fikar w.eda)

About these ads
Komentar
  1. emafha mengatakan:

    salam

    bupati bireuen (Drs.Nurdin Abdul Rahman) ini dulunya adalah rakan diskusi hari sastera negara 1987 yang berlangsung di kuantan pahang malaysia.saya telah terputus hubungan dengannya sejak tahun 1990.kali terakhir saya ada menerima sekeping poskad darinya sekitar tahun 1990, dari mekah.ketika beliau menunaikan fardhu haji.selepas itu saya tidak mendengar sebarang khabar berita pun.sehinggalah saya terjumpa blog ini.saya harap dapat ketemu dengan beliau suatu hari nanti. atau ada sesiapa yang ketahui dimana beliau,harap dapat emailkan kepada saya.sekian terima kasih..

  2. aliansisastrawanaceh mengatakan:

    Adakah rekan2 yang bisa membantu ? atau sdr emafha dapat mengirimkan surat langsung ke pendopo bupati kota bireun – aceh – indonesia

  3. emafha mengatakan:

    Terima kasih kepada aliansasterawanacheh,memang saya berhajat utk menghantar surat atau poskad untuk beliau,tapi masalahnya saya tidak ketahui alamat lengkapnya.bolehkah sesiapa di sini membantu saya berikan alamatnya?Di dahului ucapan terima kasih jua atas kesudian rakan-rakan yang sudi menolong.wasallam…

  4. M. Nabil Berri mengatakan:

    Di mana buku ini bisa dibeli? Mohon berita (info) . . .

  5. aliansisastrawanaceh mengatakan:

    kabarnya tidak “beredar” di pasaran [toko buku]

  6. Joes mengatakan:

    Saya lg jatuh cinta dgn gadis aceh.. Tolong dunk, bikinin puisi dlm bahasa aceh.. Soalnya saya gak bisa.. Saya dari sunda.. :-)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s