Archive for the ‘TULISAN LEPAS’ Category

MENGENAL MA’RIFAT ABDURRAUF

Posted: Juni 12, 2011 in TULISAN LEPAS

 

 

Tgk. Syiah Kuala (www.usk.ac.id)

Syekh Abdurrauf dikenal sebagai ulama. Namanya yang singkat dan sederhana ini kadang-kadang di­lengkapi dengan Syekh Abdurrauf bin Ali al-Fansuri. Namun, ia memperoleh sejumlah gelar seperti, Syekh Kuala, Syekh di Kuala atau Ciah Kuala, dan Tengku Ciah Kuala. Ada pula yang menyebutnya dengan nama Ab­durrauf van Singkel. Disebut Syekh Kuala karena Syekh Abdurrauf pernah menetap dan mengajar hingga wa­fatnya dan dimakamkan di Kuala sungai Aceh. Digelari Abdurrauf van Singkel karena ia lahir di Singkil (1593 M), Aceh Selatan.

Di masa mudanya, mula-mula Abdurrauf belajar di Dayah Simpang Kanan, pedalaman Singkil, yang dip­impin Syekh Ali al-Fansuri, ayahnya sendiri. Kemudian, Abdurrauf melanjutkan belajar ke Barus, di Dayah Teungku Chik, yang dipimpin oleh Syekh Hamzah Fan­suri. Abdurrauf sempat pula belajar di Samudera Pasee, pada Dayah Tinggi Syekh Shamsuddin as-Sumaterani. Setelah Syekh Syamsuddin pindah ke Kuta Radja (Banda Aceh) diangkatlah Sultan Iskandar Muda seba­gai Qadhi Malikul Adil. Pada saat itu Syekh Abdurrauf mendapat kesempatan belajar ke negeri Arab. Selama belajar di luar negeri, Abdurrauf yang baru l9 tahun itu telah menerima pelajaran dari 15 orang ulama.

Disebut pula Syekh Abdurrauf telah berkenalan dengan 27 ulama besar dan 15 orang sufi termashur. Tentang pertemuannya dengan para sufi, ia berkata, “Adapun segala sufi yang mashur wilayatnya, yang bertemu dengan fakir ini dalam antara masa itu…”

Tahun 1661 M, Abdurrauf kembali ke Aceh. Setelah tinggal beberapa waktu di Kuta Radja, ia mengadakan perjalanan ke Singkil, kemudian kembali ke Banda Aceh untuk memangku jabatan selaku Qadly Malikul Adil, sebagai Mufti Besar dan Syekh Jamiah Baitur Rahim menggantikan Syekh Nuruddin ar-Raniri yang pergi ke Mekkah.

Syekh Abdurrauf tidak begitu keras dalam berhadapan dengan faham orang lain. Hal ini dapat dilihat pada tulisan DR. T. Iskandar: “Walaupun Abdurrauf termasuk penganut fahaman tua mengenai ajarannya dalam ilmu tasauf, tetapi berbeda dengan Nuruddin ar- Raniry, ia tidak begitu kejam terhadap mereka yang menganut fahaman lain. Terhadap Tarekat Wujudiah, ia berpendapat bahwa orang tidak boleh begitu tergesa-gesa mengecap penganut tarekat ini seba­gai kafir. Jika benar ia kafir, apakah gunanya mensia-siakan perkataan atasnya dan sekiranya ia bukan kafir, maka perkataan itu akan berbalik kepada dirinya sendiri.” (Abdurrauf Singkil Tokoh Syatariah Abad ke-17: Dewan Bahasa, Mei 1965).

Syeikh Abdurrauf menulis buku dalam bahasa Melayu dan Arab. Bukunya yang terkenal antara lain, Turjumanul Mustafiid, Miraatut Thullab (Kitab Ilmu Hukum), Umdatul Muhtajin lla Suluki Maslakil Mufradin (Mengenai Ketuhanan dan Filsafat), Bayan Tajalli (Ilmu Tasawuf), dan Kifayat al-Muhtajin (Ilmu Tasawuf). Seluruh karyanya ditulis dalam bentuk prosa. Hanya satu yang ditulis dalam bentuk puisi, yakni Syair Ma’rifat.

Sebagai penyair, Syeikh Abdurrauf memperlihatkan kepiawaiannya menulis puisi “Syair Ma’rifat”. Salah satu naskah syair ini disalin di Bukit Tinggi tahun 1859. Syair Ma’rifat mengemukakan tentang empat komponen agama Islam. Yakni Iman, Islam, Tauhid dan Ma’rifat. Nampak dalam syair itu unsur ma’rifat sebagai pengetahuan sufi yang menjadi puncak tertinggi.

Dalam puisi itu Abdurrauf mencoba menjelaskan tentang pendekatan amalan tasawuf menurut aliran al-Sunnah wal al-Jamaah.

Jikalau diibarat sebiji kelapa
kulit dan isi tiada serupa
janganlah kita bersalah sapa
tetapi beza tiadalah berapa
sebiji kelapa ibarat sama
lafaznya empat suatu ma’ana
di situlah banyak orang terlena
sebab pendapat kurang sempurna
kulitnya itu ibarat syariat
tempurungnya itu ibarat tariqat
isinya itu ibarat haqiqat
minyaknya itu ibarat ma’rifat

(Syair Ma’rifat: Perpustakaan Universiti, Leiden OPH. No.78, hlm. 9-25/ Dewan Bahasa dan Pustaka, Desember 1992).

Tingkat ma’rifat merupakan tahap terakhir setelah melalui jenjang syariat, tarekat, dan hakekat, dalam perjalanan menuju Allah. Untuk sampai ke tingkat ma’rifat, menurut Abdurrauf, orang harus lebih da­hulu menjalankan aspek syariat dan tarekat dengan tertib. Orang harus melakukan ibadah dengan benar dan ikhlas.

Tentunya ada suasana mistik di sana. Suasana mistik itu akan lebih terasa bila membaca barisan lain dari “Syair Ma’rifat”.

Airnya itu arak yang mabuk
siapa minum jadi tertunduk
airnya itu menjadi tuba
siapa minum menjadi gila
ombaknya itu amat gementam
baiklah bahtera sudahnya karam
laut ini laut haqiqi
tiada bertengah tiada bertepi

Buku karya Syekh Abdurrauf lainnya diberi judul “Kifayat al-Muhtajin”. Buku itu ditulisnya atas titah Tajul ‘Alam Safiatuddin, seorang Sultanah yang mengayomi ulama dan sastrawan. Kitab ini berisi ilmu tasawuf. Disebutkan sebelum alam semesta ini dijadikan Allah, hanya ada wujud Allah.

Ulama besar dan pujangga Islam Syekh Abdurrauf meninggal 1695 M, usia 105 tahun. Dimakamkan di Kuala, Sungai Aceh, Banda Aceh.

Oleh L.K. Ara. Penyair asal Dataran Tinggi Gayo Takengon.


 [Buletin Tuhoe Edisi V, Maret 2008]

 

Iklan

ZAINAL AFIT PENYAIR ACEH

Posted: Maret 10, 2011 in TULISAN LEPAS
 

 

 

Oleh : A.Kohar Ibrahim

 

 

KETIKA aku menulis-saji apresiasi atas kreasi puisi

Penyair HR Bandaharo, ada yang tanya : “Asal Aceh, ya?”

Dan ada pula yang bilang: “Bapak orang Medan, tak?”

Ketika menyusun telaah puisi “Sekitar Tempuling Rida K Liamsi”,

Ada yang Tanya: “Dari Riau, Pak?”

Hehehe. Aku senyum: “Riau Daratan ataukah Pulau, ya?”

Ketika aku mengapresiasi penulis asal Minangkabau, ada

Yang tanya pula : « Asal Padang, Pak ? »

Tentu saja aku menggelengkan kepala, sembari mesem

nyaris ngakak. Lantaran yang jadi pemicu itu bukanlah

nada nuansa kelokalann kedaerahan atau kesukuan.

Meski aku menghargai yang lokal, tapi berdimensi

nasional, regional malah internasional. Global.

Universal.

Meski aku ngaku: tentu saja ada sebab yang menyebab

aku tergelitik untuk menulis apresiasi apakah dengan

sepatah kata atau menyusun naskah semacam

Telaah. Seperti misalnya atas kareasi puisi

penyair perempuan Gusmarni Zulkifli

penyaji saji sajak bertema Mak (Ibu)

tepat berkenaan dengan Hari Ibu.

“Bukan. Aku bukan asal Minangkabau, tumpuan utama

Pada hasil kreasi puisinya. Tapi aku ngaku, memang,

Aku suka rendang. Hahaha… Suka pula landskap

Sumbar pun Saluang yang mengingatkan ku

pada ranah Parahiyangan dengan Seruling

dan Kecapinya.

Meski aku ngaku, beritikad mengutarakan beberapa

nama Pekerja Kebudayaan yang senior dan yang

ku kenal sebagai guru pun teman seperjuangan

macam Joebaar Ajoeb dan Rivai Apin.

Meski aku ngaku: Iya – seketika dulu hingga detik ini

pun aku berkenalan dengan orang asal dari Sabang

hingga Merauke. Mereka yang aku nikmati

hasil kreasinya dan yang kerapkali aku

apresiasi pula adanya.

Mau contohnya?

« Syak tumpuk ! »

Silakan baca.

Antara lain

Z.Afifi.

(AKI)

 

Facebook : 18.02.2011.

 

*

 

Zainal Afif Penyair Aceh

 

SEORANG penyair asal Medan, Chalik Hamid, yang bermukim di negeri Kincir Angin menyampaikan berita duka kepada saya. Berita yang cukup mengejutkan sekaligus mengusik kenangan yang selama ini terpendam. Tentang seorang penyair yang saya kenal sejak lama : Z. Afif. Penyair Indonesia yang mengidap kecintaan luarbiasa pada daerah tanah tumpah-darahnya : Aceh.  Sedemikian rupa, sehingga untuk puterinya pun diberi nama yang kental makna kesayangan : Nyala Baceh. Nyala dari paduan  cinta Batak-Aceh.

 

« Barusan, pagi subuh jam 03.30 tanggal 28 Oktober 2004 waktu Belanda, » demikian kata Chalik Hamid mengawali surat elektronikanya, « saya menerima telepon dari Rondang Erlina Marpaung (isteri Z. Afif) yang bertempat tinggal di Sweden. Dalam pembicaraan di telepon, Rondang mengatakan bahwa :

 

« Pagi subuh jam : 02.30 waktu Sweden, tanggal 28 Oktober 2004, bertempat di salah satu rumah sakit di kota Stockholm, Z. Afif telah meninggal dunia dengan tenang. Z. Afif menderita sakit kangker di paru-paru. Di samping seorang isteri, Afif juga meninggalkan seorang puteri Nyala Baceh…. »

 

Tanggal 2 November 2004 saya terima pemberitahuan resmi dari isteri dan puteri almarhum bahwa, Zainal Afif kelahiran Lhok Sukon, Aceh Utara, 25 April 1936 dengan tenang telah mengakhiri perjalanan hidupnya di rumah sakit Huddinge, Swedia, pada tanggal 28 Oktober 2004. Pemakaman akan diselenggarakan pada hari Jumat, tanggal 19 November 2004 di S :t Botvids Kyrkogard, Huddinge.

 

Oktober dan November sungguh merupakan bulan yang sarat beragam kisah bermakna lagi bersejarah. Apakah yang menyangkut diri orang perseorangan atau rakyat dan bangsa Indonesia. Kisah kisah dengan saling kaitannya satu sama lain. Termasuk kisah kisah sementara orang Indonesia yang terpaksa menjadi pengelana buana atau menurut istilah Gus Dur sebagai « orang orang yang kelayaban » di mancanegara.

 

Kenapa ? Tak lain tak bukan lantaran pada 1 Oktober 1965 telah terjadi perubahan sikon drastis di Indonesia. Yakni terjadinya kudeta militer yang menumbangkan rezim orla Bung Karno demi tegaknya rezim orba Suharto. Sejak itu, banyak orang Indonesia yang kebetulan berada di mancanegara karena satu atau lain macam urusan  dalam aneka ragam bidang kehidupan, terpaksa tidak bisa pulang kembali ke Indonesia. Dari sekian banyaknya itu adalah kami, delegasi pengarang indonesia  yang diundang oleh Himpunan Pengarang Tiongkok untuk menghadiri perayaan nasional berdirinya RRT : 1 Oktober 1949-1965. Rencana kunjungan kebudayaan yang hanya untuk sebulan itu akhirnya berkepanjangan… !

 

Delegasi Pengarang Indonesia itu terdiri dari 5 orang yang terpilih dari beberapa asal daerah yang ketuanya adalah Aziz Akbar, « orang Padang » ; sekretarisnya Z. Afif, « orang Aceh ». Sedangkan anggota-anggotanya adalah Kusni Sulang, « orang Dayak » ; Sukaris, « orang Madura » ; dan saya sendiri, « orang Betawi ».

 

Sudah bisa diperkirakan dengan mudah, bahwasanya bagi sebagian besar generasi muda, kelima pengarang itu tidak dikenalnya. Meski apapun terjadi, dengan segala suka-duka hidup di tanah rantau yang berkepanjangan, mereka tetap eksis. Eksis sebagai insan biasa maupun sebagai seniman. Dan terutama sekali hasil kreasi mereka takkan bisa dipisah apalagi dihapuskan dari lembaran sejarah kesusastraan Indonesia. Mereka adalah bagian dari rakyat dan bangsa Indonesia, yang diperkokoh dengan hasil kreativitas sastra mereka pula. Hasil sastra pertanda kongkret pengayoman bahasa Indonesia. Apalagi orang macam Afif yang memang ahli bahasa Indonesia.

 

Seperti diketahui, Z. Afif selain sebagai penulis yang menyiarkan tulisannya di beberapa media massa cetak, juga sebagai penyiar dan tenaga pengajar bahasa Indonesia. Sebagai penyiar, dia pernah menangani siaran sastra di Radio Republik Indonesia Jakarta. Di luar negeri, pernah bertugas di pemancar radio Korea Utara dan Vietnam Utara. Sedangkan sebagai ahli bahasa, dia pernah menjadi tenaga pengajar bahasa dan sastra Indonesia di Guangzhou Institut of Foreign Languages di Kanton, China.  Dalam kesempatan itu pulalah dia menerbitkan bukunya berjudul « Sastra Indonesia, Angkatan dan Periodisasi ». Sebagai salah satu judul dari beberapa buku-bukunya yang belum kesempatan diterbitkan. Seperti « Sastra Indonesia Klasik, Apa dan Bagaimana Akronim dan Singkatan Indonesia » ; « Berkelana di Bumi Zhongguo » dan « Arus dan Darah », sebuah kumpulan sajak.

 

Selama tinggal di Eropa, seberkas tulisan Afif kami siarkan di majalah seni & sastra « Kreasi ».  Diantaranya mengisi buku kumpulan puisi berjudul « Di Negeri Orang » yang diterbitkan bersama oleh YSBI Amsterdam dan Amanah Lontar Jakarta tahun 2002. Saya manfaatkan kesempatan ini untuk menurunkan beberapa sajak-sajaknya sebagai berikut :

 

Musim Dingin

 

angin musim dingin

kering dan beku

sepiala arak maotai

belum apa-apa

mendekat ke nyala tungku

dalam luar

hangat menjalar

 

*

 

Kuil

 

merentang dawai-dawai mentari binar berbinar

juntai willow – lenggok pucuk cemara

menari-nari di bening telaga

gending bergending lonceng alit dipetik angin

iringi gaung suara berkisah zaman

nasib mereka para pereka dan pencipta

 

*

 

Rindu

 

sibayak sinabung

ale baya kunandung

bila rindu terkurung

kabar saja tiba ke kampung

 

(Dipetik dari bukupuisi « Di Negeri Orang », AKI).

 

Seketika saya pun merindu. Kita merindu – seperti kerinduan Bang Afif. Seberkas kenangan membekas yang layak ditimang-timbang sayang. Semasa di Nusantara. Semasa di Mancanegara. Seperti harimau mati meninggalkan belang, nama Zainal Afif kan tergores abadi dalam lembaran sejarah kesusastraan Indonesia.***

 

 

Catatan: Naskah ini pernah disiar beberapa blog, situs, antara lain ABE-Kreasi Multiply Site.

blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com

 

 

2010 IN REVIEW

Posted: Januari 3, 2011 in TULISAN LEPAS

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 12,000 times in 2010. That’s about 29 full 747s.

 

In 2010, there were 18 new posts, growing the total archive of this blog to 360 posts. There were 4 pictures uploaded, taking up a total of 433kb.

The busiest day of the year was March 24th with 94 views. The most popular post that day was HIEM ; WARISAN ACEH YANG MENGANDUNG NILAI AGAMA.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were search.conduit.com, facebook.com, google.co.id, id.wordpress.com, and acehpedia.org.

Some visitors came searching, mostly for antologi puisi indonesia, tragedi aceh, puisi bahasa aceh, kumpulan puisi pantai, and hiem aceh.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

HIEM ; WARISAN ACEH YANG MENGANDUNG NILAI AGAMA August 2009

2

PARA PENULIS [UBUD WRITERS & READERS FESTIVAL] BALI 7 – 11 OKTOBER 2009 August 2009
8 comments

3

ANTOLOGI PUISI INDONESIA 1997 [VOLUME.1] July 2008
4 comments

4

DUKA ACEH LUKA KITA [KUMPULAN PUISI PENYAIR INDONESIA MENGENANG TRAGEDI ACEH DAN BENCANA TSUNAMI] March 2009
2 comments

5

NUANSA PANTAI BARAT [KUMPULAN PUISI] March 2009
3 comments

Harian Aceh / 29 March, 2010, 12:02 am

Yang berangkat siang itu
Adalah Adam dari kayangan
Selebihnya hawa
Sesuatu yang bernama di punggung bukit.

(Butong, Jum’at 22 Juli 1999)

Sajak Pembantaian milik AA Manggeng mengigatkan saya kembali kepada tragedi pembantaian Tgk Bantaqiah di Beutong Ateuh tahun 1999 lalu. Kini A A sendiri yang harus berangkat Sabtu dini hari (27/3) di ranjang Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin. Pagi kemarin, rekan Sulaiman Tripa mengabari berita duka itu.

Setelah membaca pesan singkat dari Sulaiman, saya hanya mampu memuji kebesaran Illahi, sembari kemudian berucap pelan, bahkan pelan sekali.

Mutiara itu telah lepas dari cangkak
pasang membawanya ke tepi
namun surut yang menjilat pasir
menariknya kembali
dalam pangkuan cinta
kini kami menghadau tepian itu

Ingatan saya  tiba-tiba mundur sekian tahun, ketika pertama kali terlibat dan bekerja sama dengan A A Manggeng dalam Film Neuhen Warisan garapan Yursi Ibrahim bersama Yusrizal Ibrahim yang kemudian jadi anggota DPRA dari Partai Demokrat. Dalam film itu juga terlibat seniman debus Yun Casalona.

Penggarapan film yang shootingnya dilakukan di Alue Naga Banda Aceh dan Peukan Bada Aceh Besar sekitar satu bulan itulah yang membuat saya lebih dekat dengan A A Manggeng. Setelah film garapan Koperasi Karyawan dan Artis Film Aceh (Kopkafasa) itu rampung pada tahun 2002, praktis hubungan saya dengan A A Manggeng jadi renggang karena kesibukan masing-masing. Saya melanjutkan profesi sebagai jurnalis, sementara A A Manggeng sibuk dengan aktivitasnya sebagai pegawai negeri di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Banda Aceh.

Kedekatan dengannya kembali terjalin pada pertengahan 2006, ketika itu A A Manggeng sudah bekerja sebagai Direktur Budaya Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD – NIAS di Lambhuk, Banda Aceh. Kantornya persis di samping HARIAN ACEH tempat saya bekerja sekarang.

Kala itu masih dalam suasana lebaran dan saya masih berada di kampung halaman, Meureudu, sahabat dekat saya (Alm) Ridwan Haji Mukhtar mengabarkan bahwa nama saya dimasukkan sebagai salah seorang tim penulis buku Ensiklopedi Aceh bersama Dr Alamsyah, Mukhlis A Hamidi, Sulaiman Tripa (ketiganya dosen Universitas Syiahkuala) Ridwan Azwad (praktisi sejarah) dan Hermandar.

Segala biaya untuk penulisan buku itu ditanggung oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD – NIAS Satker Revitalisasi Budaya, tempat dimana A A Manggeng manjadi Direktur. Masuknya nama saya dalam tim tersebut, saya sangat yakin atas andil A A Manggeng dan Ridwan Haji Mukhtar, serta seorang kawan saya lagi yang juga bekerja di sana, Din Saja.

Dalam beberapa pertemuan di Lambhuk, saya mulai melihat A A Manggeng yang bernama lengkap Asnawi Aida Manggeng sebagai lelaki pengembara, sebagaimana pernah dinukilkan dalam sajaknya.

Tuhan,
bawalah jiwaku dalam sungaiMu
hanyut dalam arus tenang dan bergelombang
singgahkan aku pada tebing-tebing rerumputan
agar aku bisa rebahkan letihku dalam embun maafMu
mata air yang berdarah
beningkan dalam cawan kemuliaan
aku ingin reguk kenikmatan dari cawan yang memabukkan
bertemu makna kesucian

Tuhan,
bawalah aku dalam kendaraanMu
melintasi lintasan persimpangan dan
singgah di rumah-rumah keteduhan
agar aku lebih lama bersimpuh dan istirah
di alam ketenangan.

Tuhan,
aku teruskan pengembaraan
ke tengah-tengah rimbun Ridha-MU.
(Aceh, 1994)

Kini Tuhan benar-benar telah membawanya ke sana, ke tempat yang ia pinta. Masa hidupnya di kalangan sastrawan Aceh dikenal sebagai sastrawan yang produktif. Ia seniman serba bisa, baik sebagai aktor panggung teater, sutradara, juga penyair. Pria kelahiran Februari 1964 menamatkan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) spesialis jiwa Bogor pada tahun 1988. Tak lama pulang dari sana ia bekerja di Rumah Sakit Jiwa Banda Aceh.

Sebagaimana profilnya yang termuat dalam blog Aliansi Sastrawan Aceh (ASA), karya-karya A A Manggeng tersebar di berbagai media massa di Aceh, Medan dan Jakarta, seperti; The Jakarta Post, Waspada, Serambi Indonesia dan Dunia Wanita. Karyanya bersama penyair Aceh terakum dalam antologi Seulawah (1995), Dalam Beku Waktu (2002), Putroe Phang (2002).

Dalam organisasi kepenyairan A A Manggeng pernah menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif Dewan Kesenian Aceh (2000 – 2004), Koordinator Program di Teater Mata. Selain itu juga pernah menjadi editor beberapa buku sastra seperti; antologi Puisi HAM Keranda-keranda (Elsam Jakarta), kumpulan cerpen Remuk (Dewan Kesenian Banda Aceh), dan kumpulan essay Takdir-takdir Fansury (Dewan Kesenian Banda Aceh). Ia juga salah seorang dosen di Sekolah Menulis Dokarim.

Di luar dunia kepenyairan, A A Manggeng juga sangat peka dalam persoalan sosial. Sebagai wartawan saya pernah menangkap antusiamenya yang luar biasa pada pelatihan tatalaksana penanganan pasien penderita penyalahgunaan narkoba bagi 30 perawat. Ketika itu A A Manggeng menjabat sebagai Kepala Bidang Terapi Rehabilitasi Badan Narkotika Provinsi (BPN) Aceh. 15 dari 30 perawat yang mengikuti pelatihan tersebut merupakan kawan-kawan A A Manggeng di Rumah Sakit Jiwa Banda Aceh.

Kini mutiara itu telah didekap bumi Manggeng. Dari tanah kita kembali ke tanah. Untukmu yang pergi di dini hari itu, tunggu kami di halte selanjutnya. Selamat jalan kawan. Engkau telah pergi dengan secercah rasa di hati kami semua.[]

Oleh Iskandar Norman

FILOLOGI HIKAYAT PRANG SABI

Posted: Desember 31, 2009 in TULISAN LEPAS

Harian Aceh / 16 March, 2009

Oleh: Drs. Syarwan Ahmad, MA.

Filologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang bahasa teks kesusasteraan, terutama kesusastraan kuno. Hikayat adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab yang berarti cerita dalam bentuk narasi. Di dalam bahasa Aceh, terlepas dari isinya, hikayat pun berarti sebuah cerita dalam bentuk narasi yang biasanya ditulis secara berirama.

Salah satu ciri hikayat adalah seksi awalnya berisi pujian-pujian kepada Tuhan dan Nabi Muhammad yang diikuti dengan pandangan umum penulis, peringatan-peringatan atau nasihat-nasihat. Hikayat biasanya dikarang untuk dibaca di hadapan sekelompok kecil atau sekelompok besar pendengar. Isi hikayat mencakup serentetan subjek seperti sejarah, agama, pendidikan, fiksi dan sebaginya.

Tersebutlah salah satu hikayat dalam bahasa Aceh yakni Hikayat Prang Sabi. Dalam bahasa Indonesia, disebut dengan prang sabil, memiliki sebuah arti mirip dengan “Prang Suci” atau “berjuang di Jalan Allah”, yakni jihad fi sabilillah. Hikayat Prang Sabi dapat dikatakan sebagai sebuah kisah atau cerita naratif yang ditulis dalam bentuk berirama yang bertujuan untuk memberi nasihat dan semangat kepada orang-orang untuk terjun ke medan peperangan melawan orang-orang kafir, terlepas dari sebagiannya yang juga tersisip peringatan-peringatan bagi pendengarnya untuk taqwa kepada Tuhan secara umum.

Tulisan ini mencoba melihat Hikayat Prang Sabi dari sudut pandang filologisnya. Mengapresiasi semangat leluhur kita hanya dengan menyimpan warisan yang telah mereka wariskan kepada kita tidak cukup. Menyangkut manuskrip-manuskrip klasik seperti Hikayat Prang Sabi, memeliharanya sedemikian rupa sehingga hikayat tersebut dapat dipuja dan dinikmati oleh generasi-generasi mendatang lama setelah mereka tidak digunakan adalah penting. Menurut Stuart Robson, dalam bukunya Principles of Indonesian Philology, tugas para filolog adalah menjembatani komunikasi antara penulis manuskrip-manuskrip klasik dengan pembaca modern. Kerja mereka melalui berbagai intervensi yang akhirnya membuat karya sastra klasik dapat diakses.

Untuk membuat teks-teks sastra klasik dapat diakses pada dasarnya filolog melakukan dua hal: menyajikan dan menginterpretasikan. Menyajikan saja, walau bagaimanapun jelasnya, belum lengkap sebelum diinterpretasikan dan dijelaskan karena menyajikan saja teks-teks klasik tersebut belum tentu dipahami oleh pembaca. Para filolog memulai dengan mengambil bahan mentah yang belum tersaji dan terpublikasi. Mereka menjalani proses sulit yang akhirnya menyajikan hasilnya yang sudah dipublikasi kepada pembaca modern. Dalam proses perbaikan ini filolog memindahkan hambatan-hambatan (obstacles). Melengkapi dua tugas utama para filolog, perlu sisajikan dan diinterpretasikan. Kemudian, aktivitas yang sangat medukung dua tugas utama para filolog adalah menerjemahkan atau bahkan mentransliterasi agar manuskrip-manuskrip lama itu dapat diakses, dipahami, dibaca, dan dinikmati oleh generasi sekarang dan mendatang.

Kecuali di beberapa perpustakaan, seperti Perpustakaan Nasional Jakarta, Koleksi Djajadiningrat Jakarta, Amsterdam Royal Institute, dan di beberapa perpustakaan lain di dunia, Hikayat Prang Sabi kebanyakan tersimpan di Special Collection Reading Room Perpustakaan Universitas Leiden, Negeri Belanda. Di sana terdapat 38 teks di bawah heading Hikayat Prang Sabi. Manuskrip-manuskrip tersebut terdiri dari 2 sampai 100 halaman. Teks-teksnya bertulis tangan, dengan tinta bahkan ada yang dengan pensil, dengan menggunakan huruf Arab berbahasa Aceh pada buku bergaris. Ada juga beberapa tulisannya yang sulit dibaca, karena teks-teks tersebut sudah usang dan ditulis kurang rapi.

Manuskrip-manuskrip ini merupakan koleksi Damste, Warisan Snouck Hurgronje, dari J.J van de Velde, G.W.J. Drewes dan dari R.A. Kern Estate. Kebanyakan mereka dikumpulkan pada awal abat ke 20. Beberapa manuskrip dilengkapi dengan catatan dan daftar isi. Catatan-catatan autograf, yang umumnya keterangan penyalin dan tanggal pengumpulan, dan daftar isi yang ditulis oleh kolektor sangat membantu peneliti dan pembaca manuskrip-manuskrip lama tersebut.
Ada juga Hikayat Prang Sabi yang sudah ditransliterasi secara khusus, bahagian dari sebuah buku atau artikel jurnal yang sudah diterbitkan dan beredar di dalam masyarakat. Para sarjana yang telah berjasa menjalankan tugas filologis Hikayat Prang Sabi, antara lain Ali Hasymy, Nur’ainy Ali, UU Hamidi, T. Iskandar, dan Teuku Ibrahim Alfian. Ada juga para filolog Aceh yang hanya mentransliterasi bait-bait Hikayat Prang Sabi yang menggunakan huruf Arab berbahasa Aceh itu ke dalam huruf Latin seperti Dada Meuraxa, Nurdin Yahya, H.M.Zainuddin, Abdullah Arief, Anzib, dan lain-lain. Kecuali ini, banyak juga sastrawan-sastrawan manca negara yang tertarik dengan Hikayat Prang Sabi seperti H.C. Zentgraaf, James T Siegel, Damste, Van Velde, Snouck Hurgronje, G.W.J. Drewes, R.A. Kern Estate dan lain-lain.
Bagaimanapun, pengalaman penelitian penulis menunjukkan bahwa manuskrip Aceh, termasuk Hikayat Prang Sabi di dalamnya, merupakan teks klasik yang kurang dieksplorasi dibandingkan dengan manuskrip-manuskrip Jawa, Bali, Sulawesi dan Palembang. Ini diperkirakan akibat dari pada kendala-kendala yang dihadapi filolog non- Aceh, terutama bahasa. Seandainya banyak para filolog nasional dan manca negara tertarik untuk mempelajari tentang literatur lama Aceh, khusunya Hikayat Prang Sabi, karya-karya menyangkut Hikayat Prang Sabi akan berlimpah dan tersebar di berbagai perpustakaan di seluruh dunia.

Saat ini banyak filolog dan sastrawan tersohor Aceh yang telah berjasa melestarikan literatur klasik Aceh, khususnya Hikayat Parang Sabi, telah berpulang ke Rahmatullah, seperti Ali Hasymy, Teuku Ibrahim Alfian, Gade Ismail, dan beberapa transliterator-transliterator Hikayat Prang Sabi lainnya. Oleh karena itu, diharapkan akan muncul filolog-filolog baru dari Aceh sendiri yang akan menjadi pomong praja yang akan menjalankan tugas-tugas filologis manuskrip-manuskrip lama Aceh, atau literatur-literatur lama Aceh itu akan hilang ditelan zaman dan generasi mendatang tidak sempat mengapresiasi dan menikmatinya.

Penulis adalah Research Fellow of the Scaliger Institute, Leiden University Belanda, 2006.

Harian Aceh / 17 December, 2009

Ketika kita menghadapi sebuah puisi atau karya sastra sejenisnya, kita tidak hanya berhadapan dengan unsur kebahasaan, namun juga merupakan kesatuan bentuk pemikiran/makna atau struktur pengertian yang hendak disampaikan penyair.

Banyak puisi atau sajak yang dapat berbicara sendiri. Saya mencoba  mengapresiasi sebuah karya penyair kita, Wiratmadinata, kiranya dapat memperdalam pengertian kita tentang gagasan yang ingin disampaikan oleh si penyair, dalami Sajak yang Terbunuh Kesunyian

Bayangkan kau terlempar jauh
Diantara pokok-pokok sunyi
Gemerisik, desir dan angin mati
Membeku di titik nadir bumi.

Kau memburu semua kenangan
Semua bayangan dan harapan
Yang kau tangkap atau kau tinggalkan
Berlabuh dalam secangkir kopi pagi.

Lalu kau bayangkan ladang kopi
Serta beberapa anak nakal,
Yang pernah ngompol bersama
Dan juga sebuah lagu cinta.

Tapi tidak. Ternyata tidak juga.
Tak ada yang kuasa berbagi
Karena kenangan dan kesunyian
Telah bersekutu untuk membunuhmu.
(Wiratmadinata)

Secara estetik, puisi/sajak memiliki unsur-unsur berikut; diksi, pengimajian, kata konkret, majas, versifikasi dan tata wajah. (Herman J. Waluyo,1991). Dengan   pendekatan unsur – unsur tersebut kiranya kita akan menemukan “jejak pembunuhan dalam Sajak yang Terbunuh Kesunyian” yang kita maksud. Berikut ulasannya.

Diksi

Penggunaan diksi pada puisi karya Wiratmadinata di atas telah sesuai pada tempatnya. Diksi tersebut menunjukkan kuantitas perbendaharaan kata dan sekaligus menghadirkan kata-kata yang berdaya sugesti. Seperti pemilihan kata ‘terlempar jauh’……/…….’pokok-pokok sunyi’/……..’angin mati’/……’di titik nadir bumi’/

Kata-kata tersebut sengaja dipilih dan dikonsentrasikan si penyair secara estetis, konstruktif dan terstruktur untuk menimbulkan kesan dalam menyampaikan pesannya. Ungkapan terlempar jauh memperkuat imaji pembaca/penikmat, yang diminta untuk membayangkan. Hingga gemericik, desir dan angin mati / membeku……../ kalimat  tersebut dihadirkan guna menampilkan suasana kehidupan/kenyataan yang begitu asing,   begitu jauh, begitu menegangkan dan membeku pada ujung usia dan kapasitas bumi; yang melambangkan tempat berpijak, keberadaan dan eksistensi si ‘engkau,’ dan juga mewakili tempat penciptaan sajak tersebut.

Pada bait kedua si penyair mulai merenggangkan diksinya dengan menggunakan kata-kata umum, tetapi tetap menimbulkan kesan konotatif (di benak kita) sebagai konsekuensi puisi/sajak yang ia ciptakan. Yang ditutup dengan ‘berlabuhnya si engkau (Juga sejarah, pengalaman dan harapannya) dalam secangkir kopi pagi’.

Sedangkan pada bait ketiga penyair kembali mengajak si engkau  membayangkan ladang kopi, sembari menampilkan beberapa anak nakal yang pernah ngompol bersama. Ungkapan ngompol bersama sebagai penanda keluar dari kelaziman, ungkapan khas penyair, atau usaha untuk pemberian makna baru; si engkau membayangkan perubahan dan harapan. Itu semua bagian dari setting/back ground pembunuhan yang akan terjadi lalu disempurnakan dengan, Dan sebuah lagu cinta (akhir bait ketiga sampai awal bait keempat)

Pengimajian

Penyair sangat berhasil dari sudut pengimajian, yang berfungsi memperjelas dan menjernihkan pesan penyair. Tapi itu tidak dilakukannya. Dalam sajak di atas imaji bersanding dengan kualitas abstrak yang dihadirkan sang penyair. Menurut hemat saya inilah daya lebih kreativitas yang  ditampilkan  Wiratmadinata.

Pengimajian ditandai dengan penggunaan kata yang konkret dan khas. Secara lazim ada tiga macam imaji. Pertama, imaji visual. Kedua, imaji auditif. Ketiga, imaji taktil (cita rasa). Pada puisi Wiratmadinata di atas, ia telah mengetengahkan beragam imaji yang dimaksud. Kecuali desir, angin dan lagu cinta; Setiap bait dipadati dengan imaji visual dan imaji taktil, seperti;

/Kau memburu semua kenangan /Semua bayangan dan harapan/Yang kau tangkap atau kau tinggalkan/

Dan imaji visual maupun taktil tersebut digunakan efektif dan efisien (meskipun dalam bentuk yang umum; agar pembunuhan yang dimaksud memang berlangsung serta merta/tanpa disadari) melalui ungkapan;

“Karena kenangan dan kesunyian
Telah bersekutu untuk membunuhmu”.

Pada akhir bait ini, yang menjadi klimaks dari tema yang diangkat, si penyair tidak  memisualkan (menunjukkan gambaran) pembunuhan tersebut. Mungkin pembaca dianggap mampu (karena umum terjadi) melanjutkan citra pembunuhan itu. Sedang imaji auditif tampak tidak digarap secara detil agar tergambar sunyi dan hampa yang benar-benar beku!

Kata Konkret

Kata konkret digunakan untuk memperkuat daya bayang (membangkitkan imaji). Dengan kata yang diperkonkret pembaca lebih dapat untuk melihat, mendengarkan atau merasakan apa yang dilukiskan oleh penyair. Sehingga pembaca semakin terlibat penuh secara lahir dan batin..

Dalam sajak wiratmadinata ini, untuk menggambarkan suasana sunyi yang mencekam, kental dan padu, maka penyair menggunakan kata-kata; Gemericik, desir dan angin mati/Membeku di titik nadir bumi. Untuk memperkuat usaha perburuan/pergulatan ‘si engkau’ akan kenangan, bayangan dan harapan, penyair mempertegas imaji tersebut dengan /Yang kau tangkap atau kau tinggalkan/Berlabuh dalam secangkir kopi pagi/

Guna meneguhkan sugesti sunyi bagi ‘si engkau’, yang berlabuh dengan segenap beban sejarah dan harapannya, penyair kembali mengajaknya pergi semakin jauh, ke ladang kopi (agar sekalian saja berlabuh di ladang; jangan cuma di dalam cangkir), sampai akhir bait ketiga.

Pada bait keempat, tapi tidak, ternyata tidak juga; Kalimat tersebut mempertegas kenyataan bahwa ‘si engkau’ tak akan bisa lari lagi dari pembunuhan yang akan segera terjadi! Maka beberapa anak nakal, yang pernah ngompol bersama/ Dan juga lagu cinta; Dan dipertegas lagi, Tak ada yang kuasa berbagi; dalam hal keramaian, keriangan dan kepolosan, atau semacam harapan baru.

Adapun yang  ingin ditunjukkan oleh penyair adalah, bahwa pengalaman, persepsi (‘kenangan’) dan keterasingan diri, disorientasi – sebagai gejala penyakit jiwa di abad serba canggih- (‘kesunyian’), benar-benar dapat ‘membunuh’, memalingkan setiap orang dari kehidupan, realitas dan kemanusiaannya yang fitri, hingga terbitlah kesia-siaan.

Majas

Penggunaan majas pada sajak di atas terkesan begitu intens dan terkonsentrasi dengan baik. Majas digunakan agar menimbulkan arti yang lebih kaya dan beragam. Dengan menggunakan majas yang tepat  penyair menunjukkan tingkat kebahasaan dan pergulatan pengalaman (priode kepenyairan) yang dalam/panjang.

Majas erat kaitannya dengan kiasan dan perlambangan. Keduanya berfungsi menguatkan efek sugestif dan artistik . Dalam sajak ini penyair lebih dominan menggunakan lambang suasana dan benda dari pada lambang  bunyi dan warna. Hal itu berguna untuk membangun karekter batin suatu puisi/sajak yang sedang diciptakan. Bentuk  kiasan dalam sajak di atas meliputi; Metafora, hiperbola, dan ironi; yang berfungsi untuk kritik dan sindiran. /Tak ada yang kuasa berbagi/ Karena kenangan dan kesunyian/ Telah bersekutu untuk membunuhmu.

Selanjutnya dapatlah kita maknai bahwa sajak ini ingin menggambarkan kepada kita tentang sinisme (suatu ironi), kehampaan, kesia-siaan dan sedikit duka. Saat dimana  sang penyair (pada kondisi tertentu) tak sanggup lagi mesti berbuat apa-apa.

Sintesis

Sajak ini beraliran imajis yang berpadu dengan abstrak. Penyair sangat berhasil dalam hal-hal berikut; Pengimajian, tingkat kebahasaan dan kreativitas. Elemen estetis, konstruktivitas dan struktur puisi terkonsentrasi dengan baik. Hanya saja pada klimaks sajak ini, penyair tidak mengembangkan detil terbunuhnya si engkau. Melainkan langsung dengan larik; /telah bersekutu untuk membunuhmu.

Pesannya dari puisi ini, hendaklah kita segera bersadar bila sekiranya kita telah terlempar jauh dari kebenaran dan keyakinan yang kita anut; Sebelum kita terbunuh.

Oleh: Taufik Sentana Hidayat, Guru  Bahasa Arab. MTs.Harapan Bangsa. Meulaboh.

KRITIKUS SASTRA MATI SURI

Posted: Desember 31, 2009 in TULISAN LEPAS

Harian Aceh / 3 December, 2008

Oleh Medri

Langsung saja, saya ingin membicarakan tentang karya sastra di Aceh terutama perkembangannya pascatsunami. Tidak dapat kita nafikan secara kuantitatif kelahiran karya sastra di Aceh cukup hebat—secara kualitas patut dipertanyakan?

Dalam konteks kekinian, hampir setiap terbitan hari Ahad media massa cetak di Aceh memuat cerpen, puisi, dan budaya. Ditambah lagi dengan pemberian hadiah berupa anugerah seni untuk para seniman setiap tahunnya oleh Dinas Kebudayaan. Di balik semua itu timbul beberapa pertanyaan. Bagaimana dengan kualitasnya (mutu)? Apakah dengan banyaknya angka kelahiran tersebut ada bekasnya, masukannya, dan pengaruhnya, terutama terhadap perkembangan belantara budaya Melayu di Aceh? Sulit untuk menjawabnya dengan berterus-terang sebab memang belum memadai. Karena kita kaya dengan angka kelahiran tetapi miskin dengan dokternya (kritikus). Setiap kelahiran karya-karya kreatif ini saya rasa perlu untuk ditelaah, ditimbang, dibedah, dan kritik—mungkin saya terlalu tendensius mengatakan belum memadai.

Meskipun setiap kelahirannya selalu dibidani dengan peluncuran, pembedahan—jangan hanya bersifat seremoni belaka. Bahkan, mungkin juga dibaca banyak orang, tetapi bagaimana penilaian dan tanggapan meraka sulit untuk diketahui. Hal ini disebabkan kebanyakan dari khalayak hanya sampai pada tingkat penilaian suka dan tidak suka. Untuk mengapresiasinya dengan memadai tentunya kita perlu dokternya (kritikus), sebab hanya mereka yang mempunyai ilmu timbangan mengenai hal tersebut. Mereka ibarat jembatan untuk menyebarang yang dapat menghubungkan daratan yang satu dengan daratan yang disebarang. Menghubungkan pengarang dengan khalayaknya. Memberikan lampu bagi daerah yang gelap hingga menjadi terang agar khalayak dapat menangkap setiap makna yang dituliskan pengarang. Lalu mengapa telaah, kritik dan pembedahan tidak berimbang dengan kelahiran kreatif karya?

Menurut saya, ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya. Pertama, para pengarang pada umumnya enggan untuk melakukan hal ini, sebab mereka sudah melahirkan karya-karya tersebut. Selain itu, mereka juga ada penyakit ‘ketakutan’ untuk bermain api, sebab salah-salah mereka sendiri yang terbakar. Kalaupun ada mereka hanya mengupas isinya saja, tidak masuk ke tataran yang lain. Artinya, belum sampai pada tahap menjadi lampu penerang ataupun jembatan. Sebab tidak semua pengarang mulai berangkat dan mengusai teori sastra. Memang untuk menciptakan karya sastra seorang pengarang tidak harus berangkat dari ranah teori.

Lalu siapa yang pantas untuk menjadi dokter? Saya rasa jawabannya adalah para akademisi, para dosen di perguruan tinggi. Sebab, secara subtsansial mereka mempunyai dan menguasai ilmu teori mengenai hal tersebut. Pada sisi lain, pada umumnya mereka tidak melahirkan karya sastra. Jadi, secara gamlang mereka memiliki waktu dan kesempatan untuk menjadi lampu dan jembatan.

Menguraikan masalah di atas, seharusnya Aceh memiliki amunisi yang cukup untuk kritikus sastra. Lihat saja, sudah berapa banyak sarjana serta para dosen pendidikan bahasa dan sastra yang dilahirkan oleh Jurusan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah FKIP Universitas Syiah Kuala, Universitas Serambi Mekkah, dan Universitas Abuliyatama. Tetapi mengapa harapan itu belum juga kesampaian? Ini terjadi karena untuk menjadi seorang dokter (kritikus) sastra harus mempunyai ilmu teori yang memadai dan juga minat. Sebuah karya sastra yang bermutu dan baik apabila di dalamnya memuat nilai-nilai sosial kemasyarakatan, budaya, terutama nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan keseharian masyarakat Aceh. Cobalah kita perhatikan pada umumnya karya pengarang Aceh bermuatan sistem nilai orang Aceh, yakni resam (tradisi) adat dan agama Islam. Jika tidak ada satu pun di antara ketiga sistem nilai itu, maka karya itu akan dipandang aneh oleh orang Melayu.

Bagaimana seorang kritikus sastra misalnya dapat membedah dan menelaah karya-karya A. Hajsmy kalau ia tidak mengetahui mengenai budaya orang Aceh. Begitu juga dengan cerpen-cerpen Azhari kalau ia tidak paham dengan sistem dan nilai yang berlaku dalam kehidupan sosial kemasyarakatan masyarakat Aceh. Cobalah kita bayangkan seorang kritikus membedah karya semacam karya Hamzah Fansuri, Syamsuddin Pasai, dan Abdurrauf Singkel tanpa ilmu yang memadai tentang agama Islam. Bagaimana kritikus dapat memaknai dan menjabarkan permainan lambang dan metafor yang diambil dari Alquran dan Hadist Nabi oleh pengarang tersebut, kalau sang kritikus sendiri tidak pernah membaca dan mendalami Alquran dan hadist.

Faktor lain yang menyebabkan tidak berkembang kritik sastra pada umumnya dan di Aceh pada khususnya adalah kritikus tidak punya waktu dan kesempatan untuk membaca karya sastra karena dilenakan oleh kehidupan duniawi lainnya—saat ini orang lebih tertarik untuk bekerja di lembaga-lembaga panding. Tidak sampainya karya tersebut ke tangan kritikus. Sebab sang kritikus tidak membeli karya tersebut yang telah dipasarkan. Sang kritikus tidak punya akses ke media massa untuk mempublikasikan hasil telaahnya.

Tidak adil rasanya kalau hanya menyalahkan para kritikus melulu. Bagaimana sang kritikus mau membedah sebuah karya, kalau karya itu sendiri tidak menarik untuk dibaca apalagi untuk dibedah. Terlalu banyak sisi gelap yang membingungkan sang kritikus. Pengarang terlalu liar idenya sehingga seakan-akan tidak berpijak lagi di bumi. Ia terlena dengan alam pikirannya sendiri. Seharusnya pengarang juga harus sadar diri karena hasil karangannya akan dikonsumsi oleh khlayak ramai. Untuk apa sebuah karya sastra jikalau yang mengerti dan tahu maknanya hanya pengarangnya sendiri.

Meskipun kondisinya demikian, budaya kritik sastra harus tetap berkembang. Karena sekali lagi sang kritikuslah yang mampu untuk menjadi lampu dan jembatan. Selain itu, telaah para kritikus dapat mempengaruhi semangat pengarang untuk berkarya lebih baik lagi. Terakhir jadilah seorang kritikus yang baik tidak selalu menyalahkan tetapi dapat memberi tanda  peringatan kepada para pengarang,  agar tidak menjadi pengarang yang dilaknat oleh Allah swt. dalam Surah Asy-Syu’ara Ayat 224-227, betapa sebagian penyair (pengarang) berkata berlebih-lebihan sehingga mereka terjerumus melakukan kebohongan. Tertipu oleh setan sehingga jatuh ke dalam lembah kegelapan dengan karyanya. Kecuali orang-orang yang beriman (termasuk pengarang) yang banyak mengingat Allah.

Medri, penikmat karya sastra Bekerja di Balai Bahasa Banda Aceh