Archive for the ‘SAJAK-SAJAK’ Category

Harian Aceh – 21 August 2010 | 

Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Membawa harum badan, tapi mengapa aroma tanah basah begitu menggoda. Apakah kau ingin mencium aroma tanah itu walau sekejap. Ah, begitu lebih sempurna sembari menunggu malam yang masih sepotong. Izinkan aku menatapmu sekali lagi. Jangan kau buat aku meragu. sebab ada yang terus melambaikan tangan. Tapi apa berarti kau ragu membalas lambaiannya.

Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Sebab tak kudengar derit sepatu yang terseret. Selain hembusan angin yang tiba-tiba mengantar kabut. Menyayat-nyayat. Tapi benarkah kau telah menemukan suara sunyi. Seperti yang selalu kau tulis dalam sajak-sajak. Sepertinya aku menangkap isyarat itu. Aku tak kuasa menolaknya.

Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Sambil mengenang sebuah sajak yang ia tulis sebelum malam:
kau membuatku gelisah
lelaki yang menantang malam
sendiri dalam sepi
memuja rindu dalam irama kelu

Ingin benar  memanah mendung
agar gerimis memburai rintik
tapi yang tersisa hanya kabut yang memagut
meronta dalam kelam yang kian mencekam

Ah, barangkali bulan akan lahir dari rahim langit yang menghitam
padamu akan kukirim perasaan-perasaan yang membelenggu
tapi kenapa  angin hadir tak berkabar tentangmu
lelaki yang menantang malam, berkalut larut

Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Sajak yang terlipat-lipat ia campakkan pada kedalaman sepi. Kau terlalu lelah menghitung kematian-kematian. Aku tahu kematian-kematian adalah keindahan menuju sebuah perjamuan. Sekristal air menghiasi pelupuk mata. Tidak, aku tidak sedang menangisi kematian-kematian yang selalu kucatat.  Tapi menangisi diriku. Menangisi kematianku kelak. Maukah kau mencatat. Bisu. Diam. Beku. Lolongan anjing dan bunga-bunga bertabur.

Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Sesiapa mengetuk pintu. Nafas tersengal. Wajah memutih kapas. Barangkali kau hadir mengiringiku. Terbata membatu kau bertanya. Hanya degup jantung yang kian memicu. Tidak, bukan menjemput. Tak pula mengiring, sebab yang mengetuk pintu adalah aku. Lalu siapa yang membuka pintu.

Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Menari-nari dalam sebuah taman. Bunga-bunga bertabur. Sungai-sungai ngalir. Wajah-wajah senyum tergores dari orang yang kematiannya ia catat.  Wajah-wajah menyambut penuh kasih. Tak sesiapa menyapa. Selain melambai-lambai. Mengajak terus menari. Menari. Dalam tarian-tarian sunyi.

Lelaki itu berjalan, oh bukan barangkali ia terbang. Tiba-tiba ia terkejut. Di sebuah rumah berwarna putih. Beranjang putih. Seluruh tubuhnya  menggigil. Lalu teriak. Tak sesiapa dengar teriakan. Ia edar pandang. Ia saksikan orang-orang yang telah ia catat kematiannya. Mengelilingi tubuhnya. Ia siuman. Ia siuman. Sebut salah seorang diantara kerumunan itu. Kerumunan itupun mengurai senyum.

Lelaki itu berjalan, oh bukan barangkali ia terbang. Ia senyum. Di sudut matanya mengembun air. Lalu ia kembali menutup mata. Perlahan. Sepotong malam telah ia temukan. Harum baunya. Dan malam kian menua. Kian menua. Lalu sunyi.[]

(Yogyakarta,  November 2009)

Budi Arianto: Penyair tinggal di Ceurih, Ulee Kareng, Banda Aceh. Tercatat sebagai staf pengajar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unsyiah Banda Aceh, mendalami Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, UGM Yogyakarta.

 

Iklan


Ketika pala mulai berbunga,
Burung-burung syairkan kerinduan
Tentang air yang mengalir dari Hutan
Tentang jalan setapak yang panjang
Ketika pala mulai berbunga,
Ada angin nyanyikan
Cinta Embun Berkilau di daunannya
Pelangi menari di tangkainya
Tiba saatnya memetik rembulan dan matahari
Musim panen ladang sendiri, dari ladang sendiri
Zamrud yang hijaukan hutan-hutan adalah bias masa depan
Ketika pala mulai berbunga,
Wanginya mekarkan cita-cita
Ketika pala mulai berbunga,
Ada cahaya di raut wajah Bunda 

SAJAK – SAJAK : FATHURRAHMAN HELMI

Posted: Desember 31, 2009 in SAJAK-SAJAK

Harian Aceh / 6 December, 2008

FAJAR

Bagaikan hidup baru

Saat disinggahi fajar

Yang dapat menyejukkan hati

Juga memberikan angin segar

Untuk hidupku

Banda Aceh, 20 November 2008

KOTAKU KINI

Aku memandang sekelilingku

betapa indah kotaku kini

duka telah hilang

kedamaian abadi akan datang

siapa yang telah membuat ini semua

siapa yang telah membuat kami senang

mungkin tak ada yang dapat aku berikan

hanya terima kasih tak terhingga

coba kau lihat kawan-kawan

jalan, jembatan, gedung, fasilitas dan lain-lainnya

itu adalah kerja keras mereka

yang tak mengenal lelah

mungkin hanya terima kasih dan senyum mengembang

yang dapat kami berikan

mungkin selebihnya hanyalah Tuhan

yang akan membalas jasa kalian

sekali lagi terima kasih

Banda Aceh, 19 November 2008

BUMI

Aku di sini terpaku

menatap tanah yang tandus

bumi ini sedang sakit

akibat ulah manusia

anggap saja bumi ini bagai manusia

makin tua makin keriput

di bumi inilah aku hidup

di sinilah tempat aku mencari makan

namun para manusia biadab

memakai tangannya

untuk mengotori bumi

malang memang nasibmu bumi

wahai manusia-manusia tak ada akal

jangan kau rusak bumi ini

hanya untuk kesenanganmu

karena yang akan menanggung akibat

pastinya kau juga

tolong selamatkan bumi ini

karena kita juga membutuhkannya

Banda Aceh, 20 November 2008

Fathurrahman Helmi, Siswa SMP 6 Banda Aceh

Tinggal di Lambhuk, Uleekareng

SAJAK – SAJAK : IDRUS K.RANI

Posted: Desember 31, 2009 in SAJAK-SAJAK

Harian Aceh / 3 January, 2009

Hantu Sejarah

Hantu sejarah mencekram kuku hitam

Ketika sepi menuduh di gemangnya waktu

Kita tersuruk dalam gebalau dan warna abu-abu

Kepentingan tertentu berselubung slogan dan iklan murahan

Ujung-ujungnya seperti pisau

Tajamnya ke bawah

Berabad lamanya kita dihimpit kapitalisme

Menghisap habis seluruh darah

Seskali kita mencoba membandingkan

Yang telah tercapai dan sumber yang terkuras

Bumi telah jadi tanah putih dan gundukan tanah merah

Pemipin bangsa disibukkan

Oleh proyek kemiskinan yang tak pernah selesai

Lalu… orang-orang berantrian menyabung mimpi

Mengunyah tuba dan serbuk api

Nagan Raya, 2008

Menggapai Cahaya Kasih

Alam selalu memberi pelajaran

Segala kisah kelu dan cinta yang membumi

Bergerak hati kita menggapai cahaya

Di belahan rekah waktu

Menuju asa berarti

Mendamba Ridha dan Kasih

Kasih sayang-Nya

Nagan Raya, 2008

TGK. Harun HS-(kenangan)

Masih tergambar jelas dalam ingatan kami

Ketika detik-detik penghabisan berlalu dalam hening

Kepergianmu di hari baik

Bulan baik

Menorehkan duka mendalam

Bagi kami yang kautinggalkan

Rasa kehilangan itu berubah wujud menjadi laut yang bergemuruh di dada kami

Anak-anakmu

Cucu-cucumu

Keluarga

Kerabat

Dan orang lain

Begitulah Tuhan berkehendak

Kepergianmu sangat tergesa dan tiba-tiba

Tapi itulah waktu terbaik

Kepulangan seorang hamba

Semoga arwahmu dalam damai di sisi-Nya

Amin ya Rahman

Amin ya Rahim

Hari duka 2 Ramadhan 1429 H

SAJAK : DIANA ROSWITA [alm]

Posted: Maret 4, 2009 in SAJAK-SAJAK

WAJAH-WAJAH MATAHARI

Kami adalah matahari-matahari muda

Yang menebar terang di angkasa

Taburkan makna di jiwa

Gegap gempita seluruh semesta

Kami punya wajah-wajah matahari

Yang tak jemu rekahkan seri

Kami muncul di atas bahari

Badaipun surut di depan kami

Tak peduli kabut pekat

Atau mendung berinai lebat

Sinar kami tak pernah mati

Kami adalah semangat-semangat matahari

Yang yakin penuh pada ilahi

Tak mengenal kata henti

SAJAK : J.KAMAL FARZA

Posted: Maret 4, 2009 in SAJAK-SAJAK


AKU RINDU KAU TAK PERLIHATKAN WAJAHMU

Aku adukan padaMu Kekasih

tentang darah yang tumpah

mengingatkanMu kekawatiran para malaikat:

manusia perusak bumi

Engkau diam Kekasih

aku salah tingkah

aku menangis, Engkau tertawakan aku

aku gelisah, Kau Tegur aku:

“itu bukan urusanmu!”

kukeluhkan semesta lautan, Kekasih

kucari bayangan Mu

Engkau mencibirku

“Hai anak malang, apakah kau kira aku diam, lalu

membiarkan mereka merobek kehormatan istrimu,

memperkosa ibumu,

dan mengisap darah dan airmatamu?”

SAJAK : BUDI ART

Posted: Maret 4, 2009 in SAJAK-SAJAK

PAMPLET DI HARIAN PAGI II

menyimak berita pagi

negeri ini

adalah air mata

banjiri ladang-ladang kering

hanyutkan mimpi mengusir burung-burung pipit

dan kuncup kembang berserak di hempas angin

Banda Aceh 1993