Arsip untuk KLIPING - KLIPING MEDIA kategori

KETIKA KATA MENJADI IKATAN BERSAUDARA

Posted in KLIPING - KLIPING MEDIA on Desember 15, 2009 by aliansisastrawanaceh

Republika ,minggu/ 13 Desember 2009

Oleh Ahmadun Yosi Herfanda

Di salah satu lantai Menara KL, para penyair nusantara antre baca puisi.

Boleh saja negara berselisih paham, tapi para penyair tetap ingin menjalin ikatan rasa bersaudara. Dan, begitulah tekad sekitar 100 penyair nusantara–Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand, dan Filipina–yang berkumpul di Kuala Lumpur, 20-22 November lalu. ”Meskipun Indonesia dan Malaysia masih berselisih soal Ambalat dan tari pendet, kami, para penyair senusantara, harus tetap bersaudara,” kata Shobier Purwanto, sekjen Komunitas Sastra Indonesia (KSI).

Maka, Menara Kuala Lumpur, yang menjulang tinggi ke angkasa, pun bertaburan kata-kata indah yang mengekspresikan semangat untuk tetap bersaudara. Para penyair dari negara-negara serumpun tersebut membacakan sajak-sajak mereka dengan berbagai gaya dalam satu bingkai semangat mempersembahkan puisi untuk persaudaraan. ”Acara semacam ini penting untuk memperkuat hubungan budaya antarsastrawan nusantara,” kata Baharuddin Zein, ketua Persatuan Penulis Nasional (PENA) Malaysia.

Forum persaudaraan dan kerja sama antarpenyair nusantara itu dikemas dalam acara Pertemuan Penyair Nusantara (PPN). Ini adalah pertemuan yang ketiga setelah diadakan di Medan, Sumatra Utara (2007), dan di Kediri, Jawa Timur (2008). Semula, nama acara tahunan ini adalah Pesta Penyair Nusantara. Tapi, di Kuala Lumpur, kata pesta diganti pertemuan. ”Penggantian kata pesta menjadi pertemuan itu untuk menghindari kesan berhura-hura,” kata SM Zakir, ketua panitia pelaksana.

Baca puisi, diskusi, gathering, dan penerbitan antologi puisi penyair nusantara (karya semua peserta PPN) menjadi agenda utama tiap PPN. Di Kuala Lumpur, dengan tema Puisi Suara Kemanusiaan, acara baca puisi diadakan di tiga tempat secara berturut-turut. Malam pertama diadakan di gedung Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), hari kedua di Menara Kuala Lumpur (Menara KL), dan malamnya disambung di halaman Rumah PENA Malaysia. ”Saya percaya, puisi dapat meningkatkan rasa kemanusiaan kita dan juga rasa persaudaraan kita,” ujar SM Zakir.

Berebut
Pentas baca puisi di Menara KL menjadi pengalaman yang menarik bagi para penyair sehingga para penyair berebut untuk dapat dijadwal membaca di salah satu lantai menara setinggi 250 meter ini. Namun, pentas baca puisi di halaman Rumah PENA, yang berlangsung sampai dini hari, juga tidak kalah seru. Hanya di gedung DBP yang terkesan formal karena memang dalam rangkaian upacara pembukaan.

Pada malam pertama di DBP itu, dari delegasi Indonesia (30 penyair), diwakili oleh dua penyair muda–Ramayani (Jambi) dan Yopi Setia Umbara (Bandung)–untuk membacakan sajak-sajak mereka. Malaysia menampilkan beberapa penyair senior, seperti Siti Zainon Ismail, Zaen Kasturi, Shukri Abdullah, dan Lim Swee Tin. Begitu juga Brunei menampilkan Zeffri Arief, sedangkan Thailand menampilkan Jen Songsompant. Tampil pula seorang penyair dari Madagaskar yang membacakan sajak-sajaknya.

Penyair-penyair lain yang berhasrat menunjukkan kebolehan berucap di panggung mendapat kesempatan luas untuk tampil di Menara KL dan halaman Rumah PENA. Saking banyaknya penyair yang ingin membaca puisi di Menara KL, membuat acara berlangsung hingga hampir lima jam. Sebelum membaca puisi, para penyair diberi kesempatan gratis untuk naik ke puncak Menara KL untuk menikmati panorama indah hamparan Kota Kuala Lumpur dari ketinggian sekitar 250 meter.

Penyair Indonesia yang beruntung mendapat giliran membaca puisi di Menara KL antara lain adalah Zulhamdani, Gunoto Saparie, Shobier Purwanto, Anwar Putra Bayu, dan Roel Sanre. Acara pentas baca puisi didahului pertunjukan tari Melayu khas Malaysia. Selanjutnya, panggung diisi para penyair yang membacakan puisi dengan berbagai gaya dan alat pendukung. Ada yang sambil memetik gitar, meniup seluang, dan ada pula yang sambil memukul rebana. Ada yang membaca dengan gaya standar, ada pula yang berteriak-teriak, atau setengah berdendang. Semuanya mengucapkan puisi untuk kemanusiaan dan persaudaraan.

Terlalu panjangnya acara di Menara KL, hujan yang menimbulkan suara agak bising dan embusan angin dingin dari teras menyebabkan beberapa penyair Indonesia, seperti Acep Zamzam Nor, Isbedy Stiawan ZS, dan Fakhrunnas MA Jabbar, mengurungkan niatnya untuk membaca puisi di Menara KL. Mereka memilih untuk dijadwal membaca di halaman Rumah PENA.

Begitu juga penyair-penyair yang belum tampil, seperti Dad Murniah, Doel CP Allisah, Lukman Asya, Heri Maja Kelana, Viddy AD Daery, A Rahim Kahhar, Hasan Al Banna, Machzumi Dawood, Faisal Syahreza, Tarmizi Rumah Hitam, Anton Narasoma, dan Nurhayat Arif Fermana, mendapat giliran membaca puisi di Rumah PENA.

Dua buku antologi puisi
Agenda yang juga penting dalam rangka PPN adalah penerbitan buku, diskusi, dan gathering. Pada PPN Kuala Lumpur, program penerbitan buku mengalami kemajuan yang cukup berarti. Jika pada PPN sebelumnya hanya diterbitkan satu buku antologi puisi, kali ini dua buku antologi puisi, yakni satu buku berisi karya semua peserta dan satu lagi antologi puisi penyair muda Indonesia dan Malaysia.

Diskusi yang berlangsung sejak hari pertama hingga hari ketiga membahas berbagai persoalan terkini kepenyairan di negara-negara peserta,  termasuk kerja sama antarpenyair nusantara ke depan.
Dari Indonesia, yang tampil sebagai pembicara adalah Acep Zamzam Nor, Viddy AD Daery, dan Ahmadun YH. Brunei menampilkan Sheikh Mansor dan Zefri Ariff.

Singapura menampilkan Djamal Tukimin, Sharifah Khadijah, dan Isa Kamari.  Thailand menampilkan Jen Songsompant dan Abdul Rozak Pandangmalam. Sedangkan, dari Malaysia, yang tampil sebagai pembicara adalah Malim Ghozali Pk, Abizai Abi, Jasni Matlani, Dato Kemala, dan Lim Swee Tin. Sastrawan Negara Malaysia, Prof Dr Muhammad Haji Salleh, sebagai keynote speaker, menyampaikan orasi sastra dengan sangat memukau dan mencerahkan.

Puncak acara PPN sebenarnya adalah gathering–semacam forum musyawarah para penyair nusantara–yang membahas hal-hal strategis tentang masa depan PPN, penyempurnaan kemasan acaranya, rekomendasi kerja sama untuk pengembangan sastra di nusantara, dan penentuan tempat PPN selanjutnya.

Dalam gathering di PPN KL, yang dipimpin oleh Mohamad Saleeh Rahamad dan SM Zakir, diputuskan bahwa Brunei Darussalam adalah tuan rumah PPN IV 2010. ”Insya Allah, kami siap melaksanakan PPN IV,” kata Zefri Ariff, penyair Brunei yang mendapat amanah menjadi ketua panitia pelaksana PPN 2010.

Dan, persaudaraan pun langsung berlanjut hingga di luar acara. Tiap malam sampai dini hari, para penyair dari negara-negara di Asia Tenggara itu berkumpul di warung-warung pinggir jalan, ngobrol santai tentang apa saja sambil berkelakar penuh tawa, ditemani teh tarik, tomyam, dan mi rebus ala Malaysia.

PENYAIR JADI JURU BICARA KEMANUSIAAN

Posted in KLIPING - KLIPING MEDIA on Desember 12, 2009 by aliansisastrawanaceh

Tribun Lampung / Selasa, 24 November 2009 | 20:52 WIB

BANDAR LAMPUNG, TRIBUN – Penyair Lampung Isbedy Stiawan ZS dan akademisi FISIP Unila cum penyair muda Lampung M Harya Ramdhoni MA menghadiri Pertemuan Penyair Nusantara 3 yang dilaksanakan di Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur, 20-22 November 2009 lalu.
Ajang jumpa penyair tersebut diikuti para penyair dari lima negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand.
Dari Indonesia, tercatat sekitar 50 penyair turut berpartisipasi, seperti antaranya, Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya), Doel CP (Aceh)  Ahmadun YH (Jakarta), Fakhrunnas MAJabbar (Riau), Isbedy Stiawan ZS (Lampung), dan Viidy AD Daery (Jatim).
Temu Penyair Nusantara 3 ini didukung Persatuan Penulis Nasional Malaysia (Pena) yang bekerja sama dengan Jabatan Kebudayaan dan Kesenian Negara (JKKN) Malaysia, Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Kuala Lumpur, dan Institut Terjemahan Negara Malaysia (ITNM). Tema Temu Penyair Nusantara kali ini adalah Puisi Suara Kemanusiaan.
Menurut Sekretaris Umum Pena SM Zakir, tema tersebut diambil untuk menegaskan posisi penyair sebagai juru bicara kemanusiaan.
“Penyair bukan sekedar pencatat peristiwa, tetapi juga mampu menangkap dan menguraikan berbagai macam fenomena tersembunyi dari suatu kejadian tanpa ragu dan takut dengan berpegang teguh pada kebenaran,”kata Zakir.
Sementara akademisi FISIP Unila M Harya Ramdhoni MA mengatakan, posisi sastrawan Indonesia dalam konteks hubungan politik Indonesia-Malaysia yang sempat memanas beberapa waktu yang lalu dapat memberi solusi bagi perbaikan hubungan bilateral kedua negara. Perbaikan itu menggunakan pendekatan budaya dan kemanusiaan.
“Kadangkala masalah-masalah politik yang buntu bisa diselesaikan dengan mengingat kembali muasal sejarah dan kesamaan adat istiadat yang berasal dari tamadun yang sama. Temu Penyair Nusantara diharapkan menyelesaikan konflik melalui cara nonpolitis,” kata M Harya Ramdhoni yang kini sedang menempuh program doktor Ilmu Politik di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM).
Pertemuan Penyair Nusantara 3 di Kuala Lumpur merupakan acara rutin tahunan yang dilakukan kali ketiga setelah sebelumnya dilakukan di Medan (2007) dan Kediri (2008).
Acara yang sama akan dilaksanakan di Brunei Darussalam pada 2010. Pertemuan Penyair Nusantara 3 diisi pembacaan puisi dari seluruh peserta yang dilaksanakan di Menara Kuala Lumpur dan Rumah Pena pada 21 Nopember 2009.
Paus Sastra Lampung Isbedy Stiawan ZS memukau para peserta dengan puisinya, Pohon Bunda. Sebelumnya M Harya Ramdhoni mempersembahkan Perempuan Penunggang Harimau kepada para khalayak Temu Penyair.
Berkaitan dengan acara Temu Penyair tersebut, juga dilaksanakan Seminar Internasional Kesusasteraan Melayu (SIKM) X yang diselenggarakan Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) pada 18-19 Nopember 2009.
Seminar ini menghadirkan para akademisi sastra dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand.(tar)

MEREKA SEDANG BERCERITA

Posted in KLIPING - KLIPING MEDIA on Desember 12, 2009 by aliansisastrawanaceh

Blog Harian Aceh / 3 December, 2008

Oleh Mukhlis A. Hamid

Judul Buku : Sepucuk Surat buat Emak

Kumpulan Cerpen Mahasiswa Gemasastrin

Penulis : Akmal, dkk.

Penerbit : Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia (Gemasastrin) FKIP Unsyiah 2008

Tebal Buku : xxii + 144 halaman

MUNGKIN, sudahlah, tak perlu diperdebatkan. Buku yang berisi enam belas cerita pendek ini boleh dibaca oleh siapa saja. Sebagai bahan bacaan, maka sebenarnya, adalah warna lain dari usaha penulis untuk bercerita. Ya, bercerita, selain dengan tutur, juga dikenal dengan tulisan. Maka ketika para penulisnya sedang menuliskan cerita pendek, dapat dipastikan kalau mereka sedang bercerita.

Bercerita, ya apa saja. Tidak ada batas. Namun cerita pendek, tentu memiliki bentuknya tersendiri. Kalau tidak mengikuti bentuk seperti itu, bisa jadi bukan cerita pendek namanya.

Dalam cerita pendek, ada aliran: realis, surealis, puitis. Dalam sebuah cerita pendek, ada ide dan judul, ada kalimat pembuka, pengenalan tokoh, konflik dan setting cerita, ada penyelesaian konflik, serta diakhiri dengan kalimat penutup. Masih bisa ditambah dengan pendalaman konflik dan pengembangan karakter tokoh.

Kenapa cerita pendek? Tentu bukan karena pendek, tapi karena singkat dan padat. Dalam sebuah cerita yang padat itulah, terurai peristiwa, ada tokoh, ada setting tempat dan waktu.

Tapi lupakanlah. Lupakan bahwa bercerita juga ada bentuknya. Anggap saja, bercerita tidak ada batasnya, sehingga tidak ada yang melarang. Hanya saja, jangan salahkan bila ada orang yang menganggap cerita itu bukan sebagai cerita pendek. Jelasnya, ini adalah bentuk.

Beginilah, keberanian diri terlahir ketika ditawari untuk memberi catatan atas sepuluh cerita pendek teman-teman yang berasal dari sarangnya ilmu menulis, salah satu pusatnya ilmu bercerita.

Cerita pendek ini, berasal dari tugas yang diberikan kepada mahasiswa yang mengikuti mata kuliah prosa fiksi. Harapan mereka, cerita pendek dalam buku ini menjadi semacam tolok ukur bagi mereka sendiri. Alasan itulah yang menyebabkan sebagian di antaranya, bermimpi akan tercantum karya mereka dalam buku ini.

Judul buku ini, kemudian dinamakan dengan Sepucuk Surat Buat Emak. Judul ini diambil dari judul cerita pendek Akmal. Pemilihan ini, sama sekali bukan karena pertimbangan kualitas –karena rata-rata cerita pendek dalam buku ini tidak jauh berbeda. Pemilihan judul itu, lebih dengan pertimbangan ada tali merah cerita keibu-perempuanan dalam buku cerita pendek ini.

Dengan alasan bahwa kualitas bukan sasaran utama, maka catatan atas cerita pendek dalam buku ini, hanyalah bayangan-bayangan, seandainya, dan ini sangat berkait dengan perasaan. Otomatis, perasaanlah yang membedakan antara satu pembaca dengan pembaca lain. Intinya, catatan ini, ingin mengungkapkan andai-andai terhadap cerita pendek yang sudah ditulis.

Cerita pendek Akmal, misalnya, “Sepucuk Surat Buat Emak”, sangat terlihat usaha untuk membuat garis cerita itu berjalan sebagaimana yang dibayangkan. Namun, sepertinya, ia tidak berusaha menjaga irama keberlangsungan proses penceritaan.

Sangat terasa, ketika Akmal mulai menulis surat, tanpa terlebih dahulu memberi jalan agar pembaca enak mengikuti dan membayangkan cerita.

Akmal tidak menjaga –sekaligus tidak melakukan eksplorasi maksimal—ketika memasukkan potongan-potongan cerita lain dalam bagian yang menjadi cerita dasar. Karena bagaimana pun, bila saja potongan ini lebih banyak, maka dapat dipastikan akan mengganggu cerita.

Hal lain, Akmal juga memasukkan beberapa tokoh yang tidak menjelaskan sedikit tentang mereka, selain Amir sebagai pembantu Teungku. Sementara Amat, Ulih, dan Rahmat, tidak dijelaskan. Memang orang akan tahu bahwa mereka adalah santri. Akmal juga tidak mengeksploirasi maksimal gagasan, misalnya, yang berkaitan penyebutan beberapa nama di atas, Amir, Amat, dan Ulih, sepertinya bukan nama utuh. Nama-nama seperti itu, lazim ditemui dalam masyarakat Aceh sebagai nama panggilan –yang dipersingkat.

Sayang sekali, dalam cerpen “Ibuku Selingkuh,” Fitriana tidak memperpanjang konflik-konflik, tarik-ulur, dan memperdalam setting. Klimaks dari kealpaan Fitriana itu adalah ketika menceritakan Aisya yang mendapati Ibunya sedang di hotel bersama Om Sardi. Fitriana juga tidak menceritakan, mengapa Aisya begitu yakin Ibunya sedang berselingkuh di dalam hotel. Karena, melalui sebuah cerita, sebenarnya bisa saja dinyatakan bahwa berada di hotel untuk sebuah pertemuan–karena Fitriana juga menyebut Om Sardi sebagai seorang yang dekat dengan keluarga Aisya.

Bagian yang menarik lain yang kurang diberi penekanan adalah saat ayah Aisya pulang ke rumah menunggu isterinya di depan pintu. Ayahnya diberi tahu Aisya bahwa ibunya berselingkuh. Secara logika, ada kemarahan yang tidak diungkapkan secara lugas dalam cerita. Kemudian proses marah-memarahi itu, juga tidak dilekatkan dengan ide-ide yang membuat pembaca berdebar-debar.

Cerpen tersebut, sebenarnya memiliki ide cerita yang menarik, walau bukan sesuatu yang baru. Namun Fitriana tidak mengeksploirasi kekayaan ide yang kemudian dituangkan. Sama seperti Akmal, yang membiarkan banyak ide dalam bagian cerita yang dibiarkan berlalu begitu saja.

Sementara, judul cerpen Yudi Pratama sangat menggoda, “Mengapa Aku Dilahirkan sebagai Perempuan?” Tapi seperti dikatakan sebelumnya, tetaplah sebuah cerita. Namun cerita dalam cerpen ini, berjalan apa adanya, tidak ada konflik berarti, juga tidak fokus. Hubungan antara isi dengan judul, juga tidak terasa di benak kami sebagai pembaca.

Ide dalam cerita ini juga sedikit. Penulis seperti tidak mau ambil pusing dengan membuat ide ini menjadi lebih menarik, misalnya dengan memperkaya ide-ide dalam proses perjalanan cerita itu.

Rahmi mencoba bercerita dengan lancar. Namun seperti cerita yang lainnya, ia juga kurang membuat konflik. Jalannya cerita seakan bisa ditebak dari awal. Sebenarnya, tidak ada masalah dengan bisa ditebak atau tidak jalan cerita dari awal. Namun bila ditambah dengan berbagai kejutan-kejutan, juga akan menambah daya tarik tersendiri.

Dalam “Namanya Iffah Annisa,” sebenarnya Rahmi masih bisa menambah berbagai gaya hidup muda-mudi sekarang. Misalnya, ketika Andiansyahe Fakhul berjumpa dengan kawannya Hafid di pesta pernikahan Cek Hastini, sangat banyak ruang untuk membuat kejutan-kejutan yang menarik. Tapi, namanya saja cerita!

Cerita “Kepergian Silva, Kesalahan Aku atau Dia?” yang ditulis Agus Suarni MS, juga terkesan biasa-biasa saja. Sama seperti cerita lainnya yang tidak mengolah jalan cerita itu hingga menjadi lebih menarik, melalui berbagai pilihan, seperti berusaha lebih mempermainkan kata-kata, hingga cerita yang sederhana pada akhirnya akan membuat orang terpesona membacanya.

Hendra Kasmi, dalam Cerpen “Doel Karim” memperlihatkan suasana yang kurang-lebih sama. Parahnya, Hendra malah membuat cerita itu layaknya membaca sebuah tulisan biasa. Bedanya, di sana ada tokoh dan tempat. Namun tokoh dan tempat itu kemudian tidak dikembangkan.

Proses penceritaan Erni Ningsih, dalam Cerpennya “Bukan Cowok Gampangan,” hampir sama dengan Nurhadia, dalam cerpennya “Mengejar Impian.” Dua cerita itu juga hampir mirip dengan “Burni Telong” yang ditulis Netty Wary. Cerita mereka juga hampir mirip dengan pencerita sebelumnya, tidak mengeksplorasi suasana, tidak membuat kejutan-kejutan, dan kalau tidak ada tokoh, mirip tulisan biasa. Dalam cerita Erni, sebenarnya jalan cerita sudah berlangsung kental, namun karena tidak berusaha untuk memperindah cerita, menjadikan cerita itu tidak istimewa, seperti juga cerita Nurhadia.

Sebaliknya, Zaid Bayu Isra, dalam “Play Boy Kodok,” hanya mempermainkan tokohnya, tidak menggarap suasananya. Ia hanya mengandalkan dialog-dialog bebas, dengan mengabaikan situasi-situasi yang sedang berlangsung.

Demikianlah sedikit catatan atas beberapa cerita dalam buku cerita pendek ini, sekali lagi, adalah andai-andai, membayangkan, bahwa bila itu ada, akan lebih menarik bagi kami yang membacanya. Sebagai sebuah andai-andai, menjadi tidak penting mengukur kurang-lebih, kuat-lemah, ada-tidak, benar-salah. Yang pasti, mereka sudah menulis. Dan itu, bagi kami, sesuatu yang luar biasa. Apalagi bila dimaksudkan untuk menumbuhkan kompetensi awal mereka sebagai calon guru sastra masa depan. Karenanya, sudah sepatutnya kami berterima kasih pada Budi Arianto, dosen muda di tim sastra, yang membuka ruang ekspresi yang mahabesar bagi mahasiswa dalam pembelajaran sastra di kelas sebagaimana dilakukan oleh mahaguru kami, Abdullah Faridan, di awal tahun 1980-an.

Entahlah. Kami memberanikan diri berpikir bahwa mereka sedang bercerita dan akan terus bercerita. Ya, yang namanya bercerita bisa apa saja. Bukankah tak salah ketika kami berandai-andai membayangkan cerita mereka? Namanya saja bercerita, bukankah begitu?

Mukhlis A. Hamid adalah sastrawan dan dosen Sastra di FKIP Unsyiah

Doel CP Allisah, Diabetes Dan Oleh-Oleh Dari KL

Posted in KLIPING - KLIPING MEDIA on Desember 12, 2009 by aliansisastrawanaceh

Diposting: Selasa, 01 Desember 2009 / 00:00:00 | Oleh: annida | Kategori: Berita Penulis

Annida-Online–Dua bulan sudah penyair Doel CP Allisah (48) menjalani perawatan di rumah sakit di Aceh. Doel menderita diabetes. Walau diharuskan istirahat, toh mantan penasihat Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh ini nekad. Ia ogah ketinggalan acara-acara berbau sastra, seperti Ubud Writers and Readers Festival di Bali bulan Oktober lalu, serta Temu Penyair Nusantara Kuala Lumpur, Malaysia akhir November kemarin. Sebelum acara di Ubud pun, sebenarnya Doel sedang dalam perawatan dokter. Lalu ia minta izin untuk rawat jalan saja, demi mengikuti gelaran internasional itu. Pulang dari Ubud, lagi-lagi ia mesti masuk RS. Apa sih yang membuat Ketua Aliansi Sastrawan Aceh (ASA) ini ngotot untuk ikutan hajat sastra itu?

“Ya memenuhi undangan kawan-kawan lama saya, sekalian ingin jalan-jalan juga. Nggak betah terus-terusan diam di kamar. Yang utama sih, jangan sampai Aceh putus hubungan dengan komunitas-komunitas di luar sana, gara-gara tak ada sastrawannya yang ikut serta,” ujar Doel, yang banyak memotret tragedi Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh dalam puisinya.

Doel mengaku, ia rela melakukan itu mesti harus melanggar aturan dokter serta mengeluarkan ongkos pribadi. Saat mengikuti acara di Kuala Lumpur kemarin, Doel bersama Fauzan Santa, rektor sekolah menulis Dokarim. Dari Indonesia, menurut Doel terdapat 60 peserta, dan selebihnya penyair dari negara tuan rumah, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand. Oleh-oleh dari kegiatan di KL itu, Doel diamanahi oleh koordinator dari Indonesia yakni Ahmadun Yossi Herfanda untuk menjadi tim formatur acara serupa di Brunei tahun depan.

“Saya inginnya temu penyair ke-4 tahun depan di Aceh saja. Tapi sepertinya sudah diputuskan di Brunei Darussalam. Oya, mudah-mudahan nama acaranya bisa kembali seperti kesepakatan awal, yang pertama di Medan tahun 2007 itu Medan International Poetry Gathering, yang ke dua Kediri International Poetry Gathering,”  ujar Doel. Sebab menurutnya, acara itu tak hanya untuk lingkup Melayu saja namun global.

Lewat partisipasinya dalam pertemuan-pertemuan semacam itu, Doel mengungkapkan, sekurang-kurangnya ia mewakili komunitas seni di Aceh agar bisa menjalin komunikasi, saling tukar informasi dengan komunitas lain.

“Harapannya bisa berguna bagi Aceh. Sebagai orang yang dituakan, saya ingin membawa penulis-penulis di Aceh untuk ikut gabung dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan komunitas lain,” kata mantan wartawan yang tinggal di Jalan Geulumpang No. 6, Lamnyong, Banda Aceh ini.
Selain rajin memantau perkembangan seni sastra dan tetap menulis, Doel juga tetap merajut obsesi. Untuk tahun 2010, ia ingin Pemda NAD mengucurkan dana untuk penerbitan buku.
“Setelah musibah tsunami banyak buku diterbitkan, tapi dananya dari luar. Saya dan teman-teman sastrawan ingin Pemda Aceh punya dana untuk menerbitkan buku di tahun 2010. Jangan hanya FLP yang menerbitkan buku dengan cara patungan. Padahal Aceh ini kan terkenal sastranya sejak zaman dulu,” ungkap Doel.

Untuk mewujudkan itu, Doel dkk mengetuk hati pejabat dengan getol menyerukannya melalui opini di media massa.

“Gubernur juga sudah menjanjikan untuk tatap muka nanti sepulang dari ibadah haji,” imbuh Doel, yang menerobos aturan hidup sehat dengan mencuri-curi minum kopi serta menghisap rokok.

[Esthi/Foto: dok. Doel CP]

Lampiran movie tidak tersedia.

Posting Sebelumnya