Arsip untuk CERPEN-CERPEN kategori

SURAT UNTUK IBU : CERPEN HALIM MUBARY

Posted in CERPEN-CERPEN on Agustus 8, 2009 by aliansisastrawanaceh

Serambi Indonesia / 5 July 2009, 08:17 Cerpen Administrator

Surat I
IBU, kutulis surat ini untuk mengabarkan kalau ananda sudah tiba dengan selamat di satu negeri aneh. Matahari di sini adalah barang yang langka. Aku tak mengerti, kenapa orang-orang masih bisa melihat dalam gelap: berjalan, berinteraksi, dan bekerja dalam gelap. Mereka berkendaraan juga dalam gelap. Tapi anehnya, walau pun mereka berjalan dalam gelap, tapi tak seorang pun ada yang saling bertabrakan.

Aku melihat pasar-pasar, perkantoran, sekolah, perumahan, dan semua tempat-tempat umum, juga tanpa ada penerangan. Semuanya serba gelap. Namun penduduk negeri ini tidak pernah mengeluhkan perusahan listrik negara yang tidak pernah menyala. Karena mereka memang tidak pernah membutuhkannya. Karena mereka lebih suka hidup dalam gelap.

Ibu, aku sekarang menjadi salah seorang dari mereka. Pada awalnya, terus terang aku merasa linglung dengan situasi semacam ini. Namun lama-lama aku menjadi terbiasa dengan gelap. Tentu saja, matahari pernah muncul. Tapi hanya setahun sekali. Itu pun hanya untuk satu bulan matahari bersinar penuh. Namun, anehnya, di saat matahari muncul, malah penduduk negeri ini menghentikan hampir semua pekerjaan mereka. Mereka memenuhi masjid dan meunasah. Melantunkan kebesaran Tuhan. Menghayati setiap pemberian Tuhan dengan segenap jiwa. Sesuatu yang jarang kita saksikan di negeri kita bukan.

Oya, aku hampir lupa ibu. Bahwa selama aku di sini, tak pernah kudengar ada penguasa yang menyelewengkan wewenangnya. Tak ada orang yang menyunat uang negara. Bahkan, tak sepeser pun uang yang jatuh ke tangan yang salah. Semua diperuntukkan bagi kemakmuran rakyatnya. Aku heran, mobil-mobil tak pernah dikunci oleh pemiliknya. Mereka memarkirnya begitu saja di pinggir jalan depan rumah mereka. Pintu-pintu toko juga dibiarkan terbuka tanpa penjaga. Orang kalau mau membeli, tinggal mengambil saja, dan uangnya ditaruh dalam jepitan khusus yang disediakan untuk itu. Mungkin hampir sama dengan warung dan kantin jujur yang sudah mulai buka satu dua di negeri kita.

Tapi ibu, tak pernah kudengar ada orang yang kehilangan kendaraannya, atau toko dan kantor yang kemalingan. Bukankah ini benar-benar negeri yang aneh, ibu? Sama anehnya, ketika aku terkejut mendengar bahwa di negeri ini, tidak ada kantor polisi. Baik polisi militer, maupun polisi agama, yang di negeri kita disebut polisi syariat. Tentu saja, penjara atau rumah tahanan tidak diperlukan. Karena kalaupun dipaksakan dibangun, akan menjadi sia-sia. Karena memang tak ada orang yang perlu dijebloskan ke dalamnya. Ibu, aku rasa, cukup dulu sampai di sini surat pertama dari anakmu ini. Jaga diri dan jangan lupa kunci pintu dan jendela sebelum tidur. Agar rumah kita tidak dimasuki maling seperti dulu.

Surat II
Ibu, aku harap surat kedua ini akan mampu menghapus rinduku pada ibu. Baiklah, akan kuceritakan kembali pada ibu tentang negeri yang aneh ini. Negeri tanpa matahari. Beberapa hari lalu, aku sudah diterima bekerja di sini. Aku bekerja sebagai mandor bangunan, dan mengepalai dua puluhan pekerja. Namun sebenarnya hampir tak ada perbedaan antara mandor dengan para pekerja. Bukan seperti di negeri kita, kerja mandor hanya mengawasi dan tunjuk kiri, tunjuk kanan. Mandor di sini justru yang paling banyak kerjanya. Dan paling banyak beban tanggungjawabnya. Makanya, orang-orang di negeri ini, lebih suka memilih menjadi bawahan, daripada sebagai atasan.

Ibu, negeri ini masih saja gelap. Kegelapan yang indah. Begitu biasa orang-orang menyebutnya. Sesekali, bulan juga menyiramkan sinarnya ke bumi. Menghias wajah kota dan kampung. Sekali waktu, aku sempat menangkap sekerjab wajah seorang bidadari. Dia melintasi jalan depan bangunan yang sedang kami bangun. Aku terkesima menatapnya, Ibu. Wajahnya yang polos dan tanpa banyak polesan, tanpa sengaja menerobos cadarnya, menghunjam ke jangtungku.

Tapi, para pekerja memberitahuku bahwa dia adalah anak seorang raja. Dia berjalan diiringi dua belas pendampingnya yang juga sangat rupawan. Kata para pekerja pula; “Tuan mandor, siapa yang mampu menjawab teka-tekinya, maka laki-laki itu akan dijadikan sebagai suaminya.” Akhirnya, kuikuti sayembara itu. Hanya iseng sebelumnya. Tapi siapa sangka, kalau aku dinobatkan sebagai pemenangnya, Ibu. Spontan aku panik tapi sekaligus bangga. Panik karena akan menikahi putri seorang raja. Bangga karena mampu menjawab teka-teki sang putri. Dia bertanya begini; “Siapa orang yang paling beruntung di dunia ini?”

Aku menjawab, “Orang yang ingat mati ketika akan shalat, dan orang yang menganggap umurnya masih panjang ketika sedang mencari rezeki.” Sedangkan peserta sayembara lainnya-yang hampir semuanya berasal dari anak-anak pembesar istana, menyahut, “Jika hamba terpilih sebagai calon suamimu, Tuangku Putri.”

Ibu, aku akan segera menjadi suami seorang putri raja. Tapi aku boleh terlalu gembira, ibu. Aku juga telah memberikan satu syarat pada putri raja itu: aku akan menikahinya, jika ibu diizinkan datang ke negeri tanpa matahari ini, untuk mendampingiku menikahanya nanti. Bagaimana, ibu?

Samalanga, 26 Juni 2009

* Halim Mubary, peminat sastra, tinggal di Samalanga, Bireuen.

SEORANG CUT NYAK DHIEN : CERPEN DWI MEILVI NASVITA

Posted in CERPEN-CERPEN on Agustus 8, 2009 by aliansisastrawanaceh

Serambi Indonesia / 12 July 2009, 08:46 Cerpen Administrator

Peluh di keningnya itu masih mengucur sekujur tubuh seiring gerak tangannya yang menyikat bagian-bagian dekil seember penuh pakaian. Sesekali tangan kecil yang kurus itu melap keringat di wajahnya dengan helaan nafas menderu beriring dengan kucuran air keran pada cucian. Berbusa-busa sabun menyelimuti tangan dan kakinya sehingga persahabatan bersama mereka membuat kaki dan tangannya kasar dan pecah-pecah. Baju daster berwarna merah pudar lusuh yang koyak pada ujung-ujung bawahnya, melambai-lambai saat gerakan tangan kurus itu menyikat pakaian dengan cekatan.

Seminggu tiga kali, ia ke rumahku. Menyuci dan menggosok pakaian seluruh anggota keluarga. Seminggu tiga kali lagi ia di rumah tetanggaku, melakukan hal yang sama. Sebelum ke rumahku, ia kerumah yang lain dulu, singkatnya menyuci dan menggosok merupakan profesi sehari-harinya. Ia tinggal tak jauh dari kompleks rumahku dan lahan pekerjaannya juga disekitar sini pula.

“ Anis…udah bangun?” Ia ternyata sadar akan kehadiranku di belakangnya. Dengan malu aku hanya tersenyum. “ Gak kuliah Nis?” “ Nissa masuk sore kak.” Aku duduk menonton giatnya ia meremas-remas pakaian dari satu ember ke ember yang lain. Itu tandanya sudah tahap pembilasan dan pekerjaannya akan segera berakhir setelah menjemurkan mereka semua.

Tak percaya, lengan yang terbiasa melakukan pekerjaan rumah itu dulunya adalah lengan seorang pejuang. Paling tidak itulah yang ia katakan padaku suatu kali setelah enam bulan ia bekeja di rumah ini. Ia terbiasa masuk hutan ke luar hutan, memangkul senjata, membidik musuh dan bersiap mengantar nyawa. Cerita itu terkadang teringat setiap aku memandangnya bekerja. Tubuhnya kecil tak terurus. Karena sedang menyuci, ia melepas jilbabnya. Rambutnya yang sebenarnya lurus, tipis dan kering tampak tak terurus. Pipinya tirus memperlihatkan begitu tua mengalahkan usianya. Begitu keras ia hidup, dan tanpa suami harus membesarkan anaknya. Mereka tinggal di sebuah rumah tumpangan. Rumah kecil itu bukan hanya dihuni berdua ibunya, tapi juga terdapat sejawat yang satu profesi tukang. Mulai tukang cuci, menggosok, masak, hingga tukang bangunan. Mereka punya sejarah masa lalu yang sama dan kini mengadu nasib ke kota.

“ Anak kakak tahun ini masuk sekolah ya?” aku mengajaknya berbicara. Ia tersenyum sambil membilas pakaian terkahir. “ Belum cukup uangnya, tahun depan mungkin.” Suaranya begitu biasa saja seperti tak ada lagi kesedihan akan ketidak mampuannya memberikan pendidikan pada anak sematawayang yang ia miliki.

Aku melihat ember yang berisi pakaian yang sudah dibilas dengan baunya yang harum. Ember itu diangkatnya menuju jemuran yang tak jauh dari tempatnya mencuci. Sehelai demi sehelai kain itu dibentangt.“ Bapak saya dibunuh di depan mata saya. Mereka berseragam dan berlaras panjang menggedor rumah kami pada malam yang kelam. Bapak di bunuh karena dianggap pemberontak, kakak laki-laki saya juga di bawa pergi tak pernah kembali, Sedangkan saya, ….diperkosa dengan keji. Mereka bilang, saya dari darah yang kotor sudah tidak mengapa ikut dikotori.” Sepenggal percakapan yang kuingat saat itu.

“ Kakak umur berapa waktu kejadian itu?” aku penasaran dengan kisahnya.” 13 tahun, saat tahun-tahun kelam bagi kami. Tahun 1989.” Entah apa yang ia pikirkan sambil menjemur kain-kain di bawah sinar matahari yang sengat. Mungkinkah ia masih mengenang luka yang bertubi-tubi itu saat bergelut pada pakaian-pakaian yang dibersihkannya itu? Ketika kutanya suaminya dimana, ia menahan amarah dengan kelemahan kata-kata: “ ditangkap, dibunuh, nasibnya sama seperti bapak dan kakak saya meskipun dengan waktu yang berbeda. Tahun 2003, Darurat Militer yang tak mungkin lagi untuk menghidar dari keinginan pembalasan dendam yang bertubi-tubi bagi orang-oang seperti kami. Saat itu anak kami lahir belum genap sebulan di dunia ini.”

“Ketika ibu saya masih hidup, si kecil itu harus rela diurus oleh neneknya. Tekad saya untuk berjuang setelah itu semakin besar. Saya lelah dengan ketidak adilan ini Perempuan yang sudah tiga tahun bekerja di rumahku sejak MoU Helsinki, berdiri dan memasangkan jilbabnya lagi, memperbaiki letak dasternya dan berjalan membuka pintu belakang rumah tempat ia keluar dan masuk seperti biasanya. Bocah enam tahun ikut menguntit ibunya, ia berpaling padaku sesaat sambil terseyumn ceria. Cara ana-anak mengucapkan terimakasih setelah sepotong kue kuletakkan di genggamannya. Aku memandang lumat sambil membayangkan Tjut Njak Dhien dalam bingkai yang berbeda. Perempuan perkasa dari tanah Aceh yang berjuang dalam sisa-sisa sejarah, perempuan yang menyimpan luka panjang di ranah perdamaian.*

* Dwi Meilvi; peserta Sekolah Menulis Do Karem, tinggal di Banda Aceh.

SANG TAK BERALAMAT : CERPEN SAIFUL BAHRI

Posted in CERPEN-CERPEN on Agustus 8, 2009 by aliansisastrawanaceh

Serambi Indonesia / 1 Februari 2009, 19:41 Cerpen Administrator

“Sempurnalah hidup mati orang-orang yang beralamat. Celakalah hidup mati orang-orang tanpa alamat!” Demikianlah bunyi prasasti batu kubur berhuruf Jawi Kuno. Prasasti batu kubur itu telah patah terbengkalai di sebuah komplek pekuburan kumuh tengah kampung.

Bunyi prasasti itu kedengaran sepintas seperti mengada-ada. Tetapi setelah lama kurenung-renung, ternyata kata-kata yang tersurat itu sungguh bijak bak kata mutiara. Semakin kurenung-renung semakin pancarkan berlaksa nuansa, semakin cocok dan menohok ambang adaku. Ya, adaku! Heh, adakah adaku? Jika aku ada, dimanakah adaku? Dimanakah alamatku?

Terperangkap pada galau menggelisah seperti itu, seketika itu juga kepalaku berdenyut kencang. Semestaku berpusing-pusing. Aku seperti sedang digelinding. Rasa haruku menyengat. Rasa piluku mengilu. Sekujur tubuhku serasa dihimpit-himpit beribu batu. Aku rasakan remuk. Aku rasakan luluh, pupus mencair, lalu melarut dalam bungkam sebuah pingsan.

Ketika aku tersadar dari amuk pingsan itu, hari-hariku jadi hambar. Sungguh tawar kulewati hidup mati orang-orang tak beralamat. Pergiku dan pulangku selalu saja tak menentu. Alamat-alamat yang kutuju seakan menggaib di depan harap dambaku. Tak gusar, pantang lelah menyerah, kutelisik lagi jalan berliku dengan kaki bersaput debu, terus saja kucari-cari alamatku.

Dalam pencarian itu, orang-orang yang beralamat, tak kenal waktu mencercaku, memfitnah-fitnah, mengumbar iri, meludahi dengki, mempersakit-sakitkan hati, biar aku gundah agar segera mengaku kalah, untuk tidak lagi mencari-cari alamat, biar aku selamanya tak beralamat. Orang-orang yang beralamat itu tega-teganya bersuka ria mempersulitku untuk jemu berbungkah tabu disaat-saatku cari-cari alamatku. Orang-orang yang beralamat itu sepertinya tak rela jika aku berlamat. Padahal aku dan orang-orang itu sama-sama manusia, yang akan lebih sempurna jadi manusia jika sama-sama punya alamat. Sungguhpun begitu, walau segala syirik, segala dengki terus mereka belit-belitkan kepadaku, aku tak akan pernah berhenti. Aku akan tetap mencari alamatku.

Sudah tak berbilang musim aku mencari-cari alamatku. Ujung usiaku sudah tinggal sejengkal lagi. Dalam sepi pencarian itu aku sering mengutuk diri, mengapa alamatku selalu menjauh dariku? Padahal dari kejauhan ini, aku sudah melihat dengan jelas kalau di samping tikungan lorong kampung yang rimbun berhutan rumbia itu, terhampar indah sepetak mungil tanah alamatku. Tatapi ketika kubergegas mendekatinya, seketika itu juga alamat itu menggaib, berganti dengan tebing-tebing karang terjal yang berjurang curam. Jauh di bawah sana ombak-ombak samudra menghempas tiada henti, meluluh lantak anganku pada alamatku.

Pencarian haru, pencarian pilu! Pencarian semu bakal membatu! Tergagap dan terguguplah aku ketika dalam khusyuk pencarian itu, tiba-tiba aku bersua dengan orang-orang yang ingkar alamat, orang-orang muak alamat, orang-orang yang dustakan alamat, orang-orang yang memuja-muja alamat, orang-orang yang luput alamat, orang-orang yang takut alamat, orang-orang yang selalu saja salah alamat….

Dalam putus harap itu aku berharap, biarlah alamatku itu adalah aku ini!

Ujöng Blang, 31 Januari 2009

PEREMPUAN SENJA : CERPEN HENDRA KASMI

Posted in CERPEN-CERPEN on Agustus 8, 2009 by aliansisastrawanaceh

Serambi Indonesia / 17 May 2009, 09:14 Cerpen Administrator

PEREMPUAN punya kebiasaan menjelang sore duduk berlama-lama di tepi kali belakang rumahnya. Untuk memupus jenuh, ia kerap melempar batu kecil ke hamparan air. Ditatapnya hamparan remuk riak itu perlahan hingga memudar tenang. Ia selalu melakukannya berulang-ulang sampai riak yang memantul sempurna meruapkan bayangan Miswar.

Tatapan bersua pandang pertama dengan Miswar beberapa bulan lalu di tepi kali itu. Sesaat sebelum mentari mencebur diri dalam gegaris jingga, dan langit mulai memantulkan bayang temaram tubuhnya. Lelaki pecinta alam itu senang menyusuri lautan ilalang yang menjamur di tepi kali seraya menikmati panorama senja, dan bagi perempuan itu penghujung senja menjadi tak lagi hampa saat Miswar menyatakan senang berjumpa dengannya di tepi kali. Walau ia mengiyakan malu-malu dalam hati.

Mekar semerbak sudah hatinya jika lelaki muncul di tepi kali itu. Mungkin, pendam mereka akur tentang persinggahan kemesraan berikutnya ditempat yang sama, pun diwaktu yang tepat ketika angin senja menghentikan desah ilalang yang terpana akan riak cinta yang terus mereka titi di tepi kali itu. Terasa gemericik air bak alunan orkestra yang mengiringi untaian senyum dan canda mereka sampai awan merah berarak di langit jingga dalam warna senja.

“Kau tahu, kenapa aku senang berlama-lama disini, karena alunan gemericik itu lebih merdu dari suara desah angin, kicauan burung maupun suara alam lainnya, sebab bukan sekedar kandungan etis yang kita temukan dalam riak itu tetapi juga kedamaian yang mengalun tajam. Sama seperti perasaan manusia, sejuk tapi menusuk “ujar Miswar suatu ketika

“Kau begitu menyukai suasana seperti ini? “selidik perempuan itu. “Ya, tapi aku tak bisa berlama-lama di sini. Besok aku harus kembali ke kota untuk melanjutkan kuliah” Itulah perjumpaan terakhir mereka di tepi kali itu, tapi tetap saja rasa hati perempuan itu tak bisa tertumpahkan, kebimbangan terus meneduhkan pendam dalam hampanya suasana senja saat itu.”jika kau merindukanku, tataplah riak air itu dan anggap bayanganku ada disana, karena riak itu adalah pertunjukan alam yang paling indah untuk menghiburmu”

Ia tertegun, ada sesuatu yang menderu dalam desah nafas. Percuma jika angannya sanggup meruapkan bayangan sosok manapun dalam hamparan riak itu. Lalu dengan begitu kerinduannya terpuaskan semudah itu. Tak pahamkah Miswar perasaan sesorang perempuan. Penantian begitu mahal, kerinduan yang membuncah bisa meletup suatu saat, menghamburkan serpihan luka. Apalagi keresahan yang dipendam berbulan-bulan betul-betul-betul nyata kemudian.

“Apa lagi yang kau tunggu Samirka! besok anak Haji Samir akan datang menagih janjinya, kuharap kau tak menundanya lagi” gelegar ayah tadi pagi membuat hatinya kian resah. Diseka kembali sisa-sisa mendung diwajahnya. Apalagi yang bisa diharapkan dari lelaki itu. Sudah hampir setahun Miswar menghilang, namun ia tak pernah menerima sepucuk pun kabar darinya di negeri seberang. Ia tak bisa mengelak lagi, hanya pasrah akan masa depan hidupnya pada titah ayahnya.

Tetesan gerimis yang semula menorehkan bintik-bintik kecil di wajahnya, berubah menjadi renai hujan menguyupkan sekujur tubuh. Tatapan matanya liar, menyusuri gemuruh sungai yang keruh. Ia tak putus asa, di rogohnya kertas yang mulai lembab dari saku roknya lalu ia pun menumpahkan baris-baris luka untuk Miswar di atas kertas itu : Kau tahu, penantian ini akan terus mempermainkan perasaan kita. Karenanya anggap saja kita tak pernah bertemu di sini, lupakanlah senja itu, lupakan suara alam yang paling merdu bagimu, lupakanlah wajahku, lupakan semua sisa-sisa kenangan yang pernah ada. Di lumatnya kertas lembab itu hingga mengeras lalu dilemparkan ke hamparan arus. Ia pun berlari sekuat tenaga, mendobrak derasnya gemuruh dalam hamparan ilalang, agar derasnya hujan bisa menyapu sisa-sisa kebahagiaan yang pernah mereka rajut saban senja itu

* Hendra Kasmi; Mahasiswa PBSID Unyiah angkatan’05. Pengisi Antologi Jurnal Cerpen Indonesia Edisi 10 di Yogyakarta, Pengisi Kucer Sepucuk Surat Buat Emak Gemasastrin, dan menulis cerpen, puisi dan resensi di beberapa media lokal Aceh