SASTRAWAN ACEH TERIMA PENGHARGAAN

Posted in KLIPING - KLIPING MEDIA on November 15, 2009 by aliansisastrawanaceh

Blog Harian Aceh / 14 November, 2009

SEPULUH sastrawan Aceh menerima penghargaan sastra 2009 dari Balai Bahasa Provinsi Aceh. Mereka adalah:  Saiful Bahri, Musmarwan Abdullah, Arafat Nur, Sulaiman Tripa, Azhari, Herman RN, Alimuddin, Ferhat, Nuril Annisa, dan Hendra Kasmi.

Ketua panitian, Baun Thoib S Siregar mengatakan, pemberian penghargaan itu untuk memperkokoh  motivasi para sastrawan sekaligus memberikan apresiasi terhadap sumbangsih mereka selama ini. Setelah meneliti berkas rekam jejak kandidat dan karya yang dihasilkannya dalam dua tahun terakhir yang diterima panitia sejak tanggal 7—30 Oktober 2009.

Pemberian penghargaan tersebut merupakan program rutin dua tahunan Balai Bahasa di samping kegiatan pembinaan dan peningkatan mutu kesastraan lain seperti Bengkel Sastra, Pelatihan Menulis Kreatif, Lomba-Lomba Kesastraan, dan Penelitian Bidang Kesastraan.[]

UWRF PERKUAT PERKEMBANGAN SASTRA DUNIA

Posted in KLIPING - KLIPING MEDIA on November 15, 2009 by aliansisastrawanaceh

Batampos, Minggu 18 Oktober 2009

Oleh: Matroni el-Moezany - Penyair dan esais tinggal di Yogyakarta.

Pada tanggal 7 sampai 11 Oktober 2009 Ubud Writers dan Readers Festival 2009 (UWRF 2009) dihelat di Ubud, Bali. Inilah salah satu bentuk kepedulian sastrawan kita terhadap perkembangan sastra Indonesia dan dunia pada umumnya. Pada perhelatan ini UWRF mengambil tema “Suka-Duka”. Karena tema memang sangat pas untuk Indonesia sebagai bangsa yang selalu di timpa musibah dan selalu ingin berkelahi baik perkelahian akal, politik dan ekonomi apalagi perkelahian korupsi. Dalam sejarahnya Suka-Duka merupakan kebijakan komunal kuno yang selama berabad-abad telah menjadi salah satu soko guru masyarakat, serta lembaga tradisional Bali.
Sehingga festival kali ini mengambil tema Suka-Duka untuk menjadi penguat prinsip yang telah di bangun sejak lama. Kini prinsip itu menjadi pembimbing anggota lembaga kemasyarakatan tradisional, seperti banjar dan desa pekraman, untuk berlaku sebagai satu entitas tunggal dalam menghadapi perhelatan dan kesulitan hidup, maupun dalam merayakan karunia dunia. Artinya prinsip “kebersamaan” dalam menjalin dengan orang lain sangat di tekankan dalam Suka-Duka, seperti prinsip yang tertulis bahwa “Penderitaan seorang anggota lembaga akan ditanggung oleh semua anggota lainnya, sedangkan kegembiraan seorang anggota akan dirasakan pula oleh anggota lainnya”.
Suka-Duka ini sebenarnya mencerminkan komitmen festival sendiri untuk menjadikan moment kesusastraan ini mampu memberikan inpirasi dan sumbangsih besar, melalui para penulis dan pembaca dari berbagai belahan dunia, sehingga dapat mencapai keseimbangan pemahaman dan membangun landasan bersama untuk mengingatkan dan meningkatkan masyarakat dunia tentang perlunya berpikir, menyikapi, dan bertindak sebagai sebuah entitas tunggal yang penuh welas-asih (rasa), terutama pada titik waktu saat ini yang dicederai oleh kekerasan dan kegelisahan hidup.
Itulah sebenarnya perkembangan makna sastra bagi keberlangsungan masyarakat dunia. UWRF adalah salah satu jembatan penyampai pesan kepada dunia bahwa sastra juga sangat penting dalam menyumbangkan pemikiran dalam masalah sosial dan budaya. Sehingga apa yang dikatakan oleh Aguk Irawan MN (Kompas, Sabtu, 5 September 2009) bahwa nasib puisi di Indonesia mengalami musibah kematian itu mungkin kurang benar, tapi apakah kita akan berhenti di sana, tanpa ada upaya untuk menyikapi hal itu? Kalau saya boleh menjawab dari mulut sastra. Tidak! Nasib sastra Indonesia memiliki tubuh yang mudah lelah dan cepat capek, karena kita masih banyak punya waktu untuk menguras nasib sastra Indonesia ke depan. Marilah secara bersama-bersama untuk tetap memberi energi terhadap pertumbuhan sastra Indonesia dan dunia.
UWRF adalah ladang sangat tepat untuk kita memperkenalkan sastra Indonesia di mata dunia, karena UWRF kali akan mendatangkan penulis dan sastrawan besar dunia seperti pemenang Nobel Sastra, Wole Soyinka (Nobel Sastra 1986) Wole Soyinka adalah warga Afrika pertama yang memenangkan Nobel Sastra. Karena dengan hadirnya mereka ke Bali merupakan “silaturrahmi sastra dunia” yang mungkin tahun depan tidak menghadirkan pada penulis hebat dari Amerika atau dunia, walau pun ini sudah menjadi agenda tahunan, apakah kemudian festival itu hanya di kemas seperti ini lagi, saya kira tidak mungkin, sebab tahun depat bukanlah tahun ini, tapi tahun depan adalah tahun depan yang memiliki waktu tersendiri untuk di setting sesuai dengan perkembangan sastra dunia pada tahun 2010.
Saya ucapkan selamat kepada para sastrawan atau penulis yang terpilih sebagai wakil dari Indonesia yang akan tampil. Anda sebagai sastrawan terkemuka menjadi penyampai seperti NH Dini dan Seno Gumira Adjidarma. Serta 15 penulis muda Indonesia yaitu Nurhady Sirimorok, Aan Mansyur (Makassar), Romi Zarman, Esha tegar Putra (Padang) Inggit Putria Marga (Lampung), Anton Kurnia, Dian Hartati (Bandung), Ernest JK Wen, Yonathan Rahardjo, Tjahjono Widijanto(Jawa Timur), Ahmad Muchlis Imran (Jogja), Doel CP Allisah (Aceh), Zeffry Alkatiri, Nelden Djakababa, Clara Ng (Jakarta). Sedangkan dari Bali sendiri akan menghadirkan penulis Putu Fajar Arcana, Nyoman Manda, Cok Sawitri, Ngurah Suryawan, dan Komang Adnyana. Semoga dengan dilaksanakan UWRF ini menjadi penyemangat diri sastrawan kita untuk terus memperjuangkan semangat kesusastraan Indonesia ke depan. ***

NGOPI DAN MEMBINCANG SASTRA LOKAL DI SATELITE EVENT

Posted in KLIPING - KLIPING MEDIA on November 15, 2009 by aliansisastrawanaceh

Annida-Online—15 Oktober 2009

/ Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) di Bali tahun ini memang sudah berakhir. Namun, masih ada rangkaian lanjutannya berupa Satelite Event di lima kota dalam rentang waktu 14 – 20 Oktober 2009. Antara lain di Aceh, Lampung, Yogyakarta, Jakarta, dan Makassar. Jumat (16/10) sore ini, giliran Sekolah Menulis Dokarim yang menggelar diskusi diskusi penulisan dan pemutaran film. Lokasinya di kedai kopi yakni Black & White Café, Setui-Banda Aceh. Akan hadir penulis Australia, peserta UWRF 2009 Antony Loewenstein dan Doel CP Allisah, sastrawan Aceh yang juga mengikuti UWRF kemarin. Sementara pesertanya, para penulis dan aktivis komunitas-komunitas satra/seni di Aceh sekaligus para blogger.

Media Assintant Sekolah Menulis Dokarim, Kiki mengatakan, karena masyarakat Aceh terkenal dengan kebiasaan minum kopinya maka acara ini sengaja digelar di kedai kopi. “Biasanya, sambil ngopi-ngopi ada pengasahan kemampuan budaya verbal lewat percakapan. Lewat kegiatan ini, kami berharap akan terasah pula kemampuan masyarakat dalam budaya menulis,” ujar Kiki, usai sosialisasi ke redaksi koran lokal serta talkshow tentang pentingnya menyuarakan Palestina di sebuah stasiun radio Aceh, tadi malam.

Diskusi menulis dalam Satelite Event di Aceh kali ini, mengangkat tema “Dengan Menulis Kita Ada, tidak Menulis Kita Mengada-ada”. Perbincangan akan dibagi menjadi dua sesi, yang pertama Anthony Loewenstein akan memaparkan alasan mengapa kita harus menulis.

“Sejarah manusia itu dimulai lewat tulisan. Tulisan menjadi bukti bahwa manusia ada, dan dengan menulis kita bisa eksis,” tegas Kiki.

Anthony Loewenstein, lanjut Kiki, merupakan jurnalis lepas berbasis di Sydney sekaligus pengarang dan blogger. Dia telah menulis untuk banyak media top. Anthony telah memberi masukan dalam bentuk bab utama untuk salah satu buku terlaris di tahun 2004, Not Happy John!. Bukunya yang laris tentang konflik Israel/Palestina, My Israel Question, diterbitkan oleh Melbourne University Publishing tahun 2006. Edisi yang terakhir dan diperbarui diterbitkan pada tahun 2007 (dan dicetak ulang lagi pada tahun 2008).

Setelah Anthony, penyair Aceh Doel CP Allisah bakal menuturkan pengalamannya mengikuti UWRF 2009. Doel sendiri dikenal sebagai salah satu penyair penting di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang sajak-sajaknya.
Pada diskusi sesi kedua, sembilan orang penulis lokal Aceh bakal membahas tentang konsistensi dan originalitas karya sastra lokal.

Sebelum dihelat di Aceh, Kamis (15/10) acara serupa juga diadakan di Makassar. Bedanya, diskusi sastra lebih ditujukan kepada remaja/anak-anak muda. Penulis Australia, Omar Musa bersama penulis-penulis Makassar berkeliling ke empat tempat. Dari kampus Universitas Makassar, SMA Cendrawasih, Universitas Hassanudin dan berakhir di Benteng Fort Rotterdam tadi malam.

“Kami mencoba alternatif agar sastra yang selama ini dianggap berat bisa masuk ke anak-anak muda. Kami kenalkan bahwa baca puisi tak harus formal di panggung, puisi itu sederhana dan bisa dibaca di mana saja. Alhamdulillah sambutan pelajar dan mahasiswa bagus, mereka antusias sekali,” ujar M. Aan Mansyur, salah seorang peserta UWRF yang  bergiat di Komunitas Biblioholic, Makassar.

[Esthi]

(Catatan dari UWRF 2009) : SPIRIT LOKAL DAN SPIRIT INTERNASIONAL

Posted in KLIPING - KLIPING MEDIA on November 15, 2009 by aliansisastrawanaceh

Oleh Ahmad Muchlish Amrin

Rabu, 14 Oktober 2009 / Suara Karya Online

 

Beberapa waktu lalu, ada 15 pengarang Indonesia yang menghadiri Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2009, sebuah pesta sastra tahunan yang diadakan di Desa Ubud, Bali, 6-11 Oktober 2009.

Pesta yang berkapasitas internasional ini dihadiri oleh peserta dari berbagai negara di belahan dunia. Tentu saja di dalamnya diperbincangkan berbagai tema dan bedah karya sastra yang telah diantologikan.

Adapun sastrawan Indonesia yang diundang untuk menghadiri acara ini, misalnya, Zeffry J Alkatiri (Jakarta), Nelden Jakababa (Jakarta), Clara Ng (Jakarta), Yonathan Raharjo (Jakarta), Inggit Putria Marga (Lampung), Romi Zarman (Padang), Esha Tegar Putra (Sumbar), Nurhady Sirimorok (Makassar), M Aan Mansyur (Makassar), Tjahjono Widijanto (Jawa Timur), Ernest JK Wen (Jawa Timur), Dian Hartati (Jawa Barat), Anton Kurnia (Bandung), Doel CP Allisah (Aceh), dan Ahmad Muchlish Amrin (Yogyakarta).

Seperti tahun-tahun sebelumnya, dalam kesempatan (forum) tersebut penulis Indonesia berbicara dengan baik dan mampu memberikan gagasan inspiratif, perspektif baru dan cara ungkap yang segar di hadapan pengarang internasional.

Karya sastra kita mampu berbicara pada dunia, yakni mengakar pada tradisi dan kebudayaan, memiliki cara pandang yang unik, berpihak pada jeritan kemanusiaan. Imajinasi berlesatan tidak hanya untuk mengungkapkan kegelisahan personal, menghamburkan identitas menjadi liminal, yakni ambiguitas posisi yang tidak pasti karena tidak “di sini” dan tidak pula “di sana” (betwixt and between).

Kreativitas pengarang tetap dibutuhkan untuk mencari solusi terbaik melalui tema, idealitas, dan perspektif yang cerdas dan bermutu. Mereka mampu mengolah spirit lokal dengan baik: mengungkapkan kebahagiaan, keresahan, keletihan, dan kearifan yang muncul di mana mereka hidup. Dengan demikian, apa yang mereka tulis benar-benar menjadi ide sekaligus menjadi diri sendiri.

Untuk itulah ada beberapa spirit yang bisa dijadikan motivasi agar spirit lokal mampu menjadi inspirasi bagi spirit internasional. Pertama, memanfaatkan ideologi lokal yang sangat kental. Para pengarang bisa mengangkat ideologi lokal dengan baik, dengan bahasa yang menarik, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Umar Kayam lewat cerpen panjangnya yang berjudul “Sri Sumarah dan Bawuk” (Pustaka Jaya, 1975). Karya ini sarat dengan muatan ideologis perempuan Jawa.

Kedua, memanfaatkan spirit lokal sebagai teknik pengungkapan yang menarik dan sama sekali baru bagi ruang internasional, sebagaimana yang dilakukan oleh WS Rendra dalam Balada Orang-Orang Tercinta yang sarat dengan permainan anak-anak. Atau Ramadhan KH dalam Priangan Si Jelita yang memuat nyanyian Sunda. Atau, Sutardji Calzoum Bachri dalam O, Amuk Kapak yang banyak mengeksplorasi mantra.

Ketiga, spirit lokal sebagai inspirasi sebagaimana dalam karya Oka Rusmini yang berjudul “Tarian Bumi” yang mengungkapkan sisi lain Bali, terutama perempuan di tengah diskriminasi kasta dan kemiskinan. Atau, karya Ahmad Tohari dalam tetralogi Ronggeng Dukuh Paruk, yang mengeksplorasi perempuan Dukuh Paruk yang terdiskriminasi. Semuanya itu menyuarakan sesuatu yang pada mulanya tidak ada (nothing) menjadi ada (something).

Tentu saja tiga sandaran tersebut merupakan cara (metode) untuk mendongkrak kualitas sastra pengarang kita agar lebih maju dan lebih bermutu di pentas internasional. Dan, lokalitas kini tidak statis dan tidak bergantung pada sebuah ruang, sebagaimana yang dipahami banyak orang. Akan tetapi, spirit lokal dimaknai sebagai suguhan sebuah struktur sastra yang berupa nilai, atmosfer bahasa, dan filosofi yang unik.

Spirit lokal akan menjadi representasi yang jelas bagi peradaban global dan internasional. Manusia dapat membangun etos arif yang memperhatikan masa depan umat manusia, memperlancar perdamaian, toleransi terhadap manusia lain yang memiliki nalar berbeda.

Spirit lokal tidak menutup kemungkinan untuk menerima yang lain, menghindari trust claim yang berpihak pada sebuah ruang, kelompok atau lokal tertentu. Kini sudah saatnya manusia terbuka membangun citra kemanusiaan yang utuh, dengan cara mempertahankan kearifan lama yang segar dan mengakomodasi kearifan modern yang lebih bijaksana.

Spirit inilah yang mendominasi perkembangan sastra dunia hari ini, seperti yang terjadi di Inggris, Prancis, Amerika, dan negara-negara Eropa. Kisah rakyat lokal di Eropa pada abad ke-15 ditafsirkan ulang untuk mendapatkan spirit baru yang segar. Dengan demikian, memunculkan sebuah implikasi yang jelas, yakni Revolusi Industri di Prancis.

Karena itulah, 15 sastrawan kita yang hadir di UWRF 2009 ini, meminjam bahasa pengarang Ahmad Tohari, menjadi napas kita yang panjang.***

Penulis adalah penyair dan cerpenis, pengelola
Rumah Baca Poetika Yogyakarta

 


PolitikHukumEkonomiMetropolitanNusantaraInternasionalHiburanHumorOpiniAbout Us

Copy Right ©2000 Suara Karya Online