Archive for the ‘TRADISIONAL’ Category

MUDA BALIA : REINKARNASI ADNAN PMTOH

Posted: Desember 31, 2009 in TRADISIONAL

Serambi Indonesia / 27 December 2009

MUNGKIN satu fenomena langka, ketika seseorang mampu bertahan tujuh hari tujuh malam, hanya untuk memainkan teater tutur yang kondang dengan sebutan PMTOH. Fenomena yang kerap dilakoni Tgk Adnan PMTOH sepanjang karirnya di dunia teater tutur yang dilahirkannya itu, kini menjelma dan dilakoni pula oleh Muda Balia. Putra kelahiran Seunebok Alue Buloh, Kecamatan Bakongan, Aceh Selatan, 29 silam lalu itu, tak begitu asing di kalangan seniman Aceh. Bahkan, perilaku sosok pelantun hikayat Peeh Bantai (memukul/menepuk bantal-red) itu yang nyaris menyerupai lakon-lakon yang dimainkan Tgk Adnan PMTOH, mengingatkan orang akan sosok sang legenda yang meninggal pada 2006 lalu itu.

Muda Balia yang Sabtu (26/12) kemarin, tampil memeriahkan peringatan Lima Tahun Tsunami di arena Kapal Apung, Punge Blang Cut, Banda Aceh, merencanakan untuk mencatat rekornya di Museum Rekor Indonesia (Muri). Pasalnya, hikayat Peeh Bantai yang dibawakannya kemarin, baru akan berakhir Minggu (27/12) siang ini. Selama 26 jam Muda Balia akan menghabiskan waktu tampil dengan mengupas soal bencana tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004, lima tahun lalu itu. Di situs peninggalan tsunami Kapal Apung ini, Muda Balia hanya beristirahat selama 5 menit dalam setiap satu jam untuk istirahat. “Jika berhenti dalam waktu tiga jam sekali, berarti 15 menit itulah waktunya untuk makan dan shalat,” kata Teuku Afifuddin, koordinator acara.

Pesan moral
Saat membacakan hikayat Peeh Bantai yang lebih akrab dengan peugah haba atau dangderia itu, ia hanya mengandalkan ketahanan fisik dan daya ingat. Ia mengaku tak mengunakan hal lain saat diminta tampil di suatu acara atau hajatan. “Peugah haba dalam Bahasa Indonesia artinya berbicara. Sementara dangderia, sosok raja yang diceritakan dalam hikayat itu. Dan hikayat tentang dangderia, yang paling sering dibawa dalam setiap penampilan,” katanya seraya menjelaskan bahwa ini semua lebih bersifat pesan moral dan syariah.

Bahkan hikayat cerita lain, spontan bisa lahir dalam ingatannya dalam sekejap tanpa catatan apapun. Cuma pria yang telah 4 tahun menyunting gadis desanya bernama Nursima, itu meminta waktu sejenak, mengamati di sekelilingnya. “Insya Allah, melantunkan suatu kisah hikayat, mampu saya lakukan. Apa pun itu. Semua berpulang permintaan yang menggelar hajatan. Bahkan, tanpa sifat takkabur saya mampu tampil 7 hari 7 malam,” sebut Muda Balia, yang ditemui di Gedung Dewan Kesenian Aceh (DKA).

Namun, miris sebutnya seiring pesatnya zaman dan teknologi, saat ini hikayat Peeh Bantai atau kesenian Aceh lain mulai tenggelam. Bahkan perhatian cukup kurang terhadap kebanggaan peninggalan leluhur. Terbukti setiap hajatan atau lainnya masyarakat lebih memilih hiburan peralatan canggih, seperti musik keyboard dan sebagainya. “Bukan masalah tidak diminta tampil. Tapi, kalau kita diam dan terus lihat kondisi ini, semuanya akan punah. Jadi apa yang patut dibanggakan pada anak cucu kita kelak. Hendaknya semua pihak mencurahkan perhatiannya,” ungkapnya.

Satu tujuan
Putra bungsu pasangan Syafi’i dan Rusna itu menceritakan, dia tidak ada tujuan banyak hijrah ke Banda Aceh pada 1998 silam. Apalagi pendidikannya hanya sebatas SD. Namun, satu tujuan penting baginya yang diamanatkan gurunya Zulkifli asal Manggeng, Abdya (sebelumnya Aceh Selatan-red). “Saya ingin menjelaskan penafsiran tentang hikayat dangderia yang menurut guru saya salah diartikan. Tapi, saat itu saya tidak punya tempat dan dan orang yang memfasilitasi,” sebutnya.

Ayah dua anak itu menjelaskan, aliran hikayat yang dibawakan dibandingkan almarhum Adnan PMTOH, sama. Namun, penyajiannya berbeda. Bahkan gurunya Zulkifli dan guru almarhum sama-sama berguru pada satu orang, yakni Amat Lapee. “Kalau almarhum menggunakan peraga patung helm dan alat lainnya. Kalau saya menggunakan peraga yang digunakan guru Amat Lapee, yakni pedang pelepah kelapa, tikar anyam, bantal, dan seruling,” sebutnya.
Tak ada yang membanggakannya selain tampil dan memperkenalkan kembali kesenian Aceh yang hampir punah itu. Kini sosok sang traubador Tgk Adnan PMTOH seakan lahir kembali dalam diri Muda Balia. Namun, sampai kapan proses reinkarnasi itu berlanjut, tentu waktu dan pergulatan zamanlah yang akan menentukan.

(misran asri)

Iklan

HIKAYAT TIKOH

Posted: Desember 31, 2009 in TRADISIONAL

Harian Aceh / 25 January, 2009

Oleh : Marwidin Mustafa

Saboh riwayat narit lon peutroh

di Nanggro jioh keu saboh bangsa

jiduek lam uruek ji eh dalam broh

Keu Bangsa tikoh haba lon rika

Tikoh di Blang atawa di lampoh

Wajeb taparoh bek tanyo binasa

Glong jeuneurob tapageu lampoh

Taleet beu jioh bek lee ji teuka

Dilee kon udep di bangsa tikoh

Kayem jipiyoh lam uruek raya

Meuaneuk binoe sinan dalam broh

Hinan seumajoh pue-pue nyang hawa

Tapula ubi golom troh tanggoh

Kalheuh dijak kueh peureudei jiba

Pade tatabu keu bu ta pajoh

Troh bangsa tikoh ka jijak seuba

Leupah sengsara menyoe na tikoh

Habeh ji sampoh jagong keupila

Harkat ta udep sabe hana troh

Tabiat tikoh lagei nyan rupa

Jino hai abu jipeugah katroh

Rame dum tikoh dalam istana

Jicok hareukat bak luwah lampoh

Ka jak peuroh bak peutron keunira

Hak Aneuk yatim jitem jak sampoh

Jitem jak pajoh hak inong janda

Pak Irwandi neu mat peujampoh

Bagah neu paroh tikoh bek lee na

Menyoe teulat neumat peujampoh

Geutanyoe kiroeh sama sibangsa

Saweub diadu tanyoe meu soh-soh

Nyan cara tikoh bak reubot kuasa

Kadang e teungku neujak u lampoh

Meureumpok tikoh neuturi hana

Neu eu peulandok neupeugah tikoh

Mungken syit lapoh sisat lam paya

Ulee ji tincu iku ji haloh

Bulei bak tuboh rapoh lagoina

Misei ji panyang bagah that duroh

Tanda nyan tikoh bek na le dawa

Gigoe ji blah keu tajam dua boh

Bagah bak jikoh makanan raya

Punyueng ji rayeuk ruhueng diteungoh

Mangat bagah troh info bahaya

Neujak u Calang bak Gureutei neupiyoh

Troh u Meulaboh uroe ka Asa

Bek bi jabatan keu bangsa tikoh

Habeh ji pajoh harta neugara

di Glee Maheng Ureung meulampoh

Ateuh Gunong Goh ureung meurusa

E Pak Irwandi beuteugoh-teugoh

Mantong le tikoh dalam istana

Pemimpin Aceh jinoe beu sunggoh

Jak paroh tikoh dalam istana

Suwa ta peuhu tatet ngon suloh

Cara let tikoh kon dengon TAKPA

Istana beugleh bek seumak ngon broh

Han jiduek le tikoh ka jilop peunjara

Sayang that rakyat ekonomi leumoh

Kadang syit rumoh pat jiduek hana

Angen sinja jipot u Meulaboh

Wate oh beungoh jipot u Banda

Mumada ohnoe hikayat tikoh

Hana meutanggoh lon sambong haba.

Marwidin, peminat budaya dan sastra Aceh

IDENTITAS ACEH DAN TULISAN JAWOE

Posted: Desember 31, 2009 in TRADISIONAL

Harian Aceh / 28 December, 2008

Oleh T.A. Sakti

Bila Anda pertama kali mampir di Banda Aceh; secara serempak mata Anda akan menyaksikan suatu panorama, yaitu semua papan nama dari bangunan penting seperti toko, kantor, dan sekolah, tertulis dalam dua macam huruf, yakni Latin dan Arab Melayu.

Inilah salah satu identitas Aceh sebagai daerah paling awal masuknya agama Islam di Nusantara. Dan huruf Arab Melayu itu pun pertamakali tumbuh dan berkembang dari wilayah ini. Namun, tidak semua tulisan Arab Melayu yang ditulis di papan itu benar adanya. Masih banyak salah-kaprah.

Mulanya Islam datang ke Aceh, terjadilah islamisasi dalam segala bidang kehidupan, termasuk dalam bidang seni-budaya, misalnya digunakan huruf Arab dalam hal penulisan. Sesudah dibuat penyesuaian seperlunya, huruf Arab ini diberi nama huruf Arab Melayu (bahasa Aceh: harah Jawoe).

Berdasarkan berbagai penyelidikan yang telah dilakukan para sarjana, saya yakin bahwa huruf Arab Melayu berasal dari Aceh, daerah yang pertama masuk dan berkembangnya Islam untuk kawasan Asia Tenggara. Hampir semua sejarawan Barat dan Timur berkesimpulan demikian. Bersamaan masuknya Islam ke Aceh, maka masuk pula bacaan huruf Arab ke dalam kehidupan masyarakat Aceh, antara lain melalui kitab suci Al-Qur’anul Karim. Bersumber huruf Arab Melayu itu, lambat laun berkembanglah penulisan Arab Melayu tersebut.

Sejarah mencatat bahwa di Aceh telah berkembang beberapa kerajaan Islam, yaitu Kerajaan Peureulak, Kerajaan Pasai, Kerajaan Benua, Kerajaan Linge, Kerajaan Pidie, Kerajaan Lamuri, Kerajaan Daya, dan terakhir Kerajaan Aceh Darussalam. Kerajaan-kerajaan itu banyak melahirkan para ulama yang sebagiannya berbakat pengarang. Melalui tangan-tangan terampil merekalah telah ditulis beratus-ratus buah kitab dan karangan dalam bahasa Melayu, Arab, dan Aceh. Tulisan yang digunakan adalah tulisan Arab dan tulisan Jawi (Arab Melayu).

Dalam hal ini, UU Hamidy, dalam tulisannya “Aceh sebagai Pusat Bahasa Melayu”, (Serambi Indonesia, Minggu 08 Juli 2007) menjelaskan “bahasa Melayu Aceh berperan penting dalam tradisi pemakaian Arab Melayu. Tak diragukan lagi ulama Acehlah yang telah memakai tulisan Arab Melayu secara luas dalam berbagai kitab karangan mereka. Dari sinilah agaknya tulisan Arab Melayu kemudian menjadi tradisi pula dalam penulisan hikayat di Aceh. Sebab itu, tulisan Arab Melayu mungkin juga telah di taja (dipelopori-pen) pada awalnya oleh para ulama di Aceh. Karena tulisan ini juga mempunyai beberapa ragam (versi), maka ragam Arab Melayu yang dipakai di Aceh mungkin merupakan ragam yang tertua. Dalam bidang ini patut dilakukan penelitian yang memadai sehingga peranan bahasa Melayu Aceh akan semakin kentara lagi di belantara perkembangan bahasa Melayu”.

Memang tidak berlebihan bila penulis berpendapat bahwa huruf Arab Melayu ditulis pertama kali di Aceh. Sejauh ini, tulisan Jawi (Jawoe) tertua yang sudah pernah dijumpai adalah surat Sultan Aceh kepada raja Inggris. Prof. Dato’. Muhammad Yusof Hashim, yang turut hadir pada seminar Pekan Peradaban Melayu Raya di Banda Aceh pada akhir Agustus lalu; dalam satu tulisannya menyebutkan bahwa: “Kalau kita mengatakan bahawa naskah Melayu terawal yang pernah ditemui di awal abad ke-17, iaitu warkah daripada Sultan Aceh kepada Raja England, besar kemungkinan naskah warkah itu hanyalah naskah salinan. Adl mengkagumkan juga sebuah naskah di atas kertas seperti itu boleh wujudhampir empat abad lamanya, sekiranya ia betul-betul naskah y ang asli”.

Abad 16-17 merupakan puncak kebesaran bagi kerajaan Aceh Darussalam. Ketika itu, selain sempat diperintah beberapa Sultan terkemuka, Aceh juga telah dibimbing beberapa ulama kaliber dunia, yaitu Hamzah Fansury, Syamsudin As-Sumatrani, Syekh Nuruddin Ar-Raniry, dan Syekh Abdurrauf As-Singkily atau Syiah Kuala. Keempat ulama Aceh ini amat banyak karangan mereka, baik dalam bahasa Arab maupun dalam bahasa Melayu. Kitab-kitab tulisan keempat ulama ini tidak hanya beredar di Aceh, tetapi meluas ke seluruh Asia Tenggara dan dunia Islam lainnya.

Pada abad ke-17, bangsa Eropa mulai berdatangan ke Asia Tenggara. Dari waktu ke waktu sampai ke abad ke-20, mereka semakin merata berada di berbagai negeri di Nusantara. Akhirnya, semua negeri berkebudayaan Melayu menjadi jajahan bangsa Barat. Semua bangsa penjajah itu yakni Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat. Bangsa-bangsa ini tidak memakai huruf Arab (Arab Melayu) dalam penulisannya. Mereka memiliki huruf sendiri yang berasal dari peradaban Yunani-Romawi, yaitu huruf Latin. Sejak itu, peranan huruf Arab Melayu secara berangsur-angsur terus berkurang dalam kehidupan orang-orang pribumi. Sebab, para penjajah memaksakan huruf Latin kepada rakyat di Nusantara ini melalui lembaga-lembaga pendidikan yang mereka bangun.

Khusus di Hindia Belanda (sekarang Indonesia), penggusuran secara besar-besaran huruf Arab Melayu baru terjadi secara resmi pada tahun 1901. Ketika itu, pada tanggal 1 Januari 1901, Raja Belanda Ratu Welhilmina mengeluarkan Dekrit untuk mengeluarkan politik etis dalam sistem penjajahan di Hindia Belanda. Politik “balas budi” itu antara lain memberikan pendidikan modern ala Barat kepada anak negeri jajahan Belanda. Karena itu, dibangunlah beribu-ribu tempat pendidikan umum di seluruh Hindia Belanda dengan memakai huruf Latin dalam penulisannya. Hal ini secara langsung telah menjatuhkan martabat huruf Arab Melayu dalam pandangan sebagian pribumi. Tinggallah Dunia Pesantren, Surau dan Pondok (Dayah di Aceh) sebagai benteng terakhir sehingga penulisan Arab Melayu masih kekal lestari hingga saat ini. Sebagai bukti, perpustakaan Dayah Tanoh Abee Seulimum, Aceh besar, masih memiliki beribu-ribu naskah kitab lama.

Kemudian, ketika Belanda sedang mengganyang huruf Arab Melayu secara gencar di daerah-daerah lain–lewat pendidikan ala Barat– malah di Aceh (thn 1901), Belanda sedang bertempur habis-habisan melawan rakyat Aceh, yang telah ditempa dengan baris-baris tulisan Arab Melayu, yakni hikayat Prang Sabi. Akhirnya para ilmuan Belanda yang dipelopori Snouck Hurgronje berusaha mempelajari karya-karya berhuruf Arab Melayu milik orang Aceh guna mengetahui “jalan pintas” mengalahkan perlawanan orang Aceh sendiri. Tidak kurang 600 naskah Jawi/Jawoe (Arab Melayu) dialihkan ke huruf Latin oleh pemerintah Belanda saat itu.

Dalam era Indonesia merdeka, perhatian pemerintah terhadap penulisan Arab Melayu mulai Tumbuh, namun tidak berumur panjang. Di saat itu, pelajaran membaca dan menulis huruf Arab Melayu telah diajarkan di sekolah-sekolah pada tingkat sekolah dasar. Tetapi sekitar tahun 60-an, pelajaran tersebut dihapuskan, yang kemungkinan besar akibat desakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sedang merajalela ketika itu.

Sebatas penulis ketahui, khusus di Aceh sejak beberapa tahun yang lalu juga diajarkan kembali tulisan Arab Melayu dengan nama Tulisan Arab Indonesia (TAI). Menurut pengamatan saya, cara pengajaran TAI ini tanpa acuan yang baku sehingga dalam penulisan TAI, terjadi salah-kaprah. Mungkin hasil dari pengajaran TAI di sekolah-sekolah itulah yang kini terpampang di papan nama toko, kantor dan sekolah di Aceh.

Perkembangan terakhir dari penulisan Arab Melayu di Aceh adalah keluarnya Instruksi Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) tanggal 1 Muharram 1423 atau 16 Maret 2002, yang menggalakkan kembali penggunaan huruf Arab Jawi di Bumi Aceh Serambi Mekkah. Itulah salah satu karya nyata Gubernur Aceh, Ir. Abdullah Puteh, M.Si yang masih terwariskan bagi warga Aceh hingga kini. Berikutan dengan keluarnya instruksi gubernur itu, telah dibentuk Tim Penyusun Buku Pedoman Penulisan Arab Melayu di Aceh. Namun, karena kepepet waktu, buku yang dihasilkan kurang memadai wujudnya. Salah seorang mantan anggota team tersebut telah berupaya menulis buku lainnya dengan judul “ Sistem Penulisan Arab-Melayu (Suatu Solusi dan Pedoman)”. Buku yang ditulis Drs. Mohd. Kalam Daud, M.Ag, Dosen Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry ini, diterbitkan Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, tahun 2003. Karena buku tadi dianggap terlalu tebal dan banyak uraiannya, maka Drs.Mohd.Kalam Daud M.Ag, yang pakar huruf Arab Jawoe ini menulis lagi sebuah buku tipis, yang berjudul “Kaidah Penulisan Arab-Melayu”, yang juga diterbitkan Dinas Pendidikan NAD tahun 2005.

Walaupun telah diterbitkan beberapa buku pedoman, amat disayangkan, pelaksanaan instruksi gubernur itu tak pernah dievaluasi. Padahal, pelaksanaan di lapangan sungguh amburadul. Penulisan nama-nama bangunan misalnya, lebih banyak yang salah dibanding yang betul menurut kaidah-kaidah yang sebenarnya. Bukan itu saja, bila hendak menampilkan identitas Aceh, maka bukan pada bangunan gedung saja yang semestinya ditulis dengan tulisan Jawi; tetapi nama-nama jalan pun perlu dibuat demikian. Di kota Yogyakarta misalnya, nama-nama jalan di sana selain dengan tulisan Latin juga ‘disandingkan’ dengan huruf Kawi/Jawa kuno. Mengapa pada kita tidak?

Tujuan semula guna menonjolkan identitas Aceh sebagai daerah perdana masuknya Islam di Asia Tenggara hanya membuahkan cibiran sinis para tamu/turis dari negeri-negeri Melayu di Nusantara. Itulah akibatnya, bila sesuatu tidak dilaksanakan dengan profesional dan sungguh-sungguh. Bagaikan menepuk air di dulang; muka kita sendiri yang menerima padahnya.

Sejauh yang saya ketahui, hanya Badan Dayah NAD yang pernah melaksanakan penataran penulisan Arab Melayu pada tahun 2006 dan 2007 dengan salah seorang nara sumbernya, Drs.Mohd.Kalam Daud, M.Ag tersebut. Sebenarnya, para guru yang mengasuh mata pelajaran TAI-lah yang semestinya diberikan bimbingan khusus mengenai penulisan TAI itu. Karena merekalah yang langsung mengajari muridnya di kelas. Namun, kegiatan demikian belum terdengar sampai saat ini.

Akhirul kalam, saya menyarankan bahwa setiap calon legislatif dan eksekutif di Aceh tidak hanya dites mampu membaca Al-quran, tetapi perlu pula tes kemampuan membaca dan menulis huruf Arab Melayu/Jawoe, karena sesungguhnya huruf Arab Melayu itu berasal dari Aceh, yang kemudian berkembang ke seluruh Nusantara/ Asia Tenggara!!!

T.A. Sakti, Peminat Budaya dan Sastra Aceh. Tinggal di Banda Aceh

PEULARHA ALAM

Posted: Desember 31, 2009 in TRADISIONAL

Harian Aceh / 11 January 2009

Ca-e  : M.Y Bombang

Wahe dum kawom dalam nanggroe nyoe

Wajeb geutanyoe bumoe ta jaga

Bak kayee lam gle peutheun ie ujeuen

Bek jikoh bandum nyan buet hapeha (HPH)

Meutan bak kayee dalam gle Tuhan

Sayang e rakan tanyoe binasa

Ie raya kayem oh musem ujeuen

Adoe ngon aduen geutanyoe rasa

Meunan cit cicem rimueng ngon cagee

Meutan bak kayee sayang lagoina

Bandum geutanyoe peuneujeut Tuhan

Peureulee aman udep lam donya

Alam lingkungan lam bumoe Tuhan

Sayang that rakan meutan ta jaga

Meunyo ka reuloh lingkungan alam

Geutanyoe mumang udep lam donya

Geutanyoe bandum gampong ngon peukan

Peudong bangunan atoran beuna

Bek ta doe parek ta peudong rumoh

Geutanyoe mehmoh oh ujeun raya

Peudong bangunan beuna atoran

Beu ek seusuai ngon alam lingka

Bek le ateuh krueng ta peudong rumoh

Geutanyoe mehmoh teuka ie raya

Bek tadoe laot peudong bangunan

Sayang e rakan oh badee raya

Parek deungon krueng kon keu teumpat broh

Pike rakan beuh yoh goh binasa

Aron meuriti di bineh pante

Jinoe hana le sayang lagoina

Han soe le peutheun anoe di pante

Sayang bukon le oh angen raya

Meunan cit rawa rab bineh pante

Bak bangka tan le jikoh dum rata

Eh noe meumada haba lon ca`e

Laot deungon gle haba lon rika

Bna :18-06-05

SEKEPING HIKAYAT DARI BANDA ACEH

Posted: Desember 12, 2009 in TRADISIONAL

Blog Harian Aceh/ 3 January, 2009

Hikayat ini berjudul ‘Tambeh Tujoh Blah” jilid 3, ditulis oleh T.A. Sakti. Tebalnya 236 halaman. Aku dulunya penyuka hikayat. Namun, kini tak pernah membacanya lagi. Bukan karena sudah tak suka, namun karena tak ada hikayat yang ditulis serius–ini menurutku. Bapakku seorang penyuka hikayat, sama sepertiku. Aku suka hikayat karena kalimatnya bersajak, baik sajak tengah, awal maupun akhir. Persajakan dalam hikayat membuat ia merdu saat diucapkan. Dulu, saat siaran radio menghadirkan ruang pembacaan hikayat bersambung, ayahku suka mendengarnya tiap malam. tentulah aku ikut mendengarnya karena suara radio tersebut, ia bunyikan keras. Terdengar sampai ke kaki bukit. Nah, karenanya aku suka mendengar orang membaca hikayat. Di rumahku dulu, juga ada beberapa naskah hikayat, namun kini tak ada lagi. Aku suka membacanya di sela jam belajarku di ujung selatan kampung terpencil. Aku membaca hikayat sesukaku, karena aku tak tahu bagaimana menbaca hikayat dengan tepat. Kini aku juga tak tahu bagaimana membaca hikayat dengan tepat. Dua bulan lalu aku ke Meseum Aceh. Di sana aku minta Hikayat Indra Budiman. Penjaganya, yang saat itu bertugas, seorang perempuan berumur. Ia mencari sendiri hikayat tersebut. Setelah beberapa menit, ia keluar dengan tiga jilid tipis hikayat Indra Budiman. Kuperhatikan hikayat yang telah kudengar judulnya bertahun lalu. Bapakku dulu sering menceritakan isi hikayat Indra Budiman. Aku suka mendengar dongeng berbentuk puisi itu. Aku memang suka puisi, kendati aku tak pernah menjadi penyair. Dulu, aku menerka, bagaimana, ya, orang bisa mengarang hikayat yang begitu panjang dan sentiasa setia pada persajakannya? Kini aku tahu, mengarang hikayat itu mudah. Namun, jangan tanya padaku apa yang disebut hikayat. Aku tak tahu. Yang kutahu, hikayat adalah puisi panjang bersajak tetap dalam bahasa Aceh. Bentuknya boleh lirik atau epic. Biasanya epic. Aku menyebut hikayat sebagai ‘novelnya’ orang Aceh tempo dulu. Novel itu ditulis oleh pujangga masa silam. Mereka sanggup menulisnya dalam bentuk puisi yang begitu panjang sampai berjilid-jilid. Kalau ditanya padaku, hebat mana para novelis dulu dengan kini, pasti aku jawab hebat vovelis dulu. Orang zaman itu menulis novel berbentuk puisi. Adakah orang sekarang yang bisa? Jangan tipu aku dengan sebutan ‘sastra zaman modern dan sastra melayu lama’ aku tak akan percaya, kendati aku tak mau berdebat. Kautahu kan, sastra kita orang Melayu telah dijajah habis oleh kebodohan kita sendiri yang bekiblat pada barat. Ini bukan berarti aku menolak kemajuan yang dimitoskan itu. Bukan sama sekali! Aku hanya menyayangkan, orang kita latah membuang budaya tulisnya dan memuja habis seperti memuja gaya tulis negeri orang. Sebelum zaman ini, barat berkiblat ke timur. Namun, di zaman ini, timur telah berhasil sepenuhnya dikuasai barat, baik ekonomi maupun budayanya, termasuk budaya tulis-menulis. Apa yang bisa dibanggakan? Mungkin tak ada kebanggaan lagi di Aceh selain kebanggaan itu sendiri.

Oleh Thayeb Loh Angen

Serambi Indonesia / 30 August 2009

Buet lalem ceulaka dudoe
Buet lalem akhe jih mandum rugoe
Buet lalem jeuet keu hanco nanggroe
Buet lalem meutual doa ban sinaroe
Kajeuet takalon ban saboh donya rata tiep sagoe

Itulah penggalan puisi berbahasa Aceh berjudul ‘Lalem’. Puisi ini dibacakan sendiri oleh pengarangnya, Nurdin Abdul Rahman, di halaman belakang Meuligoe Bupati Bireuen, Senin, 27 Juli 2009, dalam suatu acara peluncuran buku dan diskusi sastra yang diselenggarakan penerbit Alibi Bireuen.

Nurdin dilantik sebagai Bupati Bireuen pada 2007 sebagai hasil dari kemenangan pemilihan kepala daerah secara langsung, menggantikan bupati terdahulu, Mustafa A Glanggang. Nurdin lahir di Bireuen 28 Desember 1949, menamatkan pendidikan di FKIP Unsyiah 1988, dan pernah menjadi pengajar bahasa Inggris pada sejumlah sekolah serta dosen mata pelajaran yang sama di beberapa fakultas di Banda Aceh.

Tak banyak yang mengira, Nurdin, yang selama ini dikenal sebagai ‘pemberontak’ ternyata seorang penulis puisi yang handal. Semangat menulis puisi itu makin mengental dan liar tatkala Nurdin dijebloskan ke rumah tahanan sebagai tahanan politik. “Salah satu pekerjaan saya selama di penjara adalah menulis. Ada puisi dan buku bahasa Inggris,” kenang Nurdin. Puisi ‘Lalem’ ditulis 21 Mei 1998 di penjara Keudah Banda Aceh. Ketika itu, Nurdin mendekam di sana sebagai tahanan politik karena tuduhan terlibat Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ketika membacakan puisi itu, sesekali suara Nurdin meninggi meluapkan amarah. Tapi kemudian turun lagi menahan haru. Ia tampak sangat ekspresif.

Bagi Nurdin, penjara adalah inspirasi. Sosok berambut putih ini mendekam dalam tahanan Laksus Lampineung Banda Aceh, Lhoknga Aceh Besar, dan LP Keudah Banda Aceh. Ia dijebloskan pertama kali pada 15 Oktober 1990 dan bebas delapan tahun kemudian, tepatnya 22 Oktober 1998. Rangkaian renungan penjara itu telah merangsang lahirnya bergepok-gepok puisi. Kemudian dikumpulkan dalam satu buku berjudul ‘Kalam Acheh’, memuat 17 judul, diterbitkan Alibi (Aliansi Penulis Bireuen). Buku ini diluncurkan bersama-sama dengan peluncuran novel histori-fiksi karya sastrawan Malaysia, Prof Siti Zainon Ismail.

Keseluruhan puisi itu awalnya ditulis di kertas bungkus nasi dan kemudian diselundupkan ke luar penjara melalui sanak keluarga dan rekan-rekannya yang menjenguk. “Dengan cara begitu, puisi-puisi tersebut bisa di bawa keluar,” katanya. Ia sangat berharap karya puisinya itu menjadi bagian dari usaha meningkatkan khasanah sastra di Aceh. “Itu merupakan ungkapan seorang hamba Allah selama masa tahanan,” ujar Nurdin. Nurdin menuliskan puisinya dalam bahasa Aceh. Mengungkap perasaan selama dalam ‘rumoh glap’. Ada amarah, petuah, dan romantisme. Bahasanya lancar dan jernih. Berikut petikan puisi berjudul ‘Cinta’ yang melukiskan pengertian cinta dalam dada manusia.

Na nyang timoh hana tasangka
Na nyang teuka lage ie raya
Na nyang ji-oh hantrok taraba
Na nyang ban tathee sajan kana
Meunan keuh cinta
Jiduek bak hate sabe lam rindu
Jiduek bak dada subra hanasu
Jiduek bak pike meuwe-we laju
Jiduek bak mata dada nyang karu.
(ditulis di penjara Keudah, 29 Juli 1995).

Puisi lain berjudul Deurita Nya’ Nong merupakan persembahan khusus kepada sang istri yang telah menemaninya selama penderitaan. “Dialah orang yang sangat tabah menghadapi segala derita. Karena itu tak bisa saya berpaling darinya,” kata Nurdin sambil memandang sang istri yang duduk dengan busana muslimah yang teduh. Ketika menceritakan rasa cintanya kepada sang istri, Nurdin tampak sedikit terbata. Suaranya tersekat di kerongkongan, menahan tekanan masa lalu yang sangat pahit. Ia menyebut sang istri sebagai ‘kuntum bunga’, sebuah sebutan yang sangat romantik. Inilah petikannya:

Bagi lon hana kuntom, bungong lam donya
Nyang ka ek theun jra dan nestapa
Nyang ka ek geuharong laot deurita
Geutheun saket, phet ngon sengsara
Seudangkan lon jinoe dalam penjara
Hana pat lon peugah pakiban lon pike
Rangoe lon sabe keu nasib gata
Kareuna lon nyoe gata tatheun jra
Dingon peuet cahya mata gata peulahara
(Rumoh Glap Keudah, 11 September 1995)

Nurdin menyebut rumah tahanan yang dihuninya sebagai ‘rumoh glap’. Ia melukiskan rumah tersebut:

Lahee lam guha meunan rasa
Tan deuh sapeue di seulingka
Tan mata uroe tan na cahaya
Sang tan le peureulee keu mata
Bacut ta-iseuk payah taraba
Seupot tuloe gaki droe teuh sang hoka

Peristiwa dalam penjara yang sangat pahit dan getir ditulisnya sebagai berikut:

Kamoe jiseksa kamoe jipoh
Jiculok kamoe dalam tutopan
Kamoe jiengkhoe sin-ja ngon suboh
Malam ngon uroe hana tatujan
Teupluek ngon kulet darah pih tijoh
Tuleueng ngon asoe saket hanaban.

Aceh adalah tanah sastra. Keberadaan Nurdin Abdul Rahman dengan kumpulan puisi ‘Kalam Acheh’ meneguhkan kekayaan Aceh dalam bidang sastra.

(fikar w.eda)

Harian Aceh / Tuesday, 15 July 2008 22:54

Oleh Herman RN,
Allah Malem, Allah…e.. putroe Bungsu
Hawa keu geuchik.. geutem bah mate
Teungku Maleem.. ma e.. adoe.. geujak lam rimba..
Meuteumee.. ma e.. ticem.. manyang bansaboh, dolah..
‘Olheuh nyan gadoh neuk bajee ngon ija..
Seubab geshom.. geuboh.. dara lam gle.. boh ate..
Ngon rapa’i.. Malemdiwa lon rawi…
(Sepetik pohaba Tgk. H. Adnan PMTOH)

Hari ini, 15 Juli 2008. Sembilan hari sebelumnya (4 Juli 2008) adalah tepat 730 hari (dua tahun) meninggalnya seorang trobadur ternama Aceh, Tgk. H. Adnan. Sebagai seorang seniman tutur, dia patut mendapatkan penghargaan dari kreativitas estetika yang telah dia ciptakan. Tulisan ini, sekedar mengingat akan hal itu.

“Aceh adalah negeri penuh cerita.” Jargon ini sudah sering kita dengar, baik dari orang Aceh sendiri maupun dari orang luar yang datang ke Aceh. Bukan hanya itu, dalam jargon lain disebutkan bahwa “Orang Aceh suka cerita dan bercerita”. Asumsi ini kemudian dikaitkan dengan berserabutnya warung kopi-warung kopi di Aceh. Di samping itu, kegemaran orang Aceh yang senang menyebutnya dengan ureueng Aceh dalam bercerita acapkali disampaikannya kepada alam. Misalnya, sembari melaut atau mencangkul di sawah, saat senggang (istirahat) terkadang dia berkisah kepada alam, entah mengadu tentang perjalanan hidupnya atau menceritakan sesuatu yang ada di alam. Dia menceritakan itu sambil berirama. Dari sinilah salah satu ihwal munculnya sebuah kesenian bercerita di Aceh, yakni kesenian tutur.

Hikayat PMTOH merupakan salah satu kesenian bercerita (bertutur) tersebut. Cara bercerita gaya PMTOH ini pertama sekali dipopulerkan oleh Tgk. H.Adnan. Dia merupakan tukang hikayat yang sangat populer sejak tahun 1960-an. Kabarnya, kelihaian dalam berkisah membuat ia sering diundang dalam acara-acara atau pesta, baik pesta perkawinan, sunat rasul, atau acara-acara kesenian. Dia juga dikenal sebagai tukang cerita keliling dan tukang obat keliling.

Menurut seorang muridnya, Agus Nuramal, Adnan berkeliling membawa hikayat juga sambil menjual obat. Konon, ketika Adnan berhikayat keliling, dia sering menggunakan sebuah mobil lintas Sumatera. Di samping badan mobil itu bertuliskan PMTOH. Kemudian, di samping kanan-kiri bagian depan mobil terdapat terompet klakson. Katanya, terompet mobil ini akan selau berbunyi saat melintas setiap kampong di Aceh. Si supir sangat suka memainkan klakson mobil itu. Nah, Adnan bisa meniru suara terompet mobil PMTOH itu sambil memencet hidungnya. Hal ini sering dilakukan Adnan saat main hikayat. Dari asal nama mobil yang beroperasi mulai tahun 1970-an inilah gelar PMTOH melekat pada dirinya sehingga namanya lebih dikenal dengan sebutan Teungku Haji Adnan PMTOH.

Namun, ada juga yang mengatakan bahwa nama PMTOH diambil dari kata poh tèm, yaitu kata lain dari bercerita. Dalam tradisi Aceh, bercerita disebut juga dengan peugah haba, meuhaba, pohaba, poh cakra, poh tèm, cang panah, yang kemudian menjadi sebuah nama salah satu kesenian bercerita di Aceh. Untuk jenis poh cakra, poh tèm, cang panah, biasanya dilekatkan pada bercerita yang membahas segala hal, kadang tak tentu ujung pangkalnya. Dari kata poh tèm itulah kemudian dipelesetkan menjadi pèm toh/ peng toh, yang kemudian diselaraskan bunyinya menjadi pe-em-toh.

Dalam bahasa Aceh memang banyak variasi bahasa yang dipelesetkan seperti di atas, misalkan bu kuloh (boh kulu), kayèe meulakém (kayém meulakè) sabang meuglé (sabé meuglang), langsa bak phong (langsong bak pha), dan masih banyak lagi, mulai dari yang bagus untuk didengar hingga kepada yang “jorok” semisal gampông punggét (gapét punggông). Menurut ilmu linguistik, kasus bolak-balik kosa kata seperti ini dimasukkan dalam variasi bahasa yang disebut dengan variasi slang. Karena itu, ada yang mengatakan PMTOH pelesetan dari poh tem (pem toh/ pe-em-toh) bila ditinjau dari variasi slang.

Terlepas dari dua pendapat di atas, intinya PMTOH adalah sebuah kesenian bertutur/ bercerita. Hanya saja, karena kisah yang diceritakan pada umumnya pernah terjadi pada zaman dahulu atau dengan kata lain, kisah yang diceritakan diyakini kejadiannya, masyarakat Aceh menamakannya dengan “hikayat”.

Dikatakan juga sebagai hikayat, karena cerita yang ditulis disusun dalam bentuk bait, bersajak, dan berirama (ciri-ciri hikayat dari segi bentuknya). Di samping itu, alasan lain yang menyebutkan bahwa cerita-cerita yang dibawakan oleh Tgk. Adnan adalah hikayat, sebab dipercaya pernah terjadi pada zaman dalam cerita (zaman dahulu). Kemudian, ada kekuatan kata yang sulit membantah kebenaran cerita itu, yakni ungkapan “sahibul hikayat” yang menunjukkan seolah cerita itu memang pernah terjadi lalu dituturkan dari mulut ke mulut oleh masyarakat.

Gelar Trobadur

Gelar trobadur diperoleh Tgk. Adnan dari seorang arkeolog Amerika Serikat, Profesor John Seger. Seger menyematkan gelar tersebut kepada Adnan karena keunikan dan kelihaiannya dalam memainkan cerita. Menurut dia, sulit mencari tukang cerita yang serupa dengan Adnan.

Memang, Adnan layak dikatakan seorang yang tangguh dalam bercerita. Cerita “Putroe Bungsu” yang panjangnya hingga tujuh hari tujuh malam sanggup dikisahkan Adnan tanpa terkesan lelah. Melihat dia bermain kisah, seolah cerita yang dia bawa sudah dihapalnya puluhan tahun silam.

Tinggal Kenangan

Kini, kepiawaian tiada tanding pohaba itu tinggal kenangan. Lelaki kelahiran Meukek Aceh Selatan, Desember 1931 lalu, itu telah berpulang ke haribaan Tuhan, 4 Juli 2006. Mengenai kelihaian bertutur, dia meninggalkan seorang murid bernama Agus Nuramal.

Agus lulusan seni teater di Institute Kesenian Jakarta, mengaku “jatuh cinta” pada gaya bertutur Tgk. Adan saat masih berada di bangku kuliah. “Waktu itu, saya jadi salah seorang panitia seni pertunjukkan Istiqlal. Saya teringat pernah nonton Teungku Adnan main hikayat. Saya terkesima. Saya undanglah Teungku Adnan ke Festival Istiqlal. Setelah itu, saya semakin kagum dengan gaya dia bercerita. Dia sanggup berkata-kata terus sepanjang malam tanpa capek. Akhirnya, saya minta jadi muridnya,” kata Agus Nuramal yang sekarang lebih akrab disapa Agus PMTOH.

Agus, lelaki asal Sabang yang lama tinggal di Jakarta (sampai sekarang menetap di Jakarta) itu kurang bisa bahasa Aceh (mungkin sekarang sudah bisa). Karena itu, dia bertutur dalam bahasa Indonesia—sesekali pakai bahasa Inggris—(kalau diminta). Bagi Agus, bertutur tidak mesti memakai irama meusantôk. “Kalau Tgk. Adnan kan berirama seperti pantun dan bersajak. Kalau saya, yang penting ada nada tinggi-rendahnya saja sudah cukup,” ucap Agus suatu kali di Komunitas Tikar Pandan, Banda Aceh.

Karena itu, saya menyebutkan trobadur Aceh hanya tinggal kenangan. Meskipun beliau meninggalkan seorang murid, sungguh belum ada yang mampu seperti Adnan. Akan tetapi, tentu saja asumsi saya dapat terbantahkan jika kita berkunjung ke pelosok-pelosok. Pasalnya, saat saya bersama tim Tukang Hikayat ala Komunitas Tikar Pandan berkeliling Aceh (akhir April-awal Mei 2006) lalu, saya sempat mendengar beberapa orang berkisah seperti layaknya Tgk.Adnan. Irama dan gayanya sungguh memukau. Hanya saja, karena mereka selama ini jarang muncul ke permukaan, maka kesenian bertutur seakan tiada lain selain oleh Adnan. Karenanya, pemerintah Aceh, melalui dinas berwenang, semestinya dapat mengangkat seni tutur Aceh ini melalui sekelompok orang yang masih tersisa.

Saya amati selama ini, mereka para seniman tutur Aceh sangat jauh jangkau dari Pemda. Bukan mustahil suatu kelak, seni tutur Aceh menjadi milik bangsa luar seperti sejumlah kesenian lainnya yang sudah menjadi dawa-dawi tempo hari, manakala kepedulian pemerintah kita tidak ada. Kepada para seniman pun, mesti mampu menghargai hal yang sudah ada dan memberikan apresiasi terhadapnya. Sungguh sayang, dua tahun sudah Sang Trobadur kita meninggal dunia, tiada suatu acara apa pun yang dilakukan, kendati sekedar apresiasi, baik oleh Pemda maupun mereka yang mengaku sebagai seniman dan peduli kesenian. Seolah, yang pergi membawa ketamatan terhadap apa yang dia ahlikan, seperti Maskirbi yang pergi bersama “puisi sunyi” dia, dunia puisi di Aceh pun terkesan sunyi.

Siapa Adnan PMTOH?

Adnan Pmtoh di atas panggung (Repro)

Sulit mencari jejak garis keturunan Teungku Adnan. Dari sebuah mailing list disebutkan bahwa Sang trobadur Adnan PMTOH lahir di Meukek (ada pula menyebutkan di Tangan-Tangan), Aceh Selatan, Desember 1931. Ia merupakan anak dari pasangan Tgk. H. Mudawali al-Khalidi Darussalam Labuhan Haji dan Daiyah. Tgk. Mudawali dikenal juga dengan sapaan Panglima Polem. Ia meninggal dunia pada usia 75 tahun, tepatnya, Selasa, 4 Juli 2006. Artinya, bulan ini (Juli 2008) hitungan genap dua tahun masa kepergian beliau.

Kelihaian Adnan dalam pohaba hasil berguru pada Mak Lapeh. Dia belajar pada Mak Lapeh selama tiga tahun. Ada beberapa murid Mak Lapeh lainnya, seperti Tgk. Muda Balia asal Bakongan, Aceh Selatan. Akan tetapi, murid-murid Mak Lapeh lainnya itu lebih dikenal dengan sebutan tukang hikayat dangderia.

Berbekal kelihaiannya dalam bertutur, Adnan memanfaatkannya dalam aksi menjual obat. Orang-orang Aceh zaman dahulu sebagian memang dikenal sebagai tukang jual obat keliling. Mereka menjual obat sambil “menjual cerita”. Kata Agus Nuramal, murid Adnan yang juga pernah jualan obat bersama Adnan, sebelum sampai pada penjualan obat, terlebih dahulu Adnan membawakan sebuah kisah (hikayat). Banyak masyarakat berbondong-bondong menyaksikan kepiawaian Adnan berkisah. Sebagian ada yang sengaja hadir ke lapangan untuk menyaksikan/mendengar hikayat PMTOH, bukan untuk membeli obat.

Kata Adnan, semasa hidupnya, perkembangan kesenian PMTOH pertama sekali ada di Aceh Selatan, tepatnya di Manggeng. “Pada tahun 1957, saya mulai main di Bakongan. Tahun 1958 balik lagi ke Tangan Tangan, mengembara tiap kecamatan, tiap kemukiman, dengan honor main waktu itu Rp25 (dua puluh lima perak). Kemudian 1960, berangkat ke Kuta Raja. Saya menginap di rumah almarhum Ahmat Ali. Setelah itu, baru saya berangkat ke Takengon, main di keramaian,” tuturnya semasa masih hidup.

Sepulang dari Takengon, ia berhikayat di Bireuen, di rata kecamatan. Ia dapat honor Rp15 ribu. “Harga emas waktu itu Rp800 per manyam,” katanya yang mengaku mendapat bayaran terbanyak sejak pertama main hikayat.

Saat dia main di sebuah kecamatan, ada Batalion Infanteri 111. Adnan pun diboyong oleh batalion itu. Dengan koordinir awak batalion itu, Adnan terus mengembara rata kemukiman dengan honor main naik menjadi Rp25 ribu. “Ini honor sudah sangat banyak masa itu. Lebih kurang dapat 30 manyam emas. Dari situlah kesenian PMTOH berkembang. Hingga tahun 1970, saya main di Kuta Raja,” ucapnya.

Dia mulai ditonton oleh seniman-seniman. Saat itulah mulai berkembang di Aceh Hikayat Malemdiwa dan Hikayat Dangderia. Hikayat Malemdiwa dapat dia tamatkan tujuh malam berturut-turut. Namun, ia mengaku untuk Hikayat Dangderia membutuhkan waktu hingga 17 malam.

Tahun 1975, Adnan semakin meperlebar sayapnya ke Lhokseumawe, Pantonlabu, Langsa, hingga ke luar negeri. Di luar Negeri dia main dalam bahasa Aceh juga. Sepanjang perjalanannya sebagai seniman tutur, Adnan menyatakan sangat kurang mendapat perhatian pemerintah. “40 tahun saya menyair, satu pengeras suara saya minta tidak dikasih. Tidak pernah diberikan bantuan. Alat main, pakaian, dan tong itu, saya beli sendiri,” katanya, dua tahun lalu.

Dia mengatakan hal itu tahun 2002. Saat itu, dia mengaku tidak mau lagi minta bantuan karena sudah lelah meminta-minta. “Trobadur itu yang ada di Perancis, selang 1000 tahun lalu. Sekarang tidak tahu di mana lagi kita cari. Ini ada di Aceh tidak dimanfaatkan oleh pemerintah Daeriah Istimewa Aceh,” ketusnya waktu itu kepada Afifuddin, yang merekam suara Adnan untuk diperlombakan di ajang Pekan Seni Mahasiswa Indonesia (PEKSIMINAS) tahun 2002. Ternyata film dokumenter itu mendapatkan juara di tingkat nasional.

Begitulah sekilas kehidupan trobadur Aceh, Teungku Haji Adnan PMTOH. Catatan ini bukan untuk mengungkit kejelekan dan tidak pula bermaksud buruk. Saya tulis ini sebagai penghargaan terhadap Tgk. H.Adnan PMTOH dan karyanya, juga sebagai renungan bagi kita, khusunya pemerintah dan mereka yang menamakan dirinya sebagai seniman. Ternyata sejak masa Tgk. Adnan, pemerintah memang kurang perhatian untuk kesenian. Tak tahulah masa sekarang. Semoga saja ada kemajuan. Insya Allah![]

Silsilah Trobadur Adnan PMTOH

Menyambung tulisan di harian ini tentang “Yang Tersisa dari PMTOH” (Selasa, 15 Juli 2008), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Sejatinya, tulisan kali ini bukan temuan baru dan bukan mengulang tulisan yang sudah ada. Namun, amat penting dijadikan perhatian bersama, terutama bagi mereka yang hendak mendokumentasikan tentang biografi sang trobadur legendaris Aceh, Tgk. H.Adnan PMTOH. Pasalnya, seperti yang disebutkan dalam tulisan sebelumnya, menelusuri jejak trobadur PMTOH itu agak sulit. Namun, berkat tulisan pertengahan Juli lalu itu, kita bisa mendapatkan sedikit tambahan tentang sang trobadur almharhum Tgk. H. Adnan PMTOH.

Kemarin (Senin, 21 Juli), dari redaksi Harian Aceh, Herman RN dan Taufik Al Mubarak, berkesempatan bertemu dengan salah seorang keturunan almarhum Tgk. Adnan, yakni Husaini Adnan. Kepada kami, lelaki paruh baya yang sekarang bekerja di Rumah Sakit Jiwa Banda Aceh itu bertutur tentang almarhum ayahandanya.

“Nama kakek kami (ayah dari Tgk. Adnan-red) bukan Tgk. H. Mudawali al-Khalidi Darussalam Labuhan Haji. Kakek adalah pengawal Tgk. Mudawali. Nama kakek adalah Polem. Karena sering menjadi pengawal Tgk. Mudawali, akhirnya orang-orang menyapa kakek dengan Panglima Polem. Nama Nenek (ibu dari Tgk. Adnan) sudah benar bernama Daiyah,” kata Husaini Adnan meluruskan kekelirusan data sebelumnya.

Kepada kami, Husaini mengatakan bahwa almarhum Tgk. Adnan meninggalkan anak 15 orang. Husaini sendiri merupakan urutan keenam dari 15 bersaudara. (lihat tabel).

Anak ke

Nama

Tempat Tinggal Sekarang

1

Tihasanah Blangpidie, Aceh Barat Daya

2

Sulaiman Adnan Lhokseumawe

3

Andon Sari Trienggadeng, Pidie Jaya

4

Marliana Trienggadeng, Pidie Jaya

5

Samsul Bahri Jantho, Aceh Besar

6

Husaini Adnan Lambhuk, Banda Aceh

7

Zamzami Trienggadeng, Pidie Jaya

8

Mawardi Meuereudu, Pidie Jaya

9

Sudirman Lhokseumawe

10

Nur Azizah Blangpidie, Aceh Barat Daya

11

Munawarah Blangpidie, Aceh Barat Daya

12

Abdul Azis Blangpidie, Aceh Barat Daya

“3 orang lagi sudah meninggal dunia” sumber: Husaini Adnan

Terkait peninggalan lainnya seperti syair-syair dan rekaman Adnan semasa hidupnya, Husaini mengatakan, sudah banyak yang hilang saat tsunami melanda Aceh akhir Desember 2004 lalu.

“Pada saya hanya ada ‘Syair Syari’at Islam’ dan empat buah kaset rekaman beliau terakhir main di TVRI. Hanya empat yang saya dapatkan,” ujarnya.

Husaini mengakui bahwa Tgk. Adnan semasa hidupnya memang kesulitan mencari funding dalam berkesenian. Kata dia, Adnan pernah membuat sebuah proposal untuk pertandingan hikayat antara anak-anak, mulai dari tingkat gampông lalu naik ke tingkat kecamatan, dan diperlombakan pula untuk tingkat kabupaten. Namun, proposal tersebut tidak pernah mendapat sambutan positif dari pemerintah saat itu.

Padahal, menurut Husaini, maksud Adnan adalah baik. Anak-anak yang ikut lomba itu akan dilatih Adnan sehingga ada yang meneruskan kelihaian bercerita ala trobadur PMTOH. “Karena itulah, bapak (Adnan-red) sampai sekarang tidak mempunyai murid secara resmi,” kata Husaini, yang menyebutkan sampai sekarang masih menyimpan proposal tersebut.

Adapun mengenai Agus Nur Amal, kata Husaini, dianggap orang sebagai murid Adnan karena sering mengikuti Adnan bepergian. Hal ini juga disebutkan oleh anak Adnan yang lainnya, Sulaiman Adnan. “Bapak sering berkeliling membawakan syair-syairnya. Tujuan bapak untuk dakwah. Agus sering ikut bapak,” ujarnya melalui telepon, Sabtu (19/7). Sulaiman saat ini tercatat sebagai salah seorang karyawan di PT KKA Aceh Utara.

“Kalau murid secara resmi, bapak tidak punya,” imbuh Husaini.

Baik Sulaiman maupun Husaini, sempat juga meluruskan kekeliruan sebait syair yang tertulis dalam edisi sebelumnya lalu. “Syairnya bukan seperti yang pernah dimuat di Harian ini, tapi yang benar seperti ini, Putroe Bungsu hawa keu ticem/ Teungku Malem geujak lam rimba/ meuhan meuteumee ticem nyan saboh/ bahle beugadoh bajee ngon ija…” ujar Husaini.[]