Archive for the ‘CERPEN-CERPEN’ Category

NYALA : Cerpen WINA SW1

Posted: Juni 17, 2011 in CERPEN-CERPEN

(dipublikasi di Harian Serambi Indonesia pada tahun 1997)

Api merah menyala, membakar kayu yang tersusun dalam perapian. Nyalanya bergerak ke sana ke mari bagaikan liukan penari perut negeri seribu satu malam, panas menggelora, menghanguskan sepi dan dingin yang bertahta.

Salju masih berjatuhan di luar sana.

Aku membenamkan diri dalam bacaan yang sudah lama tak sempat kusentuh. Kesibukanku belakangan ini begitu menyita waktu sehingga bacaan-bacaan itu bertumpuk begitu saja di atas meja. Memang bukan kebiasaanku untuk membiarkan buku-buku baru bertumpuk tanpa dibaca. Tetapi apa boleh buat, tugas-tugas kuliah yang hars kuselesaikan cukup banyak. Aku juga harus belajar keras menghadapi ujian semester, dan bekerja sebagai pelayan setiap malam di sebuah restoran fast food untuk menambah uang saku.

Beasiswa yang kudapat dari pemerintah pas-pasan. Kalau tak melakukan kerja part-time, mana mungkin aku bisa menabung dan memenuhi hobiku membeli buku-buku seperti ini. Apalagi di negeri asing yang serba mahal ini.

Akhirnya, tanpa terasa semua bacaan tuntas kubaca.. Aku duduk diam dengan perasaan sedikit kecewa.Aku paling tidak suka jika buku yang kubaca mencapai halaman terakhir.

Rasa kecewa itu baru terobati setelah aku menemukan bacaan lain. Apalagi pada saat libur dan musim dingin seperti ini, aku punya banyak waktu luang dan malas keluar rumah. Hari masih pagi, tapi aku sudah kehabisan bahan bacaan. Kegiatanku belakangan ini benar-benar padat, sampai-sampai aku tak sempat mencari bacaan baru. Benar-benar merupakan suatu siksaan yang berat saat tak ada lagi yang dapat kubaca karena aku tak punya kegiatan lain untuk kulakukan.

Akhirnya, aku cuma duduk di muka jendela, melemparkan pandangan ke luar sambil mendengarkan alunan musik-musik klasik karya-karya master-master musik dunia. Bagian terakhir dari Vienna Blood milik Johan Strauss menyentuh telingaku saat mataku menangkap salju-salju berjatuhan memutihkan bumi. Sesekali kudengar angin memainkan derunya, menggerak-gerakkan dahan-dahan pohon yang sudah terbalut salju. Tidakkah pohon-pohon itu merasa kedinginan dan kesepian? Sanggupkah mereka bertahan? Atau barangkali kematian akan datang lebih cepat, mendahului musim semi, mengakhiri penderitaannya?

Entah mengapa, saat memikirkan nasib pohon-pohon itu, tiba-tiba aku teringat baris-baris puisi Emily Dickison, penyair wanita Amerika kelahiran Massachusetts yang selama hidupnya menulis hampir dua ribu puisi, tapi hanya delapan puisinya yang dipublikasikan.

Because I could not stop for death

              He kindly stopped me

              The carriage held but just ourselves

              And immortality

Bayang-bayang kematian tiba-tiba memenuhi benakku. Berapa lama lagi ia akan datang menjemputku? Dan bila aku mati nanti, adakah orang yang akan menangisiku? Ah, siapa pula yang akan merasa kehilangan kalau aku mati nanti. Aku toh bukan siapa-siapa dan tak punya siapa-siapa lagi. Semua orang yang kumiliki sudah pergi dan tak mungkin kujangkau lagi.

Aku tak menyesali kesendirianku, karena kesendirian membuatku memiliki lebih banyak waktu buat merenungi banyak hal. Kesendirian juga membuatku semakin kuat bertahan menghadapi berbagai cobaan dan tantangan. Namun tak dapat kupungkiri kalau kesendirian terkadang membuatku terpuruk dalam sepi yang panjang, mengurungku di sana dalam kegelisahan tak berujung.

Lama-lama, keadaan itu membuatku terpaksa membiasakan diri menghadapi sepi. Tak ada pilihan lain untuk bertahan, terlalu lama dikukung sepi membuatku terpaksa mengakrabinya, menikmatinya, dan terkadang saat aku terjebak di tengah keramaian, aku malah merindukan sepi itu datang menyapa.

Leonore Overture No 3 milik Beethoven baru saja berakhir. Kurasakan dingin menyentuhku. Kupandangi tungku perapian di hadapanku, masih ada bara yang menyisakan sedikit warna merahnya. Kalau kubiarkan saja, mungkin sebentar lagi akan langsung padam. Namun aku malas menambah lagi kayu-kayu untuk membesarkan nyalanya. Lagipula persediaan kayuku juga sudah semakin menipis.

Seandainya aku masih punya banyak kayu buat kutambahkan dalam perapian itu, aku yakin, panasnya pun takkan mampu mengusir dingin dan sepi yang selalu terasa saat aku tak tahu harus mengerjakan apa. Saat-saat seperti ini, rasa dingin dan sepi terasa begitu menyiksa, menusuk-nusuk bagaikan sembilu.

Kubuka lagi buku yang baru selesai kubaca tadi dan mulai membacanya kembali dari awal. Kadang-kadang ada bacaan yang tetap menarik biarpun dibaca berulangkali. Memang benar, sebentar saja, aku sudah larut kembali dalam bacaanku, seolah-olah buku itu baru pertama sekali kubaca.

“Kau menungguku, ya?” sebuah suara tiba-tiba mengejutkanku. Seorang lelaki berdiri di hadapanku. Aku tak tahu siapa dia. Tubuhnya tinggi atletis berbalut blue jeans dan sweater coklat muda, membuanya kelihatan gagah. Apalagi ditambah dengan tampangnya yang lumayan. Tampangnya itu, mengingatkanku pada seseorang. Aku tak tahu siapa, tapi rasa-rasanya wajah ini tak begitu asaing bagiku.

“Siapa kamu?” tanyaku setelah berhasil meredakan kekagetan.

“Barangkali kamu tak kenal aku, tapi aku kenal kamu,” katanya.

“Bagaimana kau bisa ada di sini?” tanyaku keheranan karena memang aku sama sekali tak mendengar pintu diketuk dan dibuka. Bukankah tadi semua pintu dan jendela sudah kukunci rapat-rapat? Atau mungkin ada pintu yang lupa kukunci?

“Kau lupa mengunci pintu itu,“ ujarnya seraya menunjuk pintu samping ruangan ini. “Karenanya aku bisa langsung masuk. Sebenarnya, sudah sejak tadi aku di sini memperhatikanmu. Kamu tak tahu karena terlalu larut dalam bacaanmu,” sambungnya sambil duduk di hadapanku.

Bau Ciel Blanc menyentuh hidungku. Baunya terlalu keras membuatku tak suka. Barangkali sebelum datang ke rumahku, dia telah menyemprotkan hampir seluruh botol parfumnya.

“Kenapa kaubiarkan tungkumu tanpa nyala?” tanyanya sambil menunjuk pada perapian.

“Apa pedulimu?”

“Aku peduli. Jadi izinkan aku menyalakannya.”

“Tidak perlu,” jawabku ketus.

“Tapi kayu-kayu dalam tungkumu sudah hampir habis terbakar. Sebentar lagi ia akan kehilangan nyalanya. Kamu akan kedinginan.”

“Itu bukan urusanmu.”

“Apa artinya sebuah tungku tanpa nyala?” desaknya lagi.

“Biarkan saja. Walaupun tidak selalu nyala, semua orang tahu kalau tungku itu lambing kehangatan.”

“Ah, kau terlalu banyak membaca puisi.”

Aku diam saja, melanjutkan bacaanku, mencoba tak memperdulikan kehadirannya. Aku tak tahu harus bagaimana, mencegahnya atau membiarkan saja dia menyalakan tungku buatku. Terus terang, aku suka melihat tungku itu terus menyala, karena aku suka memandangi gerakan api yang begitu lembut dan merasakan kehangatan yang ditimbulkannya, tapi aku tak suka orang asing melakukannya.

Caranya menyalakan tungku mengingatkanku pada lelakiku yang biasanya selalu menyiapkan kayu untuk perapian itu. Musim dingin seperti ini, biasanya dia sudah siap dengan tumpukan kayu bakar buat memenuhi tungku itu. Dia selalu menjaga agar tungku itu tak kehilangan nyalanya. Aku suka sekali memperhatikan caranya menyusun kayu-kayu sambil menyalakan api. Kadang-kadang, saat api hampir padam, dia menyentuh bara dengan tongkat besi dan mengipas-ngipaskannya.

“Aku akan selalu menjaga agar perapian ini selalu menyala,” begitu janjinya dulu dan aku percaya. Dia selalu menepati janjinya, dia selalu siap saat kami membutuhkan perapian ini. Sampai suatu hari…

“Kumohon, izinkan aku menyalakannya, agar dingin tak lagi menyentuhmu,” begitu suara lelaki itu memutuskan lamunanku.

“Apa pedulimu, kalaupun dingin menyentuhku?”

“Tentu saja aku peduli. Aku…” dia tak melanjutkan ucapannya, hanya menatapku dalam-dalam. “Aku mungkin tak bisa mencegah dingin menyentuhmu, tapi aku tak ingin dingin sampai membekukan hatimu. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah membagikan kehangatan dengan membiarkan tungku ini tetap nyala,” jelasnya sambil menatapku lembut.

“Kau seperti penyair saja.”

“Aku belajar darimu,” katanya sambil menyentuh bara-bara dalam tungku yang nyaris padam. Mengipas-ngipas sampai api kembali menyala di sana.

“Siapa kamu?” aku kembali mengulangi pertanyaanku.

Lalu dari mulutnya mengalirlah serangkaian kalimat penjelasan. Dia bercerita tentang dirinya dan tentang apa saja yang ingin kuketahui tentangnya. Suara dan ceritanya membuatku nyaris terlena. Semakin lama aku mendengar ceritanya, semakin aku yakin bahwa wajahnya tak begitu asing buatku. Rasanya aku pernah melihatnya, sayangnya, aku tak tahu kapan dan di mana. Anehnya lagi, semakin aku tahu banyak tentang dia, semakin aku merasa asing dengannya.

“Kau melamun? Apa yang kaulamunkan?”

“Tidak, aku hanya sedang berpikir tentangmu,” kataku.

“Aku tidak heran Itu hal yang wajar,” katanya penuh percaya diri.

Dia tersenyum. Senyumannya itu, kupikir, mampu memabukkan wanita mana saja.

“Aku heran, mengapa kau tiba-tiba muncul di sini. Tentu kamu punya alasan yang kuat menerobos cuaca sedingin ini. Aku tak percaya kalau kau mau melakukan itu hanya sekedar untuk menyalakan tungku ini.”

Dia terdiam sejenank, “Terus terang, aku ingin menemanimu dan membuat tungkumu terus menyala.”

“Mengapa kamu harus repot-repot memikirkanku? Aku sedang tak butuh teman dan kalaupun aku butuh, itu bukan kamu. Kupikir, tungku ini bukan tanggung jawabmu.

Dia tak peduli atas ucapanku. “Kalau kau tak punya lagi kayu bakar kamu bisa minta padaku, aku masih punya banyak persediaan.

Sebelum aku sempat berkomentar, lelaki itu telah keluar ruangan dan tak lama muncul kembali dengan setumpuk kayu bakar.

“Kamu mau apa sebenarnya?” tanyaku.

“Menambah kayu perapian ini biar kamu tidak kedinginan,” katanya sambil menambah kayu dalam perapian.

“Siapa yang menyuruhmu menyalakannya?”

“Tak ada yang menyuruhku. Aku suka melakukannya, aku tak ingin kamu kedinginan.”

“Apa pedulimu, aku kepanasan atau kedinginan.”

“Tentu saja aku peduli. Aku tak mau kamu mati kedinginan. Lagipula, apa salahnya?”

“Tak ada yang salah, hanya aku tak suka. Itu saja,”

“Aku tak punya maksud apa-apa. Aku hanya ingin perapian ini tetap menyala, jadi ruanganmu ini tetap hangat dan kamu tidak kedinginan.”

“Aku tidak tanya apa maksudmu. Aku cuma mau kamu membiarkan tungku itu tetap begitu,” balasku tak mau kalah. “Terimakasih atas kebaikanmu. Sekarang, tinggalkan aku.”

“Aku…”

“Kuhargai maksud baikmu, tapi aku tak ingin kamu melakukannya.”

“Nona, aku tak mungkin memaksamu. Walaupun kamu tak mengakui, aku tahu pasti, kalau kamu sebenarnya membutuhkanku.” Berkata demikian, matanya menghujam ke arahku dan aku mencoba menghindar. “Aku pikir, orang lain yang melihatmu, tak ingin membiarkan dirimu larut dalam dingin dan sepi. Sebaiknya, buanglah keangkuhanmu itu.”

Melihatku diam saja, dia melanjutkan,” Izinkan aku memasuki hatimu dan membiarkan ia selalu menyala. Kamu toh tak mungkin mengharapkan kekasihmu kembali lagi buat menyalakannya.

Ya, lelakiku memang tak mungkin kembali. Badai telah menghempasnya entah ke mana saat dia mengumpulkan kayu buat perapian ini. Kadang-kadang aku berharap dia muncul kembali di hadapanku dengan setumpuk kayu di tangannya. Seandainya, tak ada kayu yang dibawanya, aku pun akan selalu membiarkan pintu terbuka buatnya.

“Biarkan aku mengobati lukamu,” suara lelaki itu kembali menyadarkanku.

Aku tiba-tiba ingat, di mana aku pernah melihatnya. Bergegas kuhampiri jendela dan memandang ke rumah terdekat. Aku ingat, lelaki ini adalah tetanggaku. Aku sering melihatnya menyalakan perapian di rumah itu, sementara seorang perempuan duduk memandanginya. Kali ini, perapian di sana seperti tak menyala. Perempuan itu pun tak duduk di kursi goyang seperti biasanya. Dia kelihatan berjalan ke sana kemari dan kelihatan gelisah.

“Aku ucapkan terimakasih atas perhatianmu,” kataku mantap. “Kalau kamu memang punya persediaan kayu yang banyak, tak perlu kauberikan buatku. Aku tak membutuhkannya dan aku pun masih sanggup bertahan. Aku sudah terbiasa dengan keadaan ini.

Dia mencoba membantah, tapi tak kubiarkan. “Lebih baik kamu pulang ke rumahmu. Perempuan itu membutuhkanmu, tungkunya hampir padam. Bukankah seharusnya kamu ada untuk menjaga tungkunya agar tetap nyala?” sindirku.

“Kalau setelah itu, kamu masih punya banyak sisa kayu bakar, bagikan saja pada perempuan-perempuanmu yang lain. Jangan buatku.”

“Aku tidak punya perempuan lain.”

“Aku tak perlu alasanmu. Lebih baik aku bertahan seperti ini daripada menjadi salah satu perempuanmu. Sekarang, sebaiknya tinggalkan aku dan bawa kembali semua kayu bakarmu, sebelum aku melemparkanmu bersama kayu-kayumu itu ke dalam perapianku.” Kataku tegas.

Diapun bergegas meninggalkanku. Sebelumnya, masih sempat dilemparkan pandangan memohon. Tetapi pendirianku tetap tidak berubah. Segera kukunci semua pintu rapat-rapat biar tak ada lagi lelaki lain yang mencoba masuk.

Pelan-pelan kusibak tirai jendela. Dari jauh bisa kulihat tungku mereka menyala, apinya meliuk-liuk ke sana ke mari. Perempuan itu duduk memandangi perapian, sementara lelaki itu berdiri sambil memegang bahunya. Aku kaget, karena lelaki itu sedang memandang ke arahku. Segera kutarik tirai rapat-rapat, menjauh dari sana.

Aku menatap ke arah tungkuku yang hampir kehilangan nyalanya. Seandainya saja selalu ada nyala yang berkobar di sana… Ah, harusnya kubiarkan saja dia menyalakannya. Namun setelah itu, apakah aku tega dan bisa tenang menikmati kehangatan yang dipancarkan nyala tungku ini, sementara orang lain kehilangan nyalanya? Berapa banyak perapian lain yang akan kehilangan nyalanya bila aku membiarkan lelaki itu menyalakan tungku ini?

Pelan-pelan aku melangkah dalam tungku itu dan menghanguskan diri di sana. Setelah ini, tak ada orang yang merasa perlu menyalakan tungku ini lagi dan akupun tak perlu menunggu sampai ia kehilangan nyalanya.

(Beurawe, September 1996)

Iklan

Serambi Indonesia / Sun, Nov 14th 2010, 09:08

 

“Kau ingat tentang Sukab yang menggunting senja untuk Alina?” Gadis berkuncir melengkung senyum, bergoyang ketika dia mengangguk. Melintas dalam kepalanya potongan cerita dari Seno Gumira, perihal Sukab yang memotong senja untuk kekasihnya, Alina. Dia ingat betul bagaimana Sukab berjuang melarikan diri dari incaran polisi kota. Hingga dia menemukan senja rahasia di gorong-gorong dan mencurinya demi menutup senja yang hilang di langit kota.

“Sukab kekasih yang baik. Tidak semua kekasih paham bahwa senja bisa jadi hadiah.”

Pria bertopi sumringah. Diacaknya ubun-ubun gadis. Hatinya senang bukan kepalang. Tak sia-sia dia belikan gadis berkuncir ini buku cerita. Ingatannya kuat. Diam-diam, pria bertopi berencana membeli lebih banyak lagi buku.

Sejenak, keduanya sama terdiam. Meski pikiran sedang berbeda haluan, mata mereka sama menatap batas langit. Tersihir cakrawala ketika matahari separuh bersiap masuk ke dalam laut.

“Lihat itu!” Gadis berkuncir menunjuk horison. Telunjuknya menggiring lirik pria bertopi. di sana, sepotong perahu layar melintas hati-hati. Bentuknya wujud dalam siluet. Di belakangnya, matahari separuh yang bikin langit kobar jadi penari latar.

Gemuruh pun jelma di dada pria bertopi. Semakin menjadi-jadi kala angin dan debar ombak menggelegak. Dirasakannya pasir basah. Udara sekeliling lembab beraroma asin pantai. Sedang di langit, sekawanan burung mengepak sayap menyerang awan. Semua itu menyulap senja menjadi purna. Tak seorang pun sanggup menjamin, kesempurnaan serupa akan datang esok lusa. Tidak juga oleh pujangga atau tukang foto ternama. Senja begini tidak akan bisa abadi. Kata dan gambar adalah alat rekam konyol yang mulai gemar menjalani operasi plastik, pikir pria bertopi.

“Inilah kenapa Sukab sampai menggunting senja.” Gadis Berkuncir tercekat. Mukanya pucat. Sepotong gunting yang siaga di tangan pria bertopi berhasil merebut tatapannya dari langit keemasan. Sekonyong ia sadar. Senyum lengkung pun jadi datar.

“Tidak. Jangan lakukan. Kau jangan jadi Sukab. Kekasihmu di kampung itu bukan Alina. Dia takkan jadi Alina!”

Berkodi kata gantung di udara. Pria bertopi bermaksud memungutnya satu-satu. Sedang ia coba susun, rangkaiannya pecah berhambur ketika gadis bertutur, “Kau ingat? Senja kiriman Sukab telah menyedot tukang pos ke dalam amplop hingga dia menikahi ikan. Senja sampai ke tangan Alina. Tapi apa yang terjadi? Air laut di potongan senja tumpah. Matahari senja meloncat menabrak matahari bumi. Dan itu tidak boleh terjadi!”

Pria bertopi terkekeh. “Kau jangan khawatir. Cinta tidak membuatku lalai seperti Sukab. Aku akan menaruh senja dalam kotak kaca. Kekasihku di kampung akan tetap selamat setelah senja dia terima. Tidak ada tukang pos yang akan tersedot kali ini karena aku yang akan mengantarnya sendiri.”

Resah kian meraja. Gadis berkuncir berpikir keras bagaimana harus menceritakan riwayat negeri senja kala. Bahwa selama Hakim Adil belum kembali, pencurian yang satu akan selalu melahirkan pencurian baru. Tidakkah pria bertopi di sebelahnya tahu? Padahal dia telah membaca begitu banyak buku.

Sementara gadis meredam gundah, Pria bertopi bangkit untuk mengira-ngira sudut potong yang paling sesuai. Dia ingin burung itu, langit perak itu, debur ombak yang menghantam karang itu, pasir basah itu, angin lembab itu, batas langit itu, siluet perahu, batang kelapa, juga matahari. Dia ingin semuanya.

Baru saja ia memapah tanggannya untuk memotong, dari arah belakang muncul lelaki pendatang dengan silet tertajam di tangannya. Tanpa kira-kira ia menyilet senja dari tempatnya. Gadis kuncir terseret ke dalamnya.

Pria bertopi tersentak. Ancangan sudut yang hendak ia potong sekarang bolong. Nafasnya memburu. Dia dikepung marah yang sungguh merah. Ia mengejar lelaki pendatang lalu menghajarnya sampai jemu.

Senja siletan menghambur. Gadis kuncir tergelincir. Burung-burung terbang kucar-kacir. Sabar pria muda sampai di titik nadir. Sebelum menusuk lelaki pendatang dengan gunting, pria bertopi menggeram, “Kenapa kau menyilet senja?!”

Dari bibir penuh luka, lelaki pendatang berkata, “Untuk kutempel di langit bolong gorong-gorong. Karena Sukab telah mencurinya demi mengganti senja yang dia potong untuk Alina.”

Lambaro Skep, Oktober 2010


* RIZA RAHMI; ketua umum Forum Lingkar Pena Aceh. Turut menulis dalam Antologi I Love You Friends, LPPH 2010.

 

 

Serambi Indonesia / Sun, Nov 7th 2010, 08:51

 

DIA berdiri tegap di sudut tangga itu. Tertegun. Matanya sibuk melihat laju keras hujan yang jatuh dari langit. Gelisah seketika. Saat  kucoba mendekat—seolah dia tak mengetahui sedari tadi aku mengamatinya. Ia hanya bisa diam. Kembali dia melihat langit. Mendung pun tak tampak makin gelap mengikuti malam. Hujan semakin deras dan tak memperlihatkan tanda-tanda akan berhenti. Sesekali kilat menghujam. Gemuruh petir menyambar. Menggelegar.

Kemal, nama lelaki itu. Pemuda alim, dan sudah lama dia menjadi muazim di surau ini. Saat azan dikumandangkan olehnya, orang-orang kampung dengan segera menuju surau. Suara azannya begitu merdu dan indah. Dia pemuda yang cerdas. Tapi, dia tidak banyak bicara. Pendiam dan suka sekali dengan hal-hal yang bersifat kepemudaan. Iya, dia seorang yang nasionalis. Paling tidak, begitu kata Thalib untuknya.

Pagi itu, Thalib dan Kemal terlibat diskusi yang hangat sekali. Sebenarnya, tepatnya, kami bertiga. Tapi, aku tidak begitu suka bicarakan masalah politik. Tapi, mereka berdua kelihatan begitu bersemangat. Di mulai dari satu tema yang dipungut oleh Thalib dari Koran hari ini. tentang demo sekumpulan mahasiswa di kantor gubernur. Kata Thalib, demo itu diusung oleh sekaum yang tak suka dengan kepemimpinan kepala daerah ini. Lalu Kemal menimpalinya dengan bantahan yang bagus yakni tentang sebuah gerakan yang lahir memang dari keinginan kaum yang lemah. Aku hanya tertawa-tertawa saja.

Thalib yang merasa dikucilkan oleh tawaku merasa tak mau kalah. Dia lalu mengatakan bahwa demo itu bukan budaya orang Aceh. “Tak ada kata demonstrasi dalam kebiasaan masyarakat kita. Itu hanya cara negara orang. Itu produk yang dilahirkan oleh perang yang jahat.” Begitu kerap ucap Thalib dengan bangga. Maka perdebatan kembali manjadi menyenangkan. Si Kemal ternyata cukup tenang menjawab hal itu. Malah dia tidak bertanya masalah demo lagi. Kemal menyerang Thalib dengan pertanyaan yang mudah sekali. “Apa itu budaya dan apa itu kebudayaan, kawan?”

Thalib seketika. Dia mengilah. Bahwa hal-hal seperti yang dilakukan sekumpulan mahasiswa itu bukanlah pekerjaan yang lahir dari keinginan mereka sendiri. Perang memang telah membentuk sekumpulan orang yang bengal dan suka berontak. Tapi, kadang berontak lewat menulis puisi, novel atau essai pasti akan lebih etis. Setidaknya begitu kilah Thalib kemudian untuk berusaha membuat dirinya seolah menjawab pertanyaan singkat Kemal.

Thalib yang tak mau kalah itu balik bertanya ke Kemal. “Kau nasionalis bukan? kenapa garuda berpaling ke kanan? Mengapa dia lihat rakyatnya dengan mata sebelah? Bila kau berhasil menjawab itu, aku akan melakukan apa saja yang kau inginkan.” Sambil tertawa Thalib lalu pergi meninggalkan aku dengan Kemal.

Kemal  menaruh beban pikiran. Apalagi, sebelum Thalib pergi mereka juga sempat bercerita perkara bencana yang selama ini terjadi di nusantara. Semenjak kepala negara yang baru dilantik, mulai dari beberapa tahun silam, selalu bencana yang terjadi di negara ini. Yang terjadi pada nusantara akhir-akhir inilah yang kemudian membuat Kemal terus berpikir kalau mata sebelah yang diperlihatkan si garuda itu adalah bentuk pesimisnya. Tapi, entahlah. Kemal yang nasionalis ingin terus berpikir. Dia sangat mencintai negaranya yang indah dan megah ini. Dia bangga bisa lahir di negara seperti ini. Setidaknya itu yang dia pikirkan kala itu.

Kemal termangu. Dia benar-banar tidak paham dan tidak tahu harus membarikan jawaban seperti apa untuk Thalib. Memang benar adanya, Garuda sudah berpaling ke kanan. Dia memang melihat dengan sebelah mata. Tak ada yang berlebihan dengan itu, bukan?

* Akmal M. Roem lahir di Aceh Besar. Saat ini tercatat sebagai murid Sekolah Menulis Dokarim.

 

 

Harian Aceh / 27 October, 2008

Pagi yang cerah, hati yang berbunga-bunga. Tertunai sudah niat yang selama ini tertanam dalam hati. Niat yang sesungguhnya sudah bertunas sejak bertahun-tabun lalu. Ibarat gayung bersambut, tanpa harus aku tawarkan, anak sulungku, menyatakan sendiri keinginannya untuk menuntut ilmu agama di pesantren. Tak tanggung-tanggung, ia minta sendiri untuk diantar ke sebuah pesantren terkenal, tepatnya Mudi Mesra Samalanga.

Begitulah, tanpa menunggu ijazah sekolah dasarnya keluar, aku langsung mengurus segala keperluan untuk syarat masuk pesantren terkenal itu. Dengan bekal surat keterangan lulus dan surat keterangan berkelakuan baik dari kepala sekolah, berangkatlah kami diiringi sedu sedan ibu dan neneknya. Tapi aku sendiri heran, walau ibu dan neneknya memeluknya dengan isak tangis dan tetesan air mata, tidak sedikit pun bias sendu kulihat di wajahnya ketika meninggalkan halaman rumah di mana ia dilahirkan dan dibesarkan selama ini. Begitu juga ketika sore menjelang senja kami tiba di kompleks pesantren yang megah itu, tak kulihat gurat sedih diwajahnya. Malah, sebaliknya, ia begitu gembira ketika bertemu dengan ternan-ternan sepermainannya yang sudah duluan nyantri di sana. Hingga tiba waktunya aku pulang, ia tetap tegar. Tak ada rona sedih di wajahnya. Sebaliknya, aku jadi malu sendiri dalam hati; bagaimanapun aku merasa sedih berpisah dengan anak sulungku yang baru genap dua belas tanun. Tibalah aku pada pagi yang cerah dan berbunga-bunga. Alhamdulillah, aku telah sampai kembali di rumah, di mana istri dan keempat anakku yang lain kutinggalkan sementara waktu.

***

Lamuanku buyar. Di depanku telah berdiri seorang gadis cilik sepuluh tahun. Pakaiannya baju kurung terusan dengan rok hingga mata kaki. Warna baju dan rok yang coklat muda sangat sepadan dengan jilbabnya yang berwarna merah bata.

“Waalaikumsalam ….”

Ia sungkem mencium pnggung tangan dan telapak tanganku. Sejenak kugenggam erat tangannya, tangan anakku yang mulai menanjak remaja. Kulihat jemari tangannya; halus, lentik, dan runcing. “Ayah baru nyampek? Capek ya?”

Ditatapnya aku lekat-lekat. Aku tersenyum. Aku juga menatapnya lekat-Iekat. Tiba-tiba aku seperti melihat sesuatu di wajah dan di sinar matanya. Ya Allah, ingatanku seperti meluncur secepat cahaya kilat ke masa lalu. Tepatnya enam belas tahun yang lalu; tahun 1992. Waktu itu aku baru saja beberapa bulan menyelesaikan studiku dan meraih sarjana keguruan dari sebuah universitas di Banda Aceh. Sebagai seorang anak kampung tulen, tentu saja orangtuaku sangat bahagia anaknya menjadi sarjana. ltulah sebabnya ayahku memesanku supaya segera pulang usai wisuda awal Februari 1992. Dalam surat singkatnya, ayah mengatakan bahwa aku harus segera dipeusijuek agar ilmu yang kuperoleh mendapat berkah dari Allah subhanahuwata’ala.

Ayah sendiri yang memilih tempat aku akan dipeusijuek, yaitu di rumah abang sulungku, di komplek pesantren yang ia pimpin. Abang sulungku memang seorang Teungku alumni Mudi Mesra Samalanga dan telah berhasil membina sebuah pesantren dengan ratusan santri dan santriwatinya. Malah sudah banyak santri hasil binaannya yang sudah menjadi orang berguna pula. Ada yang telah mendirikan pesantren, ada yang menjadi birokrat, imum syik, bahkan ada yang menjadi dosen. Kami beradik-kakak ada lima, yang tua ya abangku itu; seorang teungku sekaligus ulama yang disegani. Yang kedua juga laki­-laki, seorang petani. Selanjutnya yang ketiga perempuan, tinggal di Banda Aceh ikut suami, di mana aku tinggal hingga menyelesaikan kuliahku. Yang keempat juga laki-laki, pekerjaannya jual-beli sarang burung walet. Semuaaya sudah berkeluarga. Dan yang bungsu adalah aku. Aku sendiri sebetulnya tak pemah bermimpi menjadi sarjana. Masa kecil, saat aku menyelesaikan esdeku, sesungguhnya aku juga ingin nyantri, menjadi teungku. Tapi kemudian jalan hidupku menjadi lain, saat suatu ketika kakakku dan suaminya pulang ke kampung. Aku yang waktu itu baru menyelesaikan esempe dan mondok di sebuah pesantren, diboyongnya ke Banda Aceh. Sejak itulah duniaku menjadi lain; betul-betul menempuh jalan dunia semata. Apalagi ketika aku berstatus mahasiswa. Hari-hariku, di samping sibuk dengan kegiatan kuliah, juga gandrung jadi aktivis kampus. Meskipun rasa kangenku kepada dunia pesantren terkadang sering meresap ke dalam lubuk hatifu. Makanya ketika ayah memesanku pulang, aku sangat senang.

Di benakku terbayang suasana yang sangat menyenangkan; lingkungan pesantren. Lingkungan yang tak pemah sepi dari zikir, takbir, dan tahmid. Tak siang, tak malam, dan tak kenal ruang dan waktu. Suasana yang senantiasa dihiasi ridha Ilahi Rabbi. Malamnya, aku benar-benar merasa bahagia ketika disuruh duduk di atas sebuah kasur yang telah diberi sarung warna kuning keemasan. Aku sendiri memakai kemeja panjang putih bergaris-garis hitam dengan peci hitam yang bermotifkan garis melengkung keperakan. Di atas kedua pahaku yang duduk bersimpuh dihamparkan kain panjang yang masih baru, tempat menampung breih padee yang akan ditaburkan dari atas kepala hingga ke seluruh tubuh. Di kiri-kananku duduk tamu-tamu yang khusus diundang untuk acara malam itu.

Menjelang acara yang dianggap sakral itu, seorang santri putri masuk membawakan sebuah talam yang berisi bahan-bahan untuk acara peusijuek. Talam yang berisi breuh-pade yang diberi warna kuning dicampur dengan beurueteh, gelas yang berisi air bedak dan dipenuhi oleh naleung sambo dan daun palang rusa, serta satu piring besar bue leukat yang sudah dihiasi demikian rupa, di letakkan persis di hadapanku. Mula-mula aku melihat talam dan isinya yang diletakkan di hadapanku itu. Tapi, tanpa sengaja mataku ikut melihat dua pasang jemari tangan yang menggemgam talam itu. Masya Allah, sejenak aku terkesima pada jemari yang menggenggam talam di depanku. Jari-jari itu begitu halus; lentik, dan runcing. Serta-merta dengan gerak reflek mataku mengarah pada wajah yang punya jari-jemari itu. Hanya sekilas aku menyaksikan wajah dengan dua butir mata yang bening. Hatiku bergemuruh. Ketika santri itu berdiri dan berlalu dari hadapanku, tiba-tiba aku seperti merasakan kesejukan yang begitu syahdu.

Acara peusunteng yang semula sangat kutunggu-tunggu berjalan dan berakhir seperti tanpa kusadari. Pikiranku seperti terpasung pada wajah gadis yang memiliki dua butir mata yang bening itu. Berhari-hari, herminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan aku tidak tapat menghapusnya dari ingatanku. Anehnya, aku tak pemah tahu siapa nama santri yang bertangan halus dan bermata bening itu. Tiga tahun kemudian barn aku hetul-hetul dapat melupakannya. Itu pun ketika aku telah mempersunting salah seorang santri, murid abangku. Tentu atas restu abangku. Ayah-ibuku hanya ikut mengiyakan saja.

***

“Kenapa, Yah? Ayah bersedih karena abang sudahjauh? Ibujuga semalam menangis memikirkan abang. Tapi Wanyak bilang kita tidak boleh sedih memikirkan orang yang menuntut ilmu agama. Karena orang yang menuntut ilmu agama itu dipelihara oleh Allah. Betulkan, Yah?” Kata-kata yang mengalir dari bibir mungil anakku membuat aku sadar dari lamunanku.

“Em •• ya.. ya betul. Ayah bukan bersedih memikirkan abang, tapi ayah sedikit lelah dan capek,” jawabku terbata

“Ibu di mana?”

“Ibu di dapur. Oya, Ayah pasti belum sarapan pagi. Sebentar, Rahma siapkan sarapan pagi untuk Ayah,” kata anakku yang kuberi nama Siti Rahmatillah Maulida, anak perempuan rahmat Allah yang lahir di bulan Maulid. Dia pun berlalu. “Panggilkan ibu kemari ya, Nak.”

Anakku tidak menyalut. Tapi sebentar kemudian kudengar dia memanggil-manggil ibunya mengatakan aku sudah pulang. Sejenak aku merenung. Seperti mimpi, kini aku sudah paruh baya. Usiaku sudah empat puluh tiga. Tiba-tiba aku ingat sesuatu. Kuperhatikan kalender yang tergantung di dinding. Kulihat dua tanggal yang melingkar di bulan Juli; tanggal satu dan sepuluh. Astarhafirullahal‘azim. Aku baru ingat, tanggal satu adalah ulang tahun istriku, sedangkan, tanggal sepuluh adalah ulang tahunku. Dan bukankah hari ini tanggal sepuluh? Padahal aku sendiri yang membuat tanda lingkaran pada kedua tanggal itu.

Memang, aku dan istriku sarna-sama lahir di bulan Juli. Tapi usia kami jauh bertaut. Aku lebih tua delapan tahun dari istriku. Ketika kami menikah -juga di bulan Juli- umurku genap tiga puluh tahun, sedangkan istriku barn dua puluh dua tahoo. Waktu itu–menurut pengakuannya–dia baru saja memulai pengajian kitab Mahli jilid 3. Kitab yang sangat didambakannya untuk khatam, katanya padaku suatu waktu. Tapi, ketika aku tanya apakah dia menyesal tidak sempat mengkhatam kitab Mahli karena keburu menikah denganku, dia menggeleng. Menikah adalah wajib apabila sudah sampai waktunya, jawabnya.

“Abang sudah pulang? Bagaimana anak kita waktu Abang tinggalkan, apakah dia bersedih?” tiba-tiba istriku muncul di hadapanku. Ia menyalami dan mencium tanganku. Ah, sejak kami menikah sarnpai hari ini istriku tidak pemah berubah. Kalau menyalamiku, dia tidak sungkan-sungkan mencium tanganku. Lebih-Iebih di hari lebaran, sudah kebiasaannya, pagi-pagi sebelum shalat, anak­anak diajaknya sungkem sarnbil mencium kedua lututku. Suatu kebahagiaan yang sulit kulukiskan dengan kata-kata. Tanganku terasa dingan, beberapa tetes air matanya melekat di telapak tanganku.

“Sudahlah, serahkan saja kepada Allah. Dia yang akan menjaga anak kita dunia dan akhirat.” Kutatap istriku lekat-Iekat. Wajah perempuan salaf yang telah memberiku lima keturunan -Insya Allah- itu sudah jauh beda dengan wajahnya ketika aku menyuntingnya dulu. DuIu tubuhnya langsing persis anakku yang beranjak remaja itu. Wajahnya bersih. Kini di sana sini sudah muIai kelihatan bercak-bercak hitam, apalagi istriku paling alergi menata wajahnya dengan berbagai bahan kecantikan. Hanya satu yang belum ketemukan pembahan; yakni pada sinar matanya yang…

“Abang juga bersedih!” sergah istriku. “Laki-laki memang pandai menyembunyikan kesedihan.”

“Tidak. Abang tidak bersedih,” lamunanku membuyar. “Abang cuma…”

“Cuma apa, ayo terus terang aja,” desaknya. Wajahnya kulihat sedikit tersenyum.

“Jika Abang katakan, apa kamu tidak emburu?” Aku sulit mencari kata-kata yang tepat untuk memulainya.

“Memangnya Abang mau kawin lagi, maka aku harus cemburu?”

“Bukan, bukan masaIah kawin,” aku sedikit cemberut. “Tapi ini serius.” Lalu aku ceritakan pengalaman yang aku alami enam belas tahun lalu itu tanpa menambahi dan menguranginya. Istriku mendengarnya dengan serius. Kadang-kadang ia menunduk. Aku sudah siap dengan segala konsekwensinya. Bukankah berterus terang itu lebih baik daripada menyimpan sesuatu lalu menimbuIkan kecurigaan?

“Mengapa baru sekarang Abang tanyakan?” Istriku balik bertanya ketika kutanyakan apakah dia mengenal gadis santri yang pernah mengangkat talam ketika aku dipeusijuek ‘tempo dulu’ itu.

“MasaIahnya ….”

“MasaIahnya apa Bang?”

Ia menatapku lamat-lamat. Wajahnya menyunggingkan senyum serius. Tidak sedikit pun ada rona cemburu. Aku jadi linglung. Tapi dengan wibawa seorang suami dan ayah lima orang anak yang jujur aku cepat-cepat berterus terang. “MasaIahnya tadi, ketika anak kita si Rahma menyalamiku, aku melihat jemari tangan dan sinar matanya persis dengan jemari dan sinar mata gadis santri yang membawa talam itu.”

Di luar dugaan; istriku tertawa renyah sekali. Jarang sekali ketemukan ia tertawa seperti itu, kecuali kalau ia benar-benar merasa senang. Aku malah yang tercengang. Aku jadi was-was, jangan­jangan aku… Tapi belum sempat aku berpikir macam-macam, istriku cepat-cepat berucap.

“Ya, tentu saja mirip. Lha yang membawa talam itu ibunya, kok!”

Aku terperangah. Istriku cepat-cepat bangun, beranjak ke dapur membiarkan aku semakin linglung sendirian. Lamat-lamat kudengar ia bertanya kepada anakku, apakah sarapan pagi untukku sudah siap.

***

Bakongan – Kotafajar, JuIi 2008

(Kado ulang tabun bagi istriku: Sri Helma Rizqi)

Serambi Indonesia / 28 Maret 2010, 09:24

“APA masih ada yang lain di luar? Kalau tidak ada lagi, saya mau mohon izin….”desah AA pada pukul 20.20 WIB malam Jum’at, 25 Maret 2010 di ruang rawat Geurutee Kamar 14 Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh. Malam menegang, seketika meremang! Hanya sekejap, sebab sekejap kemudian remang itu kembali meruapkan serbaneka bau obat, mengerubungi delapan penjuru ruang dan lorong-lorong pengap rumah sakit. Aku, Ampon Yan, Ateng Arifin Tambunan, Nurmaida Atmaja, istriku dan istri Ateng sama-sama tercekat dan terkesiap. Kami terperangah-perangah dan saling pandang-memandang satu sama lainnya. Desahan AA sungguh amat memasgulkan bezuk kami malam itu.

Ketika pamit pulang, hati dan pikiranku kacau bercabang-cabang. Raut rupa AA yang pucat, tatap mata meredup, desah suara serak terengah, dan gapai tangan yang lunglai telah menyurukkanku terpelanting pada sudut kenang-kenangan yang berpuluh-puluh tahun terlewatkan bersamamu, AA! Aduh, kenangan itu menyentil dan melambungkanku pada masa di kala muda usia kita, ketika asyik masyuk merangkai-rangkai kata jadikan syair, lalu tebarkan di Mimbar Swadaya, Atjeh Post dan Mingguan Peristiwa. Lalu malam-malam kita berlalu sambil mencungkil-cungkil bait puisi demi puisi di frekwensi Radio Expo 70. Ada Fikar W. Eda dan Wiratmadinata ketika itu. Sesekali ada juga almarhum Maskirby, almarhum Hasyim KS, Hasbi Burman dan Doel CP Allisah mengulas sastra seni budaya pemanis hidup biar tak gerah, biar tak kaku. Beberapa kali di rentang tahun-tahun itu kita pernah juga bermain-main sandiwara aneka sandiwara di gedung sandiwara yang ada di taman budaya sandiwara kota kita. Ah, sandiwara-sandiwara itu…

Begitu lekat dan tak lekang-lekang kenangan itu, padahal itu telah 23 tahun berlalu. Begitu dekat, begitu lekat, hingga aku tak pupus habis dirundung haru saat mengulur-ulur sisa malam Jum’at itu, ketika dalam seketika menyeruak kembali raut rupamu yang pucat, tatap matamu meredup, desah suaramu serak terengah, dan gapai tanganmu yang lunglai, wahai AA…

***

Pukul 20.38 WIB malam Sabtu, 26 Maret 2010 sebuah SMS masuk ke ponselku yang dikirimkan oleh Zulfikar Sawang. Isinya : AA kritis di RSUZA (Geurutee Kmr 14).  Zulfikar Sawang sedang di Jakarta, ia mendapatkan kabar itu dari J. Kamal Farza yang ketika itu sedang membesuk. Wahai, AA… kembali berpendar-pendar di pelupuk mataku raut rupamu yang pucat, tatap matamu meredup, desah suaramu serak terengah, dan gapai tanganmu yang lunglai….

***

Dua SMS masuk ke ponselku pada pukul 08.01 dan 08.33 WIB pagi Sabtu, 27 Maret 2010. SMS pertama dari Zoel Lidan dan satunya lagi dari Sulaiman Tripa. Isinya : Innalillahi wa innailaihi rajiun.…telah berpulang ke rahmatullah Asnawi (AA Manggeng) tadi pagi Sabtu jam 01.30 di RSU Zainoel Abidin Banda Aceh.

AA, telah sampai waktumu. Entah kapan tiba waktuku…. Matahari pagi ini merangkak sendu sekali. “Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku” (QS. Al-Fajr [89]:27-30.

Gue Gajah – Aceh Besar, 27 Maret 2010

DENTUMAN : Cerpen MASRIADI SAMBO

Posted: Desember 31, 2009 in CERPEN-CERPEN

Harian Aceh / 6 December, 2008


SIANG menghenyat jiwa. Tubuh berpeluh. Matahari tak mau kompromi. Ingin membakar tubuh manusia. Di sudut kampung, jauh dari suara bising. Jarang lalu lalang kendaraan. Jauh pula dari dosa-dosa politik. Tak ada yang meributkan kampanye. Tak ada meributkan pemilihan kepala kampung. Kepala kampung dipilih dengan suka cita. Siapa yang berhak, itulah yang mendapatkannya. Semuanya serba keluarga.

Gubuk kecil, asap meliuk terlihat dari kejauhan. Rumah orang kampung, terlihat mungil. Jika siang, dari kejauhan, dari puncak bukit, hanya terlihat seperti pondok di sawah. Kecil sekali. Bila malam tiba, lampu teplok meliukkan cahaya. Seperti kunang berterbangan di kuburan. Sangat menakutkan. Tak ada cahaya listrik. Tak ada pula jaringan telepon. Seluruh komunikasi, dilakukan dengan surat. Atau pesan pada masyarakat yang dipercaya.

Lakon itu telah berlangsung lama. Puluhan tahun. Sejak negeri itu belum merdeka. Sejak Indonesia masih bergerilya. Sejak masih melawan penjajah Belanda. Semua telah berlangsung di sana. Masyarakat kampung, menyebutkan desa itu desa kesejahteraan. Desa Rambung Teldak. Desa yang berada di Kecamatan Lawe Mamas, Aceh Tenggara. Berbatasan dengan Sungai Alas, mengalir deras. Jika hujan datang, masyarakat berdo’a agar sungai itu masih bersahabat. Ya, bersahabat dengan alam sekitar. Tak menghantam seperti di daerah Semadam. Hancur, rata karena di terjang banjir bandang.

”Tidurlah Nak. Sudah malam. Tak usah temani Mamak. Mamak sebentar lagi juga tidur,” Ame Rika, menyuruh putrinya. Rika terdiam. Lalu kembali mengayam tikar pandan.

”Sedikit lagi Emak. Nanti, saya tikur. Sekalian dengan Emak.”

Sejurus Ame Rika terdiam. Lalu, tangannya teliti mengayam tikar. Warna-warni pandan dikolaborasikan. Satu tikar, paling pendek sepuluh meter. Mengerjakannya tak mudah. Butuh ketelitian. Dan, memahami penggabungan warna yang apik. Ada warna merah, dipadukan dengan putih. Lalu, warna biru, dipadukan dengan unggu. Banyak sekali jenis warna tikar itu.

Masyarakat kampung memang sejak kecil diajarkan mengayam tikar. Tradisi nenek monyang. Jarang masyarakat yang tak mengerti cara memotok pandan berduri itu digunung. Umumnya, mereka teliti. Takut kena duri dan terluka. Di cincng sesuai ukuran. Lalu, pandan itu dijemur. Ketika kering, untuk membubuhi warna, pandan harus direbus. Lalu dicelupkan kedalam pewarna. Dan, dikeringkan. Baru bisa dianyam.

”Mak, Adek tidur duluan ya. Sudah ndak tahan lagi ini mata.”

”Ya. Jangan lupa bakar anti nyamuk.”

Menjadi penganyam tikar, bukan impian. Namun, takdir tak bisa ditolak. Nasib memang berbeda. Dulu, empat tahun lalu. Ame Rika, memiliki warung kecil di sudut kampung. Menjual seluruh keperluan. Orang kampung, menyebut kios itu terbesar. Kios lainnya, hanya gubuk reot tanpa dinding. Dari odol gigi, sampai nasi goreng ada di warung itu. Kopi pahit yang menjadi minuman favorit orang kampung juga ada.

Nasib memang beda. Semuanya sirna. Hitungan menit. Tak berlangsung lama. Kios itu dibakar oleh orang tak jelas. Masyarakat kampung menyebutkan, kios itu dibakar oleh dua orang. Bercadar. Dan mengenakan sarung diseluruh tubuh. Layaknya ninja di film-film holiwood. Ditangan mereka, dua buah jeriken berisi minyak. Orang kampung keluar membantu menyelamatkan seluruh barang yang tersisa. Tapi, bangunan kayu itu terlalu cepat dimakan si jago merah. Ame Rika, lari tergopoh-gopoh menyelamatkan anaknya. Dia sudah janda. Suaminya, meninggal dunia. Terbawa arus sungai alas. Saat itu, Rika baru lahir. Malang, gadis itu juga tak sempat melihat gagahnya sang ayah. Orang yang sangat menyanyanginya.

Jam berdentang dua belas kali. Ame Rike, mengucekkan matanya. Merah. Dia terlihat lelah. Seharian dia bekerja menganyam dan mencari pandan. Tak ada pekerjaan lain di zaman sulit. Tikar itu, menjadi gantungan hidup mereka. Tak ada pula pilihan lain, kecuali berjalan kaki berpuluh kilometer menembus hutan, menaiki gunung dan menyebrang sungai alas, menuju ibukota kabupaten. Menjual hasil anyaman di sana.

Dunia memang gila. Tak ada yang peduli ketika Ame Rika sengsara. Tak ada pula yang mau membayar hutang-hutangnya. Dulu, ketika warung masih ada, banyak sekali masyarakat yang mengutang. Prinsip berjualan di kampung memang begitu. Makan dulu baru bayar. Bayar pun belum tentu hitungan minggu, bisa bulan atau bahkan tahunan. Padahal, bila hutan orang kampung dibayar, semua beban hidup tak begitu terasa. Ame Rika, bisa membuka kembali warung kecil-kecilan. Meskipun tanpa dinding. Meskipun dengan barang ala kadar. Jelas, nafas dagang masih bisa berdenyut.

Ame Rika bangkit dari duduknya. Pinggangnya terasa sakit. Lalu, dia menuju sumur. Mengambil wudhu, untuk shalat tengah malam. Tahajud. Melaporkan semua keluhan pada Tuhan. Menyampaikan dan meminta harapan. Harapan tentang masa depan. Harapan tentang kebajikan dan harapan tentang hidup yang lebih layak. Harapan dan pengampunan dosa.

Angin gunung menerpa tubuh ringkih itu. Dirapatkannya kain panjang yang diselempangkan dibadan. Dikejauhan terdengar lolongan anjing. Desir angin dan gemercik air sungai alas yang deras.

Perlahan dibasuhnya muka, tangan, rambut penuh uban sampai ke kaki. Ame Rika sejurus terdiam. Memperhatikan ke semak belukar. Entah apa di sana. Sosok bayang tak jelas. Sosok orang yang mengendam. Hantu atau manusia?

Wanita ini mencoba mengamati lebih seksama. Lalu terdiam. Membungkung untuk memperhatikan gelagat tamu tak diundang. Tangan kanannya memegang batu. Dan, dar…dar..dar. Dentuman itu menghujam. Ame Rika limbung.

Matanya tertutup rapat. Ditengah desir angin. Tak ada yang memperhatikan. Lalu, tubuh ringkih itu tersungkur. Entah mati atau tidak. Kaku tak bergemik. Membeku seperti salju.

Harian Aceh / 21 December, 2008

SUARA lelaki itu mengingatkan Nur pada seseorang. Suara yang akrab, yang datangnya dari masa lalu. Nur berusaha meraba-raba, menerka-nerka, siapakah pemilik suara yang sama itu. Tapi terlalu sulit menangkap kenangan lalu. Sebab dia sudah melupakan semua itu setelah Jamali suaminya hilang atau mungkin meninggal tiga tahun lalu….

“Apa Bapak pernah tinggal di sini?” selidik Nur.

“Saya lupa. Barangkali saja saya pernah singgah sebentar di sini. Banyak tempat yang saya singgahi. Saya jadi lupa,” jawabnya.

Nur jadi maklum. Dia yakin kalau lelaki itu bukan teman sekolahnya. Atau temannya masa remaja. Terlampau banyak untuk dihitung, siapa-siapa saja temannya dulu. Memang sebagian banyak sudah terlupakan, barangkali karena jarang bertemu. Apalagi dia sering berpindah-pindah tempat pula, mengikuti suaminya.

Ingatan Nur dalam dua tahun terakhir ini memang sulit setelah dia terjatuh dan kepalanya membentur tembok. Menurut psikiater kemungkinan besar Nur terkena amnesia ringan. Dia memang sering lupa-lupa ingat terhadap kejadian masa lalu, yang kadang sering membingungkan.

“Bapak pesan apa?” tanya Nur tersadar.

“Mi rebus. Jangan terlalu pedas ya?”

Perempuan itu menyiapkan sepiring mi rebus. Sepeninggalan suaminya dia membuka usaha kecil-kecilan di halaman rumahnya yang sempit itu. Tak ada yang bisa dikerjakan lain untuk menutupi kebutuhan hari-hari dan biaya sekolah anaknya. Jika saja suaminya masih hidup, tentu saja kehidupannya tak jadi begini.

Kehidupan janda itu terus morat-marit sejak suaminya pergi. Tak ada tanah atau peninggalan lain selain rumah yang ditempati saat ini. Lagi pula suaminya bukan pegawai negeri. Pekerjaannya serabutan, dari kenek bus umum, penjaga toko, sopir, dan pengumpul barang bekas. Terakhir dia sering memasok barang-barang dari Medan ke Banda Aceh.

Sejak ombak raya laut menghantam kota Banda Aceh itu, suaminya tak pernah muncul-muncul lagi, juga teman-teman kerja yang biasa sering muncul menjembut suaminya di rumah. Nur tidak mengenal dekat teman-teman suaminya itu, mungkin juga karena kurang peduli urusan suaminya di luar rumah. Sejauh ini dia cukup mengenal suaminya sebagai lelaki yang paling baik dan setia. Itu lebih dari cukup bagi Nur.

Lelaki yang mengaku bernama Rustam itu merupakan penghuni baru di kampung itu. Semula Nur mengira kalau dia seorang pengemis. Sebab hampir sekujur fisik lelaki itu cacat. Selain tangan kirinya yang tanpa jari, bentuk wajahnya pula tidak seimbang. Mata kananya terkatup, bagian hidung kanan seperti sompel, letak bibir itu tidak semetris, dan jalannya pincang.

Sulit baginya membedakan antara cacat bawaan atau cacat kecelakaan. Nur tidak ingin bertanya, apakah cacatnya itu karena pembawaan sejak lahir atau oleh kecelakaan. Dia takut pertanyaan itu menyinggung perasaan, atau mengembalikan ingatan lelaki itu pada sesuatu kejadian yang tidak menyenangkan.

Sekarang Nur ingat kalau dia tidak pernah memiliki teman cacat, apalagi yang bernama Rustam. Jadi sungguh mustahil kalau lelaki itu pernah akrab dengannya. Mungkin saja suaranya yang sedikit serak itu menyerupai suara salah satu temannya. Siapa ya? Nada dan getar suara itu seperti begitu kental dalam kehidupannya. Ah, tapi untuk apa semua itu dipikirin!

Namun, kehadiran lelaki itu seperti mengungkit suatu kenangan. Bukan wajahnya, tapi suaranya yang terasa begitu akrab dan kental. Memang banyak manusia yang memiliki kemiripan suara yang kadang sulit dibedakan. Bisa saja kalau suara Pak Rustam itu mirip dengan suara salah satu temannya masa sekolah dulu. Tapi cuma suaranya, bukan fisiknya.

Perempuan itu meletakkan pesanan di meja lelaki itu dan berusaha menatap wajahnya sesaat. Lelaki itu pura-pura sibuk, terkesan menghindari tatapan janda itu. Barangkali dia malu pada dirinya sendiri yang cacat. Nur berpikir, alangkah malangnya lelaki itu. Barangkali dia terbuang dari keluarganya.

“Maaf, apa Bapak punya keluarga?”

Sesaat dia berpikir, menghentikan kunyahannya, “Ada. Tapi sudah pisah,” jawabnya.

“Kenapa?”

Lelaki itu berpikir kembali, “Ceritanya panjang….”

“Apa…” Nur tak jadi melanjutkan pertanyaan, sebab dia menangkap kesan kalau lelaki itu agak terganggu dengan pertanyaannya.

Lelaki yang sekarang tinggal di meunasah itu memang sudah menjadi langganan tetapnya. Tempat jualan Nur cuma berjarak belasan meter dari meunasah. Sejak kehadiran lelaki itu anak-anaknya Faril, Nuril, dan Fadel biasa main ke meunasah, asyik melihat pekerjaan lelaki itu yang merajut daun rumbia untuk dijadikan atap. Cuma itu keterampilan Pak Rustam.

Pokok rumbia banyak bertebaran di kampung itu. Pelepah-pelepah rumbia memberikan bahan baku yang cukup baginya. Halaman belakang meunasah itu yang tidak terlalu luas sudah cukup bagi tempatnya bekerja. Setiap masuk waktu salat, lelaki itu menghentikan pekerjaannya. Suaranya yang parau mengalut lewat cerobong pengeras suara. Sudah lama memang azan tak lagi berkumandang dari sana, kecuali pada waktu magrib saja. Orang-orang mengasihinya sebab dia peduli pada meunasah, dan hidupnya tidak jadi peminta-minta.

Melihat kondisi keluarga Nur, Pak Rustam merasa bertanggung jawab. Meskipun tidak banyak membantu, seringkali dia memberikan uang saku dan biaya sekolah. Jika atapnya laku banyak, dia juga membelikan beras dan keperluan dapurnya bagi Nur. Lagi pula Fadil sering mengantarkan rantang ke meunasah. Secara tak langsung lelaki itu sudah menjadi bagian dari keluarga itu.

Suatu hari saat Pak Rustam menyantap hidangannya di warung Nur, sekelompok orang datang menagih utang. Memang tidak terlalu banyak, tapi bagi Nur uang sejumlah itu begitu berat. Orang-orang yang datang dengan mobil bak terbuka itu tidak mau mendengar alasannya lagi. Mereka mengobrak-abrik dagangan Nur, dan mengangkut meja, rak mi, dan kursi-kursi ke atas mobi.

Melihat kejadian di depan mata itu, lelaki cacat yang sedari tadi diam itu mendadak bangkit. Dia membuka dompet, tapi uangnya tidak cukup untuk membayar hutang itu.

“Ini saya bayar sebagian. Datanglah dua tiga hari lagi, saya akan melunasinya,” ucapnya pada seorang laki-laki yang berbadan atletis.

Lelaki itu menatapnya sinis, rendah, mungkin karena lelaki itu cacat, “Boleh saja kau bayar. Ini untuk menutupi hutangnya yang kurang. Tapi barang-barang ini tetap kami bawa,” ucap lelaki itu seraya menyambar uang yang ada pada tangannya.

“Tak bisa begitu. Ibu ini kehilangan pekerjaanya,” Pak Rustam berusaha menahan diri.

“Itu urusan kamu sendiri, Pengemis!”

Mendengar hinaan lelaki itu, tangan kanan Pak Rustam yang masih kekar itu menghantam wajah si Atletis. Segera saja lelaki itu membalasnya. Hanya beberapa saat terjadi perkelahian yang tak seimbang. Lelaki itu dikeroyok ramai-ramai. Akhirnya orang-orang itu pergi setelah Pak Rustam terkapar.

Janda itu segera berlari, menghampiri lelaki cacat itu yang meringkuk kesakitan di pinggir jalan. Darah keluar dari hidung dan mulutnya. Nur merasa begitu kasihan, semua itu karena dia telah membelanya mati-matian.

“Kenapa Bapak sampai berbuat begitu?” tanya Nur terisak.

Lelaki itu memalingkan wajah, “Karena aku tidak bisa melihat kesewenang-wenangan mereka terhadapmu.”

“Tapi Bapak dipukuli begini….”

“Biar saja. Saya lebih suka dipukuli daripada diam saja.”

“Bapak tak perlu mati-matian membela begitu,”

“Perlu!”

“Kenapa?”

“Karena itu tanggung-jawab saya,” ucap lelaki itu dengan bibir bergetar.

“Siapakah Bapak sebenarnya,” tanya Nur curiga karena dia hampir bisa menangkap getaran suara yang pernah cukup akrab dengannya.

“Saya bukan siapa-siapa….” lelaki itu menyembunyikan wajahnya.

Ketika melipat lengan baju itu, Nur terkejut melihat tanda tahi lalat di lengan kanan lelaki itu. Pikirannya pun begitu deras mengejar ingatan antara tanda itu dan getaran suaranya.

“Bang Jamali!” ucapnya, “Kau suamiku!”

“Bukan. Aku bukan suamimu. Suamimu tidak cacat!” ucap lelaki itu bangkit.

“Aku menerimamu apa adanya, Bang. Pulanglah!”

Lelaki itu berbalik, tapi sesaat kemudian tubuhnya rebah. Nur berlari memangkunya, “Seharusnya Abang mengatakan apa adanya….”

“Maafkan aku Nur…. Maafkan aku…. Aku tak ingin kau terbeban dengan kondisiku. Bebanmu mengurus anak-anakku sudah cukup berat….”

***

Lhokseumawe, 29 April 2008.