Archive for the ‘KLIPING – KLIPING MEDIA’ Category

DARI HAMZAH FANSURI SAMPAI GENERASI TERKINI *

Maman S. Mahayana **

Membicarakan perjalanan sastra Aceh dengan rentang waktu yang begitu panjang (dari Hamzah Fansuri sampai Generasi Terkini) adalah tugas mahaberat yang keseluruhan perjalanannya mustahil dapat diungkapkan dalam beberapa halaman saja. Oleh karena itu, pembicaraan ini sesungguhnya sekadar gambaran umum, bagaimana sastra Aceh bergulir, menggelinding dan kemudian menjadi salah satu bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari lanskap kesusastraan Indonesia.

Dalam peta sastra Nusantara selepas pengaruh Hinduisme mulai memudar digantikan pengaruh Islam, Aceh tampil sebagai salah satu poros yang memancarkan pengaruhnya ke berbagai wilayah di Nusantara ini.1 Tradisi itu tentu saja tidak terlepas dari jejak yang telah ditanamkan Ratu Nur Ilah, Ratu Nahrasiyah, Laksamana Keumalahayati, Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah, sampai Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah, Ratu Inayat Zakiatuddin Syah, Ratu Kamalat Zainatuddin Syah.2

Keagungan yang Ditenggelamkan

Pada masa itu, keharuman Aceh sebagai salah satu pusat pertumbuhan dan perkembangan intelektual telah merebak jauh melewati batas wilayah Nusantara. Ia lalu menjadi sihir bagi para intelektual mancanegara. Sejak itu, kesultanan Aceh seperti terus berkelanjutan mengibarkan panji-panji keagungannya.3

Reputasi kesultanan Aceh mulai surut ke belakang, ditandai dengan intrik Belanda dengan segala kepentingannya. Meski Traktat London (1824) yang membelah kerajaan Melayu–Lingga itu, tidak merugikan Aceh, karena di sana ada kesepakatan bahwa Inggris dan Belanda tidak boleh menyerang Aceh dan harus menghormati kedaulatannya, Belanda tokh merasa tak nyaman dengan kekuasaan kesultanan Aceh. Maka, serangkaian provokasi pun dilakukan untuk menggoda Aceh. Itulah salah satu alasan Belanda untuk membawa kembali Inggris membuat perjanjian baru, yang disebutnya dengan Traktat Sumatera (1871). Dalam traktat itu disebutkan bahwa Belanda bebas memperluas wilayah kekusaannya di seluruh Sumatera. Dengan alasan Aceh telah melanggar perjanjian tahun 1857,4 Belanda datang ke perairan Aceh dengan tiga kapal perang dan meminta penjelasan tentang terjadinya hubungan Aceh dan wakil negara asing (Amerika Serikat) di Singapura. Karena jawaban kesultanan Aceh tidak memuaskan pihak Belanda, lahirlah manifesto pemerintah Hindia Belanda yang berisi pernyataan perang dengan Aceh.5

Demikianlah, Aceh bagi Belanda adalah sejarah hitam keberadaan mereka di Nusantara. Sejarah keagungan kesultanan Aceh, para pujangganya, seperti Hamzah Fansuri, Abdul Rauf Singkel dan Nurrudin Ar-Raniri, kekayaan budayanya, dan militansi ideologis rakyat Aceh dalam berhadapan dengan bangsa asing, adalah catatan panjang tentang kegagalan Belanda dalam coba menaklukkan Aceh.

Sebagai negara kecil dengan penduduk yang juga berjumlah kecil, politik pencitraan yang dilakukan Belanda penting artinya untuk mengukuhkan dan melegitimasi kekuasaan Belanda di tanah jajahan. Bersamaan dengan itu, dilakukan juga usaha-usaha stigmatisasi6 dan pembonsaian.7 Itulah yang terjadi dalam dunia pendidikan pada masa kolonial Belanda. Dalam konteks pembicaraan kesusastraan Indonesia, berdirinya Balai Pustaka8 dan perkembangan poros kesusastraan di Sumatera yang ditandai dengan tumbuhnya penerbitan di Padang, Bukittinggi, Tebingtinggi, dan Medan, menunjukkan usaha menafikan peranan kota lain, seperti Aceh dan terutama, Tanjungpinang, yang justru punya sejarah penerbitan. Dalam dunia pendidikan pun, nama-nama Abdullah bin Abdulkadir Munsyi dan Raja Ali Haji, jauh lebih populer dibandingkan Hamzah Fansuri, Abdurrauf Singkel atau Nurrudin Ar-Raniri.

Sesungguhnya, ketiga nama itu—Hamzah Fansuri, Abdurrauf Singkel, Nurrudin Ar-Raniri—, meski secara ideologis Hamzah Fansuri berada di jalur yang berbeda dengan Abdurauf Singkel dan Nurrudin Ar-Raniri, telah menempatkan Aceh sebagai salah satu poros perkembangan tasawuf di Nusantara. Mengingat pemikiran-pemikiran tasawuf itu diekspresikan melalui syair dengan bahasa Melayu sebagai mediumnya, maka dari Aceh pula –di samping Riau—Lingga—kesusastraan Melayu memulai perjalanannya. Dalam konteks itu, Aceh sesungguhnya telah memberi sumbangan penting bagi pergulatan pemikiran Islam yang kemudian mempengaruhi perkembangan Islam di Nusantara. Di sanalah tempat Hamzah Fansuri berdiri sebagai tokoh pembaharu spiritualisme Islam. Lewat karya-karyanya yang simbolik dan puitis Hamzah Fansuri berhasil membuat tonggak sendiri bagi kepenyairan Melayu, dan belakangan, kepenyairan Indonesia.9

Itulah awal peperangan dengan pihak Belanda dan terus berlanjut seperti tiada berakhir. Bagi Belanda, berhadapan dengan Aceh laksana berhadapan dengan masyarakat yang tak pernah menyerah.10 Maka harus ditempuh cara lain yang tidak fisikal, yaitu menenggelamkan reputasi Aceh atau menciptakan stigma negatif atas apa pun yang berhubungan dengan Aceh. Meskipun pada zaman Balai Pustaka muncul nama H.M. Zainuddin yang menghasilkan novel Djeumpa Atjeh (Bunga Aceh, 1928) dan zaman Poedjangga Baroe nama Ali Hasjmy cukup menonjol sebagai penyair, selepas itu sastrawan Aceh seperti tenggelam dalam tidur panjang!

Masa Lalu yang Layu

Ketika tak ada musuh bersama yang bernama bangsa asing dan para founding fathers merumuskan sendiri bentuk negara dan pemerintahannya, konon, Aceh masih sempat memberi tanda mata berupa sebuah pesawat. Dan pemerintah tentu saja mengapresiasi penghormatan itu. Tetapi, pengakuan terhadap ketangguhan Laksamana Keumalahayati, cukuplah dengan pengabadian namanya pada Kapal Perang RI, Malahayati. Lalu selepas itu, minyak bumi dan kekayaan alam lainnya mengucur ke Jakarta. Aceh dibiarkan menjadi penonton pasif yang harus menerima begitu saja “belas kasihan” Jakarta. Mulailah muncul gumpalan pertanyaan yang lalu meneteskan benih luka yang barangkali masih dapat ditahan sambil berharap ada perbaikan.11

Tetapi mengapa heroisme dan patriotisme Aceh harus dicurigai sebagai keinginan untuk mendirikan sebuah negara (Islam)? Lalu dijalankanlah apa yang disebut Daerah Operasi Militer (DOM). Mengapa DOM harus terjadi di Aceh, wilayah yang warga puaknya sudah dikenal sejak lama mempunyai integritas, kesetiaan dan loyalitas terhadap Indonesia. Luka itu seperti makin lebar ketika tak ada usaha (dari pemerintah) untuk menuntaskan duduk perkara peristiwa hitam itu. Lalu muncul Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang tiba-tiba terjebak pada peristiwa saling membunuh dengan tentara dan polisi? Apa dan bagaimana sesungguhnya yang melatarbelakangi dan yang melatardepani peristiwa berdarah itu? Mengapa sesama saudara harus saling mengeluarkan darah? Sejarah keagungan Aceh, perdebatan intelektual tentang Islam, semangat patriotisme dan heroisme Teuka Umar dan pejuang Aceh lainnya, seketika seperti masa lalu yang beku. Aceh menjadi sebuah kawasan yang di sana, harga nyawa manusia tiada bermakna.

Sungai-sungai seketika juga berubah menjadi aliran yang membawa bau busuk entah mayat-mayat siapa.12 Tempat-tempat pengungsian menjadi pemandangan kesengsaraan orang-orang yang tak berdosa. Hidup bertetangga di tengah warga tiba-tiba berubah menjadi kegiatan saling mencuri nyawa. Aceh menjelma kengerian dengan desing peluru entah dari moncong senjata siapa, mengoyak dada saudara sendiri. Inikah Aceh yang telah mengajari Indonesia dengan patriotisme dan heroisme?13

Ketika warga Aceh dihinggapi tanda tanya, saat kata damai makin jauh dari bumi Serambi Mekah, seketika itulah bencana datang: tsunami! Di manakah Aceh sekarang?

Sihir Tsunami

Bagian ini akan membicarakan antologi puisi berjudul Ziarah Ombak (Banda Aceh: Lapena, 2005, 235 halaman).14 Ziarah Ombak adalah sebuah persaksian tentang bencana tsunami yang mahadahsyat itu. Ia seperti sebuah klimaks dari rentetan segala luka. Tsunami telah mencatatkan dirinya sebagai bencana paling dahsyat dari semua bencana apa pun yang terjadi di muka bumi pada abad ini. Dan pada saat tak ada lagi kata yang dapat melukiskan kemahadahsyatan musibah itu –yang dikatakan Anton Kieting, kehabisan kertas dan tinta untuk bercerita atau dalam pandangan Asa Gayo, tak ada lagi yang bisa berkata-kata/semua diam membisu/berdzikir dalam air mata atau juga seperti dikatakan Deddy Satria: kupahatkan tanpa kata-kata//—Aceh menjadi pusat simpatik dan empati segenap bangsa di dunia. Tsunami telah menyihir umat manusia dalam hamparan kedukaan yang meluas. Aceh menjadi sebuah ikon yang tiba-tiba saja merampas empati siapa pun. Ia seperti menjadi alat yang dapat mempersatukan berbagai perbedaan ras, suku, agama, politik, dan kultur. Ia serempak lebur dalam perasaan yang sama: duka umat sejagat!

Dalam konteks keindonesiaan, Aceh dan tsunami telah membukakan mata dan hati warga bangsa ini memasuki babak penyadaran, bahwa segala konflik berdarah dengan latar belakang berbagai kepentingannya, harus segera dihentikan. Tentara, polisi, GAM, guru, penyair, pegawai negeri, atau apa pun sesungguhnya sekadar label profesi. Ia melekat pada diri manusia Aceh, manusia Indonesia, yang hendak menjalankan hidup sebagai manusia bermartabat—berbudaya. Label itu sekadar alat mencari penghidupan dan menunjukkan tanggung jawabnya sebagai Manusia (dengan M besar). Lalu, mengapa pula label itu dimaknai sebagai sumber perbedaan yang kemudian berujung pada pertumpahan darah? Aceh, kini, bukan lagi milik aku atau engkaukami atau mereka. Aceh adalah kita, dan kita bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Aceh.15

Sebuah peristiwa absurd dan irasional. Ketika tanah Aceh dibanjiri darah penduduk tak berdosa, darah anggota GAM, tentara atau polisi, tiba-tiba semua menjadi kita selepas tsunami meninggalkan duka yang tak terperikan. Dalam sekejap, batas tegas antara aku dan engkaukami dan mereka, serta-merta lebur menjadi kita. Inilah sebuah rekonsialiasi paling menakjubkan yang menghancurkan segala sekat perbedaan atas nama berbagai kepentingan. Semua tumpah dalam perasaan yang sama: duka Aceh adalah kita.16 Pertanyaannya kini: bagaimanakah model persaksian para penyair Aceh sendiri tentang tsunami itu sebagaimana yang terungkap dalam Ziarah Ombak? Bagaimana pula mereka menyikapi musibah itu dan merefleksikannya dalam puisi?

Tsunami: Sebuah Peringatan

Ziarah Ombak yang diawali tegur-sapa semangat penyadaran Helmi Hass dan kemudian Kata Pengantar Ahmadun Y. Herfanda, penyair, cerpenis, dan redaktur budaya harian Republika. Buku ini memuat 130 puisi karya 48 penyair. Dengan melakukan tiga pembagian, yaitu Ziarah (Bagian Satu), Makam (Bagian Dua) dan Membaca Tanda-Tanda (Bagian Tiga), editor –D. Kemalawati dan Sulaiman Tripa—tampaknya hendak membuat tanggapan evaluatif atas musibah mahadahsyat itu.

Bagian Pertama bolehlah dimaknai sebagai sikap keprihatinan para penyair Aceh yang selamat dari prahara tsunami. Pada bagian ini ada 85 puisi karya 38 penyair Aceh. Mereka seperti bermaksud melakukan semacam ziarah kepada segenap korban, mewartakan persaksian, dan sekaligus menyatakan kedukaannya yang mendalam. Bagian Kedua yang bertajuk Makam memuat 26 puisi karya tiga penyair Aceh –Nurgani Asyik, Maskirbi, dan Mustiar AR—yang diyakini termasuk korban dari sekitar 200-an ribu korban lainnya. Ketiga penyair Aceh itu hingga kini tidak jelas di mana jasadnya. Jadi, tentulah karya ketiga penyair itu ditulis sebelum dating bencana dahsyat itu. Bagian Ketiga (Membaca Tanda-Tanda) memuat 19 puisi karya tujuh penyair Indonesia dan Malaysia –yang entah mengapa, biodatanya tak ada di sana. Bagian ketiga ini, bolehlah dipandang sebagai bentuk empati penyair di luar Aceh yang hendak berbagi duka atau pemberi semangat untuk tidak larut dalam kesedihan yang berkepanjangan.

Bagian Ketiga itu, niscaya belum dapat dikatakan merepresentasikan tanggapan keseluruhan penyair Indonesia dan Malaysia, meskipun di sana disebutkan “sangat dekat dengan Aceh.” Editor tentu punya alasan sendiri atas pilihan itu yang duduk perkaranya sering jatuh pada masalah teknis. Dalam hal ini, sepatutnya kita memberi apresiasi atas usaha dan kerja keras editor buku ini. Terlepas dari persoalan teknis itu, mari kita coba menelusuri, bagaimana para penyair Aceh memandang, menempatkan, dan memaknai tragedi mahadahsyat itu.

Puisi karya Anton Kieting (“Sajak kepada Penyair”) dan Armiati Langsa (“Bangkitlah”) cenderung merupakan seruan kepada Aceh untuk mengubur tsunami sebagai catatan hitam dan menatap masa depan sebagai langkah yang sudah semestinya dijalankan. Meski begitu, ada hal menarik yang terungkap di sana. Pada “Sajak kepada Penyair” Kieting seolah-olah hendak bertegur-sapa dengan penyair Maskirbi yang menempatkan tugas kepenyairan sebagai bilal –sebuah profesi yang tak populis, jauh dari keuntungan materi, dianggap pekerjaan tak bermakna dan cenderung dipandang tak punya fungsi sosial. Bilal –pengumandang azan—memang dapat dilakukan sesiapa pun. Tetapi siapakah yang punya kesadaran bahwa tugas bilal adalah titik berangkat menuju kemenangan, menjauhkan kemungkaran, dan mendekatkan kebaikan? Maskirbi telah melakukan itu dan hendak dilanjutkan oleh si aku liris: Aku akan tetap menjadi penyair yang mengabarkan kesaksian/pada setiap perjanjian/Karena kau pinta aku menjadi bilal/Yang selalu mengabarkan setiap perjanjian// Jadi, di sana ada persaksian dan sekaligus juga perjanjian.

Bahwa kemudian tsunami datang dan menggerus segalanya sebagai pertanda, sang penyair melihatnya dari dua sisi. Pertama, sebagai musibah yang tak terperikan sehingga ia tak mampu mengungkapkannya dengan kata apa pun. Kedua, sebagai bagian yang tak terlepas dari masa lalu. Tsunami dipandang sebagai buah dari serangkaian kealpaan yang dilakukan entah oleh siapa pada masa lalu. Inilah yang dikatakan Sigmund Freud sebagai ketaksadaran traumatik.17 Kecemasan yang bersumber dari tindakan masa lalu: … buta mata hatinya/mencuri perut saudara-saudaranya/menzalimi anak yatim// Sebuah seruan introspektif untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Cara pandang seperti itu juga ternyata tampak pada puisi Armiati Langsa yang melihat Aceh dalam tiga dimensi waktu: masa lalu, kini, masa depan. Maka, ia melihat tsunami sebagai peringatan dan sekaligus awal untuk memulai kebangkitan kembali keagungan Aceh. Ketika ranting cabang dan pohonnya dicabik peringatan/Allah yang Maha Punya…/Pemilik tangan pengatur jagat raya// Jadi, bagi Armiati Langsa, tsunami sebagai representasi tangan Tuhan, agar bangsanya tak lalai menjalankan kewajibannya sebagai manusia. Kelalaian itulah yang sesungguhnya “telah mengundang bencana.”

Begitulah Langsa melihat tsunami tak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian masa lalu yang penuh kelalaian: hura-hura, pesta pora, gelimang dosa, narkoba, dan syahwat yang secara metaforis dikatakannya sebagai paha yang tak lebih mahal dari kaki rusa// Maka, tak ada pilihan lain bagi rakyat Aceh, kecuali bangkit membangun kembali Aceh Raya, sambil bertaubat, bertasbih, dan berdoa. Atau, bagi Rianda Asriani: … bertafakur/ mengaca dari segala dosa, dengan kaca mata batin yang/bersih//. Ajakan Asriani tentu tidak datang secara serta-merta. Ia juga melihat masa lalu: Anak, anak yang dulu terlahir suci/yang dulu juga pernah diyatimkan oleh gemuruh senapan …. Bagaimanapun, bagi Asriani tsunami mesti dimaknai sebagai peringatan yang dikataknnya sebagai dian di kegelapan. Jadi, masih ada titik harapan untuk menatap masa depan. Biarlah masa lalu tentang tanah yang penuh sengketa/… yang diredam gelombang senjata/… dan penuh air mata (Syarifuddin Abe, “Air Tanah”) tetap sebagai masa lalu, dan tsunami menjadi batas tegas yang memisahkan masa lalu dan masa depan.

Pada diri penyair Mh Agam Fawirsa, tsunami telah meninggalkan pekuburan massal yang justru melengkapi kepedihan dan catatan kelam Tanah Rencong. Di depan makam massal ini/air mata memang telah terlalu banyak tumpah/membasuh jejak-jejak kaki yang terkubur/dalam catatan sejarah paling kelam/di bumi tanah rencong// Bagi Fawirsa, meski banyak orang menebarkan empatinya, ia masih belum yakin benar, bahwa catatan hitam itu akan berhenti di sana yang dikatakannya: bersama badai belum pasti berlalu/dalam derap langkah anak negeri ini/menyongsong masa depan yang tak pasti// (“Catatan Malam”). Sebuah masa lalu yang juga dirasakan Reza Idria (“Luruh”):

Belati menghujam berkali-kali

kami tak menangkis

kami tak menangis

maut terus-menerus mengerus takut

Di sini

Lelaki lama telah menyendiri

lalu anak dan perempuan pergi

lalu harapan

lalu ingatan

lalu mati

lalu sunyi

Apalagi yang masih tersisa selain sunyi? Sebuah pesimisme yang lahir dari serangkaian pengalaman traumatik yang tak gampang terkubur, meski tsunami telah menguburnya. Bagi Fawirsa (“Cerita Nenek kepada Cucunya”) yang masih mungkin dilakukan adalah membuat monumen peringatan bagi generasi yang akan datang tentang gejala tsunami dan tentang pengharapan terbesar dalam hidup di dunia ini: Tuhan. Ingatlah cucuku/Jangan lupa pesan dan cerita nenekmu ini/jangan lupa kepada Allah//

Begitulah, musibah dahsyat itu ternyata disikapi sebagai kepedihan yang tidak berdiri sendiri. Mohd. Harun Al-Rasyid, Reza Idria, Rianda Asriani, Sukran Daudy, Syarifuddin Abe, dan Win Ruhdi Bathin, misalnya, melihat tsunami sebagai sebuah klimaks dari rangkaian kepedihan yang dialami Aceh. Maka, kembali, di satu sisi, tsunami bagi korban hadir sebagai semacam katarsis, pelepasan dari kedukaan yang bertumpuk-tumpuk, dan di sisi yang lain, bagi mereka yang selamat, tsunami menambah kisah duka tentang sanak keluarga, tetangga, dan orang-orang tercinta. Jadi, dari satu titik harapan terkecil, sebagai bentuk apologia bagi para korban itu, tsunami laksana langkah berangkat menuju Tuhan. Para korban diyakini pula mencapai kebahagiaan di dunia sana. Bukankah mereka sudah sekian lama menahan sabar, menunggu Tuhan mencipratkan kebahagiaannya. Perhatikan kepedihan yang tak terucapkan di balik larik-larik berikut:

Tuhan

Sebagai ayah, aku hanya ingin bertanya

Karena kutahu anakku yang belia

Belum tahu apa-apa dengan kemunafikan

Belum kenal aneka kemusyrikan

Belum tahu mengenai bibit-bibit dendam

Apalagi dengan nafsu angkara murka (“Aku Bertanya Pada-Mu”)

Anakku, damailah ruhmu dalam kebahagiaan

Selamat berdandan di sisi Tuhan

Memilih gaun ulang tahun di almari

Dan merebahkan jasad di ranjang dambaan

Andai engkau telah pergi berkelana di taman Tuhan

Ayah ucapkan selamat jalan ananda tersayang

Jangan lagi berpaling ke belakang

Karena ayah telah ikhlaskan

Kita bertemu di yaumil mahsyar (“Kenangan dalam Keikhlasan”)

Sungguh, larik-larik tadi secara tekstual menyampaikan sebuah pertanyaan retoris: mengapa Tuhan membawa orang-orang tercinta yang tak berdosa (“Aku Bertanya Pada-Mu”) dan di bagian lain (“Kenangan dalam Keikhlasan”) menyampaikan pewartaan seorang ayah tentang anaknya. Tetapi di balik itu ada gugatan yang datang dari segumpal kepedihan yang tak tertahankan. Di sana, ada tangis yang kehabisan air mata. Inilah yang dalam konteks teologis disebut mysterium tremendum et fascinans: misteri yang menakjubkan sekaligus juga menakutkan. Bukankah kuasa Tuhan itu penuh misteri yang berada di luar batas logika. Oleh karena itu, di balik ketidakpahaman tentang kuasa Tuhan, manusia sering merasa takjub dan sekaligus takut. Dalam tarik-menarik –takjub dan takut itu, kabar tentang “Kenangan dalam Keikhlasan” menegaskan sikap keberimanannya yang kukuh dan tak tergoyahkan. Hanya dengan kekuatan iman itulah si aku lirik (ayah) masih menyimpan setitik harapan dapat jumpa di Yaumil Mahsyar. Yang dalam bahasa Muhammad Irvan: menanti … di tempat yang dekat.

Demikian, sejumlah besar puisi karya penyair Aceh yang terhimpun dalam antologi ini memperlihatkan, betapa mereka tidak dapat begitu saja melupakan masa lalu, meski telah datang malapekata yang jauh lebih dahsyat: tsunami. Dalam hal ini, kebesaran masa lalu tentang dinamika intelektual Hamzah Fansuri atau Nurrudin, panji-panji keagungan para sultannya, dan heroisme Teuku Umar dan sederet panjang nama lainnya, seolah-olah tenggelam huru-hara konflik berdarah sesama saudara. Maka, tsunami disikapi sebagai peringatan atas sejumlah kelalaian itu.

Tsunami: Sebuah Persaksian

Selain sebagai “peringatan”, tsunami bagi sejumlah penyair Aceh lainnya –yang puisi-puisinya terhimpun dalam buku itu—merupakan peristiwa yang kedatangannya penuh dengan misteri yang dengan cara apapun tidak dapat dicari jawabannya. Jadi, di antara serangkaian pertanyaan yang justru malah menciptakan spiral pertanyaan, sejumlah penyair itu coba melakukan semacam persaksian. Maka, meski di sana-sini muncul hasrat melakukan refleksi evaluatif, mereka berusaha menangkap momentum tsunami sebagai bagian dari tanggung jawab sosialnya. Mereka berusaha merefleksikan persaksiannya, meski di belakang itu, ada sejumlah pertanyaan yang tak dapat mereka jawab: pertanyaan yang berada di luar batas logika; pertanyaan yang dapat digolongkan sebagai pertanyaan metarasional. Di situlah, puisi (: sastra) dapat ditempatkan sebagai potret sosial zamannya. Ia akan menjadi catatan sejarah yang sekaligus mengungkapkan berbagai akibatnya serta makna di balik peristiwa itu. Tentu saja sikap itu merupakan pilihan penyairnya sendiri. Bukankah setiap penyair (: sastrawan) kerap tidak dapat melepaskan dirinya dari fungsinya sebagai suara zaman?

Lihatlah sejumlah besar puisi Audi Nugraha, Arafat Nur, Azhari, D. Kemalawati, Deny Pasla, Deddy Satria, Dhe’na, Doel CP Allisah, Faridah, Fikar W. Eda, Fozan Santa, Jingga Gemilang, LK Ara, Mustafa Ismail, Mustika Ajerso, Nurdin F Joes, Ridwan Amran, Rosni Idham, Saifullah Thahir, Salman Yoga S. Sujiman A. Musa, Sukran Daudy, Sulaiman Juned, Sulaiman Tripa, Wina SW1, Win Ruhdi Bathin, Wiratmadinata, Yun Casalona.

Audi Nugraha dalam “Ada Apa Saat Itu” misalnya, menempatkan tsunami yang hanya dalam sesaat tiba-tiba menghancurkan segalanya. Ia seperti memotret hiruk-pikuk ketika gelombang tsunami bergulung-gulung di hadapan matanya. Ia takjub, sekaligus takut atas kedahsyatannya. Maka, tidak saat itu saja/manusia tetap ingat akan saat itu/ setiap saat pasti terjadi seperti saat itu/karena saat itu adalah milik-Nya//.

Dalam puisi “Jadi, Maka Jadilah” Audi Nugraha melihat tsunami sebagai fenomena alam yang di belakangnya, bisa saja tangan Tuhan ikut bermain. Ketika manusia melakukan eksploitasi dan eksplorasi alam, menguras kekayaannya tanpa mempertimbangkan ekosistem, dan membiarkan kerusakannya terjadi di mana-mana, ketika itulah alam tidak lagi diperlakukan sebagai “sahabat—saudara”. Alam menjadi sebuah kata benda yang dapat diperlakukan seenaknya. Maka, ketika ia memperlihatkan kekuasaan-Nya, segalanya sudah terlambat. Nugraha lalu mengajak kita melakukan perenungan: Sadarkah manusia bahwa alam bisa marah?/ Maka bersahabatlah dengan alam/karena manusia bukan makhluk bumi/kita diterima di alam ini karena titipan sementara dari Maha Pencipta//

Kesadaran manusia sebagai homo religius akan memperlihatkan intensitasnya ketika sesuatu yang mahadahsyat –kuasa alam—tiba-tiba datang serempak seperti hendak menyergapnya. Pada saat itulah manusia cenderung berlari atau mencari perlindungan pada sesuatu kuasa yang lain yang diyakini dapat menolongnya. Bagi umat beragama, sesuatu itu tidak lain adalah Tuhan. Inilah yang terjadi pada diri Asa Gayo yang diungkapkannya dalam puisinya yang berjudul “Baitur Rahman.” Maka ketika ia melihat kedahsyatan tsunami, secara instingtif ia serta-merta menempatkan Baitur Rahman sebagai “tempat berlindung.” Ya Rabbi/Izinkan kami bersujud/Di rumah-Mu yang suci/Izinkan/Izinkanlah kami yang hina ini/Bertaubat pada-Mu/Ya Rabbi//18 Hal itu pula yang dirasakan Arafat Nur (“Tsunami 3) yang menempatkan tsunami bukan sebagai “bencana” melainkan sebagai uluran tangan Tuhan berkat dzikir dan sembahyang, akan membawanya pada perjumpaan dengan Tuhan.

Dalam “Alia, Gadis Kecilku” si aku liris meyakini bahwa perpisahannya dengan sang bidadari itu sesungguhnya merupakan perjalan baginya untuk sampai pada Tuhan. Jadi, meski metafora yang dibangunnya begitu tenang, mengalun, seperti sebuah rintih kecil yang tak menggugat, ada kegetiran yang tak terucapkan di sebaliknya. Ia pun menempatkannya sebagai sebuah perjalanan untuk kelak jumpa kembali di Surga. … mungkin besok/atau lusa/kita bertemu juga/di surga//

Peristiwa perpisahan itu pula yang juga dirasakan Azhari (“Ibuku Bersayap Merah”) ketika orang-orang tercintanya tak ia jumpai di kampungnya. Meski begitu, Azhari pun berkeyakinan bahwa Tuhan tak akan membiarkannya berpisah tanpa arti. Malaikatlah yang akan membawa mereka berkumpul kembali.

D. Kemalawati dalam “Kita tak Belajar Membaca Tanda-Tanda” dan “Dahaga Laut” membuat persaksian atas kegalauan yang terjadi saat tsunami memperlihatkan tanda-tanda kedatangannya yang kemudian disusul dengan bertumpuk-tumpuk kegalauan lain yang tak terperikan. Sebuah potret metaforis yang seperti hendak menyihir kita (pembaca) untuk coba melihat dan merasakan sendiri peristiwa itu. Kedua puisi itu laksana pewartaan yang disuarakan melalui dunia batin yang ikut goncang. Berbagai cemas, takut, ngeri, sesal, dan entah segala rasa apa lagi seperti meluncur begitu saja menciptakan potret hitam yang garis-garis gambarnya masih dapat kita cermati. Kemalawati seperti hendak bercerita panjang dalam setiap lariknya yang padat. Hampir setiap lariknya membangun peristiwa yang mengajak kita untuk membayangkan kembali peritiwa 26 Desember itu.

Sebagai penyair (: sastrawan), Kemalawati telah menjalankan tugasnya menyampaikan kesaksian sebuah peristiwa yang terjadi pada zamannya. Tak ada air mata di sana, tetapi kita ikut hanyut dalam galau yang disampaikannya. Lalu, bagaimana ia menyikapi peristiwa itu? Pada larik terakhir kedua puisi itu jawabannya. … mengapa berlari dari masjid yang mengisyaratkan pentingnya kembali menghidupi masjid. Sementara dalam “Dahaga Laut,” Kemalawati masih menyimpan optimisme untuk membangun kembali Aceh dari sisa semangat yang berserakan: memungut kayu-kayu yang berserakan/untuk tiang gubuk kami yang baru//

Doel CP Allisah (“Ingatan”) juga menyampaikan persaksiannya atas musibah itu. Baginya, segenap korban adalah syuhada. Bagaimanapun, hanya kerelaan yang dapat ia lakukan sambil menyampaikan doa yang tak pernah putus. Di balik itu, tsunami makin meneguhkan keyakinannya pada kuasa Sang Khalik yang tak terbatas.

Persaksian yang lain disampaikan Rosni Idham yang keterkejutannya cukup ia katakana: Aku terperangah. Sebuah gebalau psikologis yang berada dalam batas tipis antara percaya dan tidak percaya, antara mimpi buruk dan realitas. Sebuah ekspresi psikis yang sebenarnya tidak mewakili apa-apa, tetapi sekaligus mewakili seluruh goncangan jiwanya yang dahsyat. Bagaimana ketika tiba-tiba jerit histeris, kekacauan, hiruk-pikuk, dan gelombangan tangis menghancurkan ketenangan? … aku terperangah/Aku tak mengerti maknanya/Aku terpajak kehilangan kata//

Sejumlah besar puisi dalam antologi ini sesungguhnya menyimpan begitu banyak peristiwa. Semuanya bersumber dan bermuara pada satu kata: tsunami! Pembicaraan ini jelas sama sekali tidak mengungkapkan keseluruhan persaksian yang disampaikan para penyair Aceh. Dengan demikian, pilihan puisi yang diambil sebagai contoh kasus pembicaraan ini pun, sekadar hendak menegaskan bahwa penyair Aceh, dengan caranya sendiri dan dalam suasana ketercekamannya, masih dapat membuat persaksian tentang musibah mahadahsyat itu. Maka, yang dapat kita tangkap dari persaksian itu adalah usaha mereka untuk menempatkan dan memaknai tsunami sebagai (1) peristiwa yang tidak berdiri sendiri mengingat ada persoalan lain di belakangnya, dan (2) peristiwa yang harus diterima sebagai sebuah hukum alam yang memang sudah terjadi. Maka, menerima dengan ikhlas dan menatap kembali masa depan adalah tindakan yang lebih bertanggung jawab. Bagaimanapun juga, Aceh harus bangkit kembali mengibarkan panji-panji keagungannya.

Melupakan Potret Buram

Bagian Dua yang bertajuk “Makam” menghimpun sejumlah puisi karya tiga penyair yang menjadi korban tsunami.19 Sebagai korban, pastilah ketiganya tidak berkesempatan memahami dan menempatkan tsunami. Mari kita coba melihatnya:

Ada 26 puisi dalam bagian ini. Lengkapnya: 10 puisi karya M. Nurgani Asyik, 11 puisi karya Maskirbi, dan lima puisi karya Mustiar AR. Dari ke-26 puisi itu, kita dapat merasakan bahwa jeritan paling kuat dari ketiga penyair ini bukanlah kerinduannya pada Sang Khalik, melainkan kecemasannya menyaksikan konflik berdarah yang tak kunjung selesai. Mereka bersaksi tentang Aceh yang terluka oleh tembakan, seorang anak yang membawa lukanya ke surga, anak negeri yang diperkosa kezaliman, rektor yang tak membayangkan kematiannya melalui pintu yang mana, dan serentetan peristiwa berdarah lainnya. Segalanya ingin dikisahkan, sebagaimana yang dikatakan Maskirbi: Banyak yang ingin kutulis/tapi tak tertulis/kata-kata sudah tak lagi sebagai kata// (“Gagap”). Apa maknanya bagi kita ketika persaksian ketiga penyair itu berkisah tentang Aceh yang luka oleh tembakan? Mustiar AR coba mengingatkan kita:

Ya Allah

Engkau Yang Maha Kuasa

damaikan hati saudaraku yang bertikai

tunjuki mereka ke jalan yang Kau ridhai

Amin Ya Rabbal Alamin

Maka, Aceh pascatsunami adalah Aceh yang …memungut kayu yang berserakan/ untuk tiang gubuk kami yang baru// Atau, dalam bahasa Helmi Hass: Menatap esok pagi dengan penuh semangat/Di sanalah ada iman!

***

Ziarah Ombak sungguh mewartakan banyak hal tentang tragedi mahadahsyat. Dalam kegetiran itu, para penyair Aceh mencoba membuat persaksian atas peristiwa itu menurut persepsi dan gebalau kegelisahannya masing-masing. Di belakang gebalau itu, kita seperti menemukan lubang kecil yang dari lubang itulah, terhampar begitu banyak kisah yang tak terucapkan. Ia menyimpan trauma yang bertumpuk-tumpuk. Dan dalam setiap tumpukannya, terpendam keagungan masa lalu Aceh yang dibalut oleh selimut luka berdarah. Lalu datang tsunami sebagai klimaksnya. Jangan ada lagi klimaks yang lain. Cukup sampai di sana. Maka, kinilah saatnya kita melangkah menuju babak baru yang lebih cerah dan bermartabat.

Menunggu Lahirnya Monumen

Karya agung lahir dari kegelisahan sastrawan melalui proses yang “berdarah-darah,” begitulah pernyataan Sutadji Calzoum Bachri dalam sebuah obrolan santai yang terjadi beberapa tahun lalu. Saya percaya pernyataan itu sebagai salah satu pengalaman spiritual seorang penyair—sastrawan dalam berhadapan dengan proses kreatifnya. Tentu saja yang dimaksud berdarah-darah itu adalah pernyataan metaforis untuk menggambarkan perjuangan seorang sastrawan dalam usahanya menemukan model estetik yang diharapkannya yang dalam bahasa Chairil Anwar: menggali kata sampai ke putih tulang!

Mencermati perjalanan panjang Aceh, saya sangat yakin, bahwa sastra Indonesia tinggal menunggu lahirnya sastrawan Indonesia garda depan dari Aceh. Lalu apa yang melandasi sikap optimistis itu?

Pertama, keagungan masa lalu kesultanan Aceh adalah lahan garapan yang begitu kaya dengan keagungan para sultannya dalam mengusung marwah Manusia Aceh, dan serangkaian peristiwa lain yang menghasilkan sejarah besar perjalanan Aceh.

Kedua, kontroversi tentang doktrin teologis sebagaimana yang terjadi pada diri Hamzah Fansur—Abdur Rauf Singkel—Nurruddin Ar-Raniri dengan segala ajaran tasawufnya adalah kekayaan teologis yang kemudian menyebar menyemarakkan pemikiran Islam di Indonesia.

Ketiga, kekayaan kultur Aceh dengan segala model etik, norma sosial, dogma agama, sikap budaya, dan entah apalagi, adalah sumber inspirasi yang lain lagi ketika segala kekayaan kultural itu diterjemahkan dalam karya sastra.

Keempat, luka sejarah, baik yang telah ditorehkan Belanda, Orde Baru, maupun konflik berdarah hanya karena perbedaan ideologi atau perbedaan sudut pandang dalam usaha membangun kembali keagungan Aceh.

Kelima, peristiwa tragedia mahadahsyat tsunami yang tidak sekadar meninggalkan luka psikologis dan harta-benda rakyat Aceh, tetapi juga meninggalkan dan menyimpan begitu banyak misteri dan kisah-kisah metarasional.

Persoalannya kini tinggal, bagaimana sastrawan Aceh menyikapi segala kekayaan itu dan mengolahnya menjadi sebuah mahakarya, menjadi sebuah tonggak, menumen yang kokoh berdiri tegak dalam perjalanan sastra Indonesia.

Makalah Seminar Sastra dalam Aceh International Literary Festival, diselenggarakan di Museum Tsunami, Banda Aceh, 5 Agustus 2009, Pukul 09.30—12.00.

** Maman S. Mahayana, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

1 Penjadian kesusastraan –dan secara keseluruhan, kebudayaan—Indonesia sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari pengaruh tiga pilar kebudayaan besar yang masuk ke wilayah Nusantara, yaitu kebudayaan India yang membawa Hinduisme dan Budhisme, kemudian kebudayaan Islam melalui kedatangan para gujarat, dan yang terakhir kebudayaan Eropa, terutama yang berhasil ditanamkan pihak kolonial Belanda. Di Pulau Jawa, kebudayaan India ini seperti mendapat lahan subur ketika berhadapan dengan kebudayaan setempat. Maka, ketika Islam masuk dan kesusastraan—kesenian dijadikan sebagai alat penyebaran agama (Islam), ikon-ikon kebudayaan India dan Jawa, sengaja dihadirkan sebagai kemasannya. Itulah sebabnya, Sunan Bonang menciptakan gamelan, dan Sunan Kalijaga menggunakan wayang sebagai alat penyebarluasan agama. Di Sumatera, terutama di Aceh, Semenanjung Melayu, dan Minangkabau, pengaruh kebudayaan India (hinduisme dan budhisme) tidak begitu kuat memasuki wilayah-wilayah itu. Meskipun demikian, penerimaan kebudayaan Islam tidak serta-merta menyisihkan kultur setempat, bahkan terjadi akulturasi.

2 Itulah nama wanita-wanita agung dalam sejarah perjalanan kesultanan Aceh. Sayangnya, di banyak buku pelajaran sejarah, nama-nama itu belum ditempatkan dalam konteks sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Dalam politik kolonial Belanda, peranan mereka sengaja ditenggelamkan untuk mengukuhkan citra mesianisme yang hendak dimainkan Belanda. Maka, ketika surat-surat Kartini dipublikasikan di Belanda, suaranya sampai ke Nusantara dan kemudian dibicarakan secara luas sebagai “peletak dasar” emansipasi wanita Indonesia. Nama-nama mereka, termasuk juga nama Aisyah Sulaiman Riau (lahir sekitar 1870-an—1930-an) nyaris tidak pernah disinggung (lihat Abdul Kadir Ibrahim, dkk, Aisyah Sulaiman Riau: Pengarang dan Pejuang Perempuan, Pekanbaru: Unri Press, 2004). Bandingkan peranan Kartini dengan peranan wanita-wanita Aceh yang disebutkan di atas. Bagaimana usaha Belanda menenggelamkan keagungan tokoh-tokoh wanita Aceh ini, tampak –salah satunya—dari penggambaran peranan Frederick de Houtman. Salah satu karya penting de Houtman adalah tata bahasa dan kamus Melayu—Belanda (1603). Inilah tata bahasa kamus pertama Melayu—Belanda, berjudul Spraek ende woord—boeck: Inde Maleysche ende Madagaskarsche talent met vele Arabische ende Turcsche woorden, 1603, viii + 225 halaman). Mengenai tarik-menarik bahasa Belanda dan Melayu dalam sejarah pendidikan kolonial Belanda di Indonesia, lihat Kees Groeneboer, Jalan ke Barat: Bahasa Belanda di Hindia Belanda, 1600—1950 (Jakarta: Erasmus Taalcentrum, 1995). Sejumlah buku yang menyinggung de Houtman cenderung hanya berkaitan dengan kamusnya itu. Tetapi, bagaimana latar belakang kamus itu disusun? Tak ada satu pun yang membicarakannya. Padahal, kamus itu disusun ketika de Houtman dipenjara di Aceh (1599—1601). Dan yang menangkap dan menjebloskan de Houtman ke penjara, tidak lain adalah Laksamana Keumalahayati, wanita pertama yang menjadi laksmana dalam sejarah maritim Indonesia. Mengenai riwayat tokoh-tokoh wanita Aceh itu, lihat Ismail Sofyan, M. Hasan Basry, dan T. Ibrahim Alfian (Ed.), Wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah, (Jakarta, 1994).

3 Periksa Hasan Muarif Ambary, “Banda Aceh sebagai Pusat Kebudayaan dan Tamaddun,” Kota Banda Aceh Hampir 1000 Tahun, Banda Aceh: Pemda Banda Aceh, 1988, hlm. 86—97. Artikel lainnya dalam buku ini mengungkapkan reputasi kesultanan Aceh, tidak hanya di wilayah Nusantara, tetapi juga menerabas memasuki wilayah Asia dan Eropa. Lihat juga Edi Sedyawati, dkk., Sastra Melayu Lintas Daerah, Jakarta: Pusat Bahasa, 2004, xii + 419 halaman.

4 Perjanjian persahabatan dan perdamaian yang ditandatangani Mayor Jenderal van Swieten dari pihak Belanda dan Sultan Ibrahim Mansur Syah dari pihak Kesultanan Aceh. Perjanjian ini sesungguhnya merugikan pihak Kesultanan Aceh, karena salah satu butir perjanjian itu menyebutkan pengakuan Aceh atas kekuasaan Belanda di Sumatera. Tahun 1858, Belanda melakukan pelanggaran atas perjanjian ini dengan ditandatanganinya sebuah perjanjian Belanda—Siak yang menyatakan bahwa Kerajaan Siak dan wilayah taklukannya, kini berada di bawah kekuasaan Belanda.

5 Selengkapnya, lihat Ibrahim Alfian, “Banda Aceh sebagai Pusat Awal Perang di Jalan Allah,” Kota Banda Aceh Hampir 1000 Tahun, Banda Aceh: Pemda Banda Aceh, 1988, hlm. 26—35.

6 Di dalam novel Hulubalang Raja karya Nur Sutan Iskandar (Balai Pustaka, 1934) digambarkan, bagaimana orang-orang Aceh terkenal dengan kebiasaannya merampok dan membunuh. Maka, kedatangan Belanda selain untuk membantu hulubalang Raja menghadapi para pemberontak, juga dalam rangka menumpas para perampok yang dilakukan orang-orang Aceh. Stigmatisasi itu juga dilakukan pada tokoh-tokoh Arab dan ulama Islam konservatif. Usaha yang dilakukan Gubernur Jenderal Rochussen (1856) dengan memberlakukan huruf Latin untuk berbagai keperluan komunikasi tertulis, resmi atau tidak resmi, di wilayah Nusantara pada hakikatnya tidak berbeda dengan pembutahurufan massal. Tiba-tiba saja, penduduk yang bisa baca-tulis dengan huruf Arab—Melayu (disebut juga huruf Jawi, Pegon, atau Arab Gundul yaitu bahasa Melayu atau bahasa setempat yang menggunakan huruf Arab), dikatakan sebagai buta huruf (niraksarawan) hanya karena tidak dapat menggunakan atay membaca huruf Latin.

7 Pembonsaian yang dilakukan Belanda ditujukan kepada para ulama muslim (tokoh-tokoh Islam) dan poros-poros budaya yang dianggap tidak akan memihak Belanda, dua di antaranya, Aceh dan Melayu. Maka, para penulis Aceh hampir tidak pernah mendapat tempat. Sastrawan Melayu seperti Raja Ali Haji, misalnya, perbincangannya tidak lebih banyak dibandingkan dengan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi.

8 Periksa Maman S Mahayana, “Politik Kolonial Belanda di Balik Pendirian Balai Pustaka,” Sembilan Jawaban Sastra Indonesia (Jakarta: Bening Publishing, 2005).

9 Periksa sejumlah tulisan Abdul Hadi WM, antara lain, Sastra Sufi: Sebuah Antologi (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1985), Kembali ke Akar kembali ke Sumber (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-Puisinya (Bandung: Mizan, 1995), Islam Cakarawala Estetik dan Budaya (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), dan Tasawuf yang Tertindas (Jakarta: Paramadina, 2001). Sejumlah besar penyair Indonesia, termasuk Sitor Situmorang yang non-Muslim, mengakui keterpengaruhannya pada karya-karya Hamzah Fansuri.

10 Dalam sejarah peperangan Belanda di Nusantara, tercatat bahwa perang melawan Aceh adalah peperangan yang paling lama, paling banyak menghabiskan biaya, dan paling banyak menelan korban dari pihak Belanda dibandingkan perang lain yang terjadi di wilayah Nusantara.

11 Konflik Aceh dengan Pemerintah Pusat dimulai dari ketidakpuasan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang coba menerapkan syariat (Islam) di Aceh. Ketakutan yang berlebihan dari Pemerintah Pusat telah menyebabkan konflik itu berkelanjutan, hingga terbentuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang memicu pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh.

12 Azhari dengan sangat bagus menggambarkan traged berdarah itu dalam cerpen “Yang Dibalut Lumut” (Perempuan Pala, Yogyakarta: Akademi Kebudayaan Yogyakarta, 2004).

13 Hampir semua karya yang mengangkat kegetiran rakyat Aceh sebelum terjadi tsunami mewartakan trauma atas konflik berdarah itu. Sekadar menyebut beberapa di antaranya, periksa Alia: Luka Serambi Mekah karya Ratna Sarumpaet (Jakarta: Metafor Publishing, 2003), Aceh Mendesah dalam Nafasku (ed. Abdul Wahid BS, Fikar W. Eda, dan Lian Sahar, Banda Aceh: KaSUHA, 1999), Aceh dalam Puisi (Ed. LK Ara, Bandung: Syaamil Cipta Media, 2003), Rencong karya Fikar W. Eda (Bekasi: KaSuha dan SAJAK, 2003, Cet. II, 2005). Bandingkan ekspresi kegelisahan sastrawan Aceh ini dengan sastrawan Riau sebelum otonomi daerah. Selain pengagungan terhadap masa lalu kerajaan Melayu dengan segala marwahnya, juga gugatan terhadap Jakarta sangat kuat mewarnai ekspresi kegelisahan mereka, meski juga tanpa luka yang diakibatkan oleh perang saudara.

14

D. Kemalawati dan Sulaiman Tripa (Ed.), Ziarah Ombak: Sebuah Antologi Puisi (Banda Aceh: Lapena, 2005, 235 halaman). Pembicaraan tentang buku ini pernah saya sampaikan dalam peluncurannya di Banda Aceh, 22 Oktober 2005. Saya sengaja mengulangi pembicaraan buku ini dengan penambahan di sana-sini untuk memberi gambaran selintas tentang kegelisahan para penyair Aceh dalam berhadapan dengan keagungan masa lalu kesultanan Aceh dengan segala heroismenya, pembonsaian yang dilakukan Belanda, kegetiran akibat konflik bersenjata antara sesama saudara, dan tragedi mahadahsyat tsunami.

15Sebagai wujud keprihatinan dan empati bahwa duka Aceh atas tragedi tsunami itu adalah duka kita, duka Indonesia, tampak dari gelombang solidaritas yang muncul secara spontan dari berbagai kalangan, usia, agama, organisasi dan entah apa lagi. Musibah itu sungguh telah menyentuh rasa kemanusiaan segenap bangsa di dunia. Lalu, seketika itu pula, tiba-tiba setiap orang merasa harus berbuat sesuatu untuk meringankan kedukaan rakyat Aceh. Sejumlah buku tentang ekspresi solidaritas itu, juga diterbitkan, tiga di antaranya, Maha Duka Aceh (Jakarta: PDS HB Jassin, 2005), Duka Atjeh Duka Bersama (Yogyakarta: Logung Pustaka, 2005), dan Amuk Gelombang (Medan, Star Indonesia, 2005). Buku-buku lain pasti masih akan terus bermunculan. Semua menunjukkan ekspresi solidaritas bahwa duka Aceh adalah duka kita, duka Indonesia, duka umat manusia.

16 Dalam politik identitas, konsep “Kita” dan “Mereka” penting artinya untuk memberi kesadaran tentang jatidiri sebuah bangsa atau komunitas. Aceh dalam konteks keindonesiaan adalah bagian dari diri “Kita” yang ditandai berdasarkan kesamaan sejarah perjuangan, afiliasi kultural, sistem pemerintahan, wilayah teritorial (space), dan kewarganegaraan (nationality). Meskipun demikian, sikap chauvinistik yang berlebihan atau ketidakpercayaan pada pemerintah dapat melahirkan ketidaksetiaan yang kemudian berujung pada usaha merumuskan identitas sendiri. Maka, sangat mungkin warga Aceh melihat warga di luar Aceh atau sebaliknya membuat semacam garis pembatas identitas yang ditandai dengan penyebutan “kita” dan “mereka”. Masalah Aceh dalam konteks keindonesiaan itu, tidak dapat lain, kecuali menempatkannya sebagai “Kita” yang didasarkan oleh sejumlah kesamaan yang disebutkan di atas.

17 Mencermati sejumlah besar puisi penyair Aceh sebelum terjadi tsunami, kita akan mendapati ekspresi mereka yang cenderung didominasi oleh trauma konflik bersenjata itu. Trauma psikologis itu tidak lagi menjadi milik orang per orang, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan keseharian masyarakat. Inilah yang psikoanalisa disebut sebagai ketaksadaran traumatic kolektif. Artinya, kegetiran itu sudah menjadi ketakutan massal. Penyembuhannya hanya mungkin dapat dilakukan jika konflik bersenjata itu sudah benar-benar tidak lagi terjadi di Aceh.

18 Lihat Sigmund Freud, The Future of an Illusion, London: Hogarth Press, 1961. Meskipun Freud menyebutnya sebagai frustasi karena alam, dalam konteks tsunami sebagai fenomena alam, penyair Aceh ini melihat tsunami justru bukan lantaran sikap frustasi, melainkan kesadaran instintif atas keakrabannya dengan Tuhan. Masjid Baitur Rahman kemudian menjadi simbol tempat “bersemayam” Tuhan.

19 Pemuatan karya tiga penyair yang menjadi korban tsunami tentulah dimaksudkan oleh editor buku ini sebagai penghargaan dan penghormatan atas kiprah kepenyairannya.

Sumber: MAHAYANA-MAHADEWA.COM http://mahayana-mahadewa.com/2010/09/11/sastra-aceh-sebuah-perjalanan-panjang/#ixzz1OWAUSIF0

Iklan

Kompasiana

OPINI | 14 June 2011 | 17:4229 6  1 dari 1 Kompasianer menilai inspiratif


Dulu sewaktu kuliah saya seringkali menulis puisi, dan waktu itu antara tahun 1995 s.d 1998,  puisi-puisi saya sering dimuat di sebuah Harian Lokal di Aceh yang sampai saat ini masih eksis yaitu harian Serambi Indonesia. Namun sayang semua puisi-puisi saya termasuk yang pernah dimuat itu  hilang dibawa arus gelombang Tsunami.

Dalam sebuah essey budaya saat itu (saya lupa judul dan penulisnya) nama saya pernah tercantum sebagai salah satu penulis puisi aktif di Aceh. Saat itu, di harian lokal itu setiap hari minggu memang ada satu halaman  budaya. Setelah tsunami, kolom itu sempat tidak ada lagi. Namun, saya melihat beberapa bulan terakhir ini, sudah ada halaman budaya tersebut. Hal yang sangat berkesan saat itu, pernah dimuat empat puisi saya sekaligus, dengan tajuk Sajak-Sajak Djamaluddin Husita.

Bahkan saat itu, pada bulan Agustus 1999 tiba-tiba mendapat sebuah surat yang ditujukan kepada saya yang isinya meminta saya menghadiri pertemuan sastra di Medan mewakili Aceh. Kalau tidak salah surat itu ditandantangi Hasyim KS (Alm), kalau tidak salah juga, beliau  redaktur budaya serambi indonesia saat itu. Namun sayang, pada saat yang hampir bersamaan juga, datang undangan kuliah ke salah satu Universitas di Bandung. Mungkin karena sibuk kuliah, takut kehabisan beasiswa, kebiasaan menulis puisi hilang.

Saya ingin sampaikan pengalaman saya bagaimana awal mulanya saya menulis puisi. Sejak SMA saya sudah sering sekali membaca buku puisi. Setiap kali selesai membaca, selalu ada keinginan dalam hati  untuk menulis puisi. Tetapi, setiap kali saya selesai menulis puisi selalu membuat saya tidak puas dengan apa yang telah saya tulis itu. Memang, beberapa saat selesai menulis saya merasa apa yang saya tulis itu bagus. Namun, selang beberapa hari kemudian terasa puisi itu tidak tidak ada apa-apanya. Lalu keinginan puisi hilang begitu saja.

Pada saat saya kuliah, meskipun saya bukan kuliah di jurusan sastra, tiba-tiba muncul keinginan saya untuk kembali menulis puisi. Hal itu karena saya membaca sebuah antologi puisi penyair Aceh. Beberapa nama penyair yang sangat terkenal di Aceh menulis puisinya di sana. Nama-nama yang sangat mempengaruhi saya, sebut saja Alm. Hasyim KS, Hasbi Burman (oleh harian kompas disebut presiden rex), Doel CP Alisah dan termasuk generasi muda saat  itu yang saat ini masih sangat eksis adalah D’Kemalawati, WinaSw1, serta teman kuliah seangkatan saya Budi Arianto (Budi Art), serta masih ada beberapa yang lain.

Membaca puisi-puisi mereka itu yang memang sering menghiasi koran Serambi Indonesia keinginan saya menulis puisi muncul lagi. Terus terang saya begitu penasaran saat itu. Kenapa orang itu bisa. Karena penasaran, lalu saya baca berulang semua puisi mereka. Saya pelajari kata perkata sampai akhirnya saya bisa memahaminya. Lalu kerena itu kemudian muncul inspirasi untuk menulis puisi.

Kemudian, seingat saya, sekitar pertengahan/akhir tahun1995 puisi pertama saya dimuat di Serambi Indonesia. Terus terang saya betul-betul tidak ingat apa judul puisi pertama yang dimuat itu. Sebab, semua dokumen puisi itu termasuk komputer lenyap dibawa arus tsunami. (saya tidak tahu, apakah puisi saya yang pernah di muat si serambi masih ada tersimpan di harian serambi indonesia). Tetapi satu hal yang saya rasakan saat itu adalah perasaan senang.

Hanya ada satu-satunya puisi  masa lalu saya yang tersisa, yang masih disimpan seseorang. Beberapa hari yang lalu diperlihatkan kembali pada saya. Puisi itu belum ada editan apapun. Saat itu saya tulis begitu saja. Judulnya: Menangislah Adinda.

Menanggislah adinda

(sebuah catatan)

 

Ketika kulihat rinai hujan membasahi kelopak matamu

rinai itu menyentuh perasaanku

lalu beribu-ribu syair ingin kutuliskan untukmu

 

adinda (bila tiba-tiba aku memanggilmu begitu)

bukan semata aku ingin menyelami telaga biru

mengajakmu menyaksikan ikan-ikan bekejaran di sana

lalu kita larut dalam kenisbian waktu

 

adinda (kalau boleh aku menyebutmu begitu)

ada yang ingin kusampaikan,

lebih dari sekedar cinta dan kasih sayang

sebuah ketulusan

 

…………………….

bila kini kutegur keinginanmu berterus terang

bukan karena sesuatu alasan, sekedar menutupi kelemahan

lalu menawarkan bermacam dalih

karena ku tahu,

aku bukanlah Ibrahim yang mampu mengulas pengertian

tapi aku bukan juga Ismail yang begitu pasrah

 

aku tahu, kau juga tahu aku ini bukan Nuh

(tak mampu membuat perahu,

dimana kau harus ada dan bersungguh-sungguh,

tidak pula  agar kau segera serta

karena kepercayaan tidak bisa dipaksakan)

 

saat kulihat rinai hujan membasahi kelopak matamu itu

ada yang harus kau tahu

aku juga ingin sepertiimu

menangis di atas ridhanya

meskipun aku tidak punya lagi air mata

 

maka menangislah adinda

Tuhan masih membimbingMU

menjaga kemurnian lautan hati

banda aceh, Mei 1997

(DJ. H. Woyla)

Mungkin, pengalaman saya ini bisa menjadi pengalaman bagi anak-anak muda yang ingin menulis, terutama menulis puisi.  Mudah-mudahan bermanfaat (DJH).

www.husita.net

 

Serambi Indonesia / Senin,13/6/2011

 

 LAMPUKI, novel pemenang unggulan sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2010, yang ditulis Arafat Nur, meneguhkan bukti bahwa Aceh tidak pernah sepi dari kelahiran penulis berbakat dan potensial. Novel ini melengkapi kelahiran beberapa novel sebelumnya, Putroe Neng ditulis Ayi Jufridar, dan Samudra Pasai karya Putra Gara. 


Sebelum itu telah lahir pula novel  yang ditulis penulis senior Aceh TI Thamrin “Bidadari Hitam”  dan novel “Tungku” oleh Salman Yoga. Novel Lampuki dan novel lain yang lahir di era pergolakan, era damai, dan pascatsunami, diharapkan menjadi pendorong bagi maraknya gairah kepenulisan sastra, terutama novel di tanah Aceh. “Saya bahagia bisa melahirkan novel ini. Mudah-mudahan mampu menjadi api bagi dunia kepenulisan kita di Aceh,” kata Arafat Nur. Dibanding puisi, karya-karya novel memang masih terbatas.

Semangat serupa diungkapkan Putra Gara, yang menulis Samudra Pasai, dan Ayi Jufridar penulis Putroe Neng. Putra Gara yang  diundang dalam berbagai forum diskusi bedah “Samudra Pasai” merasa bahagia apabila karyanya mampu memantik kesemarakan potenis kepengarangan di tanah Aceh.

“Saya menulis novel itu dengan semangat ingin menulis saja. Kalau itu baik untuk merangsang gairah kepenulisan di Aceh, tentu akan sangat bahagia,” kata Gara yang melahirkan Samudra Pasai melalui sebuah peristiwa mistis. Sesuai judulnya, Samudra Pasai  berkisah tentang era Kerajaan Samudra Pasai, yang pernah gemilang pada jamannya.

Putroe Neng,  dengan latar Zaman klasik Aceh, membutuhkan penggalian dan penelitian intensif untuk menghidupkan legenda “menakjubkan” dari seorang putri asal Tiongkok. “RefErensinya terbatas. Tapi saya harus mulai. Mudah-mudahan ada manfaatnya bagi masyarakat dan semangat kepenulisan kita,” kata Ayi Jufridar, anak muda yang terbilang rajin melahirkan novel dengan latar belakang Aceh.

Sangat Cerdas
Novel Lampuki setebal 430 halaman dengan kulit  berwarnah merah  bergambar seorang lelaki garang menyandang bedil,  membutuhkan penggarapan selama dua tahun lebih, banyak menguras tenaga, pikiran, dan dana.

“Tidak ada lain yang saya pikirkan saat menggarapnya, kecuali bagaimana novel ini bisa dinikmati oleh semua orang dan semua orang akan menyukainya, termasuk mereka yang mencintai dunia olahraga,” ujar Arafat.

Kelahiran Lampuki  mendapat respons luas publik sastra Indonesia. Berbagai kalangan memuji novel itu, yang  menunjukkan dunia baru dengan kenyataan-kenyataan yang mempengaruhi situasi kini.

“Lampuki termasuk novel unik, utuh, kaya, diceritakan dengan sangat cerdas dan memikat. Arafat  memerhatikan segalanya. Itulah sebabnya kami menerbitkan karya ini,” kata Anton Kurnia, Ketua Editor PT Serambi Semesta, yang menerbitkan novel itu. Anton mengharapkan novel ini dapat diterima secara  luas.

Banyak kebaruan di dalam Lampuki yang berbeda dengan kebanyakan sastra Indonesia pada umumnya, termasuk cara bercerita Arafat yang penuh dengan kemarahan, tetapi uniknya menimbulkan humor-humor. “Hal ini tidak lain karena penulisnya menguasai majas dengan baik, sehingga satir-satirnya sangat cerdas dan membangun,” jelasnya.

Gol A Gong, penulis dan Ketua Forum Taman Baca Masyarakat Indonesia, dan pendiri komunitas Rumah Dunia, Serang mengaku cukup terperangah pada novel tersebut. “Lagi-lagi Aceh membikin kejutan! Sebelumnya soal perang, lalu tsunami, dan kali ini Lampuki. Kisahnya amat menyentak dan sangat berani,” serunya.

(fik)

 

 

PENAMPILANNYA jauh dari kesan seorang presiden. Urak-urakan. Baju apa adanya. Rambut keriting yang jarang disisir. Selalu memakai sandal jepit ke mana pun bepergian. Tak ada mobil foraider, layaknya seorang presiden. Kendati seorang presiden, pria berusia 63 tahun ini bukanlah pemimpin negeri. Dia hanya seorang pria yang dijuluki sebagai Presiden Rex!

Hasbi Burman namanya. Pria kelahiran Lhok Buya, Calang, Kabupaten Aceh Jaya, ini sejak 1991 silam kerap disapa presiden. Dia nyaman dengan gelar yang dilakabkan oleh Kompas ini. Pada mulanya Hasbi hanyalah seorang tukang parkir yang sering mangkal di Pasar Ikan Peunayong, Jalan Perdagangan Pasar Aceh, dan Rex Peunayong.

Di sela-sela menjalankan tugasnya sebagai seorang tukang parkir, Hasbi suka menulis puisi dan syair. Puisi yang ditulis Hasbi menggelitik, sarat makna, dan dengan tema yang beragam. Lihat saja misalnya ketika Hasbi menulis puisi tentang Calang, tanah kelahirannya, yang remuk.

 

Kota yang angkuh
Kapal tak singgah lagi
Dermaga jadi bingkai
Besi-besi berkarat
Cinta demi cinta
Tenggelam di laut ini..

Puisi itu ditulis Burman pada 1985, jauh sebelum Calang hancur digempur gelombang tsunami dari tiga penjuru angin. Tsunami telah mematikan –sekaligus kembali membangkitkan – kota Calang. Namun, Burman tidak hanya sedang membicarakan tentang kandasnya Calang, tapi dia sedang bercerita tentang kandasnya cinta seorang anak manusia, yang tak kesampaian.

Burman mengakui banyak puisi yang ditulisnya tentang cinta, kerinduan, dan perempuan. Apalagi, perempuan bisa memberikan inspirasi baginya dalam merangkai kata menjadi puisi indah yang memukau.

Pada suatu waktu, Hasbi Burman pernah mengatakan bahwa dia belum menemukan cinta seutuhnya. “Saya memang telah mempunyai seorang istri, tapi saya belum menemukan cinta yang utuh,” kata dia.

Pernyataan ini membuat orang kaget. Tapi bagi Burman, ”cinta yang saya maksud bukan hanya cinta dalam artian suka. Tapi cinta adalah kehangatan, keramahtamahan, belaian, dan manja. Jujur, saya belum mendapatkannya,” jelas Hasbi. Karenanya, tak heran jika sejumlah puisi yang ditulis Hasbi Burman ada yang bercerita tentang cinta yang gagal.

Selain bertema cinta, puisi-puisi Burman banyak berbicara tentang alam, yang indah, angkuh, dan hancur. Bagi penyair L.K. Ara, seperti dilansir Koran Tempo, Hasbi adalah sosok penyair, ”seperti pengembara yang dekat dengan alam”. Lihat saja misalnya puisi yang diberi judul ”Lhok Geulumpang”, ”Rigah”, dan ”Calang”.

Bukan hanya LK Ara yang memuji sajak-sajak yang ditelurkan Hasbi Burman. Doel C.P. Allisah dan Udin Pelor, juga memuji Hasbi. Menurut Udin Pelor, puisi-puisi Hasbi mempunyai kekuatan tersendiri dan khas. Dia sendiri paling menyukai puisi yang berjudul ”Suatu Malam di Rex”. “Saya mengagumi puisi-puisi Hasbi Burman, yang dianggap sebagai manusia aneh ini,” kata Udin Pelor.

Hasbi Burman dikenal sebagai penyair yang otodidak. Kemampuannya merangkai kata menjadi puisi tidak dipelajarinya di universitas. Menurut Hasbi, kesukaannya menulis puisi mulai tumbuh sejak duduk di bangku kelas empat Sekolah Rakyat (setingkat Sekolah Dasar –red.) di Calang, 1958 silam. Hasbi semakin giat menulis setelah puisinya dimuat di mingguan Pejuang pada tahun 1960.

”Sejak itu, saya terus menulis puisi,” kata pria kelahiran tahun 1944 ini. ”Bagi saya, puisi adalah kebutuhan bagi jiwa saya yang haus. Setelah menulis puisi, jiwa saya terpuaskan.”

Hasbi banyak belajar dari pengalaman dan membaca. Dia banyak belajar dari cara Chairil Anwar menulis sajak dan syair. Tak heran, karena dia pengagum Chairil Anwar. ”Yang saya suka, Chairil Anwar menjadi diri sendiri, tidak terpengaruh dengan penyair lain,” kata Hasbi yang juga mengagumi Bung Karno.

Pada tahun 1976, Hasbi hijrah ke Banda Aceh, mencari peruntungan di kota bersejarah ini. Namun, nasib mengantarkannya menjadi seorang petugas parkir. Mula-mulanya, dia mangkal di Pasar Ikan Peunayong, lalu pindah ke Jalan Perdagangan Pasar Aceh, hingga selanjutnya terdampar di Rex.

Di Rex, Hasbi bukan hanya sekadar tukang parkir. Dia bergaul dengan banyak orang di sana, tua-muda, miskin-kaya. Bukan hanya itu, dia juga semakin giat dalam melahirkan karya-karyanya.

 

Karenamu yang begitu anggun
Menegur anak lanang pulang malam
Mencari jejak merpati di sudut-sudut kota
Penuh dengan debu harapan
Kini kemilau merkuri telah muram
Terbungkus angan
Karenamu begitu ramah
Dulu-dulunya
Walau kini hanya tinggal sebuah kekembaraan
Yang mengungsi di sudut hati…

Rex seakan menjadi rumah bagi seorang Hasbi. Di pusat jajanan yang dikepung pertokoan dan hotel ini, Hasbi semakin meneguhkan dirinya sebagai seorang penyair yang dikenal banyak kalangan. Melalui puisi-puisinya, dia bisa menjalin kedekatan dengan Gubernur Aceh Ibrahim Hasan, yang kemudian mempercayainya untuk mengoordinasi penerbitan buku antologi puisi-puisi penyair Aceh. Dari sana kemudian lahir antologi puisi Sosok.

Hasbi memang pandai bergaul. Saat Abdullah Puteh memimpin Aceh, Hasbi juga bisa mendekati lingkaran kekuasaan. Bahkan, dia pernah menghadiahi istri Abdullah Puteh, Marlinda Poernomo, dengan seuntai puisi.

Nama Hasbi tidak hanya dikenal di kelas lokal saja. Nasional juga sudah dirambahnya. Puisi-puisinya bertebaran di sejumlah media cetak nasional. Tak jarang, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pernah memberikan penghargaan kepada Hasbi, sebagai seorang penyair yang telah memajukan dunia sastra di Aceh.

Saat tsunami menghantam Aceh, nama Hasbi semakin harum. Tak jarang, Helmi Yahya, presenter televisi, ikut membacakan puisi Hasbi Burman yang berjudul ”Calang”, saat menggalang dana bagi korban gempa dan tsunami di Aceh.

Namun seiring perjalanan waktu, bintang Hasbi Burman semakin redup. Anak-anak muda sekarang jarang mengenal si presiden Rex yang merakyat dan berpenampilan sederhana. Karya-karya Hasbi juga tidak lagi membombardir media lokal di Aceh.

Hasbi tidak ingin bintangnya terus meredup. Dia terus ingin menyinari Aceh dengan lampion sastra yang diyakininya, dengan melahirkan lagi sajak-sajak yang menggambarkan cinta, kebangkitan, dan alam. Bukan hanya Hasbi yang tidak ingin bintangnya tenggelam dimakan waktu.

Sejumlah sahabat dan sejawatnya menaruh banyak harapan supaya sang presiden bisa kembali mencengkeram kekuasaannya di Rex. Pada Sabtu (26/5) malam ini, mereka menggelar pagelaran yang bertajuk ”Malem Diwa Ditroun: Semalam Suntuk Bersama Hasbi Burman”.

Di malam apresiasi ini, Hasbi akan kembali unjuk-gigi, membacakan karya-karya monumentalnya yang menggugah pembaca. Kali ini, dia tidak ingin sendirian membaca puisi. Sejumlah seniman seperti Doel CP Allisah, AA Manggeng, Din Saja, Nani HS, Fozan Santa, Azhari, D. Kemalawati, dan sejumlah seniman lain akan ikut bersama Hasbi membacakan puisi sang presiden. Tak ketinggalan, sejumlah pejabat juga diundang untuk ikut membacakan puisi di malam kembalinya sang presiden yang terlupakan.

[www.acehkita.com, Sabtu, 26 Mei 2007]

Acehkita.com / OLEH: RADZIE – 30/05/2011 – 17:54 WIB

JEJERAN kitab kuno tersusun rapi di atas meja di ruang tamu. Warnanya tak lagi utuh. Lembaran kitab kuno yang tadinya berwarna putih, kini kecoklatan, dimakan usia. Luffat al Tullab, nama salah satu kitab kuno itu. Kitab karangan Syeikh Zakaria Ansari ditulis pada abad 16 masehi. Sisi terluar kitab kuno itu sobek, dimakan rayap. Manuskrip kuno tulisan tangan Syeikh Zakaria itu berisikan pelbagai macam topik, mulai dari hukum Islam, cara berjihad, seni dan sastra, sejarah, hingga pengobatan.

Di sudut lain, agak tersembunyi dari ruang tamu, naskah kuno yang lain tersusun seadanya. Di sini, ada sekitar lima buku kuno. Ada Mir-at al Tullab karangan Syeikh Abdul Rauf Al Singkili atau yang tenar dengan nama Syiah Kuala. Kitab ini menjadi rujukan Syiah Kuala, hakim agung kerajaan, dalam memutuskan pelbagai perkara di Kesultanan Aceh Darussalam. Mir-at al Tullab digunakan pada masa pemerintahan Ratu Safiatuddin (1641-1675) hingga Ratu Kamalat Syah (1688-1699).

Tarmizi A. Hamid | Foto-foto: Radzie/ACEHKITA.COM

Jangan bayangkan naskah itu tersimpan di Museum Negeri Aceh. Bukan. Manuskrip kuno yang usianya hampir lima abad itu, tersimpan di rumah Tarmizi Abdul Hamid. Ia warga biasa. Hanya pegawai tingkat menengah di Balai Pengembangan Teknologi Pertanian Aceh. Sore itu, di ruang tamunya yang sempit, Tarmizi hanya “memamerkan” beberapa judul naskah kuno saja. Ia telah mengoleksi tak kurang dari 500 manuskrip kuno yang ditulis sepanjang abad 15 hingga 19 masehi.

Tarmizi berkenalan dengan naskah kuno usai lawatannya ke Singapura pada 1995 lalu. Itu pun secara tak sengaja. Pada tahun itu, Tarmizi mengunjungi negeri singa untuk sebuah urusan dinas kantornya. Saat mengunjungi salah satu museum di Singapura, Tarmizi melihat sejumlah koleksi naskah kuno yang ditulis oleh orang Aceh tempo dulu. Di Aceh, Tarmizi tak menjumpai naskah kuno ini.

“Mereka mengoleksi mahakarya orang hebat Aceh,” kata pria yang akrab disapa Cek Midi itu, Jumat (27/5).

Begitu pulang ke Aceh, Tarmizi bertekad untuk melestarikan peninggalan indatu-nya. Ia mulai berburu naskah kuno yang tercecer pada warga Aceh. Manuskrip pertama yang dia peroleh yaitu Sir al Salikin, karangan Syeikh Abdul Samad Palembani. Kitab ini diperoleh dari seorang warga di Kecamatan Jeunieb, Bireuen, pada pertengahan 1995. Ia juga berburu hingga ke Riau.

“Manuskrip yang saya simpan merupakan yang tercecer dari masyarakat di seluruh Aceh,” ujar Tarmizi.

Pelbagai macam cara digunakan untuk memperoleh literatur kuno yang sarat dengan ilmu pengetahuan itu. Kadangkala, ia menukar naskah dengan al-Quran cetakan masa kini. Di lain waktu, ia melakukan barter: naskah ditukar dengan beras atau padi.

“Kalau kita beli tidak sanggup, karena nggak ada standard harga. Kalau dipatok harganya pun, pasti tidak sanggup kita beli,” ujar suami Nurul Husna ini. “Saya cuma memberikan kompensasi pada mereka sebagai ucapan terimakasih.”

Pun begitu, tak terhitung lagi entah berapa ratus juta uang telah dikeluarkan Tarmizi. Terakhir, ia menjual enam petak tanah peninggalan orangtuanya di Pidie, untuk membiayai perawatan naskah yang telah dikoleksinya.

Usahanya melestarikan peninggalan masa lampau tak sia-sia. Hingga kini, di rumahnya, Tarmizi telah mengoleksi sekitar 500 naskah kuno. “Naskah-naskah itu gudang ilmu pengetahuan. Ada soal tasawuf (sufi), agama, astronomi, psikologi, sejarah, tauhid, hukum Islam (fiqh), termasuk ilmu perbintangan, ilmu falaq,” kata dia. “Tinggal Aceh, dan Indonesia saja yang harus memanfaatkannya.”

Naskah kuno koleksi Tarmizi A. Hamid.

Manuskrip itu beraksara Arab-Jawi. Tak semua orang pandai membaca aksara ini. Meski beraksara Arab-Jawoe, kebanyakan manuskrip koleksi Tarmizi berbahasa Melayu. Hanya sedikit saja yang ditulis dalam bahasa Aceh. Karena itu, kini Tarmizi punya tugas baru, agar koleksinya itu bisa dimanfaatkan bagi pengembangan ilmu pengetahuan di Aceh masa kini.

Pelan-pelan, ia mengajak kawannya yang peduli pada naskah kuno untuk mengalih-aksarakan naskah itu: dari Arab-Jawi ke latin. Baru dua kitab saja yang telah rampung dialih-aksarakan, yaitu Nazam Aceh (Syair Perempuan Tasawuf Aceh) karangan Pocut di Beutong dan Hujjah Baliqha Ala Jama Mukhashamah karya Jalaluddin bin Syekh Jamaluddin Ibnu Al Qadhi.

Sedangkan Mir-at Al ThullabTarjuman Multafiq (keduanya karangan Syiah Kuala);Durar Li Syarhi Al Aqaid karangan Syeikh Nuruddin Al Raniry; dan Tajjul Muluk, masih dalam proses alih-aksara. “Biar anak muda sekarang bisa belajar,” kata dia.

Usaha lain, ia mendigitalisasi naskah-naskah itu. Baru 20 judul naskah saja yang berhasil didigitalisasi. Selain kekurangan dana, Tarmizi juga terhambat di sumberdaya manusia. “Seharusnya ada gerakan yang masif untuk mendigitalkan naskah-naskah ini,” sebut Tarmizi.

Keuntungan digitalisasi, selain agar naskah ini punya salinan, “Saya punya cita-cita naskah ini juga bisa diakses siapa pun, dari mana pun juga. Jadi tidak mesti datang ke rumah saya,” katanya.

Jika kelak naskah itu diunggah ke perpustakaan di internet, Tarmizi berharap bisa menemukan naskah serupa di negara lain, sehingga bisa menyempurnakan bagian-bagian naskah yang hilang.

Lagi-lagi, keterbatasan dana menjadi penghambat upaya Tarmizi mengawetkan manuskrip ini. Pada tahun pertama usai tsunami, Tarmizi memperoleh bantuan dari Pemerintah Jepang untuk merestorasi naskah yang sobek atau dimakan rayap. Namun belum semua naskah berhasil direstorasi. “Harga kertasnya mahal, satu meter saja hingga Rp 23 juta. Tidak sembarang kertas,” ujarnya. Kertas untuk restorasi menyerupai kertas plastik berserat tipis. Warnanya putih.

Merawat ratusan naskah kuno perlu dana besar. Sebagai seorang pegawai tingkat menengah, jelas Tarmizi bakal kelimpungan. Jadilah, ia hanya merawat manuskrip-manuskrip itu dengan cara yang masih sangat tradisional. Ia membalut manuskrip itu dengan kain yang telah ditaburi kapur barus, lada hitam, lada putih, dan cengkeh. “Biar rayap tidak memakan buku-buku ini,” kata Tarmizi.

Beruntung, kertas buku, mushaf, al-Quran, dan kitab yang diproduksi negara-negara Eropa pada akhir abad 18 dan awal abad 19 cocok untuk suhu di Aceh. “Bisa bertahan ratusan tahun asal dipelihara dengan baik,” kata Dr. Annabel Gallop, peneliti dari The British Library.

Dr. Annabel Gallop dari The British Library

Sore itu, Annabel mengunjungi rumah Tarmizi di Kompleks Balai Pengkajian Teknologi Pertanian di Lampineung, Banda Aceh. Annabel terkagum-kagum dengan mushaf dan kitab Mir-at Al Tullab yang ditulis tangan. “Jumlah naskah tentang Islam dari Aceh sangat banyak, yang ditulis dalam bahasa Melayu untuk menyebarkan agama Islam,” kata perempuan yang fasih membaca tulisan Arab-Jawi.

Menurut Annabel, naskah karangan ulama Aceh pada abad 16 hingga 19 punya ciri khas tersendiri. Seni kaligrafi dan hiasan di sampul dan di pinggir setiap halaman, mempunyai nilai seni tinggi. “Mungkin ini identitas bangsa. Struktur yang digunakan juga sama, ada garis vertikal di setiap lukisan gambar di pinggir halaman. Tapi Aceh masih kalah dengan seni dari Pattani, Thailand Selatan,” ujar doktor asal Inggris ini.

Annabel menyayangkan jika Tarmizi dibiarkan seorang diri merawat ratusan naskah yang punya nilai tinggi ini.

Lantas, adakah perhatian dari pemerintah untuk merawat naskah ini? Menurut Tarmizi, ia pernah menerima tawaran untuk menyimpan ratusan naskah itu di Museum Negeri Aceh dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Perpustakaan Nasional pernah meminta Tarmizi menjual manuskrip itu. Namun ia menolak. Jika dijual, naskah-naskah itu akan diangkut ke Jakarta.

Ia juga mendapat tawaran Museum Aceh untuk menyimpan naskah itu di sana. Tapi tak jelas bagaimana mekanisme perawatan dan penyimpanan di museum, termasuk bagaimana kalau naskah itu hilang dan terbakar. Hal-hal teknis itulah yang kemudian mengurungkan niat Tarmizi untuk mengabaikan tawaran museum.

Menurut Tarmizi, jika pemerintah serius untuk melestarikan manuskrip yang menggambarkan kegelimangan Aceh di bidang pendidikan dan seni budaya pada masa lampau, ada baiknya membantu upaya yang tengah dilakukan sekarang ini, yaitu digitalisasi. Ia butuh banyak mikrofilm dan sumberdaya manusia.

Tarmizi menghabiskan separuh usia dan hartanya untuk melestarikan peninggalan indatu, agar generasi Aceh masa kini bisa mempelajari pelbagai pengetahuan yang telah diabadikan pendahulunya. “Saya bangga menyimpan naskah-naskah ini,” aku pria kelahiran Pidie, 45 tahun silam ini. [A]

 

 

 Adnan PMTOH (gemasastrin.wordpress.com)

Jika negeri belahan Asia Barat sana ada yang menda­pat julukan sebagai “Negeri Seribu Satu Malam”, kami menilai Aceh sebagai negeri seribu satu hikayat. Gelar ini kami berikan untuk Aceh dengan tanpa menafikan ge­lar-gelar lainnya seperti Serambi Makkah, Tanah Rencong, Negeri Iskandar Muda, Negeri Syariat Islam, Daerah Mod­al, atau julukan lainnya. Gelar “Seribu Satu Hikayat” kami berikan karena Aceh memang banyak menyimpan kisah lama, baik suka, duka, luka, nestapa, sengsara, air mata, canda, tawa, atau kisah bahagia akan kejayaan Is­kandar Muda yang selalu dikenang sepanjang zaman. Kisah-kisah itu, di Aceh bukan lagi men­jadi sebuah dongeng, tapi dianggap sebagai hikayat. Karenanya, kami menyebut Aceh “Negeri Seribu Satu Hikayat”.

Secara sederhana, hi­kayat adalah cerita yang diyakini kejadiannya pada suatu masa, yang diceritakan kembali pada masa selan­jutnya. Karena itu, hikayat dapat berupa legenda, syair, seja­rah dan sejenisnya. Namun, belakan­gan istilah hi­kayat semakin populer digunakan pada setiap kisah yang juga berupa dongeng—sulit dibuktikan kebenarannya. Ang­gapan dongeng atau cerita fiksi lainnya dianggap oleh si penulis sebagai hikayat, barangkali berdasarkan ketaja­man dan kelantangan penyampaian ujaran bertuturnya. Ini adalah era kemajuan sastra dalam berkontemplasi, maka terhadap sebuah cerpen pun, si pengarang suka menyebut karyanya dengan “hikayat”.

Terlepas dari beragam warna hikayat itu, di Aceh, pada zaman dahulu, hikayat juga dijadikan sebagai senjata melawan kaphé peunjajah. Salah satu hikayat yang dikenal mampu menggelora­kan semangat juang bangsa dan masyarakat Aceh kala itu adalah Hikayat Prang Kompeni atau Hikayat Prang Sabi. Hikayat ini diciptakan oleh Tgk. Chik Pante Kulu alias Abdul Karim yang kemudian populer dengan sebu­tan “Do Karim”.

Dalam Hikayat Prang Kompeni disebutkan bahwa setiap yang mati dalam perang melawankaphé mendapat pahala syahid dan bidadari syurga me­nanti orang-orang yang syahid tersebut. Kemu­dian, karena melawan penjajah demi memper­tahankan wilayah dan bangsa juga disebut­kan mendapat pahala syahid, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pun menggelorakan Hi­kayat Prang Kompeni dalam melawan pemerintahan Republik Indonesia dengan menyatakan mati melawan Tentara Nasional Indonesia (TNI) atau Polisi adalah juga mati syahid. Demikian seba­liknya, aparat keamanan RI pun beranggapan akan mati syahid jika terbunuh oleh GAM/TNA. Alasannya serupa, yakni sama-sama membela bangsa dan tanah air. Maka, Aceh adalah negeri seribu satu hikayat.

Di samping Hikayat Prang Sabi, Aceh juga memiliki beberepa hikayat lainnya yang juga mendapat tempat di hati masyarakat. Hikayat-hikayat itu antara lain Hikayat Malem Diwa, Hikayat Putroe Bungsu, Hikayat Dangderia. Hikayat-hikayat ini sangat panjang. Untuk menghabis­kan cerita dalam hikayat-hikayat tersebut bisa memakan waktu tujuh hari tujuh malam, bahkan ada yang sampai tujuh belas malam, sebab cerita di dalamnya sambung menyambung, berepisode-episode.

Adnan PMTOH (Harian Aceh-Repro)

Selain hikayat-hikayat yang disebutkan di atas, dalam masyarakat Aceh dikenal juga hikayat PMTOH. Hikayat ini dipopulerkan oleh Tgk. H. Adnan. Beliau dilahirkan di Meukek, Aceh Selatan, Desember 1931. Adapun nama PMTOH bukanlah judul hikayat sebagaimana nama-nama hikayat di atas. PMTOH merupakan salah satu jenis irama hikayat. Penamaan PMTOH diambil dari nama sebuah mobil bus penumpang lintas Sumatera, yang memiliki corong klakson di kiri kanan bagian depan mobil.

Mobil PMTOH sering digunakan Tgk. Adnan berkeliling saat membawakan hikayat-hikayatnya. Saat bermain, dia suka membunyikan klakson mobil PMTOH sambil me­mencet hidungnya. Karena itulah, gelar PMTOH akhirnya disematkan kepadanya hingga jadilah namanya Tgk. H. Adnan PMTOH.

Kata Tgk. Adnan, dia berguru hikayat kepada seorang le­laki tua di Manggeng, Kabupaten Aceh Selatan (sekarang masuk wilayah Aceh Barat Daya). “Namanya Mak Lapeh. Saya belajar kepadanya selama tiga tahun,” kata Adnan semasa masih hidupnya, seperti divisualkan dalam film “Pujangga Tanpa Pikir” karya Teuku Afifuddin.

Kelihaian Adnan dalam membawakan hikayat cepat dan lekas serupa air mengalir membuat ia mendapat gelar “Trobadur”. Putra Panglima Polem itu menghembuskan napas terakhir di usianya yang ke 75 (Selasa, 4 Juli 2006). Setelah kepergian beliau, kesenian tutur pun terkesan hilang dari Aceh. Dulu, Adnan acapkali tampil di depan masyarakat—di usia tua, dia main di TVRI. Hal ini mem­buat hikayat Aceh semakin populer ke dunia luar. Dia terus menyampaikan hikayat-hikayat ke sekeliling Aceh, bahkan ke luar Aceh. Sungguh Aceh dikenal sebagai neg­eri penuh hikayat. Namun, sekarang keresahanlah yang diterima Aceh manakala tukang hikayat legendarisnya su­dah tiada. Akankah Aceh masih menjadi negeri hikayat?


Buletin Tuhoe Edisi VI, Juli 2008

 

Serambi Indonesia / Sun, Mar 6th 2011, 08:41

Apresiasi

 

Kemal Fasya – Budaya

 

 

Sedih sekaligus prihatin mendengar cerita Arafat Nur (“Tradisi Menulis di Aceh”, Serambi Indonesia,  27 Februari), seorang wartawan sekaligus novelis Aceh yang telah berhasil menjadi pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2010. Ada empat pemenang saat itu, yaitu Hendri Teja (Memoar Alang-alang), Rumayda Akmal (Jati Saba), Wisran Hadi (Persiden), dan Arafat Nur sendiri (Lampuki). Empat novel ini menjadi pemenang dari puluhan novel yang masuk ke panitia selama setahun lalu.

Dunia sastra Aceh seharusnya gembira karena ada putra Aceh yang bisa berkiprah di tingkat nasional. Memang kali ini DKJ tidak memilih pemenang utama, dan membiarkan empat novelis ini menjadi “pemenang semua”, tapi sambutan harusnya tidaklah sebeku ini. Terlebih yang dimenangkannya adalah perlombaan membuat novel; prosa sastrawi yang perlu keuletan dalam menyusun narasi, plot, perwatakan, konflik, dan “hujan kata-kata”. Kemenangan Arafat adalah sedikit kemenangan Aceh di tengah banyak kekalahan dibandingkan prestasi provinsi lain di Indonesia.

Tidak bermaksud mengecilkan eksistensi puisi atau cerpen, membuat novel jelas memerlukan stamina maraton yang konstan. Bahkan seorang filsuf linguistik, yang juga dikenal sebagai bapak semiotika post-modernisme Perancis, Roland Barthes (1916-1980) menyatakan ingin menukar kemampuannya dalam filsafat linguistik dan kritik sastra menjadi seorang novelis. Tapi takdir Allah berkehendak lain. Hingga ia meninggal kecelakaan di jalanan Paris pada 25 Maret 1980, ia belum menyelesaikan satu novel pun. Padahal bukunya seperti The Pleasure of the Text, S/Z : An Essay, Sade/Fourier/Loyola adalah buku-buku yang menjadi rujukan penting dalam dunia sastra dan semiotika. Ada satu bukunya yang “mirip” novel, yaitu Roland Barthes by Roland Barthes. Melalui  buku ini Barthes menginterogasi dirinya sendiri dengan sebuah proyeksi teks yang meyakinkan. Membaca ini ingatan saya tak bisa lepas dari “novel” Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Pramoedya Ananta Toer, sebuah biografi yang terlalu sayang jika dianggap bukan novel.

Memang bukan Arafat saja novelis Aceh. Saya tak perlu mendedah era Ali Hasjimy, Zakaria Pase, Y.G. Ugati, M. Nur El Ibrahimy, hingga Nani HS yang mungkin sudah old fashion, generasi 2000-an telah melahirkan tulisan dengan genre baru dan balutan lebih “etnonasionalis”. Genre baru itu adalah kemauan untuk mengangkat tema derita lokal dan berebut suara di publik nasional. Itu terlihat misalnya dalam novel Percikan Darah Di Bunga (Arafat Nur), Teuntra Atom (Thayeb Loh Angen), Kabut Perang, Aloen Buloek (Ayi Jufridar), Samudera Pasai (Putra Gara), dll. Ada juga novel yang mulai merajut mitologi, baik kuno (Putroe Neng, Ayi Jufridar) atau kontemporer (Menembus Kabut, Mahdi Idris). Dua novel yang disebut terakhir memang belum terbit, tapi setelah membacanya, saya yakin novel ini akan semakin menyegarkan dunia sastra Aceh dan nasional. Salah satunya adalah peran mitos yang sebenarnya tidak pernah musnah di masyarakat yang modern sekali pun.

Namun, di sisi lain saya juga prihatin dengan sikap Arafat seperti meminta pemerintah daerah mengasihani para sastrawan Aceh. Ada kesan narsistik dan primordial, ketika seolah-olah hanya sastrawan yang harus diperhatikan oleh pemerintah Aceh, dan ujung-ujungnya perhatian menjadi dangkal. Hanya sebatas piagam, materi, atau uang, terlalu kecil untuk harapan agar peduli pada dunia kebudayaan yang kompleks.

Sesungguhnya dunia sastra itu sangat luas. Ia masuk dalam dunia teks (the world of text, atau dalam bahasa Barthes, Imperium of text) pada umumnya. Dalam perspektif postmodernisme dunia pengetahuan sosial-kemanusiaan (Gesselschaftswissenschaften) seharusnya juga berbasis sastra. Semua pengetahuan itu dibentuk oleh bahasa (all knowledge is determined by language). Tak ada yang dapat diketahui di luar bahasa. Mengingat bahwa sebelum ditemukan statistik, tabel, dan survey, semua pengetahuan cenderung diprosakan bukan dimatrikkan, maka apa salahnya jika di era sekarang pengetahuan sosial kembali disusastrakan. Dalam dunia jurnalisme juga semakin karib istilah jurnalisme sastrawi. Yang dicari bukan bagaimana menyampaikan fakta, tapi bagaimana fakta itu dihadirkan dengan ornamen linguistik dan semiotik yang indah, lengkap, mengkilap, dan perlu.

Atas dasar itulah saya ingin kritik yang disampaikan oleh Arafat diperluas. Tidak hanya memparselkan para sastrawan, tetapi mengajak pemerintah Aceh untuk mulai peduli menumbuhkan sentral-sentral ilmu sosial yang bisa memperbaiki bahasa tulisan dan lisan dalam pelbagai perspektif. Sentral ilmu sosial itu bisa dilakukan secara formal seperti memperbaiki mutu penulisan akademis di perguruan tinggi (skripsi, tesis, disertasi), atau secara informal mengadakan sayembara menulis esei bagi siswa dan masyarakat awam, membuka kepustakaan komunitas, menggalakkan bulan membaca, memunculkan moto kota, kantor, partai dengan bahasa puitik, dsb.

Kebaikan dalam pengungkapan bahasa sudah barang tentu akan melahirkan kebaikan kebudayaan. Kebaikan kebudayaan sudah pasti akan meningkatkan martabat dan moral linguistik masyarakat, dan bisa mengurangi serapah, carut, dan rembesan dangkal tulisan di ruang publik, seperti opini di media massa. Seringkali opini di media publik “hadir untuk disalahkan” atau melahirkan respons negatif karena penulis tidak punya kuasa untuk melebarkan pikirannya dengan bahasa yang baik.

Ini adalah tantangan dunia ilmu pengetahuan sosial dan dunia sastra sekaligus. Ilmu sosial harus hidup dengan karakter aslinya, yaitu melalui narasi yang sastrawi, imajinatif, dan reflektif. Sudah saatnya logika ilmu sosial tidak mengekor lagi pada metode ilmu pengetahuan alam yang matematis, ekonomis, rigid, positivistik, anti-hermeneutik, dan penuh tabel dan angka.

Kita sudah lihat nasibnya. Ketika data Badan Pusat Statistik (BPS) ditulis dengan tabel, frekuensi, dan angka sedikit orang yang ingin membacanya. Akan tetapi, data itu diolah dengan narasi dan bahasa yang sastrawi, orang pun dengan senang dan sehat mengonsumsinya. Jadi, semua vitamin kata adalah sastra. Semua kejernihan bahasa adalah sastra. Mata air gramatika juga sastra, dan itu bukan klaim novel semata.

* Teuku Kemal Fasya, penikmat budaya pop